
Suara tangisan bayi yang baru lahir terdengar menggema hingga ke luar ruangan, dimana seorang perempuan dewasa dan tiga orang anak lelaki sedang menunggu dengan cemas.
"Bibi, apa Adik sudah lahir?" Tanya sang Kakak tertua.
"Sepertinya begitu Naoya" ucap sang Bibi tersenyum.
"Yeeay... akhirnya aku punya Adik" ucap sang Anak bungsu, Yuki dengan gembira. "Aku ingin bertemu dengan Adik Bi, ayo masuk" ucapnya tidak sabaran sambil menarik tangan Bibinya.
"Tunggu dulu ya, kita harus izin terlebih dahulu kepada dokter" balas sang Bibi mengelus lembut kepala Yuki.
Sedangkan anak kedua, Shinji, terlihat lebih santai dengan duduk di bangku rumah sakit. Senyuman manis terukir dari bibirnya. Tentu saja dia juga bahagia mendengar tangisan adiknya yang baru lahir.
Tak lama kemudian, Ibu dan anaknya yang baru lahir itu dipindahkan ke ruang perawatan dan diperbolehkan untuk dikunjungi.
"Mama.. Mama... dimana Adikku" ucap Yuki berlari masuk ke dalam, dia benar-benar tidak sabar untuk melihat adik kecilnya itu.
"Apa Mama baik-baik saja?" Tanya Naoya menghampiri Mama dan Papanya.
"Mama baik-baik saja sayang, terima kasih. Lihatlah Adik kalian yang cantik ini" ucap sang Ibu menunjukkan bayi cantiknya.
"Cantik sekali..." ucap Naoya tersenyum.
"Dia menggemaskan, dia cantik. Adikku cantik Papa" ucap Yuki kegirangan.
"Itu benar Yuki, dia cantik" ucap sang Ayah mengusap lembut pipi Yuki.
"Siapa namanya, Ma?" Tanya Shinji.
"Iya Ma, siapa nama Adik?" Tanya Yuki lagi.
"Hmm, siapa ya? Mama belum memikirkannya. Bagaimana dengan Papa?" Tanya sang Ibu.
"Hmm, Papa juga belum punya nama untuk Adik. Apa kalian mau memberikan nama untuk Adik?" Tanya sang Ayah.
"Siapa ya?" Ucap Yuki bingung.
"Hmm aku juga bingung, Pa" ucap Naoya.
"Namanya Akira saja Pa" ucap Shinji tersenyum dengan mata yang berbinar.
"Akira.." gumam Yuki.
"Akira, bagus juga" ucap Naoya menimpali.
"Ya, Akira adalah nama yang bagus" ucap sang Ibu tersenyum.
"Baiklah sudah diputuskan, nama Adik adalah Akira. Terima kasih Shin" ucap sang Ayah mengelus kepala Shinji.
"Kak Shin keren, aku menyukainya" ucap Yuki mengacungkan jempolnya.
"Tentu saja, aku kan memang hebat" ucapnya menyombongkan diri.
"Halo Akira, ayo main bersama Kakak" ucap Yuki menyentuh pipi sang Adik.
"Dia masih belum mengerti sayang. Nanti jika Akira sudah besar, Yuki baru bisa mengajaknya bermain" ucap sang Ayah tersenyum sambil mengacak-acak rambut Yuki gemas.
Oek..oek..oek..
"Oh? Dia menangis" ucap Yuki terkejut.
"Sepertinya dia lapar, biarkan dia menyusu dulu ya" ucap sang Ibu yang diangguki oleh Yuki.
Semua orang tersenyum bahagia melihat anak perempuan yang telah lahir dan menjadi bagian dari keluarga Souma itu. Mereka sangat senang karena setelah penantian yang panjang, akhirnya hadir seorang anak perempuan sebagai anggota keluarga Souma. Tuan Souma memang menginginkan seorang anak perempuan, namun Tuhan berkata lain karena ketiga anaknya adalah laki-laki dan kali ini Tuhan mengabulkan keinginannya. Tentu saja hal itu tidak membuat rasa cinta dan kasih sayang kepada tiga anak laki-lakinya berkurang. Tak jauh berbeda dengan Nyonya Souma, dia juga sangat bahagia saat putrinya sudah lahir dengan selamat.
