
Nasib tertawa terbahak, melihat rona wajah Juwita yang penuh dengan tepung adonan untuk mie ayam. Berlumur bersama semu di pipinya mengejar Benu yang telah membedakinya dengan tepung.
"Benu! Kurang ajar!" seru Juwita mulai hampir menangis berdiri di depan pintu Kedai.
Benu yang terpingkal, terengap menahan nafasnya di luar kedai. Menatap Juwita dengan penuh suka akan apa yang baru di perbuatnya.
Juwita mayun, memegang nampan plastik yang akan dipergunakan untuk memukul Benu.
Benu menghidupkan Motornya, masih tertawa dengan menatap siaga, jika Juwita tiba-tiba mengejarnya kembali. Namun sepertinya Juwita telah lelah mengejarnya. Dengan masih tawa dibibirnya segera meninggalkan Juwita.
"Besok Benu!" Tangan Juwita mengacungkan nampan.
Benu memukul-mukul helm yang di pakai dengan tertawa mengejek.
Juwita pun kesal dengan masuk kedalam Kedai menuju Nasib di dapur.
Nasib senyum-senyum melihat langkah kecil yang marah mendekatinya.
"Benu kelewatan banget."
"Maksud Benu kan, baik." Tanggap Nasib melihat Juwita mengusap-usap seluruh wajahnya dan rambutnya.
"Kak Nasib, ahhhh! Baik apa-an?" Juwita makin kesal, Nasib seolah membela Benu.
"Ngirit bedak," jawab Nasib hampir tertawa lagi.
Setiap hari setelah pekerjaan Kedai selesai, Juwita memang setiap akan pulang pasti akan kembali memakai bedak di wajahnya. Dan Nasib pun merasa itu adalah hal yang wajar bagi seorang wanita. Namun tadi, entah untuk bercanda atau yang lain, Benu melumuri wajah Juwita yang tengah mamakai bedak, tentu saja membuatnya uring-uringan.
Nasib meletakkan Mangkuk terahkir yang Ia lap di atas meja.
"Pacar mu belum menjemput?" Nasib melihat ke arah depan Kedai yang terhalang lemari dagang.
Juwita senyum getir.
"Masih marahan?" Nasib lagi.
"Parah Kak!" Juwita dengan berjalan.
Nasib mengikutinya menuju ruang Kedai yang telah di bereskan, dan langsung menuju pintu Kedai melewati Juwita yang baru duduk.
Nasib menutup setengah pintu Kedai seperti biasa jika Juwita atau ada seseorang di dalam Kedai, sementara Kedai telah waktunya tutup.
Mendekati Juwita.
Namun baru saja akan menurunkan kursi dari atas meja, sinar terang dari kendaran yang masuk dari pintu Kedai membuatnya menoleh. Begitu pun Juwita.
Juwita melihat Nasib setelah melihat salah seorang dari kedua orang yang baru saja turun dari Mobil.
"Kak Nada," ucapnya pelan.
"Ronal." Nasib pun tanpa melihat Juwita.
Keduanya pun sejenak terpana melihat langkah keduanya yang terlihat mesra penuh dengan senyum.
"Wel!wel!wel!" seru Ronal, bersambut senyum sumringah Nada.
Juwita berdiri di samping Nasib.
"Baru mau tutup rupanya," ucap Ronal melihat ke seluruh ruangan.
"Tapi Aku bisa membuatkan untuk kalian, jika kalian mau," Nasib segera menurunkan dua buah kursi dari atas meja.
"Enggak usah, kami hanya sebentar."
Nasib pun urung menuju Lemari dagangnya mendengar perkataan Nada.
"Benar Nasib," timpal Ronal.
"Kami hanya ingin bahagia,"ucap Nada tersenyum kepada Ronal.
__ADS_1
Ronal mengangguk, merangkul pundak Nada.
Nasib menatap keduanya, terpana hampir tidak mempercayainya.
"Apa Aku enggak salah dengar?" Nasib bergatian melihat keduanya.
"Tentu enggak lah!" Nada dengan merebahkan kepalanya mesra di bahu Ronal.
Nasib tersenyum lebar, menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nada dan Ronal pun tertawa kecil. Ronal pun melepaskan rengkuhanya terhadap Nada melihat Juwita.
Nasib pun segera memeluk Ronal penuh suka.
Ronal yang sempat kaget, kembali tertawa dengan menepuk pundak belakang Nasib.
"Selamat Ronal! Selamat," ucap Nasib.
Ronal mengangguk-anguk pelan.
"Sejauh ini Aku masih memikirkan akan kebahagian Nada, dan kini..."
"Kau enggak perlu memikirkannya lagi, Nada kini tanggung jawab ku Nasib," potong Ronal penuh bahagia hati.
"Kalian akan bahagia Ronal! Aku sangat senang mendegarnya!" Nasib memeluk erat Ronal.
