ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
14. iling Non! Healing!


__ADS_3

Air Mata yang jatuh di kolam begitu hangat menitik di air jernihnya, beriak tercampur dari kaki yang tengah di gerak-gerakan. wajah yang tertunduk seperti lesu di rundung lara.


Rambut panjangnya Ia biarkan terurai hampir menutupi wajah, dengan tangan keduanya bertumpu pada sisi kolam yang berkeramik.


Adina menyingkap rambutnya kebelakang. Cukup lama Ia terduduk dengan kedua kaki di dalam air hingga membuat pucat bibirnya.


Namun semua sengaja Ia lakukan.


Ia ingin merasakan dingin lagi.


Ia ingin mendengar Nasib marah lagi, karena rasa dingin menyakitinya.


Tapi Nasib kini jauh, Nasib tidak akan tahu hatinya kini yang sakit."kenapa Nada ke Bukit, kenapa mereka bertemu lagi?"


Suara hati yang terasa sakit.


Adina meremas kepalanya dengan kembali masuk ke dalam kolam, berenang seperti ingin menyeberangi sebuah selat yang kini tengah memisahkan hatinya.


Kembali duduk seperti semula, bibirnya semakin pucat dengan kerut-kerut di jemarinya.


"Non, HPnya bunyi."


Suara tergesa yang keluar dari pintu rumah dengan memegang Handphone ditanganya.


"dari siapa Bi?" suara Adina dengan menggigil.


"Nasib mu Non!"


Dengan bibir bergertar Adina tersenyum kecil menerima HPnya yang baru di berikan.


"Non,Non Adina?" dengan berlari mengambil handuk yang tersampir di kursi rebah.


Dan dengan cepat pula kembali mendekati Adina.


"Yaaaaa ampun Non,Non?" Memakaikan handuk ke tubuh Adina.


"Orang kangen enggak gini -gini amat Non,"


"Ini nyakitin diri lah Non?"


"Tinggal samperin aja Non, selat sunda enggak dalem-dalem amat toh Non, tinggal naik pesawat aja dua pulau terlampui," ceriwis Bi Narti melihat majikanya kedinginan.


Adina hanya terdiam, membiarkan tubuhnya di papah keluar dari kolam renang dengan menempelkan HPnya di telinga.


"Sehat."


Adina menjawab suara Nasib.


"sehat? dingin dan membeku!" bibir Bi Narti bergerak lirih sekali seperti menyangkal yang di katakan Adina.


"lagiii kangen." senyum getar Adina lagi menanggapi.


"Enggak,Aku sehat! beneran."


Adina dengan merebahkan kepalanya di kepala Bi Narti yang susah payah memapahnya masuk ke dalam Rumah.


"Aku yang sakit Non." bibir Bi Narti seperti tadi.


Adina tertawa pelan, dengan mematikan panggilan di HP.


"Bi-bi mau ikut ke dalam."


Adina dengan membuka pintu kamar mandi.


Bi Narti yang masih memegangi kedua pundak Adina tersenyum dengan melepaskan tanganya.


"Non Adina yang ke-enak-kan di papah," kilahnya dengan meninggalkan Adina.

__ADS_1


Adina tersenyum.


Masuk ke dalam dengan menerima kembali HP yang kembali berdering.


Terdengar suara langkah seperti berlari menaiki anak tangga yang menuju ke atas.


Bi Narti seolah lupa dengan usianya meski nafasnya tidak sebelia dahulu, tergesa menuju kamar Adina.


Cepat masuk ke dalam kamar dengan pintu yang tadi memang tidak di tutup, tadi memang Dirinya tengah membersihkan kamar di mana HP sang Non berbunyi. Membuka pintu lemari pakaian dan mengambil baju yang tergantung hanger di dalamnya.


Sesaat matanya tertuju pada Bupet seperti meja kecil dengan lampu tidur di atasnya, namun bukan itu di matanya.


Sebuah bingkai photo yang dirinya tatap.


"Mas Nasib-mas Nasib," ucapnya menggelengkan kepala.


Lalu bergegas keluar kamar dengan menutup pintu kamar.


Menuruni tangga seperti tadi, khawatir akan sang Non membuatnya terburu dalam tindakan.


"Biasanya mas Nasib nih yang begini ... kalo lihat Non Adina sakit." Seperti menggerutu di anak tangga terakhir.


Bi Narti langsung menuju ke arah dapur setelah melihat pintu kamar mandi masih tertutup,sepertinya Adina belum selasai membersihkan diri.


