Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 26 : Sepasang Kekasih


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir camp pelatihan sekolah Akira. Pagi-pagi sekali para murid diarahkan untuk berkumpul di lapangan dan melakukan upacara penutupan.


"Padahal aku masih mengantuk," gerutu Hana. "Bukankah ini masih terlalu pagi? Dan kenapa kita rajin sekali?"


"Ah.. sepertinya kita memang rajin Han" jawab Akira saat melihat beberapa orang yang sudah di lapangan.


"Tahu begitu aku tidur 5 menit lagi," ucapnya lagi.


"Mau bagaimana lagi bukan? Kita sudah terlanjur kemari" ucap Akira tersenyum.


"Akira," panggil Sou. "Kalian rajin sekali sudah berada di lapangan" ucap Sou tersenyum.


"I-iya, begitulah" ucap Akira menundukan kepalanya.


"Tentu saja kami selalu rajin, benar kan Akira?" Tanya Hana.


"Begitulah Han," ucap Akira tersenyum.


"Yoo kalian!" Sapa Hiro yang tiba-tiba datang. "Akhirnya kita pulang juga ya," ucapnya tersenyum.


"Benar. Aku sudah rindu kasurku" ucap Hana tersenyum.


"Aku juga" ucap Akira tersenyum.


"Akira," panggil Sou lagi.


"Iya, ada apa Sou?" Tanya Akira bingung. Mata mereka bertemu, tapi Akira kemudian mengalihkan pandangannya. 


"Ada apa?" Tanya Sou.


"Eh? Tidak, tidak ada apapun" ucap Akira menundukan kepalanya.


"Kenapa Akira? Kamu sakit?" Tanya Hana.


"Tidak, aku baik-baik saja Han"


"Kau yakin?" Tanya Hiro yang diangguki Akira.


"Aku baik-baik saja" ucap Akira tersenyum.


"Lalu kenapa Sou menanyakan hal seperti itu?" Tanya Hiro lagi.


"Itu-"


"Tidak, lupakan saja" ucap Sou memotong pembicaraan Akira kemudian pergi dari sana.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Hiro bingung. "Sou, mau kemana? Tunggu" panggil Hiro mengejar Sou.


"Sepertinya Akira membuat Sou marah" ucap Akira dalam hati.


"Sebenarnya kenapa dia? Aneh sekali," ucap Hana bingung. "Biarkan saja, ayo kita hampiri Rara dan yang lainnya" ajak Hana.


"Ayo."


Beberapa lama kemudian, upacara penutupan pun selesai. Semua murid diarahkan untuk memasuki bus karena mereka akan pulang. Sayangnya Akira duduk di bangku ke 2 dari belakang karena tadi dia pergi ke toilet terlebih dahulu.


"Terlalu belakang," gumam Akira sedih. "Tapi tak apa, sudah dekat jendela pula" gumamnya lagi menatap pemandangan dari luar melalui jendela.


Saat fokus melihat ke luar jendela, Akira cukup terkejut melihat pantulan seseorang yang terlihat di kaca selain dirinya sendiri.


"Sou!" Ucap Akira terkejut. "Aku pikir tadi hantu" bisik Akira dalam hati.


"Hm, ini aku," ucap Sou tersenyum. "Boleh aku duduk di sampingmu?" Tanyanya.


"Silahkan" ucap Akira canggung.


"Terima kasih" ucap Sou yang juga tersenyum. "Ada apa Akira? Tidak biasanya kamu terus menunduk seperti ini. Apa kamu salah tidur?"


"Eh? Ah, tidak, tidak ada apapun. Aku baik-baik saja" ucap Akira tersenyum.


"Benarkah?"


"Benar" ucapnya lagi kemudian kembali menunduk.


Seperti saat perjalanan pergi, keadaan bus saat perjalanan pulang juga cukup ramai. Para murid bernyanyi bersama merayakan akhir camp pelatihan ini, tak terkecuali Akira. Dia menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para murid dan bahkan sesekali ikut bernyanyi. Namun apabila Sou mengajaknya berbicara, Akira selalu menundukkan kepalanya.


"Akira," panggil Sou.


"Iya Sou" jawab Akira kemudian menundukan kepalanya.


