
Nasib jatuh tersungkur di dekat kursi duduknya, tanganya masih sempat memegang meja, namun dorongan tangan begitu amat kuat. Menatap wajah di atasnya yang sepertinya penuh dengan rasa amarah yang datang tanpa bersuara dan tanpa basa-basi langsung mendorongnya.
"Ronal?" Nasib berusaha berdiri.
Wajah Ronal kian terlihat beringas. sorot matanya sudah tidak nampak lagi sebagai seoarang yang akrab, mulai buas seperti dahulu lagi.
Nasib, meski tadi sempat terkejut dan kini melihat wajah yang tidak asing baginya tersenyum menyikapi.
Untung baginya kedai telah sepi dan akan Ia tutup, semua telah pulang jadi kejadian barusan tidaklah terlalu menjadi pertanyaan di antara pekerja yang membantunya.
"Terlalu larut Ronal aku baru mau tutup." Nasib seperti berkata kepada seorang teman yang baru datang.
"Aku muak dengan mu Nasib! Aku muak!" dengan kembali berusaha mendorong tubuh Nasib dengan kedua tanganya.
"Apa yang terjadi Ronal?"
Nasib setelah menghindari kedua tangan yang akan membuatnya jatuh kembali. Membuat Ronal hampir terjatuh sendiri, hal itu membuatnya semakin marah.
Nasib kembali menghindar Ronal menendang tubuhnya sekuat tenaga.
Sadar tendanganya hanya mengenai ruang kosong, wajah Ronal kian beringas.
Wajah Nasib pun menjadi sasaran-nya.
"Tenang Ronal! tenang!"
Nasib menangkis tinjuan Ronal ke wajahnya. dengan langsung mendekap lehernya.
Ronal berontak sekuat tenaganya. Namun semakin meronta semakin tercekik lehernya oleh lengan Nasib.
"Tenang Ronal, meski aku enggak tau apa yang sebernaya terjadi? tapi aku yakin ini tentang Nada kembali." ucap Nasib di telinga Ronal.
Wajah Ronal yang sejak awal datang telah geram semakin memerah dengan lengan di lehernya.
"Kami akan segera menikah Nasib, mengapa kau ganggu kami lagi?" ucap Ronal dengan suara hampir tercekik.
Nasib mengendorkan lengannya perlahan.
"Begitu lama Nasib,aku menunggu jawaban Nada..."
Nasib benar-benar melepaskan lengan-nya dari leher Ronal, apa yang baru di dengarnya mungkinkah bukan bualan Ronal semata.
Ronal menghembuskan nafasnya yang tadi terasa terhimpit.
"Jangan bohongi aku lagi Ronal!" berkata Nasib di wajah Ronal.
"Kalian yang membohongi ku!" bentak Ronal membalas
Nasib menghela nafasnya dengan duduk di kursinya menatap Ronal di ujung amarahnya.
Tiba-tiba Ia merasakan sakit di pipinya, dengan tubuh terjatuh bersama kursi plastik yang baru di duduki. Belum sempat Ia menyadari, kembali sebuah pukulan membuatnya harus terbentur lantai keramik kedai.
Wajah Ronal terlihat samar semakin samar menjauhinya.
Samar pula suara beberapa orang di depan Kedai dan suara lejitan Ban Mobil yang pergi dengan cepat.
Terdengar suara orang memanggilanya dan tubuhnya terasa ada yang memegang untuk berdiri.
"Nasib! Nasib!"
Nasib mengusap hidungnya yang terasa ada yang mengalir, perih dan sakit.
__ADS_1
"enggak apa-apa Pak...,"ucapnya melihat wajah orang yang Ia kenali dan memberinya tisu.
"Bapak pikir tadi teman mu Nasib?"
Nasib mengangguk sakit.
"Dia memang temanku Pak..., biasa Pak, namanya juga orang lagi emosi," dengan berusaha tersenyum denga pipi dan hidung yang sakit.
"Pak Jun, aku berterimakasih Pak." lanjutnya melihat Pak Jun.
Dengan helaan lega Pak Jun melihat seluruh isi kedai dengan beberapa kursi dan meja yang bergerser dari tempatnya, lalu mengambil kursi plastik yang tergelatak di dekatnya.
"Teman terkadang menjadi musuh Nasib." ucapnya mulai tenang.
Nasib mengangguk pelan, terasa olehnya rasa sakit hinggap di lehernya juga.
"Hanya emosi sesaat Pak."
Nasib menyeringai terasa pusing di kepalanya.
Peristiwa barusan seperti mengetuk kepalanya dengan berbagai prasangka yang menyesatkan.
Selama ini Ia bersama Adina sedangkan Nada belum lah menikah?
jika sebuah alasan Adina membawanya dari Bukit atas keinginan Nada, Ia bisa menerima. Tapi ini seperti orang yang tengah menggadaikan cinta, seolah Ia tengah di gadaikan ke Adina, dan kini Nada akan mengambilnya lagi."ini gila!" Nasib semakin kuat memijat keningnya dan pikirannya.
