Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 32 : Maaf Kak..


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Akira semakin dekat dengan Rina tetapi masih sama dengan Alya. Akira selalu merasa Alya sengaja menjauhinya tapi tidak alasannya. Berbeda dengan Yuki yang menjaga jarak dengan Alya, Naoya dan Shinji semakin dekat dengannya. Bahkan mungkin mereka lebih dekat dengan Alya daripada Akira karena Alya selalu bertemu dengan mereka sedangkan Akira sibuk latihan. Meskipun begitu, mereka tetap akur dan rukun sebagai sebuah keluarga.


Tok..tok..tok..


"Kakak, ini Akira" panggil Akira dari luar kamar Yuki.


"..." Tidak ada jawaban dari Yuki.


"Kakak? Akira masuk ya?" Ucap Akira lagi saat tidak mendapatkan jawaban kembali dari Yuki.


Akira kemudian membuka pelan pintu kamar Yuki dan melihat Kakaknya masih tertidur di kasur.


"Kakak, ayo bangun ini sudah siang. Mari sarapan bersama" ucap Akira berusaha membangunkan Yuki.


"Kemarilah," ucap Yuki menyuruh Akira mendekat. 


"Ada apa Kak?"


Tak lama kemudian, Yuki menarik tubuh Akira dan memeluknya seperti guling.


"Ka-Kakak, apa yang Kakak lakukan?" Panik Akira berusaha melepaskan dirinya dari Yuki.


"Biarkan Kakak memeluk Akira seperti ini, Kakak habis bermimpi buruk tadi malam" ucap Yuki masih memejamkan matanya.


"Baiklah" ucap Akira tersenyum kemudian membalas pelukan Yuki. "Kakak bermimpi apa memangnya?"


"Kakak melihat Akira menangis dengan keras" jelasnya.


"Akira menangis? Kenapa Akira menangis?"


"Kakak tidak tahu, tapi Kakak tidak ingin melihat Akira menangis. Kakak ingin tetap melihat Akira tersenyum" ucapnya mengelus kepala Akira.


"Akira tidak akan menangis Kak. Akira sudah besar, Akira malu jika menangis sekarang. Lagi pula itu hanya mimpi Kak" jelas Akira menatap Yuki.


"Hm, kamu benar" ucapnya tersenyum.


"Ayo makan bersama, Akira sudah lapar" ucap Akira tersenyum.


"Kamu ini," ucap Yuki mengacak-acak rambut Akira gemas. "Kakak ke kamar mandi dulu ya, Akira tunggu di bawah saja" titahnya lagi.


"Hm, Akira mengerti" ucap Akira bangun dan pergi kembali ke bawah.


"Apa mereka sudah bangun Akira?" Tanya Rina yang masih sibuk menyiapkan sarapan.


"Kak Nao, Kak Shin, dan Kak Yuki sudah Bu, tinggal Alya yang belum dipanggil" jelas Akira tersenyum. "Akira akan membangunkan Alya" ucapnya akan pergi tapi ditahan oleh Rina.


"Nanti saja, dia mungkin masih tidur" ucap Rina tersenyum.


"Kalau begitu, biarkan Akira membantu Ibu saja"


"Boleh," 


Beberapa lama kemudian...


Semuanya sudah berada di meja makan kecuali Yuki dan Alya.


"Tolong panggil mereka lagi, Akira" titah Rina.


"Baik Bu" ucap Akira patuh. Dia kemudian pergi ke kamar Yuki terlebih dahulu.


"Kakak, ayo sarapan" ucap Akira mengetuk pintu kamar.


"Kakak akan ke bawah sekarang" teriaknya dari dalam kamar.


"Akira duluan Kak"


"Iya"


Setelahnya Akira kemudian pergi ke kamar Alya yang tidak jauh dari ruang tengah.


Tok..tok..tok..


"Alya, ayo sarapan. Semua orang sudah menunggumu" ucap Akira dari luar kamar.


Hening. Tidak ada jawaban dari Alya.


"Alya?" Panggil Akira kembali mengetuk pintu kamar.


