
"Akhirnya selesai juga. Untung saja tangan Akira sudah lebih baik sekarang" monolog Akira tersenyum.
Tak lama kemudian Naoya datang dengan tatapan tajam dan dinginnya. Netranya menatap Akira tanpa mengatakan sepatah katapun.
Melihat Kakaknya yang menjadi dingin kembali, Akira hanya menundukan pandangannya. Ketakutan mulai menjalar di tubuhnya.
"S-selamat pagi Kak" sapa Akira tersenyum, tapi diabaikan oleh Naoya.
Akira kemudian menata makanan tersebut dengan cepat dan mengambil kotak bekalnya yang sudah disiapkan.
"Akira minta maaf untuk kemarin Kak, Akira berjanji tidak akan melakukannya lagi. Akira pergi duluan" ucap Akira menatap Naoya yang mengabaikannya.
Rasanya Akira ingin menangis sekarang juga.
...****...
"Selamat pagi" sapa Sou pada Akira. Senyumannya luntur saat Akira berdiri dihadapannya.
"Selamat pagi" sapa Akira tersenyum. "Ada apa Sou?"
Sou kemudian menyentuh kening Akira menggunakan telapak tangannya dengan tangan satunya yang memegangi keningnya sendiri.
"Sedikit lebih panas dari suhu tubuhku. Kamu sakit? Kebiasaan burukmu muncul lagi Akira. Sudah aku katakan kamu tidak boleh memaksakan dirimu sendiri bukan?"
"Habisnya kalau aku tidak sekolah, aku akan tertinggal pelajaran. Aku juga ingin bertemu Sou, sih" jelas Akira tersenyum.
"Jika kamu berkata seperti itu, aku tidak akan bicara apapun lagi" ucap Sou mengalihkan pandangannya. "Jika semakin memburuk bilang padaku atau langsung ke UKS, mengerti?"
"Aku mengerti" jawab Akira tersenyum.
"Baiklah, ayo masuk."
"Iya."
Selama pelajaran, Akira terlihat banyak terdiam. Dia bahkan menulis sangat lambat karena tangannya masih sakit.
"Apa kamu sedang sakit, Akira?" Tanya Ayano menatap Akira.
"Eh? Ah tidak, tidak. Aku baik-baik saja, hanya sedikit lemas" jelas Akira tersenyum.
"Nanti siang ada pelajaran olahraga, apa kamu akan baik-baik saja?"
"Tentu. Aku akan baik-baik saja. Setelah makan siang nanti, tenagaku akan pulih" jelas Akira kembali tersenyum.
"Aku mengerti."
...****...
"Selamat makan" ucap Sou tersenyum.
"Selamat makan" ucap Akira yang juga tersenyum.
Saat akan menyendok makanan, sumpit di tangan Akira sedikit tergelincir.
Ah, semakin lama, tangan Akira semakin sakit. Apa gara-gara Akira memaksakan menggunakannya tadi pagi ya?
"Buka mulutmu," titah Sou menyodorkan sesuap nasi.
Akira menatap Sou kemudian tersenyum. Dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Sou.
"Apa enak?"
"Hm, enak" jawab Akira tersenyum.
"Jadi, apa ini?" Sou kemudian memegang tangan Akira dan menariknya. Dia menunjukan kedua tangan Akira yang di perban. Netranya menatap dalam, mencari jawaban atas pertanyaannya.
"Aku memang tidak bisa berbohong pada Sou" jawab Akira tersenyum tipis. "Kemarin saat aku akan memasak, kakiku terpeleset dan menyenggol semua peralatan dapur hingga berjatuhan. Aku menggunakan tanganku untuk melindungi kepalaku tapi tergores oleh beberapa pisau yang ikut terjatuh" sendu Akira menundukan pandangannya.
Sou yang mendengarnya tampak sangat terkejut. Netranya ikut melebar menatap Akira.
"Kenapa kamu ceroboh sekali hm? Itu sangat berbahaya Akira, sungguh. Kemarin terjatuh dari kamar mandi dan sekarang kembali terjatuh dan tertimpa peralatan masak. Apa ada yang terluka lagi?" Panik Sou memeriksa setiap wajah, kepala dan pundak Akira.
