Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 17 : Hubungan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


"Selamat pagi" sapa Akira kepada Kakak-kakaknya yang baru turun sambil menata makanan yang sudah dia buat di atas meja.


"Selamat pagi" sapa Naoya kemudian duduk di kursi.


"Selamat pagi Akira" ucap Yuki tersenyum.


"Pagi, Akira memang selalu rajin ya" ucap Shinji duduk di kursinya.


"Tentu, Akira memang orang yang rajin tidak seperti Kakak" ucap Akira tersenyum.


"Kakak menyesal. Kakak tarik lagi perkataan Kakak tadi" ucap Shinji menatap datar Akira.


"Akui saja Kak" ucap Yuki menimpali.


"Benar kan Kak?" Tanya Akira pada Yuki.


"Benar" ucap Yuki sambil tertawa kecil.


"Awas saja, aku akan memukulmu nanti" ancam Shinji pada Yuki.


"Seperti biasa, Kakak selalu kasar" ucap Akira mempoutkan bibirnya.


"Maaf ya, itu sudah menjadi kebiasaan Kakak. Lagipula Kakak belum memukulnya, Akira" jelas Shinji.


"Tetap saja Shin" ucap Naoya ikut menimpali.


"Bahkan Kakak juga?" Ucap Shinji tidak percaya.


"Seperti biasa, kalian selalu berisik ya" ucap Papa yang baru datang.


"Akira menggangguku Pa" adu Shinji.


"Yang perempuan Akira, yang mengadu Shinji" ucap Naoya menggelengkan kepalanya.


"Kak Nao benar, seharusnya Akira yang mengadu pada Papa bukan Kak Shin. Ulang!" protes Akira.


"Ulang, ulang" ucap Yuki mengangguk dan diikuti oleh Naoya.


"Baiklah, ayo diulang!" ucap Shinji setuju.


"Jadi Papa harus kembali lagi berjalan dari sana?" Tanya Papa yang masih berdiri.


Akira menatap Papanya sebentar kemudian menatap Kakak-kakaknya dan tertawa.


"Tidak Pa, tidak perlu. Akira hanya bercanda" ucap Akira tertawa.


"Shinji tidak tahu kalau Papa akan meladeni candaan kami" ucap Shinji yang juga tertawa.


"Papa ada-ada saja" ucap Yuki tersenyum.


"Kalian yang bilang bukan? Sudah sudah, ayo kita makan nanti keburu telat" ucap Papa kemudian duduk sambil tersenyum tipis.


"Papa memang Papaku" ucap Shinji yang masih tertawa.


"Kalian benar-benar menggoda Papa ya" ucap Papa tersenyum. "Papa akan makan duluan" ucap Papa mengambil nasi.


"Iya Pa" ucap Akira tersenyum.


"Hari ini biar Kakak yang antar ya, sekalian mampir ke supermarket" ucap Shinji pada Akira.


"Iya Kak" jawab Akira tersenyum.


"Tumben sekali Shinji ke supermarket, biasanya juga menyuruh Akira" ucap Yuki.


"Benar, tumben sekali" ucap Naoya.


"Tidak masalah bukan? Akira juga tidak masalah jika diantar oleh Shin, jadi tidak apa-apa, benar kan Akira?" Tanya Shinji memastikan.


"Iya Kak, Akira tidak masalah. Sebenarnya, Akira juga bisa pergi sendiri jadi Akira sangat bersyukur ada yang mau mengantar Akira ke sekolah" ucap Akira tersenyum.


"Jangan seperti itu. Kalau kami bisa mengantar Akira, maka akan kami antar" jelas Naoya.


"Akira belum boleh mengendarai mobil dan jarak menuju halte bus cukup jauh jadi diantar saja ya" ucap Papa.


"Iya Pa, Kak" ucap Akira tersenyum.


30 menit kemudian...


"Ayo Akira" ajak Shinji.


"Iya. Akira pergi Pa, Kak Nao, Kak Yuki" pamit Akira.


"Hati-hati, jangan ngebut Shin" ucap Papa.


"Iya Pa" jawab Shinji.


"Bye-bye" ucap Yuki melambaikan tangannya.


"Semangat belajarnya, hati-hati" ucap Naoya tersenyum.


"Iya Kak, bye-bye" ucap Akira tersenyum.


Di perjalanan...


"Bagaimana Akira?" Tanya Shinji.


