
PRANGG!!! Terdengar suara barang pecah dari arah ruang tamu.
"Akira, ada apa?" Tanya Naoya panik diikuti oleh adik-adiknya di belakang.
"Ada apa Akira?" Tanya Yuki ikut penasaran.
"Telah terjadi kecelakaan pesawat tujuan Jakarta-Tokyo dengan nomor oenerbangan XXX pukul 10 pagi tadi. Dikabarkan pesawat mengalami kerusakan di bagian bawah mesin sehingga pesawat meledak di udara. Kecelakaan ini sedang diselidiki oleh..."
Tak satupun dari mereka yang memalingkan pandangannya. Tubuh mereka mematung di tempat dengan netra yang terfokus pada layar televisi.
"Papa.." gumam Akira yang masih mematung di tempat.
"Akira, hei" panggil Naoya menepuk pundak Akira.
"Bohong kan Kak? Beritanya bohong kan Kak? Itu bukan pesawat yang Papa tumoangi kan Kak?"
Dengan bergetar, tangan mungilnya meraih tangan Naoya. Perlahan netranya mengkilap, melihat ekspresi terkejut yang juga ditunjukan oleh Kakaknya itu. Dia ketakutan dan panik sekarang.
Naoya dengan cepat memeluk Akira cukup erat.
"Kita belum tahu kejelasannya. Jangan berpikiran macam-macam, kita harus percaya dan berdoa, Papa dan Ibu baik-baik saja."
Intonasi Naoya rendah seperti biasanya namun sedikit bergetar. Dia juga terlihat takut menghadapi kenyataan yang akan menghampirinya dan adik-adiknya.
Akira kemudian memeluk Naoya tak kalah eratnya. Dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung, Akira menangis.
"Akira takut Kak.."
Mendengar ucapan lirih dari adiknya itu, netra Naoya ikut mengkilap. Dia menghela nafas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Semua akan baik-baik saja. Papa dan Ibu akan baik-baik saja" jelas Naoya mengelus punggung Akira untuk memberikan ketenangan.
"Itu benar, Papa dan Ibu pasti.. mereka pasti baik-baik saja! Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Akira!" Bentak Alya yang juga terlihat takut dan panik.
"Yuki, hubungi pihak bandara atau apapun itu, cari informasi sekarang" titah Shinji.
"B-baik Kak."
"Ibu.. mereka pasti baik-baik saja. Mereka, mereka.." Sama seperti Akira, tangis Alya pun pecah. Shinji kemudian memeluk Alya, mencoba menenangkan adiknya itu.
Sementara itu, Yuki berusaha mencari informasi tentang kecelakaan pesawat tersebut.
Untuk yang kedua kalinya, badai kembali datang menghampiri keluarga Souma. Setelah 2 tahun lalu, kecelakaan telah merenggut sesuatu yang sangat berharga yaitu Ibunya, kali ini kecelakaan lagi-lagi merenggut hal paling berharga untuk Akira.
Isak tangis terdengar menggema di seluruh ruangan rumah milik keluarga Souma saat jenazah orang tua mereka tiba di rumah duka.
"Papa.. kenapa Papa juga meninggalkan Akira?! Bukankah Papa akan melihat Akira menjadi atlet Pa? Akira belum jadi anak yang baik, Akira bahkan belum menepati janji Akira, Pa. Maaf" tangis Akira semakin menjadi setelah melihat jenazah Papanya yang sedikit tidak utuh itu.
"Akira.." Yuki memeluk Akira cukup erat dan berusaha menenangkannya. Begitu juga dengan Shinji dan Naoya yang ikut menenangkan Alya yang sama-sama menangis.
"Kakak.." lirih Akira kemudian membalas pelukan Yuki. "Kakak.. padahal tinggal 1 tahun lagi. Hanya 1 tahun lagi, Akira bisa menepati janji Akira, tapi mengapa Papa pergi lebih dulu Kak? A-apa, apa Akira seburuk itu hingga Tuhan kembali mengambil Papa secepat ini?"
Mendengar pernyataan dan pertanyaan adiknya itu, air mata Yuki mengalir semakin deras.
"Apa yang kamu katakan hm? Tuhan hanya lebih sayang Papa, ini bukan gara-gara Akira. Tidak ada hubungannya dengan Akira" jelas Yuki meraih wajah Akira yang dibanjiri oleh air mata.
