
"Akira cepatlah!" ucap Ayano kesal.
"Aku duluan ya Hiro, sampai jumpa" pamit Akira pada Hiro.
"Iya." Ucap Hiro tersenyum. "Aku jadi ikut kagum kepadanya" ucapnya lagi menatap kepergian Akira.
"Seharusnya kamu ikuti saja perkataanku tadi, Sou pasti sudah menunggu lama" ucap Ayano kesal.
"Maaf Ayano. Tentang Sou, biar aku yg menjelaskan kepadanya" ucap Akira tersenyum. "Apa kamu sudah berteman lama dengan mereka?" Tanya Akira.
Ayano mengangguk. "Mereka teman SMP ku jadi kami sudah sangat dekat" jelas Ayano tersenyum.
"Begitukah? Pantas saja kalian sangat akrab" ucap Akira tersenyum. (Apa mereka sudah seperti itu dari SMP? Jika benar, sepertinya akan sulit untuk memberitahunya).
Di kelas...
"Sou, maaf sudah membuatmu menunggu lama, tadi antriannya cukup panjang" jelas Akira.
"Tidak masalah" ucap Sou tersenyum.
"Jika tadi Akira menurut, kita pasti akan lebih cepat" jelas Ayano.
"Maaf" ucap Akira menyesal.
"Sudah Kubilang tidak masalah bukan? Ayo, Ketua sudah menunggu" ucap Sou tersenyum pada Akira.
"Baiklah, aku ambil kotak makan dulu" ucap Akira yang diangguki Sou. Tak lama kemudian Akira kembali menghampiri Sou dan Ayano.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu, ayo."
Di perjalanan, Sou berjalan terlebih dahulu disusul Akira dan Ayano di belakang.
"Ini pertama kalinya aku melihat klub olahraga, aku sedikit gugup" ucap Ayano pada Akira.
"Benar. Padahal aku sudah berjanji untuk mengajak Ayano melihat klub olahraga, maaf Ayano" ucap Akira.
"Tidak masalah. Buktinya sekarang aku diajak untuk melihat latihan klub basket, itu artinya kamu sudah menepati janjimu" jelas Ayano tersenyum.
"Benarkah? Apa boleh seperti itu?" Ucap Akira tersenyum yang diangguki Ayano.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di gimnas. Disana sudah ada Ketua dan beberapa anggota lainnya.
"Sou, Akira!" Panggil Ketua klub. Mereka kemudian berjalan menghampiri Ketua.
"Selamat siang Kak. Maaf, karena Akira, Sou jadi terlambat" ucap Akira sambil membungkuk.
"Tidak masalah, lagipula para anggota belum berkumpul semua" ucap Ketua tersenyum.
"Akira!" Panggil salah satu anggota putri.
"Selamat siang Kak" sapa Akira tersenyum.
"Aku yang mengajak mereka untuk melihat latihan kita hari ini" jelas Sou yang diangguki Ketua.
"Benar Kak, tolong izinkan Akira dan ini, teman kami Ayano untuk melihat latihan klub basket" ucap Akira.
"Tentu saja aku izinkan, lagipula kamu sudah mengenal kami bukan?" Ucap Ketua kembali tersenyum.
"Terima kasih banyak Kak" ucap Akira tersenyum.
"Ada apa dengan tanganmu, Akira?" Tanya Ketua.
"Tangan Akira terluka karena tadi Akira ceroboh Kak" jelas Akira tersenyum.
"Kamu harus lebih berhati-hati, Akira" ucap Ketua lagi.
"Baik Kak."
"Sekarang semuanya sudah lengkap. Kalau begitu kita mulai ya" ucap Ketua lagi.
"Sou, kami akan duduk disana" ucap Akira menunjuk bangku tengah penonton.
"Iya. Aku titip botol minumku ya" ucap Sou.
"Padahal kamu bisa menyimpannya di pinggir lapangan" ucap Ketua menimpali.
"Kalau aku menyimpannya disana, nanti akan habis diminum orang lain" protes Sou.
"Alasan" goda Ketua tersenyum.
"Tidak apa kan Akira?" Tanya Sou lagi.
"Tentu saja" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih banyak" ucap Sou memberikan botol minumnya.
"Sama-sama. Kami duduk disana ya" ucap Akira yang diangguki Sou.
Akira dan Ayano kemudian duduk di bangku paling depan agar memudahkan Sou mengambil minumnya saat dia haus.
"Ternyata kamu akrab dengan klub basket ya" ucap Ayano.
"Begitulah, aku sudah 2 kali kemari jadi aku cukup kenal dengan para anggota" jawab Akira.
