Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 25 : Pernyataan Akira


__ADS_3

Setelah seharian penuh membahas pelaku yang telah membuat Akira serta Hiro tersesat dan terluka, kegiatan camp kembali berjalan lancar. Ayano dan teman-temannya sudah dihukum sesuai dengan perkataan kepala sekolah lalu. 


Padahal Akira sangat ingin percaya jika perilaku buruk Ayano itu hanya mengikuti temannya, namun kejadian ini benar-benar membuat Akira sadar dan kecewa. Tidak ada yang perlu dibela lagi oleh Akira, tidak ada yang perlu diharapkan lagi oleh Akira. Kepercayaannya pada Ayano sedikit memudar. 


Seseorang mengatakan bahwa kita tidak boleh terlalu mempercayai seseorang, karena bayanganmu sendiri akan meninggalkanmu dalam kegelapan. Hal ini sudah dirasakan oleh Akira. Dia mengerti mengapa semua temannya seperti itu pada Ayano dan bagaimana Sou menyuruhnya untuk menjauhinya, Akira benar-benar paham sekarang.


"Akira, kita harus menyiapkan bahan untuk BBQ hari ini. Para pria sudah menyiapkan panggangannya" ujar Hana tersenyum.


"Baik Hana, ayo."


"Akira dan Hana adalah penanggung jawab BBQ kelas 1A jadi mohon bantuannya!" Ucap Ketua semangat.


"Baik, tunggu sebentar" ujar Akira tersenyum.


Akira dan Hana kemudian memanggang daging dan pelengkapnya untuk makan malam bersama.


"Perlu aku bantu?" Tanya Sou menghampiri Akira dan Hana.


"Tidak perlu!" Ketus Hana.


"Kau ketus sekali, apa aku berbuat salah kepadamu?" Tanya Sou bingung.


"Tidak, kamu tidak berbuat salah sama sekali. Tapi jika kamu membantu kami disini, kamu hanya akan berbicara berdua saja dengan Akira dan aku jadi nyamuknya, benarkan?" Tanya Hana.


Akira dan Sou yang mendengar perkataan Hana kemudian membuang pandangannya masing-masing dengan wajah yang sedikit memerah.


"Mereka malu-malu," ujar Hana dalam hati.


"Itu.. tidak-"


"I-iya Sou, tidak perlu. Kamu tunggu saja bersama yang lainnya. Nanti kalau sudah selesai akan aku beritahu" ucap Akira tersenyum memotong pembicaraan Sou.


"Baiklah. Tolong buatkan yang enak ya, terima kasih" ucap Sou tersenyum pada Akira.


"Tentu" jawab Akira tersenyum. Sou kemudian pergi dari sana.


"Akira, kamu menyukainya?" Tanya Hana.


"Eh? Apa?"


"Aku bertanya apa kamu menyukai Sou?" Tanya Hana lagi. "Tenang saja, aku tidak akan memberitahukannya pada siapapun. Kamu bisa percaya kepadaku" ucapnya lagi setelah mendapatkan ekspresi Akira yang malu-malu.


"Itu.."


"Itu?"


"Hm" Akira mengangguk mengiyakan.


Hana terlihat sangat terkejut. "JADI BENAR SEPERTI ITU!!!" Teriak Hana yang membuat semua orang menatapnya.


"Hana, kamu.." ucao Akira panik.


"A-ah maafkan aku, maafkan aku sudah berisik. Maaf" Hana beberapa kali membungkuk pada semua orang.


"Ada apa Hana? Mengapa kamu berteriak seperti itu?" Tanya Ketua khawatir.


"Ada apa?" Tanya Sou menghampiri Akira dan Hana.


"Tidak ada, tidak ada apapun. Aku hanya terkejut karena Akira menepuk nyamuk yang terbang" jelas Hana tersenyum canggung.


"Hah?" Ucap Akira, Sou dan Ketua bersamaan. Mereka kemudian saling bertukar pandangan.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Sou menatap Hana bingung.