"Tidak ada Sou, hanya tanganku saja" sendu Akira.
"Bukankah ada bibi di rumah? Kenapa tidak minta tolong saja? Kamu sudah banyak membuatku takut, Akira. Sungguh" ucapnya khawatir.
__ADS_1
"Maaf Sou. Tapi jika kemarin aku meminta tolong pada bibi, bibi yang akan terluka nanti"
"Aku memang tidak bisa memarahimu, jadi tolong Akira, aku memohon dengan sangat, jangan berbuat hal yang ceroboh, aku tidak ingin kamu terluka lebih dari ini. Tolong" ucap Sou khawatir. Dia memegang pundak Akira cukup erat.
"Aku mengerti. Maafkan aku" sendu Akira kagi.
Melihat kekasihnya sedih, Sou kemudian menarik Akira dalam dekapannya.
Akh!
Tubuh Akira tersentak saat tangan Sou menarik punggungnya dan memeluknya. Dia menempelkan kepalanya pada bahu Sou.
"Ada apa Akira?" Ucap Sou bingung. Mau secanggung apapun situasinya, Akira tidak pernah sekalipun tersentak saat dipeluk oleh Sou. Netra Sou mulai khawatir.
"Tidak Sou, aku hanya terkejut" ucap Akira membalas pelukan Sou.
Sou kemudian kembali menyentuh punggung Akira dengan pelan dan Akira semakin menenggelamkan wajahnya pada bahu Sou.
Tangan Sou kemudian mengelus pelan punggung Akira dari atas hingga ke pinggang yang membuat Akira semakin menenggelamkan wajahnya pada bahu Sou.
Disisi lain, Akira berusaha sekuat tenaga agar tidak menimbulkan suara maupun gerakan yang membuat Sou curiga.
Hentikan Sou, itu sakit.
"Akira, kamu-"
Kring...kring..kringg.. suara bel masuk berbunyi. Sou dan Akira kemudian melepaskan pelukannya masing-masing.
Syukurlah.
"Sepertinya kita terlalu lama disini, ayo kembali ke kelas. Kita harus ganti pakaian" ucap Akira sedikit panik.
Sou terdiam menatap Akira dengan lamat. "Hm, kamu benar. Ayo kembali ke kelas."
...****...
Wajah Akira terlihat sedikit pucat. Nafasnya terlihat tidak beraturan. Setelah melakukan beberapa kegiatan olahraga, Akira dan teman-teman harus mengelilingi lapangan sekolah sebanyak 7 kali.
Perih sekali! Punggung Akira sangat perih. Rasanya ingin berteriak dan menangis sekarang juga..
"Jangan memaksakan dirimu, Akira" ucap Sou menghampiri Akira. Dia menarik tangan Akira keluar lapangan, menuju Pak Guru.
"Maaf Pak, Akira sedang tidak sehat. Bisakah dia berhenti sekarang?" Tanya Sou.
"Kamu sakit?" Tanya Pak Guru yang diangguki kecil oleh Akira.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Lihat, wajahmu sudah pucat seperti itu. Istirahatlah disini dan kamu, Sou, lanjutkan larinya" titah Pak Guru lagi.
"Baik Pak. Kamu tunggulah disini. Istirahat dulu lalu ke UKS, mengerti?"
"Hm"
"Ini minumlah" ujar Sou memberikan botol minumnya.
"Terima kasih, Sou."
Semakin lama, tubuh Akira semakin lemah. Dia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya yang pucat.
Kenapa pelajaran olahraga sangat lama? Punggung Akira benar-benar sakit dan perih. Akira ingin membuka baju sekarang juga. Ah benar? Baju Akira basah oleh keringat, apa darahnya merembes?
"Maaf Pak, bolehkah Akira ke kelas lebih dulu?"
"Wajahmu sangat pucat, Akira. Sanggup sendirian? Bapak harus mengawasi yang lain."
"Tentu Pak, Akira masih kuat."
"Baiklah kalau seperti itu. Langsung ganti baju dan pergi ke UKS ya?"
"Baik Pak, terima kasih."
