
"Anak-anak, hari ini kita akan membuat kerajinan kayu dengan teknik pahat. Di depan kalian sudah ada beberapa peralatan seperti pahat, pisau dan palu kecil. Tolong berhati-hati, jangan sampai ada yang terluka, mengerti?" Jelas Ibu Guru.
"Mengerti Bu" ucap murid serempak.
"Bukankah ini sangat berbahaya?" Ucap Ayano pada Akira.
"Oleh karena itu, kita harus berhati-hati" ucap Akira tersenyum.
Ayano mengangguk. "Haruskah kita mulai memahat?" Ucap Ayano lagi.
"Sepertinya begitu."
Para murid kemudian mulai memahat kayu dengan pola yang sudah diberikan oleh guru. Guru juga tidak henti-hentinya mengingatkan kepada seluruh murid untuk berhati-hati dan jangan sampai terluka.
Suasana di kelas cukup hening, tidak ada percakapan yang terdengar di kelas ini kecuali suara besi dan kayu yang saling beradu serta suara guru yang terus mengingatkan untuk berhati-hati. Para murid sangat fokus dengan pekerjaannya masing-masing termasuk Akira.
"Ternyata memahat itu sulit ya?" Ucap Akira tersenyum.
"Kamu benar" ucap Hana yang berdiri di samping Akira. "Akira?! Ta-" Ucap Hana terkejut.
Akira dengan cepat meletakan jari telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan Hana untuk diam dan tidak berbicara lagi.
"Tolong jangan ribut, ini bukan masalah besar." Bisik Akira.
"Tapi itu-"
"Aku tidak ingin membuat keributan. Ini kesalahanku dan aku juga tidak ingin dimarahi oleh Bu Guru. Aku tidak apa, sebentar lagi juga kering kok" ucap Akira tersenyum.
"Itu menetes Akira, ayo-"
"Bagaimana Akira? Apa sudah selesai?" Tanya Bu Guru menghampiri Akira.
"Sedikit lagi Bu" jawab Akira tersenyum. Dia menyembunyikan tangannya di bawah meja.
"Kalau begitu lanjutkan ya" ucap Ibu Guru tersenyum.
"Baik bu" ucap Akira yang juga tersenyum. Ibu Guru kemudian pergi melihat murid yang lainnya.
"Ayo ke UKS, Akira! Darahnya banyak sekali" ucap Hana semakin panik tetapi Akira tetap menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja. Tolong jangan ribut, Hana" ucap Akira lagi.
"Tapi-"
"Anak-anak, Ibu harus mengambil daftar absen di ruang guru. Kalian teruskan pekerjaan kalian dan ingat, harus hati-hati, jangan sampai ada yang terluka."
"Baik Bu." Jawab para murid. Setelah itu Bu Guru keluar ruangan.
"Akira, ayo ikut aku" ucap Sou menghampiri Akira dan tiba-tiba menarik tangannya.
"Tunggu Sou, kita mau kemana?" Ucap Akira bingung.
"Diam dan ikuti saja aku" ucap Sou tanpa melihat Akira dan tetap menarik Akira keluar ruangan.
"Sou, Akira mau dibawa kemana?" Ucap Hana sedikit berteriak tetapi diabaikan oleh Sou.
"Sou, mau kemana?" Tanya Hiro berteriak yang juga diabaikan oleh Sou.
"Akira mau kemana?" Tanya Ayano pada Hana.
"Tidak tahu, Sou tiba-tiba membawanya" jelas Hana.
"Kemana mereka pergi?" ucap Ayano penasaran.
"Aku akan mengikutinya dulu" ucap Hana kemudian pergi keluar ruangan. "Sou membawa Akira kemana ya? Apa dia tidak tahu Akira sedang terluka?" Ucap Hana yang kehilangan jejak mereka.
"Hana, mau kemana? Kenapa keluar kelas?" Ucap Bu Guru.
"Itu.."