"Kau aneh Han. Aku juga bisa menepuk nyamuk, apa yang kamu kejutkan? Apa kamu tidak bisa menepuk seekor nyamuk pun?" Ucap Ketua bingung.


"Ah.. sudahlah Ketua, Sou, kembalilah. Nanti akan ku panggil jika sudah matang" ucap Hana malu.


"Hati-hati ya Akira, tolong jaga dia, takutnya otaknya sedikit terganggu" ucap Ketua pada Akira.


"Ckk, pergilah Ketua!" Ketus Hana mendorong tubuh Ketua. "Kamu juga kembalilah Sou, ini urusan wanita. Sana pergi" usir Hana.


"Iya, iya aku pergi" ucap Sou paham. Dia kemudian pergi dari tempat Akira dan Hana.


"Kamu ini apa-apaan Hana? Aku sudah takut setengah mati tadi" ucap Akira khawatir.


"Maaf maaf, aku tidak menyangka bahwa kamu menyukainya. Itu membuatku sedikit syok" ucap Hana tersenyum. "Jadi bagaimana kelanjutannya? Kamu sudah mengatakannya?" Tanyanya semangat


"Tidak, aku belum mengatakannya. Aku tidak tahu bagaimana caraku mengatakannya" ucap Akira murung.


"Sou sendiri bagaimana? Dia sudah mengatakannya kepadamu?"


Akira mengalihkan pandangannya. Wajahnya sedikit merah sambil tersenyum tipis. "Itu.."


"Dari ekspresimu sepertinya sudah ya" ucap Hana tersenyum. "Kalian berdua itu memang cocok. Aku sangat mendukung kalian. Apa kamu sudah menjawabnya?"


Akira menggeleng lemah. "Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya" ujar Akira sedih. "Banyak hal yang muncul di kepalaku saat aku memikirkannya. Seperti bagaimana nanti jika kita benar-benar pacaran, bagaimana jika kita bertengkar nanti, bagaimana jika dia tidak menyukaiku lagi, aku.."


"Kau terlalu memikirkannya Akira," ucap Hana memegang pundak Hana. "Pikiranmu terlalu jauh ke depan. Bukankah dia sudah menyatakan bahwa dia menyukaimu? Jika kamu menerima perasaannya katakan saja, tidak perlu berpikir lagi. Dia tidak akan pergi karena dia sudah mencintaimu. Nikmati saja waktu yang kalian lalui sekarang, untuk kedepannya pikirkan saja nanti. Kau terlalu khawatir Akira" jelas Hana.


"Tapi.."


"Jangan takut. Aku yakin dia tidak akan marah atau tidak menyukaimu, dia tidak akan meninggalkanmu. Sebaliknya dia akan merasa sedih jika kamu terlalu lama menggantungnya."


Akira terdiam sebentar. Dia memikirkan apa yang Hana katakan.


"Kurasa kamu benar, tapi aku sungguh tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Jika saja saat itu aku menjawabnya langsung, aku tidak akan sebingung ini" jelas Akira sedih.


"Hm, begitukah?" Ucap Hana mengangguk paham. "Aku mengerti kebingunganmu, tapi aku juga jadi ikut bingung sekarang. Tapi yang aku tahu, dari sudut pandangku, dia sangat-sangat menyukaimu Akira. Baru kali ini aku melihat Pangeran Es seperti ini" ucap Hana tertawa ringan.


"Es? Pangeran Es? Apa itu?" ucap Akira terkejut.


"Kamu tidak tahu? Aku kira kamu sudah tahu" ucap Hana terkejut. "Sejak di bangku SMP, Sou merupakan orang yang sangat dingin. Dia jarang sekali tersenyum dan berbicara seperlunya. Dia tidak suka berisik dan sangat tertutup. Yang dia lakukan setiap hari adalah belajar dan belajar. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi dia benar-benar seseorang yang seperti itu" jelas Hana.


