Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 16 : Kelelahan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Akira selalu pulang lebih larut dari biasanya karena evaluasi rutin. Memang benar setiap orang hanya bermain 1 pertandingan, namun sayangnya pertandingan Akira selalu di bagian terakhir yaitu 2 pertandingan sebelum evaluasi selesai. Meskipun Akira mendapatkan jadwal pertandingan lebih awal, tapi dia tidak bisa pulang terlebih dahulu sebelum semua kegiatan evaluasi selesai karena begitulah aturannya. Sehingga walaupun pertandingan Akira dimulai pukul 8 malam dia tetap harus berada di gedung latihan dari jam 6 sore hingga pertandingan selesai. Dia bahkan harus tidur 3-4 jam saja karena harus sekolah di pagi harinya.


Meski begitu, Akira tidak pernah mengeluh. Dia memanfaatkan waktu yang dia punya untuk menonton pertandingan temannya yang lain, agar Akira mengetahui kemampuan lawan dan menyusun strategi saat bertemu dengan mereka nanti.


Akira juga tidak pernah bolos atau tidak mengerjakan tugas sekolahnya. Akira tidak menyia-nyiakan setiap waktu luang yang ada untuk mengerjakan tugasnya. Dia memanajemen waktunya dengan baik, hanya saja tubuhnya selalu terasa lelah 3 hari terakhir ini.


Pagi hari di kelas...


Akira yang baru datang langsung menundukkan kepalanya dengan tangan yang dilipat sebagai tumpuan.


"Akira sangat mengantuk" gumam Akira menyembunyikan wajahnya.


"Akira, kamu baik-baik saja?" Ucap Hana yang baru datang.


"Selamat pagi Hana. Aku baik-baik saja, hanya sedikit mengantuk" ucap Akira membenarkan posisi duduknya.


"Apa semalam kamu tidak tidur?" Tanya Hana mendudukan diri di bangkunya.


"Aku tidur, tapi hanya sebentar" ucap Akira tersenyum.


"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan sampai tidur hanya sebentar?" Ucap Hana lagi.


"Banyak hal yang aku lakukan" ucap Akira kembali tersenyum.


"Kau ini" ucap Hana yang ikut tersenyum. "Semangat Akira" ucapnya lagi.


"Terima kasih Hana, kamu juga semangat" ucap Akira yang juga tersenyum.


"Kau terlihat sangat tidak bersemangat, Akira" ucap Ayano yang baru datang.


Akira tersenyum. "Selamat pagi Ayano, begitulah."


"Latihan?"


"Iya, semacam."


"Kamu memang suka sekali berlatih ya" ucap Ayano tersenyum.


"Tentu, karena aku ingin menjadi atlet" ucap Akira tersenyum.


"Kalau begitu, bersemangatlah."


"Tentu, terima kasih."


Saat istirahat...


Akira: "Kakak, hari ini tolong jemput Akira jam 6 sore ya. Akira ada kegiatan klub dulu."


Yuki: "Bukankah jam 6 Akira ada evaluasi?"


Akira: "Iya Kak."


Yuki: "Apa Akira tidak lelah? Izin dulu saja kegiatan klubnya."


Akira: "Tidak bisa Kak. Hari ini pertemuan pertama, Akira tidak bisa izin di pertemuan pertama"


Yuki: "Tapi nanti Akira kelelahan, atau mau izin untuk evaluasi? Biar Kakak yang bilang."


Akira: "Jangan Kak"


Akira: "Nanti kalau tidak ikut, Akira tidak bisa mengikuti evaluasi di hari selanjutnya."


Akira: "Akira baik-baik saja, tidak akan sakit"


Akira: "Tapi Akira tidak bisa memasak untuk makan malam hari ini, maaf Kak."


Yuki: "Tidak usah memikirkan makan malam."


Yuki: "Apa Akira yakin?"


Akira: "Yakin Kak, Akira tidak memaksakan diri dan Akira berjanji tidak akan merepotkan semua orang seperti kemarin."


Yuki: "Bukan itu yang jadi masalahnya. Kakak hanya tidak ingin Akira kenapa-kenapa lagi."


Yuki: "Baiklah, berarti Kakak sekalian membawa peralatan Akira ya?"