"Apa?!" Bentak Alya membuka pintu kamar dengan kasar. "Kau berisik sekali! Kalau kau ingin sarapan sarapan saja sendiri, jangan berisik di depan kamarku!" Teriak Alya di depan Akira.


Akira yang terkejut tidak bisa mengatakan apapun. Dia terdiam cukup lama menatap Alya.


"Tapi, Akira-"


"S*alan!" Bentak Alya lagi.


"Beraninya kau mengatakan itu pada adikku!" Teriak Yuki depan wajah Alya. "Apa ini sikap aslimu hah?! Kau tidak pantas mengatakannya kepada Akira!" Bentak Yuki kesal.


"Kakak.." Akira menarik tangan Yuki agar sedikit menjauh dari Alya.


Papa, Rina, Naoya, dan Shinji kemudian menghampiri Yuki, Akira, dan Alya.


"Ada apa Yuki? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Papa khawatir.


"Dia membentak Akira dan mengatakan hal kasar pada Akira, Pa" jelas Yuki menahan emosinya.


"Apa benar itu Alya?" Tanya Rina mulai marah.

__ADS_1


"Ti-tidak Bu, aku tidak membentaknya. Aku hanya bilang tunggu sebentar tapi Kak Yuki malah membentakku" jelas Alya meneteskan air matanya. Akira dan Yuki yang mendengarnya pun terlihat terkejut.


"Kau-"


PLAK!


Papa menampar pipi Yuki cukup keras. Semua orang yang ada di sana termasuk Yuki dan Papa juga sama terkejutnya.


"Kakak.." panggil Akira menatap Yuki.


"Kau sudah berbohong dan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri. Papa tidak mengajarkanmu melakukan hal seperti ini. Kau harus introspeksi dirimu sendiri" tegas Papa kemudian pergi dari sana.


Yuki yang masih terkejut pun hanya mematung di tempat.


"Tunggu Pa, mau kemana?" Tanya Rina mengikuti Papa.


"Yuki.. Pa, Pa tunggu Pa" ujar Naoya mengejar Papanya.


"Tunggu sebentar" ucap Shinji pada Yuki yang juga mengejar Papanya.


Alya yang masih terkejut juga sama seperti Yuki, dia terdiam di tempat.


Yuki kemudian mengeraskan rahangnya yang mengepalkan tangannya. Dia kemudian pergi ke kamarnya.


"Kakak.. Kak," panggil Akira. "Kau keterlaluan Al," ucap Akira kemudian mengejar Yuki.


BRAK!


Yuki menutup pintu dengan sangat keras yang membuat tubuh Akira tersentak.


"Kakak.. Kak, ini Akira. Buka pintunya" ucap Akira mengetuk pelan pintu kamar Yuki.


"Kakak maafkan Akira, Kak. Buka pintunya" ucap Akira mulai panik.


Yuki kemudian membuka pintunya. Dia menatap dalam mata Akira.


"Kakak baik-baik saja," ucapnya tersenyum.


Detik itu juga, Akira kemudian memeluk Yuki dengan erat. Akira menangis di pelukan Yuki.


"Maaf Kak" ucap Akira meneteskan air matanya. Yuki kemudian membawa Akira ke dalam kamar dan mengunci pintunya.


"Maaf Kak, gara-gara Akira, Papa jadi-"


"Ini bukan salah Akira," ucap Yuki melepaskan pelukannya. "Jangan menangis Akira, nanti Kakak ikut menangis juga" ucap Yuki menghapus air mata Akira.


"Tapi.. tapi karena Akira, Kakak-"


Yuki kemudian memeluk Akira dengan erat.


Benar, ini adalah pertama kalinya Yuki mendapatkan kekerasan fisik selama hidupnya. Yuki dibesarkan di keluarga yang harmonis. Dia juga memiliki teman-teman yang baik. Dia tidak pernah merasakan kekerasan fisik bahkan untuk dicubit sekalipun. Papanya hari ini bukan Papa yang dia kenal. Ini juga pertama kalinya Tuan Souma menampar anaknya sendiri jadi wajar jika Yuki dan Tuan Souma sangat terguncang.


