
Keesokan harinya...
"Akira, kalau nanti Akira pusing atau merasa tidak enak badan lagi telpon saja Kakak ya, jangan memaksakan dirimu sendiri-- Yuki mengelus kepala Akira --Semangat ya, nanti Kakak jemput kembali" ucap Yuki tersenyum.
"Iya Kak, Akira tidak akan memaksakan diri sendiri lagi" ucap Akira tersenyum.
"Baiklah, Kakak pulang ya."
"Iya Kak, hati-hati di jalan."
Yuki tersenyum. "Bye-bye."
"Bye-bye Kak."
Setelah memastikan Yuki pergi, Akira kemudian memasuki sekolah.
"Akira!-- Ayano berlari menghampiri Akira --Kamu sudah sembuh?" Tanya Ayano.
Akira mengangguk. "Aku baik-baik saja."
"Maaf ya, gara-gara kami kamu jadi ikut kerja kelompok dan demammu semakin parah kemarin" ucap Ayano sedih.
"Aku memang terlalu memaksakan diriku kemarin, tapi ini bukan salah Ayano ataupun Sou. Aku yang memaksa untuk ikut kerja kelompoknya padahal kalian sudah melarangku bukan?" Jelas Akira.
"Tapi.."
"Lagipula aku sudah sembuh sekarang, jadi tidak masalah" ucap Akira tersenyum. "Ah iya, nanti aku mau lihat catatan pelajaran kemarin ya" lanjutnya.
Ayano tersenyum. "Tentu, nanti aku pinjamkan."
"Terima kasih" ucap Akira tersenyum.
Akira dan Ayano kemudian pergi ke kelas bersama. Di sana sudah banyak orang termasuk Sou yang sudah duduk manis di bangkunya. Dia menatap lama Akira saat Akira dan Ayano memasuki kelas. Mata mereka bertemu dan kemudian Sou tersenyum.
"Selamat pagi" sapa Sou.
"Pagi Sou" ucap Ayano tersenyum.
"Selamat pagi" jawab Akira yang juga tersenyum.
Akira dan Ayano kemudian berjalan dan duduk di bangkunya. Tak ada percakapan lagi antara Akira dan Sou setelahnya.
Istirahat...
Akira sedang duduk memandang keluar jendela di sebelahnya sambil menunggu Ayano kembali dari kantin. Ayano tidak mengizinkan Akira menemani dirinya dengan alasan bahwa Akira tidak boleh berada dalam kerumunan, takutnya kepala Akira kembali terasa sakit jika dia berada dalam kerumunan walaupun Akira sudah bersikeras menjelaskan bahwa dia baik-baik saja.
"Syukurlah kamu sudah sembuh" ucap seseorang dari belakang Akira yang membuatnya sedikit terkejut. Akira kemudian melihat ke sumber suara.
"Iya Sou" ucap Akira tersenyum.
Sou kemudian berjalan dan berhenti tepat di depan jendela yang terbuka di depan Akira.
"Maaf ya, padahal aku tahu kamu sedang sakit tapi aku malah memperbolehkanmu untuk ikut kerja kelompok kemarin" ucap Sou menatap keluar jendela.
Akira menggeleng. "Tidak Sou, ini bukan salahmu. Aku juga yang memaksa kalian untuk mengizinkanku bukan? Tolong jangan meminta maaf, aku jadi merasa bersalah" ucap Akira lirih.
Sou kemudian menatap dalam Akira dan tersenyum.
"Baiklah aku mengerti, tolong jangan diulangi lagi Akira, karena aku mengkhawatirkanmu." ucap Sou lagi sambil menatap Akira.
Akira kemudian menatap Sou. Dia tampak terpaku melihat Sou yang sedang berdiri sambil tersenyum manis dihadapannya. Wajah tampannya terlihat lebih jelas terkena sinar matahari dengan rambut yang sedikit berantakan diterpa hembusan angin pagi serta senyuman manis yang menenangkan terukir di wajah tampannya, membuat Akira tidak bisa berpaling darinya. Dia menatap dalam Sou yang sedang berdiri dihadapannya sekarang.