Hari ini, lahirnya seorang putri benar-benar sangat dinantikan oleh keluarga ini. Naoya, Shinji, dan Yuki juga sangat senang akhirnya mereka mendapatkan seorang adik perempuan yang cantik dan menggemaskan. Terlebih Yuki yang memang ingin mendapatkan seorang adik.
Setiap hari menjadi hari yang tambah menyenangkan dengan adanya bayi kecil yang cantik ini bagi Keluarga Souma. Suara tangisan bayi kecil yang cantik ini telah meramaikan rumah keluarga Souma. Kakak-kakaknya juga tidak pernah terganggu bahkan jika Akira menangis di malam hari. Mereka malah bermain dengan Akira walaupun itu jam 2 pagi.
6 bulan kemudian...
Shinji terbangun di malam hari karena mendengar adik kecilnya menangis dari kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Shinji. Takut terjadi sesuatu, dia bergegas masuk ke dalam kamar untuk menghampiri adiknya itu.
"Mama?" Ucap Shinji mencari keberadaan Ibunya. "Apa mama tidak ada di sini? Hai Akira, jangan menangis ya, ada Kakak di sini. Yosh yosh, anak pintar, jangan menangis ya" ucapnya mengelus lembut pipi Akira, mencoba menenangkan dan meredakan tangisannya.
Sepertinya usahanya berhasil karena secara ajaib, Akira langsung berhenti menangis dan menatap kakaknya.
"Mengapa Akira menangis hm? Apa Akira lapar? Kakak tidak bisa menemukan Mama, jadi kita tunggu di sini saja ya. Ada Kakak di sini, jadi jangan menangis lagi" Shinji mencoba mengajak berbicara adiknya.
Dia tersenyum melihat adiknya yang tertawa dengan 2 gigi yang akan tumbuh. Akira mencoba meraih sang Kakak yang membuat Shinji gemas. Shinji kemudian mengulurkan tangannya untuk dipegang oleh sang Adik.
"Kau menggemaskan sekali Akira" ucapnya tersenyum.
"Oh? Shin, apa Akira menangis?" Tanya sang Ibu saat memasuki kamar.
Shinji mengangguk. "Emm, sepertinya dia lapar Ma, tapi sekarang dia sedang bermain bersamaku" ucap Shinji.
"Terima kasih, Shin memang benar-benar dapat diandalkan" ucap sang Ibu mengelus kepala Shinji.
"Tentu saja. Akira adalah Adikku jadi aku akan menjaganya dan membuatnya selalu tersenyum" ucapnya tersenyum.
"Itu benar, kau harus menjaga Adikmu ini. Bukan hanya Akira, tapi Yuki dan Naoya juga. Mama percaya kepadamu. Sekarang Shin kembali tidur ya, ini sudah malam. Besok Shin harus sekolah bukan?" Ucap Mama lagi.
Shin mengangguk. "Baiklah Ma. Kita bermain lagi besok ya Akira, bye-bye." Ucapnya melambaikan tangannya pada Akira. Sang Ibu tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
"Selamat malam, mimpi indah sayang" ucap Mama mencium kening Shinji.
"Selamat malam juga Ma."
"Selamat malam juga sayang."
Keesokan harinya...
Di sore hari terlihat Mama, Naoya, Yuki, dan Akira yang sedang bersama di ruang tengah. Sekarang Akira sudah bisa duduk tegak serta giginya yang mulai tumbuh. Sangat menggemaskan.
"Buka mulutnya, aaa…" ucap Mama yang sedang menyuapi Akira. "Anak pintar" ucap Mama saat Akira menuruti perkataannya.
"Yuki juga, Yuki juga mau Ma" ucap Yuki.
"Yuki mau apa? Mau makanannya Akira?" Tanya Mama bingung dan diangguki oleh Yuki.
"Kamu ada-ada saja, itu kan makanan untuk bayi bukan untuk Yuki" ucap Naoya.
__ADS_1
"Tapi Yuki juga masih kecil, Yuki mau itu" ucap Yuki merengek.
Mama tersenyum. "Kak Nao benar, ini makanan khusus untuk Akira. Yuki kan sudah punya gigi, jadi makan nasi saja ya" ucap Mama.
Yuki terdiam sebentar. "Baiklah, Yuki mau makan nasi saja" ucap Yuki tersenyum.
"Tunggu sebentar ya, Mama menyuapi Akira dulu. Sabar ya sayang" ucap Mama tersenyum.
