
"Apa yang kalian lakukan pada adikku?!"
Yuki tiba-tiba datang ke rumah dan berteriak pada Kakak-kakaknya.
"Apa kau tidak punya sopan-santun hah? Seenaknya masuk dan berteriak seperti itu!" Bentak Shinji pada Yuki.
"Aku tidak peduli. Apa yang sudah kalian lakukan pada adikku? Apa maksudnya ini?"
Yuki kemudian menunjukan layar handphonenya pada Shinji, Naoya, juga Yuri yang memang ada disana.
Luka sayatan yang membentang dari punggung sebelah kanan ke sebelah kiri itu, terlihat sangat merah dengan ruam keunguan disekitarnya. Luka itu tidak satu melainkan cukup banyak dan saling bertampalan, menunjukan kengerian jurang kulit.
Netra mereka melebar, mereka terlihat terkejut.
"Apa-apaan ekspresi kalian itu? Kalian menyiksa adik kalian seperti ini, tapi ekspresi kalian mengatakan bahwa kalian tidak tahu?!" Ucap Yuki geram. Rahangnya mengeras dengan tangan yang mengepal kuat, Yuki menatap tajam kedua Kakaknya itu.
"Yuki sungguh bertanya, ada apa dengan kalian sebenarnya? Apa yang merasuki kalian sehingga tega membuat Akira seperti ini?"
Tatapan tajam itu menjadi tatapan sendu dengan lapisan bening mengkilap yang menyelimutinya.
"Bukankah kita sudah berjanji pada Mama untuk selalu melindunginya? Bukankah kita sudah berjanji pada Papa untuk selalu menjaganya? Tapi kenapa kalian seperti ini? Mengapa kalian tega melakukannya, Kak?"
Naoya juga Shinji tidak ada yang membuka suaranya. Mereka menundukan pandangannya, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kenapa Kak?!" Emosi Yuki sudah sampai pada puncaknya. Dia benar-benar berteriak di depan Naoya dan Shinji.
"Itu karena dia sudah menjadi ****** di luar sana!" Ucap Shinji yang juga membentak Yuki.
"Yuki sungguh tidak menyangka, Kakak bisa mengatakan itu pada adik Kakak sendiri. Apa Kakak mengatakan itu juga pada Akira?"
Shinji menatap Yuki sekilas lalu mengalihkan pandangannya.
Brakk!!
Yuki menggebrak meja cukup keras sehingga gelas yang ada diatasnya tumpah.
"Yuri, masuk ke dalam kamar" titah Naoya pada kekasih Shinji itu.
"B-baik Kak."
"Cukup Yuki! Kami seperti ini karena kami tidak ingin adik kita terjerumus lebih jauh dalam jalan yang salah" jelas Naoya menunjukan foto Akira yang menjadi akar masalahnya.
Yuki kemudian mengambil handphone Naoya dan memperhatikan foto itu dengan jelas. Lagi-lagi dia menggertakan giginya. Rahangnya kembali mengeras.
"Sial!! Hanya karena foto ini? Hanya karena ini, Kakak menyiksa Akira seperti itu?" Ucap Yuki tidak percaya. Dia beberapa kali menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sial!!"
Prang!!!!
Yuki melemparkan semua benda yang ada di meja itu. Kedua Kakaknya terlihat sangat terkejut melihat tingkah adiknya ini.
"Aku benar-benar tidak bisa mengerti! Aku tidak bisa menerimanya! Hanya karena kebodohan Kakaknya ini, adikku harus menanggung rasa sakit atas lukanya sekarang maupun nanti! Apa kalian tidak pernah berpikir bagaimana rasa sakit yang adikku terima dari luka sedalam dan sebanyak ini?! Apa kalian pikir luka seperti ini bisa hilang begitu saja? Tidak Kak! Ini akan membekas di tubuhnya. Aku benar-benar sangat kecewa pada kalian. Sangat-sangat kecewa!" Bentak Yuki mengeluarkan semua kekesalanya pada kedua kakaknya ini.
"Kau tidak tahu apapun tapi kau dengan seenaknya menyalahkan kami?! Dia juga bersalah! Jika dia menjadi anak yang baik dan penurut, kami tidak akan menghukumnya!" Bentak Shinji tak kalah kerasnya.
"Adikku bersalah? Adikku yang salah? Jangan membuatku tertawa Kak. Bagaimanapun dan dilihat dari sudut manapun, dia ini Sou! Dia Arashii Sou, kekasih Akira! Apa salahnya jika Akira pergi bersama Sou? Jika seperti itu alasannya, maka Yuri juga seorang ******! Jelas Yuki yang membuat kedua Kakaknya kembali terdiam.
