
Nada menutupi hidungnya yang masih memegang pisau dapur, aroma yang di bakar di api kompor dengan wajan diatasnya yang berisikan minyak yang telah mendidih mengeluarkan suara cukup nyaring saat ikan asin di masukan ke dalamnya, semakin menusuk penciumannya.
Keringat hangat ikut sibuk membasahi keningnya diantara Dirinya dan Bu Marimin yang akan menyiapkan makan siang nanti.
kebetulan saja Dirinya di perboleh kan membantu masak-masak di dapur.
Itung-itung akan lebih tahu lagi,oh ini loh! harum dari terasi yang di bakar dan ikan asin yang di goreng! yang mungkin bisa membius seseorang yang jarang menciumnya,bisa bikin pingsan orang! geli hatinya mengingat dirinya sediri yang memang mual.
Nada segera memuju pintu dapur dengan hidung masih di tutupi, meski sudah sekuat-kuat hati untuk menjaga perasaan Bu Marimin namun apalah daya perutnya semakin mual.
Serasa plong nafasnya terlepas saat tanganya Dirinya turunkan, akan tetapi hanya sesaat,sepertinya aroma di dalam tetap mengikutinya hingga membumbung tinggi terbawa angin yang berlalu.
Nada tersenyum malu melihat Nasib tengah menimba air sumur menertawakan sikapnya barusan.
"Kalo di rumah mu bisa geger satu komplek!" Nasib dengan memasukan air ke dalam bak plastik di kamar mandi.
Nada mengangguk meng-iya-kan perkataan Nasib.
sepertinya memang Dirinya dengan sepanjang kariernya diapur bantuin istrinya Pak jaja sih! jarang banget! ketemu terasi yang di bakar dan ikan asin.
Dan sepertinya jarang pula Dia menelusuri aroma yang tercium olehnya dari sekitar rumah.
Pernah sih! tapi jauh di pinggir jalan deket pasar yang ada gambar ikan lelenya di spanduk dinding lapaknya.
Nada melihat ikan yang baru di angkat penggorengan, berharap melihat ikan yang ada dalam benaknya.
Nasib mendekati, berdiri bersandar di dinding pintu dapur melihat ke arah sumur.
"Tenang, itu menu Mukio bukan menu mu."Menoleh Nada pelan.
Nada memberikan pisau yang masih di pegang, melihat Bu Marimin memintanya.
"Bu, ada yang mabuk!" ucap Nasib melihat ke dalam dapur.
Nada tersenyum dengan menarik rambut Nasib dengan tawa kecil Bu Marimin.
"Enggak Bu, sudah biasa." kilahnya dengan ingin kembali menarik rambut Nasib.
"Biasa dari mana?" sambil menghindari jemari Nada.
"kau yang sering kali membuat ku mabuk!"
"pusing,sakit, mau....."
Nada tidak melanjutkan perkataanya.
"Bilang aja mau muntah, iya enggak bu..."
Nada kini menarik keras rambut Nasib.
__ADS_1
"Enggak bu...enggak!" ucapnya ke pada Bu Marimin di sela wajah Nasib yang meringis geli dan sakit.
"Aku tadi mau bilang... mau nangiiiisssss! Nasib!" dengan kesal melepaskan jemarinya dan langsung masuk ke dapur tanpa menutupi hidungnya.
Nasib menggaruk rambut pelan dengan tertawa.
"Bentar lagi juga keluar!"
Nasib dengan berdiri di tengah pintu.
Seolah acuh dengan ucapan Nasib dan seolah sibuk, sibuk memperhatikan! Bu Marimin memasak Nada hanya diam tanpa senyum dan lirikan.
Nasib mesem.
"Enakan di luar" ucapnya lagi dengan kembali ke sumur dengan rasa geli.
Nada menoleh ke pintu dapur. lalu tersenyum melihat Bu Marimin.
Suara dari kerekan timba terdengar, seperti bersaing dengan suara minyak yang menggoreng ikan asin lagi.
Beberapa timba lagi Bak plastik akan segera penuh begitu pula dengan ikan asin yang akan mentas beberapa detik lagi.
Tali Timba yang sempat terlepas ke dalam sumur sempat menghambat menimba Air yang akan di pergunanakan Nada mandi pagi, meski hari telah siang lagi.
