Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 10 : Di Atap


__ADS_3

Malam hari di kamar...


"Menyenangkan sekali hari ini. Jika Akira bisa membelah diri, Akira ingin masuk ke semua klub yang ada di sekolah" ucap Akira tersenyum sambil merebahkan dirinya di kasur.


(Apalagi bisa berkeliling dengan Sou. Wajah tampan dengan senyuman manisnya tadi terus terbayang di pikiran Akira. Sepertinya ini pertama kalinya Sou tersenyum seperti itu, biasanya dia hanya tersenyum secukupnya tapi senyumannya tadi benar-benar berbeda. Ya intinya Akira senang dapat melihat senyuman Sou yang seperti itu) ucap Akira dalam hati sambil menatap langit-langit kamarnya.


Akira kemudian teringat dengan fotonya bersama Sou yang diambil oleh klub fotografi tadi. Dia kemudian mengambil foto itu dan menatapnya.


Akira tersenyum. "Fotonya bagus, Akira tidak tahu akan bagaimana jadinya jika Sou tidak tersenyum tadi. Karena fotonya cukup besar mungkin Akira akan membeli pigura nanti" gumam Akira tertawa kecil.


(Sou benar-benar seperti pangeran, sangat tampan. Tapi, apa seperti ini tidak apa-apa? Ketua klub fotografi dan basket mengira kita adalah sepasang kekasih. Akira sendiri tidak masalah diejek seperti itu, tapi bagaimana dengan Sou? Akira tidak tahu apa yang dia pikirkan, Akira takut Sou tidak ingin bersama Akira lagi karena sering diejek seperti tadi. Apa yang harus Akira lakukan ya? Akira tidak ingin dibenci orang lain) Monolognya dalam hati.


Tok..tok..tok..


"Akira, Kakak masuk ya" ucap Shinji sedikit berteriak dari luar kamar yang membuyarkan pikiran Akira.


"Iya Kak, pintunya tidak dikunci" ucap Akira yang sedikit berteriak. "Ada apa Kak?" Tanya Akira saat Shinji masuk ke kamarnya.


"Begini Akira.. tunggu, apa itu?" Tanya Shinji saat melihat kertas mencurigakan di kasur Akira.


"Itu foto Kak" ucap Akira singkat.


"Foto ap- ya ampun Akira! Kakak tidak menyangka kamu akan melangkahi Kakak" ucapnya sedikit berteriak karena terkejut.


"Tunggu Kak, melangkahi apa maksudnya?" Tanya Akira bingung dan panik.


"Adik Kakak yang satu ini sudah besar ternyata, Kakak bangga kepadamu" ucap Shinji memeluk Akira.


"Tunggu Kak-- Akira melepaskan paksa pelukan Shinji --Akira tidak mengerti" ucap Akira menatap Shinji bingung.


Shinji menunjuk foto. "Ini! Ini kekasih Akira bukan? Seharusnya Kakak dulu yang punya kekasih baru Akira. Lain kali ajak ke rumah untuk bertemu dengan kami, kami juga harus tau kepribadian kekasihmu itu" jelas Shinji bersemangat.


Mata Akira membulat. Dia terkejut mendengar perkataan Kakaknya itu. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Kakaknya akan mengatakan hal yang sama dengan ketua klub di sekolah tadi.


"Tunggu Kak, Kakak salah paham. Dia bukan kekasih Akira" jelas Akira.


"Akira tidak perlu menyembunyikannya pada Kakak, lagipula Akira sudah besar jadi tidak masalah jika Akira memiliki kekasih asalkan tidak mempengaruhi nilai akademik dan kehidupan Akira. Dan tentu saja pacaran kalian harus di bawah pengawasan kami sebagai orang dewasa" jelas Shinji mengelus kepala Akira.


"(Salah paham Kakak benar-benar sudah melewati batasnya. Jika dibiarkan, akan menjadi berita hoax yang akan membuat seisi rumah panik. Akira juga takut dimarahi Papa jika Papa tahu Akira sudah memiliki kekasih) Kakak.. Kakak dengarkan Akira dulu Kak, bukan seperti itu ceritanya, itu tidak benar. Pikiran Kakak itu tidak benar" ucap Akira panik.