"Kenapa tidak menatapku? Bukankah jika sedang berbicara dengan orang lain, kita harus memperhatikannya?"


"Itu.."


"Ada apa? Kamu tidak menatapku dan hanya menunduk saat berbicara denganku. Apa aku berbuat salah kepadamu?" Tanya Sou lagi.


"Ti-tidak Sou, kamu tidak berbuat salah. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana" gumam Akira tetap menundukan kepalanya.


"Maksudnya bagaimana itu bagaimana Akira? Aku tidak mengerti" ucap Sou lagi.


Akira berbisik. "Soalnya.. kemarin.."


"Hah?" Ucap Sou tidak mendengar apa yang Akira katakan. "Apa jangan-jangan karena kemarin malam?" Tebak Sou yang diangguki pelan oleh Akira.


"Kemarin kamu sangat tiba-tiba, aku jadi tidak tahu harus bagaimana setelahnya" gumam Akira lagi.


Sou tersipu mendengar perkataan Akira. Sebenarnya dia juga tidak mengerti mengapa dia bisa seberani itu apalagi sampai mencium Akira hingga 2 kali. 


Sou kemudian mengusap lembut kepala Akira. "Maaf ya atas kemarin malam. Aku juga tidak tahu mengapa aku seberani itu. Sungguh maafkan aku, aku tidak bermaksud menakutimu atau membuatmu bingung. Tapi aku mohon, jangan seperti ini. Aku jadi sedih. Aku tidak ingin dibenci olehmu" ucap Sou tersenyum.


Akira kemudian menatap dalam mata Sou. 


"Dia tidak berbohong," gumam Akira dalam hati. "Maaf Sou, aku juga tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tidak tahu harus bagaimana" jelas Akira.


"Hm, aku mengerti. Cukup jadi dirimu sendiri, sebagai Akira yang selalu aku kenal" ucap Sou tersenyum.


"Aku mengerti, maaf karena aku tadi-"


"Sudah, tidak masalah. Jangan dipikirkan lagi, aku juga bersalah disini," ujar Sou tersenyum. Dia kemudian mengangkat tangannya seperti mengajak tos.


"Tos?" Ucap Akira yang diangguki oleh Sou.


Akira kemudian mengangkat tangannya untuk melakukan tos dengan Sou. Tetapi saat menyentuh tangan Sou, Sou menggenggamnya.


"Sou?"


"Aku tahu ini bukan penyebrangan, tapi mari kita berpegangan tangan" ucapnya tersenyum manis.


"Senyuman ini lagi" bisik Akira dalam hati. "Hm" Akira menganggukan kepalanya.


"Tangan Akira kecil, sangat menggemaskan" ucap Sou tersenyum.


"Tidak, tanganku tidak kecil, tangan Sou saja yang terlalu besar" protes Akira.


"Eh? Benarkah?" Ucap Sou bingung. "Tapi, aku kan memang cowok jadi tanganku lebih besar. Aku hanya tidak menyangka tangan Akira sekecil ini"


"Tidak masalah bukan? Lagipula itu tanganku" protes Akira lagi.


"Tentu saja. Ini adalah tanganmu dan aku juga menyukainya, kamu tenang saja" ucap Sou yang membuat wajah Akira sedikit memerah.


Sou menahan senyumnya. "Wajahmu merah Akira, apa kamu sakit? Apa udaranya kurang disini?"


"Ini karena Sou" gumam Akira mengalihkan pandangannya.


"Kamu menggemaskan Akira" bisik Sou tepat di telinganya.


"Jangan berbisik di telingaku seperti itu, Sou!" ucap Akira terkejut.


"Kenapa? bukankah suaraku bagus?" bisiknya lagi tepat di telinga Akira.


"Sou!" Rengek Akira yang membuat Sou tertawa. 


"Baiklah, baiklah. Aku akan berhenti" ucap Sou tertawa.


Mereka berdua kemudian menikmati perjalanan pulang dengan berpegangan tangan. Senyuman yang terlukis di wajah mereka menandakan mereka sedang bahagia saat ini.


Malam harinya...


"Akira, aku mengantuk" ucap Sou memejamkan matanya.


"Hm, tidurlah Sou, akan aku bangunkan nanti" ucap Akira tersenyum.