Akira: "Iya Kak, tolong."


Yuki: "Oke, sampai jumpa jam 6. Jangan memaksakan dirimu atau Kakak akan benar-benar marah."


Akira: "Akira mengerti Kak, Akira juga tidak ingin Kakak marah pada Akira."


Akira: "Sampai jumpa."


Akira: "Terima kasih banyak Kak."


Yuki: "Sama-sama, semangat!"


Akira: "Siap laksanakan!:)"


"Sepertinya Akira sangat senang" ucap Ayano memperhatikan Akira yang sedang tersenyum melihat layar handphonenya.


"Kakak menyuruhku untuk semangat" ucap Akira tersenyum.


"Kakak Akira sangat menyayangi Akira ya, aku jadi ingin punya kakak juga" ucap Ayano tersenyum


"Iya, aku sangat beruntung memiliki Kakak-kakak yang baik seperti Kakak Akira" ucap Akira tersenyum.


"Akira, berikan salah satu Kakakmu kepadaku" ucap Ayano mendekatkan wajahnya ke wajah Akira.


"Kalau itu.."


"Aku bercanda" ucap Ayano menjauhkan kembali wajahnya. "Maaf ya" ucapnya lagi sambil tersenyum.


"Aku tidak akan mengambil Kakakmu, jadi kamu tenang saja. Aku tidak memiliki hak untuk itu" ucap Ayano lagi. "Intinya, semangatlah hari ini. Aku khawatir jika melihatmu tidak bersemangat" ucapnya lagi.


"Aku mengerti, terima kasih" ucap Akira tersenyum.


Saat pulang sekolah...


"Ayo pulang Akira" ajak Ayano.


"Maaf Ayano, hari ini ada kegiatan klub bulutangkis jadi aku tidak bisa pulang bersamamu. Maaf" ucap Akira menatap Ayano.


"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya. Sampai jumpa" ucap Ayano kemudian pergi.


"Sampai jumpa, hati-hati di jalan" ucap Akira tersenyum. Dia kemudian membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Sou ayo pulang bersama" ajak Ayano menghampiri Sou.


"Kau pulang saja duluan, aku ada urusan dulu" ucap Sou yang sibuk memasukan buku-bukunya ke dalam tas tanpa melihat Ayano.


"Baiklah, aku duluan. Sampai jumpa" ucap Ayano yang diangguki Sou.


"Baiklah, Akira harus pergi sekarang" gumam Akira meninggalkan kelas.


Akira berjalan sedikit cepat agar sampai ke lapangan tertutup tepat waktu.


"Kenapa buru-buru sekali?" ucap Sou yang tiba-tiba berada di samping Akira.


"Sou! Kamu membuatku terkejut" ucap Akira menatap Sou.


"Maaf" ucap Sou menatap Akira.


"Aku ada ekskul bulutangkis" ucap Akira tersenyum.


"Kalau begitu, ayo berjalan bersama. Aku juga ada ekskul basket hari ini" ucap Sou menatap ke depan.


"Baiklah" ucap Akira tersenyum.


Beberapa lama kemudian mereka sampai di pertigaan jalan yang menuju gimnas, lapangan tertutup, dan lapangan sepak bola.


"Sepertinya kita berpisah disini. Sampai jumpa Akira" ucap Sou tersenyum.


"Iya, sampai jumpa Sou" ucap Akira tersenyum. Mereka kemudian pergi ke tempat klub masing-masing, Akira ke lapangan tertutup dan Sou ke gimnas.


"Kenapa jantung Akira berdetak kencang seperti ini? Ayolah, jangan gugup Akira" gumam Akira sebelum masuk ke lapangan tertutup.


"Selamat sore" sapa Akira kepada semua orang yang ada disana. "Maaf saya terlambat" ucap Akira lagi.


"Tidak masalah, kami juga belum mulai" ucap Ketua klub tersenyum. "Duduklah dulu" ucapnya lagi.


"Terima kasih, Kak" ucap Akira mendudukan dirinya di pinggir lapang.


"Baiklah sepertinya sudah hadir semua ya. Kita akan mulai kegiatan klub pertama kita" ucap Ketua klub.