(Tampan sekali... seperti.. pangeran) ucap Akira dalam hati.
"Akira?" Tanya Sou saat melihat Akira yang terdiam menatapnya.
"Ah, iya. Itu.. maaf karena aku sudah membuatmu khawatir dan terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku" ucap Akira menatap ke bawah sambil memainkan ujung roknya. (Mengapa Akira jadi gugup seperti ini? Apa yang harus Akira lakukan sekarang?) Batin Akira bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa dan dia tidak berani menatap Sou.
"Akira?" Tanya Sou kembali.
"I-iya" jawab Akira gugup menatap Sou.
"Kamu sangat menggemaskan" ucap Sou tersenyum.
Mendengar perkataan Sou, Akira kemudian kembali menunduk.
(Apa dia sedang malu?) Ucap Sou dalam hati sambil tersenyum gemas. "Berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi, Akira" Ucap Sou dengan senyumannya yang tidak luntur.
Akira kemudian kembali menatap Sou. Dia kemudian mengangguk. "Aku berjanji" ucap Akira tersenyum.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Ayano tiba-tiba.
Akira dan Sou yang terkejut kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah lain.
"Baiklah, aku akan kembali ke bangku ku. Sampai jumpa" ucap Sou tersenyum.
"I-iya" jawab Akira gugup. Sou kemudian pergi meninggalkan Akira dan Ayano.
"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Mencurigakan sekali" ucap Ayano menatap tajam Sou.
"Tidak ada Ayano, Sou tadi meminta maaf kepadaku dengan alasan yang sama sepertimu. Itu saja" jelas Akira.
"Eh.. benarkah?" Ucap Ayano memastikan.
"Benar Ayano, aku tidak berbohong. Lagipula untuk apa aku melakukannya? Sudahlah sekarang kita makan saja, aku sudah lapar" ucap Akira tersenyum.
"Baiklah" ucap Ayano yang juga tersenyum.
Tanpa disadari, Sou sedang memperhatikan Akira dari tadi. Dia ikut tersenyum saat melihat Akira tersenyum. Sou kemudian mengalihkan pandangannya dan mulai menyantap bekalnya.
Hari ini, pelajaran hanya berlangsung setengah hari karena waktu yang tersedia setelah istirahat, khusus untuk pengenalan klub ekstrakurikuler di sekolah.
"Maaf Akira, aku tidak bisa pergi denganmu. Aku harus pergi duluan karena aku sudah janji dengan temanku" ucap Ayano sambil menyatukan kedua tangannya.
"Tidak masalah Ayano, pergilah duluan. Aku bisa menyusul dan kita akan bertemu nanti" ucap Akira tersenyum.
"Maaf ya Akira, aku duluan" ucap Ayano kemudian pergi.
Tak lama setelah Ayano pergi, Sou menghampiri Akira.
"Mau melihat klub bersama?" Tanya Sou.
"Sepertinya bukan ide yang buruk. Ayano juga sudah pergi terlebih dahulu bersama temannya dari kelas lain" ucap Akira tersenyum.
"Ayo" ajak Sou tersenyum.
Mereka kemudian keluar kelas untuk melihat klub ekstrakurikuler yang ada di sekolah tersebut. Setiap ruang klub dihias semenarik mungkin dan tentu saja para anggota klub menunjukan kemampuannya masing-masing untuk mendapatkan anggota baru.
"Ramai sekali ya" ucap Akira melihat sekitar.
"Kalau tidak ramai, tidak akan menarik" ucap Sou tersenyum.
"Sou benar" ucap Akira yang juga tersenyum.
"Apa kamu akan masuk klub bulutangkis?" Tanya Sou.
"Sepertinya begitu. Sou sendiri mau masuk klub apa? Apa basket?" Tanya Akira.