"Kamu tidak berniat untuk bolos bukan? Ayo masuk!" ucap Bu Guru menekan kalimatnya di akhir yang membuat Hana takut. Dia terpaksa mengikuti perkataan Bu Guru dan kembali masuk ke kelas.
Disisi lain...
"Sou, kita mau kemana?" Tanya Akira sedikit panik. "Sou lepaskan, jangan ditarik seperti ini" ucap Akira lagi.
Walaupun Akira sudah bertanya tetap tidak ada jawaban dari Sou. Dia terus menariknya dan masuk ke ruang UKS. Sou kemudian mendudukan Akira di tepi kasur.
(Apa yang akan Sou lakukan?) Batin Akira bingung. Sou kemudian pergi beberapa saat dan kembali dengan kotak P3K di tangannya. Dia kemudian berjongkok di depan Akira.
"Kemarikan tanganmu" ucap Sou menarik tangan kanan Akira. "Seharusnya kamu tidak menyembunyikannya. Lihat, darahnya banyak sekali. Sepertinya lukanya cukup dalam" ucap Sou tanpa melihat Akira.
"Ini pasti sakit. Kenapa kamu menyembunyikannya? Bagaimana jika nanti infeksi?" ucap Sou kini menatap Akira khawatir.
"Maaf.. aku hanya tidak ingin membuat yang lain khawatir dan aku tidak ingin dimarahi" jelas Akira menatap telapak tangannya yang berdarah.
Sou kemudian membuka kotak P3K. "Tidak akan ada yang memarahimu jika kamu terluka seperti ini. Tahan sebentar ya."
Sou kemudian mengobati luka Akira dengan antiseptik dan obat-obatan lainnya dengan sangat telaten.
Akira memperhatikan Sou yang sedang mengobati tangannya. (Kenapa Sou bisa tahu?)
"Aww.."
"Tahan Akira, lukanya cukup dalam" ucap Sou tanpa menatap Akira.
"I-iya" ucap Akira sambil menahan perih.
"Pasti sakit ya?" Ucap Sou menatap Akira dan Akira hanya mengangguk. "Maaf ya, tolong tahan sebentar" ucap Sou kembali fokus pada tangan Akira.
Beberapa saat kemudian, Sou selesai mengobati Akira.
"Nah, sudah selesai" ucap Sou tersenyum menatap Akira.
"Terima kasih" ucap Akira menatap Sou.
"Lain kali, kamu harus lebih berhati-hati dan bilang kepada guru jika terjadi sesuatu seperti ini" ucap Sou menatap Akira. "Atau jika kamu takut, kamu bisa bilang kepadaku. Jangan sampai terluka lagi, aku khawatir kepadamu."
Akira menatap Sou sebentar lalu mengangguk paham.
"Lalu sekarang mau bagaimana? Mau izin pulang saja?" Tanya Sou.
Akira menggeleng. "Hanya tanganku saja yang terluka, jadi aku masih bisa mengikuti pelajaran" jelas Akira tersenyum.
"Baiklah kalau seperti itu. Ayo kembali, Bu Guru pasti mencari kita" ajak Sou tersenyum.
"Iya."
Mereka kemudian meninggalkan UKS dan pergi kembali ke kelas.
"Nanti biar aku membantu memahat kayu punyamu" ucap Sou menatap Akira.
"Tidak perlu Sou. Tanganku sudah diobati olehmu, aku baik-baik saja" tolak Akira.
"Bagaimana bisa kamu bilang baik-baik saja dengan luka sedalam itu? Jangan menolak. Aku tahu tanganmu masih sakit bukan?" ucap Sou lagi.
"Tapi-"
"Aku tidak terlalu suka jika ditolak, jadi biarkan aku membantumu" ucap Sou tersenyum.
"Baiklah, jika Sou tidak keberatan tolong bantu aku" ucap Akira yang diangguki Sou.
Saat mereka kembali ke kelas, disana sudah kosong dan hanya ada Ketua kelas saja.
