
Sou memejamkan matanya menikmati angin yang berhembus seolah sedang mengajaknya bernyanyi.
(Akira sangat mengagumi ketampanan Sou) bisik Akira dalam hati.
"Nyaman sekali"
"Sou benar, nyaman sekali" ucap Akira tersenyum. "Sou, aku akan melihat bunga disana, sepertinya cantik"
"Iya, aku menunggumu disini" ucap Sou tersenyum.
"Wah.. cantiknya! Kemari, kemari" Akira sedang berbicara dengan seekor kupu-kupu.
"Cantiknya" ucap Akira kagum. "Sou, Sou! Kemari sebentar" ucap Akira mengisyaratkan agar Sou mendekat kepadanya.
"Ada apa?"
"Lihat cantik bukan?"
"Wahh cantiknya, bagaimana bisa dia diam di jarimu Akira?" Ucap Sou kagum.
"Aku hanya mengulurkan jariku dan seperti ini" ucapnya tersenyum.
"Cantik sekali. Lihatlah, sayap birunya terlihat seperti permata" ucap Sou mendekati tangan Akira.
"Iya ka-"
DUGH!!
"Akhh!" Refleks Akira menyentuh keningnya dan Sou menyentuh kepala belakangnya.
"Akh, sakitnya. Kamu baik-baik saja Akira?" Tanya Sou khawatir.
"Aku baik-baik saja" ucapnya masih memegangi keningnya.
"Maaf Akira, sini biar ku lihat" ucap Sou menarik Akira hingga mereka hampir bersentuhan.
(Terlalu dekat!)
Sou kemudian menyibakan rambut depan Akira. "Keningmu merah Akira, pasti sangat sakit bukan? Maafkan aku" ucapnya sambil mengelus pelan kening Akira.
"Aku baik-baik saja Sou" ucap Akira tersenyum.
(Akira memang selalu tersenyum, tapi senyuman ini sama seperti saat itu. Mata yang bulat, bulu mata dan alis yang panjang, tahi lalat di samping mata, bibirnya yang tipis, dan senyumannya.. sudah kuduga!)
"Sudah ku duga, aku menyukaimu Akira" ucap Sou menatap dalam mata Akira.
"S-Sou?"
"Aku menyukaimu, aku sangat menyukaimu Akira" ucapnya dengan posisi yang masih sama.
(Apa yang Sou katakan? Dia menyukaiku? Seseorang, tolong bangunkan Akira! Akira tidak tahu harus berbuat apa sekarang, bagaimana ini?)
"Eh? Ah.. itu- ak-aku"
Sou kemudian mengusap lembut pipi Akira. "Aku tidak memintamu untuk menjawabnya sekarang. Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa aku sangat menyukaimu. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, apa kamu mengizinkannya?" Tanyanya menatap dalam Akira.
(Bagaimana sekarang? Bagaimana sekarang? Tolong Akira!)
"H-hmm" Akira menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Terima kasih" ucap Sou tersenyum. "Maaf ya, aku melukaimu lagi" ucapnya sambil kembali mengusap kening Akira.
"Ti-tidak apa S-Sou" ucap Akira kembali menundukan kepalanya.
"Pipimu merah, apa kamu sakit?"
"Ti-tidak, aku tidak sakit"
(Benar, Akira tidak sakit tapi sepertinya jantung Akira kan meloncat keluar)
"Baiklah, ayo kembali ke kelas" ucap Sou menarik tangan Akira.
(Apa yang barusan terjadi? Saking terkejutnya, Akira merasa akan terjatuh tadi. Sou menyukai Akira? Itu berarti perasaan Akira terbalaskan. Akira senang Sou mengatakannya tadi tapi apa yang harus Akira jawab? Tentu saja, Akira juga menyukainya tapi kalau seperti ini bukankah lebih canggung? Tapi Akira tetap senang bisa mengetahui perasaan Sou dan mengetahui bahwa perasaan Akira terbalaskan) batin Akira tersenyum tipis menatap punggung Sou.