"Kakak.. maaf Kak" tangis Akira mengeratkan pelukannya.


"Tidak, ini bukan salah Akira. Maaf sudah membuat Akira menangis seperti ini. Kakak sudah melanggar janji Kakak pada Mama" jelas Yuki tetap memeluk Akira.


"Baiklah, Akira tidak akan menangis, Akira tidak menangis" ucap Akira melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


"Hm, jangan menangis" sendu Yuki mengelus kepala Akira.


"Kakak baik-baik saja?" Tanya Akira menatap Yuki.


"Hm, Kakak baik-baik saja. Ini hanya luka kecil, tidak masalah" ucap Yuki tersenyum.


"Maaf Kak" ucap Akira menundukan kepalanya.


"Sudah Kakak katakan ini bukan salah Akira. Maaf ya sudah membuat Akira khawatir dan menangis seperti ini" sendunya.


"Tidak Kak, ini juga bukan salah Kakak. Ini salah Alya, dia berbohong" 


"Hm, Kakak tahu. Tapi buktinya Papa tidak mempercayai Kakak" sendunya sambil tersenyum. Matanya berkaca-kaca.


Akira kemudian kembali memeluk Yuki dengan sangat erat.


"Terima kasih ya" ucap Yuki membalas pelukan Akira.


"Akira akan menjelaskannya pada Papa sekarang" ucap Akira akan pergi namun Yuki menahannya. Dia kembali memeluk Akira.


"Tidak, jangan pergi. Temani Kakak disini" sendu Yuki yang membuat Akira kembali menangis.


"Akira akan menemani Kakak."


Beberapa lama kemudian, setelah mereka puas berpelukan untuk saling menguatkan, mereka melepaskan pelukannya.


"Kakak merasa lebih baik sekarang" ucapnya tersenyum.


"Hm"


Tok..tok..tok..


"Yuki, kau baik-baik saja?" Teriak Shinji dari luar kamar.


"Tidak usah dibuka" pinta Yuki menundukan kepalanya.


"Hm"


"Yuki, buka pintunya. Kau baik-baik saja?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Kak" teriak Yuki.


"Jangan berbohong, buka pintunya" tegas Naoya yang sepertinya ada di luar juga.


Yuki tidak bisa apa-apa jika Naoya yang menyuruhnya karena Yuki sangat menghormati Naoya.


Mendengar perkataan Naoya, Yuki kemudian membukakan pintu untuk Naoya dan Shinji. Tepat setelah pintu dibuka Naoya kemudian memeluk Yuki.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya sambil memeluk Yuki.


"Hm, aku baik-baik saja"


"Papa mungkin sedang banyak masalah jadi dia melakukan ini semua" jelas Naoya menatap mata Yuki. "Kakak akan menyelesaikan semuanya, kau tidak perlu khawatir" ucapnya lagi kembali memeluk Yuki sekilas.


"Kak Nao benar, sekarang kamu istirahatlah" titah Shinji mengacak-acak rambut Yuki.


"Hm"


"Akira juga tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja" ucap Naoya menghampiri Akira.


"Tapi Kak, Kak Yuki tidak bersalah," ucap Akira kembali menangis. "Kakak tidak bersalah, Kakak mengatakan yang sebenarnya" ucap Akira mencoba menjelaskannya pada Naoya.


"Hm, Kakak tahu Yuki tidak akan melakukan hal seperti itu tanpa alasan. Semua akan baik-baik saja, percayakan pada Kakak mengerti?" Ucap Naoya menghapus air mata Akira.


"Hm"


"Anak pintar" ucap Naoya tersenyum.


"Sudah jangan dipikirkan" bisik Shinji pada Yuki yang sepertinya sedang menangis. "Tidak apa, kau boleh menangis" ucapnya lagi mengacak-acak rambut Yuki.


"Punggung Kakak bergetar, Kakak sedang menangis. Ini pertama kalinya Akifa melihat Kakak menangis" bisik Akira dalam hati kembali meneteskan air matanya.