"Apa yang bagaimana Kak?" Tanya Akira bingung.


"Hubunganmu dengan Sou" ucap Shinji tanpa menatap Akira.


"Sou? Apa yang Kakak bicarakan? Kami berteman" ucap Akira bingung.


"Masih berteman ternyata" ucap Shinji mengangguk paham.


"Memangnya Kakak ingin Akira bermusuhan dengan Sou?" Ucap Akira tidak percaya.


"Bukan seperti itu, Akira menyukai Sou bukan?" Ucap Shinji tanpa melihat Akira.


Akira sangat terkejut dengan ucapan Shinji. Mukanya memerah dengan ekspresi terkejutnya.


"Itu.."


"Sudah Kakak katakan, Akira tidak perlu menyembunyikannya" ucap Shinji tersenyum. "Jadi bagaimana?" Tanyanya lagi.


"Se-seperti itu." 


"Itu bagaimana?"


(Lagipula Akira tidak yakin Sou akan menyukai Akira) ucap Akira dalam hati sambil menunduk. "Kakak sendiri bagaimana? Apa kemarin berhasil?" Tanya Akira menatap Shinji.


Shinji menatap Akira dengan wajah yang datar.


"Ah, tidak berhasil kah?"


"Itu... itu sangat sukses Akira!" ucap Shinji tersenyum.


"Benarkah?" Ucap Akira memastikan.


"Benar. Saran yang diberikan Akira pada Kakak, sangat-sangat membantu" ucap Shinji tersenyum menatap Akira.


"Syukurlah.." ucap Akira yang juga tersenyum.


"Awalnya Kakak mengacaukannya. Kakak sangat gugup tapi pada akhirnya dia menerima Kakak dan sekarang kami resmi berpacaran. Terima kasih banyak Akira"


(Kakak terlihat sangat senang, syukurlah) "Sama-sama Kak. Lain kali kenalkan Akira dengan kekasih Kakak ya, Akira belum pernah bertemu dengannya." 


"Pasti, Kakak pasti akan mengenalkannya kepada Akira, Papa, Kak Nao juga Yuki" ucap Shinji tersenyum. "Akira mau apa? Biar Kakak yang belikan, sebagai tanda terima kasih."


"Apa harus Kak? Akira hanya membantu Kakak, tidak lebih. Akira rasa itu tidak perlu Kak." 


"Tidak, tidak. Kakak berhasil juga karena saran Akira kemarin. Lagipula tidak ada salahnya jika seorang kakak memenuhi keinginan adiknya." 


"Kalau begitu.. tolong doakan Akira agar Akira berhasil mencapai semua keinginan Akira dan semuanya berjalan lancar Kak" ucap Akira tersenyum.


"Hanya itu?" Ucap Shinji tidak percaya.


Akira mengangguk. "Hanya itu."


"Apa Akira tidak ingin sesuatu seperti Raket? Baju? Buku? Atau boneka, mungkin?" Tanya Shinji lagi.


"Hmm.. tidak Kak, hanya itu" ucap Akira tersenyum.


"Apa Akira yakin? Tidak apa, jika Akira menginginkan sesuatu katakan saja" ucap Shinji lagi.


"Kalau begitu, sama es krim" ucap Akira tersenyum.


Shinji menatap Akira yang sedang tersenyum. "Kau ini" ucap Shinji mengacak-acak rambut Akira.


"Tentu, Kakak akan selalu mendoakan agar Akira sukses, semua cita-cita Akira tercapai dan semua berjalan dengan lancar. Kakak juga berdoa untuk kebahagiaan Akira" ucap Shinji menatap Akira sambil tersenyum. "Beli es krimnya nanti saja ya, ini masih pagi" ucap Shinji lagi.


"Terima kasih Kak. Iya, es krimnya nanti saja" ucap Akira tersenyum.


"Ah benar, Kakak juga berdoa semoga Akira bisa mendapatkan orang yang Akira sukai" ucap Shinji lagi.


Akira menatap Shinji sedikit terkejut. Wajahnya kembali memerah. Dia kemudian mengalihkan pandangan ke kaca mobil di sampingnya dan tersenyum tipis.


"Apa Akira malu hm?" Ucap Shinji mencolek dagu Akira.


"Tidak, Akira tidak malu" ucap Akira tanpa melihat ke arah Shinji.


"Akira memang Akira" ucap Shinji tersenyum sambil mengelus kepala Akira.