Sou kemudian berbalik dan tersenyum kepada Akira. Begitupun juga Akira yang kemudian membalas senyuman Sou.
Hari camp pelatihan..
Sore hari di sekolah..
"Akira ingat janjimu ya, hati-hati disana" ucap Naoya menurunkan tas bawaan Akira.
"Iya Kak, Akira berjanji" jawab Akira tersenyum.
"Akira!" Panggil Hana. "Ah, selamat sore" ucap Hana sopan.
"Selamat sore, temannya Akira ya? Mohon bantuannya ya, tolong berteman baiklah dengan Akira" ucap Naoya tersenyum.
"Tentu saja" jawab Hana tersenyum.
"Disana jangan berpisah dari teman-teman yang lain mengerti? Itu masih hutan, sangat berbahaya. Teman Akira juga jangan berpisah dengan rombongan ya" ucap Naoya lagi.
"I-iya" ucap Hana paham.
"Iya Kak, Akira mengerti"
"Ya sudah, Kakak pulang ya, hati-hati disana. Kalau terjadi sesuatu telpon saja Kakak, oke?"
"Iya Kak, terima kasih. Bye-bye" ucap Akira melambaikan tangannya.
"Bye-bye. Teman Akira, saya duluan ya" pamitnya pada Hana.
"Iya Kak hati-hati" jawab Hana tersenyum. "Itu Kakak Akira? Tampannya" ucap Hana kagum.
"Terima kasih" ucap Akira tersenyum.
"Ayo naik ke bus, yang lain sudah menunggu"
"Ayo."
Tempat duduk dalam bus itu dibagi menjadi 2, sebelah kanan terdiri dari 2 kursi dan sebelah kiri terdiri dari 3 kursi.
"Hana, kamu duduk dimana?"
"Disini" ucap Hana menunjuk bangku paling depan sebelah kanan dengan Rara yang sedang bermain ponsel disana.
"Baiklah, aku ke belakang ya" ucap Akira tersenyum.
"Iya, maaf ya kita tidak bisa duduk bersama"
"Tidak masalah" ucap Akira tersenyum.
(Aku harus duduk dimana ya?)
"Duduk disini saja" ucap Sou menarik tangan Akira.
"S-Sou, kamu membuatku terkejut. A-apa laki-laki dan wanita tidak dipisah?"
"Sepertinya tidak, duduk disini saja, disini masih kosong" ucap Sou tersenyum.
(Apa akan baik-baik saja setelah kejadian kemarin? Tapi jika aku menghindar, Sou pasti akan salah paham)
"Ba-baiklah, aku izin duduk disampingmu" ucap Akira yang diangguki Sou.
Sepanjang perjalanan, mereka nikmati waktu dengan berbagai kegiatan seperti mendengarkan musik, melihat pemandangan, bahkan karaoke. Semua orang terlihat sangat senang tak terkecuali Akira dan Sou.
Namun semakin malam, suasananya mulai hening karena para siswa banyak yang beristirahat. Lampu bus juga dimatikan dan penerangan hanya dari lampu barisan kursi paling depan.
"Akira?"
"Iya, ada apa Sou?"
"Aku kira kamu sudah tidur" ucap Sou tersenyum.
"Aku tidak bisa tidur" balas Akira tersenyum. "Sou mau jeruk?" Tawar Akira.
"Terima kasih" ucap Sou mengambil jeruk di tangan Akira. "Manis" ucap Sou tersenyum.
"Syukurlah jika Sou suka. Aku masih punya banyak jeruk, Sou bisa mengambilnya beberapa" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih banyak. Akira sepertinya suka jeruk ya?"
"Iya" ucap Akira tersenyum.
"Aku juga mau!" Ucap Hiro yang ternyata duduk di depan kursi Akira.
"Hampir saja aku teriak" gumam Akira.
"Tch, kau membuat kami terkejut!" Kesal Sou.
"Maaf, maaf. Bolehkah?" Tanya Hiro lagi.
"Tentu saja, ini jeruknya" ucap Akira memberikan satu jeruknya kepada Hiro.
