
Malam harinya...
"Tangan Akira masih sakit, apa separah itu lukanya?" Gumam Akira menatap tangannya yang di perban.
"Akira?" Ucap seseorang di balik pintu. "Ini Kakak" ucapnya lagi.
"Masuk saja Kak" ucap Akira sedikit berteriak.
"Kenapa Akira belum tidur? Apa belum mengantuk?" Tanya Naoya menghampiri Akira yang sedang duduk di tepi kasur.
"Iya Kak, Akira belum mengantuk. Ada apa?"
"Bagaimana tangannya? Masih sakit?" Tanya Naoya mulai memeriksa tangan Akira.
"Sedikit sakit Kak" jelas Akira.
"Seharusnya tadi Akira ikuti kata Papa dan Kakak jadi kita bisa mengobatinya dengan benar. Darahnya masih merembes, besok periksa ya" ucap Naoya khawatir.
"Tidak mau Kak, Akira tidak mau ke rumah sakit. Sudah tidak terlalu sakit, besok juga pasti sembuh Kak" jelas Akira.
"Hah.. (Naoya menghembuskan nafas kasarnya) kalau tidak mau ke rumah sakit, jangan terluka lagi" ucap Naoya yang diangguki Akira. "Perbannya sudah diganti?" Tanyanya lagi.
"Sudah Kak."
"Kalau begitu, obatnya Kakak simpan di nakas ya"
"Iya Kak, terima kasih."
Naoya kemudian tersenyum. Dia berjalan menuju nakas dan menemukan bingkai foto yang asing baginya.
"Bukankah ini teman Akira? Siapa ya?" Tanya Naoya memperhatikan foto Akira dan Sou. "Bagaimana bisa Akira difoto seperti ini dengannya? Apa dia kekasih Akira? Ucap Naoya dengan nada yang sedikit dingin.
"Itu.. Sou bukan kekasih Akira Kak. Foto itu diambil oleh klub fotografi saat kami melihat klub sekolah Kak. Ketua klub memberikan kami masing-masing satu sebagai kenang-kenangan karena sudah mengunjungi klubnya. Tapi, semua orang yang pergi kesana juga mendapatkannya Kak, bukan Akira dan Sou saja" jelas Akira.
"Eh.. begitukah? Tidak masalah, lagipula Akira terlihat cantik dalam foto ini" ucap Naoya kembali memperhatikan foto yang dipegangnya.
"Kenapa Akira hanya di foto dengan Sou? Apa Akira mengunjungi klub ekstrakurikuler hanya dengan Sou?" Tanya Naoya lagi.
"I-iya Kak, Ayano tidak bersama kami saat itu jadi hanya kami berdua" ucap Akira sambil menunduk.
"Lalu kenapa dipajang?" Tanyanya lagi
(Kak Nao pasti marah) "Itu.."
"Akira menyukainya?" Tanya Naoya yang membuat Akira terkejut.
"Ti-tidak Kak, Akira... (Akira menyukainya)"
"Oh.. jadi Akira menyukai Sou ya?" Tebak Naoya yang lagi-lagi membuat Akira terkejut. Tapi kali ini Akira hanya menunduk karena dia tidak berbohong dengan perasaannya.
"Bagi Kakak sih tidak masalah, tapi Kakak harus memastikan apa dia benar-benar baik untuk Akira atau tidak" jelas Naoya.
Melihat adiknya yang hanya menunduk, Naoya menghampiri Akira.
"Kenapa? Takut Kakak marah?" Tanyanya duduk di pinggir Akira. Akira lagi-lagi tidak menjawab, dia takut Kakaknya marah.
"Menyukai seseorang bukan hal yang salah, jadi Kakak tidak akan memarahimu. Lagipula itu hak Akira, Akira sendiri yang merasakannya bukan Kakak, jadi Kakak tidak akan memarahimu" jelas Naoya mengelus kepala Akira.
"Jika Akira menyukainya, Kakak tidak akan marah. Sou sepertinya bukan orang jahat tapi Kakak harus kembali memastikannya" ucap Naoya tersenyum.
Drrrrrtttt... notifikasi masuk ke dalam handphone Akira.