"Sudah Kakak bilang, tidak usah menyembunyikannya dari Kakak, Akira" ucap Shinji lagi.


"Duduk dulu Kak-- Akira menarik lengan Shinji agar dia duduk di sampingnya --Kakak mau mendengarkan cerita Akira hari ini?" Ucap Akira menatap dalam mata Kakaknya.


"Kakak lebih penasaran dengan bagaimana hubungan kalian" ucap Shinji memainkan alisnya, sepertinya dia sedang mengejek Akira.


"(Ya ampun Kak Shin.. bisa-bisanya Kak Shin seperti ini) Baiklah, Akira akan menceritakan tentang foto ini" ucap Akira yang membuat Shinji tersenyum puas, sepertinya dia benar-benar penasaran dengan orang yang diyakini sebagai kekasih Akira itu.


Akira kemudian menceritakan bagaimana cara dia mendapatkan foto tersebut secara detail kepada Kakaknya ini agar Shinji dapat percaya sebelum dia menyebarkan hoax ke seluruh rumah. Shinji tampak terkejut setelah mendengar cerita Akira.


"Jadi Kakak salah paham?-- Akira mengangguk --Akira tidak berpacaran dengan pria ini?-- Akira kembali mengangguk --Akira serius?-- Akira mengangguk lagi --Akira tidak berbohong bukan?" Tanyanya tidak percaya.


"Akira tidak berbohong Kak, ini adalah cerita asli dibalik foto Akira bersama Sou" ucap Akira yakin.


"EEHHH?? Jadi Kakak saja yang salah paham?" Ucap Shinji sedikit berteriak.


Akira mengangguk. "Iya Kak. Tadi Akira sudah bilang bahwa Kakak sudah salah paham, tapi Kakak terus mengatakan bahwa "Akira tidak perlu menyembunyikannya dari Kakak" ucap Akira mempraktekan ucapan Shinji tadi.


"Ya ampun, maaf ya Kakak sudah salah paham dan tidak ingin mendengarkan penjelasan Akira terlebih dahulu" ucapnya sambil tersenyum.


"Iya Kak, tidak apa-apa" ucap Akira yang juga tersenyum.


"Tapi Akira, dia tampan juga dan dia terlihat sangat cocok berdampingan dengan Akira seperti ini" ucap Shinji menatap foto Akira dan Sou.


"Kakak jangan mengejek Akira" Rengek Akira.


Shinji tersenyum. "Kakak tidak mengejekmu, tapi jika dia benar menjadi kekasih Akira nanti, Kakak sudah sedikit menyetujuinya tinggal melihat attitudenya saja" ucap Shinji tersenyum menatap Akira.


Akira kemudian menunduk. Dia tersenyum tipis mendengar perkataan Shinji walaupun tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Shinji kemudian mengacak-acak rambut Akira gemas.


"Oh iya Kak, ada perlu apa Kakak dengan Akira?" Tanya Akira.


"Ah benar, kita jadi membahas orang yang bukan kekasih Akira ternyata-- Shinji tersenyum --Begini Akira, sepertinya Kakak menyukai seseorang" jelas Shinji.


"Ehh?? Tadi Kakak menuduh Akira, tahunya Kakak sendiri yang menyukai seseorang" protes Akira.


"Hehe.. maaf ya" ucap Shinji tertawa kecil.


Akira mempoutkan bibirnya. "Baiklah, lalu bagaimana Kak?" Tanya Akira antusias.


"Kakak bertemu dengan nya saat di cafe dekat kantor sekitar seminggu yang lalu-- Akira mengangguk-anggukan kepalanya antusias --Dia terlihat seperti gadis tulen yang harus selalu dilindungi. Cara berbicaranya yang lemah lembut, ramah, wajahnya yang cantik dengan rambut hitamnya dan juga senyumnya, Kakak menyukainya" ucap Shinji tersenyum malu.