Akira kemudian memperhatikan wajah Sou yang sepertinya sudah terlelap.


"Orang tampan memang beda. Dia bahkan tetap tampan saat tertidur" gumam Akira tersenyum. "Sampai kapan kita harus berpegangan seperti ini? Tanganku sudah basah oleh keringat" gumam Akira perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Sou.


Tak lama kemudian, bus berguncang karena terlalu cepat saat melewati polisi tidur yang membuat semua orang sedikit terbang dari tempat duduknya.


"Astaga!" Ucap Akira terkejut. Dia menahan tubuh Sou agar tidak terjatuh ke depan.


"Apa kalian baik-baik saja? Maaf kami terlalu cepat melewati polisi tidur tadi. Kami akan lebih berhati-hati, tolong lanjutkan waktu istirahat kalian" ucap Pak Supir.


"Sou bahkan tidak terbangun," ucap Akira menatap Sou. Dia kemudian menyandarkan tubuh Sou ke kursi kembali, tapi kepala Sou malah bersandar di pundak Akira.


"Loh? Sou?" Ucap Akira bingung. Akira tersenyum setelah mendapatkan wajah Sou yang tenang. "Kamu pasti sangat kelelahan. Terima kasih sudah bekerja keras" ucap Akira tersenyum. 


Akira kemudian membiarkan Sou tertidur di pundaknya meskipun dia tahu, saat terbangun leher Sou akan sakit karena tubuh Akira lebih pendek dari Sou.


"Akira juga mengantuk," gumam Akira kemudian menyandarkan kepalanya pada kepala Sou. "Selamat malam" ucap Akira kemudian ikut memasuki dunia mimpi.


"Selamat malam" jawab Sou membuka matanya sambil tersenyum. Dia kembali menggenggam tangan Akira dan kembali tertidur.


Pagi harinya, Akira terbangun lebih dulu dengan Sou yang masih tertidur di pundaknya.


"Selamat pagi" sapa Sou yang masih memejamkan matanya.


"Oh? Selamat pagi Sou," sapa Akira sedikit terkejut. "Apa lehermu sakit? Maaf ya aku tidak membangunkanmu" ucap Akira menunduk.


Sou menggeleng lemah. "Leherku tidak sakit, terima kasih karena tidak membangunkanku" ucap Sou tersenyum.


"Eh?"


"Tidak, tidak. Lupakan saja" ucap Sou tersenyum.


"Baiklah."


Di sekolah...


"Akira!" Panggil Shinji dan Yuki yang sudah berada disana.


"Kakak.. kenapa sudah ada di sekolah? Padahal Akira belum menghubungi Kakak" ucap Akira menghampiri Kakaknya.


"Kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?" Tanya Shinji lagi.


"Akira baik-baik saja, tidak ada yang terluka. Memangnya ada apa Kak?" Tanya Akira bingung.

__ADS_1


"3 hari yang lalu, Ibu Ayano menelepon rumah. Beliau meminta maaf karena anaknya sudah mencoba mencelakaimu" jelas Yuki.


"Ah begitukah?" ucap Akira paham. "Akira baik-baik saja Kak, tidak ada yang terluka sedikitpun. Ada Sou dan Hiro serta teman-teman lain yang sudah menyelamatkan Akira" jelas Akira tersenyum.


"Benarkah? Kakak harus berterima kasih kepada mereka. Akira harus lebih berhati-hati dalam berteman, Kakak tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi," tegas Shinji. "Syukurlah Akira baik-baik saja" ucapnya lagi memeluk Akira.


"Selamat siang Kak" sapa Sou bersama Hiro.


"Oh, Sou kah? Selamat siang" jawab Shinji tersenyum.


"Selamat siang" ucap Yuki yang juga tersenyum.


"Terima kasih sudah menyelamatkan Adikku Sou" ucap Shinji tersenyum. "Dia?"


"Saya Hiro, Kak" ucap Hiro membungkukkan badannya.


"Hiro kah? Terima kasih juga Hiro, terima kasih sudah menyelamatkan Akira" ucap Shinji tersenyum.


"Tidak masalah Kak, untung saja hal buruk tidak terjadi kepada Akira dan kami" ucap Sou tersenyum.