Sou mengangguk. "Sejak pertama masuk sekolah ini, aku sudah memutuskan untuk bergabung dengan klub basket" ucap Sou tersenyum. "Tapi karena klub olahraga berada di gimnas, kita lihat-lihat saja dulu semua klub disini, bagaimana?" Tanya Sou.
"Aku setuju."
Mereka berdua kemudian berkeliling melihat klub-klub yang ada disana sebelum mereka menuju gimnas. Banyak klub yang menawari Akira dan Sou untuk menjadi anggota baru mereka, tetapi karena mereka sudah memiliki pilihan masing-masing jadi mereka menolak.
"Kamu punya wajah yang tampan dan Kakak ini juga sangat cantik. Kalian bisa menjadi pemeran utama di klub drama, soal akting kita bisa belajar nanti. Bagaimana? Apa kalian mau masuk klub ini?" Tanya seorang anggota klub drama.
"Maaf Kak, kami harus berkeliling terlebih dahulu untuk memutuskannya. Terima kasih" ucap Sou kemudian menarik tangan Akira. Akira hanya tersenyum singkat pada anggota klub tersebut.
"Ya ampun.. itu sudah yang kedua belas kalinya kita ditawari untuk menjadi anggota baru" ucap Sou menghela nafasnya.
"Kamu sampai menghitungnya" ucap Akira tertawa kecil. Sou kemudian ikut tertawa.
"Aku menyerah, ayo ke gimnas sekarang" ajak Sou.
"Ayo."
"Halo, apa kalian mau ikut klub fotografi?" Tanya seorang siswa yang diyakini sebagai anggota klub fotografi.
"(Lagi? Ya ampun..) Maaf Kak, kami sedang buru-buru" ucap Sou akan melangkah.
"Tunggu!-- Siswa itu menghalangi jalan Sou --Aku akan memotret kalian berdua, apabila hasilnya bagus dan kalian tertarik, kalian bisa bergabung. Kita coba dulu ya?" Ucap siswa tersebut.
Sou melihat ke arah Akira yang berdiri tepat di belakangnya. Alisnya terangkat seolah menanyakan persetujuan.
"Coba dulu ya" ucap siswa itu lagi.
"Ku rasa 1 lagi tidak masalah Sou" ucap Akira ragu.
"Baiklah jika kamu yang bilang begitu" ucap Sou pasrah.
Mereka berdua kemudian diarahkan ke sebuah ruangan yang dipenuhi oleh perlengkapan fotografi yang lengkap.
"Tolong berdiri disini ya" ucap anggota tersebut lagi.
"Tunggu, apa kalian sedang bertengkar? Mendekatlah lagi, bukankah kalian terlalu kaku? Lebih mendekat lagi" Ucapnya lagi.
Akira kemudian melirik Sou. "Maaf ya" ucap Akira kemudian mendekat ke arah Sou.
"Oke bagus, sekarang senyumlah" ucap siswa itu lagi.
"Ah yang cowoknya tidak tersenyum. Tersenyumlah, lihat pasanganmu yang sudah tersenyum manis, apa kamu akan mengabaikannya?" Ucapnya lagi.
Sou menghela nafasnya. "Akira.. sepertinya kita terjebak dengan klub yang merepotkan" bisik Sou.
__ADS_1
Akira tersenyum. "Sepertinya Sou benar, tapi tersenyumlah Sou, agar kita cepat keluar dari sini" ucap Akira yang juga berbisik.
"Ayolah" gerutu Sou.
Akira kemudian menatap Sou. Dia tersenyum manis kepada Sou yang membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Sou kemudian menatap lurus kedepan sambil tersenyum.
"Bagus! Bagus! Tahan, iya seperti itu" ucap siswa tersebut senang.
Siswa itu beberapa kali memotret Sou dan Akira dengan wajah gembiranya.
"Tunggu sebentar sampai fotonya jadi ya" ucapnya lagi. Dia kemudian pergi entah kemana.
"Ya ampun, lain kali kita harus menolaknya ya" ucap Sou yang duduk di sebelah Akira.
