
"Kak Nasib, Aku pulang dulu-an."
"Sudah di jemput?"
Nasib menengok ke luar kedai, terlihat tiada orang di parkiran yang biasanya duduk di atas motor untuk menjemput Juwita.
"Sebentar lagi juga sampai, lagi di jalan kata-nya,"senyum Juwita.
"Iya udah, hati-hati Ta...."
Nasib membalas senyum gadis di depanya.
Juwita membantunya berjualan selain Benu yang telah pulang lebih dahulu.
"Nah! itu...."
Juwita dengan melihat ke arah sorot lampu motor yang datang.
Nasib semakin melebarkan senyumnya, melihat riang wajah Juwita.
"Kak Nasib, Aku pulang, da-dah!" Bibir Juwita begitu sumringah.
Nasib hanya mengangguk cepat.
Sebuah anggukan ramah terlihat di balik visor helm bening, Nasib tersenyum membalasnya.
Masih juga terlihat lambai tangan Juwita saat motor yang membawanya berjalan pelan keluar parkiran.
Hening kembali suasana dalam kedai, alunan musik yang tadi Ia dengar telah juga terhenti. Seiring Benu dan Juwita yang telah pulang, keduanya memang hobi mendengarkan musik.
Nasib kembali menoleh ke luar kedai, terlihat lagi sorot motor mendekati.
Nasib tersenyum, mungkin Juwita melupakan sesuatu barangnya yang tertinggal.
Perlahan mendekati panci besar yang berisi Air kuah yang masih mengeluarkan uap saat di buka tutupnya. Seharian Ia memang belum merasa makan, hanya minum dan nyemil makanan ringan.
Perlahan memasukan mie mentah ke dalam panci.
Suara langkah terdengar mendekatinya.
"Ada yang tertinggal Ta...."
Nasib dengan melihat dan akan tersenyum.
Namun senyum-nya tertahan.
Nada dengan wajah suram menatapnya.
Terpaku Nasib melihatnya juga.
Waktu sekaan terhenti kembali, mata seolah berbicara lagi. Tentang rasa di hati, tentang perih yang di dalam. Telaga bening mulai retak kembali dalam kolam mata yang terasa menyakiti. Bibir yang hanya bungkam dalam diam menyimpan beribu kata yang sulit akan di tuturkan.
Harusnya pertemuan kembali menjadi ruang yang bercahaya dalam kelamnya perpisahan, jika saja cinta masihlah bersatu.
Namun kini seperti duri yang menusuk, yang mengoyak kenangan bila melihat kembali wajah orang yang pernah mengisi hati.
Hambar, sehambar tangan yang tidak sanggup lagi untuk menyentuh, mendekap. Hanya berharap semua yang ada berubah menjadi kebahagian yang dapat di lihat.
"Nada," pelan Nasib.
Menyudahi kesunyian angan yang membeku-kan Ia dan Nada.
Nada menundukan wajahnya.
Nasib mendekati, menatap haru wajah yang tengah tertunduk.
Ia tahu, pastinya Nada tengah bertengkar dengan Ronal. Mengingat kejadian kemarin malam yang menimpanya.
"Kebeteluan sekali, Aku tengah merebus Mie. Aku akan membuatkan mie kesukaan Mu...," ucap Nasib. Berusaha menenangkan perasaan di hati.
Nada mengangkat wajahnya pelan, tersenyum mengangguk.
"Duduk-lah."Nasib dengan menarik kursi plastik di bawah meja.
Senyum Nada begitu getir Ia rasakan.
Dengan cepat Ia pun kembali melihat Mie yang tadi Ia rebus, setelah Nada duduk.
Melihat Nada dengan senyum, dengan memasuk-kan Mie matang ke dalam mangkuk.
Nada hanya menatapi meja dengan memainkan Sumpit di tanganya. Sesekali melihat ke luar kedai.
Suara-suara tukang parkir terdengar di depan dan toko yang masih buka.
Nada mengamati dalam ruangan.
"Tidak sebesar yang dulu."
Nasib meletakan dua Mangkuk ke meja, satu langsung di depan Nada.
Nada tersenyum menanggapi.
"Selera."Nasib dengan mendekatkan botol kecap dan saos ke Nada.
Kembali hanya senyum hambar yang menyahuti.
Nasib tersenyum, terasa perih di hatinya melihat Nada mulai mengaduk Mie Ayam dengan dua Sumpit.
Mata yang terlihat sayu seperti menyimpan banyak rasa duka dalam hati.
Nasib mengaduk Mie Ayamnya dengan dua Garpu, Ia tidak bisa menggunakan sumpit seperti Nada.
Nada bersiap menyantap Mie Ayam.
Nasib senyum, melihatnya.
__ADS_1
Dengan senyum kecil tertahan, Nada memasukan sumpit yang tergulung di ujung sumpit.