Ketua klub kemudian membuka acara dengan penyambutan anggota baru, pengenalan klub mulai dari sejarah dibangunnya klub bulutangkis, struktur dan anggota klub hingga aturan di klub. Setelah itu, Ketua menjelaskan mengenai bulutangkis hingga melakukan praktek dasar.


"Kita perkenalan dulu mungkin ya? Silahkan dimulai dari sebelah kiri" ucap Ketua tersenyum.


Satu per satu murid yang berada di sana memperkenalkan dirinya masing-masing.


"Perkenalkan, saya Souma Akira kelas 1A. Alasan saya bergabung dengan klub ini karena saya menyukai bulutangkis. Salam kenal semuanya, mohon bantuannya" ucap Akira tersenyum.


"Selamat bergabung Akira" ucap Ketua tersenyum. "Silahkan selanjutnya" ucap Ketua lagi.


Semua orang yang ada disana memperkenalkan dirinya masing-masing hingga selesai.


"Ada yang sudah lama menekuni olahraga bulutangkis?" Tanya Ketua setelah acara perkenalan selesai.


Akira kemudian mengangkat tangannya ragu karena anggota baru yang lain tidak ada yang mengangkat tangannya.


"Apa hanya Akira saja?" Tanya Ketua. Semua orang terlihat bingung, menatap satu sama lain.


"Baiklah, tidak masalah. Jangan takut dan malu jika kalian belum terlalu ahli atau bahkan belum mengerti bulutangkis. Saya juga bukan orang yang ahli, jadi kita sama-sama belajar. Sekali lagi selamat datang untuk semuanya, semoga kalian betah di klub ini" ucap Ketua tersenyum.


"Mohon maaf sebelumnya, kami lupa memberitahu kepada teman-teman semua bahwa setiap ada kegiatan klub wajib membawa peralatan bulutangkis seperti raket dan sepatu olahraga. Namun tidak usah khawatir bagi yang tidak memilikinya, karena kita juga menyediakannya hanya saja tidak begitu banyak. Karena hari ini teman-teman semua masih memakai seragam sekolah, sekarang kita belajar mengenai dasar-dasar dan aturan bulutangkis dulu saja" ucap Ketua lagi


Setelah Ketua menjelaskan semua dasar bulutangkis, Ketua kembali bertanya "Siapa tadi yang sudah menekuni bulutangkis sebelumnya?" 

__ADS_1


"Saya Kak" ucap Akira mengangkat rendah tangannya.


"Bisakah, kamu membantuku disini?" Tanya Ketua. Akira pun mengangguk paham dan berjalan mendekati Ketua.


"Saya akan bermain dengan Akira agar penjelasannya lebih mudah dipahami ya. Kita mulai dari servis, siap Akira?" Tanya Ketua.


"Siap Kak."


Ketua kemudian melakukan servis pendek tetapi Akira tidak memukul dan mengembalikan bolanya.


"Out" gumam Akira menatap kok yang berada di bawahnya.


(Apa dia sudah paham?) Ucap Ketua bingung.


"Teman-teman, dalam sebuah pertandingan, servis yang saya lakukan tadi akan dinyatakan out dan poin akan diberikan pada lawan karena servis yang saya lakukan tidak mencapai garis putih atau dapat dikatakan bahwa bola yang saya pukul tidak masuk atau keluar dari area servis lawan. Jika kalian menerima servis seperti ini, tidak usah dipukul karena itu akan menjadi keuntungan bagi kita. Dengan begitu, Akira akan mendapatkan poin dari servis saya" jelas Ketua yang diangguki semua anggota.


Kegiatan klub terus berlanjut dan pada akhirnya Akira membantu Ketua klub untuk menjelaskan semua mengenai bulutangkis hingga waktu menunjukan pukul 5.50 sore.


"Teman-teman sepertinya cukup untuk hari ini ya. Latihan dilakukan setiap hari Selasa dan Jumat sepulang sekolah. Terima kasih sudah datang, semoga kalian betah. Kalian boleh pulang" ucap Ketua tersenyum.


"Terima kasih Kak" ucap para anggota serempak.


"Terima kasih banyak Kak, Akira pamit" ucap Akira tersenyum.


"Terima kasih juga ya, hati-hati."


Akira kemudian berjalan cepat keluar gedung. Dia bahkan menyalip beberapa orang yang ada di depannya.