"Hmm-- Akira mengangguk --Setelah ini kita harus ke klub olahraga, pokoknya harus" ucap Akira semangat.
Sou tersenyum. "Kamu benar, kita harus kesana sebelum terlibat dengan klub lain lagi."
"Maaf menunggu lama, lihatlah kalian memang pasangan yang serasi. Aku doakan semoga hubungan kalian lancar sampai ke pernikahan" ucap siswa itu tersenyum tulus.
"Tung-" Akira tidak melanjutkan perkataannya, dia menatap Sou yang juga sedang menatapnya. Akira dengan cepat membuang pandangannya ke bawah. Wajahnya memerah karena malu.
"Kak.. maaf Kak, sepertinya Kakak salah paham. Kami tidak memiliki hubungan apapun, kami hanya berteman" jelas Sou yang juga tersipu.
"Eh? Benarkah? Maaf ya, aku kira kalian pasangan kekasih karena kalian terlihat sangat cocok. Mohon maafkan aku" ucap siswa tersebut menyesal.
"Ti-tidak masalah Kak" ucap Akira tersenyum.
"Hmm padahal ini adalah foto pasangan terbaik yang kami punya. Bawalah untuk kenang-kenangan dari klub kami. Maaf ya aku sudah salah paham tadi, aku izin menyimpannya 1 sebagai dokumentasi" ucapnya sambil memberikan hasil fotonya pada Sou dan Akira masing-masing satu.
Akira dan Sou terdiam beberapa saat ketika melihat hasilnya. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
(Kakak ini bisa saja, tapi Sou benar-benar tampan) ucap Akira dalam hati. Dia tersenyum tipis melihat fotonya dengan Sou.
(Ku rasa Kakak ini benar, Akira cantik sekali) ucap Sou dalam hati menatap Akira yang ada di foto.
"Fotonya bagus sekali Kak, terima kasih banyak, tapi sepertinya kami harus mengunjungi klub lainnya baru setelah itu kami akan memutuskannya" ucap Akira tersenyum.
"Benar, jangan sungkan ya jika ingin masuk klub ini" ucap siswa itu tersenyum.
"Tentu Kak, kami permisi" ucap Akira membungkuk hormat diikuti oleh Sou.
"Sayang sekali, padahal mereka sangat cocok" ucap siswa tadi menatap kepergian Sou dan Akira.
Bahkan setelah keluar dari klub fotografi, Akira dan Sou masih tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
"Fotonya cukup bagus ya" ucap Sou membuka pembicaraan.
Akira mengangguk. "Iya, fotonya bagus. Aku akan menyimpannya" ucap Akira tersenyum.
"Aku juga akan menyimpannya. Jarang sekali aku bisa berfoto bersama dengan atlet berbakat sepertimu" ucap Sou tersenyum.
"Kamu bisa saja Sou" ucap Akira malu.
Sou tersenyum. "Sekarang kita fokus untuk klub olahraga ya."
"Tentu, kita harus kesana sekarang" ucap Akira semangat. "Ayo Sou" ucapnya kemudian berlari kecil.
"(Dia terlihat bahagia, syukurlah) Tunggu aku, Akira" ucap Sou berlari menyusul Akira sambil tersenyum.
Sesampainya di gimnasium terlihat banyak orang yang menonton pertandingan basket yang sedang berlangsung. Terdengar ramai teriakan para penonton yang menyemangati para pemain.
"Sudah dimulai Akira, ayo" ucap Sou bersemangat. Dia menarik tangan Akira membawanya masuk ke dalam gimnas.
"Bukankah ini terlalu depan, Sou?" Tanya Akira karena memang benar, mereka duduk di bangku ketiga dari bawah.
"Justru ini adalah tempat terbaik untuk menonton pertandingannya Akira" ucap Sou tersenyum.
"(Sou terlihat bersemangat sekali, sangat menggemaskan) Baiklah, kita nikmati pertandingannya" ucap Akira tersenyum.
"Iya."