"Siapa yang malam-malam begini menghubungi Akira?" Tanya Naoya.
"S-Sou" ucap Akira menunjukan layar handphonenya.
Naoya tersenyum. (Sudah lebih jauh dari perkiraanku ternyata) "Balas saja, dia menunggu. Kakak pergi ya, jangan tidur terlalu larut atau Kakak akan marah dan ikut memarahi Sou" ucap Naoya sambil berdiri.
"Selamat malam, mimpi indah Akira" ucap Naoya tersenyum.
"I-ya Kak. Selamat malam, terima kasih Kak" ucap Akira gugup.
"Kakak pergi" ucap Naoya tersenyum. (Syukurlah, aku kira dia akan mendapatkan cinta sepihak tapi sepertinya semuanya akan baik-baik saja) batin Naoya kemudian berjalan keluar kamar Akira.
Sou: "Akira, masih bangun?"
Akira: "Masih Sou, ada apa?"
Sou: "Tidak ada"
"Tidak ada?" Ucap Akira bingung.
Sou: "Bagaimana tanganmu? Apa sudah membaik?"
Akira: "Sudah, tapi sakitnya masih ada"
Sou: "Sudah diperiksa?"
Akira: "Belum, aku tidak mau ke rumah sakit. Rumah sakit adalah musuhku"
Sou: "Haha.. apa-apaan itu? Tapi bukankah sebaiknya diperiksa?"
Akira: "Sou seperti Papa dan Kakakku saja"
Akira: "Aku menolaknya tadi"
Sou: "Mereka juga sama sepertiku. Mereka khawatir kepadamu, Akira"
Akira: "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Seharusnya kamu lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri, aku rasa kakimu akan sangat sakit jika digerakkan"
Sou: "Akira benar, ini sangat sakit. Aku tidak bisa berjalan bahkan untuk ke meja belajar"
Sou: "Tapi aku juga mengkhawatirkanmu"
"Apa yang- Sou selalu saja seperti ini" gumam Akira tersenyum.
Sou: "Syukurlah jika tanganmu sudah membaik. Tidurlah Akira, ini sudah malam. Maaf aku mengganggumu"
Akira: "Tidak apa Sou, selamat malam juga"
Sou: "Sampai jumpa besok"
"Besok?" Ucap Akira bingung.
Akira: "Apa besok Sou akan datang ke sekolah?"
Sou: "Tentu saja, aku harus sekolah besok"
Akira: "Bukankah lebih baik jika istirahat dulu saja? Kakimu belum sembuh, Sou"
Sou: "Ini bukan masalah yang serius, aku masih bisa mengatasinya:)"
Akira: "Ini bukan tentang kamu bisa mengatasinya atau tidak, tapi jika terus dipaksakan nanti akan lebih parah"
Sou: "Apa kamu mengkhawatirkanku?"
"Pertanyaan ini lagi..." gumam Akira sambil tersenyum tipis.
Akira: "Jika aku bilang iya, apa kamu akan menuruti keinginanku?"
Sou: "Apa-apaan itu?:)"
Sou: "Apa keinginanmu?"
Akira: "Izin satu hari untuk kakimu besok"
Sou: "Hmmm..."
Sou: "Maaf Akira, aku tidak bisa menuruti keinginanmu:("
"Padahal aku sangat mengkhawatirkannya" ucap Akira sedikit kesal.
Akira: "Begitukah? Baiklah, aku tidak punya hak untuk menghentikan Sou:)"
Akira: "Jangan memaksakan dirimu sendiri"
Sou: "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku"
Sou: "Aku harus tetap sekolah karena berbagai alasan. Tidurlah Akira, ini sudah malam"
Sou: "Selamat malam, sampai jumpa besok"
Akira: "Baiklah, selamat malam juga Sou. Sampai jumpa besok."
"Sou selalu saja seperti ini" ucap Akira menyentuh dadanya. "Padahal hanya chat tapi jantung Akira benar-benar tidak aman" gumam Akira kemudian merebahkan dirinya dan tertidur.
Keesokan harinya...