"Sou benar Kak, Kakak tidak perlu berterima kasih karena Hiro juga sudah banyak ditolong oleh Akira" jelas Hiro tersenyum.


"Intinya terima kasih banyak" ucap Yuki tersenyum.


"Benar, terima kasih banyak Hiro, Sou" ucap Akira tersenyum.


"Kalian pulang dengan siapa? Ayo pulang bersama kami" ajak Shinji.


Sou dan Hiro terlihat berpikir sebentar.


"Kalian juga lelah bukan? Mobilnya cukup kok" ucap Akira tersenyum.


"Benar, ayo" ajak Yuki lagi.


Mereka kemudian pulang bersama. Shinji mengantarkan Sou dan Hiro pulang ke rumahnya masing-masing.


"Akira berhutang banyak cerita pada Kakak" ucap Shinji lagi.


"Akira mengerti Kak."


****


Pagi hari di sekolah...


Akira cukup bingung saat melihat Sou yang berdiri di depan gerbang sekolah sedang menunggu sesuatu.


"Sou?" Tanya Akira.


"Selamat pagi" sapa Sou tersenyum.


"Selamat pagi Sou, apa yang kamu lakukan disini?" 


"Menunggumu"


"Hah?" Ucap Akira terkejut. "Kenapa Sou menungguku?" Tanya Akira bingung.


"Tidak ada hal khusus, aku hanya ingin menunggumu" ucap Sou menatap Akira. "Kamu kekasihku sih" ucapnya lagi sambil tersenyum yang membuat Akira tersipu.


"Akira wajahmu merah, ap-"


"Hentikan," ucap Akira mengalihkan pandangannya. "Kita masuk saja" ucapnya kemudian berjalan lebih dulu.


"Dia menggemaskan" gumam Sou tersenyum. "Tunggu aku, Akira" panggil Sou mengejar Akira.


Semua murid di sekolah ini sudah tidak kaget melihat kedekatan Akira dan Sou. Sejak pertama masuk sekolah mereka terlihat selalu bersama, jadi berjalan bersama, makan bersama, pulang sekolah bersama, itu bukan menjadi hal yang aneh. Mereka tinggal menunggu konfirmasi Akira dan Sou apakah mereka menjalin hubungan atau tidak. Meskipun begitu, banyak orang yang ingin lebih dekat dengan Akira maupun dengan Sou. Untuk berjaga-jaga agar mereka bisa membatasi sikapnya pada Akira ataupun pada Sou.


Sebagai sepasang kekasih, akhir-akhir ini Akira selalu menemani Sou berlatih basket saat dia memiliki waktu luang begitu juga dengan Sou. Dia selalu menunggu Akira selesai latihan klub bulutangkis. Karena klub bulutangkis berlatih secara tertutup jadi Sou hanya bisa menunggu Akira hingga selesai. Sou juga terkadang menemui Akira di gedung Pelatnas untuk menyemangatinya berlatih.


Sou juga sudah bertemu dengan Papa Akira dan mereka diizinkan untuk berpacaran asalkan tidak mengganggu pelajaran, begitu juga dengan orang tua Sou dengan syarat yang sama.


"Permisi, apa Sou ada disini?" Tanya seorang gadis kelas sebelah.


"Nina kemarilah," ucap Sou menyuruh Nina menghampirinya.


"Kenalan Sou?" Ucap Akira dalam hati.


Mereka kemudian mengobrol di bangku Sou. Sang Gadis terlihat senang dan banyak tertawa.


"Ternyata cukup sedih juga ya melihat Sou bersama wanita lain" gumam Akira tersenyum.


"Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Hana.


"Tidak, aku tidak mengatakan apapun" ucap Akira tersenyum.


"Matamu terus tertuju pada Sou, Akira" jelas Rara.


"Eh benarkah? Ketahuan ya?" Ucap Akira tersenyum canggung.


"Jadi bagaimana?" Tanya Rara.


"Bagaimana apanya?" Ucap Akira bingung.


"Kamu dengan Sou" ucap Rara lagi.


"Itu.. itu"


"Berhasil ya?" Tebak Hana bersemangat.


"Begitulah" gumam Akira tersenyum tipis.


"Akhirnya terjadi juga, benarkan Ra?" Ucap Hana senang.


