
Adina berlari kecil, meninggalkan Nasib yang berjalan pelan di belakangnya.
Dengan senyum yang mengembang perlahan berjalan mundur menatap Nasib, seolah ingin mengajaknya untuk menyusulnya.
Nasib senyum-senyum memalingkan wajahnya, seolah menolak sebuah ajakan kasih di depanya.
Adina tertawa kecil melihatnya.
Warna-warni Bunga di dalam Taman, terlihat segar menyambut hangat Matahari yang baru bersinar.
Pagi yang indah, seindah langkah keduanya menapak hangat di jalan kenangan saat cinta yang belum lama terlepas.
Hanya sekedar melepas penat hari di mana keduanya, berkutit dengan sumpeknya pikiran dan rasa yang membuat sakit segala rasa dan raga.
"Nasib! Gempurrrrrr!" seru Adina, mempercepat langkah mundurnya dengan membuka kedua tangan-nya.
Nasib langsung menghentikan langkahnya.
"Maaf! Sudah bukan kekasih!" sahutnya hampir tertawa, melihat rayu diwajah Adina yang berkeringat.
Adina tertawa, berhenti dengan memegangi kedua dengkulnya.
Mengamati Nasib yang mulai mendekatinya.
"Haduhhhh! Enggak usah di gempur, nyerah juga?" celutuk Nasib geli, mendengar deru nafas Adina.
"Pelukan terahir, apa sulit Kau berikan?" sipu Adina dengan tegak berdiri, meski Nafasnya masih lagi berburu dengan sinar Matahari yang menerobos sela-sela dedauan rindang pinggir jalan.
Nasib menghela nafasnya.
"Adina! Adina!" dengan meraih tangan Adina untuk berjalan bergandengan.
Meski sipu masih lagi merona di pipinya, Adina mesra menyambut genggam jemari Nasib. Menatap malu wajah Nasib.
Nasib menggelengkan kepalanya pelan.
Derai-derai keringat yang terusap pelan sepoi angin sejuk udara pagi, kian hangat dalam derai langkah yang seirama menapak lugas dalam senyum ceria Bunga-bunga Taman yang berwarna.
Tiada berdua saja mereka berjalan pagi, telah banyak muda-mudi yang juga asik menikmati udara sejuk pagi.
Butir kemilu di wajah-wajah dalam Taman, napak tertawa dalam canda dan lari.
"Nasib, mungkin jalan di Bukit lebih menguras keringat, namun sungguh lebih sejuk di sana," ucap Adina memainkan jemari Nasib.
Nasib tersenyum. Menatap pias wajah di sampingnya, seperti ingin mengingat pias wajah di mana saat berjalan bersama di Bukit.
__ADS_1
"Tiada yang indah dan sejuk, selain alam yang alami Adina, meski Taman ini pun di buat seperti alami," ucapnya menaggapi.
Adina tersenyum, mengamati se-isi dalam Taman yang asri.
"Tapi cinta dan kasih mu, enggak alami!" celetuknya saat melihat sepasang muda-mudi tengah bermain Ayunan.
Nasib kembali tersenyum menatap langkahnya, diantara jemarinya yang di gengam erat.
"Sudah terkontaminasi wanita kota sepertimu," sahutnya lagi.
Adina langsung menarik tangan Nasib kesal.
Nasib tertawa menahan tubuhnya yang hampir terdorong.
Adina merengut menatap, namun jemarinya masih saja memegang jemari Nasib.
"Aku tau hal lain, mengapa Kau ingin kembali?"
Nasib merapatkan bibirnya dengan berhenti bejalan, menatap lekat wajah Adina.
"Iya!" Adina seperti menjawab tatapan Nasib.
Nasib kembali berjalan dengan masih menatap Adina.
"Karena cinta masa lalu mu kan?"
"Apakah itu perasaan yang mendasar Adina? atas curiga dari cinta kita yang telah usai?" tanya-nya pelan.
Adina tersenyum lebar.
"Sepertinya sulit untuk melupakan cinta pertama Nasib, jangan kau ingkari itu?"
"Aku enggak mengingkari, namun semua enggak lah seperti masa pertama dulu," pelan Nasib.
"Kehidupan Ku dan kehidupan-nya sudahlah berbeda," lanjutnya.
"Siapa tau kan?" Adina seperti ketus.
" Ada yang tau, kalo cinta kami telah terkubur lama di dalam perut Bukit." Balas Nasib.