"Selamat Pagi Pa, Kak Yuki" sapa Akira yang sedang memasak.
"Bukankah Papa bilang tidak usah memasak?" Ucap Papa.
"Benarkah?" Ucap Akira terlihat bingung.
"Tangan Akira masih sakit bukan? Kenapa memasak?" Ucap Papa lagi.
"Akira lupa kalau hari ini tidak boleh memasak" ucap Akira tersenyum. "Tidak apa kan Pa? Lagipula sudah terlanjur" ucap Akira lagi.
"Kalau menyangkut kegiatan yang disukai, Akira tidak akan mendengarkan" ucap Yuki duduk di kursinya.
"Hah.. (Papa menghembuskan nafas kasarnya) Jika Papa melihat Akira memasak atau melakukan kegiatan yang banyak menggunakan tangan Akira lagi, Papa akan menghukum Akira!" ucap Papa dingin.
(Papa menakutkan jika marah seperti ini) batin Akira melihat Papanya yang marah. "Maaf Pa, ini yang terakhir" ucap Akira menyesal.
Akira kemudian melanjutkan masaknya dan menatanya di meja makan setelah selesai. Tidak ada percakapan diantara ketiganya, Akira dan Yuki takut saat Papanya sedang marah jadi mereka lebih baik diam.
__ADS_1
"Selamat pagi" sapa Shinji yang baru datang. "Apa Akira memasak?" Tanya Shinji yang diangguki Akira.
"Akira memang juara pertama untuk kategori tidak pernah mendengarkan" ucap Shinji tersenyum. "Bagaimana tangannya?" Tanyanya lagi.
"Sudah baikan Kak" ucap Akira masih menunduk.
"Syukurlah kalau begitu. Selamat makan" ucap Shinji tersenyum. Mereka mulai memakan masakan Akira.
Sambil menunggu Naoya, handphone Akira terus berbunyi.
"Balas pesannya Akira, jika tidak Sou akan sedih" ucap Naoya tiba-tiba datang. "Selamat pagi semua" ucapnya tersenyum.
"Sou?" Tanya Papa.
Akira menatap Naoya terkejut dan tidak percaya. Begitu juga dengan Yuki.
"Bukan dari Sou ya?" Ucap Naoya lagi setelah melihat ekspresi Akira dan Yuki.
(Kak Nao benar-benar! Kenapa Kakak berbicara seperti itu sekarang? Selesai sudah hidup Akira hari ini) ucap Akira takut jika Papanya kembali memarahinya.
(Kak Nao benar-benar tidak peka, Akira pasti akan dimarahi lagi oleh Papa) batin Yuki menatap Akira.
"Sou itu siapa?" Tanya Papa menatap Naoya.
"Itu te-"
"Orang yang Akira suka" ucap Shinji memotong perkataan Akira.
Akira dan Yuki kembali terkejut dengan jawaban Shinji yang terlalu blak-blakan.
(Selesai sudah hidup Akira, benar-benar selesai!) Ucap Akira pasrah. Dia tidak berani mengangkat kepalanya sekarang.
"Itu-"
"Ehhh???" Ucap Papa terkejut. Akira memejamkan matanya rapat-rapat, takut jika dia dibentak oleh Papanya sendiri.
(Jangan marah.. jangan marah..) doa Akira dalam hati.
"Akira menyukai seseorang ternyata. Bukankah itu bagus?" Ucap Papa sambil tersenyum yang membuat semua orang terkejut.
Akira kemudian menatap Papanya dengan tatapan terkejutnya. (Tunggu, tunggu. Apa yang baru saja Papa katakan? Akira tidak salah dengar bukan?)
"Papa tidak memarahinya?" Ucap Yuki spontan.
"Kenapa Papa harus marah?" Tanya Papa bingung. "Bukankah itu bagus? Gadis Papa benar-benar sudah besar sekarang" ucap Papa mengelus kepala Akira.
"Tapi Pa, Sou-"
"Dulu Papa juga seperti itu dengan Mama dan Papa tahu bagaimana rasanya. Itu sudah lama sekali, Papa jadi rindu Mama" ucap Papa tersenyum. "Jika Akira menyukainya katakan kepadanya, jangan malu. Dulu, Mama yang pertama menyatakan perasaannya kepada Papa, jadi Akira juga katakan saja kepadanya, nanti keburu diambil orang " ucap Papa lagi.