"Benar Han. Akira yang berhasil kenapa aku yang senang dan terharu?" Ucap Rara lagi.


"Kamu benar, aku juga ikut terharu" ucap Hana lagi.


Akira tersenyum. "Terima kasih teman-teman, ini juga berkat kalian. Terima kasih banyak"


"Apa yang kamu katakan? Ini adalah hasil usahamu sendiri, kami tidak membantu apapun" ucap Hana menyangkal.


"Tapi aku tetap ingin berterima kasih" ucap Akira tersenyum.


"Akira..." ucap Hana kemudian memeluk Akira yang diikuti oleh Rara.


"Teman-teman, kalian berlebihan. Aku tidak bisa bernafas" ucap Akira membalas pelukan Hana dan Rara. "


"Ah, maaf Akira kami terlalu senang" ucap Rara tersenyum.


"Benar, kami sangat senang. Kami akan mendukungmu" ucap Hana tersenyum.


"Benar, kami akan selalu mendukungmu" ucap Rara tersenyum.


Akira tersenyum. "Terima kasih."


****


Malam hari di rumah Akira..


"Maaf anak-anak, besok Papa harus pergi, ada urusan mendadak. Padahal besok family time kita" ucap Papa.


"Kalau seperti itu mau bagaimana lagi bukan?" Ucap Yuki.


"Kak Yuki benar. Kalau seperti itu mau bagaimana lagi" ucap Akira sedikit sedih.


"Maaf ya" ucap Papa mengelus kepala Akira.


"Tidak apa Pa. Lagipula di rumah masih ada Kakak" ucap Akira tersenyum.


"Benar, masih ada kami Pa. Papa tenang saja" ucap Naoya tersenyum.


"Terimakasih anak-anak" ucap Papa yang juga tersenyum. "Istirahatlah, ini sudah malam" titahnya.


"Baik Pa" ucap mereka serempak.


Mereka kemudian memasuki kamar masing-masing setelah mengucapkan selamat malam.


Beberapa lama kemudian terdengar notifikasi masuk ke handphone Akira.


"Pesan dari Sou" ucap Akira senang.


Sou: "Akira, apa kamu ada waktu besok?"


Akira: "Memangnya ada apa Sou? Setiap weekend aku ada dirumah"


Sou: "Aku ingin mengajakmu jalan-jalan besok"


"Jalan-jalan?" Ucap Akira bingung.


Akira: "Sepertinya aku harus mendapatkan izin dulu dari Papa dan Kakak, Sou"


Sou: "Kita memang membutuhkannya:)"


Sou: "Tolong kabari lagi jika diizinkan ya"


Akira: "Baiklah"


Sou: "Kamu sedang apa? Kenapa belum tertidur? Apa belum mengantuk?"


Akira: "Begitulah. Sou sendiri kenapa belum tidur?"


Sou: "Aku ingin memberitahukan rencanaku besok kepadamu, jadi aku belum tidur.


Akira: "Begitukah? Baiklah aku akan berusaha mendapatkannya:)"


Sou: "Jika kamu tidak diizinkan, aku yang akan meminta izin"


"Apa-apaan itu?" Ucao Akira tertawa kecil.


Akira: "Sepertinya aku tidak diizinkan Sou. Kamu yang harus meminta izin"


Sou: "Jangan berbohong Akira, aku yakin kamu belum mengatakannya"


Sou: "Sepertinya cukup sampai disini. Tidurlah, ini sudah malam. Jangan lupa kabari aku ya"


Akira: "Tentu Sou, aku akan mengabarimu. Selamat malam, mimpi indah Sou"


Sou: "Selamat malam, mimpi kan aku ya"


Akira: "Tidak mau. Aku mau bermimpi berenang bersama Nanase Haruka saja"


Sou: "Seperti bisa berenang saja"


Akira: "Jangan meremehkanku, Sou"


Sou: "Kita tidak akan berakhir kalau seperti ini:("

__ADS_1


Akira: "Maaf"


Akira: "Baiklah, ini yang terakhir. Selamat malam Sou"


Sou: "Selamat malam juga Akira. Persiapkan dirimu untuk besok"


Sou: "Kalau diizinkan"


Akira: "Iya, aku mengerti"


"Sou ada-ada saja" ucap Akira tersenyum. "Apa Papa dan Kakak mengizinkan Akira tidak ya? Yang penting persiapan dulu aja. Jadi tidaknya bagaimana nanti" gumamnya kemudian memilih baju untuk besok jalan bersama Sou.


