ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
32. Antarkan Aku Bi!


__ADS_3

Adina yang sejak tadi duduk di teras Rumah langsung masuk tergesa ke dalam melihat Nasib pulang.


Nasib pun tersenyum geli menundukkan wajah seolah tidak melihatnya.


Membuka pintu pagar dengan pelan, lalu menutupnya dengan menguncinya. Berjalan mendekati pintu Rumah yang terlupa oleh Adina untuk meninggalkan jejak dalam bersembunyi.


Nasib menggelengkan kepalanya pelan dengan menutup pintu Rumah.


Langsung menuju kamar Adina. Anak-anak tangga masih kokoh menantinya untuk membawanya ke lantai atas.


"pssttttt!!"


Nasib menoleh, baru beberapa anak tangga Ia tapaki suara buang angin kecil dari mulut Bi Narti menahannya.


Jari telujuk Bi Narti terlihat lengket menutupi bibirnya.


"Sudah tidur?" tanya Nasib.


Bi Narti mengangguk cepat.


Nasib menunjuk bibir lalu keningnya sendiri kepada Bi Narti.


Bi Narti yang sudah paham maksud dari kebiasaan Nasib, hanya melebarkan bibirnya seperti cemburu.


Nasib tertawa kecil, dengan kembali menaiki anak tangga berikutnya.


Kamar Adina memang tetutup, biasanya Bi Narti akan menguncinya dari luar jika melihat Adina sudah tertidur, sedang untuk membukanya jika sewaktu-waktu akan keluar kamar Adina sudah menyimpan anak kunci yang lain. Tentunya dengan pengawasan CCTV Bi Narti yang terpasang di atas pintu kamar.


Nasib membuka perlahan pintu kamar, tersenyum melihat tubuh Adina yang berbaring membelakangi.


Segera mendekati, duduk disisi tempat tidur di dekat kepala Adina yang terlihat memejamkan mata. Membelai rambut yang menutupi telinganya.


Melayangkan tatapnya di bingkai photo-nya yang masih lagi berada di atas meja kecil.


Perlahan tangannya berhenti membelai lalu mengambil photo.


melihatnya lalu melihat Adina, segera berdiri dengan meninggalkan Adina.


Nasib melihat kembali Adina sebelum menutup pintu kamar.


Perlahan menuruni anak tangga lagi, dengan menenteng bingkai photonya dan terus berjalan melewati kamar Bi Narti yang berdekatan dengan anak tangga, terus menuju kamarnya di dekat ruang Tamu.


Wajah Bi Narti yang mengintai dari celah pintu kamarnya yang di buka selebar semampu matanya mengintip, nampak heran dengan kelakuan baru Nasib.


Bi Narti langsung menutup pelan kembali pintu kamarnya mendengar langkah bersandal menuruni anak tangga.


Bi Narti menutupi wajahnya dengan selimut.


Terdengar olehnya pintu kamar di buka pelan, tiada berapa lama di tutup kembali.


Bi Narti segera bangkit kembali melihat apa yang tengah terjadi di luar kamarnya, membuka pelan pintu kamar sebagaimana tadi Dirinya lakukan.


Tiada terlihat olehnya Adina di depan pintu, merasa aman dengan intai diam-diamnya Dirinya pun segera keluar kamar menuju kamar Nasib dengan mengendap-endap.


Namun tarikan pelan dari balik lemari ukir di daster tidurnya membuatnya hampir berteriak kaget.


"Sssstttt!" Adina dengan jari telunjuk menempel di bibir.


"Non,Non...." Bi Narti mengusap-usap dadanya.


"Bi,photo Nasib hilang," bisik Adina.

__ADS_1


"Apa?" Bi Narti seperti tercengang. Padahal baru saja Dirinya melihat Nasib membawanya.


"Apa Nasib mengambilnya?" tanya Adina masih dengan berbisik.


"Mungkin Non," jawab Bi Narti berpikir.


"Tapi untuk apa?" Adina membantah heran.


"iya, mungkin untuk di pandangi sendiri Non," senyum Bi Narti.


"Ahhhh! Bi, emang Bi-bi," bantah Adina lagi.


"Apa mungkin untuk di berikan pada orang lain Non." Bi Narti menutup mulutnya dengan jemarinya seperti kecepelosan.


"Ahhhh! Bi-bi," wajah Adina mendadak gelisah.


"Atau akan di bawa pergi Non?" tebak Bi Narti lagi.


Adina terdiam menatap ke arah kamar Nasib.


"Bi," lirihnya.


"Gimana Non?" Bi Narti menyahuti dengan tanya.


"Antarkan Aku ke kamar Nasib," ucap Adina memegang tangan Bi Narti.


"Apa Non? Bi-bi kurang mendengar."


"Biiiiii." gemas Adina melihat Bi Narti berpura-pura tidak mendengar. Sedang bibirnya hampir lagi mendekati daun telinganya.