Mereka kemudian menikmati pertandingannya tanpa sepatah katapun. Sou juga terlihat fokus dan bersemangat secara bersamaan saat menonton pertandingannya.
"Wah keren sekali" ucap Akira saat melihat Kakak kelasnya melakukan jump shoot
Sou tersenyum. "Itu namanya teknik jump shoot. Teknik itu mengharuskan kita untuk melompat setinggi mungkin agar bisa memasukkan bola ke ring basket. Teknik ini cukup efektif ketika terdesak oleh lawan seperti yang tadi Kakak itu lakukan.
"Keren sekali" ucap Akira dengan mata yang berbinar.
"Awas Akira!" Teriak Sou melihat bola basket yang mengarah kepada Akira. Sou kemudian menangkap bola basket tersebut dengan tangannya sebelum bola itu mendarat tepat di wajah Akira. Para penonton juga terlihat terkejut dan tidak sedikit yang ikut berteriak.
"Akira, kamu baik-baik saja?" Ucap Sou khawatir. Dia berjongkok di depan Akira.
"Hey, Akira?" Ucapnya lagi saat melihat Akira yang masih terdiam dan terkejut.
"Ah, iya. Aku baik-baik saja, terima kasih Sou" ucap Akira.
"Saya baik-baik saja Kak, tidak perlu khawatir" ucap Akira tersenyum walaupun dia masih terkejut.
"Ketua, harusnya Ketua lebih berhati-hati lagi. Ini bolanya" ucap Sou memberikan bola kepada pemain tersebut yang ternyata adalah sang Ketua basket di SMP Sou.
"Iya Sou, maafkan anggota kami. Aku berjanji hal ini tidak akan terulang lagi, maaf ya" ucap Ketua lagi.
"Tidak apa-apa Kak, saya juga tidak terluka" ucap Akira lagi.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu" ucap Ketua kembali ke bawah karena pertandingan masih berlangsung.
"Baik Kak" ucap Akira tersenyum sedangkan Sou masih memasang wajah dinginnya.
"Sou, ada apa? Jangan memasang wajah menakutkan seperti itu" ucap Akira yang membuat Sou kembali tersadar.
"Kamu yakin baik-baik saja?" Tanya Sou lagi.
"Aku yakin Sou, hanya saja masih sedikit terkejut. Apa Sou terluka karena menangkap bola tadi?" Tanya Akira.
"Tidak, aku tidak terluka sedikitpun. Syukurlah jika tidak ada yang terluka" ucap Sou tersenyum. "Ayo kita pergi" ucapnya lagi.
"Tapi pertandingannya belum selesai Sou" ucap Akira bingung.
"Tidak apa, disini tidak aman Akira, kita lihat klub lain saja ya" ucap Sou menyakinkan Akira.
"Tapi Sou menyukai basket bukan? Kita lihat dulu sampai pertandingannya selesai Sou, baru kita melihat klub lain" jelas Akira.
"Tapi disini bahaya Akira, bagaimana jika hal tadi terulang lagi?" Ucap Sou khawatir.
"Tidak usah khawatir Sou, Kakak tadi sudah berjanji untuk tidak membiarkan hal seperti tadi terulang lagi bukan? Lagipula Sou pasti masih ingin menonton pertandingannya kan?" Ucap Akira.
"Itu benar, tapi.."
"Tidak apa Sou, aku yakin hal tadi tidak akan terulang lagi. Kita selesaikan nontonnya ya?" Bujuk Akira.
"Baiklah, tapi kita pindah tempat ke tempat yang lebih aman" ucap Sou.
"Baiklah."
Mereka kemudian pindah ke bangku kelima dari bawah dan mereka menyaksikan pertandingannya hingga selesai. Para penonton terlihat sangat menikmati pertandingannya termasuk Sou dan Akira. Mereka kemudian keluar secara tertib saat pertandingan selesai.
"Wah.. ternyata basket sangat menarik. Aku jadi ingin mencobanya juga" ucap Akira tersenyum.