"Kalian dari mana saja? Semua orang sudah selesai" tanya Ketua kelas . "Selesaikan tugasnya dan antarkan ke ruang guru ya, aku duluan" ucap nya lagi. Dia kemudian meninggalkan keduanya di dalam kelas.
"Maaf Sou, kamu jadi ikut tertinggal" ucap Akira menyesal.
"Apa maksudmu? Ini bukan masalah besar. Kita hanya perlu menyelesaikannya dan istirahat bukan?" Ucap Sou tersenyum.
Sou kemudian mengambil kursinya dan duduk di depan Akira.
"Sini, biar aku bantu" ucap Sou akan mengambil kayu Akira.
"Tidak. Selesaikan dulu tugasmu, baru Sou boleh membantuku" tolak Akira.
__ADS_1
"Tidak apa. Kemarikan, aku bisa mengerjakannya dengan cepat" ucap Sou akan mengambil kayu Akira lagi.
"Tidak. Jangan cepat-cepat Sou, nanti kamu akan terluka sepertiku" ucap Akira mengambil kayunya.
"Baiklah, tunggu aku sebentar ya" ucap Sou pasrah.
"Aku juga akan mengerjakan punyaku" ucap Akira mengambil alat-alat memahat lagi.
"Jangan sampai terluka lagi" ucap Sou menatap Akira.
"Iya, aku tidak akan merepotkan Sou lagi" ucap Akira tersenyum. Dia kemudian mulai memahat kembali dengan hati-hati.
"Aku tidak merasa direpotkan dan aku tidak masalah jika direpotkan oleh Akira" ucap Sou fokus pada kayunya.
"Apa yang kamu katakan? Jangan seperti itu, Sou" ucap Akira yang juga fokus pada kayunya.
"Aku serius, aku tidak masalah jika harus direpotkan oleh Akira" ucap Sou menatap Akira yang juga sedang menatapnya.
"Tapi aku tidak enak jika harus merepotkan Sou" ucap Akira menundukan kepalanya.
"Walaupun kamu bilang seperti itu, aku akan tetap datang untuk kamu repotkan" ucap Sou yang membuat Akira tersenyum.
"Sou ada-ada saja" ucap Akira tersenyum tipis.
"Jangan memaksakan jika tanganmu masih sakit. Aku sebentar lagi selesai."
"Tanganku tidak sakit dan aku tidak memaksakan diri" ucap Akira yang masih fokus pada pekerjaannya.
Sou kemudian memperhatikan Akira yang sedang berusaha memahat kayunya. (Akira sangat menggemaskan saat fokus) ucap Sou tersenyum lalu kembali mengerjakan tugasnya.
"Ku dengar setelah istirahat nanti, tidak akan ada pelajaran karena guru-guru akan rapat untuk ujian akhir kita" ucap Sou.
"Benarkah? Itu artinya kita akan pulang cepat hari ini?" Tanya Akira antusias.
"Sepertinya tidak. Kita harus menunggu guru selesai rapat untuk mengetahui hasilnya."
"Ah, Sou benar" ucap Akira mengangguk paham.
"Apa kamu ada latihan hari ini?"
"Tidak, latihanku libur 1 minggu."
"Kenapa?" Ucap Sou menatap Akira.
"Karena evaluasi sudah selesai" ucap Akira menatap Sou yang sedang menatapnya bingung. "Evaluasi itu pertandingan untuk mengetahui peningkatan kemampuan kita" jelas Akira.
"Seperti itu ternyata" ucap Sou mengangguk paham. "Kalau begitu, mau melihat latihan klub basket?"
"Apa klub basket berlatih hari ini?"
"Iya, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk latihan karena turnamen sudah dekat" jelas Sou.
"Bolehkah aku melihatnya?"
"Tentu saja. Banyak orang yang sengaja menonton latihan kami" jelas Sou.
"Aku baru tahu" ucap Akira tersenyum.
"Jadi bagaimana?" Tanya Sou lagi.