"Tapi Kak, Akira-"
"Akira, Papa akan sedih melihat Akira seperti ini. Ikhlaskan Papa, Papa sudah bertemu dengan Mama disana, mereka sudah bahagia" ujar Yuki kembali memeluk Akira dengan erat.
__ADS_1
"Akira, yang sabar ya. Benar apa yang dikatakan oleh Kakak, Papa akan sedih melihat Akira seperti ini. Ikhlaskan Papa dan Ibu ya, Akira anak yang kuat. Kakak juga akan sedih melihat Akira seperti ini" jelas Ibu Sou yang juga datang ke rumah Akira. Tangannya mengusap lembut kepala Akira.
"Jangan khawatir, masih ada Kakak, Sou, Paman dan Bibi bukan? Semua akan baik-baik saja" jelas Ibu Sou kembali.
Aku tidak bisa. Aku tidak bisa melihat Akira seperti ini. Sungguh menyakitkan, sangat menyakitkan.
"Akira.." lirih Sou yang juga meneteskan air matanya. Sesekali dia mengelus punggung Akira dan menggenggam tangannya untuk memberikan kekuatan pada kekasihnya itu.
"Bibi benar. Kakak semakin sedih melihat Akira seperti ini. Kakak tidak bisa melihat Akira seperti ini" jelas Yuki menatap Akira dengan mata sembabnya. Dengan lembut, Yuki merapikan anak rambut Akira dan mengusap air matanya.
"M-maaf Kak" ujar Akira menundukan pandangannya.
"Jangan menangis" ujar Yuki pada Akira. "Maaf Sou, titip Akira sebentar. Aku harus menemui Rin dan keluarganya dulu. Akira, Kakak tinggal sebentar tidak apa bukan?"
"Hm, Akira baik-baik saja."
"Maaf ya" ucap Yuki mencium puncak kepala Akira sekilas kemudian berlalu.
"Akira.." lirih Sou menggenggam tangannya.
"Maaf Sou, aku kembali merepotkanmu" gumam Akira dengan wajah sembabnya.
"Kamu tidak merepotkan dan aku tidak merasa direpotkan. Kamu adalah gadis yang kuat, aku akan selalu bersamamu" jelas Sou memeluk Akira.
Lagi-lagi air mata Akira kembali menetes di pelukan Sou. Akira memeluk Sou cukup erat.
"Tidak apa, tidak apa. Menangislah, keluarkan semuanya tapi setelah itu tersenyumlah. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, begitu juga dengan Kakak-kakak semua" ucap Sou berusaha menenangkan Akira.
"S-Sou.."
Perlahan kesadaran Akira mulai menghilang. Pelukannya pada Sou mulai melemah, dan kemudian tak sadarkan diri.
"Ada apa Sou?" Tanya Ibu Sou mendengar anaknya yang panik.
"Akira Bu. Aku akan membawanya ke kamar. Tolong beritahu jika Kakaknya menanyakan."
"Ibu mengerti, jaga dia Sou."
Sou kemudian menggendong Akira ke dalam kamarnya. Dia menidurkan Akira di kasur dengan hati-hati.
"Akira.. Akira bangunlah, jangan membuatku khawatir" panik Sou menepuk pelan pipi Akira. Dia kemudian mengoleskan minyak ke telapak tangan, kaki dan sekitaran lehernya lalu menyelimutinya.
Beberapa lama kemudian, Akira perlahan membuka matanya.
"Akira, syukurlah. Apa ada yang sakit?" Tanya Sou khawatir.
"Sou?"
"Hm, ini aku, Sou"
"Dimana Kakak?"
"Kak Nao, Kak Shin dan Kak Yuki sedang sibuk di bawah. Kamu istirahat saja disini ya."
"Maaf, aku kembali merepotkanmu. Tolong temani aku Sou"
"Tentu, aku akan menemanimu disini."
...****...
__ADS_1
"Dulu, aku berjanji pada Mama dan Papa bahwa aku akan menjadi atlet yang bisa mengharumkan nama bangsa. Padahal saat itu aku masih jauh untuk mengejar mimpiku tapi Mama sudah meninggalkanku dan sekarang saat aku akan memulai debutku, Papa ikut meninggalkanku" jelas Akira kembali meneteskan air matanya. Tangan mungil yang bergetar itu meremas selimut cukup erat.