Keesokan harinya...


"Papa, Kakak, itu.. hm.. Sou mengajak Akira jalan-jalan hari ini" ucap Akira menundukan kepalanya.


"Jalan-jalan? Maksudnya kencan?" Tanya Papa.


"Sepertinya bukan. Sou bilang jalan-jalan" ucap Akira sedikit bingung.


"Itu sama saja, namanya kencan" ucap Shinji.


"Eehh benarkah? Mungkin iya?" Ucap Akira bingung.


"Kakak jadi tidak yakin kamu bisa menjalin hubungan dengan baik" ucap Naoya terkejut.


"Maaf" gumam Akira merasa bersalah.


"Kemana?" Tanya Papa.


"Itu.."


"Boleh saja, asalkan harus berhati-hati" ucap Papa lagi.


"Terima kasih Pa," ucap Akira tersenyum. "Kakak bagaimana?" Tanya Akira.


"Kakak tidak masalah" ucap Naoya tersenyum.


"Kakak juga tidak masalah asalkan ada oleh-olehnya" ucap Yuki tersenyum.


"Aku juga tidak masalah, lagipula aku juga akan berkencan besok" ucap Shinji.


"Jadi Akira diizinkan?" Tanya Akira lagi.


"Tentu, bersenang-senanglah. Ingat batasan" ucap Papa tersenyum.


"Benar, ingat batasan Akira. Harus hati-hati" ucao Naoya tersenyum.


"Baik Pa, Kak, terima kasih" ucap Akira tersenyum.


"Yosh, Papa akan pergi sekarang. Hati-hati dirumah, Akira juga hati-hati. Jangan pulang terlalu sore"


"Baik Pa. Hati-hati dijalan, bye-bye" ucap Akira tersenyum.


"Bye-bye" ucap Papa yang juga tersenyum.


"Kakak, Akira mau mengabari Sou sebentar" pamit Akira menuju kamarnya.


"Iya, pergilah" ucap Yuki tersenyum.


"Bisa-bisanya aku dikalahkan oleh kalian semua" ucap Naoya tersenyum.


"Makannya Kakak juga cari pacar, bukannya Kakak sangat populer?" Tanya Shinji.


"Tapi aku belum menemukan wanita yang cocok denganku" jelas Naoya.


"Kalau Kakak terus seperti itu, Kak Shinji akan menikah duluan loh Kak, mungkin Akira juga" ucap Yuki.


"Kamu benar. Baiklah aku akan mencari wanita dulu" ucap Naoya berdiri dari duduknya.


"Kakak serius?" Tanya Shinji tidak percaya.


"Tentu saja tidak mungkin. Mencari wanita tidak semudah itu. Aku hanya akan pergi ke rumah temanku, kami sudah berjanji bermain game bersama" jelas Naoya.


"Yuki kira Kakak serius" ucap Yuki lega.


"Kau ini," ucap Naoya tersenyum. "Aku pergi ya, sampaikan pada Akira"


"Tentu Kak, hati-hati" ucap Yuki tersenyum.


Di kamar Akira...


Akira: "Sou aku diizinkan:)"


Sou: "Benarkah? Syukurlah.."


Sou: "Aku akan menjemputmu jam 8 ya"


Akira: "Aku akan menunggumu. Hati-hati saat kemari"


Sou: "Tentu, sampai jumpa jam 8"


Setelah mengirimkan pesan pada Sou, Akira lanjut bersiap-siap untuk kencan dengan Sou. Akira terlihat sangat senang karena ini adalah kencan pertamanya.


Disisi lain...


Di rumah Sou.


"Kamu sudah rapi mau kemana?" Tanya Ibu Sou.


"Aku akan berkencan dengan Akira, Bu" ucapnya tersenyum.


"Kamu tersenyum Sou" gumam Ibu Sou.