"Gunung kan bisa memuntahkan isi perutnya sewaktu -waktu!" Adina menatap ke dalam Taman.
"Tapi Bukit, bukanlah Gunung Adina."
"Semua yang tersimpan di hati, akan kembali meletus di waktu yang enggak kita duga-duga!" Sewot Adina melepaskan jemari Nasib.
__ADS_1
"Apa kah itu berlaku atas cinta yang sudah enggak mungkin lagi melava?" Nasib menatap wajah yang baru berpaling dari tatapnya.
Adina menundukkan wajahnya pelan.
"Cinta akan selalu ada Nasib, meski telah memfosil sekali pun, kecuali ada kebencian di dalamnya," pelan Adina seperti berbisik.
Nasib tersenyum kecil, mengusap pelan kening Adina yang berkeringat.
"Apa Aku membencimu Adina?"
Adina menatap mata Nasib, lalu menggeleng tersenyum. Sebuah rasa terasa lirih mengusik saat jemari Nasib mengusap kembali keningnya. Ia tahu Nasib kecewa dengan semua yang telah Ia tutupi, tentang Cahaya dan Nada. Ia tahu Nasib hanya merasa kurang nyaman dengan hubungan yang di jalani bersamanya, di kala Nasib telah berpikir semua tentang Cahaya dan Nada telah berakhir baik.
"Jika cinta kita hanya akan memfosil, biarkan hati kita yang menemukan kembali, seiring waktu ... seperti yang baru Kau katakan Adina," senyum Nasib.
"Tapi saat ini, biarkan Aku kembali untuk menyelesaikan semuanya, untuk menenangkan hati dan pikiran ku." Nasib merengkuh pundak Adina untuk berjalan.
Adina hanya terdiam mengikuti dengan memperhatikan.
Nasib semakin tersenyum lebar, melayangkan tatapanya ke arah depan.
"Meski sebenarnya enggak ada yang perlu di selesaikan, karena semua telah terjadi. Namun semua seperti ganjalan dalam hatiku Adina." Nasib tanpa melihat Adina.
"Jika kita akan bertemu kembali, Aku enggak tau? apakah Bukit bisa meletus, seperti yang Kau ucapkan?" Nasib melepaskan rengkuhannya.
Adina tersenyum lebar, mencubit pipi Nasib.
"Semoga letusan lebih besar dari yang sebelumnya," semu Adina tertawa kecil.
Lalu mengaduh mesra, saat Nasib berganti mencubit kedua pipinya.
Langkah tawa kembali terukir disela-sela kemelut hati yang tengah terpenjara duri-duri cinta. Mengepak lunglai sayap-sayap canda yang dahulu mampu menghiasi langit dengan bulu-bulu indah sebuah kasih.
Rona cerah akan pagi yang kian terusir Mentari, membuahkan rona kasih yang tertahan keadaan yang tidak di inginkan.
Jika memang waktu kembali berpihak, biarlah cinta dan rindu kembali bersatu di tahta hati, dan jika semua hanya akan menjadi sebuah abu dalam kenangan, biarkan di terbangkan angin kebahagian akan jalan masing-masing.
Rona berkeringat keduanya bagai mengukir sisi-sisi Taman dengan kemilau ceria, seakan hari yang telah lewat telah terlupakan, seakan cinta masih lagi mendiami lubuk-lubuk kemesraan yang begitu erat terjalin.
Mata-mata dalam Taman hanya mampu menduga bahwa mereka sepasang kekasih yang tengah bercengkrama manis dalam riuhnya hati.
Hati-hati yang tengah menatap pun ikut tersenyum mengiringi tawa dari canda yang berlari kecil mengitari Taman. Seperti ingin ikut berlomba dalam bahagianya hati.
Bunga-bunga di sela rerumputan hijau yang rapih tersusun, bagai pagar kasih yang wangi. Memagari ceria hati untuk tetap dalam lingkaran damainya cinta.
Suara deru mesin kendaran di pinggir -pinggir Taman pun bagai raib terhalang deru gemuruhnya hati, di kala mata harus kembali saling bertatapan, di kala jemari harus kembali terikat erat di jemari yang sayang. Namun waktu kini bagai dinding yang membentang kembali menghalangi dua hati yang tengah berpadu, harus kembali berdiri asing di masing-masing sisi dinding.
__ADS_1
Hanya rindu yang mungkin dapat menaiki dinding di saat hati melukis wajah yang kembalu akan terpisah.
...****************...