Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 15 : Happy Birthday


__ADS_3

Keesokan harinya, Ayano benar-benar menghabiskan 1 hari penuh bersama Akira dan teman-teman di kelas. Entah karena sudah direncanakan atau bagaimana, pada hari ini teman-temannya tidak mencari dan mengajak Ayano untuk pergi bersama. Ayano juga tidak pergi keluar untuk menemui teman-temannya. Dia mulai berbicara banyak dengan teman-teman sekelas, karena biasanya dia akan berada di kelas hanya saat pelajaran saja sehingga Ayano tidak terlalu dekat dengan teman-teman yang lain.


"Ternyata diam di kelas juga sangat menyenangkan" ucap Ayano tersenyum.


"Benar bukan?" Ucap Akira tersenyum.


"Aku selalu pergi saat istirahat maupun jam kosong, aku ingin lebih dekat dengan teman-teman disini" ucap Ayano lagi.


Akira mengangguk. (Sepertinya rencananya sukses) "Iya" ucap Akira tersenyum.


"Akira, Ayano mau main kartu bersama?" Tanya Hana yang sedang bermain kartu di bangku paling depan.


"Aku tidak mengerti permainan kartu" ucap Akira tersenyum.


"Wah.. ternyata Akira payah dalam permainan seperti ini. Aku kira kamu hebat dalam semua aspek" ucap Hana tersenyum.


"Sudah aku katakan, aku tidak sehebat itu" ucap Akira tersenyum.


"Biar aku yang main" ucap Ayano berdiri.


"Boleh, kemarilah. Kamu jarang sekali bermain bersama kami" ucap Hana lagi.


"Hehe.. maaf ya" ucap Ayano tersenyum.


Ayano kemudian mendatangi Hana dan teman-teman lain yang sedang bermain kartu. Bersamaan dengan perginya Ayano, Sou menghampiri Akira.


"Tumben sekali dia berada di kelas hampir satu hari penuh" ucap Sou menatap Ayano yang sibuk di depan.


"Bukankah dia sudah mengakui kesalahannya? Ini adalah buktinya" ucap Akira tersenyum. 


"Sepertinya kamu benar" ucap Sou yang juga tersenyum.


"Apa kamu masih marah kepadanya?" Tanya Akira menatap Sou.


"Dari awal aku memang tidak marah, aku hanya kesal dengan sikapnya yang seperti itu. Dia bebas berteman dengan siapapun karena itu haknya, tapi aku tidak akan memaafkan orang yang meninggalkan temannya bahkan itu Akira sekalipun" jelas Sou.


Akira tersenyum, dia mengangguk. "Aku tidak mungkin meninggalkan temanku dan aku tidak ingin Sou kesal padaku" ucap Akira tersenyum.


"Kau ini" ucap Sou yang ikut tersenyum.


Saat pulang sekolah...


"Sampai jumpa Sou, Ayano. Hati-hati ya. Bye-bye" ucap Akira melambaikan tangannya.


"Bye-bye" ucap Sou melambaikan tangannya juga.


"Akira dan Kak Yuki juga hati-hati, sampai jumpa" ucap Ayano tersenyum.


"Hati-hati di jalan" ucap Yuki. "Ayo Akira kita juga pulang."


"Iya Kak."


Sou, Ayano, dan Akira kemudian pulang menuju rumahnya masing-masing.


(Apa Sou masih marah ya? Aku bahkan lupa rencana Akira tadi) ucap Ayano yang berjalan di belakang Sou.


"Berbaur dengan teman sekelas bukan hal yang buruk bukan?" Ucap Sou tanpa melihat ke belakang.


"(Sou mengajakku berbicara duluan!) Em.. sangat menyenangkan" ucap Ayano.


"Sepertinya kamu benar-benar tahu kesalahanmu, maaf sudah berprasangka buruk kepadamu" ucap Sou lagi yang membuat Ayano sedikit terkejut.


"Apa kamu sudah tidak marah kepadaku?" Tanya Ayano menatap punggung Sou.


"Dari awal aku memang tidak marah kepadamu, hanya kesal dan tidak suka saja" ucap Sou yang lagi-lagi membuat Ayano sedikit terkejut.