"Ternyata Kakak Akira ini sedang berada di taman bunga yang indah" ucap Akira tersenyum.


Shinji ikut tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, Kakak sudah mendekatinya dan kami selalu berbicara setiap kami bertemu di cafe itu. Kami sudah berkenalan dan bertukar nomor telepon, tapi kami tetap canggung saat bertemu jadi Kakak ingin mendengar pendapat Akira, apa yang harus Kakak lakukan agar kami bisa dekat" ucap Shinji menatap Akira, namun pada saat Akira akan berbicara, Shinji kembali berucap.


"Akira tidak perlu menegaskannya. Kakak tahu, Kakak tidak berpengalaman dengan wanita jadi tolong bantu Kakak" ucap Shinji sambil menyatukan kedua tangannya.


"Baru juga Akira akan bilang bahwa Kakak payah dalam hal wanita" ucap Akira.


"Sudah Kakak bilang, Akira tidak perlu menegaskannya kembali" ucap Shinji dengan wajah datar.


Akira tersenyum. "Maaf, maaf. Tapi Kak, sebenarnya Akira juga tidak berpengalaman. Akira tidak pernah punya kekasih dan Akira tidak suka film romance tapi menurut Akira, Kakak hanya perlu melakukan hal yang bisa Kakak lakukan. Maksud Akira, setiap orang memiliki kepribadiannya masing-masing termasuk wanita. Ada yang lebih suka berjalan di alam seperti Akira, ada yang lebih suka diam di zona amannya, ada juga yang suka kemewahan. Ada orang yang akan bahagia karena mendapatkan bunga, bahkan ada orang yang bahagia hanya karena disapa. Tapi pada dasarnya wanita menyukai seseorang yang dapat melindunginya. Karena Kakak dan orang yang Kakak sukai masih dibilang baru kenal, mungkin Kakak bisa lebih banyak membicarakan banyak hal sambil berjalan-jalan melihat pemandangan atau makan malam bersama untuk mengurangi kecanggungannya, mungkin? Tentu saja dengan pembicaraan ringan dulu seperti hobi atau kesukaannya, musik atau film dan lainnya yang akan membuat pembicaraan Kakak terus berlanjut dan tidak berhenti dalam 2 atau 3 percakapan saja. Dengan membicarakan banyak hal, Kakak akan mengetahui lebih banyak tentangnya. Kakak juga akan lebih tahu apa yang harus Kakak lakukan selanjutnya. Tentu saja yang paling penting dari semuanya adalah Kakak harus menjadi diri Kakak sendiri. Mungkin seperti itu Kak?" jelas Akira panjang lebar.


Shinji mengangguk paham. "Begitukah.. Kakak mengerti Akira-- Shinji tersenyum --Akira benar, banyak sekali wanita dengan kepribadian yang unik di luar sana. Terima kasih ya, Akira memang adik yang bisa diandalkan" ucap Shinji tersenyum sambil mengusap lembut kepala Akira.


"Tapi sebenarnya Akira juga tidak yakin Kak, Akira juga tidak berpengalaman, maaf" ucap Akira sedih.


"Apa yang Akira katakan, itu ide yang bagus. Kakak akan mencobanya. Terima kasih" ucap Shinji tersenyum.


"Kakak bisa mengatakannya nanti jika rencananya sukses Kak" ucap Akira tersenyum.

__ADS_1


"Kakak mengerti. Kalau begitu, Kakak akan akan menghubunginya sekarang" ucap Shinji berjalan keluar kamar dan kembali berhenti di ambang pintu.


"Doakan semoga rencananya berhasil ya, Akira." Ucap Shinji tersenyum.


"Tentu Kak, Akira pasti mendoakan agar Kakak bisa lebih dekat dengan orang yang Kakak sukai" ucap Akira tersenyum. 


Shinji kemudian mengangguk. "Sampai nanti Akira, selamat malam" ucapnya sambil menutup pintu. Namun sebelum pintu kamar tertutup sepenuhnya, Shinji kembali membuka pintunya.


"Lain kali bawa Sou ke rumah ya, Kakak ingin bertemu dengannya" ucap Shinji tersenyum. Dia kemudian benar-benar menutup pintu kamar Akira.