Nasib pun mengikutinya.
Tiada banyak lagi kata yang terucap, hanya mata dan senyum yang sering terlihat beradu.
Beradu nyaring dalam relung hati, layaknya sendok dan garpu yang beradu di mangkuk proselin.
Lahap, terlihat lahap keduanya menikmati setiap suap demi suap meski tanpa canda seperti masa yang telah berlalu.
Nasib tersenyum dengan memberikan tisu ke Nada.
"Pelan-pelan kalo makan," ucapnya dengan menunjuk di bawah bibirnya.
Nada tersipu malu. Perlahan membersihkan dagu atasnya.
"Maaf Aku lapar," ucapnya pelan.
"Aku juga lapar." Nasib di sela senyumnya.
Nada menanggapi dengan senyum kecil.
"Kalo di Bukit, banyakin Nasinya biar kenyang." Nasib dengan mengaduk Mie dalam mangkuk.
"Kalo warga urban kan, lauknya yang banyak. Nasinya sedikit,"
"Emang kenyang?"
Nasib kembali menyuap Mie Ayam-nya.
Nada pun yang merasa pertanyaan tertuju padanya memainkan sumpit di depan wajah.
"Warga urban lebih mementingkan gizi," jawabnya lugas.
Nasib manggut-manggut dengan mulut masih menguyah.
"Pantes,kambing di bukit suka sekali dengan rumput dan daun."
Nada langsung menggeser kursinya di dekat Nasib.
"Udah pernah di gigit kambing belum?"
Nada memegang tangan Nasib yang akan kembali menyuap Mie Ayam.
Nasib menelan pelan sisa kunyah di mulutnya.
"Hingga bibir ku berdarah." Nasib meluruhkan tatapnya dari binar terang mata Nada. Seperti getar lirih yang merambat pelan.
Nada tertegun, mengingat sesuatu...
"Untungnya Aku enggak di seruduknya."
Nada menggerakan tangan Nasib yang di pegangnya.
Nada tersenyum, Dirinya ingat peristiwa di kamar mandi Nasib, saat masih bekerja di kedai Mie Ayam dan Bakso juga. Kenangan yang indah baginya.
"Andai saat itu Kau di seruduk."Nada memperhatikan bibir Nasib yang menguyah.
Nasib menuntaskan kunyahanya dengan minum. Mengusap bibirnya dengan tisu, lalu tersenyum kecil ke Nada.
Menatap wajah cantik Nada, menghela nafas pelan.
"Mungkin anak kita sudah besar dari anak Cahaya."Senyum Nasib lebar.
Nada langsung berdiri, gemas atau kesal yang telah melanda membuatnya memeluk kepala Nasib dari belakang.
"Aku enggak sebinal itu! Aku enggak sebinal itu,Nasib!" kesalnya di telinga Nasib.
Nasib tertawa kecil memegangi tangan di lehernya.Nada menggoyang-goyangkan kepalanya semakin keras.
Keduanya seperti lupa dengan apa yang terjadi dalam kasih mereka, tertawa bersama seolah bercanda lagi ke dalam masa yang tertinggal.
Pintu Kedai yang masih terbuka namun pipi Nasib dan Nada seperti dua daun pintu yang tertutup rapat, terkunci dengan tawa keduanya.
Semilir di binar mata terasa sejuk menghempaskan butir-butir luka yang tengah tertanam. Sejenak hati terasa erat mengusir gulana yang tengah membebani.
"Dasar Nasib!"
Nada semakin gemas.
Keram hati seperti lentur kembali bersama riang hangat tawa keduanya. Bunga-bunga jingga bersemi dalam taman yang tengah gersang, asri terbawa hati yang merona.
Kenangan kian terukir di ufuk mata, masa penuh kasih sayang, masa yang hangat. Waktu penuh cinta dalam suka maupun duka, semua terbayang dalam warung dan Taman Kota.
Nada kian merapatkan pipinya di pipi Nasib, tentunya dengan senyum gemasnya, seperti ingin mencurahkan segala rasa yang begitu lama Dirinya pendam.
Wajah ramah Nasib kini dapat lagi Dirinya rasa, masih tetap hangat seperti dahulu.
"Nasib, kangen banget!"
Nada saat telapak tangan Nasib menyentuh di pipinya.
Tangan yang tengah menyentuh halus pipi, menjadi surut kembali.
"Nada...." Nasib seperti sadar dengan apa yang baru Ia dan Nada lakukan.
Nada pun terperanjak.
Segera melepaskan tangannya yang mengalung di leher Nasib.
Nasib memperhatikan wajah Nada yang telah kembali duduk di depanya.
"Enggak apa-apa Nada, Aku pun kangen padamu,"ucapnya pelan.