"Begitukah? Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi" ucap Ayano menundukkan pandangannya.


Sou mengangguk. "Sampai jumpa besok" ucap Sou tersenyum tipis pada Ayano.


"Iya, sampai jumpa. Hati-hati" balas Ayano yang diangguki Sou.


"Apa ini artinya rencana yang Akira buat berhasil? Syukurlah" gumam Ayano tersenyum senang menatap punggung Sou.


Di rumah Akira...


Terdengar beberapa kali notifikasi masuk ke handphone Akira yang disimpan di meja makan.


"Akira handphonenya berbunyi terus, berisik" ucap Yuki sedikit terganggu.


"Maaf Kak, tunggu sebentar" ucap Akira yang sedang memasak.


"Kakak buka saja ya? Dari tadi berbunyi, takutnya penting" ucap Yuki lagi.


"Iya Kak, tolong" ucap Akira yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Dari Ayano, dibuka jangan?"


"Kalau begitu biarkan saja Kak, Ayano pasti bertanya tentang tugas tadi."


"Baiklah, tapi Kakak silent ya, berisik soalnya." 


"Iya Kak."


Tak lama kemudian Akira selesai memasak dan menata makanannya di meja makan.


"Terima kasih makanannya" ucap Yuki tersenyum.


"Sama-sama" ucap Akira tersenyum. "Maaf Kak, Akira harus balas pesan Ayano dulu" izin Akira.


"Iya, takutnya penting" ucap Yuki sambil mengambil nasi ke piringnya.


Ayano: "Akira!! Rencanamu berhasil!"


Ayano: "Sou tersenyum!"


Ayano: "Dia mengajakku berbicara duluan tadi"


Ayano: "Terima kasih banyak Akira"


Ayano: "Akira?"


Ayano: "Apa kamu sedang latihan?"


Akira tersenyum melihat kabar baik dari Ayano.


Akira: "Aku belum pergi latihan"


Akira: "Syukurlah"


Akira: "Kamu sudah bekerja keras, selamat ya"


Ayano: "Apa yang kamu katakan?"


Ayano: "Ini berkat rencanamu"


Ayano: "Terima kasih"


Akira: "Tidak, tidak. Aku tidak melakukan apapun"


Akira: "Walaupun ini rencanaku, tapi yang memutuskan untuk mengikutinya atau tidak adalah keputusan Ayano, jadi ini murni usaha Ayano"


Ayano: "Kamu memang yang terbaik. Mau berkat siapapun aku tetap berterima kasih kepadamu"


Ayano: "Terima kasih ya"


Ayano: "Aku jadi tidak perlu khawatir lagi"


Akira: "Sama-sama Ayano"


Akira tersenyum melihat layar handphonenya.(Syukurlah, dengan begini mereka tidak perlu kesal atau canggung lagi).


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang baik?" Tanya Yuki melihat Akira tersenyum.


"Begitulah Kak" ucap Akira yang juga tersenyum.


"Ya sudah, makan dulu. Setelah ini Akira harus pergi latihan" ucap Yuki lagi.


"Baik Kak."


Malam hari di rumah...


"Akira pulang" ucap Akira memasuki rumah. Akira pulang larut karena hari ini merupakan latihan terakhir sebelum evaluasi rutin di Pelatnas selama 5 hari ke depan.

__ADS_1


"Loh kenapa lampunya mati? Kak Yuki, lampunya mati" ucap Akira pada Yuki yang masih dibelakangnya.


"Benarkah? Eh, benar lampunya mati. Tunggu, biar Kakak periksa" ucap Yuki kemudian kembali keluar.


"Apa Papa lupa bayar listrik ya?" Ucap Akira kemudian mengambil handphonenya dan menyalakan senter.


"Seram juga kalau gelap seperti ini, padahal ini di rumah Akira sendiri" monolog Akira sambil berjalan pelan memasuki ruang tamu.


"Papa? Kakak? Dimana semua orang? Kak Yuki juga kenapa lama sekali?" monolog Akira lagi.