"Tapi Pa-"
"Bukankah itu bagus Akira, kamu mendapat lampu hijau dari Papa" ucap Shinji semangat.
"Tunggu Kak" (Akira tidak tahu harus berbuat apa sekarang) ucap Akira pasrah.
"Lain kali ajak ke rumah, kenalkan pada Papa dan Kakak semua" ucap Papa lagi. "Akhirnya saat ini datang juga" ucap Papa terharu. "Sudah lanjutkan makannya, nanti terlambat" ucap Papa lagi yang diangguki semuanya.
(Ahhh.. Akira semakin canggung sekarang, Padahal hanya ada Papa dan Kakak disini) ucap Akira sambil menunduk. (Tapi syukurlah) ucap Akira lagi lalu tersenyum tipis.
Beberapa lama kemudian...
"Papa berangkat ya. Hati-hati di rumah Yuki, Akira" pamit Papa.
"Iya Pa, hati-hati juga. Bye-bye" ucap Akira tersenyum.
"Baik Pa" jawab Yuki.
"Bye-bye. Papa pergi" ucap Papa tersenyum.
"Bye-bye Akira" ucap Shinji tersenyum. "Jaga rumah dan Akira baik-baik ya" ucapnya pada Yuki.
"Iya Kak."
"Akira.. maaf ya, sepertinya Kakak mengacau hari ini" ucap Naoya menggaruk belakang lehernya.
"Akira sangat takut tadi, tapi terima kasih Kak" ucap Akira tersenyum.
"Sekarang Akira sudah mendapat izin dari Papa jadi Akira boleh pacaran" ucap Naota mengacak-acak rambut Akira.
"Apa yang Kakak katakan?" Gumam Akira sambil tersenyum malu.
"Menggemaskan. Tidak, Kakak tidak mengatakan apapun" ucap Naoya mengelus kepala Akira. "Kakak pergi ya."
"Hati-hati Kak. Bye-bye"
"Bye-bye"
Di sekolah...
"Kakak pulang ya, semangat belajarnya" ucap Yuki tersenyum.
"Bye-bye" ucap Yuki kemudian melajukan mobilnya.
Setelah Yuki pergi, Akira kemudian berjalan memasuki sekolah.
"Bukankah itu Sou?" Gumam Akira memperhatikan seseorang yang berjalan sangat lambat dengan tongkat kruk. "Sou benar-benar masuk sekolah. Dia sangat nekad" gumam Akira kemudian menghampiri Sou.
"Sou!" Panggil Akira.
Sou kemudian memberhentikan langkahnya dan berbalik. "Selamat pagi" sapa Sou tersenyum.
"Selamat pagi. Kamu benar-benar masuk ternyata. Apa ada yang bisa kubantu?" ucap Akira menyamakan langkahnya dengan Sou yang berjalan lambat.
"Tidak ada, aku baik-baik saja" Ucap Sou tersenyum. "Bagaimana dengan tanganmu?"
"Sudah membaik" ucap Akira menunjukan tangannya.
"Syukurlah" ucap Sou tersenyum.
"Kamu boleh berjalan duluan Akira" ucap Sou melihat Akira yang menyamakan jalannya dengan Sou.
"Kita sekelas, kenapa tidak berjalan bersama saja?" Ucap Akira bingung. "Mau aku bantu?" Tanya Akira tersenyum.
"Apa kamu bisa menggendongku?" Tanya Sou.
"Kalau itu.."
"Aku hanya bercanda" ucap Sou tersenyum. "Apa kamu benar-benar berpikir akan menggendongku?" Tanya Sou tersenyum.
"Kalau menggendongmu sepertinya tidak bisa, jadi aku akan berjalan bersamamu saja" ucap Akira tersenyum.
Sou kembali tersenyum mendengar jawaban Akira. "Terima kasih."