Tak lama kemudian mereka sampai di sekolah.

__ADS_1


"Nanti sore Kakak jemput ya, sekalian beli es krim untuk Akira. Semangat belajarnya ya" ucap Shinji mengelus kepala Akira.


"Iya Kak, terima kasih."


"Sou sudah datang (Shinji melihat Sou yang hampir sampai ke tempat mereka berdiri), Kakak pulang ya" pamitnya tersenyum.


"Sou?" Ucap Akira mengikuti pandangan Shinji.


"Bye-bye Akira, semangat!" Ucap Shinji lagi.


"Baiklah Kak, hati-hati. Bye-bye."


Shinji kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


"Hati-hati Kak" ucap Akira melambaikan tangannya.


"Selamat pagi" sapa Sou.


"Ah, selamat pagi Sou" ucap Akira tersenyum.


"Ayo masuk" ajak Sou.


"Iya."


Saat Istirahat...


"Ayano, ayo makan bersama" ajak Akira.


"Aku harus membeli dulu di kantin. Kantin pasti sangat penuh sekarang, kamu duluan saja ya. Aku ke kantin dulu" ucap Ayano kemudian pergi.


"Baiklah" ucap Akira tersenyum. Akira kemudian menghampiri meja Sou.


"Sou, mau makan bersamaku?" Tanya Akira.


Sou mengangguk. "Tentu, ayo."


Akira dan Sou kemudian berjalan bersama menuju rooftop.


"Ayano pasti pergi sendiri lagi bukan?" Ucap Sou tanpa melihat Akira.


"Ayano bilang dia harus membeli dulu makanannya di kantin dan kantinnya pasti sangat ramai sekarang, jadi dia menyuruhku untuk makan duluan saja" jelas Akira.


"Alasan."


"Kamu mengatakan sesuatu, Sou?" Tanya Akira.


"Tidak, aku tidak mengatakan apapun" ucap Sou tersenyum.


"Sou!! Tunggu sebentar Sou!" Teriak seseorang dari belakang Sou dan Akira. Mereka kemudian melihat ke sumber suara dan itu adalah ketua klub basket dengan peralatan basket yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. 


"Astaga, lelah sekali" ucap Ketua klub basket meletakan peralatan yang dia bawa dengan nafas yang tidak beraturan.


"Ada apa Ketua? Ketua terlihat kerepotan" ucap Sou.


"Oleh karena itu aku memanggilmu. Tolong bantu aku membawa semua ini" jelas Ketua. "Maaf ya, aku membutuhkan bantuan Sou sebentar" ucap Ketua kepada Akira.


"Tentu Kak. Sini bekalmu Sou, biar aku bawakan" ucap Akira kepada Sou.


"Terima kasih Akira" ucap Sou tersenyum sambil memberikan kotak makannya kepada Akira. "Sini Ketua" ucapnya kepada Ketua.


"Terima kasih ya kalian berdua, hati-hati ini berat" ucap Ketua memberikan beberapa peralatan yang dibawa kepada Sou.


"Apa ada yang bisa Akira bantu Kak?" Tanya Akira menawarkan diri.


"Jangan Akira, nanti jika kamu membantu kami siapa yang akan membawakan bekal kita" ucap Sou.


Ketua kemudian tersenyum. "Terima kasih Akira tapi Sou benar, lagipula ini cukup berat jadi tidak usah."


"Baiklah, Akira mengerti" ucap Akira pasrah.


Ketua kemudian berjalan mendahului Sou dan Akira.


"Maaf ya kami jadi merepotkanmu, padahal tadinya kita hanya akan makan bersama" ucap Sou menatap Akira.


"Tidak masalah Sou, Ketua juga sedang kesusahan jadi tidak apa-apa. Apa kamu serius tidak perlu bantuan?" Ucap Akira menatap Sou juga.


"Aku serius. Lagipula aku sudah meminta bantuanmu untuk membawakan bekalku bukan?" 


"Benar sih, tapi.."


"Tidak masalah, aku kuat kok" ucap Sou tersenyum pada Akira.


"Baiklah jika seperti itu" ucap Akira yang juga tersenyum.


Sou kemudian mempercepat langkahnya mendekati Ketua.


"Ketua, sebenarnya untuk apa semua ini? Apa peralatan di gimnas rusak?"


"Iya, peralatan disana sudah rusak jadi aku harus menggantinya. Maaf ya aku meminta bantuanmu disaat kamu sedang berkencan." 