"Aku mengerti Ma" ucap Yuki yang juga tersenyum.
Beberapa lama kemudian…
"Mama akan memasak dulu, kalian tolong jaga Akira sebentar ya" ucap Mama.
"Baik Ma" ucap Naoya.
"Akira jangan dimakan bonekanya" ucap Yuki menarik boneka dari tangan Akira dengan kasar.
"Jangan ditarik Yuki!" Ucapnya menghentikan tangan Yuki. "Mengapa kamu kasar sekali sih?" Kesal Naoya.
"Akira memakan bonekanya Kak, itu kan kotor" ucap Yuki.
"Tapi tidak di tarik seperti itu, nanti Akira menangis" ucapnya lagi.
Yuki menunduk. "Maaf ya Akira, Kakak bersalah" ucap Yuki menyesal.
Akira tersenyum lebar menunjukkan giginya yang akan tumbuh saat mendengar ucapan Yuki. Sepertinya gadis kecil ini mengerti apa yang diucapkan oleh kakaknya.
"Dia tersenyum Kak! Dia tersenyum kepadaku!" Ucap Yuki gemas.
"Sepertinya dia memaafkanmu" ucap Naoya tersenyum. "Anak pintar" ucapnya lagi sambil mengelus lembut pipi Akira.
Mereka kemudian kembali bermain dengan Akira, dan beberapa lama kemudian Nyonya Souma kembali menghampiri anak-anaknya.
"Anak-anak ayo makan, makanannya sudah siap di meja makan" ucap Mama menghampiri ketiga anaknya.
"Baik Ma."
Selagi mereka makan, Akira digendong oleh Mama sambil mengemut tangannya. Dia benar-benar sangat menggemaskan.
"Akira, buka mulutnya aaaaa" ucap Yuki menyodorkan sesendok nasi kepada Akira yang digendong oleh sang Ibu.
"Tidak boleh Yuki, Akira belum bisa makan nasi!" Kesal Naoya menarik tangan Yuki.
"Akira masih kecil sayang, dia belum bisa mengunyah, giginya saja belum tumbuh" ucap sang Ibu gemas melihat tingkah Yuki.
"Ma..ma..ma"
"Oh?!" Ucap mereka bersamaan.
"Mama... Mama!! Akira bicara Ma, Akira memanggil nama Mama" ucap Yuki heboh.
"Anak Mama sudah besar ternyata" ucap Mama terharu dan memeluk Akira.
"Akira hebat. Selanjutkan belajar panggil Kakak ya" ucap Naoya tersenyum.
"Akira harus panggil namaku lebih dulu, baru setelah itu boleh panggil Kak Nao" ucap Yuki.
"Tidak, aku yang paling besar jadi aku yang harus disebut lebih dulu" ucap Naoya.
"Hmm... baiklah, kau boleh mendapatkannya duluan. Jangan marah ya" ucap Naoya mengacak-acak rambut Yuki gemas.
"Kak Nao baik, terima kasih" ucap Yuki tersenyum.
Mama hanya memperhatikan tingkah kedua anaknya ini sambil tersenyum. (Aku bersyukur memiliki anak-anak yang seperti mereka) ucapnya dalam hati.
"Baiklah, nanti lagi debatnya. Kita makan dulu ya, tidak baik bertengkar saat makan" ucap Mama tersenyum.
"Baik Ma."
Beberapa lama kemudian…
Shinji terlihat baru pulang dari latihan musiknya. Dia memang sangat tertarik dengan musik.
"Aku pulang" ucap Shinji saat memasuki rumah.
"Kak Shin selamat datang" ucap Yuki menyambut Shin dengan semangat. "Kakak, Kak Shin tahu tidak? Akira sudah bisa bicara, dia memanggil nama Mama tadi" ucapnya bersemangat.
"Benarkah?? Apa Akira juga bisa memanggilku??" Ucap Shinji sedikit terkejut.
"Belum Kak, Akira hanya panggil Mama tadi" jelas Yuki.
"Wah ternyata Adikku sudah besar, aku ingin bertemu Akira" ucap Shinji bersemangat sambil melepas sepatu.
"Emm, kita harus membuat Akira memanggil nama kita Kak" ucap Yuki bersemangat.
"Baiklah ayo" ucap Shin yang juga bersemangat.
Mereka kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
"Mama..." panggil Shinji setelah sampai di ruang tengah.