"Jangan menangis, Yuki akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat" ucap Naoya kembali menghibur Akira.


"Ayo Akira, biarkan Yuki beristirahat" ajak Shinji tersenyum.


"Tidak, biarkan dia bersamaku disini" gumam Yuki sambil menghapus air matanya. "Akira mau kan menemani Kakak?" Tanyanya sambil tersenyum.


Mata Akira kembali berkaca-kaca. Dia tahu Yuki sedang sedih tapi dia masih bisa tersenyum seperti itu. Yuki benar-benar hebat.


"Hm" Akira menganggukan kepalanya.


"Baiklah jika seperti itu. Kakak akan kembali ke bawah ya" ucap Naoya tersenyum.


"Hm, terima kasih Kak" jawab Yuki tersenyum.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, Papa hanya sedang banyak masalah saja" jelas Shinji pada Yuki.


"Aku mengerti Kak, terima kasih" ucap Yuki lagi-lagi tersenyum.


Naoya dan Shinji kemudian keluar dari kamar Yuki.


"Kakak.."


"Maaf ya, Kakak membuat Akira kembali khawatir" ucap Yuki tersenyum.


Akira kembali memeluk Yuki. "Ini pertama kalinya Akira melihat Kakak menangis. Kak Yuki hebat tapi jangan tersenyum jika Kakak merasa sakit" gumam Akira menyembunyikan wajahnya.


"Hm, ini pertama kalinya bagi Kakak, jadi Kakak sedikit terkejut" jelas Yuki tersenyum. Yuki dan Akira kemudian duduk di bibir kasur. "Kakak tidak tahu jika Papa akan seperti tadi" ucap Yuki memulai pembicaraan. "Mungkin Kak Nao dan Kak Shin benar, Papa sedang banyak masalah tapi Kakak sangat kecewa pada gadis itu" jelas Yuki menundukan kepalanya.


"Dari awal Kakak sudah tahu bahwa Kakak tidak akan pernah bisa menyukainya. Dia tidak punya sopan santun dan sekarang berbohong, benar-benar munafik" jelasnya lagi mengepalkan tangannya.


"Kakak, Akira akan menjelaskan kepada Papa nanti. Alya bersalah, dia yang seharusnya ditampar oleh Papa tadi" ucap Akira menggenggam tangan Yuki.


"Terima kasih, temani Kakak tidur" ucapnya menatap Akira.


"Tentu Kak,"


Yuki dan Akira kemudian merebahkan dirinya di kasur. Yuki memeluk tubuh Akira cukup erat.


"Rasanya baru tadi Kakak bilang Kakak bermimpi buruk" gumam Yuki memejamkan matanya.


"Hm, Kakak tidurlah" ucap Akira menatap Yuki.


"Akira juga, tidurlah"


"Hm."


Tak lama kemudian Yuki masuk ke dunia mimpi sambil memeluk Akira.


Tok..tok..tok..


"Yuki? Yuki kamu baik-baik saja?" Tanya Rina dari luar kamar.


"Kakak, Ibu memanggil" ucap Akira menatap Yuki. "Sepertinya Kakak sudah tertidur" gumam Akira akan melepaskan pelukan Yuki.


"Jangan pergi," ucap Yuki mengeratkan kembali pelukannya pada Akira.


"Tapi Ibu memanggil Kak"


"Biarkan saja. Temani Kakak, jangan pergi kemanapun Akira"


"Baiklah Kak, Akira akan tidur bersama Kakak disini" ucap Akira membalas pelukan Yuki. Dia mengelus punggung Yuki setidaknya untuk menenangkannya.


Tak lama setelah itu, suara Rina tidak terdengar kembali. Sepertinya dia sudah pergi dari kamar Yuki. Begitu juga dengan Yuki yang terlihat tenang, sepertinya dia sudah tertidur.


"Maaf Kak, Akira tidak berbuat apapun tadi. Akira sungguh tidak bisa memaafkannya."

__ADS_1


__ADS_2