
"Padahal Akira bisa lebih lama disini, menginap juga tidak apa-apa" ucap Ibu Sou tersenyum.
"Maaf Bi, Akira belum izin untuk itu jadi Akira harus pulang" jelas Akira.
"Tidak apa, tapi Akira harus sering main kemari ya? Rumah ini selalu terbuka untuk Akira" Ujar Ayah Sou tersenyum.
"Terima kasih banyak Paman, Bibi. Akira izin untuk bermain kemari lagi nanti" ucap Akira tersenyum.
"Hm tentu saja" jawab Ibu Sou.
"Ayo Akira" ajak Sou.
"Kamu ini, kenapa ingin cepat-cepat mengantar Akira pulang hah? Apa agar kamu bisa seenaknya berduaan dengan Akira begitu?" Tanya Ibu Sou sedikit kesal.
"Bukan seperti itu Bu, aku sudah berjanji pada Kakak Akira untuk memulangkannya tepat waktu. Aku tidak ingin dimarahi" jelas Sou.
"Maaf" ucap Akira tersenyum canggung.
"Baiklah kalau begitu" ucap Ibu Sou kembali tersenyum.
"Akira pamit pulang Bibi, Paman, terima kasih sudah memperbolehkan Akira main kemari" ucap Akira tersenyum.
"Mainlah lebih sering ya, sampaikan salam Paman dan Bibi untuk orang tuamu" ucap Ayah Sou tersenyum.
"Tentu Paman, Akira pulang dulu. Terima kasih" ucap Akira kembali tersenyum.
"Hati-hati ya" Ibu dan Ayah Sou melambaikan tangannya.
****
"Akira tidak tahu jika Sou seperti itu. Akira akan berusaha melindungi Sou, Akira akan melindungi senyumannya"
"Sou," panggil Akira menghentikan langkahnya.
"Hm, ada apa?"
Akira tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap mata Sou cukup lama.
"Ada apa Akira?" Tanya Sou mulai panik. Akira dengan cepat memeluk tubuh Sou cukup erat.
"Akira?"
"Biarkan seperti ini, aku ingin memeluk Sou" jelas Akira menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sou.
"Ada apa hm? Apa Ibu dan Ayahku mengatakan sesuatu tadi?" Ucap Sou membalas pelukan Akira.
Akira menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ada. Aku hanya ingin memeluk Sou saja" jelas Akira lagi.
Sou kemudian tersenyum. "Baiklah, peluklah aku sepuasnya"
"Hm, terima kasih" ujar Akira mempererat pelukannya dan Sou mengelus lembut kepala Akira.
Setelah cukup lama dan Akira sudah puas memeluk Sou, dia kemudian melepaskan pelukannya.
"Terima kasih Sou" ucapnya tersenyum.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Tidak biasanya" ucap Sou menyelidik.
"Sou tidak mau Akira peluk ternyata. Baiklah aku tidak akan memeluk Sou lagi. Maafkan aku" ucap Akira membungkukkan badannya.
"Eh? Tidak seperti itu, bukan seperti itu Akira" panik Sou.
"Padahal aku hanya ingin memeluk Sou saja, apa aku tidak boleh memeluk kekasihku sendiri?" ucap Akira mempoutkan bibirnya.
"Apa kamu sedang marah?"
"Tidak, aku tidak marah" ucap Akira kemudian berjalan mendahului Sou.
"Jangan marah Akira" ucap Sou kemudian menarik lengan Akira sehingga tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Akira dan memeluknya. "Maaf Akira, aku tidak bermaksud seperti itu. Jangan marah kepadaku" ucap Sou mengeratkan pelukannya.
Akira kemudian membalas pelukan Sou. "Aku tidak marah Sou" ucapnya tersenyum.
"Kamu serius?"
"Aku serius. Lagi pula kenapa aku harus marah?" Tanya Akira bingung.
"Maaf" ucap Sou lagi.
"Hm.. aku juga bersalah disini. Ayo pulang, Kakak akan memarahi kita nanti" jelas Akira tersenyum.
"Kamu benar," ucap Sou tersenyum kemudian menggenggam tangan Akira. "Ayo pulang"
"Hm"
"Akira, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Memangnya harta apa yang sudah kamu kembalikan pada Ayah dan Ibu tadi?" Tanya Sou penasaran.
"Rahasia" ucap Akira tersenyum.
"Kenapa? Apa itu hal yang tidak boleh aku tahu?"
"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin memberitahumu karena Sou juga sudah bermain rahasia-rahasiaan" jelas Akira tersenyum.
"Apa ini semacam pembalasan?" Tanya Sou yang juga tersenyum.
"Hm" ucap Akira menganggukan kepalanya antusias.
"Hah.. baiklah, kita kembali impas sekarang" ucap Sou pasrah. "Apa kamu sangat gugup tadi?" Tanya Sou antusias.
"Tentu saja, jantungku sudah lepas dari tempatnya sejak aku memasuki rumah Sou" protes Akira.
