ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
34. Mie Ayam Erika


__ADS_3

Suara benda yang di ketuk di pintu Kedai membuat Nasib meninggalkan mangkuk yang berisi Mie Ayam yang baru Ia buat.


Perlahan membuka pintu Kedai.


Nampak simpul senyum terukir.


Nasib mengusap dadanya dengan senyum lebar.


"Erika." Nasib melihat wajah yang teramat Ia kenali.


Erika mengangguk pelan dengan memeluknya.


"Nasib," bibir Erika berucap haru.


Nasib merengkuh senang tubuh Erika.


Binar-binar mata yang memancarkan suka cita bisa kembali menjumpai orang yang di kasihi meski hanya sebatas kasih-sayang seorang Kakak dan Adik, begitu mendebarkan dada masing-masing.


Pertemuan terakhir terasa lama di rasa.


"Senang sekali melihatmu kembali Erika," ucap Nasib pelan.


"Aku juga,"balas Erika lebih erat memeluk Nasib.


Warna-warni yang pernah di alami bersama, masih tetap terukir di dalam ruang hati. Menghiasi seluruh dinding dalam kedai, berputar seiring kipas angin di dinding, memutari waktu yang kembali.


Erika melepaskan pelukannya, menatap wajah Nasib dengan tersenyum. Mengusap kedua pipinya dengan kedua ujung jemari tangan, seperti ingin memastikan wajah yang pernah Ia kenali masih sama dengan yang dahulu Ia temui.


Wajah dengan warna ramah yang membantu pengobatan Ayahnya dengan hasil gaji sebagai pekerja Mie Ayam dan Bakso.


"Apa Aku berubah Erika?"


Nasib seperti malu di perlakukan Erika sedemikan rupa.


Erika kembali mengangguk pelan.


"Masuk-lah Erika, enggak enak berdiri di tengah pintu," senyum Nasib.


Kembali Erika mengangguk, dengan mengikuti langkah Nasib. Matanya pun meneliti seluruh ruang Kedai.


Nasib menarik kursi, di dekat kursinya yang baru tadi Ia duduki.


"Apa Kau ingin menemaniku makan Erika?"


Nasib setelah Erika duduk.


"Boleh juga tuh! Lama sekali Aku enggak makan bersamamu!" girang Erika.


"Tunggu sebentar!" Nasib dengan girang pula.


"Jangan lama-lama!"


Nasib langsung menoleh.


"Apa waktu-mu kini begitu sempit Erika?" Nasib menatap curiga.


Erika tertawa kecil.


"Bukan, Aku hanya enggak mau Adina menuggu mu lama," jelas Erika.


Nasib tersenyum kecil, kembali berjalan ke arah lemari dagangnya.


Erika pun segera menyusulnya.


Meperhatikan Nasib yang mulai merebus Mie.


"Atau Nada yang menunggumu?"


Nasib kembali tersenyum.

__ADS_1


"Aku tau Kau marah ke pada keduanya," ucap Erika lagi.


Nasib menggelengkan kepalanya. Kepulan asap dari uap rebusan Mie terlihat saat tutup dandang Ia buka.


Erika masih memperhatikan, menghela nafasnya dalam.


"Mereka enggak salah Nasib," ucap Erika bediri di samping Nasib.


"Memang enggak, Aku yang salah Erika." Nasib melanyangkan tatapanya ke luar Kedai di antara pintu yang terbuka, cukup untuk dua orang bila memasukinya.


"Apa Kau ingat terakhir Aku dan Nada meninggalkanmu untuk pulang?"


Nasib mengangguk tersenyum.


"Aku menyuruh Adina membawa mu." Erika mengikuti tatapan Nasib.


"Mengingat apa yang terjadi antara Kau dan Cahaya,"


"Aku hanya ingin membantu mu," jelas Erika perlahan.


"Dengan cara...?" Nasib menoleh Erika.


"Aku pun enggak menyangka semua akan seperti ini Nasib." Wajah Erika mendadak murung.


"Bagaimana dengan Cahaya? Bagaimana perasaanya?" Nasib kembali menerawang ke luar Kedai.


"Nasib kau enggak mungkin kembali ke pada Cahaya Ia telah..."


"Bukan itu Erika," potong Nasib. Melihat kembali rebusan Mie di dalam dandang.


Lalu mengangkat Mie ke dalam Mangkuk yang sudah Ia sediakan.


"Bagaimana perasaanmu jika Kau adalah Cahaya?"


Erika terdiam, menatap pilu wajah Nasib.


Kembali menghela nafas dalam. Terasa berat nafas yang terasa mulai menyesakkan di dadanya.


"Aku memikirkan mu saat itu Nasib, hanya terlintas di benakku saat orang tua Cahaya membicarakanmu." Erika menerawang jauh. Dimana tanpa sengaja Dirinya mendengar pembicaraan Cahaya dan keluarganya, tentang Nasib yang tidak di harapkan di keluarga. Tentunya masalah kesenjangan, ketidak punyaan dalam keluarga Nasib.