(Semoga Akira tidak bertemu dengan hantu yang menyeramkan. Akira lebih rela bertemu hantu yang cantik dan tampan seperti karakter anime)


"Kak Yuki sudah belum ya? Akira tidak akan tersetrum bukan?" Ucap Akira akan menekan saklar lampu.


"Kak Yuki, sudah belum?!" Teriak Akira.


"Paling hanya kesetrum bukan? Mari kita coba" ucap Akira kemudian menyalakan saklarnya.


DUARR!!!


Terdengar suara ledakan yang tidak terlalu besar tetapi cukup untuk mengagetkan Akira. Saat lampu menyala, seisi rumah sudah dipenuhi oleh balon dan pernak-pernik khas ulang tahun lainnya.


"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday Akira, happy birthday to you!"


Akira yang masih terkejut dengan suara ledakan tadi hanya diam mematung di tempat. Tubuhnya membeku saking terkejutnya.


"Selamat ulang tahun sayang" ucap Papa memeluk Akira.


Akira kemudian membalas pelukan Papanya. "Apa Akira ulang tahun sekarang? Bukankah besok?" Ucap Akira bingung.


"Hah? Bukankah sekarang tanggal 28? Apa aku yang salah?" Ucap Shinji yang juga bingung.


"Hari ini tanggal 28" ucap Yuki yakin


"Tanggal 27 Kak" ucap Akira.


"Benarkah?" tanya Papa melepaskan pelukannya dan kemudian mengecek handphonenya.


"Kamu ngerjain Papa dan Kakak hm?" Ucap Papa setelah menemukan tanggal 28 di layar handphonenya. Papa kemudian mencubit hidung Akira.


Akira tertawa kecil melihat Papa dan Kakaknya yang sibuk melihat handphone masing-masing untuk melihat tanggal hari ini.


"Kau ini" ucap Naoya mencubit pipi Akira.


"Aah sakit Kak" ucap Akira menjauhkan wajahnya dari Naoya.


"Sudah, sudah. Bikin permohonan lalu tiup lilinnya" ucap Papa tersenyum.


(Akira harap Akira, Papa, Kak Nao, Kak Shin, dan Kak Yuki selalu sehat dan bahagia. Semoga keluarga kami tetap harmonis dan semua berjalan dengan lancar. Semoga Akira menjadi atlet yang bisa membanggakan Papa, Kakak, dan kalau bisa seluruh masyarakat di negara ini. Akira ingin menjadi perwakilan untuk membawa harum negara ini di olimpiade, semoga Tuhan mengabulkannya, Amin)


"Huh" Akira meniup lilin.


"Selamat ulang tahun ya, anak Papa sudah besar ternyata. Semoga semua harapan Akira tercapai" ucap Papa kembali memeluk Akira.


"Terima kasih Pa" ucap Akira membalas pelukan Papanya.


"Selamat ulang tahun Akira" ucap Naoya memeluk adiknya itu. "Sehat-sehat ya."


"Terima kasih Kak" ucap Akira membalas pelukan Naoya.


"Biarkan aku berharap 1 hal untuk ulang tahun Akira ya?" ucap Shinji mendekati Akira.


"Boleh" ucap Akira tersenyum.


Shinji menutup matanya "Semoga.. Akira tidak membuatku kesal lagi" ucapnya kemudian memeluk Akira. "Selamat ulang tahun."


"Terima kasih Kak, tapi sepertinya Akira akan terus mengganggu Kakak" ucap Akira menatap Shinji.


"Awas saja jika berani melakukannya" ucap Shinji melepaskan pelukannya dan Akira hanya tertawa kecil.


"Selamat ulang tahun ya, semoga semua cita-cita Akira tercapai" ucap Yuki yang juga memeluk Akira.


"Terima kasih Kak" ucap Akira membalas pelukan Yuki.


"Ayo potong kuenya, Kakak ingin mencobanya" ucap Shinji.


"Kuenya kan punya Akira, Kak" ucap Akira.


"Iya kan Kakak minta" ucap Shinji datar.


"Aku kan memang Shinji" ucap Shinji bingung.


