Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 33 : Circle


__ADS_3

"Tapi Kakak mengatakan hal yang sebenarnya Pa, Kakak tidak berbohong! Ini salah Akira dan juga Alya, bukankah tidak adil jika hanya Kakak yang dimarahi? Kakak tidak melakukan kesalahan apapun, Kakak hanya membela Akira" jelas Akira pada Papanya.


"Tapi dia tidak harus membentak Alya seperti itu! Dia-"


"Kalau begitu, Alya juga tidak harus membentak Akira seperti tadi! Akira hanya membangunkannya untuk sarapan tapi Alya malah membentak Akira! Ini tidak adil!" Protes Akira lagi.


"Sudah Akira, tenangkan dirimu" ucap Shinji menarik Akira agar mendekat kepadanya.


"Tapi.. tapi ini tidak adil untuk Kak Yuki, Kak. Akira tidak pernah melihat Kakak seperti itu, kasihan Kak Yuki" ucap Akira meneteskan air matanya.


"Kakak mengerti, tapi dia juga bersalah" ucap Shinji memeluk Akira.


"Kalau begitu, marahi Akira juga!" Tegas Akira menatap Shinji. "Ini salah Akira jadi marahi Akira juga" ucapnya keras kepala.


"Akira, kamu-"


"Sudah Pa, dia memang seperti ini bukan?" Jelas Naoya pada Papanya. "Kalau begitu.. Kenapa kamu membangunkan Alya seperti tadi!" Tegas Naoya menatap Akira.


"Kak.."


"Nao"


"Akira hanya ingin membangunkan Alya agar kita bisa sarapan bersama" gumam Akira menundukan pandangannya.


"Mulai besok jangan membangunkan Alya lagi dan minta maaflah pada Yuki!" Tegas Naoya lagi.


"Hm, maaf" gumam Akira masih menundukan pandangannya. Dia tidak berani menatap Naoya.


"Sudah puaskah?" Tanya Naoya memeluk Akira. "Maaf ya Kakak sudah memarahimu, dengan ini masalahnya sudah selesai bukan?" Naoya tersenyum sambil mengelus punggung Akira.


"Hm, maaf Kak" ucap Akira membalas pelukan Naoya sambil menangis.


"Sudah jangan menangis. Sekarang tidurlah besok Akira harus sekolah bukan?" Ucap Naoya tersenyum.


"Hm"


"Masuklah ke kamar dan tidur ya" ucapnya lagi.


"Akira mengerti Kak" jelas Akira menghapus air matanya. "Maaf karena Akira egois Pa, selamat malam" ucap Akira kemudian pergi ke kamarnya.


"Kamu juga masuk ke kamar Shin, besok harus bekerja" ucap Naoya lagi. "Aku juga akan tidur. Selamat malam"


Di kamar Akira..


"Kakak?" Kaget Akira saat menemukan Yuki berada di kamarnya. "Ada apa Kak?"


"Tidak ada apapun" ucap Yuki tersenyum. "Sudah Kakak katakan ini bukan salah Akira tapi masih saja keras kepala. Akira sampai dimarahi Kak Nao seperti tadi" jelasnya tetap tersenyum.


"Karena Akira juga salah. Maaf Kak" 


"Terima kasih ya karena sudah membela Kakak, Akira memang yang terbaik" ycap Yuki mengelus kepala Akira.


"Karena Kakak tidak bersalah sih, ini tidak adil"


"Hm, Kakak baik-baik saja jadi tidak perlu dibahas lagi ya. Sekarang tidurlah, Kakak akan kembali ke kamar" jelas Yuki.

__ADS_1


"Baik Kak."


"Mimpi indah, terima kasih Akira. Selamat malam" ucap Yuki tersenyum. Dia memeluk Akira sekilas dan pergi ke kamarnya.


"Selamat malam."


Semenjak hari itu Yuki berubah menjadi pendiam. Dia hanya berbicara seperlunya dan sering kali mengurung dirinya di kamar. Meskipun Tuan Souma sudah meminta maaf, itu tidak mengubah perubahan sikap Yuki. 


Karena kejadian itu juga, Akira semakin jauh dari Alya. Mereka hampir tidak pernah berbicara berdua bahkan untuk saling menyapa. Kecanggungan mulai menyelimuti keluarga ini.


Keesokan harinya.


Di meja makan..


"Selamat pagi" sapa Yuki datar.


"Selamat pagi" jawab Rina, Papa, Naoya dan Shinji sambil tersenyum.


"Duduklah," titah Rina akan mengambilkan nasi untuknya.


"Aku bisa sendiri" ucap Yuki terkesan dingin.


"Tidak apa, biar Ibu ambilkan" jelas Rina tersenyum.


Hening. Tidak ada jawaban lagi dari Yuki. Dia hanya menundukkan pandangannya tanpa berkata sepatah katapun.


"Biarkan dia mengambil nasinya sendiri" jelas Papa.


"Tapi.."


Kembali tidak ada percakapan lagi setelahnya. Hening, semua orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Beberapa lama kemudian.


"Terima kasih makanannya" ucap Yuki menyudahi makannya. Yuki kemudian pergi tanpa berkata apapun lagi.


"Kakak.."