"Terima kasih."
Beberapa lama kemudian...
"Akira, mau lihat pemandangan? Kota Tokyo saat malam sangat indah, kemarilah li- Akira? Sudah tidur ternyata" ucap Sou tersenyum.
"Gemasnya, cantik sekali kalau sedang tertidur" gumam Sou menatap Akira. "Jangan tertidur seperti itu atau lehermu akan sakit nanti" ucapnya lagi kemudian meletakan kepala Akira agar bersandar di bahunya.
"Selamat malam" ucap Sou tersenyum.
"Akira, aku.. loh sudah tertidur?" gumam Hiro menatap Akira. "Ini pasti rencanamu bukan? Dasar pria, mengambil kesempatan dalam kesempitan" Ucap Hiro pada Sou.
"Jangan berisik, nanti kamu membangunkannya, Hiro. Aku tidak membawa bantal leher dan sepertinya dia juga tidak membawanya. Bahuku lebih nyaman daripada bersandar ke kursi" ucap Sou sambil terus menatap Akira.
"Iya iya, aku paham" ucap Hiro tak acuh.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian, Akira membuka matanya perlahan.
"Ada apa? Apa aku membangunkanmu? Ini masih malam" ucap Sou tersenyum.
"Sela- ah maaf Sou, maafkan aku" ucap Akira panik karena dia bersandar di bahu Sou.
"Kenapa? Ada apa?"
"I-tu, aku pasti berat kan? Maaf" ucap Akira menunduk.
"Tidak masalah, aku tidak terganggu dengan itu. Aku merasa senang jika bahuku lebih nyaman untuk kamu tidur" ucap Sou tersenyum.
"Tapi.. terima kasih Sou" ucap Akira menunduk.
"Sama-sama. Tidurlah lagi, ini masih malam kita juga masih lama sampainya" ucap Sou tersenyum.
"Tidak apa, aku sudah tidak mengantuk"
"Baiklah"
Beberapa lama kemudian mereka tiba di ryokan atau penginapan dengan fasilitas dan bangunan berarsitektur Jepang. Penginapan jenis ini menyediakan kamar bergaya Jepang yang berlantaikan tatami (tikar khas Jepang yang terbuat dari rumput alang-alang dan kain). Tentu saja bangunan siswa terpisah dengan bangunan siswi.
"Wah mewah sekali" ucap Hana kagum
"Kamu benar" ucap Akira setuju.
"Sampai besok Akira" ucap Sou tersenyum.
"Sampai besok juga Sou" ucap Akira tersenyum.
Akira menempati ruangan yang sama dengan Hana, Rara, Miya, Ayano, dan satu orang lainnya. Dan karena lelah mereka langsung tertidur.
Pagi harinya..
Kegiatan hari pertama dimulai dengan beberapa perlombaan seperti lomba pengetahuan, lomba keterampilan seperti bernyanyi, memasak dan lainnya dan terakhir adalah menjelajah hutan
"Untuk menjelajah hutan, silahkan membentuk kelompok beranggotakan 6 orang. Minimal ada 2 siswa dan 4 orang lainnya adalah siswi"
"Akira ayo sekelompok" ajak Sou.
"Aku juga ikut" ucap Hiro.
"Boleh" ucap Akira tersenyum.
"Aku ikut" ucap Hana.
"Apa aku boleh ikut? Tanya Miya
"Tentu" ucap Akira tersenyum.
"Apa aku boleh masuk?" Tanya Ayano.
(Sepertinya mereka menolak Ayano, tapi,)
"Tch, terserahmu saja" ketus Sou.
"Cari beberapa petunjuk yang kami sebar di hutan ini. Jika kalian mengikuti arahnya dengan benar kalian tidak akan tersesat. Silahkan mulai dari kelompok 1" ucap Bu Guru.
"Biar aku yang memimpin dan Hiro berjaga di belakang" ucap Sou yang diangguki semua anggota. Mereka kemudian memasuki hutan.
"Ckk tidak usah menerobos juga" ucap Hana kesal melihat Ayano menerobos Akira dan Miya.