Pias resah dalam mendungnya hati yang selama ini menutupi puncak-puncak rasa terasa kian sirna tersapu desir angin yang berhembus membawa pelangi yang berwarna cerah, secerah hati yang mendengar kabar dari sang pujaan hati.
Bayang-bayang kebahagian yang terlihat samar dan sering mengganggu dalam lamun dan pikir terbawa hingga ke dasar hati. Terang sudah dalam rongga di dada.
Nasib semakin erat memeluk Ronal, menatap pelan wajah Nada dengan senyum haru.
Cinta yang dahulu akan segera berlabuh. Bahtera kebahagian yang bersandar menanti keduanya.
Biarakan cinta bersatu dalam ikatan yang abadi, sepatutnya cinta mendapatkan yang layak untuk memegangnya, menjaganya, menyayanginya hingga akhir.
Perlahan Nasib melepaskan rengkuhnya.
"Adakah yang bisa ku lakukan, untuk menyempurnakan kebahagian kalian?" Nasib menatap keduanya.
Ronal dan Nada tersenyum bertatapan.
"Kami hanya ingin Doa restu mu aja untuk kami."
"Iya Nasib." Ronal menimpali ucapan Nada.
"Dengan senang hati Nada, Ronal." Nasib menatap haru keduanya.
Tiada lagi yang dapat di rasakan selain turut merasakan kenahagian yang akan segera di rasakan Ronal dan Nada.
Ia hanya bisa percaya pada Ronal untuk selalu memberikan yang terbaik untuk Nada, dari semua yang tidak pernah bisa Ia lakukan.
Ia pun percaya Ronal tidak akan menyakiti Nada, karena Ronal sangat mencintai Nada.
"Oh iya Nasib, nanti akan kami kabarkan kembali,"ucap Ronal penuh senyum.
"Buru-buru sekali Ronal?"
"Ahhhh! Biasa-lah," tanggap Ronal melirik Nada.
Nada senyum-senyum.
"Iya sudahlah, yang penting kalian bahagia." Nasib menepuk pundak Ronal dengan tertawa kecil.
Ronal manggut-manggut kecil tertawa pula.
"Oke Nasib, kami pulang." Ronal menggandeng tangan Nada.
"Nasib, Juwita."
__ADS_1
"Iya, bahagia selalu Nada." Nasib menoleh Juwita.
"Iya Kak Nada!" sahut Juwita sedikit terkejut dari mematungnya.
Keduanya pun mengiringi langkah Ronal dan Nada keluar kedai dengan senyum lepas.
"Kak Nasib, kapan bahagianya?" Juwita pelan."
Nasib hampir menoleh karenanya.
"Kak Nasib kapan-kapan aja, jika beruntung," ucap Nasib pelan pula, dengan mata masih mengiringi Ronal dan Nada.
Suara mesin Mobil pun terdengar dengan sorot lampu menerangi dalam kedai.
Keduanya tersenyum hingga sorot lampu kian hilang dan lenyap bersama mobil yang berlalu.
Namun seperti ada yang tersisa di senyum Nasib saat hela nafasnya menatap sinar terakhir dari lampu mobil yang menyinari wajahnya.
"Kak!"
Nasib seperti sadar dari lamunan, suara Juwita dekat di telinganya.
"Cieee! Melamun masa lalu?" tawa kecil Juwita .melihat kaget di wajah Nasib.
"Ah! Enggak."
"Lantas?"
Nasib menjawab dengan langkahnya mendekati pintu kedai.
Meski sedikit terasa terabaikan dengan pertanyaanya Juwita pun mengikuti.
" Terakhir berpisah, Kak Nasib melihat pelangi yang berwarna. Tepat di depan pintu warung," pelan Nasib menoleh Juwita yang telah berdiri di sampingnya.
Juwita manggut pelan menanggapi.
"Dan sekarang, Kak Nasib melihatnya juga, di mana Kak Nasib tiada akan lagi memikirkan-nya."
Juwita termangu mendengarkan.
"Sekarang telah ada orang yang akan selalu menatap Pelangi yang berwarna, sepanjang hidupnya."
Juwita semakin termangu.
Nasib tersenyum mengukir kelamnya malam.
"Bentar Kak Nasib," ucap Juwita melihat kearah Nasib menatap denga keluar Kedai.
"Juwita enggak melihat pelangi?" dengan balik badan.
"Hanya ada ucapan yang Juwita lihat," dengan mendekati Nasib.
Nasib tersenyum.
"Apa itu Juwita?" tanyanya pelan.
"Selamat tinggal sayang!" Juwita dengan tertawa.
Nasib pun tertawa dengan segera menutup pintu Kedai dan menguncinya.
Hembus angin malam pun seperti berhenti berhembus dingin, bersama bibir Juwita yang bungkam.
Suara-suara kendaraan di jalan depan Kedai yang kian berhembus deras hilir-mudik.
"Kak Nasib jangan!"
Suara sayup Juwita terdengar dari luar Kedai.
...****************...
__ADS_1