
"Akira pulang" ucap Akira memasuki rumah.
"Selamat datang" sambut Shinji.
"Kak Shin tidak berangkat kerja?" Tanya Akira.
"Tidak, Kakak akan bekerja di rumah saja" ucap Shinji berjalan mendahului Akira.
"Apa Kakak sudah makan?" Tanya Akira kepada Yuki yang berjalan di sampingnya.
"Sudah, bersama Kak Shin tadi" ucap Yuki tersenyum. "Akira mau makan apa? Biar Kakak pesankan" ucap Yuki lagi.
"Hmm.. tidak usah Kak, biar Akira masak nasi goreng saja" tolak Akira sambil mendudukan dirinya di samping Shinji.
"Yakin tidak ingin pesan ayam? Stok ayam di rumah sudah habis loh" Tanya Yuki lagi.
Akira terlihat berpikir sebentar. "Tapi Akira tidak ingin makan ayam" ucap Akira.
"Lalu mau makan apa? Akira lelah bukan, jadi tidak usah memasak, biar Yuki yang belikan" ucap Shinji lagi.
"Nanti Akira beli sendiri saja Kak, sekalian beli kebutuhan Akira" ucap Akira tersenyum.
"Akira yakin?" Tanya Yuki.
"Yakin Kak, Akira juga mau cari bakso saja nanti" ucap Akira tersenyum.
"Bagaimana sekolahnya hari ini? Apa ada kemajuan?" Tanya Shinji menatap Akira.
"Kemajuan apa Kak?" Tanya Akira bingung. Yuki juga ikut menatap Shinji bingung.
"Kemajuan?" Tanya Yuki.
"Tentang hubungan Akira dengan siapa ya? Kou? Tou? S..ss Sou?" Ucap Shinji bingung.
Akira yang mendengar perkataan Shinji pun terkejut. "Apa mak-"
"Hee... Akira memiliki hubungan dengan Sou?!" Ucap Yuki menutup mulutnya tidak percaya.
"Reaksimu sama sepertiku saat pertama kali aku mengetahuinya. Mereka bahkan memiliki foto bersama" ucap Shinji tersenyum.
"Tidak Kak, Kak Shin salah paham" jelas Akira pada Yuki. "Kak Shin, jangan menyebarkan berita hoax" ucap Akira mempoutkan bibirnya.
"Kakak tidak percaya, Akira. Ini sedikit membuat Kakak syok" jelas Yuki.
"Tidak seperti itu Kak!" Rengek Akira. "Kak Shin jahat!" rengek Akira.
"Tidak masalah bukan? Kakak hanya menyampaikan berita bahagia saja kepada Yuki" ucap Shinji tersenyum.
"Tapi beritanya salah Kak, Kak Yuki jadi ikut salah paham" rengek Akira.
"Adiknya Kakak sudah besar ternyata" ucap Yuki tersenyum haru menatap Akira.
"Sudah Akira bilang, Itu-"
"Bagi Kakak tidak masalah, asalkan dia bisa menjaga dan membuat Akira bahagia. Kakak rasa juga dia orang baik" ucap Yuki tersenyum sambil mengelus lembut kepala Akira. "Pantas saja Kakak selalu melihat kalian bersama, saat masuk dan pulang sekolah" goda Yuki.
"Kakak!!" Rengek Akira.
"Tuh kan, Yuki saja setuju jadi tidak perlu disembunyikan lagi" ucap Shinji mengelus kepala Akira.
"Tapi ini tidak benar Kak" Akira menatap kesal Shinji dengan wajah yang memerah karena kesal dan malu secara bersamaan. "Akira mau ke kamar saja" ucap Akira berdiri.
Shinji dan Yuki tersenyum gemas. "Iya, ganti baju dulu sana. Akira yakin tidak ingin pesan makanannya sekarang?" Tanya Shinji memastikan.
"Iya Kak, nanti biar Akira saja yang cari. Akira juga belum tahu mau makan apa. Akira ke kamar dulu" pamitnya kemudian pergi.
Di kamar...
"Kakak menyebalkan" gerutu Akira yang sedang mengganti bajunya.