"Benarkah? Aku baru tahu. Pantas saja semua orang terlihat sangat terkejut jika Sou tersenyum" ucap Akira mengerti. "Sou juga bilang orang tuanya sangat keras jika menyangkut akademik" ucap Akira dalam hati.


"Aku teman SMP nya sih, jadi aku tahu bagaimana dia selama ini" jelas Hana lagi.


"Ternyata Hana teman SMP Sou" ucap Akira paham.


"Benar," ucap Hana tersenyum. "Sikapnya yang seperti itulah membuatnya sulit didekati. Dia seperti memiliki benteng yang sangat kokoh yang sulit untuk ditembus. Wajahnya yang tampan dan sikap dinginnya membuat teman-teman memanggilnya Pangeran Es. Ya, ku akui dia tampan sih tapi menyeramkan apalagi tatapan tajam dan dingin nya itu,"

__ADS_1


"Kau benar. Aku juga takut dengan tatapannya yang seperti itu" setuju Akira.


"Dia menunjukkannya kepadamu juga?"


"Tidak, bukan padaku tapi pada Ayano. Aku benar-benar takut kepadanya saat itu" jelas Akira.


"Benar juga. Mana mungkin dia menunjukkannya kepadamu, dia kan mencintaimu," ucap Hana tersenyum. "Saat masuk SMA dan kembali sekelas dengannya, aku merasa khawatir dan sedikit takut dengan sikapnya itu. Tapi aku selalu melihat tatapan hangat dari sorot matanya ketika bersamamu. Itu membuatku sangat terkejut. Aku berpikir, ternyata Sou juga bisa seperti ini dan dia bukan orang jahat. Aku jadi tidak terlalu takut kepadanya. Setelah itu kalian menjadi sangat dekat dan dia selalu tersenyum saat bersamamu, itu membuatku sangat lega," jelas Hana.


"Walaupun bukan kepadaku atau kepada orang lain, setidaknya dia bisa tersenyum dan itu berkatmu, Akira. Dia tersenyum, tertawa, bahkan marah untukmu. Dia sangat mencintaimu, benar-benar mencintaimu" ucap Hana tersenyum.


"Bukan berarti aku menyukainya ya, aku tidak menyukainya sedikitpun. Dia terlihat sangat suram saat SMP, tapi saat bertemu denganmu dia bisa tersenyum bahkan mungkin lebih banyak. Aku hanya bersyukur ternyata dunianya tidak selalu kelam jadi aku juga sangat senang apalagi saat kamu bilang bahwa kamu juga mencintainya. Oleh karena itu aku berteriak tadi, aku benar-benar syok," jelas Hana tersenyum. "Jadi aku pikir, kamu juga harus mengatakannya agar dia tidak kembali suram seperti dulu, Akira" 


"Sudah siap belum? Kami sudah lapar" ucap Hiro yang tiba-tiba datang.


"Sudah kok, ini yang terakhir" jawab Hana tersenyum.


"Baiklah," ujar Hiro kemudian pergi dari sana.


"Jangan lupa apa yang aku katakan tadi Akira" ucap Hana tersenyum. "Ayo, bantu aku. Kita harus memberi makan orang sekelas"


"Aku mengerti. Terima kasih Hana, aku tidak akan melupakannya" ucap Akira tersenyum.


"Teman-teman, BBQ nya sudah siap!" Teriak Hana.


Mereka kemudian berkumpul dan makan bersama ditemani dengan canda gurau dan bahagia dari semua orang.


"Terima kasih makanannya, Akira" ucap Sou menghampiri Akira.


"Sama-sama Sou," ujar Akira tersenyum.


"Sepertinya aku akan langsung tertidur karena banyak makan enak hari ini" ucapnya tersenyum kembali.