"Ah benar, hanya Kak Shin yang belum bertemu dengan Sou. Kakak pasti akan marah jika dia tahu bahwa hanya dia saja yang belum bertemu Sou. Lebih baik untuk tidak mengatakannya kah?"


Beberapa hari kemudian...


"Akira seperti biasa, tolong bawakan berkas-berkas ini ke ruang guru ya. Ibu tidak bisa meminta bantuan kepada yang lain karena hanya kamu yang masih di kelas" ucap Bu Guru.


"Tidak apa-apa Bu, Akira juga bisa membawanya" ucap Akira tersenyum.


"Terima kasih ya, Ibu duluan" ucap Bu Guru lagi.


"Iya Bu."


Setelah Bu Guru keluar kelas, Akira kemudian menyusul dengan setumpuk berkas di tangannya. Dia keluar dari kelascdan berjalan dengan hati-hati takutnya tersandung atau menabrak orang lain dan membuat masalah nantinya.


"Sini aku bantu" ucap Sou yang entah datang dari mana. Dia langsung mengambil sebagian berkasnya dari Akira.


"Oh? Kamu mengagetkanku Sou, terima kasih" ucap Akira tersenyum.


"Seharusnya Bu Guru meminta anak laki-laki untuk membawa semua berkas ini" ucap Sou menatap lurus ke depan.


"Mau bagaimana lagi, tadi di kelas hanya ada aku" jelas Akira.


"Lain kali kamu harus ikut aku, agar kamu tidak harus membawa semua berkas ini lagi" ucap Sou masih fokus ke depan.


Akira menatap Sou. "Aku tidak masalah kok, aku senang bisa membantu orang lain-- Akira tersenyum --Memangnya, kita akan kemana kalau aku ikut Sou?" Tanya Akira.


"Entah, kita pikirkan saja nanti" ucap Sou tersenyum menatap Akira. "Rasanya kita pernah melakukan ini sebelumnya, apa ini deja vu?" Ucapnya bingung.


"Kita memang pernah mengantarkan berkas bersama seperti ini saat hari-hari pertama sekolah" ucap Akira tersenyum.


Sou berpikir sebentar. "Ah benar. Hari itu kacau sekali ya" ucap Sou tersenyum.


"Benar, sangat kacau. Aku harap kita tidak berlari lagi seperti saat itu."


"Kamu benar."


Setelah mengantarkan berkas ke ruang guru, Sou kemudian mengajak Akira menghabiskan waktu luang yang tersisa di atap.


"Masih ada waktu menuju bel istirahat, mau pergi ke atap bersamaku?" Ajak Sou.


"Untuk apa ke atap?" Tanya Akira.


"Ayo kita lihat pemandangan dari atap, kita juga bisa makan siang disana" ucap Sou semangat.


"Tidak akan, percaya kepadaku" ucap Sou yakin. "Sekarang kita kembali dulu ke kelas untuk mengambil bekal dan kita akan makan siang di atap" ucapnya lagi sambil tersenyum.


"Baiklah, Ayano juga sedang bersama temannya, dia tidak mungkin mencariku" ucap Akira tersenyum.


Mereka berdua kemudian kembali ke kelas untuk mengambil bekal masing-masing. 


"Sou, kamu yakin kita tidak akan dimarahi bukan? Aku tidak ingin terlibat masalah dengan Guru" ucap Akira ragu.


"Kamu bisa memegang perkataanku Akira. Jika nanti kita dimarahi, aku yang akan bertanggung jawab. Semua akan baik-baik saja, percaya kepadaku ya?" Ucap Sou meyakinkan Akira.


"Baiklah jika Sou berkata seperti itu" ucap Akira tersenyum.


"Ayo" ajak Sou.


Di atap...


"Wah udaranya segar sekali, seperti di gunung" ucap Akira menikmati angin segar.


"Benarkan? Ayo kita duduk di bangku sana agar tidak terlalu terlihat jika ada Guru yang datang" ajak Sou.