Tak lama kemudian, terdengar notifikasi masuk ke handphone Akira yang menandakan ada pesan masuk. Dia kemudian mempercepat kegiatannya dan menghampiri handphonenya.
Ayano: "Akiraaa **"
Ayano: "Maafkan aku"
Ayano: "Aku benar-benar tidak sengaja tadi"
Ayano: "Sungguh maafkan aku"
Ayano: "Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi"
Ayano: "Maaf"
"Ada apa dengannya?" Ucap Akira bingung.
Akira: "Ada apa Ayano? Minta maaf untuk apa?"
Ayano: "Aku hampir membuatmu terjatuh di tangga tadi **"
Akira: "Tidak apa Ayano, bukankah kamu sudah meminta maaf tadi?"
Ayano: "Tapi Sou masih marah **"
"Sou?" Ucap Akira bingung.
Akira: "Sou?"
Ayano: "Iya, dia masih marah kepadaku **"
Akira: "Maaf Ayano, aku juga tidak yakin apa yang terjadi dengannya"
Akira: "Aku sudah berbicara dengannya, tapi dia bilang tergantung sikap Ayano"
Ayano: "Dia marah karena aku hampir membuatmu terjatuh tadi **"
(Apa Sou benar-benar marah untukku?)
Ayano: "Oleh karena itu, aku minta maaf kepadamu. Sungguh maafkan aku"
Akira: "Tidak apa-apa Ayano, aku sudah memaafkanmu. Lagipula aku yakin kamu tidak sengaja bukan? Jadi tidak apa-apa"
Ayano: "Terima kasih Akira"
Ayano: "Akira, tolong bantu aku agar Sou tidak bersikap dingin seperti tadi"
Ayano: "Aku sungguh tidak nyaman"
Akira: "Apa yang harus aku lakukan?"
Akira: "Aku akan berbicara dengannya nanti"
Akira: "Tapi aku tidak yakin dapat mengubahnya karena ini semua bergantung kepada keputusan Sou sendiri"
Ayano: "Aku tahu, aku mengerti. Tapi setidaknya dengan penjelasanmu dia akan sedikit berubah"
Ayano: "Aku mohon Akira"
Akira: "Baiklah, nanti aku akan menghubunginya"
Ayano: "Terima kasih banyak Akira, aku percaya kepadamu"
Akira: "Sama-sama"
Akira: "Nanti akan aku hubungi lagi ya"
Ayano: "Iya, terima kasih Akira. Aku menunggumu"
"Sebenarnya bukan itu masalahnya, tapi aku tidak bisa mengatakannya kepada Ayano, takutnya dia jadi sakit hati" gumam Akira menatap layar handphonenya.
__ADS_1
"Baiklah, Akira akan mencobanya nanti" ucap Akira lagi sambil berjalan keluar kamar.
"Kakak, Akira mau beli sesuatu dulu di depan sekalian ke supermarket" pamit Akira.
"Ayo" ucap Yuki berdiri dari duduknya.
"Tidak usah Kak, Akira pergi sendiri saja."
"Kenapa? Diantar Yuki saja, Kakak khawatir kalau Akira keluar sendirian" ucap Shinji.
"Kak Shin benar, biar Kakak antar" ucap Yuki mengambil kunci mobilnya.
"Tidak usah Kak, Akira hanya pergi ke supermarket yang ada di depan komplek saja. Akira juga ingin mencari udara segar, rasanya sudah lama tidak keluar. Jadi Kakak tidak perlu khawatir" jelas Akira tersenyum.
"Baiklah, tapi harus hati-hati ya" ucap Shinji lagi.
"Iya Kak. Akira pergi ya" ucap Akira tersenyum.
"Hati-hati Akira, jika terjadi sesuatu langsung hubungi Kakak" ucap Yuki.
"Akira mengerti Kak" ucap Akira tersenyum. "Akira pergi."
Di perjalanan...
"Tumben sekali tidak ada yang berjualan disini. Akira rasa tadi masih ada penjual bakso" ucap Akira mencari keberadaan tukang bakso dan pedagang lainnya.
"Minyak telonnya juga tidak ada disini" ucap Akira keluar dari supermarket.
"Cari dulu sajakah?" Ucap Akira berjalan, mencari lagi pedagang makanan dan mencari minyak telon yang dia butuhkan.