"Akira sudah sangat terlambat" ucap Akira sedikit berlari.


"Tunggu!" Seseorang memegang lengan Akira yang membuatnya berhenti dan berbalik.


"Sou!" Ucap Akira terkejut.


"Kenapa? Ada masalah? Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Sou yang masih memegang lengan Akira.


"Aku sudah telat untuk latihan, aku harus segera pergi Sou" ucap Akira tersenyum.


"B-baiklah" ucap Sou melepaskan tangannya.


"Terima kasih Sou, sampai jumpa. Bye bye" ucap Akira yang kemudian berlari menuju gerbang.


"Hati-hati" ucap Sou sedikit berteriak.


"Iya" ucap Akira yang juga berteriak.


"Sepertinya Akira orang yang sibuk ya" ucap Sou menatap Akira.


"Hati-hati Akira" ucap Yuki memegang pundak Akira.


"Hah.. Akira.. sudah.. terlam..bat..Kak" ucap Akira dengan nafas yang tidak beraturan.


"Tapi jangan berlari seperti itu juga, nanti Akira jatuh. Ayo naik" ucap Yuki yang diangguki Akira.


"Akira akan terlambat" ucap Akira panik.


"Kan sudah Kakak katakan tadi" ucap Yuki.


"Kakak benar, harusnya Akira izin saja tadi" ucap Akira sedih.


"Biar Kakak yang minta izin kepada Pelatih" ucap Yuki mengambil handphonenya dan dengan cepat menelepon Pelatih Akira.


"Halo selamat sore Pak, mohon maaf sepertinya Akira akan sedikit terlambat karena baru saja keluar dari sekolah dan di jalan sedikit macet Pak" ucap Yuki setelah teleponnya tersambung.


"Seperti itu Pak? Baik Pak, terima kasih banyak" ucap Yuki lagi.


"Baik Pak, terima kasih" ucapnya lagi sebelum mematikan teleponnya.


"Bagaimana Kak" ucap Akira penasaran.


"Evaluasinya diundur 30 menit karena baru 3 orang yang datang, jadi kita tidak usah buru-buru" ucap Yuki tersenyum.


"Syukurlah" ucap Akira lega.


"Sudah lebih tenang?" Tanya Yuki lagi.


Akira mengangguk. "Sudah Kak."


"Minumlah dulu, Kakak juga sudah menyiapkan roti untuk Akira. Di dalam tas olahraga ada nasi buatan Kak Nao, nanti dimakan ya."


"Apa Kakak sudah makan?"


"Sudah, bersama Kak Nao tadi" ucap Yuki tersenyum.


"Maaf Kak dan terima kasih" ucap Akira tersenyum.


"Tidak masalah, fokus saja pada hal yang ingin Akira lakukan. Kami sudah besar, kami bisa mengurus diri kami sendiri jadi Akira tidak perlu khawatir. Kakak malah khawatir kepada Akira" ucap Yuki tersenyum.


"Tapi-"


"Kakak tidak menerima alasan apapun" ucap Yuki lagi.


Akira tersenyum tipis. "Baiklah Kak, terima kasih" ucap Akira memakan rotinya.


"Iya Kak."


Di gedung latihan...


"Semangat evaluasinya, semoga Akira menang di pertandingan hari ini dengan lancar seperti kemarin-kemarin" ucap Yuki mengelus kepala Akira.


"Terima kasih Kak, Akira akan berusaha" ucap Akira tersenyum.


"Masuklah" titah Yuki.


"Akira masuk Kak, terima kasih. Tolong sampaikan juga terima kasih untuk Kak Nao. Bye-bye" ucap Akira berlari kecil masuk ke gedung latihan.


"Semangat!" Ucap Yuki tersenyum. "Semoga keberuntungan ada bersama Akira sekarang" gumam Yuki menatap Akira yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Akira cepat ganti bajumu, sebelum Pelatih semakin marah" ucap Rena setelah Akira masuk ke dalam gedung.


"Ba-baiklah, aku ganti baju dulu" ucap Akira kemudian berlari ke ruang ganti. Tak lama setelahnya, Akira kembali dan duduk di dekat Rena.


"Tumben sekali kamu telat, ada masalah?" Tanya Rena.