Saat sampai di depan tangga, Sou terlihat terdiam sebentar sambil menghembuskan nafas kasarnya. Dia terlihat kesusahan dengan tongkat dan tangannya yang lain memegang pegangan tangga.
"Sini, biar aku bantu" ucap Akira mengulurkan tangannya.
"Maaf merepotkan" ucap Sou menerima uluran tangan Akira. Akira kemudian memapah Sou sedikit demi sedikit menaiki tangga.
"Apa aku berat? Maaf ya Akira a-"
"Kenapa Sou terus meminta maaf? Kata Kakakku, kita tidak harus meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kita lakukan. Sou tidak melakukan kesalahan, jadi tolong berhenti meminta maaf kepadaku" jelas Akira menatap Sou.
"Tapi.. baiklah, terima kasih Akira" ucap Sou tersenyum, begitu juga dengan Akira yang tersenyum.
"Sou? Sou?!" Panggil Hiro dari bawah.
Akira dan Sou kemudian memberhentikan langkahnya.
"Ada apa denganmu? Kenapa menggunakan tongkat seperti ini?" Tanya Hiro.
"Kakiku terluka saat latihan kemarin" ucap Sou.
"Ckk.. kamu memang ceroboh. Biar aku yang membantunya, Akira" ucap Hiro tersenyum. Hiro kemudian mengambil alih tubuh Sou dan memapahnya.
Sou berjalan terlebih dahulu dengan Hiro dan Akira yang mengikutinya di belakang.
"Kenapa kamu tidak menelponku? Dan kenapa tidak izin saja, kau perlu istirahat Sou" ucap Hiro.
"Aku tidak bisa" ucap Sou singkat.
"Apa kamu mencari kesempatan agar bisa berdekatan dengan Akira?"
"Apa yang kamu katakan? Aku bahkan sangat kesulitan untuk menaiki tangga, bagaimana bisa aku berpikiran kesana?" Ucap Sou.
"Benar juga sih, tapi untung saja Akira mau membantumu"
"Kau benar" ucap Sou tersenyum.
Sesampainya di kelas, teman-teman langsung mengerubungi Sou untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Sou kakimu kenapa?" Tanya seorang siswa.
"Pasti sakit bukan?"
"Sou, apa yang terjadi?"
"Tidak bisakah kalian mundur dulu? Sou sedang sakit sekarang" ucap Hiro pada teman-teman yang berkerubung di depan kelas.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa seperti ini? Tanya Ketua Kelas.
"Terjatuh saat berlatih" ucap Sou dingin.
"Sou, Hiro, aku duluan ya" ucap Akira menghindari kerumunan di bangku Sou.
__ADS_1
"Terima kasih Akira" ucap Sou tersenyum yang dibalas senyuman oleh Akira. Dia kemudian pergi menuju bangkunya.
"Kenapa dia?" Tanya Ayano melewati Akira begitu saja.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Hana pada Akira.
"Dia terjatuh saat latihan kemarin, kakinya terkilir" jelas Akira.
"Akira hebat bisa tahu apa yang terjadi dengan Sou" ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Tentu saja, karena aku dan Ayano yang menyaksikan Sou terjatuh" jelas Akira.
"Benarkah? Seperti itu ternyata" ucap Hana mengangguk paham.
"Iya, seperti itu" ucap Akira tersenyum.
"Akira, apa kamu tahu kaki Sou terkilir? Sepertinya saat terjatuh kemarin" ucap Ayano setelah kembali ke tempat duduknya.
"Iya, sepertinya begitu" ucap Akira setuju.
"Seharusnya diobati kemarin, jadi dia tidak akan memakai tongkat seperti ini" ucap Ayano lagi.
"Kami sudah mengobatinya kemarin, tapi sepertinya terlalu parah" ucap Akira lagi.
"Kamu mengobatinya?" Tanya Ayano.
"Iya" jawab Akira sedikit bingung.
"Seharusnya kamu bisa menyembuhkannya walaupun hanya sedikit, Sou jadi harus memakai tongkat kan" ucap Ayano lagi.
(Eh? Apa dia marah?) "Maaf" ucap Akira dengan ekspresi yang bingung mendengar pernyataan Ayano.