"Kalau memang boleh, aku mau melihatnya" ucap Akira tersenyum.
"Baiklah sudah diputuskan ya" ucap Sou tersenyum. "Nah tugasku sudah selesai. Sini, biar aku bantu" ucap Sou tersenyum.
"Tidak perlu Sou, aku juga hampir selesai" ucap Akira tersenyum.
"Kamu yakin?"
"Yakin!" ucap Akira bersemangat.
(Aku tidak bisa mengganggu Akira saat dia sedang bersemangat seperti ini) ucap Sou dalam hati tersenyum memperhatikan Akira.
"Pelan-pelan saja, waktunya juga masih lama" ucap Sou lagi yang diangguki Akira.
(Dia benar-benar menggemaskan) batin Sou memperhatikan Akira.
"Yeeeyyy akhirnya selesai!" ucap Akira senang.
"Syukurlah. Kerja bagus Akira" ucap Sou ikut tersenyum.
"Terima kasih" ucap Akira tersenyum.
"Kalian ada disini ternyata" ucap Ayano dan Hana yang tiba-tiba datang.
"Kami mencarimu. Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Hana khawatir pada Akira.
"Aku baik-baik saja" ucap Akira tersenyum.
"Lain kali, kamu harus lebih berhati-hati Akira. Lihat tanganmu jadi seperti mumi" ucap Ayano menunjuk tangan Akira.
"Iya, aku akan lebih berhati-hati" ucap Akira tersenyum. "Sou memahat dengan sangat baik" ucap Ayano lagi mendekati Sou.
"Akira, ayo kita kumpulkan sebelum istirahat" ajak Sou.
"Itu benar, kumpulkan cepat" ucap Hana setuju.
Mereka berempat kemudian berjalan meninggalkan kelas. Sou berjalan lebih dulu diikuti Ayano disusul Akira dan Hana dibelakang.
"Apa Sou yang melakukannya?" Tanya Hana melihat tangan Akira yang sudah di perban.
Akira mengangguk. "Iya."
"Syukurlah, aku dari tadi mencarimu. Aku khawatir, darahmu banyak sekali sampai menetes seperti tadi" ucap Hana lagi.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja" ucap Akira tersenyum.
"Akira, aku ke kelas duluan ya" ucap Ayano tersenyum.
"Kalau begitu aku juga ke kelas duluan, Akira" ucap Hana.
"Iya Ayano, Hana, sampai jumpa" ucap Akira melambaikan tangannya.
Di ruang guru..
"Kalian dari mana saja? Apa kalian membolos saat pelajaran saya tadi?" Ucap Bu Guru.
"Maaf Bu, tadi tangan Akira terluka jadi kami pergi ke UKS untuk mengobati lukanya" jelas Sou.
"Benarkah? Kamu baik-baik saja?" Tanya Bu Guru khawatir.
"Akira baik-baik saja Bu."
"Syukurlah, kenapa kamu tidak bilang tadi?" Ucap Bu Guru memeriksa tangan Akira.
"Tadi Ibu pergi ke ruang guru untuk mengambil absen" ucap Akira sambil menunduk karena takut. "Maaf Bu."
"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi. Ya sudah kembalilah ke kelas" ucap Bu Guru lagi.
"Baik terima kasih Bu" ucap Sou membungkuk hormat.
"Terima kasih, Bu" ucap Akira juga membungkuk hormat.
Sou dan Akira kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Sudah ku bilang bukan? Kamu tidak akan dimarahi" ucap Sou pada Akira.
"Tapi tetap saja aku takut."
"Apa masih sakit?"
Akira menggeleng. "Tidak."
"Syukurlah" ucap Sou tersenyum.
Di kelas...
__ADS_1
"Teman-teman, aku memiliki kabar yang baik" ucap Ketua kelas. "Setelah ini, tidak akan ada pelajaran karena guru-guru sedang rapat dan kita tidak diberi tugas apapun" jelas Ketua kelas yang membuat semua murid bersorak ria.