"Tadi ada kegiatan klub di sekolah jadi aku baru selesai, jalanan juga tadi lumayan ramai jadi Kakak tidak bisa menyalipnya" jelas Akira.


"Aku mengerti" ucap Rena sambil mengangguk paham.


"Tumben sekali baru tujuh orang yang datang, dimana yang lain?" Tanya Akira ketika melihat ada 8 orang saja di dalam gedung.


"Justru itu, aku juga tidak tahu dan tidak mengerti. Pelatih sudah kesal dari tadi, membuatku takut saja" ucap Rena menatap Akira.


"Maaf."


Setelah lama menunggu, akhirnya para anggota berkumpul semua. Tentu, mereka tidak bisa melewatkan wejangan Pelatih yang sudah seperti pidato dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Hingga pada akhirnya evaluasi hari keempat dimulai pukul 7.30 malam.


"Kita bertanding di urutan terakhir lagi, Akira" ucap Rena kecewa.


"Kamu benar" ucap Akira yang juga kecewa.


"Sepertinya kita akan pulang pagi hari, Akira" ucapnya lagi.


"Sepertinya begitu Rena" ucap Akira setuju.


"Hah~" hembusan nafas kasar terdengar dari mulut keduanya.


"Tapi aku tidak akan kalah darimu, Akira" ucap Rena menatap Akira.


"Aku juga tidak berniat untuk kalah darimu, Rena" ucap Akira tersenyum.


"Hah~" Hembusan nafas kasar terdengar lagi dari mulut keduannya.


Meskipun Akira dan Rena terlihat kecewa dan tidak bersemangat tapi matanya tetap fokus mengamati permainan yang sedang berlangsung. Mereka sesekali bertepuk tangan saat bola masuk dan berteriak kecil saat bola keluar atau menyangkut di net. Mereka terlihat menikmati pertandingan.


"Akira lapar" ucap Akira mengambil kotak makan yang dikatakan oleh Yuki.


"Kamu membawa bekal ternyata" ucap Rena.


Akira mengangguk. "Kak Nao yang buat, apa kamu mau?" Tawar Akira.


"Bolehkah?"


"Tentu saja, Kakak membuatnya cukup banyak" ucap Akira tersenyum.


"Baiklah, aku akan mencobanya. Terima kasih Akira" ucap Rena tersenyum.


"Sama-sama" ucap Akira yang juga tersenyum.


Mereka kemudian berbagi makanan sambil menikmati pertandingan yang ada di depan mereka. Berjam-jam telah berlalu dan saatnya pertandingan Akira dan Rena dimulai.


"Mari kita bertanding dengan sportif" ucap Rena tersenyum.


"Tentu saja" ucap Akira yang juga tersenyum.


"Aku tidak akan kalah darimu" ucap Rena lagi.


"Aku juga tidak akan kalah darimu" ucap Akira tersenyum dan permainan pun dimulai.


Beberapa lama kemudian...


"Ayo Akira, 1 poin lagi!" Teriak teman Akira dari pinggir lapangan.


"Ayo Rena jangan mau kalah!" ucap yang lainnya menyemangati Rena.


"Main" ucap Pelatih yang menjadi wasit.


Rena kemudian melakukan servis yang langsung disambar oleh Akira yang membuat permainan selesai.


"Pertandingan hari ini dimenangkan oleh Akira atas Rena, 25-23 dan 21-17" ucap Pelatih.


"Kamu hebat Rena" ucap Akira mendekati Rena.

__ADS_1


"Lagi-lagi aku kalah darimu" ucap Rena tersenyum.


"Tidak apa, kita akan bertemu kembali di pertandingan besok. Jangan seperti itu, aku sangat sedih dan merasa bersalah sekarang" ucap Akira menatap Rena.


"Kamu tidak boleh merasa bersalah atau aku akan marah" ucap Rena menyipitkan matanya. "Permainan yang sangat bagus, terima kasih Akira" ucap Rena tersenyum.


"Terima kasih juga Rena" ucap Akira tersenyum.


"Semua berkumpul!" Titah Pelatih. "Evaluasi hari ini selesai. Saya tidak akan meminta maaf karena ini salah kalian sehingga kita jadi pulang pagi, apa ada yang keberatan dengan pernyataan saya?" Ucap Pelatih.