"Akira, Tuhan mengambil Papa dan Mama lebih dulu karena mereka lebih menyayanginya. Tuhan mengambilnya agar Akira bisa menjadi gadis yang lebih kuat. Tuhan ingin tahu bagaimana Akira bisa bangkit setelah sesuatu yang berharga untukmu diambil oleh-Nya. Oleh karena itu, aku harap kamu tidak menyerah. Kamu tidak menyerah pada keadaan ataupun mimpimu karena mereka akan tetap mengawasimu dari sana. Kamu sudah bekerja sangat keras hingga saat ini, buatlah kedua orang tuamu bangga."
Tangan kekar Sou mengelus lembut kepala Akira yang sedang tertidur di pangkuan Sou, memberikan kenyamanan bagi Akira.
"Tapi.. tapi aku-"
"Sakit bukan?" Tebak Sou tetap mengelus lembut kepala Akira.
"Aku tidak memintamu untuk berhenti menangis. Kamu harus menangis jika kamu merasa sedih atau sakit. Ini hal yang wajar bagi seorang manusia. Tapi setelah itu kamu harus kembali tersenyum karena jika terus seperti ini aku dan Kakak-kakakmu yang akan menangis."
"Sou.."
"Aku serius, hatiku benar-benar hancur melihatmu seperti ini. Aku sudah menangis tadi dan aku tidak ingin menangis lagi. Aku tidak ingin melihat dirimu yang seperti ini lagi, kuharap ini yang terakhir kalinya aku melihatmu menangis" gumam Sou masih setia mengelus kepala Akira.
"Maaf. Aku tahu Kakak juga terpukul tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku. Maaf Sou"
"Kenapa kamu yang meminta maaf hm?"
"Habisnya-"
"Tidak apa, aku mengerti. Sekarang istirahatlah, kamu sudah banyak menangis. Tidurlah, aku akan menemanimu" ujar Sou membenarkan selimut Akira hingga benar-benar menyelimuti tubuhnya. Tangannya masih setia mengelus lembut kepala Akira.
"Terima kasih, Sou"
"Hm, tidurlah. Selamat malam."
Tak butuh waktu lama untuk Akira memasuki dunia mimpi. Kehilangan dan kesedihan terukir sangat jelas di wajah cantik Akira. Sou yang melihatnya juga dapat merasakan kesedihannya.
"Kamu gadis yang kuat, kamu pasti bisa menghadapi semuanya. Aku mencintaimu" ujar Sou menatap sendu wajah Akira yang tertidur tenang.
...****...
"Apa Akira baik-baik saja?" Tanya Naoya khawatir.
"Akira sudah tertidur Kak" ujar Sou tersenyum tipis.
"Maaf Sou, kami jadi merepotkanmu."
"Tidak Kak, Kakak dan yang lainnya tidak merepotkan. Aku juga tidak merasa direpotkan, aku malah senang bisa membantu meskipun tidak banyak yang bisa aku lakukan" jelas Sou lagi.
"Anak ini memang sangat mencintai Mama dan Papa. Dia jarang sekali menangis tetapi sekalinya menangis selalu saja karena ini dan menjadi seperti ini" jelas Naoya mengelus pipi Akira.
"Dengan ini aku berpikir, mengapa hal ini harus kembali terjadi kepadanya. Ini terjadi dengan sangat tiba-tiba, dan kebetulan dia yang menemukannya pertama. Dia adikku yang manis dan baik, hatinya yang lembut pasti sedang hancur sekarang" jelas Naoya meneteskan air matanya.
"Maaf Sou, aku menunjukan sisi tidak kerenku kepadamu. Terima kasih sudah menjaga Akira selama ini."
"Tidak masalah Kak, aku juga tidak ingin melihat Akira menangis seperti ini lagi."
"Hm, aku mengandalkanmu Sou. Ini sudah malam dan aku tidak bisa mengantarmu, menginaplah disini" ujar Naoya tersenyum.
"Tidak Kak, aku bisa pulang sendiri."
"Tidak Sou, menginaplah disini. Aku tidak ingin kamu berada dalam bahaya dan membuat Akira kembali menangis."
"Baiklah jika seperti itu Kak, mohon bantuannya."
"Hm, sekarang istirahatlah. Kamu juga kelelahan bukan? Ayo."
__ADS_1
"Baik Kak."