"Hm, tidurlah dengan nyenyak Sou. Untuk tadi pagi, terima kasih banyak"


"Kamu masih memikirkannya ternyata"


"Tentu saja. Aku benar-benar tidak menyangka Ayano tega melakukan semua itu sampai Hiro harus terluka" ucap Akira sendu.


"Jangan terlalu dipikirkan Akira, Hiro juga sudah baik-baik saja bukan? Kamu juga harus bahagia mengikuti camp ini" ucap Sou memegang pundak Akira.


"Tentu Sou. Ayo bergabung dengan yang lain" ajak Akira yang diangguki Sou.


Mereka menghabiskan waktu malam mereka dengan bahagia dan juga makanan yang enak. Setelah selesai, semua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Tengah malamnya...


"Akira tidak bisa tidur, mungkin minum sesuatu yang hangat bisa membantu." Akira bagun dati tidurnya kemudian pergi ke dapur untuk membuat susu hangat agar dia mengantuk dan bisa tertidur. 


"Woah, cantik sekali" ucap Akira menatap kagum pemandangan yang dilihatnya dari jendela. "Mungkin berjalan-jalan sedikit bukan masalah"


Angin malam yang cukup dingin menerpa tubuh mungil Akira. Bintang-bintang yang bertebaran membantu bulan menerangi gelapnya langit malam membuatnya terkagum-kagum. 


"Bintangnya banyak sekali.. bulannya juga sangat terang, sangat indah" ujar Akira tidak hentinya menatap kagum pemandangan malam hari di depannya.


"Aku ingin memperlihatkannya pada Papa dan Kakak" ujarnya membuka handphone dan memotretnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan malam-malam begini?" Tanya seseorang yang membuat Akira terkejut.


"Maaf maaf" ucap Sou tersenyum. "Apa yang kamu lakukan disini? Ini sudah malam dan disini dingin"


"Aku sedang melihat langit. Indah bukan"


"Hm, indah. Sudah berapa lama ya aku tidak melihatnya?"


"Benarkah? Kalau begitu mari menikmati pemandangan ini bersama" ajak Akira.


"Tentu" ucap Sou tersenyum.


Mereka kemudian duduk di bangku dekat penginapan menikmati pemandangan itu bersama. Tidak ada percakapan diantara mereka. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Sou," ucap Akira membuka pembicaraan.


"Hm?"


"Terima kasih"


"Untuk apa?"


"Untuk segalanya. Kamu selalu membantuku, terima kasih banyak" ucap Akira tersenyum.


"Itu bukan masalah besar, aku juga ikhlas membantumu" jelas Sou tersenyum.


"Terima kasih," ucap Akira tersenyum. "Sou, ada yang ingin aku katakan," ucap Akira menundukan kepalanya.


"Apa itu?"


"Itu.. itu.." (astaga, lidah Akira kelu untuk mengatakannya. Gugup sekali)


"Itu apa Akira?" Tanya Sou bingung.


"Ah, tidak jadi. Tidak jadi Sou, maafkan" ucap Akira tersenyum.


"Mencurigakan," selidik Sou. "Ada apa? Kamu sudah membuatku penasaran Akira, katakan sekarang" tuntut Sou.


"Begini Sou,"


"Katakan Akira, jangan membuatku takut"


"Eh, kamu takut? Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu Sou" ucap Akira khawatir.


"Tidak, tidak. Aku tidak takut. Katakan apa yang ingin kamu katakan" ucap Sou tersenyum.


"Begini, kemarin sebelum datang kemari, Papa dan Kakak memperbolehkanku menjalin hubungan dengan seseorang," jelas Akira malu-malu.


"Tiba-tiba? Kenapa jantungku tidak aman seperti ini?," bisik Sou dalam hati. "Hm."


"Aku.. saat pertama kita bertemu, aku pikir kamu orang baik dan tampan" gumam Akira yang masih bisa didengar Sou.


