ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
9. Serpihan Kabut Pekat.


__ADS_3

Nasib segera berlari keluar kamarnya, suara Cahaya memanggil-manggil Ibunya.


Terlihat Cahaya berdiri di tengah pintu Rumah.


"Cahaya!" Nasib dengan mendekatinya.


"Ibuku tengah mencari daun singkong," ucapnya setelah berada di depan Cahaya.


"Oh, iya?" Cahaya seperti tidak mengetahuinya.


Nasib melihat ke arah Motor yang tidak jauh di depan pintu.


"Kevin?" tanyanya seperti tidak menemukan Anak Cahaya.


"Tengah tertidur." Cahaya tersenyum.


Nasib terpana sejenak. Senyum di bibir Cahaya terasa mendebarkan dadanya kembali, layaknya sinar mentari di pagi hari yang menghangatkan.


Perlahan tersenyum dengan memalingkan tubuh.


"Masuklah Cahaya," ucapnya berjalan membelakangi Cahaya.


Cahaya senyum-senyum dengan masuk ke dalam.


Nasib memperhatikanya dengan duduk. Wajah dengan rona yang begitu riang nampak terpancar olehnya, belum lagi bibirnya yang tengah tetsenyum. Rambut hitam dan tebalnya begitu indah saat tersentuh jemarinya, meski tidak sepanjang dahulu.


Nasib meleruhkan tatapan-nya Ia tahu akan arti Rambut pendek Cahaya. Bahwa semua jalinan kasih yang pernah ada telah berakhir sudah.


Nasib kembali tersenyum menatap Cahaya.


"Nasib, apakah Kau pernah bertemu Nada?"


Nasib hampir mengerutkan keningnya. Sepengatahuan-nya selama ini, Cahaya dan Nada semakin erat dalam berteman setelah keduanya bertemu untuk pertama kali di Bukit. Dan di saat terakhir kali Ia berpisah dengan Mereka.


"Aku heran Nasib? Sebelum Aku menikah, Nada dan Aku sering mengirim pesan dan saling menelpon. Tapi Kok?" Cahaya menyandarkan punggungnya di kursi.


"Nomor kontaknya enggak aktif lagi, hingga Aku menikah. Padahal Aku berharap Nada datang di pesta pernikahanku." Cahaya lagi.


Nasib terpaku mendegar penjelasan Cahaya.


"Apa Kau pernah bertemu atau, memberi kabar melalui Handphone?"


Nasib semakin terpaku tidak mengerti. Adina mengatakan padanya bahwa Nada dan Cahaya telah menikah.


Nasib meluruhkan tatapanya kembali, menatap hitam lantai di kakinya. Lalu menatap Cahaya kembali, mungkinkah Cahaya belum mengetahuinya? pikirnya mulai terusik.


Perlahan mengeleng.


Cahaya mengehembuskan nafasnya.


Nasib melayangkan tatapnya keluar Rumah. Debu-debu terlihat berterbangan di halaman terhembus angin. Sepertinya Ia telah mengetahui kabar baik Cahaya dan Nada, hingga Ia pun menjalin kasih dengan Adina.

__ADS_1


Nasib menatap kembali Cahaya, seperti ingin mencari kebenaran yang baru saja di sampaikannya.


"Tapi bukankah Nadapun telah menikah?" tanyanya.


Wajah Cahaya seketika berubah heran.


"Iya, Adina yang mengatakannya padaku." Nasib menjawab sebuah rasa di wajah Cahaya. Seperti baru saja mengetahui sebuah kabar yang tidak di duga.


Cahaya perlahan tersenyum, dan semakin tersenyum saat suara klakson Mobil terdengar.


Nasib pun segera melihat ke luar Rumah.


Sebuah Mobil mini bus nampak terhenti di pinggir jalan.


Cahaya segera berdiri.


"Suamiku," ucapnya. Segera bergegas meninggalkan Nasib.


Nasib tersenyum lebar. Namun bibirnya seperti tertahan melihat seseorang yang baru turun dari Mobil. Sementara Cahaya berlari kecil memdekatinya.


Ia pun berdiri perlahan. Sepertinya Ia pernah bertemu dengan Pria yang tengah berbicara pada Cahaya.


Dengan cepat mendekati jendela Rumah yang berkaca hitam, mengamati dengan pasti wajah Suami Cahaya.


Dan tetap berdiri terpaku saat melihat Cahaya berlari kembali, setelah Suaminya masuk ke dalam Mobil dan meninggalkannya.


Nasib senyum-senyum saat Cahaya melewati pintu dan melihatnya.


"Nasib, Aku harus pulang. Aku takut Kevin terbangun tanpa Aku atau Suamiku."


"Pulanglah Cahaya, seharusnya memang Kau enggak meninggalkan Kevin." Senyum Nasib.


"Seperti Kau meninggalku? saat terlelap dalam cinta?"