Akira mengangguk paham. "Baiklah, ayo."


"Apa Sou selalu kemari saat istirahat?" Tanya Akira setelah mendudukan diri di bangku.


Sou mengangguk. "Itu benar, aku nyaman berada di tempat ini" ucap Sou tersenyum.


"Benar, tempat ini cukup nyaman" ucap Akira yang juga tersenyum.


"Mari kita lihat bekal apa yang Ibu buat" ucap Sou bersemangat. Dia kemudian membuka kotak makannya.


"Ckk, Ayam dan sayuran lagi" ucap Sou berdecak.


"Apa Sou tidak suka?" Tanya Akira saat melihat ekspresi kecewa Sou.


"Ibuku selalu membuatkan bekal yang sama setiap harinya, padahal aku bosan dengan menu ini setiap hari" jelas Sou.


"Kenapa tidak bilang saja bahwa Sou tidak menyukainya?" Tanya Akira lagi.


"Ibuku adalah orang yang keras kepala, jika dia mengatakan A maka harus A. Aku tidak bisa menolak, terkadang aku kesal dengan sikap Ibu" ucap Sou kesal.


"Jangan seperti itu Sou. Bagaimanapun juga itu adalah Ibu Sou, jangan menjadi anak yang durhaka" ucap Akira tersenyum.


"Kamu benar. Akira membawa bekal apa?" Tanya Sou.


"Makanan biasa dan tidak ada yang spesial" ucap Akira menunjukan kotak makannya.


"Wahh sosisnya diberi mata, lucu sekali.. apa Ibu Akira yang buat?" Tanya Sou bersemangat.

__ADS_1


Akira menggeleng. "Aku sendiri yang buat" ucap Akira tersenyum.


"Aku kira Ibu Akira yang buat, habisnya jago sekali" ucap Sou tersenyum.


"Iya, jika Mama yang buat pasti lebih baik dari ini" ucap Akira tersenyum.


"Apa Ibumu tidak menyiapkan bekal untukmu?" Tanya Sou.


"Mamaku sudah lama meninggal" ucap Akira menatap sendu kotak makannya.


Sou sangat terkejut. "(Astaga Sou, kamu membuat kesalahan besar) Maaf Akira, aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud seperti itu, tolong maafkan Aku" ucap Sou menyesal.


Akira kemudian menggeleng cepat. "Tidak Sou, ini bukan salahmu. Aku tahu kok, aku mengerti" ucap Akira tersenyum.


"(Sou, kau benar-benar melakukan kesalahan yang fatal) Maafkan aku Akira" ucap Sou menunduk.


"Sudah ku bilang, ini bukan salah Sou. Jangan meminta maaf seperti itu Sou-- Akira menatap Sou --Nah, ayo kita makan sebelum waktu istirahatnya habis" ucap Akira tersenyum.


Sou menatap Akira, dia benar-benar merasa bersalah kepada Akira.


"Ada apa? Jangan menatapku seperti itu Sou, itu menakutkan" ucap Akira.


"Ah, hmm.. itu"


"Baiklah ayo makan, apa kamu mau bekalku?" Tanya Akira.


"Tidak" ucap Sou memalingkan wajahnya.


Akira tahu Sou masih merasa bersalah. Dia juga sedikit kesal karena diabaikan oleh Sou. Dia kemudian mengambil sosis dan berdiri di hadapan Sou.


"Apa? Kenapa?" Tanya Sou bingung melihat Akira yang tiba-tiba berdiri di depannya.


"Permisi Sou, maafkan aku tapi jangan mengabaikanku!" Ucap Akira kemudian mencubit hidung Sou dan memasukan sosis yang dia ambil tadi ke dalam mulut Sou. Setelah sosisnya masuk ke mulut Sou, Akira kemudian melepaskan cubitannya.


"Bagus" ucap Akira tersenyum.


Sou sendiri tampak sangat terkejut. Dia menatap Akira dengan tatapan terkejutnya tapi dia tetap mengunyah sosis yang diberikan Akira secara tiba-tiba tadi.


"Enak bukan?" Tanya Akira tersenyum.