"Eh? Tunggu, apa maksudnya ini? Apa artinya-"


"Maaf Sou!" Ucap Akira membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Eh?" Sou terlihat sangat terkejut. "Apa yang kamu lakukan? Bangun Akira, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Maaf," ucap Akira masih membungkukkan badannya. (Akira, kau harus bisa!) "Maaf Sou, aku.. aku menyukaimu!" Tegas Akira masih dalam posisi yang sama.


"Sou pasti tidak mau lagi bertemu denganku, dia pasti marah. Dia pasti merasa jijik padaku. Kumohon Tuhan, walaupun aku ditolak semoga semua baik-baik saja" ucap Akira memejamkan matanya dengan posisi yang masih sama.


"Akira," panggil Sou.


Akira membuka matanya perlahan lalu mengangkat tubuhnya. Akira melihat Sou yang terdiam menatapnya.


"Sudah kuduga, Sou sepertinya tidak suka" bisik Akira dalam hati. 


Sou dengan cepat menarik tubuh Akira dan memeluknya. Sou memejamkan matanya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Akira. 


"Eh? Ap-apa ini?"


Akira yang terkejut hanya terdiam tidak percaya dengan apa yang terjadi kepadanya. 


Sou menempelkan bibir mereka cukup lama. Deruan nafas mereka saling bertemu dan perlahan Sou membuka matanya.


"Terima kasih Akira, aku sangat mencintaimu" ucapnya tersenyum tanpa melepaskan pelukannya dari Akira.


"So-Sou.."


"Ah, ma-maaf. Kamu pasti terkejut dan bingung," ucap Sou salah tingkah saat melihat ekspresi terkejut Akira.


Tangan Sou kemudian membelai lembut pipi Akira. "Maukah kamu menjadi kekasihku?" Tanyanya menatap dalam mata Akira.


"Jantung Akira akan meledak sekarang," ujar Akira dalam hati menundukkan kepalanya. "Hm, aku mau jadi kekasihmu" gumam Akira.


Sou kemudian meletakan kedua tangannya di pinggang Akira dan mengangkatnya.


"S-Sou! Aku takut jatuh!" Panik Akira memegang pundak Sou.


"Terima kasih Akira, terima kasih!" Ucap Sou tersenyum senang. Dia kemudian berputar sambil mengangkat Akira.


"S-Sou, Sou bahaya Sou, nanti terjatuh" ucap Akira ketakutan. Dia kemudian memeluk leher Sou dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Sou. "Turunkan aku Sou" pintanya. 


Melihat Akira yang ketakutan, Sou kemudian memeluk Akira dan menurunkannya perlahan.


"Kita sudah sampai di tanah" ucapnya tersenyum.


"Ah, hm" ucap Akira gugup.


"Maaf Akira, aku sangat senang malam ini. Terima kasih sudah membalas perasaanku. Aku sangat-sangat mencintaimu" ucap Sou tersenyum bahagia.


"A-aku juga mencintai Sou" ucap Akira menatap mata Sou.


Sou kemudian mengajak Akira kembali duduk. Malam ini, Sou terlihat sangat bahagia begitupun juga Akira. Mereka tidak henti-hentinya mengukir senyum manis di bibir masing-masing. 


"Aku benar-benar tidak akan melupakan hari ini" ucap Sou tersenyum.


"Aku juga" ucap Akira tersenyum.


"Padahal aku tadi sangat takut jika kamu akan mengatakan bahwa kamu sudah dijodohkan atau bagaimana. Kamu membuatku sakit jantung Akira" ucap Sou lagi.


"Ma-maaf Sou. Habisnya aku tidak tahu cara yang tepat untuk mengatakannya" ucap Akira menunduk.


"Tidak masalah. Aku senang karena perasaanku terbalaskan. Aku benar-benar mencintaimu"


"Aku juga mencintaimu" ucap Akira tersenyum.


Sou kemudian terdiam dan kembali menatap dalam mata Akira. 


"Ada apa?"