"Begitukah.." ucap Ayano mengangguk paham.
Latihan klub basket pun dimulai. Diawali dengan pemanasan, berlari, latihan melakukan shoot dan latihan bertanding.
"Mereka keren sekali" ucap Ayano kagum.
"Kamu benar" ucap Akira tersenyum.
(Sou keren sekali jika berkeringat seperti itu) ucap Akira dalam hati memperhatikan Sou sambil tersenyum.
Sou menampilkan skill-skill yang dia punya yang membuat semua orang terkagum padanya termasuk Akira dan Ayano. Mereka sesekali bertepuk tangan untuk skill epik yang diperlihatkan oleh Sou. Dia juga sesekali melihat ke arah Akira sambil tersenyum yang membuat Akira gugup dan senang secara bersamaan.
Sou kemudian melakukan slam dunk yang membuat semua orang kembali terkejut dan kagum, berbeda dengan Akira yang terlihat khawatir.
(Bukankah Sou akan terjatuh jika bergelantung pada ring seperti itu?) Batin Akira menatap Sou khawatir. Sou kemudian tersenyum ke arah Akira yang membuatnya ikut tersenyum.
"Itu tadi slam dunk bukan?" Ucap penonton di belakang Akira.
"Itu teknik yang cukup sulit bahkan untuk pemain NBA sekalipun, hanya beberapa saja yang bisa melakukannya" ucap yang lainnya.
"Apa dia jenius?" Tanya yang lainnya.
"Akira, kamu melihatnya? Kamu lihat kan ya?! Sou keren sekali.." ucap Ayano cukup heboh.
"I-iya, aku juga lihat tadi. Dia benar-benar keren" ucap Akira tersenyum.
(Mungkin Sou memang jenius) ucap Akira menatap kagum Sou.
"Istirahat 3 menit" ucap Ketua.
Akira kemudian mendekat ke arah Sou yang juga sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Ini" ucap Akira memberikan botol minum Sou.
"Terima kasih" ucap Sou tersenyum. "Bagaimana tadi?" Tanyanya.
Akira tersenyum. "Sou sangat hebat, benar-benar keren. Tapi.. bukankah berbahaya jika Sou bergelantung seperti tadi?" Ucap Akira menatap Sou.
"Apa kamu mengkhawatirkanku?" Tanya Sou yang membuat pipi Akira sedikit memerah. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja" ucap Sou tersenyum sambil menyentuh kepala Akira.
(Sou benar-benar tampan jika dilihat dari dekat seperti ini, apalagi dengan rambutnya yang basah karena keringat).
"I-iya" ucap Akira sambil mengangguk.
"Sou kamu keren sekali, aku sampai tidak bisa berkata-kata" ucap Ayano menghampiri Akira dan Sou.
"Terima kasih" ucap Sou tanpa menatapnya.
"Lain kali ajari aku ya" ucap Ayano lagi yang diabaikan oleh Sou.
"Berkumpul semua, waktu istirahat sudah habis" ucap Ketua.
"Aku pergi dulu, botol minumnya aku titip lagi ya" ucap Sou tersenyum.
Akira mengangguk sambil tersenyum. "Semangat Sou."
Akira terus menatap kagum kepada Sou yang sedang bermain. Senyuman manis Akira selalu terukir di wajahnya yang cantik saat melihat Sou.
(Sou benar-benar keren. Wajahnya yang tampan ditambah keringat yang membasahi tubuhnya, benar-benar sangat sexy. Bagaimana ini? Akira bahkan bisa mendengar detak jantung Akira sendiri, apa yang harus Akira lakukan?)
"Sou sangat keren, Akira! Dia benar-benar seperti seorang pangeran!" ucap Ayano heboh.
"Ayano benar, Sou seperti pangeran" ucap Akira tersenyum, namun berapa detik kemudian senyum Akira luntur saat melihat Sou terjatuh.
"Sou?!" Ucap Akira sedikit berteriak saat melihat Sou yang terjatuh setelah melakukan slam dunk lagi.
"Astaga Sou!" ucap Ayano terkejut.
Ketua dan para anggota dengan cepat menghampiri Sou.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ketua menghampiri Sou.
Sou tersenyum. "Aku tidak seimbang saat mendarat, tapi aku baik-baik saja Ketua" ucapnya sambil berdiri.
"Lain kali hati-hati Sou. Latihannya cukup disini, kita makan dulu" ucap Ketua lagi.
"Baik!"
Akira dan Ayano kemudian menghampiri Sou yang sedang duduk di pinggir lapang.