"Jangan bertengkar" ucap Hiro menengahi.
Urutan berjalan kelompok Sou adalah Sou, Ayano, Hana, Miya, Akira, dan Hiro.
"Akira, apa kamu takut?" Tanya Hiro tersenyum.
"Sedikit" ucap Akira tersenyum.
"Aku juga, tapi sepertinya akan aman-aman saja bukan?"
"Ya, selama kita mengikuti petunjuk Bu Guru" ucap Akira lagi.
Akira dan Hiro beberapa kali tertinggal rombongan akibat keasikan mengobrol.
"Oh? Kita tertinggal lagi Hiro, ayo cepat" ucap Akira mempercepat langkahnya.
"Kenapa mereka cepat sekali jalannya? Aku sudah tidak bisa melihatnya"
"Sebaiknya kita kejar mereka Akira. Tidak masalahkan jika kamu berlari?"
"Tentu saja. Ayo" ucap Akira semangat.
"Apa ini petunjuknya?" Ucap Akira melihat tanda panah yang mengarah ke sisi kanan.
"Sepertinya begitu, ayo" Akira dan Hiro kemudian berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh panitia dan guru.
Akira dan Hiro kemudian berlari untuk mengejar Sou dan teman-temannya yang sudah lebih dulu pergi. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.
"Apa kita salah jalan Hiro? Kenapa kita tidak bertemu dengan Sou dan yang lainnya? Apa mereka berjalan secepat itu?" Tanya Akira bingung.
"Aku lelah, bisakah kita berjalan dulu" ucap Akira.
"Tentu, aku juga lelah"
"Tapi rasanya tidak ada petunjuk lain selain panah tadi ya?" Ucap Akira memastikan.
"Kamu benar, rasanya aneh. Apa kita kembali lagi saja?" Ucap Hiro ragu.
"Perasaanku tidak enak, kita kembali saja ya? Atau menunggu kelompok lain datang saja?" Ucap Akira bingung.
"Sepertinya begitu. Kita tunggu saja disini" jelas Hiro yang diangguki Akira.
Akira dan Hiro memutuskan untuk menunggu kelompok lain yang lewat agar bisa berjalan bersama. Namun setelah beberapa lama menunggu, tidak ada tanda-tanda kelompok lain yang datang.
"Hiro, aku takut" ucap Akira mendekatkan dirinya pada Hiro.
"Kita kembali saja ya, ayo" ajaknya.
Saat kembali menyusuri jalan sebelumnya, Hiro terpeleset yang membuatnya jatuh berguling ke lembah.
"Hiro!!!!"
"Hiro!" Akira kemudian dengan cepat menuruni lereng, mengejar Hiro yang terjatuh.
"Hiro? Dimana kamu? Hiro, tolong jawab aku!" teriak Akira panik.
"Aku disini Akira" ucap Hiro melambaikan tangannya.
Akira dengan cepat menghampiri Hiro.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Akira khawatir dengan air mata yang sudah menetes dari tadi.
"Jangan menangis Akira, aku baik-baik saja" ucap Hiro ikut panik.
"Habisnya.. Hiro hiks hiks.."
(Payah! Akira payah! Padahal Hiro juga sedang bingung dan takut tapi Akira malah menangis dan membuat situasinya semakin memburuk)
"Sudah jangan menangis, aku tidak apa-apa. Ada aku juga disini. Jangan menangis ya" ucap Hiro memegang pundak Akira. "Sepertinya kita tersesat jauh Akira. Untuk sekarang ayo kembali ke atas."
Akira kemudian menghapus air matanya. "Iya."
(Aku harus bagaimana ini? Aku benar-benar tidak tahu cara bertahan hidup di hutan. Di tambah ada seorang gadis bersamaku. Kita harus ke atas dulu) batin Hito bingung.
"Ayo" ucap Hiro menggenggam tangan Akira.
"Hiro tanganmu," ucap Akira melihat tangan Hiro yang terluka.