Sou tidak menjawab, dia hanya menganggukan kepalanya. 


"Kamu membuatku takut Akira" ucap Sou menatap Akira.


"Memangnya apa yang aku lakukan hingga membuatmu takut?" Tanya Akira.


Sou kemudian menyipitkan matanya. "Kamu mengerjaiku hah?"


Akira menggeleng. "Tidak, aku tidak mengerjaimu. Apa yang kamu katakan?" ucap Akira mengalihkan pandanganya.


Sou kemudian berdiri, dia mendekat ke arah Akira dengan wajah datar dan dingin.


"Kamu mau apa?" Tanya Akira melihat Sou yang menurutnya mengerikan. Tidak ada jawaban dari Sou, dia terus mendekat secara perlahan ke arah Akira.


"Berhenti di sana atau aku akan teriak!" ancam Akira.


"Kamu tidak akan bisa lepas dariku, Akira" ucap Sou yang terus mendekat ke arah Akira.


Akira kemudian menutup mata rapat-rapat dan kedua tangannya digunakan untuk menutup telinganya karena takut dengan Sou. Sou yang melihat itu pun tersenyum.


Akira yang tadi ketakutan, kini dibuat bingung karena dia tidak merasakan apapun kecuali sesuatu yang ada di atas kepalanya. Akira kemudian membuka matanya. Dia menemukan Sou yang sedang tersenyum manis dengan tangan kanannya yang menyentuh kepala Akira sambil sedikit membungkuk di hadapannya.


"Sou?" Panggil Akira. 


"Kamu sangat menggemaskan Akira" ucap Sou lebih mendekatkan lagi wajahnya.


"Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu, jadi jangan khawatir" ucap Sou kemudian mengelus-elus kepala Akira.


Akira yang tersadar pun menjauhkan kepalanya dari Sou, dia menatap Sou sebentar lalu menunduk.


"Maaf ya, aku sudah membuatmu takut" ucap Sou tersenyum.


"Ti-tidak apa-apa" ucap Akira gugup.


"Akira" panggil Sou.


"Mengenai Ibumu, maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku" ucap Sou menunduk.


"Tidak apa Sou, aku juga tahu bahwa kamu tidak bermaksud seperti itu. Tidak masalah" ucap Akira tersenyum menatap Sou.


Mendengar perkataan Akira, Sou kemudian menatap Akira dan ikut tersenyum.


"Terima kasih" ucap Sou. "Maaf karena tadi aku mengabaikanmu dan maaf karena aku sudah membuatmu takut" ucapnya lagi.


"Aku juga minta maaf karena sudah melakukan hal yang tidak sopan dan sangat keterlaluan seperti tadi, sungguh maafkan aku" ucap Akira berdiri lalu membungkuk.


"Apa yang kamu lakukan? Itu bukan masalah besar Akira, walaupun aku sedikit terkejut tadi" ucap Sou tersenyum.


"Maaf Sou" ucap Akira lagi.


"Tidak, tidak. Aku yang harusnya minta maaf kepadamu. Aku berjanji tidak akan mengabaikanmu lagi" ucap Sou tersenyum, diikuti oleh Akira yang juga tersenyum.


"Baiklah ayo makan, kita akan kehilangan lebih banyak waktu jika kita terus meminta maaf" ucap Sou tersenyum.


"Sou benar, ayo kita makan. Sou mau sosisnya lagi? Atau telurnya?" Tanya Akira.


"Apa boleh?" Tanya Sou balik.


"Tentu saja, aku juga membawa banyak hari ini" ucap Akira tersenyum.


"Terima kasih" ucap Sou tersenyum. 

__ADS_1


Mereka kemudian berbagi bekal dan menikmatinya bersama ditemani oleh hembusan angin yang sejuk serta pemandangan sekolah yang terlihat jelas dari atap. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, tergambar jelas dari senyuman manis yang terukir di wajah mereka masing-masing.


(Kamu tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi Sou, atau Akira akan sedih nantinya) ucap Sou dalam hati menatap Akira.


__ADS_2