"Sou, kamu baik-baik saja?" Tanya Akira khawatir.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang luka?" Tanya Ayano yang juga khawatir.
"Aku baik-baik saja" ucap Sou sambil mengangguk.
"Ini, minumlah dulu" ucap Akira memberikan botol minumnya. "Bukankah kamu bilang akan baik-baik saja tadi?" ucap Akira lagi.
"Aku juga tidak tahu akan terjatuh, maaf sudah membuatmu khawatir" ucap Sou menatap Akira.
"Aku juga khawatir tadi, kamu harus lebih berhati-hati Sou" ucap Ayano menimpali.
"Benar, kamu harus lebih berhati-hati" ucap Akira yang masih khawatir.
Sou kemudian tersenyum "Aku mengerti."
"Sou, Akira, Ayano, ayo cepat masuk lingkaran!" titah Ketua. Klub basket selalu makan bersama dengan posisi duduk membuat lingkaran besar.
"Ayo" ajak Sou tersenyum.
Mereka bertiga kemudian duduk berdekatan. Seperti biasa, Akira duduk diantara Sou dan Ketua klub dan Ayano duduk di sisi Sou yang lainnya.
"Ini punya Sou" ucap Akira memberikan kotak makan yang satunya.
"Sepertinya aku selalu merepotkanmu ya, terima kasih banyak Akira" ucap Sou tersenyum.
"Aku tidak merasa direpotkan oleh Sou karena aku yang ingin melakukannya" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih."
Mereka kemudian mulai memakan bekal masing-masing. Akira makan cukup pelan karena tangan kanannya yang masih sakit dan perban yang cukup tebal membuatnya sedikit kesusahan untuk memegang sendok.
"Apa masih sakit?" Tanya Sou memperhatikan Akira.
"Tidak, hanya saja sedikit susah memegang sendoknya" jelas Akira.
"Mau aku suapi?" Tanya Sou menatap Akira.
"Eh?"
"Ah, lupakan" gumam Sou dengan wajah yang sedikit memerah.
"Kalau Akira tidak mau, aku mau kok disuapi oleh Sou" ucap Ketua menatap Akira dan Sou secara bergantian. Sedangkan Sou dan Akira sama-sama mengalihkan pandangannya.
(Aku refleks berkata seperti itu) ucap Sou dalam hati sambil mengusap-usap belakang lehernya.
(Akira senang Sou peduli pada Akira.. tapi Sou seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu dengan suara yang keras) ucap Akira menunduk karena malu.
"Aaaa...." ucap Ketua membuka mulutnya siap menerima makanan yang masuk. "Kenapa? Tidak jadi nih?" Goda Ketua lagi saat Sou masih mengalihkan pandangannya.
"Maaf" ucap Sou tanpa menatap Akira.
"Ti-tidak apa-apa" ucap Akira yang masih menunduk.
"Kalian berdua sangat lucu" ucap Ketua sambil tersenyum. "Tidak apa. Aku mendukung kalian, jadi tidak perlu sungkan jika ada aku" ucap Ketua tersenyum.
"A-apa yang sebenarnya ketua katakan?" Tanya Sou sedikit gugup.
__ADS_1
"Tidak ada. Lanjutkan saja makannya jika kamu tidak ingin pingsan saat berlatih nanti" ucap Ketua tersenyum. "Tapi.. kamu yakin tidak ingin menyuapiku?" Goda Ketua lagi.
Sou kemudian menatap tajam kepada Ketua yang membuatnya tidak berani berkata-kata lagi. Mereka kemudian melanjutkan makannya dengan tenang.
Beberapa lama kemudian...
Para anggota kembali bersiap untuk melanjutkan latihan mereka.
"Akira!" Panggil seorang anggota putera.
"Iya Kak, ada apa?" ucap Akira menghampiri anggota tersebut.
"Mau aku ajari bermain basket?"
"Maaf Kak, Akira ingin belajar bermain basket tapi hari ini tangan Akira sedang terluka jadi sepertinya tidak bisa" jelas Akira.
Disisi lain...
"Apa kau cemburu hm?" Tanya Ketua setelah mendapatkan Sou yang sedang menatap tajam anggota yang sedang berbicara dengan Akira.
"Aku tidak menyangka, kau akan melakukan hal berani seperti tadi" ucap Ketua merangkul pundak Sou dan melihat ke arah Akira juga.
"Sudah ku bilang bukan? Kalau tidak cepat-cepat nanti diambil orang, Sou" ucap Ketua lagi.
"Tapi.."
"Tapi apa?"