Akira kemudian masuk ke dalam supermarket yang cukup jauh yang dia temukan.
"Akhirnya.. Akira jadi tidak perlu mencari ke supermarket lain" monolognya. "Sekalian beli camilan saja" ucapnya lagi.
Saat Akira akan belok ke tempat makanan, dia berpapasan dengan Sou yang menuju ke arahnya.
"Sou?"
"Akira ternyata. Aku tidak menyangka kita bertemu disini" ucapnya tersenyum.
"Benar" ucap Akira yang juga tersenyum.
"Sama Kakak?" Tanya Sou.
"Tidak, aku sendiri saja. Apa ada perlu dengan kakakku?" Tanya Akira balik.
"Tidak, hanya bertanya saja" ucap Sou tersenyum. "Sekarang mau kemana?" Tanyanya lagi.
"Akira mau ke sana" ucap Akira menunjuk tempat yang akan dia kunjungi.
"Ayo pergi bersama, aku melupakan sesuatu" ucap Sou tersenyum.
"Ayo Sou" ucap Akira yang juga tersenyum.
Akira kemudian mengambil beberapa camilan ditemani oleh Sou yang katanya ada sesuatu yang dia lupakan tapi dia tidak mengambil apapun.
"Sou, apa kamu sudah menemukan sesuatu yang terlupa tadi?" Tanya Akira.
"Sudah. Kita sekalian saja keluarnya" ucap Sou tersenyum.
"Tapi aku masih lama, aku selalu bingung untuk memilih sesuatu" ucap Akira.
"Tidak masalah, aku akan menunggu" ucap Sou tersenyum.
"Baiklah, terima kasih Sou" ucap Akira tersenyum. "Wah ada rasa cokelat" ucap Akira mengambil beberapa camilan.
"Ternyata Akira suka cokelat" ucap Sou tersenyum.
"Tidak Sou, Akira tidak suka cokelat tapi suka makanan yang memiliki rasa cokelat" jelas Akira.
"Eh, begitukah? Aku baru tahu, ternyata ada juga wanita yang tidak suka cokelat tapi suka dengan makanan yang memiliki rasa cokelat."
"Tentu, aku adalah salah satunya" ucap Akira tersenyum.
"Ah benar. Sou bisakah kita berbicara terlebih dahulu sebelum pulang?" Tanya Akira.
"Tentu, apa terjadi sesuatu?" Tanya Sou.
"Nanti saja ya, kita bicara di taman" ucap Akira tersenyum.
"Baiklah."
Beberapa lama kemudian, Sou dan Akira keluar dari supermarket.
"Maaf ya, aku lama sekali memilihnya tadi" ucap Akira tersenyum canggung.
"Tidak masalah, aku juga sedang tidak sibuk" ucap Sou tersenyum. "Ayo ke taman" ucapnya lagi.
Mereka kemudian berjalan bersama dan duduk di salah satu bangku yang ada di taman.
"Begini Sou.."
"Aku minta maaf untuk tadi di sekolah, Akira" ucap Sou.
"Eh? Kenapa kamu meminta maaf?" Ucap Akira bingung.
"Sepertinya aku sudah sangat berlebihan juga kepadamu tadi. Maaf Akira, aku terbawa suasana. Maafkan aku" ucap Sou menunduk.
Akira menggeleng. "Ini bukan salahmu, Sou. Wajar kamu kesal kepadaku karena aku lemah. Terima kasih sudah melakukannya untukku" ucap Akira tersenyum.
Mendengar perkataan Akira, Sou kemudian menatapnya. "Maaf" ucap Sou kembali menunduk.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Sou lagi.
"Itu.. aku juga ingin membicarakan mengenai tadi siang" ucap Akira ikut menunduk. Dia memainkan ujung rok yang dia gunakan.
"Sebelumnya aku ucapkan lagi terima kasih karena sudah marah dan kesal untukku. Tapi Sou, aku sudah memaafkan Ayano, tidak bisakah Sou juga memaafkannya? Dia terlihat sangat sedih saat sikap Sou berubah hanya karena kejadian tadi" jelas Akira tanpa menatapnya.