"Kamu seharusnya minta maaf pada Sou, bukan kepadaku" ucap Ayano lagi.
"Kalau Begitu, kenapa tidak kamu saja yang mengobatinya kemarin? Bukankah Akira bilang kamu juga menyaksikan saat Sou terjatuh?" Ucap Hana menimpali.
"Aku tidak berbicara denganmu"
"Kalau begitu, jangan seenaknya berbicara seperti itu. Jika kamu tidak tahu lebih baik diam dan jangan mengatakan apapun" ucap Hana kesal.
(Baru kali ini aku melihat Hana seperti ini) "Tolong jangan bertengkar" ucap Akira menengahi. "Aku akan meminta maaf kepada Sou nanti" ucap Akira lagi.
"Tch" Ayano berdecih kemudian pergi dari sana.
(Akira tidak tahu bahwa Ayano dan Hana akan seperti ini)
"Akira, sebaiknya kamu jauhi anak itu. Dari awal dia tidak ingin berbaur dengan kita dan perilakunya di luar sekolah benar-benar menyimpang dan membuatku muak! Dia hanya berpura-pura" jelas Hana.
(Apalagi ini? Apa maksud dari perkataan Hana? Mengapa Hana bicara seperti itu?)
"Maaf, aku mengatakan hal aneh ya? Tapi sebaiknya kamu berhati-hati kepadanya Akira" ucap Hana tersenyum.
"Aku memang tidak tahu maksud perkataan Hana, tapi aku akan berhati-hati" ucap Akira tersenyum. (Ya, Akira masih harus mencari tahu tentang Ayano. Walaupun kami berteman tapi ada sesuatu yang membuat Sou dan Hana menjadi seperti ini kepadanya terlebih kejadian di kantin kemarin).
Saat istirahat...
Ayano pergi menghampiri bangku Sou dan Hiro. Mereka terlihat tidak senang dan tidak peduli pada Ayano, terlihat dari wajah keduanya yang menatap tajam kearah Ayano.
"Sou, ayo makan bersama" ajak Ayano.
"Maaf, aku sudah berjanji akan makan bersama Akira" ucap Sou tanpa menatap Ayano.
"Kota akan makan dimana? Dibangkumu atau dibangkuku?" Tanya Ayano tersenyum.
"Apa kau tidak mendengarkanku?" Ucap Sou dingin tanpa menatapnya.
"Lebih baik, kamu makan bersama teman-temanmu saja" ucap Hiro menimpali.
"Aku akan makan bersama Sou" ucap Ayano teguh.
"Ada apa dengannya? Merepotkan" gumam Hiro.
"Dasar keras kepala!" Gumam Sou menatap tajam Ayano.
"Kamu tenang saja, aku akan membawa Akira kemari" ucapnya lagi.
Ayano kemudian kembali ke bangkunya. "Akira, ayo" ucap Ayano menarik tangan Akira yang masih diperban.
"Akh, sakit Ayano" ucap Akira.
"Oh? Maaf, maaf aku tidak sengaja Akira, aku lupa tanganmu masih sakit"
"Tidak apa" ucap Akira tersenyum. (Sakitnya..) "Ada apa Ayano, kenapa terburu buru?"
"Kita akan makan bersama Sou, jadi ayo kesana" ucap Ayano tersenyum
"Benarkah?" Ucap Akira melihat kearah Sou yang juga sedang menatapnya. Sou kemudian mengangguk.
"Baiklah, ayo" ucap Akira lagi.
Ayano dan Akira kemudian berjalan ke bangku Sou dan Hiro. Ayano dengan cepat duduk di depan Sou.
"Yo Akira!" Sapa Hiro tersenyum.
"Maaf, sepertinya kami akan menyempitkan meja kalian" ucap Akira tersenyum lalu duduk di depan Hiro.
"Tidak masalah" ucap Sou tersenyum.
"Ini" ucap Akira memberikan kotak makan untuk Sou, seperti biasa.
"Aku merepotkanmu lagi, terima kasih" ucap Sou tersenyum.