"Aku akan mengajarimu nanti" ucap Sou tersenyum.
"Benarkah? Aku akan menunggunya" ucap Akira kembali tersenyum.
"Sou tunggu sebentar! Kemarilah" Teriak Ketua di bawah.
"Ayo, ikut aku sebentar" ajak Sou yang diangguki oleh Akira.
"Ada apa Ketua?" Tanya Sou saat berada di hadapan Ketua.
"Aku hanya ingin meminta maaf untuk kejadian tadi" ucapnya pada Sou dan Akira. "Cepat minta maaflah" ucap Ketua pada salah satu anggotanya.
"Aku minta maaf, aku tidak tahu bolanya mengarah kepadamu tadi. Mohon maafkan aku" ucap anggota tersebut sambil membungkuk.
"Tolong angkat kepalamu Kak. Saya baik-baik saja, saya tidak terluka sedikitpun, begitu juga dengan Sou. Tidak masalah Kak, Kakak tidak usah minta maaf" ucap Akira sedikit panik.
"Terima kasih banyak" ucap anggota tersebut sambil tersenyum. Namun dia kembali menunduk saat mendapatkan tatapan tajam dari Sou.
"Kamu benar baik-baik saja bukan?" Tanya Ketua.
"Saya baik-baik saja Kak" ucap Akira.
"Sudahlah Sou, kekasihmu ini baik-baik saja dan tidak terluka, jangan memberikan tatapan yang mengintimidasi anggotaku seperti itu" ucap Ketua merangkul Sou.
Akira dan Sou terkejut mendengar pernyataan Ketua.
"Tunggu Ketua, apa yang Ketua katakan?" Tanya Sou panik sedangkan Akira menunduk.
"Memangnya apa yang aku katakan?" Ucap Ketua bingung.
"Maaf Kak, kami bukan sepasang kekasih, kami hanya berteman" ucap Akira tersenyum.
"Benarkah? Tunggu, kemari Sou" ucap Ketua menarik Sou ke belakang yang jaraknya cukup jauh dari Akira dan anggota klub itu. Mereka berdua hanya menatap bingung melihat tingkah Ketua pada Sou.
(Ada apa dengan Kakak itu?) Ucap Akira dalam hati.
"Aku kira kamu adalah kekasihnya Sou" ucap anggota tadi.
"Tidak Kak, saya bukan kekasihnya" ucap Akira.
"Padahal kalian cocok sekali-- Dia tersenyum --Tapi, Sou itu orang yang cukup mengerikan ya, terlihat dari sorot matanya jika dia sedang marah" ucapnya lagi.
"(Eh, benarkah? Akira rasa Sou tidak seperti itu. Apa Akira melewatkan sesuatu sehingga tidak melihatnya marah?) Ah.. begitulah Kak" ucap Akira tersenyum canggung.
__ADS_1
Disisi lain…
"Kau serius dia bukan kekasihmu?" Tanya Ketua tidak percaya.
Sou mengangguk. "Aku serius Ketua" ucap Sou mengalihkan pandangannya.
"Padahal dia cantik dan kalian sangat cocok. Maaf ya" ucap Ketua lagi.
"Tidak apa Ketua, Ketua adalah orang kedua yang menganggap kami seperti itu" ucap Sou tersenyum.
"Benarkan, kalian itu cocok. Aku hanya cukup terkejut, ternyata seorang Pangeran Es bisa marah juga karena mengkhawatirkan seorang gadis" ucap Ketua sedikit tertawa.
"Diamlah Ketua" ucap Sou kesal.
"Tidak usah malu seperti itu Sou, ayo kita kembali kesana" ajaknya.
Mereka kemudian kembali menghampiri Akira.
"Maaf ya sepertinya aku sudah salah paham pada kalian berdua" ucap Ketua tersenyum.
"Tidak apa Kak" ucap Akira yang juga tersenyum.
"Baiklah, setelah ini kalian mau kemana?" Tanya Ketua lagi.