"Ada apa Shin? Mengapa berteriak seperti itu?" Tanya Mama sedikit panik takut terjadi sesuatu.
"Yuki bilang Akira sudah bisa memanggil Mama, aku juga ingin dipanggil oleh Akira, Ma" jelas Shinji.
Mama tersenyum. "Ya ampun, Mama kira ada apa Shin. Itu benar, Akira memanggil nama Mama tadi, tapi Shin dan yang lainnya tidak bisa memaksa Akira untuk memanggil nama kalian, dia masih kecil" jelas Mama.
"Tapi Ma..."
"Shin... dia masih sangat kecil, nanti ada saatnya nama kalian juga dipanggil, jadi bersabar ya. Dulu saat Yuki kecil juga seperti itu bukan?" Jelas Mama.
"Hmm, benar juga. Baiklah aku akan menunggu, tapi Akira harus memanggilku duluan" ucap Shinji.
"Eh, aku duluan. Biarkan Yuki yang dipanggil duluan" ucap Yuki merengek.
"Ish ish, baiklah terserah kamu saja" ucap Shinji.
"Sudah, sudah jangan bertengkar. Shinji ganti baju terus makan ya dan Yuki tolong bermain lagi bersama Akira dan Kakak ya, bisa kan?" Titah Mama.
Yuki mengangguk. "Emm, aku bisa Ma" ucap Yuki tersenyum. Dia langsung berlari ke arah Akira dan Naoya yang sedang sibuk bermain.
__ADS_1
"Baik Ma, aku keatas dulu" izin Shinji yang diangguki oleh Mama.
Beberapa lama kemudian…
"Akira, ayo main bersama Kakak" ucap Shinji menghampiri adiknya itu.
"Halo Akira, ciluk.. ba!" Shinji mengajak main Akira yang membuat Akira tertawa. Dia membuka tutup wajahnya dengan kedua tangannya. Akira benar-benar terlihat senang.
"Gemas sekali" ucapnya lagi. "Ciluk.. ba! Ciluk ciluk.. ba!"
"Akira gemas sekali, Yuki jadi ingin memakan pipinya yang tumpah" ucap Yuki mencubit pipi Akira gemas. Namun sepertinya dia terlalu keras, sehingga membuat Akira menangis.
"Apa yang kamu lakukan Yuki? Lihat Akira jadi menangis" ucap Shinji kesal.
"Mengapa Akira dicubit? Kamu jahat sekali" ucap Naoya. "Yosh yosh, anak cantik tidak boleh menangis ya" ucap Naoya menggendong Akira. "Sakit ya? Sudah jangan menangis ya, nanti biar Kakak yang marahi Yuki" ucap Naoya menenangkan Akira.
Tak lama kemudian Yuki juga ikut menangis dengan keras. Mendengar anak-anaknya menangis, Mama kemudian menghampiri Naoya dan yang lainnya.
"Ada apa? Mengapa Yuki menangis hm?" Ucap Mama panik.
"Yuki mencubit pipi Akira hingga menangis Ma" adu Shinji.
"HUUAAAA!!!" Tangisan Yuki semakin kencang.
"Ya ampun.. Nao jaga Akira. Kemarilah Yuki" ucap Mama memeluk Yuki dan Yuki memeluk erat Mamanya.
"Yosh yosh, tidak apa-apa. Semua baik-baik saja, sudah jangan menangis ya?" Ucap Mama mengelus punggung Yuki.
Yuki menangis cukup lama, bahkan ketika Akira sudah berhenti menangis, Yuki masih tetap menangis dengan keras. Walaupun sudah ditenangkan oleh Mama dan kedua kakaknya serta dijanjikan akan dibelikan mainan jika dia berhenti menangis, Yuki tetap menangis. Hingga beberapa lama kemudian Yuki berhenti menangis karena kelelahan.
"Maaf" ucap Yuki menatap Mamanya.
Mama tersenyum. "Anak pintar, tidak masalah tapi jangan diulangi lagi ya, kasihan Akiranya, Yuki sayang Akira bukan?" Ucap Mama menangkup pipi Yuki dan Yuki mengangguk.
"Janji tidak akan diulangi?" Ucap Mama mengangkat jari kelingkingnya.
Yuki menangguk. "Janji" ucap Yuki menautkan jari kelingkingnya.
