
Nasib membersihkan kayu papan dengan telapak tangannya yang baru saja Ia potong menggunakan Gergaji. Suara sapu lidi Ibunya yang beradu dengan tanah jelas terdengar di halaman depan Rumah. Seperti ikut menyambut pagi yang baru saja benderang.
Kemilau embun pagi yang masih tersisa di pucuk dan dedaunan hijau yang tumbuh di sekitar Rumah bagai menjernihkan rasa akan alaminya alam yang baru terjaga.
Langkah tanpa alas kaki akan kembali berpijak tanpa bersuara di jalan yang juga masih basah oleh embun.
Kayuhan kaki di atas pedal-pedal yang berputar pelan dan juga knalpot bising yang berasap dari Motor-motor gunung akan turut melintasi jalan di depan Rumah menghiasi pagi.
Petak-petak sawah yang juga terlihat basah akan air yang menggenanginya beriak saat Burung-burung kecil hinggap di batang-batang padi yang mulai di tumbuhi hijau tunas yang baru.
Riuh pagi akan kian ramai saat hewan-hewan ternak yang dipelihara memekikan suara khas masing-masih seperti bersuka akan hadirnya pagi.
"Nasib."
Nasib menoleh dengan berdiri. Ibunya tengah berdiri di pintu dapur.
"Ibu mau ke warung sebentar!"
Nasib tersenyum dengan mengangguk pelan. Menatap Ibunya yang telah masuk kembali ke dalam Rumah.
Kembali melanjutkan pekerjaanya, untuk menambal bagian bawah pintu kamar mandi yang telah keropos dengan papan yang baru Ia potong.
Suara paku yang terpukul dengan palu pun terdengar.
Desik-desik rerimbunan daun di dekatnya belum lagi bersuara terkena angin yang berhembus, udara pagi terasa tenang. Setenang perasaan-nya saat ini.
Menurut Ibunya Retno dan Mukio akan segera sampai Ke Bukit, hal itu membuat perasaanya terasa senang dan lega.
Lama sekali Ia tidak berjumpa dengan keduanya dan tentunya dengan keponakan-nya yang kini pasti sudah besar.
Nasib tersenyum sendiri, seperti tidak menyangka bahwa Mukio yang menjadi sahabatnya kini menjadi adik iparnya meski Retno pun bukanlah adik kandungnya sendiri.
"Bu-de!"
Nasib menoleh kembali, seseorang memanggil Ibunya.
"Bu- de!"
Nasib mengurungkan langkahnya untuk masuk kedalam Rumah, menatap ke dalam dapur. Sepertinya Ia mengenal suara yang baru memanggil Ibunya.
"Bu-De!!"
Nasib semakin terpaku, mulutnya tiba-tiba terasa kaku untuk menyahuti panggilan yang terdengar dari depan Rumah. Kakinya bagai turut terpaku di atas tanah.
Ia sangat mengenali suara yang baru terdengar, suara yang pernah dan sering mengiang di telinganya. Suara yang cukup lama tidak lagi Ia dengar.
Kini ....
Terdengar suara Motor dari samping Rumah.
Dadanya semakin bergemuruh seiring suara knalpot yang terdengar kian jelas mendekati.
"Cahaya," lirih di hatinya. Melihat wajah yang baru muncul dengan mengendari Motor matic.
Bukan hanya Ia tapi sepertinya orang yang berada di Motor pun sama terpana.
Tatap mata dari wajah di atas Motor terus menatapnya hingga berhenti di dekatnya.
"Cahaya." Nasib seperti baru sembuh dari rasa gugupnya. Senyumnya pun mulai terukir dengan mendekati.
"Nasib."
Nasib semakin tersenyum lebar.
"Apa kabarmu Cahaya?" tanyanya memperhatikan wajah Cahaya.
Cahaya yang masih duduk di atas Motornya, hanya melihat anak dalam gendongan-nya.
Nasib pun menatapnya, lalu tersenyum senang kepada Cahaya.
Cahaya membalas tersenyum dengan mengusap kening anak yang di gendongnya,
"Aku baik Nasib, sampai-sampai Aku memiliki momongan."
Nasib tertawa kecil mendengarnya. Kembali menatap anak kecil di dekapan Cahaya.
"Sungguh Kau beruntung Cahaya," ucapnya dengan mengusap kepala anak kecil tersebut.
"Apa kabarmu buruk Nasib?" Cahaya di sela tawanya.
Nasib tersenyum kecil menggelengkan kepala.
"Hanya enggak sebaik Dirimu," ucapnya kembali memgusap kepala anak Cahaya. Memperhatikan wajahnya yang seperti takut melihatnya.