(Aku menyukai senyumannya tapi jika aku ingin memiliki senyuman itu untuk diriku sendiri, bukankah aku sudah sangat keterlaluan dan sangat egois? Akira bukan kekasihku dan aku tidak berhak untuk melakukan itu semua)
"Tidak ada" ucap Sou masih menatap tajam anggota tersebut.
"Ada apa dengan tanganmu?" Ucap anggota itu meraih tangan Akira yang terluka.
"Tchh" Sou berdecih dan kemudian pergi dari sana.
"Sou!" Panggil Ketua yang diabaikan olehnya. "Dia pasti sedang kesal."
Tak lama kemudian...
"Teman-teman istirahat sudah habis, kita lanjutkan latihannya" ucap Ketua.
"Baik!"
"Semangat Sou" ucap Ayano tersenyum.
"Semangat" ucap Akira juga tersenyum.
"Titip botolku lagi ya" ucap Sou kemudian meninggalkan Akira dan Ayano.
"Iya."
Selama latihan kali ini, Sou terlihat banyak diam dan tidak seaktif tadi. Dia hanya menjaga daerah permainannya sendiri.
"Ada apa dengan Sou?" Tanya Akira bingung.
"Benar, kenapa dia tidak seperti tadi? Padahal dia sangat keren" ucap Ayano menatap Sou.
"Apa dia kelelahan?" Tanya Akira lagi.
"Entahlah."
Waktupun terus berjalan dan Sou masih sama, dia terlihat banyak diam dan tidak bersemangat. Dia bahkan tidak ikut membantu saat teman yang lain menyerang hingga waktu latihan selesai.
"Latihan kita cukup sampai disini. Terima kasih sudah hadir teman-teman" ucap Ketua klub tersenyum.
"Terima kasih banyak Ketua" ucap Sou sedikit membungkuk. "Ayo kembali ke kelas" ucapnya lagi yang diangguki Akira dan Ayano. Sou kemudian berjalan keluar gimnas terlebih dahulu disusul oleh Ayano sedangkan Akira menghampiri Ketua terlebih dahulu.
"Terima kasih sudah memperbolehkan kami menonton latihan klub basket Kak" ucap Akira tersenyum.
"Sama-sama Akira. Jangan ragu jika ingin melihat kami, pintu gimnas selalu terbuka bagi orang-orang yang ingin melihat klub basket" ucap Ketua tersenyum.
"Sekali lagi terima kasih Kak, Akira permisi" ucap Akira tersenyum.
"Sama-sama" ucap Ketua yang juga tersenyum.
"Akira ayo!" panggil Sou.
"Iya."
Di lorong...
Ayano, Sou, dan Akira berjalan berdampingan namun Sou berjalan lebih pelan dibandingkan Akira dan Ayano.
"Kamu keren sekali Sou, aku benar-benar kagum kepadamu" ucap Ayano bersemangat.
"Benar, Sou sangat keren" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih" ucap Sou tersenyum.
"Akira, apa aku boleh melihat latihan klub bulutangkis?" Tanya Ayano.
"Aku tidak tahu, karena aku tidak pernah melihat orang lain selain anggota klub disana" jelas Akira.
"Hmm.. padahal aku ingin melihatmu latihan" ucap Ayano mempoutkan bibirnya.
"Kalau begitu aku akan bertanya dulu" ucap Akira tersenyum. "Sou?" Ucap Akira saat melihat Sou yang tertinggal jauh di belakang.
"Cepat Sou, atau kami akan meninggalkanmu" ucap Ayano tersenyum.
"Kalau begitu, pergi saja duluan" ucap Sou dingin.
Akira kemudian kembali menghampiri Sou. "Ada apa?"
"Tidak ada. Kalian tidak usah menungguku. Kalian bisa pulang duluan jika aku berjalan lambat" ucapnya dingin.
Akira dan Ayano kemudian terdiam dan menatap bingung satu sama lain.
"Maaf Sou, bukan seperti itu maksudku, aku hanya bercanda" jelas Ayano.
"Ayano!" Panggil teman Ayano. "Kamu ada disini ternyata. Ayo pulang, semua orang sudah pulang dari tadi" ucapnya sambil menatap Akira dan Sou dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Pantas saja orang-orang disini tinggal sedikit. Maaf, sepertinya aku-"
"Temanmu sudah menunggumu, pulanglah!" ucap Sou dingin.
"Tapi-"
Sou menatap tajam teman Ayano itu dan kemudian melanjutkan langkahnya melewati Akira, Ayano, dan temannya.
