
Adina membuka matanya, sentuhan tangan di kening terasa olehnya.
"Mengapa Kau sakit Adina?"
Adina membalikan tubuhnya.
Nasib mengusap pelan rambut Adina yang menutupi telinga. Berbaring membelakanginya.
Baru saja tadi Ia membuka kedai Bi Narti sudah ada di depan Kedai dengan wajah panik, memberitahukan bahwa Adina tengah sakit. Terkejut juga Ia mendengarnya, perasaan bersalah pun muncul seketika.
Sembari menunggu Juwita dan Benu datang Ia berbincang dengan Bi Narti tentang sakitnya Adina. Namun Bi Narti hanya mengatakan Adina demam tinggi.
Ia dan Bi Narti segera begegas ke Rumah setelah Benu datang ke kedai.
Menemukan Adina terbaring dengan menutup matanya, hatinya terasa sakit kembali.
"Mengapa Kau enggak pulang dua malam?"
Suara Adina terdengar lirih sekali.
Nasib tersenyum meski Ia paksakan, melihat photonya yang masih lagi berada di tempatnya.
Membelai pelan pipi Adina.
"Aku minta maaf,"ucap melihat mata Adina yang terpejam.
Tanganya terhenti membelai, Adina menangis dengan terpejam.
Nasib menahan gelora pilu di hatinya.
"Aku tidur di kedai, hanya ingin menenangkan Diriku,"
"Dan juga Dirimu Adina,"jelas Nasib dengan membelai lagi pipi Adina.
Rasa bersalah kian menyusupi di dera penghangat ruangan yang berhembus, kekasih hati kini kembali sakit dan semua karena Ia juga.
"Adina, Bi Narti bilang... Kau enggak mau ke dokter?"
"Bagaimana jika Kau ku antar kan?"
Nasib memegang jemari Adina.
Adina menggerakan kepalanya.
Nasib mengehela nafas lirih.
"Adina, apa yang Kau inginkan?"
Pundak Adina terlihat tersengal.
Nasib menoleh langkah Bi Narti yang mendekat.
Bi Narti meletakkan segelas teh hangat di dekat photo.
"Bi ,jagain Adina sebentar, Nasib mau memanggil dokter."
Nasib segera bergegas tanpa melihat lagi anggukan Bi Narti.
Langsung berlari menuruni anak tangga. Dan tiap anak tangga yang di laluinya seperti hitungan akan rasa bersalahnya kepada Adina. Mengetuk getar dan dentum di hati tiap kali kaki berpijak keras.
Namun kakinya terhenti di anak tangga terakhir.
Tanganya segera merogoh HP dalam saku celananya.
Panggilan masuk dari Juwita.
__ADS_1
"iya, Juwita ada apa?" tanyanya langsung.
Nasib mengusap pelan keningnya, dengan wajah mulai gelisah.
Suara Juwita ditelinga membuatnya bungkam tiada menyangka.
"Juwita tolong Kak Nasib iya..."
Nasib perlahan berjalan menuju pintu depan.
"Biar Benu sendiri di kedai, Juwita jagain Kak Nada sebelum Kak Nasib ke sana," ucapnya berat.
Nasib segera mengakhiri panggilan di HPnya setelah mendengar jawaban Juwita.
"Nada sakit?" Nasib mengusap hatinya dengan nafas beratnya.
Semalam Ia mengatarkan Nada di tempat kost-nya Juwita untuk bermalam. Sementara Ia sendiri tidur di kedai.
Saat mengantarkan Nada Ia belum melihat Nada sakit secara fisik, dan baru saja Juwita mengabarkan padanya bahwa Nada sakit, dan Adina pun tengah sakit.
"Mas Nasib!"
Tangan Nasib yang akan membuka pintu pagar pun kembali surut.
"Non Adina marah, Mas Nasib jangan panggil dokter katanya!"
Wajah Bi Narti memerah akibat berlari menyusul Nasib.
Dengan langkah berat Nasib bergegas kembali ke dalam, di susul Bi Narti.
Keduanya seperti sudah mengerti jika Adina sudah sakit kembali, apa yang di inginkannya harus di turuti. Jika tidak, akan lebih buruk lagi kondisinya, terbawa pikiran di kepalanya.
Nasib kembali berlari menaiki anak tangga yang baru tadi Ia turuni, sedangkan Bi Narti langsung ke arah dapur.
Nampak Adina tengah duduk bersandar di tempat tidur dengan bantal di punggunya sambil memeluk guling, dengan wajah di benamkan.