"Iya iya, aku tahu. Tapi selain baik, Akira juga pengertian ya" ucap Ketua tersenyum.


Sou tersenyum tipis. "Iya, begitulah Akira."


"Apa kamu menyukainya?" Tanya Ketua yang membuat Sou terkejut.


"Jangan terkejut seperti itu. Tidak masalah jika kamu menyukainya, aku jadi tidak akan merebutnya darimu" ucap Ketua tersenyum.


"Ap-"


"Kau tahu? Akira adalah gadis yang cantik, pintar, dan juga baik. Aku juga dengar bahwa dia adalah seorang atlet, jadi dengan penampilan dan sikapnya yang seperti itu siapapun pasti akan menyukainya." 


"Termasuk Ketua?" Tanya Sou.


Ketua menatap Sou sebentar dan tersenyum. "Kalau iya, bagaimana? Apa kamu cemburu?"


Sou tidak menjawab pertanyaan Ketua, dia hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam.


(Mengerikan) batin Ketua melihat Sou.


"Aku hanya bercanda Sou. Aku tidak mungkin selingkuh dari kekasihku. Kamu tenang saja aku tidak akan mengambilnya darimu" ucap Ketua tersenyum.


Sou menatap Ketua seolah menanyakan kebenarannya.


"Aku serius. Kekasihku ada di SMA Shibuya, aku tidak akan mengkhianatinya karena aku sangat mencintainya dan aku bukan orang yang suka berselingkuh" jelas Ketua. "Aku akan memberikan saran untukmu. Jika kamu menyukainya katakanlah kepadanya sebelum dia diambil orang. Pikirkanlah baik-baik" ucap Ketua kembali tersenyum.


Sou lagi-lagi tidak menjawab Ketua, dia hanya menunduk memikirkan apa yang ketua klubnya katakan.


Sesampainya di gimnas...


"Ini diletakan dimana Ketua?" Tanya Sou.


"Di pinggir lapang dulu saja."


"Baiklah" ucap Sou mengikuti Ketua dari belakang.


"Apa Akira juga harus ikut ke dalam? Atau tunggu disini saja ya?" Ucap Akira bingung karena di dalam gimnas terdapat beberapa anggota klub basket.


"Aduh, tanganku sakit" ucap Ketua mengibas-ngibaskan tangannya. "Loh, dimana Akira? Apa tertinggal?"


"Benarkah?" Ucap Sou mencari keberadaan Akira.


"Akira, kemarilah!" ucap Ketua klub berteriak setelah menemukan Akira di pintu masuk.


"Ba-baik Kak."


Akira kemudian menghampiri Ketua, Sou dan beberapa anggota klub basket di lapangan.


"Kenapa diam saja disana?" Tanya Ketua pada Akira.


"Itu.."


Ketua tersenyum. "Tidak masalah Akira. Ngomong-ngomong, waktu istirahat tinggal sedikit, bagaimana jika kalian ikut makan bersama kami disini?" Ajak Ketua.


"Ketua benar. Bagaimana Akira?" Tanya Sou.


"Aku tidak masalah Sou. Apa kami boleh bergabung disini?" Tanya Akira ragu.


"Tentu saja. Sou juga salah satu anggota kami dan Akira adalah keka- temannya Sou, jadi tidak masalah. Kamu juga sudah bertemu dengan orang-orang disini bukan? Benarkan teman-teman?" Jelas Ketua.


"Iya tidak masalah, daripada kalian kembali dan waktu istirahatnya habis" ucap salah satu anggota.


"Baiklah, kami ikut bergabung" ucap Sou.


"Maaf mengganggu, Akira ikut bergabung" ucap Akira sedikit membungkuk.


"Tentu, silahkan duduk" ucap Ketua.


Mereka kemudian duduk membentuk lingkaran besar. Akira duduk diantara Sou dan Ketua.


"Ini Sou" ucap Akira memberikan bekal Sou.


"Terima kasih Akira."


"Ini juga untuk Sou" ucap Akira memberikan satu kotak makannya.


"Terima kasih, sepertinya aku selalu merepotkan Akira ya" ucap Sou tersenyum.


"Tidak masalah Sou, karena Akira juga membuatnya" ucap Akira yang juga tersenyum.


"Wahh.. apa itu Sou? Kelihatannya enak, bolehkah aku memintanya?" Ucap salah satu teman yang duduk di pinggir Sou.