"Sou.." gumam Akira menatap Sou. "Ayano pulang saja duluan, biar aku yang berbicara kepadanya" ucap Akira tersenyum.
"Tapi.."
"Rencana kita sebelumnya juga berhasil bukan? Tidak usah khawatir" ucap Akira kembali tersenyum.
"Percaya saja kepadanya. Sekarang ayo, cepatlah!" Ucap teman Ayano kesal.
"Baiklah, tolong ya Akira" ucap Ayano menyatukan kedua tangannya.
"Iya. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa, terima kasih Akira" ucap Ayano kemudian berjalan meninggalkan Akira disana sendirian.
(Sou mau kemana? Bukankah dia berlawanan arah dengan arah menuju kelas?) Ucap Akira bingung. Dia kemudian pergi menyusul Sou yang berjalan berlawanan arah dengan Ayano.
"Sou! Sou, tunggu!" Panggil Akira sedikit berlari.
"Kenapa Akira malah mengikutiku? Pulanglah duluan, ini sudah sangat sore. Aku ada urusan sebentar" ucap Sou menatap Akira sekilas dan kembali berjalan.
"Apa kamu marah kepadaku?" Tanya Akira menatap Sou.
"Apa maksudmu? Aku tidak marah" ucap Sou tanpa melihat Akira.
"Benarkah?"
"Memangnya ada apa?" Ucap Sou menghentikan langkahnya dan menatap Akira.
"Tidak, tidak ada apapun."
"Kalau begitu pulang saja duluan, ada yang harus aku lakukan" ucap Sou kembali berjalan.
"Tidak, aku akan pulang bersama Sou" ucap Akira berjalan di belakang Sou.
"Apa kamu tidak mendengarkanku? Urusanku akan sedikit lama Akira, Kakakmu pasti sudah menunggu di bawah" ucap Sou tanpa menatap Akira.
"Apa kakimu sakit?" Tebak Akira yang membuat Sou terkejut. Sou kemudian menghentikan kembali langkahnya dan berbalik melihat Akira
"Jangan mengalihkan pembicaraan Akira. Dengarkan aku dan pulanglah" ucap Sou tersenyum. Dia kemudian kembali membalikan badannya dan berjalan.
Akira kemudian berlari dan menempatkan tangan Sou di pundaknya.
"Akira?! Ada apa?" Ucap Sou terkejut.
"Kakimu pasti terluka, ayo ke UKS" ucap Akira menatap Sou.
"Aku baik-baik saja, kakiku tidak terluka" ucap Sou menarik tangannya dari pundak Akira.
"Benarkah?"
"Benar, kamu pulang saja duluan" ucap Sou tersenyum.
"Kalau begitu sebelum aku pulang, bolehkah aku menendang kakimu?"
"Hah??"
Akira tersenyum. "Apa kamu sedang pura-pura kuat sekarang? Ayo ke UKS" ucap Akira meraih tangan Sou dan menempatkannya lagi di pundaknya.
"Aku baik-baik saja Akira, aku tidak berbohong" ucap Sou tersenyum.
"Kalau begitu, biar aku menendang kakimu" ucap Akira menatap Sou. "Cara berjalanmu aneh Sou. Aku kira kamu terluka saat terjatuh tadi. Kamu bilang jika terjadi sesuatu bilang kepada guru atau kepadamu bukan, tapi saat terjadi sesuatu kepadamu kamu tidak memberitahuku. Kamu bilang aku bisa mengandalkanmu tapi mengapa kamu tidak ingin mengandalkanku? Bukankah itu curang?" Protes Akira.
"Hfff" Sou menahan tawanya. (Apa dia sedang merajuk? Gemasnya). "Baiklah baiklah, maafkan aku karena aku sudah berbuat curang kepadamu. Tolong antar aku ke UKS, sepertinya kakiku terkilir" ucap Sou tersenyum.
(Senyuman ini...)
Akira tersenyum senang. "Oke, ayo" ucap Akira sambil memapah Sou.
"Apa aku berat?" Tanya Sou menatap Akira.
Akira menggeleng. "Tidak, Sou tidak berat" ucap Akira tersenyum. "Jika aku bilang iya, apa kamu yang akan menggendongku?"
"Jika perlu maka akan aku lakukan" ucap Sou tersenyum.
"Apa yang kamu katakan?" Ucap Akira tersenyum. "Aku hanya bercanda, Sou tidak berat karena aku tahu kamu pasti memindahkan berat tubuhmu ke kaki yang satunya bukan?"
"Karena aku masih bisa berjalan" ucap Sou tersenyum.
"Pelan-pelan saja ya" ucap Akira tersenyum.