"Aku juga sudah berbicara kepadanya. Dia mengatakan bahwa dia mengetahui letak kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya, tapi aku tidak yakin kepadanya. Bukankah aku juga sudah bilang bahwa semuanya tergantung sikapnya?" jelas Sou menatap Akira.
"Tapi aku merasa bersalah kepada Ayano karena Sou kesal kepadanya gara-gara aku" ucap Akira meremas rok yang dia gunakan.
"Tidak Akira, itu tidak benar. Aku kesal karena aku yang mau. Aku benar-benar tidak bisa memaafkan seseorang yang meninggalkan temannya sendiri" jelas Sou tanpa menatap Akira.
(Akira rasa, Sou terlalu berlebihan jika hanya melakukannya untuk Akira, Akira tidak ingin terlibat masalah nantinya)
"Aku mengerti, sepertinya aku tidak bisa membujuk Sou" gumam Akira yang masih bisa terdengar oleh Sou.
Sou kemudian tersenyum. "Kamu tidak akan bisa membujukku."
"Dari awal juga ini sudah menjadi hak Sou untuk menolaknya. Sou, tolong jangan terlalu berlebihan, aku tidak ingin kalian benar-benar menjadi musuh karena kalian adalah temanku. Apalagi karena aku sebagai penyebabnya" ucap Akira menunduk.
"Hm.. (Sou mengangguk), aku mengerti" ucapnya tanpa menatap Akira.
"Terima kasih" ucap Akira tersenyum. "Ah sudah jam segini, aku harus pulang. Kakak pasti khawatir" ucap Akira menatap Sou.
"Ayo aku antar" ucap Sou.
"Tidak perlu Sou, aku bisa sendiri."
"Tidak apa Akira, lagipula rumah kita tidak terlalu jauh" ucapnya tersenyum.
"Memangnya rumah Sou dimana?"
"Di jalan XY" ucapnya tersenyum.
"Dekat juga ternyata. Pantas saja kita bertemu disini" ucap Akira tersenyum.
"Iya, jadi aku antar ya. Aku juga tidak bisa membiarkanmu sendirian" ucap Sou yang membuat Akira tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih Sou" ucap Akira tersenyum.
"Akira sepertinya suka sekali bilang terima kasih ya?" Ucap Sou yang membuat Akira tersenyum malu.
"Maaf" ucap Akira menunduk.
Sou kemudian tersenyum menatap Akira.
Di depan rumah Akira...
"Terima kasih banyak Sou, mau mampir dulu?" Ucap Akira.
"Tidak Akira, terima kasih. Aku belum belajar" tolak Sou.
"Oh? Kakak baru saja akan mencarimu, kenapa lama sekali?" Ucap Shinji yang mendapati Akira sedang berdiri di depan.
"Maaf Kak" ucap Akira menatap Shinji.
"Oh ada Sou juga, apa kamu mengantarkan Akira?" Tanya Shinji.
"Selamat sore Kak, iya tadi kami kebetulan bertemu" ucap Sou tersenyum.
"Hmm.." ucap Shinji tersenyum.
"Kenapa Kak? Jangan melakukan hal aneh lagi" ucap Akira curiga.
"Tidak akan" ucap Shinji tersenyum. "Ayo mampir dulu" ajak Shinji.
"Tidak usah Kak, Sou mau langsung pulang saja. Ibu pasti sudah menunggu di rumah" tolak Sou.
"Begitukah, baiklah ayo aku antar pulang" ucap Shinji lagi.
"Tidak usah Kak, rumah Sou tidak jauh dari sini jadi Sou bisa pulang sendiri" ucap Sou lagi. "Kalau begitu Sou permisi Kak, Akira."
"Terima kasih banyak Sou, hati-hati di jalan" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih sudah mengantar Akira pulang ya" ucap Shinji tersenyum.
"Sama-sama Akira, Kak Shinji. Sou pamit" ucap Sou yang kemudian pergi dari sana.
"Pantas saja lama, Kakak khawatir tahu?" Ucap Shinji menatap kepergian Sou sambil merangkul pundak Akira.