"Kevin."
Nasib mengangguk tersenyum.
"Aku menanti, tapi tanpa kabar apa pun," ucap Cahaya lagi.
__ADS_1
Nasib menatap pelan mata Cahaya.
"Penantianmu kini, berganti kebahagiaan Cahaya,. anakmu tampan." Senyum Nasib.
Cahaya pun tersenyum.
Keduanya bertatapan. Waktu seakan terhenti, semua seperti kembali dlalam ruang yang lalu, berpetak-petak penuh rasa yang terukir.
Nasib segera melayangkan tatapan matanya pada anak Cahaya, ada telaga yang mulai retak di mata Cahaya yang membuatnya tiada kuasa melihatnya.
Cahaya turun dari Motornya, dan menurunkan Kevin yang di gendongnya.
Nasib tertawa kecil saat Kevin kembali meminta untuk kembali di gendong saat melihatnya lagi.
"Sayang! Om Nasib jahat iya?" Cahaya dengan menggendong Kevin.
Nasib senyum-senyum memperhatikan keduanya. Ada rasa bahagia yang terselip di dasar hatinya menyaksikan pemandangan akan gambar dari rasa kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya.
"Rambutmu sekarang pendek Cahaya," ucapnya seolah sadar akan sesuatu yang berbeda pada wajah Cahaya.
Cahaya tersenyum malu. Lalu mencium kepala Kevin.
Nasib mencubit pipi Kevin gemas.
Kevin langsung menangis.
Nasib pun tertawa geli seiring Cahaya.
"Om Nasib memang jahat!" Cahaya mengusap-usap kepala Kevin.
Nasib segera beringsut mundur, sepertinya Kevin semakin takut padanya.
"Pergi, enggak tau jalan pulang!" Cahaya lagi. Meski Kevin telah terdiam di dekapnya.
Nasib nyengir kepada Kevin yang melihatnya dengan takut, lalu tertawa kecil saat wajahnya kembali di sembunyikan di dekap Cahaya.
"Jalannya ingat! hanya ..."
"Hanya Kau lupa! bahwa ada yang tengah menantimu?" Potong Cahaya. Menurunkan Kevin kembali.
Nasib menatap lekat wajah Cahaya. Masih dapat Ia rasakan hangat wajah itu pernah ada di peluknya, pernah Ia sentuh dalam belainya.
"Aku hanya orang bodoh, yang enggak bisa memilih akan cinta yang kurasakan. Dan jalan yang Aku tempuh, enggak semudah menemukan jalan untuk kembali pulang." Pelan Nasib.
Mata Cahaya kembali bertelaga bening.
Nasib menundukkan tatapanya, melihat Kevin yang memeluk kedua kaki Cahaya. Tersenyum saat Cahaya membelai kepalanya.
Cahaya pun terduduk.
"Om Nasib mau menggendong Kevin sayang," ucapnya saat Kevin akan memeluknya.
Namun raut wajah Kevin terlihat akan menangis. Cahaya yang melihat pun hanya tersenyum kepada Nasib, membiarkan Kevin memeluknya, menyembunyikan wajah di pundaknya.
Nasib tersenyum geli.
Kembali keduanya bertatapan begitu dekat. Binar-binar indah sebuah kenangan semakin terkuak dalam dinding-dinding hati. Cinta yang dahulu begitu harum menumbuhi waktu, terasa mewangi dikala malam berselimut kabut yang dingin.
"Apa kata hatimu Nasib?" Cahaya seperti ingin memecah kebisuannya akan tatapan Nasib.
Nasib tersenyum getir.
"Dengan cinta yang ada Aku bertahan di atas jalan hatiku, meninggalkan semua rasa yang ku pendam."
"Meninggalkan harapan kosong padaku?" Cahaya kembali memotong ucapnya.
Nasib menatap pilu.
"Cahaya, hari-hari yang Aku lewati tidaklah sekosong apa yang Kau rasakan." Nasib menghela nafasnya.
"Terasa sulit, terasa sakit begitu berat langkah ini," ucapnya kembali.
" Aku hanya berharap Aku bisa menemukan salah satu di antara kalian. Kau dan Nada yang Aku tinggalkan,"
"Tapi itu pun kini, bukan berada dalam di jalanku melangkah," jelasnya lagi.
Cahaya menempelkan kepala Kevin di pipinya, Matanya meneteskan air mata.
"Bagaimana dengan cinta ini?" lirihnya.
Nasib melayangkan tatapnya ke arah Kevin.