"Iya."
Di UKS...
Akira membawa Sou untuk duduk di tepi kasur dan kemudian membuka sepatu Sou.
"Kakimu bengkak Sou, apa sakit? Tunggu, aku akan ambil es batu dulu" ucap Akira kemudian pergi.
"Ckk, ini karena aku tidak seimbang tadi" gumam Sou menatap kakinya yang bengkak dengan warna merah dan biru yang menghiasinya.
Tak lama kemudian Akira kembali dengan kantong yang berisi es batu.
"Kenapa bisa bengkak seperti ini? Apa karena dipaksa untuk berlatih?" Tanya Akira mulai mengompres kaki Sou.
"Sepertinya begitu" ucap Sou tersenyum.
"Kenapa kamu tidak berhenti saja tadi?"
"Karena tadi tidak sesakit ini."
"Kamu benar-benar sangat curang. Kamu berkata jika aku harus lebih berhati hati ternyata kamu sendiri yang tidak berhati-hati" ucap Akira menatap Sou.
"Maaf."
"Apa kamu malu mengatakan bahwa kamu sedang terluka? Apa harga dirimu akan tercoreng jika ada yang mengetahui lukamu? Kamu bahkan tidak mengatakannya pada Ketua tadi dan kamu juga berusaha menyembunyikannya dariku, apa kamu mau jika nanti kakimu diamputasi?" Ucap Akira menatap Sou kesal, namun yang ditatap terlihat terkejut.
"M-maaf" ucap Akira menundukan kepalanya setelah melihat Sou yang terkejut.
(Akira bisa seperti ini juga ternyata)
"Apa kamu mengkhawatirkanku?" Tanya Sou tersenyum.
__ADS_1
Akira mengangguk lemah. "Aku sangat mengkhawatirkanmu" gumamnya yang masih dapat didengar oleh Sou.
Sekali lagi Sou terkejut dengan apa yang dikatakan Akira. Dia tersenyum dan kemudian meletakan tangannya di atas kepala Akira. "Terima kasih, terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku akan langsung sembuh sekarang."
"Apa yang kamu katakan? Lukanya masih belum sembuh."
"Tidak, sebentar lagi pasti sembuh" ucap Sou tersenyum. "Kemarikan kompresannya, aku bisa melakukannya sendiri" ucap Sou mengulurkan tangannya.
"Tidak apa. Tadi Sou sudah mengobati lukaku, sekarang biarkan aku yang mengobati lukamu" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih" ucap Sou tersenyum.
Beberapa lama kemudian...
"Selesai" ucap Akira selesai membebat kaki Sou yang bengkak.
"Terima kasih Akira" ucap Sou tersenyum. "Maaf ya kamu jadi pulang sangat sore, aku akan meminta maaf pada Kakakmu nanti."
"Tidak masalah Sou, Kakak pasti mengerti" ucap Akira tersenyum.
"Kalau begitu ayo pulang" ucap Sou tersenyum.
"Ayo" ucap Akira mengulurkan tangannya.
"Tidak apa, aku bisa sendiri" ucap Sou tersenyum. Dia kemudian berdiri dan terdiam di tempat.
(Lebih baik aku mengalami luka luar yang dalam daripada luka dalam seperti ini. Sakit sekali)
"Jangan memaksakan dirimu, ayo aku bantu" ucap Akira kembali memapah Sou.
"Maaf Akira."
"Untuk apa?"
"Aku sudah merepotkanmu" ucap Sou menundukan kepalanya.
"Sou tidak merepotkan sama sekali karena ini keinginan ku" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih."
"Terima kasih juga Sou."
Di gerbang sekolah...
"Akira, Kakak mencarimu. Kamu dari mana saja?Ada apa dengan Sou?" Ucap Yuki panik.
"Kaki Sou terkilir Kak, jadi kami ke UKS dulu" jelas Akira.
"Maaf Kak, Akira jadi pulang telat karena membantuku" ucap Sou menarik tangannya dari pundak Akira.
"Sou?" Akira menatap Sou karena dia menarik tangannya.
"Aku baik-baik saja" ucap Sou tersenyum.
"Tidak masalah. Kalau begitu, biar aku antar kamu pulang. Kamu tidak mungkin pulang sendirian seperti ini" ucap Yuki khawatir.
"Tidak usah Kak, terima kasih. Sou bisa meminta jemputan nanti" ucap Sou tersenyum.
"Akan lama lagi kalau menunggu jemputan. Sou pulang bersama kami saja, rumah kita hanya hanya beda kompleks saja bukan?" Ucap Akira.