"Hanya saja, kita tidak boleh pulang terlebih dahulu. Kita akan pulang pada jam biasanya. Nikmati waktu kalian teman-teman" ucap Ketua Kelas tersenyum.
Sou kemudian menengok ke arah Akira dan tersenyum. Akira yang melihat Sou tersenyum, juga ikut tersenyum.
Sou kemudian berdiri dan menghampiri Akira.
"Aku benar bukan?" Ucap Sou menghampiri Akira.
"Iya. Aku curiga Sou punya orang dalam" ucap Akira tersenyum.
"Apa yang benar? Orang dalam apa?" Ucap Ayano bingung.
"Bukan suatu hal yang penting" ucap Sou tidak ingin menjawab Ayano. "Sekalian makan disana saja ya" ucap Sou lagi pada Akira.
"Boleh" jawab Akira tersenyum.
"Kalian mau kemana? Aku ikut" ucap Ayano lagi.
Akira menatap Sou sebentar seolah bertanya bagaimana. Sou kemudian mengangguk.
"Aku mau lihat latihan klub basket" jelas Akira.
"Basket? Aku juga mau lihat, boleh kan?" Tanya Ayano.
"Terserah kau saja" ucap Sou dingin.
"Terima kasih" ucap Ayano tersenyum.
"Tapi Sou, aku harus membeli sendok terlebih dahulu di kantin. Aku tidak bisa makan menggunakan sumpit sekarang" ucap Akira menunjukan tangannya yang terluka.
"Kalau begitu ayo kita ke kantin bersama. Aku juga mau membeli makan" ucap Ayano tersenyum.
"Aku akan menunggu disini" ucap Sou yang diangguki oleh Akira dan Ayano.
Akira dan Ayano kemudian pergi ke kantin bersama. Saat sampai disana suasananya sangat ramai dengan antrian panjang para murid yang akan membeli makanan di setiap kedainya.
"Ramai sekali.. apa Ayano selalu menunggu antrian seperti ini?" Tanya Akira.
"Begitulah" ucap Ayano tersenyum.
"Ayano!" Panggil seseorang dan itu adalah teman-temannya. Mereka bertiga kemudian menghampiri Ayano dan Akira.
"Ayo makan bersama" ucap salah satu teman Ayano.
"Maaf teman-teman, aku sudah berjanji dengan Akira dan Sou untuk makan bersama" ucap Ayano tersenyum.
"Ehh begitukah? Hai Akira" sapanya pada Akira.
"Halo" ucap Akira tersenyum.
"Kalau begitu kamu jadi kan ikut ke klub malam ini?" Tanya yang satunya.
(Klub?)
"Hmm.. nanti aku kabari lagi" ucap Ayano tersenyum.
"Kamu harus datang, sugar daddymu selalu menanyakanmu. Pokoknya harus datang!" ucap yang satunya.
(Tunggu, apa mereka..)
"Iya, nanti aku kabari lagi" ucap Ayano.
"Itu dia, siap-siap teman-teman" bisik teman ketiga.
Seorang siswi berjalan di depan teman-teman Ayano dan tiba-tiba dia tersandung sesuatu hingga terjatuh. Melihat itu teman-teman Ayano malah tertawa dan Ayano hanya memperhatikan siswi itu dengan tatapan yang tajam.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Akira membantu siswi itu berdiri.
Siswi itu menatap Akira dengan mata yang mengkilap.
"Terima kasih" ucapnya kemudian pergi meninggalkan Akira.
(Apa dia menangis?)
"Oh?" Akira melihat kertas yang dijatuhkan oleh siswi tadi.
"Tunggu sebentar" ucap Akira pada siswi itu. Akira mengambil kertasnya yang terjatuh dan menyusulnya.
"Anak itu tidak asik" ucap salah satu teman Ayano menatap Akira.
"Begitulah dia" ucap Ayano tersenyum.
"Aku kagum, kau masih bisa berteman dengannya. Jika aku menjadi kau, aku sudah sangat muak" ucapnya lagi.