"Baiklah, ayo Kak" ucap Akira tersenyum. Mereka kemudian memotong kue dan memakannya bersama.


"Ini hadiah dari Papa" ucap Papa memberikan kadonya di sela-sela makan kue.


"Wah besar sekali Pa, apa isinya?" Tanya Akira penasaran.


"Buka saja" ucap Papa tersenyum.


"Akira buka ya" ucap Akira kemudian membuka hadiah besar dari sang Papa.


"Wahh.. keren sekali, terima kasih banyak Pa" ucap Akira menatap kagum 2 buah raket dan tas bulutangkis yang didapatkannya. "Akira akan menggunakannya saat Akira bertanding nanti. Terima kasih Pa" ucap Akira lagi.


"Sama-sama sayang" ucap Papa tersenyum.


"Ini dari Kakak" ucap Naoya memberikan kadonya. 


"Terima kasih Kak, Akira buka ya" ucap Akira tersenyum.


"Tentu."


"Wahh, terima kasih Kak" ucap Akira tersenyum senang.


"Sama-sama" ucap Naoya tersenyum.


"Ini dari Kakak" ucap Yuki memberikan kado yang cukup besar.


"Wah, lagi lagi kadonya besar. Terima kasih Kak, Akira buka ya" ucap Akira tersenyum dan Yuki mengangguk setuju.


"Wahhh lucunya... gemas sekali" ucap Akira mendapatkan boneka teddy bear dengan ukuran cukup besar berwarna pink dengan telinga dan kaki berwarna merah serta syal dan topi berwarna emas.


"Terima kasih Kak, sangat lembut dan menggemaskan" ucap Akira memeluk bonekanya itu.


"Akira menyukainya?" Tanya Yuki.


"Tentu saja, terima kasih" ucap Akira tersenyum.


"Sama-sama" ucap Yuki mengacak-acak rambut Akira gemas.


"Sebenarnya Kakak tidak ingin memberikan Akira kado karena Akira selalu mengganggu Kakak tapi-"


"Tapi Akira juga tidak ingin mendapat hadiah" ucap Akira memotong pembicaraan Shinji.


"Lalu ini hadiahnya dibuang saja?" Tanya Shinji kepada Akira.


"Jangan dong Kak, buat Akira saja ya?" Ucap Akira tersenyum.


Shinji menatap Akira datar tanpa ekspresi. "Baiklah, untuk Akira saja" ucap Shinji tersenyum.


"Terima kasih Kak, Akira buka ya" ucap Akira semangat.


"Silahkan."


"Waahh... (Akira menatap Shinji dan Shinji tersenyum) Terima kasih Kak Shin, cantik sekali" ucap Akira tersenyum senang sambil memamerkan gaun yang didapatkannya.


"Warna peach memang cocok untuk Akira" ucap Papa tersenyum.


"Nanti dipakai ya" ucap Shinji.


"Pasti Kak, terima kasih banyak" ucap Akira tersenyum menatap Shinji.


"Sama-sama sayang."


"Sudah jam segini, lebih baik Akira tidur. Besok harus sekolah bukan? Besok saja mencuci piring kotornya" Ucap Papa.


"Baik Pa" ucap Akira.


"Iya besok saja, ini sudah terlalu malam" ucap Naoya.


Mereka kemudian membereskan semua sisa kegiatan ulang tahun Akira dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Selamat malam semua, jangan begadang lagi langsung tidur" ucap Papa.

__ADS_1


"Baik Pak, selamat malam" ucap Shinji.


"Selamat malam" ucap Naoya.


"Selamat malam Pa, Kak, Akira" ucap Yuki.


"Selamat malam juga Kak, Papa, Kak Nao, Kak Shin. Terima kasih kejutan dan hadiahnya" ucap Akira tersenyum.


"Sama-sama sayang. Papa duluan ya" ucap Papa pergi ke kamarnya.


"Tidur yang nyenyak Akira, bye bye" ucap Yuki yang juga pergi ke kamar.


"Sama-sama. Tidur sana, ini sudah malam" ucap Shinji.