"Ini hanya luka biasa, nanti juga sembuh sendiri. Ayo ke atas, kita harus mencari bantuan" ucap Hiro tersenyum.
"Tapi tanganmu berdarah, kita obati dulu. Aku membawa P3K" ucap Akira membuka tas kecil yang dia bawa.
(Benar, ini sakit) "Baiklah."
Akira kemudian mengobati luka Hiro yang cukup panjang, kemungkinan terkena ranting saat terjatuh tadi.
"Apa ada yang terluka lagi?" Ucap Akira dengan suara yang bergetar.
"Jangan menangis Akira, aku ada bersamamu dan aku baik-baik saja. Maaf ya, aku membuatmu semakin ketakutan" ucap Hiro mencoba setenang mungkin.
"Hiks.. hiks.. tapi kita akan kembali kan? Kita bisa bertemu teman-teman dan guru kan? Kita bisa pulang kan?" Ucap Akira menangis ketakutan.
Hiro kemudian memeluk Akira. Dia menepuk punggung Akira, mencoba menenangkannya. "Kita akan pulang, kita akan baik-baik saja. Aku berjanji akan membawamu kembali, jangan menangis ya."
(Bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?) Batin Hiro khawatir.
"Sudah tenang?" Tanya Hiro melepaskan pelukannya.
"Sudah. Maaf ya Hiro, padahal kamu juga bingung, tapi aku malah menangis seperti ini" ucap Akira menghapus air matanya.
"Tidak masalah, aku mengerti" ucap Hiro tersenyum.
"Ada yang sakit lagi?"
"Tidak, sudah diobati oleh mu tadi. Terima kasih ya" ucap Hiro tersenyum.
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Ayo kita kembali ke atas" ajak Akira.
"Kamu sudah baik-baik saja?"
"Tentu, aku tidak bisa merepotkan Hiro yang sedang terluka. Maaf sudah bersikap kekanak-kanakan seperti tadi" ucap Akira membungkuk hormat.
"Jangan seperti itu, itu bukan masalah besar Akira. Ayo" ajak Hiro.
(Padahal tadi dia terlihat sangat ketakutan, sepertinya aku terlalu khawatir kepadanya) batin Hiro melihat Akira yang sudah baik-baik saja.
Hiro dan Akira kemudian bahu-membahu untuk menuju ke atas lereng dengan bantuan akar-akar pohon dan tanaman yang ada di sana.
__ADS_1
"Hati-hati Akira" ucap Hiro mengulurkan tangannya.
"Terima kasih Hiro."
Beberapa lama kemudian mereka bisa menuju ke atas, tempat Hiro terjatuh tadi.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Hiro memastikan.
"Iya, Hiro sendiri bagaimana?"
"Aman, tidak ada yang terluka lagi" ucapnya tersenyum.
"Syukurlah, kita tinggal mengikuti jalan ini saja kan?"
"Benar" ucap Hiro menggenggam tangan Akira. "Kamu benar, tidak ada petunjuk selain panah yang mengarah kemari. Pasti ada yang mengerjai kita" ucap Hiro.
"Kenapa? Kenapa dia melakukannya? Jahat sekali" ucap Akira sedih.
"Benar, sangat jahat. Aku akan mencari tahu nanti. Ini sudah hampir sore, dan tidak ada yang menemukan kita" ucap Hiro kembali khawatir.
"Hiro benar" ucap Akira setuju.
"Jangan berlari, takutnya kita terjatuh lagi seperti tadi. Pegang saja tanganku ya" ucap Hiro tersenyum.
"Baiklah, aku mengerti"
Beberapa lama kemudian...
"Tunggu Akira, aku lelah" ucap Hiro duduk di batang pohon yang sudah tumbang.
"Hiro, kamu serius tidak ada yang terluka lagi? Kakimu baik-baik saja?" Tanya Akira khawatir.
"Aku baik-baik saja. Hanya kelelahan"
"Ini minumlah" ucap Akira memberikan botol minumnya.
"Tidak perlu, minum mu tinggal sedikit. Untukmu saja" ucap Hiro tersenyum.