Hari demi hari kecanggungan diantara para anggota keluarga Souma semakin besar. Ketidak pedulian dan rasa abai membuatnya semakin memburuk. Kesibukan masing-masing juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rasa abai terhadap masing-masing anggotanya semakin membesar.


...****...


"Aku tidak melakukannya!" Kesal Akira menatap tajam mata Alya.


"Jangan mengelak Akira! Aku jelas-jelas melihatmu memasuki sebuah club. Kau benar-benar aib keluarga!" Bentak Alya pada Akira.


"Apa setelah memfitnah Kakak, sekarang targetmu beralih kepada ku begitu? Aku tidak pernah melakukannya. Jangan kira dengan tidak adanya semua orang disini, kau bisa seenaknya!" Bentak Akira kesal.


"Kenapa tidak? Tch, aku merasa kasihan pada Sou karena kekasihnya adalah seorang ******."


PLAK!


"Aku tidak mengajarkanmu untuk menjadi gadis yang tidak tahu diri seperti ini!"


Rina tiba-tiba datang dan menampar pipi Alya cukup keras.

__ADS_1


"Atas dasar apa kamu mengatakan hal itu kepada Akira hah? Setiap malam dia berlatih bukan sepertimu yang selalu keluar dengan teman-temanmu!" 


Rina terlihat sangat marah. Netranya menatap nyalang mata anaknya itu. Sementara yang ditatap hanya bisa menangis sambil memegangi pipinya yang merah.


"Ayo ke kamar, Akira"


"Yuki.."


Yuki menghampiri para wanita itu. Dia menatap nyalang mata Alya juga Rina sebelum tangannya meraih tangan Akira dan menariknya ke kamar.


"Kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?" Tanya Yuki menatap dalam mata Akira.


"Akira baik-baik saja Kak."


Yuki kemudian memeluk adiknya itu cukup erat. "Maaf Akira, Kakak tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi bersama iblis itu. Kakak percaya kamu anak yang baik. Maaf ya."


"Kakak tidak salah Kak, terima kasih. Akira sungguh tidak pernah melakukannya."


Akira membalas pelukan Yuki yang tidak kalah eratnya.


Sialan! Gadis itu benar-benar! Berani sekali melakukan hal seperti itu kepada adikku!


Kebohongan, kesalahpahaman, perdebatan, emosi, permintaan maaf, air mata sudah menjadi makanan sehari-hari di rumah keluarga Souma. Kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi dan melibatkan pribadi yang berbeda juga. 


Kejadian ini seperti circle pasir hisap, siklus kehidupan yang menjebak setiap anggota keluarga Souma. Semakin mereka berusaha melepaskan diri dari circle tersebut, semakin kuat tarikannya.


Semakin banyak waktu yang dihabiskan di rumah itu, semakin mereka tahu bahwa banyak hal yang hilang dari keluarga Souma. Semakin banyak tahu keadaan keluarga itu semakin besar juga rasa bersalah yang mereka rasakan. Semakin banyak pembicaraan antar anggota keluarganya, semakin banyak juga kecanggungan setelahnya. 


Akira bahkan tidak merasa nyaman berada di keluarganya sendiri. Dia mulai tertutup dengan Kakak-Kakaknya bahkan kepada Yuki.


"Papa dan Ibu akan pergi ke Indonesia selama beberapa hari. Papa akan memantau perusahaan sekalian berlibur disana. Kalian baik-baik disini, jaga satu sama lainnya dan jangan sekali-sekali bertengkar. Naoya, Shin jaga adik-adikmu dan Yuki, Akira dan Alya tidak boleh membuat Naoya repot, kasian dia. Kalian harus saling membantu dan saling menjaga selama Papa dan Ibu pergi" ucap Papa memberikan wejangan karena kondisi rumah belum baik-baik saja.


"Nao mengerti Pa. Aku akan menjaga adik-adikku" jawab Naoya tersenyum.


"Tolong ya Naoya, kami mengandalkanmu. Kami akan segera pulang" ucap Rina tersenyum.


"Jangan sering-sering begadang dan makan dengan baik, mengerti?" Ucap Papa lagi mengingatkan.


Naoya tersenyum. "Kami mengerti Pa, Papa dan Ibu tidak perlu khawatir. Kami akan baik-baik saja."


"Papa jadi lega sekarang. Kami berangkat ya."


"Hati-hati Pa, semoga selamat sampai tujuan" ucap Akira memeluk Papanya.


"Baik-baik disini ya. Meskipun bertentangan tapi tolong jaga Kakakmu, mereka kurang memperhatikan kesehatan mereka. Papa mengandalkan Akira" ucap Papa mengelus kepala Akira.


"Tentu Pa, Akira akan menjaga Kakak" jawab Akira tersenyum.


"Hm, Papa akan bawakan surabi kesukaan Akira."


"Terima kasih Pa, Akira menunggunya" jawab Akira tersenyum.


"Sudah ya, kami harus pergi sekarang atau nanti akan ketinggalan pesawat. Ingat kata-kata Papa tadi ya. Kami pergi" pamitnya kemudian berjalan meninggalkan anak-anaknya.


"Hati-hati Pa, Bu."

__ADS_1


"Ayo kita juga pulang" ajak Naoya tersenyum yang diangguki oleh semua adiknya.


__ADS_2