"Ada apa Bu? Kenapa? Bolehkan aku pergi keluar? Aku sudah menyelesaikan semua tugasku jadi tidak masalah bukan?" Tanya Sou ragu.


"I-iya, tentu. Kalau kamu sudah mengerjakan semua tugasmu itu tidak masalah" ucap Ibu Sou lagi.


"Terima kasih banyak Bu, aku pergi" ucap Sou tersenyum.


"Hati-hati, jangan pulang terlalu sore" teriak Ibu Sou. "Anak itu kembali tersenyum, dia sudah menjadi anakku lagi" ucapnya terharu.


Disisi lain..


"Bagaimana Kak? Apa cocok?" Tanya Akira menghampiri Shinji dan Yuki. "Akira pakai baju dari Kak Shin"


"Wahh, Akira benar-benar cantik. Cocok sekali" ucap Yuki kagum.


"Benarkah?"


"Akira.." panggil Shinji.


"Ada apa Kak? Tidak cocok ya?" Tanya Akira.


"Kalau bisa jangan cantik-cantik nanti kamu diculik om-om"


"Benarkah? Sudah Akira duga, Akira mau ganti sebentar" ucap Akira akan pergi.


"Eh jangan, jangan. Itu sudah sangat cocok untuk Akira" ucap Yuki menahan Akira.


"Benar, itu sangat cocok untuk Akira, Kakak bisa-bisa suka kepadamu" ucap Shinji tersenyum.


"Hah? Apa yang Kakak katakan? Mengerikan" ucap Akira tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Shinji.


"Maaf maaf, habisnya kamu cantik sekali" ucap Shinji tersenyum.


"Benar, Akira sangat cantik. Cantik sekali" ucap Yuki setuju.


"Terima kasih" ucap Akira tersipu. "Ah, Kak Nao kemana?"


"Kakak baru saja pergi, katanya mau main ke rumah temannya" jelas Yuki.


"Begitukah, Akira mengerti" ucap Akira paham.


Ding dong.. ding dong..


"Sou sepertinya sudah datang" ucap Yuki.


"Sepertinya begitu. Akira pergi ya Kak" pamit Akira.


"Hati-hati ya. Bersenang-senanglah" ucap Shinji tersenyum.


"Terima kasih Kak, bye-bye"  ucap Akira melambaikan tangannya.


"Bye-bye" 


"Ayo, Kakak antar sampai depan" ucap Yuki tersenyum yang diangguki Akira.


Akira kemudian membukakan pintu untuk Sou. Sou terkejut melihat penampilan Akira.


"Sou, jaga Akira baik-baik ya. Kalau sampai lecet sedikitpun aku tidak akan memaafkanmu" tegas Yuki.


"Baik Kak, Sou akan menjaganya. Sou pinjam Akiranya sebentar ya" ucap Sou tersenyum.


"Aku bukan barang" kesal Akira.


Sou tersenyum gemas. "Maaf, maaf. Kami pergi Kak" pamit Sou.


"Iya"


"Bye-bye Kak Yuki" ucap Akira melambaikan tangannya.


"Bye-bye, hati-hati"


Di Perjalanan…


"Ada apa Sou? Kenapa melihatku terus?" Tanya Akira bingung.


"Kamu cantik sekali Akira" ucap Sou tersenyum yang membuat wajah Akira sedikit memerah.


"Jangan menghinaku" kesal Akira.


"Aku tidak menghinamu, aku bahkan takut orang lain akan melirikmu" ucap Sou menatap Akira.


"Hmm kalau begitu biarkan aku kembali ke rumah, aku akan ganti baju dulu" ucap Akira lagi.


"Tidak perlu. Aku menyukainya, tidak perlu diganti" ucap Sou tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih" ucap Akira tersenyum.


"Ayo pegangan," ajak Sou mengulurkan tangannya. "Aku tahu ini bukan penyeberangan tapi aku ingin menggenggam tanganmu" ucapnya tersenyum.


"Baiklah" ucap Akira mengulurkan tangannya.


Mereka kemudian menikmati waktu kencan mereka dengan bahagia. Mulai dari bioskop, wisata aquarium, restoran, semua mereka kunjungi. Mereka benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan sangat baik dan bahagia, terlebih ini adalah kencan pertama mereka.

__ADS_1


__ADS_2