Sou kemudian mengangguk. "Benar."
"Kalau begitu, ayo masuk" ucap Akira tersenyum.
"Tapi-"
"Sudahlah masuk saja" ucap Yuki membantu Sou menaiki mobilnya.
Sou duduk dibelakang dan Akira duduk disamping Yuki.
"Apa ini? Tangan Akira terluka? Bagaimana bisa?" Ucap Yuki memegang tangan Akira yang di perban.
"Ini karena Akira tidak berhati-hati saat pelajaran memahat tadi Kak" jelas Akira.
"Kenapa Akira ceroboh sekali? Ini pasti sakit bukan? Sudah diobati dengan benar belum? Kita ke rumah sakit sekarang" ucap Yuki khawatir.
"Itu terlalu berlebihan Kak. Sou sudah mengobati luka Akira, ini juga sudah tidak terlalu sakit" ucap Akira tersenyum
"Benarkah? Apa benar seperti itu? Lain kali Akira harus lebih berhati-hati, kamu sampai terluka seperti ini" ucap Yuki menatap Akira khawatir. "Terima kasih sudah mengobati Akira, Sou" ucap Yuki tersenyum menatap Sou.
"Sou tidak melakukan apapun Kak, Akira juga tadi mengobati luka Sou" jelas Sou.
"Apa kalian berdua janjian untuk terluka hm? Bagaimana bisa kalian sama-sama terluka dan saling mengobati?" Tanya Yuki tidak percaya.
"Mana mungkin kami janjian untuk terluka, Kak. Kalau bisa, Akira juga tidak ingin terluka" ucap Akira mempoutkan bibirnya.
"Kakak tahu. Atau jangan-jangan kalian.."
"Jangan mengatakan hal aneh Kak" ucap Akira lagi.
Yuki tersenyum. "Baiklah. Tapi Akira benar baik-baik saja bukan?"
"Akira baik-baik saja Kak. Ayo jalankan mobilnya" ucap Akira lagi.
"Ah, maaf Kakak lupa" ucap Yuki kemudian menyalakan mobilnya dan pulang.
Sesampainya di rumah Sou...
"Terima kasih banyak Kak, Akira" ucap Sou tersenyum.
"Tunggu, biar aku bantu" ucap Yuki turun dari mobilnya.
"Tidak perlu Kak Sou bi-"
"Tidak apa Sou, kakimu pasti sangat sakit jadi akan lebih baik jika Kak Yuki membantumu" ucap Akira tersenyum.
"Akira, tolong bawakan tasnya" ucap Yuki.
"Baik Kak" ucap Akira mengerti.
Yuki kemudian membantu Sou turun dan memapahnya sampai ke depan pintu rumah Sou.
"Masuk saja Kak, Ibu dan Ayah sedang bekerja" ucap Sou yang diangguki Yuki.
"Permisi" ucap Akira sebelum memasuki rumah Sou.
"Dimana kamarmu? Biar aku antar ke kamar" ucap Yuki lagi.
"Disana Kak."
Yuki kemudian memapah Sou ke kamarnya diikuti Akira dibelakangnya. Sesampainya di kamar, Yuki kemudian mendudukan Sou di kasurnya.
(Ini pertama kalinya Akira masuk ke kamar cowok) ucap Akira gugup.
"Apa di rumah ini tidak ada orang selain kamu?" Tanya Yuki.
"Tidak ada Kak."
"Kalau begitu, dimana obat P3Knya?" Ucap Yuki lagi.
"Itu.. ada di laci nakas Kak" ucap Sou yang diangguki Yuki.
Yuki kemudian mendekat ke meja nakas yang ditunjukan Sou.
(Bukan kah foto ini adalah foto yang sama yang ada di kamar Akira?) Ucap Yuki memegang foto Akira dan Sou yang diambil oleh klub fotografi. "Dia memajangnya juga ternyata" gumam Yuki tersenyum.
"Aku menyimpan kotak P3K nya disini ya agar kamu tidak terlalu banyak bergerak" ucap Yuki tersenyum.
"Terima kasih Kak" ucap Sou menatap Yuki.
"Maaf Sou kami harus pulang, orang-orang di rumah akan mencari kami nanti. Maaf tidak bisa menjagamu" ucap Yuki lagi.
"Tidak masalah Kak, Sou bisa sendiri. Terima kasih sudah mengantarkan Sou pulang" ucap Sou tersenyum.
"Tidak masalah, kami pulang ya" ucap Yuki lagi.
"Maaf tidak bisa mengantar kalian" ucap Sou lagi.