Segera menghidupkan kompor untuk memasak air.


Baju Adina dirinya letakkan di atas meja makan yang masih kosong, duduk dengan melihat ke arah kamar mandi. seperti menghitung dengan jemarinya untuk keluarnya Adina dari dalamnya.


"Lama bener? mandi sambil nelpon apa ya?"


Berbicara sendiri dengan melihat jarinya yang berhenti menghitung ala anak SD.


Cepat berdiri.


Suara air mendidih terdengar.


Menuangkan air panas di gelas bergagang yang tadi sudah dirinya masukan teh celup.


Kembali ke arah meja makan.


Bi Narti mengaduk kembali air teh yang baru dirinya letak-kan di meja, hatinya mulai merasa was-was.


Sesat muncul pikiran Jangan-jangan!, yang berjubel terasa juga.


Dengan membawa pakaian Adina mendekati kamar mandi, tanganya pun berubah seperti Burung Bangau.


"Non!" dengan tangan mengetuk pintu.


Tiada tersedengar Adina menyahutnya dari dalam.


"Non!!" dengan ketukan lagi.


Adina tetap tidak menyahuti.


"Non Adina!!!"dengan mengetuk berulang-ulang dan wajah yang panik.


"siul Non kalo belum selesai."


dengan wajah semakin panik dan menatap ke sekeliling ruangan seperti mencari sesuatu.


Kembali tanganya akan menegetuk dan mungkin akan lebih keras lagi.


"Apaan sih Bi, Adina kan lagi menerima telpon, lagi melepas kangen."


Wajah Bi Narti seperti mencair dari panik menjadi udik, heran dengan orang yang betah banget! main telpon di kamar mandi.


"healing non! healing!" serunya di pintu kamar mandi yang telah di tutup kembali.

__ADS_1


"Bi-bi aja yang healing ke pasar!"


Wajah Bi Narti tersetak dari rasa kaget di depan pintu


"Maksud Bi-bi iling non! ilieeeeng!"


"Bi-bi aja yang healing sambil iling!" Adina menyahuti lagi.


Bi Narti kembali mengetuk pintu.


kini Adina langsung membuka pintu dengan kepala saja yang terlihat.


Bi Narti nyengir.


"Iling Non, jangan video call di kamar mandi,"pelannya dengan senyuman.


"Apa lagi...."


"Apa lagi dengan mandi seperti ini?."


Adina dengan membuka pintu kamar mandi selebar- lebarnya.


Bi Narti terkejut melihat tubuh sang non yang sudah memakai piama.


"Maaf Non, jaman angkatan Bi-bi belum ada video call, enggak seperti sekarang! Video call di sembarang tempat, kan jadi tau jeroan pasar," kilahnya dengan pelan.


Pelan sekali melangkah meninggalkan Adina yang terus melihatnya.


"Bi!"


Bi Narti sigap balik badan.


"Jaman Bi-bi jaman sejarah, belum mengenal video call! tapi di sembarang tempat! kol...nya kemana-mana, dan kemana-mana cuma pake kol..."


Adina menutup kembali pintu kamar mandi.


Bi Narti termenung berdiri, menatap tanya di balik pintu yang baru saja tertutup.


"Kol?" ucap berpikir.


"Sayur kol?" pikirnya lagi, dengan mendekati kamar mandi.


"Non, ini kol apaa Non? jaman sejarah sepertinya sayur kol belum di temukan!"


Bi Narti tanpa mengetuk pintu.


"Masuk ke laman google, ketik aja warna dalam bahasa inggris."


Adina dari balik pintu


"Kasih pager enggak non?"


Bi Narti menyahuti


"Enggak usah!"


Suara Adina menjauh dari pintu.


"Kenapa non?"


"Percuma di pager! sudah banyak yang liat Bi!"


Suara Adina semakin menjauhi pintu.


"Okelah kalo begitu non!"


Bi Narti dengan tersenyum lebar kembali ke arah dapur, dengan rasa hati lega.

__ADS_1


Lega melihat Adina baik-baik saja yang tadi sempat membuatnya panik. sepertinya kini dirinya cukup tenang untuk kembali bercengkrama dengan pekerjaanya di dapur, hanya tinggal memasak, tinggal mencuci, tinggal cuci piring, tinggal bersih-bersih dan tinggal... masih banyak lagi yang di tinggal tadi.


******


__ADS_2