"Anak pintar" ucap Mama mengelus kepala Yuki. "Sini, biar Mama yang gendong, Nao" ucap Mama pada Naoya.
Naoya kemudian menyerahkan Akira pada Mama.
"Maaf ya Akira" ucap Yuki menatap adiknya itu.
"Tidak apa-apa Kakak-- Mama tersenyum --Shinji ayo makan dulu, nanti keburu dingin. Shinji bisa makan sendiri bukan?" titah Mama.
"Iya Ma. Kakak makan dulu ya Akira, bye-bye" ucap Shinji tersenyum melambaikan tangannya.
Malam harinya...
"Papa selamat datang" sambut Yuki.
"Oh? Yuki belum tidur?" Tanya Papa.
"Belum Pa, Akira juga masih bangun. Papa, apa Papa tahu? Akira sudah bisa bicara tadi" jelas Yuki.
"Benarkah? Itu sangat hebat. Kita kedalam dulu ya, nanti kita berbicara di dalam. Ayo masuk" ajak Papa menggenggam tangan Yuki.
"Selamat datang Pa" sambut Mama.
"Mengapa anak-anak belum tidur Ma?" Tanya Papa.
"Iya, Yuki tidak mau tidur karena Akira juga belum tidur. Dia ingin bermain dulu bersama Akira" jelas Mama.
"Mainnya bisa besok bukan? Sekarang Yuki tidur ya" ucap Papa.
"Sebentar lagi Pa, aku masih ingin bermain dengan Akira" ucap Yuki.
"Baiklah tapi jangan sampai larut malam ya, Papa mau mandi dulu" ucap Papa pergi ke kamar.
"Aku mengerti Pa" jawab Yuki.
"Mama, Mama... biarkan aku menggendong Akira, aku mohon" mohon Yuki saat melihat adiknya yang sibuk bermain dengan bonekanya.
"Apa Yuki bisa menggendong Akira? Memangnya Yuki kuat?" Tanya Mama memastikan.
"Hmm... aku belum pernah mencobanya tapi aku ingin menggendongnya" jelas Yuki.
"Baiklah Yuki memangku Akira saja ya, setelah ini Yuki harus tidur, janji?" Tanya Mama.
"Aku janji Ma."
Mama kemudian menyuruh Yuki duduk di kursi dan mendudukan Akira di pangkuannya. Yuki benar-benar merasa sangat senang.
"Akira sekarang duduk sama Kakak, apa Akira senang?" Tanya Mama. Akira kemudian tertawa membalas perkataan Ibunya sepertinya Akira benar-benar mengerti apa yang diucapkan oleh Ibunya.
"Akira tertawa Ma" ucap Yuki tersenyum.
"Kau tertawa? Akira pasti senang ya dipangku oleh Kakak" ucap Mama tersenyum.
"Tentu saja Akira pasti senang bersamaku" ucap Yuki.
Tak lama kemudian suara Akira dan Yuki sudah tidak terdengar lagi dan saat dilihat, mereka sudah tertidur dengan Yuki yang menunduk dan Akira yang dipeluk cukup erat oleh Yuki agar tidak terjatuh.
"Ya ampun" ucap Mama tersenyum.
Mama kemudian mengambil alih Akira dari pangkuan Yuki dengan perlahan. Mama tidak mau membangunkan Yuki yang sedang tertidur. Mama juga membaringkan Yuki di sofa agar lebih nyaman.
"Mereka sudah tidur Ma?" Ucap Papa yang baru saja datang.
"Iya, Yuki tertidur saat menggendong Akira, dia benar-benar Kakak yang baik" jelas Mama tersenyum menatap Yuki.
"Anakku yang tampan dan menggemaskan ini benar-benar Kakak yang hebat" ucap Papa membenarkan posisi Yuki.
"Tadi Yuki bilang Akira sudah bisa bicara, apa benar?" Tanya Papa.
"Itu benar Pa. Akira memanggil namaku duluan" ucap Mama bangga.
"Harusnya nama Papa yang dipanggil duluan, sayang sekali" ucap Papa sedih.
"Jangan sedih begitu Pa, nanti juga Akira bisa memanggil Papa, seperti baru pertama mendapatkan anak saja" ucap Mama meledek.
__ADS_1
"Itu benar. Baiklah ayo tidur, ini sudah malam. Biar Papa yang bawa Yuki ke kamarnya" ucap Papa.
"Baik Pa."