"Tidak apa, aku tidak haus. Hiro saja yang minum" ucap Akira tersenyum. Dia ikut mendudukan dirinya di samping Hiro.
"Baiklah, terima kasih" ucap Hiro tersenyum.
"Untung saja aku membawa tas, jika tidak, Hiro pasti akan lebih kesakitan."
"Jangan mengkhawatirkanku seperti itu atau aku akan merasa bersalah kepada Sou nanti" ucap Hiro tersenyum.
"Akira! Hiro!" Teriak Sou dari kejauhan.
"Akhirnya ada bantuan yang datang" ucap Hiro berdiri yang diikuti Akira.
"Kalian baik-baik saja?" Ucap Sou mendekati Akira dan Hiro. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Sou pada Akira.
"S-Sou!" Akira dengan cepat memeluk Sou.
"Aki..ra?"
"Syukurlah hiks..hiks.. syukurlah kamu datang" ucap Akira menangis dipelukan Sou.
(Ini pertama kalinya aku melihatnya menangis)
"Maaf aku terlambat, kalian pasti sangat kesulitan, maafkan aku" ucap Sou membalas pelukan Akira. Dia mengelus-elus punggung Akira untuk menenangkannya.
"Kamu bagaimana Hiro? Tanganmu,"
"Aku baik-baik saja. Bantulah Akira, dia sangat ketakutan" ucap Hiro tersenyum.
Sou kemudian mengangguk. "Yosh, jangan menangis Akira. Ayo pulang" ucap Sou melepaskan pelukannya.
"I-iya" jawabnya terisak.
"Sudah jangan menangis, aku sudah bersamamu sekarang. Aku akan melindungimu" ucap Sou menghapus air mata Akira. Dia kemudian berjongkok di depan Akira.
"Naiklah, aku akan menggendongmu."
"Ti-tidak, Hiro yang terluka, Sou gendong Hiro saja" tolak Akira.
"Apa maksudnya? Aku masih punya harga diri untuk digendong oleh sesama pria. Kau melukai harga diriku Akira" ucap Hiro sedikit kesal.
"Tapi Hiro terjatuh tadi, tanganmu juga terluka. Aku masih bisa berjalan" jelas Akira.
"Tidak tidak. Aku juga masih bisa berjalan. Kamu saja yang naik ke punggungnya, aku baik-baik saja" ucap Hiro tersenyum. "Yosh, bawa dia Sou" ucap Hiro berjalan mendahului Akira dan Sou.
"Ayo" ucap Sou langsung menggendong Akira.
"Tapi-"
"Pegangan yang erat, Akira" titah Sou.
Akira kemudian melingkarkan tangannya pada Sou. Dia menempelkan wajahnya ke punggung Sou.
"Aku sangat takut tadi" ucap Akira kembali terisak.
"Tidak apa, semua akan baik-baik saja" ucap Sou menenangkan Akira.
"Aku kira, aku tidak akan bisa pulang tadi. Dan Hiro.. dia.."
"Semua akan baik-baik saja sekarang. Aku berjanji akan menjagamu dan membawamu pulang dengan selamat. Jika terjadi hal seperti ini lagi, aku pasti akan menemukanmu" ucap Sou tersenyum.
"Akira benar-benar takut" ucap Akira mengeratkan tangannya.
"Ada aku dan Hiro disini, kamu tidak usah takut. Aku bersamamu sekarang" ucap Sou terus mengatakan hal yang membuat Akira tenang.
"Te-terima kasih"
(Dia pasti sangat ketakutan, ini salahku karena tidak benar menjaga anggota kelompokku khususnya Akira dan Hiro) ucap Sou menyesal.
"Dia tertidur Sou" ucap Hiro menatap Akira
"Dia pasti sangat ketakutan" ucap Sou.
"Benar, ini pertama kalinya dia menangis. Aku juga sangat takut tadi" ucap Hiro lagi.
"Maaf Hiro, aku terlambat"
"Tidak masalah Sou, aku juga baik-baik saja berkatnya."