Bayang wajah keduanya terasa silih berganti bermunculan di antara sakit di dadanya, sesak mengenang hari-hari yang di lalui yang terasa memanglah sebuah harapan akan cinta dan cita, tanpa rasa semua yang di rasa hanya sebuah senda dan gurau menunggu datangnya hari esok.
Begitu lama terbenam dalam kesedihan akan cinta yang telah di tinggalkan, menemukan kembali cinta dengan sekonyong langkah yang tegar kembali penuh suka cita hingga dapat lagi bersandar damai di bahu seorang kekasih.
Kini semua laksana permainan atas cinta yang telah tumbuh kokoh di dasar hati, begitu sakit terasa, begitu tiada arti atas semua yang di rasakan.
"Adina?" dengan mengusap wajah. Membenamkan perasaan yang mengguncang jiwa,"Nada?" semakin memejamkan mata. Menahan perih dengan getar yang begitu menusuk kalbu.
"Nasib?"
"Aku enggak apa-apa Pak Jun,"ucapnya pelan.
Pak Jun memegang pundak Nasib.
"Mungkin sebaikanya kau di antarkan pulang dengan anak Bapak aja." ucap Pak Jun pelan pula.
Nasib menggelengkan kepalanya.
"enggak usah Pak..terimakasih, sebentar lagi Adina pasti menyusul."
Nasib yang memang sejak tadi merasakan getar di sakunya, pastinya Adina yang tengah menelpon-nya.
Seperti biasa di mana Ia terlambat pulang, atau larut belum sampai di Rumah pasti Adina akan menyusulnya jika telponnya tidak juga di angkat.
"Ooo..iya udah, Bapak kembali dulu," ucapnya seraya berdiri dengan kembali menyentuh pundak Nasib. Merapihkan kursi di sebelahnya dengan lantas pergi ke luar kedai.
Nasib meperhatikan Pak jun, pedagang sovenir di sampingnya.
Sepasang lampu kendaran nampak memasuki parkiran bersimpangan dengan langkah Pak jun yang pergi, suara klakson kecil berbunyi, Pak Jun menoleh ke dalam mobil dengan tersenyum.
Nasib menarik nafasnya dalam, Adina tergesa menuju ke arahnya.
Pias wajah Adina terlihat tegang.
"Nasib?"
__ADS_1
Langsung memegang ke dua pipi Nasib.
"Ronal?"
Wajah Adina berubah marah.
"Duduklah Adina."
Nasib tanpa berkedip menatap Adina.
Adina mengikuti apa yang di ucapkan kepadanya.
Nasib pun memperhatikan wajah Adina. Sebuah rasa yang kini ada di hati seakan sulit untuk menerima bahwa orang ada di depannya begitu tega menutupi semuanya.
"Apa peristiwa seperti ini yang kalian ingin kan dariku Adina?"
Memegangi jemari Adina di atas meja.
"Apa yang kalian pertaruhkan selama ini?." Nasib membelai wajah Adina.
Adina menundukkan wajahnya.
Bahunya mulai tersengal dan isak kecil pun terdengar.
"Aku mencintai mu Nasib,"ucap Adina terasa sesak.
"Awalnya Nada menitipkan kau padaku,"
"Aku menyetujuinya, dengan syarat ... Nada enggak boleh tau kemana aku membawamu, karena masih ada Cahaya juga yang menunggumu," jelasnya dengan suara bercampur isak.
Nasib mengusap derai di pipi Adina.
"Hingga kami benar-benar hilang kontak, dan enggak pernah bertemu," lanjutnya lagi.
"Ibu mu Nasib, yang memberitahukan ku tentang Cahaya yang telah berkeluarga."
Adina memandangi wajah Nasib
"setelah itu...,mungkin Ibu mu juga mendapat kabar dari Cahaya pula tentang Nada yang katanya telah berkeluarga," lanjut Adina lagi.
Nasib menghela nafasnya.
"Adina, kau pun tau, begitu sulitnya untuk melupakan masa lalu. Bagaimaa Aku bisa melupakan-nya? jika kini Aku mengetahui lagi tentang-nya."
Dengan membelai Rambut Adina hingga ke telinga.
Adina mengusap sisa Air matanya.
Bangkit dengan berlari meninggalkan Nasib.
Nasib mengusap wajah dengan kedua tangan-nya. Mengusap semua yang membebani hati dan pikiran.
Bagimana Ia akan menjalani semua dengan adanya Nada, yang selama ini Ia pikir telah menjalani dan juga melupakan-nya?
Bagaimana Ia akan melewati lagi hari dengan cinta yang ada, sedangkan masa lalu masih jua membayanginya?
Jika saja Ia tahu sejak awal, tentunya Ia akan tetap tinggal di Bukit.
Nasib menengadahkan wajahnya. Melihat plafon kedai yang ber-cat putih.
Berharap putih menjadi rasa yang menjernihkan hitam di benaknya.
__ADS_1
*********