"Tidak Pak!" Ucap anggora serempak.


"Bagus! Baiklah, sekarang hubungi orang tua kalian dan minta jemput hari ini. Jika ada yang tidak bisa menjemput, biar saya yang antar. Saya tidak bisa mengantar kalian semua karena mobil saya hanya bisa untuk 4 orang saja" ucap Pelatih yang diangguki oleh semua anggota.


"Sekarang sudah jam 3, Kakak masih bangun tidak ya?" Gumam Akira.


"Hubungi saja dulu, nanti kalau tidak bisa Pelatih akan mengantarkan kita" ucap Rena tersenyum.


Saat Akira akan menghubungi Yuki, ada telepon masuk dari Papa dan Akira langsung mengangkatnya.


"Akira apa masih lama? Kenapa belum pulang?" Ucap Papa.


"Akira baru saja selesai Pa" ucap Akira.


"Baiklah Papa akan menjemputmu. Tunggu sebentar ya."


"Baik Pa" ucap Akira mengerti, Papa kemudian memutuskan panggilannya.


"Bagaimana? Dijemput?" Tanya Rena.


"Iya, Rena sendiri bagaimana?" Tanya Akira.


"Aku juga dijemput, Ayah sudah di perjalanan" ucap Rena tersenyum.


"Syukurlah" ucap Akira yang juga tersenyum.


Beberapa lama kemudian...


"Papa" panggil Akira.


"Ayo masuk, di luar dingin" ucap Papa yang dituruti Akira.


"Kenapa larut sekali? Ini sudah pagi" tanya Papa.


"Tadi teman-teman datangnya telat jadi evaluasinya juga diundur dan baru selesai sekarang" jelas Akira tersenyum


"Tapi seharusnya bisa dilanjutkan besok. Untung saja besok Akira libur, kalau tidak? Bagaimana?" ucap Papa lagi.


"Maaf Pa" ucap Akira menunduk.


"Tidak masalah sayang, ini bukan salah Akira" ucap Papa mengelus kepala Akira.


Sesampainya di rumah...


"Akira pulang" ucap Akira memasuki rumah.


"Langsung istirahat ya, ini bahkan sudah waktunya bangun untuk beberapa orang" ucap Papa.


"Baik Pa, Akira juga sangat lelah. Terima kasih, selamat malam" ucap Akira tersenyum.


"Selamat malam, langsung tidur" ucap Papa lagi.


"Akira mengerti Pa, Akira ke atas dulu" ucap Akira yang kemudian pergi ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Akira langsung membersihkan tubuhnya dan merebahkan dirinya di kasur. Tak butuh waktu lama untuk Akira masuk ke dunia mimpi.


Pagi harinya...


"Selamat pagi" ucap Papa yang baru sampai di meja makan. Disana sudah ada Yuki dan Shinji.


"Sepertinya Akira belum bangun ya?" ucap Papa setelah tidak melihat makanan tertata di meja makan.


"Sepertinya begitu Pa" ucap Shinji yang sedang memainkan handphonenya.


"Kalau begitu pesan saja" ucap Papa mendudukan dirinya di kursi.


Yuki kemudian memesan sarapan untuk semua orang di rumah. Tak lama Naoya turun dari kamarnya.


"Loh? Dimana Akira?" Tanya Naoya setelah tidak mendapati Akira dan makanan yang biasanya sudah tersedia di meja makan.


"Sepertinya masih tidur, dia pulang jam 4 kemarin" ucap Papa.


"Jam 4?!" Ucap Naoya terkejut. Shinji dan Yuki juga sama terkejutnya.


"Biar Nao lihat dulu" ucap Naoya pergi ke kamar Akira.


"Jangan dibangunkan, biarkan saja Akira tidur. Dia sangat kelelahan" ucap Papa.


"Baik Pa."


Tok..tok..tok..


"Akira, Kakak masuk ya" ucap Naoya membuka pintu kamar Akira.


"Ya ampun, sepertinya Adiknya Kakak sangat kelelahan ya" ucap Naoya mendekati Akira yang sedang tertidur.


Naoya kemudian memeriksa suhu badan Akira dan mengelus lembut pipinya.