"Biasanya Non Adina, kalo ke kamar Mas Nasib sembunyi-sembunyi menghindari kata tadi, diantarkan! Sekarang kok?" Bi Narti melirik kamar Nasib.


"Adina takut Bi," kilah Adina menanggapi.


Bi Narti menahan jeritnya saat perutnya di cubit Adina, dengan meringis dan tertawa tertahan menarik tangan Adina menuju kamar Nasib.


"Gimana Non? biar kelihatan kita sopan, apa kita ketuk dulu pintunya?" Bi Narti bersiap mengetuk.


"Biasanya enggak di kunci Bi," jawab Adina berbisik.


"Cieeee, yang sering masuk tanpa permisi, hafal banget," cengir Bi Narti tertahan dengan menutupi perutnya jika tiba-tiba Adina mencubitnya kembali.


"Biiiii,"gemas Adina seakan tidak sabar.


Bi Narti meringis geli, dengan sangat perlahan membuka pintu kamar. Ternyata memang tidak di kunci, Bi Narti menatap Adina.


Adina pun mengancam dengan matanya.


Bi Narti mengangguk meringis kembali. Membuka kian lebar pintu kamar, mata Bi Narti terbeliak, lalu menoleh Adina kembali.


Adina pun melihat ke dalam, terlihat olehnya Nasib berbaring dengan memeluk photonya sendiri.


"Kiamat Non," bisik Bi Narti beringsut mundur.


Adina mencegahnya.


"Sekarang Bi-bi ambil photonya," bisik Adina lagi.


"Apa Non?"


"Biiiiii."

__ADS_1


"Tapi Non, Bi-bi enggak berani."Bi Narti melihat lagi Nasib.


"Non Adina aja Non."Bi Narti berdiri di belakang Adina.


"Tapi Bi...."


"Tapi, milik Bi-bi Non, kalo sekarang Non Adina aja," kilah Bi Narti berbisik di belakang Adina.


Adina cemberut kesal.


"Emang musuhannya belum ada kesepakatan damai Non? Biasanya juga langsung sergap aja." Bi Narti lagi.


Adina menggaruk rambutnya seperti berpikir. Menoleh Bi Narti, lalu dengan hati-hati Mode senyap gitu! Melangkah mendekati pembaringan Nasib.


Meski bukan untuk pertama kali Ia memasuki kamar Nasib, tetap saja debar di dadanya sulit untuk diatur tenang, berdegub seiring setiap kakinya melangkah.


Wajahnya hampir berkeringat berdiri terpaku di dekat Nasib dengan menoleh lagi Bi Narti.


Bi Narti yang tidak di minta pertimbangan, langsung menujuk-nujuk photo di pelukan Nasib.


Adina cemberut was-was. Kembali menggaruk rambutnya seperti bingung.


Namun tangan pun harus bergerak perlahan mengambil photo dalam rengkuh kedua tangan Nasib.


Belum lagi ujung jemarinya menyentuh bingkai yang terbuat dari kayu, tiba-tiba tangan Nasib meletakan photonya di kasur.


Adina yang terkejut dan belum sempat sadar rasa terkejutnya, merasakan ke dua tanganya di tarik Nasib, hingga jatuh di atas tubunya.


Nasib memeluknya erat, Adina meronta, namun peluk erat Nasib membuatnya tiada berdaya di dada Nasib.


Nasib tertawa tersengal, Adina menatap dengan dagu bertumpu di dadanya.


"Bagaimana jika gambar di photo ini,benar-benar tidak akan kau lihat lagi Adina?" Nasib mengusap pelan Rambut Adina.


"Aku enggak akan merasa kehilangan," acuh Adina.


Nasib tersenyum, melepaskan pelukan satu tanganya.


Adina pun berdiri, melihat di mana Bi Narti menunggunya. Ternyata Bi Narti sudah tidak ada di tempatnya.


Adina menatap Nasib.


Nasib memberikan photonya kembali.


Adina memegangnya.


"Jika hanya akan membuatmu sakit nantinya, ada baiknya Aku yang menyimpanya, kecuali kau memiliki alasan lain?" Nasib berdiri tersenyum. Merengkuh bahu Adina mengajaknya keluar kamar.


Adina terdiam mengikutinya.


"Hiling Non, Mas Nasib."


Nasib dan Adina bukan kepalang terkejut, di balik dinding kamar Bi Narti rupanya tengah asik menguping dan bersembunyi.


Bi Narti senyum-senyum saat dua pasang mata menatapinya dengan serius, lalu dengan beringsut pelan di sertai langkah keburu ke toiletnya, berlari menghindari Adina yang bakal akan mencubitnya lagi.


"Biiii!" seru kesal Adina mengejarnya.


Nasib menghela nafasnya, melihat lagi keriuhan yang belum lama hilang dari Adina dan Bi Narti.


Nasib terseyum menggelengkan kepalanya mendengar suara aduhan Bi Narti dari dapur.

__ADS_1


"Adina-adina," ucap di hatinya.


...****************...


__ADS_2