"Kalian sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal untuk adikku. Aku yakin Mama dan Papa juga sangat murka di atas sana. Jangan pernah menyesalinya!" Tegas Yuki kemudian pergi meninggalkan Naoya juga Shinji yang masih mematung ditempat.
...****...
Di kamar Akira.
"Sepertinya Kakak sedang bertengkar" ujar Akira semakin mundur ke pojok kasur.
"Apa semua baik-baik saja? Kamu tidak apa-apa kan? Mereka tidak melukaimu lagi, kan?"
"Aku baik-baik saja, Sou. Tapi entah kenapa aku sangat takut" jelas Akira.
Tok..tok..tok..
"Kemasi barang-barangmu dan ikut bersama Kakak sekarang" jelas Yuki mengambil koper di lemari.
"Tunggu Kak, ada apa? Kenapa? Bagaimana dengan sekolah dan latihan Akira?"
"Kamu akan pindah sekolah dan tempat latihanmu"
"Tidak. Akira tidak mau Kak. Akira tidak mau!"
"Akira, kamu hanya akan menderita berada disini. Kamu akan diperlakukan lebih buruk lagi oleh mereka. Kakak mohon, ayo ikut Kakak" pinta Yuki.
"Tidak Kak, Akira tidak mau. Sebentar lagi Akira akan naik ke kelas 3 dan ujian, tidak ada waktu Kak. Lagipula Akira sudah nyaman dengan teman-teman disini"
"Lalu bagaimana agar Kakak bisa menjaga dan mengawasimu?" Ucap Yuki terdengar frustasi.
"Akira baik-"
"Jangan berkata baik-baik saja jika kamu sedang kesakitan, Kakak tidak menyukainya" tegas Yuki memotong pembicaraan Akira.
"Halo? Akira?" Panggil Sou dari dalam telepon. Panggilan Sou belum diakhiri oleh Akira tadi.
__ADS_1
"Ah, Sou!" Akira kemudian mengambil handphonenya lagi. "Maaf, maaf Sou kamu jadi mendengar pembicaraan yang tidak mengenakan"
"Apa aku bisa berbicara dengan Kak Yuki?"
"Sou ingin berbicara dengan Kakak, Kak" ujar Akira pada Kakaknya itu.
"Berikan handphonenya"
"Kak Yuki, apa Kakak tahu tentang Akira dan semua lukanya?"
"Hm, gurunya mengirimkannya padaku tadi sore" jelas Yuki memijat keningnya.
"Maaf sebelumnya jika aku terlalu mencampuri urusan keluarga, tapi aku ingin mengajukan usul Kak. Aku juga tidak bisa melihat Akira terus menderita dan terluka Kak"
"Katakan" pinta Yuki terkesan dingin.
"Melihat situasi saat ini, bagaimana jika aku yang menjaga Akira di siang hari dan Kakak di malam harinya. Kakak siang harus bekerja dan aku tidak mungkin selalu menginap untuk mengawasi Akira, bukan? Bagaimana Kak?"
Yuki terdiam sebentar, matanya menatap Akira yang juga sedang menatapnya bingung.
"Tolong lakukan, Sou. Aku mengandalkanmu" jelas Yuki masih menatap Akira.
"Tentu Kak, akan aku lakukan."
...****...
"Apa punggungnya masih sakit?" Tanya Yuki khawatir.
"Tidak Kak, sudah lebih baik" jelas Akira tersenyum.
"Jangan berbohong" jelas Yuki menatap Akira.
"Akira tidak berbohong, Kak. Akira benar-benar baik-baik saja."
Luka seperti itu tidak akan baik-baik saja.
"Ayo ikut Kakak, Kakak sungguh tidak ingin Akira kembali terluka lagi. Otak Kakak sudah rusak. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa itu adalah Sou."
Yuki mengepalkan tangannya kuat. Netranya nyalang menyiratkan kekesalan yang sangat besar.
"Wajar jika Kakak salah paham Kak, di foto itu Sou hanya menunjukan setengah wajahnya saja. Lagipula ini juga salah Akira karena pulang terlalu malam" jelas Akira menggenggam tangan Yuki. Senyuman manis terukir di wajah cantik Akira yang membuat tatapan Yuki kembali sendu.
Yuki kemudian memeluk Akira dengan hati-hati agar tidak menyentuh lukanya.
"Maaf ya, Kakak lagi-lagi tidak bisa melindungimu."
__ADS_1
"Kakak sudah melindungi Akira. Kakak selalu melindungi Akira" ucap Akira membalas pelukan Yuki.
"Akira.."