"Syukurlah, tidak sakit ternyata. Akira sudah sangat bekerja keras" ucap Naoya tersenyum menatap Akira yang sedang tertidur pulas. Dia kemudian membenarkan selimut Akira. 


"Mimpi indah sayang" ucap Naoya mengelus kepala Akira kemudian keluar dari kamar Akira.


"Masih tidur Kak?" Tanya Shinji saat Naoya sampai di meja makan.


Naoya mengangguk. "Akira terlihat sangat kelelahan."


"Biarkan saja, kasihan dia. Kita makan duluan saja" titah Papa.


Mereka kemudian sarapan bersama tanpa membangunkan Akira.


Beberapa lama kemudian...


"Badan Akira sakit" gumam Akira masih menutup matanya. Akira kemudian membuka matanya. Dia menatap langit-langit kamar cukup lama.


"Jam berapa sekarang?" Monolog Akira bangun.


Dia kemudian mengambil handphone untuk melihat jam.


"Sudah jam 6.30?! Kenapa tidak ada yang membangunkan Akira?!" Ucap Akira buru-buru masuk ke kamar mandi.


Akira kemudian dengan cepat mengganti bajunya dan memasukan buku-bukunya ke dalam tas. Setelah semua urusannya selesai, Akira dengan cepat menuruni tangga.


Naoya yang baru saja datang dari kamarnya, ikut sedikit berlari melihat Akira yang menuruni tangga dengan cepat.


"Akira! Jangan menuruni tangga sambil berlari!" Ucap Naoya panik menghampiri Akira.


"Kenapa Kakak tidak membangunkan Akira? Akira sudah telat Kak" ucap Akira panik.


"Memangnya mau kemana? Ini hari Sabtu" ucap Naoya bingung.


"Sabtu?" Ucap Akira menghentikan langkahnya.


"Ada apa dengan Akira? Hari ini adalah hari Sabtu dan sekolah Akira libur" ucap Naoya tertawa kecil.


Akira terdiam sebentar. "Hah~" dia menghembuskan nafas kasarnya.


"Ayo makan dulu" ucap Naoya menuntun Akira ke meja makan.


"Selamat- kenapa Akira memakai seragam? Apa hari ini Akira sekolah?" Tanya Yuki.


"Akira lupa kalau hari ini hari Sabtu" ucap Akira yang membuat Yuki dan Shinji tertawa.


"Apa Akira sangat ingin sekolah? Pasti karena ada Sou ya?" Ucap Shinji tertawa.


"Akira ada-ada saja" ucap Yuki tertawa.


"Sudahlah, ayo makan dulu Akira" titah Naoya.


Akira hanya mengangguk paham. Dia kemudian duduk di samping Naoya.


"Papa dimana Kak?" Tanya Akira. 


"Papa ada janji dengan temannya" jawab Naoya, Akira mengangguk paham.


"Kakak semua sudah makan?" Tanyanya lagi.


"Sudah, kami makan bersama tadi. Maaf ya Kakak tidak membangunkanmu" ucap Naoya lagi.


"Tidur terus sih" ucap Shinji sambil memainkan handphonenya.


"Maaf" gumam Akira memulai sarapannya.


"Jangan dengarkan Shin, dia memang seperti itu" ucap Naoya mengacak-acak rambut Akira.


"Benar, jangan dengarkan Kak Shin. Kak Shin selalu gatal jika tidak mengganggu Akira" ucap Yuki setuju.


"Yuki benar" ucap Shinji tersenyum. "Bagaimana kemarin? Apa Akira menang?" Tanya Shinji. Akira hanya mengangguk pelan.


"Wahh.. Akira memang selalu hebat, selamat ya" ucap Shinji bangga.


"Syukurlah, selamat Akira" ucap Yuki tersenyum.


"Akira memang yang terbaik. Hari ini juga masih evaluasi ya?" Tanya Naoya


"Iya Kak" ucap Akira mengangguk.


"Semangat untuk hari ini juga" ucap Shinji lagi.


"Terima kasih Kak" ucap Akira tersenyum.


"Sudah sarapan, istirahatlah lagi. Kurang tidur akan membuat kepala Akira pening" ucap Naoya lagi.

__ADS_1


"Iya Kak, Akira mengerti."


__ADS_2