"Kami akan mengunjungi klub bulutangkis" ucap Sou.
"Baiklah semoga berhasil. Datanglah jika kalian ingin bergabung di klub basket. Jangan sampai telat mendaftar ya" ucap Ketua lagi.
"Baiklah, kami permisi Ketua" ucap Sou.
"Permisi" ucap Akira membungkuk hormat. Sou dan Akira kemudian beralih ke lapangan tertutup untuk melihat klub bulutangkis.
"Kamu mengenal Kakak tadi Sou?" Tanya Akira.
"Dia adalah salah satu alumni yang pernah aku ceritakan kepadamu saat itu" jelas Sou.
"Pantas saja kalian terlihat akrab" ucap Akira tersenyum.
"Walaupun begitu, Ketua merupakan orang yang menjengkelkan Akira, jangan tertipu dengan sikap manisnya" ucap Sou.
"Baiklah aku mengerti" ucap Akira tersenyum.
Mereka kemudian duduk di pinggir lapangan untuk melihat pengenalan klub bulutangkis. Akira tampak bersemangat, dia memperhatikan latihan klub bulutangkis dengan mata yang berbinar.
"Apa ada yang mau mencoba?" Tanya Ketua klub.
Akira dengan cepat mengangkat tangannya. "Apa saya boleh mencobanya?" Tanya Akira.
"Tentu saja, kemarilah" ucap Ketua klub lagi.
"Semangat Akira" ucap Sou.
"Terima kasih Sou" ucap Akira yang kemudian masuk ke dalam lapangan.
"Servis dan smashmu sangat baik, bagaimana jika kita bermain 1 set?" Tanya Ketua.
"Apa tidak masalah Kak?" Tanya Akira ragu.
"Bagaimana semua, bolehkan saya dan Akira bermain 1 set?" Tanya Ketua pada semua orang yang ada di lapangan tertutup.
Tanpa diduga, mereka sangat setuju melihat Ketua bermain dengan Akira yang pada dasarnya adalah murid baru di sekolah tersebut. Atas keputusan bersama, maka Akira bermain 1 set dengan Ketua klub.
Setelah beberapa lama, Akira memenangkan pertandingan tersebut yang membuat semua orang kagum dan tidak percaya dengan pertandingan yang baru saja mereka lihat.
"Kamu hebat Akira, mau masuk klub ini?" Tanya Ketua.
"Iya Kak, izinkan saya bergabung dalam klub ini" ucap Akira tersenyum.
"Tentu" ucap Ketua tersenyum.
"Terima kasih banyak Kak."
Akira kemudian kembali ke tempat duduknya dan pengenalan klub kemudian dilanjutkan.
"Kamu sangat hebat Akira, kamu benar-benar seorang at-"
"Sou, bisakah kamu merahasiakannya?" Ucap Akira memotong pembicaraan Sou.
"Kenapa? Kenapa harus di rahasiakan?" Tanya Sou bingung.
"Aku takut nanti akan ada diskriminasi jika mereka tahu kebenarannya" ucap Akira.
"Ah begitukah.. baiklah, akan ku rahasiakan" ucap Sou tersenyum.
"Terima kasih banyak Sou."
Mereka kemudian kembali fokus dengan pengenalan klub bulutangkis hingga selesai.
"Aku lelah, tapi ini sangat menyenangkan" ucap Akira tersenyum.
"Kamu benar, ini sangat melelahkan tapi juga sangat menyenangkan" ucap Sou setuju.
"Terima kasih untuk hari ini Sou, aku sangat senang" ucap Akira tersenyum.
"Sama-sama Akira, terima kasih juga" ucap Sou tersenyum.
Mereka berdua kemudian berjalan kembali ke kelas sambil membicarakan hal yang telah mereka lalui hari ini.
Di kelas…
"Akira, kenapa kamu baru datang? Aku kesepian disini" Ucap Ayano mengerucutkan bibirnya.
"Bukankah kamu bersama dengan temanmu? Kenapa bisa kesepian disini?" Tanya Akira bingung.