Beberapa lama kemudian mereka berhasil keluar dari hutan. Para guru dan siswa menyambut mereka dengan wajah khawatir.
"Sou, apa Akira terluka?" Tanya Bu Guru.
"Tidak Bu, Akira tidak terluka. Tapi Hiro terluka" jelas Akira.
"Cepat bawa masuk ke dalam" titah Bu Guru yang diangguki oleh Sou.
Hiro dan Akira kemudian dibawa ke ruangan yang tidak ada orangnya. Disana mereka diobati oleh Guru.
"Bagaimana bisa kalian tersesat seperti itu?" Tanya Pak Guru.
"Ada yang mengubah petunjuk arahnya Pak" ucap Sou.
"Mengubah bagaimana?"
"Tadi Sou sangat yakin petunjuk arahnya mengarah ke kiri, namun saat menyadari Akira dan Hiro tidak ada, Sou kembali menelusuri jalan sebelumnya dan tandanya sudah berubah ke arah kanan jadi kemungkinan mereka kesana dan ternyata benar" jelas Sou.
"Siapa yang berani-beraninya mengubah tanda itu. Mustahil jika burung atau kumbang dan semacamnya karena itu terbuat dari besi. Disini juga tidak ada monyet dan hewan besar lainnya" ucap Pak Guru bingung.
"Pasti ada yang sengaja melakukannya Pak" ucap Sou lagi.
"Baik, kita akan mencari tahu pelakunya. Hiro dan Akira apa sudah baikan?"
"Sudah Pak"
"Syukurlah, tinggalah disini beberapa saat lagi sebelum kembali ke kamar masing-masing" ucap Pak Guru meninggalkan ruangan.
"Baik Pak!"
"Maaf teman-teman, aku hanya memperburuk keadaan, khususnya pada Hiro tadi" ucap Akira menyesal.
"Tidak masalah Akira, aku mengerti karena aku juga ketakutan tadi. Aku kira aku akan mati saat terjatuh tadi" jelas Hiro.
"Sudahlah yang penting kalian sudah selamat bukan? Maaf ya, ini salahku karena tidak memperhatikan anggotaku dengan baik, kalian jadi terluka seperti ini" ucap Sou menyesal.
"Tidak Sou, ini salah kami karena terus tertinggal" ucap Hiro.
"Hiro benar, ini salah kami Sou. Maaf" ucap Akira juga meminta maaf.
"Akira! Syukurlah kamu baik-baik saja" ucap Hana tiba-tiba datang sambil menangis.
"Jangan membuatnya kembali menangis Hana" ucap Sou memperingati.
"Tapi, aku benar-benar khawatir, syukurlah" ucap Hana memeluk Akira.
"Akira" ucap Rara dan Miya yang juga khawatir.
"Kita bicaranya disana saja ya, Hiro masih sakit dia akan terganggu" ucap Rara yang diangguki para gadis. Para gadis itu kemudian berpindah ke ujung ruangan.
"Sial! Rasanya aku ingin menangis Sou" ucap Hiro dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu juga pasti kesulitan, tidak apa menangislah" ucap Sou memegang pundak Hiro.
"Ku pikir aku akan mati tadi" ucap Hiro meneteskan air matanya. "Aku juga takut terjadi sesuatu padanya, jadi aku berusaha untuk tidak membuatnya terlalu takut. Beruntung sekali aku masih hidup. S*alan!"
(Hiro juga sangat ketakutan, ini pertama kalinya aku melihatnya menangis juga) batin Sou menatap Hiro.
"Kamu hebat Hiro. Terima kasih sudah bertahan dan melindunginya, aku berhutang padamu. Syukurlah kamu baik-baik saja" ucap Sou menepuk pundak Hiro.
"Sudah jangan menangis nanti kamu ditertawakan oleh para gadis itu"
"Kamu benar" ucapnya menghapus air matanya.
__ADS_1
Sou kemudian tersenyum. "Kita akan mencari tahu pelakunya dan membuatnya membayar dengan bayaran yang setimpal dengan ketakutan kalian."