"Aku merencanakannya tanpa sepengetauhan Nada, karena Aku merasa Kau dan Cahaya enggak mungkin bersama, keluarganya enggak bisa menerimamu Nasib! Meski Cahaya mencintaimu."


Nasib mengaduk pelan Mie Ayam Erika, melepas sesak rasa di hati.


Sedari dahulu memanglah Keluarganya hanya pekerja bagi keluarga Cahaya.


"Bagaimana Cahaya menikah dengan teman Nada?" Nasib tanpa melihat Erika.


"Siapa yang mengatakan begitu?"Erika tersenyum berat.


"Cahaya menikah dengan teman suamiku, yang kebetulan bertempat juga di daerah mu, dan Aku yang menyuruh suamiku untuk mengenalkan kepada Cahaya, bukan Nada," terang Erika.


Nasib melangkah menuju meja di mana Ia dan Erika duduk.


Erika menyusulnya.


"Kita makan dulu Erika," ucap Nasib dengan duduk.


Erika pun terduduk menatapnya.


"Aku hanya ingin membalas perbuatan mu dengan apa yang aku mampu, Aku pun enggak mau jadinya seperti ini," pelan Erika memegang sendok-garpu.


"Makan lah Erika."


Erika tidak melanjutkan perkataanya. Mulai menguyah Mie Ayamnya. Namun matanya selalu melihat Nasib yang juga tengah mengunyah dengan wajah...


Erika menahan debar hatinya, terasa sakit mulai menempeli di dinding-dindingnya.


Nasib hanya tersenyum saat melihat Erika memperhatikan-nya, lalu kembali mengunyah, perlahan demi perlahan tanpa lagi memperhatikan wajah di depanya.

__ADS_1


Suap demi suap yang terasa seperti menyumpali rasa yang tengah terpendam dalam yang akan mencuat keluar.


"Apa Kau tidur di kedai Nasib?" Erika setelah melihat Nasib minum.


Nasib mengusap bibirnya dengan tisu. Mengangguk pelan dengan berdiri, membawa mangkuk yang telah kosong.


Erika memperhatikannya hingga ke arah dapur dan hingga Nasib kembali mendekatinya untuk duduk kembali.


"Adina?"


Erika kembali bertanya.


Nasib tersenyum menatapnya.


"Maafkan Aku Nasib. Aku justru membuatmu susah."Erika dengan mata berkaca.


"Enggak Erika, justru Kedai ini... Tempat yang begitu mewah bagiku."


Nasib tertawa kecil.


Erika meletakkan sendok dan garpunya, matanya seperti tidak berkedip melihat wajah Nasib.


Nasib tersenyum tertunduk.


Hal itu membuat Erika mengusap kedua matanya dengan terisak.


"Erika?" Nasib tidak menyangka.


"Mengapa orang seperti mu begitu susah merasakan kebahagian Nasib?" Erika tersedu.


"Aku bahagia Erika."


"Bahagia?" isak Erika menggeleng pelan.


"Dengan kata hatiku,"pelan Nasib pula.


Erika semakin tersedu.


Tetes Air mata, mengalir pelan jatuh ke dalam Mie Ayam.


"Aku tau kau lelah Nasib, jangan menutupi itu dariku,"isak erika kembali.


"Lelah dalam hatimu."Erika berdiri terisak tergesa memeluk kepala Nasib.


"Nasib!" di sela derai yang membasahi pipinya.


"Adakah yang bisa ku lakukan untuk mu Nasib? Agar Aku dapat melihat kebahagianmu!" derai Erika semakin deras.


Nasib memejamkan matanya, Ia memang merasa lelah dalam hatinya, namun Ia pun tidak ingin menyerah karenanya. Pikiranya pun seakan sakit dengan semua penjelasan Erika.


Semua terasa sulit dengan semua langkah yang telah Ia lalui.


"Nasib?"


Nasib tersenyum.


"Tidak ada Erika, apa yang kau lakukan selama ini sudah cukup memberiku rasa bahagia,"


"Aku enggak akan bersama Adina, dan mengetahui cintanya jika bukan karena mu juga Erika,"


"Saat ini ... Entahlah Erika, Aku merasa ingin di kesunyian."


Nasib memejamkan matanya, Erika kian erat mendekap.


"Hati mu sakit Nasib!" Erika terisak cukup keras.


Kisruh rasa kembali terasa, di hangat linang yang tercurah. Wajah Erika seperti berselimut kabut yang pekat, mengerti dengan kesunyian yang di inginkan Nasib. Kesunyian akan memberikan ketenangan pada hati yang tengah sakit, untuk kembali merenungi semua kesalahan diri dari kegagalan, kepahitan yang terasa. Agar bisa memulai kembali langkah yang tertatih.


Seperti Mie Ayam yang tergenang setitik Air mata, bercampur keruhnya kuah. Meninggalkan kekalutan hati yang keruh, dengan kembali menapak di langkah yang baru dan bersih.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2