"Iya Kak, ini juga mau tidur. Akira ke atas duluan" pamit Akira membawa semua hadiahnya ke kamar.


"Akira bahkan lupa kalau Akira ulang tahun sekarang" ucap Akira sambil membereskan hadiahnya.


"Hari ini, kamu tidur bersama Akira ya" ucap Akira kepada boneka yang Yuki beri. 


Keesokan harinya...


"Kakak, Akira minta untuk Ayano dan Sou ya" ucap Akira kepada Yuki yang sedang memakan kue ulang tahun Akira tadi malam. Ternyata Papa dan Naoya menyiapkan masing-masing satu kue ulang tahun untuk Akira sehingga masih banyak kue yang tersisa.


"Boleh saja, ini kan punya Akira. Lagipula siapa yang akan memakan semua ini, ini masih sangat banyak" ucap Yuki.


"Baik Kak." Akira kemudian memasukkan beberapa potong kue ke dalam kotak makan untuk dimakan bersama Ayano dan Sou di sekolah.


"Tunggu dulu, Kakak belum selesai makannya" ucap Yuki mengerutkan alisnya.


"Tentu Kak, Kakak tenang saja jangan terburu-buru. Sekolah Akira juga masih lama" ucap Akira tersenyum.


Di sekolah...


"Mau makan bersama lagi?" Ucap Sou mendekati Akira dan Ayano.


"Sepertinya aku tidak ikut, aku sudah janji dengan mereka" ucap Ayano menatap Sou.


"Benarkah?" Tanya Akira.


"Maaf" ucap Ayano menunduk.


"Baiklah tidak apa. Ini untuk Ayano" ucap Akira tersenyum memberikan kotak makan yang kecil kepada Ayano.


"Apa ini?" Tanya Ayano.


"Dibuka saja nanti" ucap Akira tersenyum.


"Terima kasih banyak Akira" ucap Ayano tersenyum.


"Ayo Akira" ucap Sou yang diangguki Akira.


"Kami duluan Ayano" pamit Akira.


"Iya."


Mereka kemudian berjalan bersama ke rooftop. Rooftop menjadi tempat terbaik untuk Akira dan Sou makan.


"Sayang sekali kita tidak dapat makan bersama" ucap Akira mendudukan dirinya di bawah.


"Biarkan saja, biar dia yang mencari kita" ucap Sou dingin.


Akira kemudian mengangguk. "Ini untukmu" ucap Akira memberikan kotak makan yang tidak terlalu besar.


"Wah.. apa ini? Terima kasih" ucap Sou tersenyum. Dia kemudian membukanya.


"Kue, apa kamu yang membuatnya?" Tanya Sou menatap Akira.


"Tidak, Kak Nao yang membawanya kemarin" jelas Akira.


"Ini seperti kue ulang tahun, apa hari ini adalah hari ulang tahunmu?" Tanya Sou lagi.


Akira hanya mengangguk pelan.


Sou terdiam sebentar lalu tersenyum. "Selamat ulang tahun Akira."


"Terima kasih banyak Sou. Ayo kita makan" ucap Akira tersenyum yang diangguki oleh Sou. Mereka kemudian memakan makanannya dengan lahap sambil sesekali bercanda.


"Terima kasih ya Akira" ucap Sou tersenyum.


"Sama-sama Sou" ucap Akira yang juga tersenyum.


"Ayo turun, atau masih mau disini?" Tanya Sou.


"Kita turun saja" jawab Akira.


Mereka kemudian berjalan untuk kembali ke kelas. Namun saat akan berbelok ke kanan ke arah kelas mereka, Sou berjalan ke lorong yang berada di sebelah kiri, berbeda arah dengan lorong yang menuju kelasnya.


"Sou, mau kemana?" Tanya Akira menghentikan langkahnya.


"Ayo ikut aku sebentar" ucap Sou menarik tangan Akira.


"Kita mau kemana Sou?" Tanya Akira lagi.


"Kamu akan tahu nanti" ucap Sou tersenyum.


Mendengar perkataan Sou, Akira hanya pasrah walaupun dirinya bingung akan dibawa kemana.