Suara isak Adina masih lagi terdengar.
Nasib kembali mengusap pelan kepala Adina sambil duduk di sampingnya.
"Adina, apa yang Kau inginkan?"ucapnya pelan.
Sengal tertahan terlihat di pundak Adina.
"Bi Narti bilang,Kau enggak tidur semalaman."
Nasib masih dengan membelai.
Isak tersengal pun masih menyahuti.
"Adakah hal terbaik yang Aku alami? Selain melihat mu sehat Adina."
Nasib mengangkat wajah Adina dengan amat perlahan. Mengusap pelan rinai dimata dan pipinya. Membawa wajahnya dalam dekap di dada.
"Adina rumah ini adalah milikmu, selama ini Aku hanya menumpang denganmu.Selain itu Aku pun telah berjanji kepada kedua orang tua mu untuk selalu menjaga mu,"
"Jika Kau seperti ini... Aku seperti menyia-nyiakan amanat mereka."
Nasib mendekap erat tubuh Adina.
"jika sikap ku membuat mu sakit? Bagaimana Aku meminta maaf?"
Nasib dengan rasa sedih di hati. Tubuh Adina terasa begitu lemah teras dalam dekapnya.
Dalam sudah rasa bersalah di hati, karena telah membuat Adina kembali merasakan sakit.
__ADS_1
Sesaat teringat apa yang di ucapkan Ayah Adina kepadanya, bahwa semua kehidupan Adina telah di percayakan semua kepadanya.
Nasib mengusap pelan kening Adina.
Mata yang terpejam dengan sisa rinai, membuatnya meletakan pipinya di kepala Adina.
Sayang, sungguh di dalam hati Ia sangat menyayangi Adina. Ia pun Ingin segera bersama, melalui semuanya bersama.
Nasib mengusap matanya yang hampir menumpahkan tetes hangat, mengingat semua aral yang kembali mengganjal di perjalanan kasih hidupnya.
Semua tiada semulus putihnya Awan di luar Rumah, terasa mendung.
Hanya hitam yang menggumpal pekat di dalam kalbu, akan kasih yang kembali terbaring sakit.
Semua karena kesalahanya.
Nasib mengangkat pipinya. Suara langkah mendekati.
"Mas Nasib...."
Suara Bi Narti di belakangnya.
"Biar Ku periksa Mas Nasib."
Nasib yang tadinya tidak ingin menoleh, segera menoleh.
Ternyata Bi Narti telah memanggil Dokter Firda. Dokter yang biasa merawat Adina bila sakit.
Dengan senyum kecil dan haru Nasib membaringkan Adina yang menatapnya sayu.
"Adina, ada Dokter Firda,"bisik Nasib telinga Adina. Mengecup hangat keningnya.
"Cepat sembuh Adinda,"ucapnya dengan mengusap matanya.
"Silahkan Dok...." Nasib dengan menyingkir dari tempat Tidur.
Dengan senyum ramah, Dokter Firda mendekati Adina, yang hanya bisa melihat tanpa bisa bersuara.
Nasib menarik tangan Bi Narti untuk keluar kamar.
Perlahan menutup pintu kamar.
"Bi, Nasib mau ke kedai sebentar," ucapnya di balik pintu yang telah tertutup.
"Nasib segera pulang Bi,"ucapnya lagi melihat Bi Narti seperti tidak kuasa menjawab.
Bi Narti mengangguk pelan.
Dengan sedikit berlari Nasib segera menuruni anak tangga, terus menuju ruang depan.
Membuka cepat pintu pagar, merogoh HP di saku celananya. Mengirim pesan ke pada ojek online yang biasa megantarnya.
Memasukan lagi HP di saku celana.
Sesaat menatap pilu awan putih yang terasa mendung, di antara cerahnya biru langit yang sempurna. Gurat sakit seakan ikut menoreh jelas di mata hati, gumam cinta resah menggema kian merejam.
Sebuah suara klakson Motor mengagetkanya.
Nasib segera berlari menghampirinya.
"Ke kedai," ucapnya dengan naik di belakang, memegang kedua pundak Driver ojek online.
Hanya tarikan gas perlahan Motor berjalan dan senyum kental dari balik helm yang meng-iya-kan perkataan Nasib.
Nasib mengamati jendela Kamar Adina, Menyisahkan pinta di dalam hatinya. Berharap saat Ia kembali pulang, Ia bisa melihat senyum sehat Adina lagi.
__ADS_1
******