Sesuai arahan Pak Guru, Akira kemudian berjalan ke ruang ganti untuk mengganti bajunya.
"Aarrgghh perih sekali" gumam Akira menundukan kepalanya. Dia mengamati baju olahraga yang dia kenakan tadi.
"Merembes ternyata, tapi syukurlah tidak terlalu banyak jadi tidak terlihat. Seharusnya Akira izin saja tadi" gerutu Akira menepuk-nepuk pundaknya, untuk menghilangkan sedikit rasa sakitnya. Dia kemudian mengelap keringatnya agar tidak menambah rasa sakit di punggungnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Akira bergegas mengganti bajunya dan merapikan barang-barangnya.
"Akira, kamu baik-baik saja?" Tanya Hana khawatir.
"Aku baik-baik saja" jawab akira tersenyum. "Aku akan ke UKS dulu Han, tolong beritahu guru yang mengajar nanti, ya?"
"Hm, akan aku sampaikan nanti. Ayo."
"Tidak tidak, aku bisa sendiri. Hana ganti baju saja sebelum pelajaran dimulai."
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin" jawab akira kembali tersenyum. "Aku duluan ya."
Akira menyusuri lorong yang sepi itu dengan perlahan. Wajahnya sudah sangat pucat dan pandangannya mulai kabur.
"Bertahanlah sampai UKS" gumam Akira kemudian hilang keseimbangannya.
"Akira!" Sou menangkap tubuh Akira sebelum terjatuh.
Wajahnya pucat sekali. Nafasnya tidak beraturan dan tubuhnya juga sangat panas.
"Bertahanlah, Akira."
Sou kemudian menggendong Akira di punggungnya. Dia dengan cepat, sedikit berlari menuju UKS.
"Permisi Bu" ucap Sou membuka pintu UKS dengan kasar.
"Akira? Ada apa dengannya, Sou?" Tanya Bu guru ikut panik.
"Saya tidak tahu Bu, sepertinya dia demam"
"Baringkan dia di kasur. Ibu akan mengambil peralatan dulu di ruang guru" titahnya kemudian pergi.
"Akira bertahanlah" ucap Sou panik. Dengan lembut dia menidurkan Akira di kasur.
"A-ah" lirih Akira membalikan badannya hingga menyamping.
"Pasti sesuatu telah terjadi pada punggungnya" ucap Sou semakin panik karena nafas Akira sangat tidak beraturan.
Sou kemudian menempatkan kepala Akira pada pangkuannya, menahan agar Akira tetap tidur menyamping.
"Akira, kamu mendengarkanku?"
Tidak ada jawaban dari Akira, dia hanya menganggukan kepalanya pelan.
"Dengarkan aku. Bernafaslah perlahan. Tarik dan buang nafasmu perlahan" titah Sou memandu Akira.
"Benar, seperti itu. Perlahan saja"
Sou kemudian mengelus kepala Akira sambil sesekali merapikan anak rambutnya yang sudah basah oleh keringat.
"Akira, sebenarnya ada apa dengan punggungmu?" Tanya Sou dengan tenang.
Akira lagi-lagi terdiam. Dia tidak mengatakan sepatah katapun pada Sou.
"Maaf lama" ucap Bu Guru memasuki UKS. "Dibaringkan saja di kasur, Sou. Tidurkan dia di kasur" titah Bu Guru lagi.
"Tidak Bu, sepertinya telah terjadi sesuatu pada punggungnya" jelas Sou dengan tenang.
"Punggung?"
"Iya Bu"
"Kalau begitu bantu Ibu membuka bajunya"
"Eh?"
"Apa? Ibu tidak bisa menidurkannya jika punggungnya yang sakit. Pejamkan saja matamu dan jangan pernah mengintip, mengerti?!"
"A-ah baik Bu"
Sou kemudian memeluk Akira untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Sesuai arahan guru, dia menutup matanya rapat-rapat.
"Apa ini??" Gumam Bu Guru terkejut tepat setelah membuka jas sekolah Akira. Sou secara refleks membuka matanya dan melihat seragam Akira yang sudah berubah warna menjadi merah.
__ADS_1
"A-Akira.."