Sou memberhentikan langkahnya di depan ruang musik. Dia mengetuk ruang itu dan membukanya. Mereka kemudian melihat sekeliling kelas.


"Sepertinya tidak ada orang disini" ucap Sou menarik Akira masuk ke dalam.


"Kenapa kita kemari Sou?" Tanya Akira bingung.


Sou tidak menjawab pertanyaan Akira. Dia melepaskan genggamannya dan mengambil 1 kursi yang ditempatkan di sisi kanan piano. Akira hanya menatap bingung Sou.


"Sou-"


"Akira, duduk disini" ucap Sou menepuk-nepuk kursi yang disimpan di dekat piano.


"Tunggu, apa yang ingin kamu lakukan? Kita tidak akan dimarahi nanti. Kalau ada guru yang melihat bagaimana?" ucap Akira.


"Biar aku yang bertanggung jawab. Sekarang duduklah disini" ucap Sou lagi.


Akira pun hanya bisa pasrah dan melakukan apa yang Sou katakan. Akira duduk di kursi yang ditunjukan Sou dan Sou kemudian duduk di depan piano sambil tersenyum.


"Izinkan aku, Arashii Souta memainkan satu lagu untuk Anda, ohime-sama" ucap Sou membungkukan badannya dengan tangan kanannya tersimpan di dada kirinya. Persis seperti seorang pangeran yang meminta izin untuk berdansa dengan putrinya.


Akira cukup terkejut dan bingung secara bersamaan.


"Tiba-tiba? Ada ap- (Akira melihat Sou yang menatapnya dengan posisi yang sama dengan senyuman manisnya) Tentu, izinkan aku mendengarkan lagu indahmu ouji-sama" ucap Akira tersenyum manis.


Sou terlihat terkejut tapi dia kemudian tersenyum tipis dan mengangguk. Sou mulai memainkan pianonya. Suara yang dihasilkan oleh Sou sangat menenangkan, lembut, dan hangat seperti sedang menikmati bunga sakura di musim semi. Jari-jemarinya lihai menekan satu-persatu nots tanpa ada kesalahan sedikitpun. Dia sesekali menatap dan tersenyum kepada Akira.


Akira sangat kagum dan terkejut dengan kemampuan Sou, terlihat dari pancaran matanya. Dia tersenyum manis kepada Sou dan menikmati lagu yang dimainkan olehnya.


(Akira tidak tahu kalau Sou juga pandai bermain piano, sangat indah) batin Akira menatap Sou yang juga tersenyum kepadanya.


Beberapa lama kemudian, Sou menyelesaikan permainannya dengan sangat halus. Hingga nada terakhir, Akira sangat menikmati permainan piano Sou. 


"Bagaimana? Apa Anda puas ohime-sama? Ini adalah hadiah ulang tahun dariku" ucap Sou kembali membungkuk.


Akira tersenyum. "Ini adalah kado yang paling manis dan indah, terima kasih banyak Sou" ucap Akira tersenyum bahagia.


"Padahal panggilan sebelumnya lebih bagus" gumam Sou mengalihkan pandangannya. "Sekali lagi, selamat ulang tahun Akira" ucap Sou tersenyum menatap Akira.


"Terima kasih banyak Sou. Terima kasih juga untuk permainan pianonya, aku sangat menyukainya. Terima kasih" ucap Akira tersenyum yang diikuti Sou yang juga tersenyum.


"Ding dong... waktu istirahat tinggal 5 menit" Suara bel berbunyi.


"Sepertinya kita harus segera ke kelas, Sou" ucap Akira.


"Iya Akira, ayo."


Di kelas...


"Untung saja Guru belum datang" ucap Akira lega.


"Kamu benar, aku duluan Akira" ucap Sou berhenti di bangkunya.


"Iya, terima kasih banyak ouji-sama" ucap Akira tersenyum dengan suara pelan namun masih terdengar oleh Sou. Akira kemudian berjalan ke bangkunya.


Sou terdiam sesaat lalu tersenyum.

__ADS_1


"Dasar Akira" gumam Sou tersenyum menatap Akira.


__ADS_2