"Tidak masalah, aku masih ingat pintu masuk rumah ini" ucap Yuki lagi.
"Sou, maaf karena harus meninggalkanmu sendirian. Cepat sembuh ya dan terima kasih karena sudah membantuku tadi" ucap Akira menghampiri Sou.
"Terima kasih juga sudah membantuku Akira" ucap Sou tersenyum. "Hati-hati ya."
"Bye-bye. Istirahatlah Sou" ucap Akira tersenyum.
"Kamu juga Akira, bye-bye" ucap Sou kembali tersenyum.
"Kami pulang Sou" pamit Yuki.
"Iya Kak, terima kasih" ucap Sou tersenyum.
Di rumah Akira...
"Kenapa bisa terluka seperti ini hah?" Ucap Shinji tidak percaya. "Kamu ceroboh sekali" ucapnya lagi.
"Akira juga tidak tahu kalau Akira akan terluka Kak" ucap Akira bingung.
"Ayo ke rumah sakit sekarang" ucap Papa khawatir.
"Tidak perlu Pa, ini bukan masalah besar. Akira baik-baik saja" ucap Akira menolak.
"Nanti tangan Akira infeksi. Jangan membantah, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Papa berdiri dari duduknya.
"Tidak mau. Nanti kalau ke rumah sakit akan tambah sakit. Pokoknya Akira tidak mau ke rumah sakit" ucap Akira kesal.
"Ayolah Akira, jangan berdebat. Ikuti perkataan Papa saja ya?" Ucap Papa khawatir.
"Tidak mau Pa. Akira juga sudah sembuh, ini sudah tidak sakit" ucap Akira teguh dengan pendapatnya walaupun sebenarnya dia berbohong.
"Dasar kepala batu! Ayo ke rumah sakit sekarang!" ucap Shinji kesal.
"Tidak mau, Akira sudah baik-baik saja" ucap Akira tetap menolak.
"Ayolah Akira, diperiksa dulu takutnya infeksi atau bagaimana. Nanti tangan Akira diamputasi mau?" ucap Naoya.
"Tidak mau Kak. Akira juga sudah diobati menggunakan alkohol, jadi tidak akan infeksi" ucap Akira lagi.
"Benar Akira, ayo ke rumah sakit. Dokter tidak akan melakukan hal aneh kepada Akira, dokter akan mengobati lukanya" jelas Yuki.
"Tidak mau! Pokoknya tidak mau ke rumah sakit!" ucap Akira tetap pada pendiriannya.
"Hah... (Papa menghembuskan nafasnya kasar) Akira yakin baik-baik saja?" Tanya Papa memastikan.
"Yakin."
"Benarkah?"
"Benar."
"Kakak dan Papa hanya khawatir pada Akira, kami tidak ingin terjadi hal buruk pada Akira" jelas Naoya.
"Kakak dan Papa tidak perlu khawatir, Akira baik-baik saja" ucap Akira lagi
"Ya sudah kalau begitu" ucap Papa pasrah. "Tapi sudah diobati dengan benar kan? Akira tidak berbohong bukan?" Tanya Papa lagi.
"Benar Pa, Akira tidak berbohong. Luka Akira sudah diobati dengan baik, tinggal menunggu lukanya kering" jelas Akira tersenyum.
"Papa mengerti. Hari ini tidak usah memasak, biar Papa pesan makanan" ucap Papa kemudian pergi meninggalkan ruang tengah.
"Kenapa Pa? Aki-"
"Tidak ada penolakan, ikuti saja kata Papa" ucap Papa lagi.
"Baik Pa" ucap Akira pasrah.
"Padahal tinggal ke rumah sakit" ucap Shinji kesal.
"Kalau begitu, Kakak saja yang ke rumah sakit, Akira tidak mau" ucap Akira lagi.
"Awas saja kalau nanti malam Akira menangis karena tangannya sakit, Kakak tidak akan menolongmu" ucap Shinji lagi.
"Akira tidak akan menangis" protes Akira.
"Sudah, sudah. Akira yakin baik-baik saja? Lihatlah darahnya masih merembes ke perban" ucap Naoya memegang tangan Akira yang terluka.
"Tapi sudah tidak sakit Kak, hanya tinggal menunggu kering saja" jelas Akira. "Maaf sudah membuat Kakak dan Papa khawatir" ucapnya lagi sambil menunduk.
"Kalau begitu, jangan terluka lagi jika tidak ingin membuat kami khawatir" ucap Naoya sambil mengacak-acak rambut Akira.
Akira tersenyum. "Akira mengerti Kak, Akira akan lebih berhati-hati."
__ADS_1