"Eh? Tidak mungkin Akira, kalau seperti itu kamu berarti sudah mati tadi" jelas Sou tersenyum.
"Tapi jantungku benar-benar berdetak sangat cepat tadi, aku gugup dan takut. Tapi syukurlah Ayah dan Ibu Sou orang yang baik. Mereka menerimaku" ucap Akira tersenyum tipis.
"Hm, kita sudah mengantongi izin dari orang tua kita masing-masing. Aku akan melamarmu Akira" ucap Sou yang membuat wajah Akira memerah.
"Akira? Wajah kamu merah, apa ka-"
"Ini gara-gara Sou!" Ketus Akira memalingkan wajahnya.
"Hhhh.. maaf maaf, tapi kamu mau kan menikah denganku?" Tanya Sou tersenyum.
"Pertanyaan macam apa itu?" Gumam Akira menundukan kepalanya.
"Mau atau tidak?"
"Sou, ini-"
"Mau atau tidak?"
"Hm, a-aku mau" ucap Akira gugup.
Sou kemudian tersenyum puas. "Terima kasih, aku sangat mencintaimu" ucap Sou meraih pinggang Akira agar lebih dekat dengan tubuh Sou.
"Aku lebih mencintai Sou" ucap Akira tersenyum menatap Sou.
****
__ADS_1
Di rumah Akira..
"Terima kasih sudah mengembalikan Akira dengan selamat Sou" ucap Papa tersenyum.
"Itu sudah kewajiban Sou, Paman" jelasnya tersenyum.
"Tuh, Sou nya sudah berkata seperti itu, Akira" ucap Papa tertawa kecil.
"Baiklah kalau begitu Sou pamit pulang Paman, Bibi. Ini sudah sore" pamitnya tersenyum.
"Tidak masuk dulu? Bibi akan buatkan teh" ucap Rina.
"Tidak perlu Bi, Sou takut Ibu marah jika Sou pulang terlambat" ujar Sou tersenyum.
"Baiklah kalau begitu" ucap Rina tersenyum.
"Hati-hati ya, salam untuk orang tuamu" ucap Papa tersenyum.
"Hati-hati Sou, terima kasih untuk hari ini" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih juga Akira. Sou sampaikan Paman, terima kasih. Sou pulang dulu" pamit Sou.
"Terima kasih Sou, bye-bye" ucap Akira melambaikan tangannya.
"Bye-bye"
Keluarga Souma kemudian masuk ke rumah setelah Sou menghilang dari pandangan mereka.
"Jadi bagaimana kencannya? Apa menyenangkan?" Tanya Rina penasaran.
"Hm, sangat menyenangkan tapi juga membuat jantung Akira tidak aman" jelas Akira tersenyum. "Oiya, ada salam untuk Papa dan Ibu dari Ayah dan Ibunya Sou"
"Ayah dan Ibu Sou?" Tanya Papa bingung.
"Iya Pa" ucap Akira tersenyum.
"Hmm sepertinya kita akan secepatnya memiliki besan Bu" ucap Papa pada Rina sambil tersenyum.
"Sepertinya begitu Pa" jawab Rina yang juga tersenyum.
"Anakku sudah besar ternyata" ucap Papa memeluk Akira.
"Papa berlebihan" gumam Akira sambil tersenyum. "A-akira mau ganti baju dulu" ucap Akira kemudian melepaskan pelukan Papanya.
"Hm, istirahatlah. Jangan memikirkan Sou saat sedang mandi, kamu belum boleh melakukannya!" Teriak Papa.
"A-apa yang Papa katakan? Mana mungkin Akira melakukan hal seperti itu Pa!" ujar Akira yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Papanya. Sedangkan Papa dan Rina hanya tersenyum puas.
"Berhentilah menggoda anakmu sendiri" ucap Rina pada Papa. "Istirahatlah Akira, ucapan Papa jangan terlalu dipikirkan" titahnya.
"Baik Bu" Akira kemudian pergi ke kamarnya. "Papa mulai berbicara yang aneh-aneh" gumam Akira mempoutkan bibirnya.
Disisi lain..
"Walaupun sudah seminggu kami menjadi keluarga tapi hatiku masih tidak menyetujuinya" gumam Yuki menatap langit dari jendela kamarnya. "Apa ini keputusan yang benar Ma? Apa Mama juga mengizinkan hal ini terjadi? Kenapa Papa keras kepala sekali saat itu, padahal kami sudah besar dan bisa mengurus diri sendiri walaupun masih dengan bantuan Akira" gumamnya. "Sudah kuduga, aku memang tidak menginginkannya" jelasnya lagi.
"Kakak!" Teriak Alya yang membuat Yuki terkejut. Tanpa permisi, dia langsung masuk ke kamar Yuki dan merebahkan dirinya di kasur.
"Aku tidak ingat pernah mengizinkanmu masuk ke dalam kamarku, apalagi sambil berteriak dan langsung masuk saja seperti itu. Apa perlu aku mengajarkan sopan santun kepadamu?" Ucap Yuki dingin.