"Silahkan" ucap Sou menyodorkan kotak makan yang dibawa oleh Akira.


"Kenapa telurnya enak sekali? Berbeda dengan masakan Ibuku" ucap anggota itu terkejut.

__ADS_1


"Apa yang enak?" Tanya Ketua.


"Bekal Sou, telurnya enak."


"Boleh aku minta Sou?" Ucapnya pada Sou.


Sou menatap Ketua sebentar. "Boleh Ketua" ucap Sou menyodorkan kotak makannya kepada Ketua.


"Benar, ini enak sekali.. apa Ibumu yang buat?" Tanya Ketua.


"Itu.. ah em, Ibuku yang buat" ucap Sou tersenyum.


"Berarti Ibumu bisa membuatkannya lebih banyak untuk kami semua."


Sou terkejut menatap Ketua. "Maaf Ketua, Ibuku orang yang disiplin. Ibu akan membuatkan makanan sesuai dengan jumlah keluarga yang ada, tanpa berlebih. Jadi maaf saja."


"Eh benarkah? Sayang sekali kalau begitu" ucap Ketua kecewa. "Akira juga harus mencobanya."


"Ah, iya. Tapi bekal Akira juga telur" ucap Akira tersenyum.


"Padahal enak loh" ucap Ketua lagi.


"Iya Kak."


(Itu kan memang buatan Akira) ucap Sou kembali melanjutkan makannya.


Beberapa lama kemudian...


"Terima kasih sudah memperbolehkan kami untuk bergabung, Kak" ucap Akira tersenyum.


"Tidak masalah. Terima kasih juga kalian sudah membantu Sou, Akira" ucap Ketua tersenyum.


"Sama-sama Kak. Sepertinya kami harus kembali ke kelas" ucap Akira lagi.


"Iya, pergilah. Aku juga akan kembali ke kelas setelah membereskan ini semua" ucap Ketua menunjuk peralatan yang masih ada di lapangan.


"Apa Ketua butuh bantuan?" Tanya Sou.


"Tidak, tidak. Aku bisa melakukannya sendiri. Kembalilah sebelum bel berbunyi" titah Ketua.


"Baiklah, terima kasih Ketua" ucap Sou sedikit membungkuk.


"Terima kasih Kak, kami permisi" pamit Akira.


"Iya, hati-hati. Ingat saranku tadi Sou" ucap Ketua tersenyum.


"Aku akan mengingatnya Ketua, kami pergi" pamit Sou.


Sou dan Akira kemudian pergi meninggalkan Ketua dan beberapa orang yang masih berada di lapangan gimnas.


"Maaf Akira, aku berbohong tentang masakanmu" ucap Sou menunduk.


"Tidak apa Sou, itu bukan masalah besar" ucap Akira tersenyum.


"Aku tidak ingin kamu direpotkan oleh mereka dan kalau bisa biarkan Akira memasak makanan untukku saja, biar aku saja yang memakan masakan Akira" ucap Sou yang masih menunduk.


"Apa kamu menyukai masakanku?" Tanya Akira.


Sou mengangguk. "Sangat "


"Kamu sedang tidak berbohong bukan?" Ucap Akira lagi.


"Apa aku terlihat sedang berbohong? (Sou menghentikan langkahnya, dia menatap dalam Akira) Aku serius menyukai masakanmu, jadi masaklah untukku jangan untuk temanmu yang lain" ucap Sou menatap Akira.


Akira tersenyum. "Baiklah jika Sou berkata seperti itu. Aku akan memasak makanan untukmu, hanya untuk Sou."


"Terima kasih" ucap Sou tersenyum.


"Sama-sama."


Di kelas...


"Akira! Aku mencarimu, kamu dari mana saja?" Ucap Ayano menghampiri Akira.


"Maaf Ayano, tadi aku dan Sou membantu Ketua klub basket membawa peralatan ke gimnas."


"Bersama Sou?"


"Iya, ada apa?"


"Tidak. Pantas saja aku tidak menemukanmu" ucap Ayano mengangguk paham.


"Maaf." 


"Tidak masalah" ucap Ayano tersenyum.


Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi.


"Seperti biasa, Guru tidak akan masuk. Kita disuruh belajar mandiri dan menyelesaikan tugas. Kumpulkan tugasnya sampai jam pulang sekolah ya" ucap Ketua Kelas.