"Memang benar aku bersama mereka tapi kami sudah selesai dari tadi. Kenapa kamu lama sekali?" Ucap Ayano lagi.
"Maaf, banyak hal yang terjadi tadi" ucap Akira tersenyum canggung.
"Baiklah, ayo pulang bersama" ajak Ayano.
"Iya, tunggu sebentar ya" ucap Akira kemudian membereskan barang-barangnya.
"Ayo Ayano, aku sudah selesai" ucap Akira yang diangguki oleh Ayano.
"Sou mau pulang bersama kami lagi? Hanya sampai depan tapi" ucap Ayano tersenyum.
"Boleh" ucap Sou yang juga tersenyum. Mereka bertiga kemudian berjalan bersama sampai gerbang.
"Kakak!!" Panggil Akira.
"Kenapa lama sekali? Kakak lelah menunggu" ucap Yuki.
"Kakak sudah dari tadi disini? Maaf Kak, Akira tadi terlalu bersemangat melihat klub ekstrakurikuler di sekolah" jelas Akira.
Yuki tersenyum. "Tidak apa, Kakak mengerti. Sou dan Ayano mau aku antar?" Tanya Yuki.
"Tidak Kak, Ayano akan pulang sendiri saja. Terima kasih" ucap Ayano tersenyum.
"Aku juga akan pulang sendiri saja Kak, terima kasih atas tawarannya" ucap Sou tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya" ucap Yuki.
"Hati-hati di jalan teman-teman" ucap Akira tersenyum.
"Aku izin pulang duluan Kak, Akira, Ayano" pamit Sou.
"Iya hati-hati ya, sampai jumpa besok" ucap Akira tersenyum.
"Bye-bye" gumam Sou yang masih bisa didengar oleh Akira.
Akira tersenyum. "Bye-bye Sou."
"Ayano juga pamit pulang duluan Kak, Akira" ucap Ayano.
"Baiklah hati-hati, sampai jumpa besok" ucap Akira.
"Hati-hati ya" ucap Yuki tersenyum.
Setelah Sou dan Ayano pulang, Akira dan Yuki juga ikut pulang.
"Kakak hari ini Akira menjelajah semua klub ekstrakurikuler di sekolah" ucap Akira semangat.
"Apa Akira senang?" Tanya Yuki tersenyum bahagia melihat adiknya bersemangat seperti ini.
Akira mengangguk. "Sangat senang Kak. Akira tadi melihat klub bulutangkis dan diajak bermain 1 set oleh ketua klubnya, lalu Akira memenangkannya, hebat bukan?" Ucap Akira tersenyum bahagia.
"Hebatnya Adiknya Kakak yang satu ini" ucap Yuki mengelus kepala Akira.
"Klub basket juga sangat keren Kak, klub fotografi, menggambar dan kaligrafi juga sangat menyenangkan. Klub musik juga" jelas Akira tersenyum.
"Syukurlah jika Akira senang, tapi Akira tidak memaksakan diri lagi bukan?" Tanya Yuki.
"Tentu Kak, Akira tidak memaksakan diri lagi" ucap Akira tersenyum.
"Teruskan semangatnya, jarang-jarang melihat Akira bersemangat seperti ini lagi" ucap Yuki sedikit tertawa.
"Tentu saja" ucap Akira tersenyum.
Sepanjang perjalanan, Akira menceritakan tentang semua kegiatannya hari ini di sekolah. Dia terlihat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Senyumannya memancarkan kebahagiaan. Tentu saja ini merupakan pengalaman berharga bagi Akira, sehingga dia membagikan dan menceritakan pengalaman berharganya kepada Kakaknya, Yuki.
Yuki juga cukup bahagia dan bersyukur dapat melihat Akira kembali bersemangat seperti ini, setelah yang terakhir kali saat dia berada di bangku pertama SMP.
(Semoga Akira selalu bahagia) ucap Yuki dalam hati sambil tersenyum menatap Akira.
__ADS_1