Senyum-senyum Nasib menimba air di dalam sumur melihat ke dalam dapur.
Keakraban Nada dan Ibunya memang bukanlah sekali ini saja, karena memang Nada pernah ke Bukit.
Mengambil sapu lidi yang biasa di pergunakan Ibunya menyapu kamar mandi dari dedauan.
Terik mengintip dari ranting dan rimbun dedauanan di samping Rumah menerangi warna lumut yang menempel di bata merah kamar mandi.
Nasib menegak-kan tubuhnya dari menyapu, sebuah colekan di dekat hidung membuatnya menoleh ke belakang.
Terlihat Nada mesem-mesem kepadanya. Nasib menyentuh pipi di dekat hidung dengan jari, tercium olehnya bau yang menyengat.
Dengan sigap Nasib memegang tangan Nada, yang ternyata telah mencoleknya dengan terasi mentah.
Nada terbawa terbahak dengan coba meronta kerena di tarik Nasib.
Segayung air akhirnya mengguyur kepalanya juga, terus berulang hingga basah membasahi tubuhnya.
Nada merebut Gayung di tangan Nasib dengan niat yang sama, namun Nasib tidak memberikanya hingga saling berebut.
Sinar matahari terasa redup, semilir angin terasa terhenti membuat bungkam dedauan yang tengah berdesik.
Bibir keduanya hanya terbuka sedikit karena mata saling menatap dari wajah yang tiada terasa begitu dekat.
Waktu yang pernah sama saat mereka alami saat berada dalam kamar mandi, sama dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Perlahan Nasib menurunkan tanganya yang di pegang Nada yang tadi akan merebut gayung di tanganya.
Nada yang seakan sadar juga melepaskan tangan kirinya yang mendekap tubuh Nasib.
Semilir kembali terasa bersama lirih yang mendesir perlahan di hati, mengingat kembali kenangan yang lagi melekat di waktu yang beranjak jauh. debar di dada kian kencang berdegub menahan rasa yang menggema di lubuk terdalam ,tiada terasa linang kembali tergenang di kelopak mata.
Nada menundukan wajahnya.
Seolah terhenti nafas yang Nasib rasakan, nafas yang tengah berhembus di dekat dadanya terasa berat Ia rasakan.
Hatinya kembali terusik mendengar isak pelan yang begitu dekat di dadanya.
Nada kembali menangis.
Nasib hanya menatap dengan perih tanpa bisa berbuat apa-apa, meski tangan begitu ingin membelainya, begitu ingin membawa wajah jelita di depanya dalam peluk di dadanya.
Namun semua tidak bisa lagi ia lakukan, Nada bukan lagi miliknya.
Sesaat terbayang wajah Adina.
Nada mengangkat wajahnya menatap wajah Nasib.
"Maaf, aku hanya teringat anak-ku." ucapnya dengan bergegas meningalkan Nasib.
Nasib menghela nafasnya pelan, menatap perih langkah Nada yang dengan mengusap air mata.
Air mata yang pernah Ia usap dari pipi, yang selalu basah karena cintanya.
"Apakah cinta di hati ini adalah duri? hingga membuat orang yang menyentuhnya selalu sakit?" tanya di hatinya menatap jernih air yang terisi penuh di bak plastik dengan sehelai daun yang berwarna kuning kecoklatan yang baru jatuh dan mengambang di atasnya.
Seperti bahtera yang tiada bisa berlayar di samudera yang luas, hanya terkekang dan berputar-putar dalam perih.
seperti cinta yang ada di hati hanya kembali penuh luka, bertemu dengan luka dan berakhir dengan luka pula.
Nasib menyandarkan tubuhnya, melemparkan gayung ke dalam Bak, tepat mengenai daun kering yang basah.
Perlahan tenggelam bersama riak dan gayung yang bergoyang.
"Nasib!"
Nasib dengan terkejut bergegas keluar.
Nampak olehnya Ibunya tengah memijat-mijat leher Nada.
"Mabuk terasi." Bu Marimin dengan tertawa geli.
Nasib menggaruk pelan ubun-ubun-nya,
"Kok bisa?" ucapnya di dalam hati, geli.
__ADS_1
*****