"Tapi kini ada dinding di antara kita,"lanjutnya menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Sulit bagi kita memanjat kembali."
Nasib menggenggam tangan Nada di atas meja.
"Semoga kita saling mengerti,"ucapnya berharap.
Nada hanya menatap dalam, tersenyum meski terlihat di paksakan.
Perlahan mengangguk.
Nasib melepaskan jemarinya.
Detik jam dinding senter terdengar dari hening rasa yang kembali bungkam. Warna putih kasih kembali rebah di mika-mika meja yang berwarna putih, tanpa Vas Bunga yang menghiasi.
Kelam cinta hinggap sudah di angan-angan malam yang kian larut, tegar di antara dinding hiruk-pikuk Kota penyangga Ibu Kota.
Bising kasih hanya terdengar di ruang hampa hati, tanpa bisa lagi kembali berkoar di bibir yang bersih.
"Nada?"
Senyum Nasib melihat cantik wajah di depanya seperti merenung jauh.
Nada tersenyum kikuk.
"Enggak, Aku hanya ingat... kalo di rumah ada tangga lipat, mungkin bisa dipake buat manjat dinding," kilahnya tersenyum.
Nasib menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku serius," ucapnya tersenyum.
Nada tertawa kecil.
"Nada, apa Kau bertengkar dengan Ronal?"
Nasib dengan menyandarkan punggungnya di kursi, meski Ia pun telah mengira dengan apa yang telah terjadi pada Nada.
Tatap mata dengan binar pilu kembali mencuat.
Nasib menghela nafasnya. Mengalihkan sejenak tatapanya ke luar kedai.
Mengapa Ia harus melihat kembali wajah murung Nada? harusnya Ia melihat kebahagiannya. Sampai kapan Ia merasa berdosa? melihat Nada selalu sakit.
"Nada, pernah memilikimu adalah hal terindah dalam perjalanan hidupku."
Menatap Nada kembali.
"Jika selama bersamaku, Kau sering terluka dari hal yang ku sengaja atau pun tidak...,"
" Maafkan Aku,"
"Kini, Aku hanya ingin Kau seperti Cahaya."
"Seperti Cahaya."
Nada mengulangi ucapan Nasib.
"Aku seperti mencari rumah yang dahulu lama ku tinggalkan,"
"Rumah yang membuatku nyaman saat berada di dalamnya, penuh suka dan duka, dalam tawa dan tangis, namun penuh cinta dan kasih sayang,"
"Aku enggak bisa tinggal di rumah yang baru, yang penuh dengan kepalsuan hati. Berusaha mencintai seisinya, sedang Aku enggak pernah bisa melupakan setiap halaman dan dinding yang Aku sukai,"
"Nasib, apa Kau sanggup tinggal seperti itu?"
Nasib kembali menghela nafas yang terasa berat. Menangkap telaga bening di mata Nada.
"Semua butuh kebiasaan Nada,lambat laun kita akan terbiasa dengan suasana yang baru,"ucapnya tersenyum kecil.
"Sudah Nasib, Aku sudah terbiasa, terbiasa dengan rasa seperti terkurung dalam api yang membakar, Aku enggak betah Nasib, Aku ingin pulang ke rumah ku."
Nada mengusap butir yang menetes.
"Rumahmu telah berpenghuni Nada, kau enggak bisa kembali," jelas Nasib.
"Tapi itu rumahku Nasib, rumahku!"
Nada terisak menutupi wajah di meja dengan kening di atas ke dua tanganya.
Sesak sudah, sempit sudah terasa ruang kedai, derai yang terdengar kian menyiksa jiwa.
Perlahana bediri, mendekati Nada, membelai pelan kepalanya.
Terasa memegang halusnya duri akan batin yang tersiksa.
"Saat ini perasaan mu sedang tak tenang."
Nada pun segera berdiri memeluk Nasib.
Nasib menahan nafasnya. Debar di hati kian terasa dari eratnya tangan yang di lehernya,sedang isak di telinga bagai ribuan lebah yang menyengati, begitu sakit mendengar jeritan hati.
"Aku hanya mencintai-Mu Nasib! hanya Kau Nasib!"
"Nada." lirih Nasib mengusap pelan punggung Nada.
Kedai seperti penuh dengan derai Nada, tiada yang terasa, tiada yang terdengar. Hanya tubuh Nada yang terasa bergerak dalam isak, hanya isak Nada yang terdengar menyiksa batin.
Nasib memejamkan matanya.
Biarakan malam ini Nada mencurahkan semua isi hatinya, biarkan kedai malam ini penuh derai yang bercecer memenuhi lantai hati.
Biarkan jika memang semua akan menenangkan hati yang tengah terluka.
Perlahan membuka mata, mengecup hangat kepala di atas telinga Nada.
*******
__ADS_1