"Kevin, nama anakmu terdengar kota banget Cahaya." Nasib dengan mengusap lagi kepala Kevin.
"Jika Kau bersamaku, mungkin anak Kita enggak sekota Kevin saat ini." Nasib berusaha tersenyum.
"Karena Aku bukanlah seorang pegawai pemerintah, seperti suamimu." Nasib memegang tangan Cahaya.
Cahaya tersenyum terisak.
__ADS_1
"Cahaya, Kau telah menemukan jalanmu. Cinta di antara Kita, biarkan menjadi kabut yang menyelimuti puncak bukit. Menjadi kenangan yang sulit untuk di lupakan."
Cahaya yang terisak, mencium kepala Kevin.
Nasib tersenyum getir.
"Cintamu saat ini, adalah untuk Kevin dan suamimu." Nasib dengan memegang tubuh Kevin. laku berdiri menggendongnya.
Meski Kevin terasa berontak dan akan menangis Ia tetap menggendongnya.
"Enggak apa-apa sayang," ucap Cahaya kepada Kevin.
Kevin merengek.
Nasib segera membawanya berjalan. Cahaya mengusap sisa linang di pipinya.
Suara Kevin yang menangis langsung terdiam saat Nasib mengangkat tubuhnya di atas kepala, lalu menurunkannya kembali. Terus Ia lakukan berulang-ulang hingga Kevin tertawa.
Cahaya yang melihat dengan rasa takut Kevin terjatuh, berjalan mendekati keduanya.
Nasib menurunkan Kevin ke tanah.
Kevin segera berlari tertatih menuju Cahaya.
Cahaya segera memegangnya sebelum terjatuh.
"Om Nasib jahat banget! Kevin kan, belum lancar jalanya." Cahaya berwajah cemberut.
Nasib tertawa kecil.
"Mungkin, Aku akan sepertimu, jika Aku memiliki Anak!" Nasib dengan mendekati.
Cahaya tersenyum menggedong Kevin.
"Aku akan menantikan hal itu Nasib," ucapnya manis.
Nasib mengehembuskan nafasnya, menatap indah mata Cahaya.
Cahaya pun tertegun.
Nasib menundukkan tatapan-nya dengan senyum mengukir tanah. Rasa di hatinya bagai tertanam di bawah kakinya yang tiada sanggup lagi Ia ukir menjadi jejak yang terlihat. Kini, hanya akan ada jejak yang baru.
"Untuk Om Nasib yang baru pulang."
Nasib segera melihat Cahaya yang berbisik pada Kevin yang juga tengah melihatnya.
Nasib tersenyum saat Cahaya mencium pipi Kevin.
"Salam kenal dan sayang selalu Om." Cahaya setelah mencium pipi Kevin.
Nasib mencubit pipi Kevin gemas.
Kevin kembali menyembunyikan wajahnya di pundak Cahaya.
"Lihat Om Nasib dong." Cahaya dengan tertawa geli.
Namun Kevin tetap menyembunyikan wajahnya.
Cahaya membalikan tubuhnya.
Nasib tertawa kecil, saat wajah Kevin terlihat olehnya.
Kevin melihatnya seperti tidak berkedip. Cahaya menahan tawanya.
Nasib dan Cahaya tertawa bersamaan, Kevin merengek lagi.
"Tadi kan, sudah kenalan sama Om Nasib," ucap Nasib di sela tawanya.
Kevin pun semakin kuat menangis.
Cahaya segera membalikan tubuhnya masih tertawa dan berusaha menenangkan Kevin.
Desik yang mulai terdengar dari rerimbunan hijau yang terterpa angin di sekitar mereka, bersama rasa sejuk yang mengalir, Menerbangkan sejenak kisah hati yang pernah terukir di kulit-kulit pepohonan. Melihat tingkah lucu dan tangis di bibir mungil
Nasib segera memegangi tubuh Kevin ketika Cahaya mendudukan Kevin di atas Jok Motor.
Keduanya pun semakin tertawa bertatapan, Kevin semakin menjerit dalam tangisnya.
Di balik tawa keduanya, di balik tatap mata keduanya ada rasa yang tertumpahkan.
Keduanya seperti ingin menuntaskan rindu yang tengah tertanam dalam di dasar hati. Rindu yang hanya menyisahkan mata dengan Air mata.
Meski kini, untuk menuai rindu dalam dekap tiada mungkin lagi akan keduanya rasa.
Namun cinta di hati akan sulit sirna di makan waktu.
Cahaya tertawa merengek, Kevin menangis dengan ngences di tanganya.
Nasib tertawa lebar.
__ADS_1
******