"Maaf Kak, tadi barang yang Akira butuhkan tidak ada di supermarket depan, jadi Akira pergi ke supermarket dekat taman, lalu berbicara sebentar dengan Sou" jelas Akira.
"Kakak mengerti. Jadi Akira beli apa?" Tanya Shinji lagi.
"Beli sabun, minyak telon, cemilan... (Akira terdiam sebentar) Akira lupa membeli makannya Kak" ucap Akira menatap Shinji.
Shinji menghela nafasnya dan menatap datar Akira.
"Lain kali jika Kakak bilang pesan saja, ya pesan saja" ucap Shinji masih menatap datar Akira.
"Maaf" ucap Akira menunduk.
"Baiklah ayo masuk, biar Yuki yang pesankan makannya" ucap Shinji membawa Akira masuk dengan tangannya yang masih merangkul Akira.
"Iya Kak."
Malam harinya di gedung latihan...
"Akira handphonemu berisik" ucap Rena kepada Akira yang sedang berbicara dengan teman lainnya.
"Ada apa?" Tanya Akira menghampiri Rena.
"Tidak tahu, handphone Akira terus berbunyi dari tadi" jelas Rena.
"Terima kasih" ucap Akira mengambil handphonenya.
"Ayano?" Gumam Akira. (Ah benar, Akira lupa memberitahunya) ucap Akira dalam hati.
Ayano: "Akira.."
Ayano: "Apa kamu sudah berbicara dengan Sou?"
Ayano: "Akira?"
Ayano: "Apa kamu sudah tidur?"
Ayano: "Akira?"
Akira: "Maaf Ayano, aku masih latihan"
Ayano: "Maafkan aku"
Ayano: "Nanti aku hubungi lagi"
Akira: "Maaf ya Ayano, sebentar lagi aku selesai"
Ayano: "Aku yang minta maaf Akira, semangat!"
Akira: "Terima kasih. Nanti aku kabari setelah selesai"
Ayano: "Iya."
Di kamar Akira, setelah selesai latihan...
Akira: "Ayano, apa kamu sudah tidur?"
Ayano: "Aku tidak bisa tidur karena tidak tahu harus bagaimana besok saat bertemu dengan Sou."
Akira: "Maaf Ayano, gara-gara aku kamu dan Sou jadi seperti ini."
Akira: "Sepertinya dia juga kesal kepadaku karena suatu alasan."
Ayano: "Bahkan kepadamu?"
Akira: "Iya"
Ayano: "Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Atau memang itu sifatnya?"
"Apa Akira katakan saja ya? Bagaimana ini, Akira ingin membantu tapi Akira takut. Baiklah, daripada mereka terus seperti ini" monolog Akira.
Akira: "Aku tidak tahu."
Akira: "Maaf sebelumnya Ayano, tapi jika aku boleh menyarankan, bisakah kamu tidak membahas teman-temanmu di hadapan Sou? Kamu juga harus selalu bersamaku besok."
Ayano: "Apa maksudmu?"
Ayano: "Kenapa tidak boleh? Apa Sou punya masalah dengan teman-temanku jadi aku ikut terkena imbasnya?"
Ayano: "Dan bukankah kita selalu bersama? Tempat duduk kita kan bersebelahan."
Akira: "Bukan seperti itu Ayano. Sou tidak memiliki masalah dengan teman-temanmu."
Ayano: "Lalu kenapa?"
Akira: "Aku juga tidak terlalu yakin dengan alasannya, jadi mari kita coba cara ini."
Ayano: "Ah, begitukah."
Ayano: "Aku hampir marah karena membawa teman-temanku yang lain."
Ayano: "Baik mari kita coba."
"Untung saja" gumam Akira.
Ayano: "Baiklah selamat malam Akira."
Ayano: "Sampai jumpa besok."
__ADS_1
Akira: "Selamat malam juga Ayano, sampai jumpa besok."
"Akira melakukannya" gumam Akira. "Untung saja Ayano tidak jadi marah, tapi bagaimana besok? Semoga dengan cara ini, Sou bisa kembali percaya pada Ayano dan masalah mereka selesai. Akira tidak ingin terlibat lebih jauh, karena pada dasarnya Akira yang menjadi penyebab mereka berdua seperti ini" ucap Akira menatap langit-langit kamar.