"Akira, bisakah kamu mengajarkanku?" Ucap Gideon, salah satu teman Akira.


"Tentu" ucap Akira tersenyum.


"Terima kasih" ucap Gideon tersenyum. Dia kemudian mengambil kursi dan duduk di hadapan Akira. 


"Aku juga ikut" ucap Riki, salah satu teman Akira juga.


(Kenapa aku kesal melihat mereka duduk dengan Akira? Sial! Aku malah memikirkan ucapan Ketua tadi) ucap Sou dalam hati.


BRAKKK!! Sou membanting buku-bukunya ke meja yang menimbulkan suara keras yang membuat semua orang terkejut. Dia kemudian menghampiri Akira dan teman-temannya.


"Lebih baik kalian belajar bersama denganku, aku juga pintar loh" ucap Sou tersenyum tetapi sorot matanya sangat tajam.


"So-Sou?" Ucap Akira gugup karena terkejut.


"Ayo" ajak Sou pada 2 orang siswa itu.


"Ba-baik" jawab Gideon.


"Baik Sou" jawab Riki.


Sou kemudian menarik tangan Gideon dan Riki ke tempat duduknya.


"Jadi bagaimana? Apa yang tidak kalian pahami?" Tanya Sou kepada Gideon dan Riki. Sedangkan yang ditanya hanya diam dan gugup.


"Ada apa dengannya?" Tanya Ayano.


"Entahlah, aku juga tidak tahu" ucap Akira menatap punggung Sou.


Pulang sekolah...


Shinji tersenyum saat melihat Akira berjalan menghampirinya bersama dengan Sou dan Ayano.


"Kakak" sapa Akira tersenyum dan Shinji hanya melambaikan tangannya.


"Selamat sore Kak" sapa Sou dan Ayano.


"Selamat sore juga" ucap Shinji tersenyum.


"Ayo pulang, nanti Akira terlambat latihannya" ucap Shinji.


"Iya Kak. Sou, Ayano, aku pulang duluan ya, ada latihan" pamit Akira.


"Iya, semangat latihannya Akira" ucap Ayano tersenyum.


"Terima kasih, sampai jumpa besok. Bye-bye." 


"Bye-bye, semangat Akira" ucap Sou tersenyum.


"Terima kasih Sou, aku duluan" ucap Akira kemudian memasuki mobil. Dia melambaikan tangannya pada Ayano dan Sou.


"Akira sangat sibuk ternyata. Aku penasaran bagaimana bisa dia membagi waktunya seperti itu" ucap Ayano menatap kepergian Akira.


"Entahlah" ucap Sou yang pergi mendahului Ayano.


Disisi lain...


"Bye-bye, semangat Akira" ucap Shinji menirukan ucapan Sou tadi sambil tersenyum.


"Apa sih Kak? Memangnya kenapa jika Sou berkata seperti itu?" 


"Tidak ada, tapi sepertinya.. Akira, Kakak yakin kamu akan berhasil dengan Sou" ucap Shinji tersenyum.


"Apa yang kakak katakan? Jangan mengatakan hal aneh Kak" ucap Akira mempoutkan bibirnya.


"Tapi benar bukan? Akira menyukainya?" Ucap Shinji menatap Akira.


"Kakak jangan berbicara hal aneh. Lagipula Akira tidak tahu Sou menyukai Akira juga atau tidak. Lagipula Papa mungkin akan marah jika tahu Akira pacaran" jelas Akira sambil menunduk.


"Hmm, Akira benar. Kalau begitu kita akan buat Papa mengizinkan Akira pacaran" ucap Shinji tersenyum.


"Kakak mengatakan hal aneh lagi."


"Kakak tidak mengatakan hal yang aneh. Kakak mengatakan ini karena Kakak tahu kita mungkin kita bisa mengatasinya" ucap Shinji tersenyum menatap Akira. "Nah, sudah sampai. Ayo beli es krim untuk Akira" ucap Shinji lagi.


"Ohoo Kakak masih ingat ternyata" ucap Akira tersenyum.


"Tentu saja, Kakak bukan orang yang suka mengingkari janji."


"Akira tahu, hanya saja Akira lupa tentang es krim tadi" ucap Akira tersenyum.


"Dasar kamu ini. Baiklah ayo turun kita beli semua es krim yang Akira suka" ucap Shinji lagi.


"Terima kasih banyak Kak."

__ADS_1


"Sama-sama."


__ADS_2