Disisi lain...
"Tunggu sebentar" ucap Akira berlari menyusul siswi tadi.
Siswi itu berhenti dan membalikan badannya.
"Kamu menjatuhkannya" ucap Akira setelah sampai di hadapan siswi tadi dan menyerahkan kertasnya.
"Terima kasih" ucap siswi itu sambil menunduk.
"Aku minta maaf atas Ayano dan teman-temannya tadi. Mohon maafkan mereka" ucap Akira sambil membungkuk.
"Kenapa kamu yang meminta maaf? Apa kamu juga salah satu temannya?"
"Aku teman sekelas Ayano tapi aku tidak mengenal siswi yang lainnya. Aku yakin aku melihat dia sengaja menjulurkan kakinya untuk menghalangi langkahmu. Aku minta maaf" jelas Akira.
"Pantas saja aku baru melihatmu bersama mereka. Tidak apa, itu sudah biasa" ucap siswi tersebut sambil menunduk
"Sudah biasa?" Ucap Akira terkejut.
"Iya, mereka selalu menjahiliku dan orang lain yang tidak mereka sukai" jelasnya sambil memainkan kertas yang diberikan oleh Akira.
"Bagaimana bisa mereka seperti itu?" Ucap Akira tidak percaya.
Siswi itu menggelengkan kepalanya. "Terima kasih ya. Kalau tidak salah, kamu Akira dari 1A kan? "
"Iya, aku Akira" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih banyak Akira. Kamu orang yang baik, akan lebih baik jika kamu tidak mendekati mereka. Ah, maafkan aku. Itu hakmu untuk berteman dengan siapapun, tapi aku mohon kamu tidak boleh terpengaruh oleh orang-orang itu walaupun aku yakin kamu tidak akan terpengaruh oleh mereka" ucap Siswi itu tersenyum. "Baiklah aku permisi ya. Sekali lagi terima kasih" ucapnya lagi sambil membungkuk dan kemudian pergi.
"Iya, sampai jumpa" ucap Akira menatap kepergian siswi tadi.
(Teman-teman Ayano sangat kasar, apa Ayano juga seperti itu? Tidak mungkin bukan? Akira yakin Ayano hanya ikut-ikutan saja, dia orang yang baik) ucap Akira dalam hati.
"Akira kamu lama sekali!" teriak Ayano. "Kemarilah" ucap Ayano mundur menyisakan jarak diantaranya untuk Akira berbaris.
Akira menggeleng. "Aku harus berbaris terlebih dahulu" ucap Akira karena di belakang Ayano ada 5 orang yang sudah berbaris.
"Tidak masalah Akira, masuk saja ke sini. Akan lama lagi jika kamu ke belakang" ucap teman Ayano.
"Tidak, aku akan berbaris di belakang. Teman-teman yang lain sudah lebih dulu berbaris dariku, aku tidak bisa menyela antriannya" jelas Akira kemudian berbaris di belakang.
"Ckk.. sudah dikasih gampang malah memilih yang susah!" ucap teman Ayano lagi yang masih bisa didengar oleh Akira.
"Maaf ya" ucap Akira tersenyum.
(Akira sedikit tidak suka pada mereka) batin Akira menatap teman-teman Ayano.
"Aku kira kamu akan menyela, Akira" ucap Hiro yang mengantri di belakang Akira.
"Aku tahu cara mengantri yang benar" ucap Akira tersenyum.
"Kamu memang berbeda dari mereka ternyata" ucapnya lagi sambil tersenyum. "Apa kamu tahu? Ini adalah alasan Sou selalu bersikap dingin kepada Ayano" jelas Hiro.
"Benarkah? Pantas saja.. aku mengerti sekarang" ucap Akira mengangguk paham.
"Ayo maju Akira" ucap Hiro lagi sambil tersenyum.
"Iya Hiro" ucap Akira yang juga tersenyum.
__ADS_1