Nasib tertawa kecil mendengarnya.


Cahaya hanya tersenyum seperti marah, lalu bergegas keluar Rumah.


Nasib memperhatikanya. Tiba-tiba Ia mengingat sesuatu.


"Cahaya!" Dengan bergegas sebelum Cahaya menjalankan Motor Maticnya.


"Ada Apa Nasib?" Cahaya yang urung menjalankan Motor.


"Apakah Suamimu penah ke jakarta?" Nasib dengan memegang stang rem Motor.


Cahaya tersenyum mengangguk.


"Apa Kau mengenalnya? Atau pernah bertemu dengannya?" Cahaya meneliti wajah Nasib.


"Sepertinya iya, sepertinya tidak. Mungkin hanya mirip Cahaya?" Nasib dengan senyum-senyum.

__ADS_1


"Mirip dengan siapa maksudmu?"


"Iya dengan Suamimu!" tegas Nasib tertawa dengan berlari ke dalam Rumah.


"Dasar Nasib!" Kesal Cahaya melihat Nasib. Lalu dengan meninggalkan senyum segera menjalankan Motornya.


Nasib tertawa geli di depan pintu. Memperhatikan Cahaya mengendarai Motornya. Angannya kembali menyeruak saat Cahaya melintanya dengan tertawa sebelum tertutupi pepohohon pinggir jalan. Sepertinya Ia memang penah bertemu Suami Cahaya


"Erika!" Seru hatinya mengingat kembali seseorang yang dahulu pernah Ia temui di Jakarta. kini Ia baru ingat, saat menyusul Nada yang tengah mabuk, di tempat karoke. Di mana Erika bekerja.


Dan Suami Cahaya....


Nasib berlari cepat menuju jalan.


Namun bibir dan lambayan tangan untuk memanggil Cahaya pun tertahan. Percuma rasa Ia memanggil karena Cahaya telah jauh dari pandangan-nya.


Perlahan tatapanya tertuju pada puncak Bukit. Ingatannya kembali menyelimuti puncak yang terlihat hijau, meski semua telah lama berlalu namun Ia masih mengingat seorang lelaki yang berpapasan dengannya saat dari tempat Karoke, yang memperhatikannya dan Erika saat memapah Nada untuk pulang dengan Taksi.


Kembali melihat Cahaya yang semakin jauh mengendari Motor.


Lalu melihat ke dalam Rumah, menghela nafasnya pelan lalu berjalan pelan.


Sepertinya Ibunya mengetahui akan Suami Cahaya, setidak pernah mendegarnya. Entah mengapa Ia merasa penasaran akan Suami Cahaya.


Namun langkahnya kembali harus terhenti, sepertinya Ibunya pun belum kembali dari kebun untuk mencari daun singkong yang menjadi teman Nasi makan siangnya.


Matanya kembali melihat puncak Bukit, anganya seperti tengah tersangkut diatsnya.


"Erika." Kembali nama seorang teman terucap di hatinya. Terakhir pula Ia bertemu dengannya saat melepas Nada kembali ke kotanya. Dan seperti Nada dan Cahaya, Ia pun tidak pernah lagi mengetahui dan mendengar kabar darinya.


Seperti serpihan kabut yang pekat jika mengingat kembali Erika. Bekerja sebagai pemandu karoke untuk menopang kehidupannya dan Ayahnya yang kala itu tengah sakit.


Baginya Erika lebih dari sekedar teman namun menjadi Adik angkatnya.


Nasib menghembuskan nafasnya, terasa sesak dadanya bila mengingat Erika. Erika Seperti Retno, yang telah menganggapnya sebagai kakak kadungnya sendiri.


Kini, Keduanya pun sangat jarang Ia temui. Bahkan hampir tidak pernah.


Waktu dan keadaan bagai pagar yang memisahkan, namun Ia pun memang mengerti.Semua memiliki kehidupan masing-masing yang harus di jalani. Semua tidak akan seperti saat semula, saat masih sendiri. Mereka kini telah memiliki keluarga.


Semua akan menjadi kabut yang abadi di dalam hati. Masa-masa yang telah di tinggalkan, biarkan menjadi serpihan kabut yang pekat.


Sepekat rasa saat angan kembali mengingatnya.


Nasib melemparkan senyumnya, sebelum akhirnya kembali berjalan untuk masuk ke dalam Rumah.


Tatapnya lekas tertuju pada photo yang tergantung di dinding. Tersenyum kecil, lalu masuk ke dalam kamarnya, tadi Ia tengah menerima panggilan Adina namun harus Ia akhiri mendengar Cahaya.


Segera meraih HP-nya di atas kasur, Bibirnya tersenyum geli. Ternyata Adina telah banyak meninggalkan pesan kepadanya.


Perlahan membuka satu-persatu pesan yang masuk.

__ADS_1


*****


__ADS_2