Tanpa basa-basi, Sou menarik dagu Akira agar wajahnya lebih dekat dengannya. Untuk yang kedua kalinya dia mencium bibir Akira.


"Apa yang Sou lakukan? Kenapa dia melakukannya lagi?" Panik Akira dalam diam.


"Maaf Akira, aku benar-benar bahagia sekarang. Aku akan mengontrol diriku sendiri" ucapnya yakin.


"Ah-h i-iya Sou" ucap Akira kembali menundukan kepalanya. "Sou ini kenapa? Kenapa dia melakukannya lagi? Ah, Akira malu sekali" bisiknya dalam hati.


"Aku tahu ini waktu yang sangat berarti tapi ini sudah sangat malam, aku tidak mau kamu sakit. Kembalilah ke kamarmu" ucap Sou tersenyum. "Wajahmu merah Akira. Sudah kuduga angin malam tidak baik untuk tubuh" ucapnya lagi mengangkat dagu Akira untuk dapat melihat wajahnya dengan jelas.


Akira kemudian memukul pelan lengan Sou. "Ini gara-gara ulahmu" gumam Akira mempoutkan bibirnya.


Sou tersenyum gemas. Dia mengacak-acak rambut Akira. "Maaf, maaf. Aku suka tidak bisa menahan saat kamu malu-malu. Maafkan Aku," ucap Sou tertawa ringan. "Ayo kembali, disini sudah sangat dingin"


"Baiklah" ucap Akira tersenyum.


Sou kemudian mengulurkan tangannya pada Akira. "Aku akan mengantarmu," ucapnya tersenyum.


"Terima kasih" ucap Akira menerima uluran tangan Sou sambil tersenyum.


Mereka kemudian kembali ke penginapan sambil menggenggam tangan masing-masing.


"Selamat malam Akira, mimpi indah" ucap Sou tersenyum.


"Selamat malam juga Sou. Hati-hati saat kembali"


"Tentu, masuklah," ucap Sou perlahan melepaskan genggaman tangannya pada Akira.


"Sampai jumpa" ucap Akira melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam penginapan. Dia menutup pintu dan menjatuhkan badannya di depan pintu.


"Apa ini? Jantung Akira benar-benar akan meledak" ucap Akira memegangi dadanya yang berdetak dengan sangat kencang dan cepat. "Tapi syukurlah, syukurlah dia tidak marah atau menghindar dari akira" gumam Akira masih di posisi yang sama.


"Tadi itu sangat gugup dan menakutkan, kaki Akira tidak bisa berhenti bergetar" gerutu Akira menyembunyikan wajahnya pada telapak tangannya.


"Tapi.. Akira sangat senang dan bahagia bisa mengatakannya pada Sou," gumam Akira tersenyum. "Sepertinya Akira tidak bisa tidur hingga pagi hari" monolognya kemudian pergi ke kamar.


Disisi lain..


"Apa ini? Akira juga menyukaiku ternyata," ucap Sou tersenyum menatap telapak tangannya sendiri.


"S*al! Aku, jantungku sudah siap meledak sekarang juga. Ini pertama kalinya bagiku. Aku benar-benar bahagia sekarang" monolog Sou sambil tersenyum.


"Aku benar-benar menyukainya, aku mencintainya. Masalahnya tinggal Ibu dan Ayah. Bisakah mereka mengerti?" Ucap Sou lagi. "Aku hanya perlu membuktikan bahwa menjalin hubungan dan memiliki kekasih tidak akan mempengaruhi nilai akademikku. Ya, aku hanya perlu membuktikannya!"


"Itu bisa dipikirkan belakangan, tapi yang paling penting adalah bagaimana aku bertemu dengannya besok? Aku takut jantungku benar-benar meledak nanti" ucap Sou bingung.

__ADS_1


"Ya intinya aku sangat bahagia hari ini. Terima kasih Tuhan, aku hanya ingin bahagia bersamanya, bersama Akira."


__ADS_2