"Aku hanya membawa satu, jika Hiro mau kamu bisa mendapatkannya punyaku" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih" ucap Hiro yang juga tersenyum.
"Tidak perlu. Aku bisa berbagi dengan Hiro karena bekalku ada 2, bolehkan Akira?" Tanya Sou.
"Tentu saja" ucap Akira tersenyum.
"Sou juga boleh mendapatkan bekal ku" ucap Ayano tersenyum.
"Tidak, terima kasih. Bekal yang dibawa Akira juga banyak jadi tidak perlu" ucap Sou dingin.
"Tidak perlu sungkan, masakanku juga enak kok" ucap Ayano menaruh beberapa potong daging di nasi Sou.
(Ada apa dengan wanita ini?) Batin Sou menatap Ayano kesal.
"Selamat makan" ucap Sou dingin.
"Selamat makan" ucap Akira dan Hiro.
"Telur buatan Akira enak" ucap Hiro tersenyum.
"Terima kasih" ucap Akira juga tersenyum.
"Punyaku juga dimakan juga Sou" ucap Ayano.
Sou kembali menatap tajam Ayano. Dia kemudian memakan daging yang diberikan Ayano sehingga membuatnya tersenyum senang.
"Bagaimana? Enak bukan?" Tanya Ayano
"Hmm" Sou berdehem sebagai jawaban.
Meski begitu, Sou lebih banyak memakan bekal dari Akira.
"Kau memakan telur terakhirku Hiro" ucap Sou menatap Hiro.
"Eh? Sudah ku telan Sou, maaf" ucap Hiro.
"Punyaku masih ada" ucap Akira memberikan telurnya kepada Sou.
"Padahal kamu belum menghabiskan punyaku" gumam Ayano yang masih bisa didengar oleh Sou dan Akira. Mereka kemudian menatap Ayano bingung.
(Aku serius, ada apa dengan wanita ini?) Batin Sou. Pada akhirnya Sou memakan semua bekalnya.
"Terima kasih atas makanannya" ucap Hiro tersenyum. "Aku tidak tahu bahwa Akira pandai memasak, apa kamu memasak sendiri?" Tanya Hiro lagi.
"Masakan Ibuku jauh lebih enak, benar kan Sou?" ucap Ayano lagi.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya masakan ibumu karena kamu hanya memberinya kepada Sou. Jadi, apa aku salah jika menganggap masakan Akira lebih enak?" Ucap Hiro menatap Ayano lalu tersenyum kepada Akira.
"Sayang sekali, tapi aku tidak ingin membaginya denganmu. Hanya Sou yang boleh memakan masakan Ibuku" ucap Ayano lagi.
"Aku juga tidak ingin diberi olehmu. Hanya masakan ibumu, tapi sudah sombong seperti ini" ucap Hiro dingin.
"Masakan ibuku jauh lebih enak dibandingkan ibunya Akira"
Brakkk!!!!
Sou memukul meja dengan sangat keras yang membuat semua orang di kelas terkejut. Dia menatap tajam mata Ayano dengan aura dingin nya.
"Kau tidak berhak memutuskan seperti itu. Kau yang tidak tahu apapun lebih baik diam. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, apa kamu dicampakan oleh teman-temanmu itu hah? Aku sama sekali tidak peduli dengan semua itu, tapi jika sekali lagi kau mengatakannya, aku akan membunuhmu!" ucap Sou menekan setiap kalimatnya.
"Ayo Akira!" Ucap Sou kemudian berdiri dan pergi dari sana.
"Mau kemana Sou? Kakimu.." Ucap Akira bingung tapi dia tetap mengikuti Sou.
Hiro dan Ayano masih terkejut terlebih Ayano yang diam tidak berkutik, mencerna setiap kata-kata Sou barusan.
"Sou menyeramkan" gumam Hiro merinding.
"Hiro, ada apa dengan Sou?" Tanya yang lain.
"Aku sangat terkejut, kenapa dia?"
__ADS_1
"Kalian tidak bertengkar bukan?"
"Tidak, kami tidak bertengkar. Aku juga sangat terkejut. Jangan membuatnya marah atau akan seperti ini jadinya" ucap Hiro lagi.