"Tidak masalah bukan? Akira juga sering melakukan hal seperti ini bukan? Kenapa hanya aku yang tidak boleh? Padahal aku juga adikmu" geturu Alya mendudukan tubuhnya.
"Sudah kuduga, kalian tidak tahu apapun tentang kami" gumam Yuki.
"Apa Kakak mengatakan sesuatu?" Tanya Alya bingung.
"Jangan seolah-olah kau tahu semua tentang Akira. Dia anak yang baik dan punya sopan santun meskipun pada Kakaknya sendiri. Sekarang keluar!" Ketus Yuki.
"Ku bilang keluar!" Titah Yuki meninggikan nada bicaranya.
"Tch, manusia dingin!" ketus Alya kemudian pergi keluar kamar.
"Dasar anak tidak tahu sopan santun!" kesal Yuki. "Berani sekali dia menerobos masuk ke kamarku dan berdecak kepadaku. Lihat kan Ma? Aku rasa aku tidak akan pernah bisa menyukainya" monolognya menatap foto keluarganya yang disimpan di atas nakas.
Malam harinya..
Tok..tok..tok..
"Kakak?" Panggil Akira dari luar kamar.
"Buka saja Akira" titah Yuki.
"Akira buka ya" ucapnya kemudian membuka kamar Yuki. "Kakak ayo makan, semua sudah menunggu di bawah" ajak Akira menghampiri Yuki.
"Kalian makan duluan saja, Kakak belum lapar dan masih ada tugas yang harus Kakak kerjakan" jelasnya tersenyum.
"Apa perlu Akira bantu?" Tawar Akira.
"Memangnya Akira bisa?"
"Tidak tahu, tapi Akira akan mencobanya" ucap Akira tersenyum.
"Tidak perlu. Akira makan duluan saja ya, Kakak akan menyusul setelah selesai tugasnya" ucap Yuki tersenyum.
"Baiklah, Akira ke bawah dulu ya"
"Hm"
Akira kemudian kembali ke meja makan sendirian.
"Dimana Yuki?" Tanya Papa saat melihat Akira kembali sendirian.
"Kakak sedang mengerjakan tugasnya Pa"
"Kenapa tidak makan dulu saja?" Tanya Rina.
"Mungkin tanggung Bu, Kakak bilang akan menyusul saat tugasnya sudah beres" jelas Akira lagi.
"Baiklah kita makan duluan saja" ucap Naoya tersenyum.
Rina kemudian mengambilkan nasi untuk semua orang yang ada disana.
"Akira nanti saja Bu" ucap Akira sebelum Rina mengambilkan nasi untuknya.
"Eh? Kenapa?" Tanyanya.
"Akira menunggu Kak Yuki" ucap Akira tersenyum.
"Bukankah Yuki masih mengerjakan tugasnya? Mungkin akan lama" jelasnya lagi.
"Tidak apa Bu, Akira memang seperti ini. Dia tidak akan makan sebelum yang lain makan" jelas Shinji.
"Benarkah?" Tanyanya lagi.
"Benar, Akira memang seperti ini" jelas Papa tersenyum.
"Kalau begitu apa tidak masalah jika kami makan duluan?" Tanyanya lagi.
"Tidak apa Bu, tidak usah menunggu Akira. Akira akan menunggu Kakak" jelas Akira tersenyum.
"Baiklah"
__ADS_1
Beberapa lama menunggu, Yuki tetap tidak keluar kamarnya.
"Akira mau ke kamar Kakak dulu" pamit Akira.
"Hm, sekalian ajak Yuki makan sekarang" titah Papa.
"Baik Pa"
Akira kemudian pergi menuju kamar Yuki.
"Kakak?" Panggil Akira mengetuk pintu kamar.
"Masuk saja Akira" titah Yuki.
"Apa belum selesai?" Tanya Akira.
"Sedikit lagi" ucap Yuki tersenyum. "Akira pasti menunggu Kakak kan? Rasanya Kakak sudah menyuruh Akira untuk makan duluan tadi" ucapnya menatap Akira.
"Akira mau menunggu Kakak saja" ucap Akira tersenyum.
"Ya sudah, daripada duduk disana melihat orang yang makan, lebih baik Akira bantu Kakak ya?"
"Hm, itu memang tujuan Akira datang kemari" jelas Akira tersenyum.
"Terima kasih" ucap Yuki tersenyum. "Jika Akira mengikuti rumusnya semua akan baik-baik saja" ucap Yuki memberikan beberapa lembar soal pada Akira. "Tolong ya, nanti Kakak belikan es krim"
"Janji ya" ucap Akira tersenyum. "Tapi Akira tidak yakin hasilnya benar, jadi harus Kakak cek kembali"
"Hm, Kakak akan melakukannya. Terima kasih banyak Akira" ucapnya tersenyum.
"Sama-sama Kak"
Akira kemudian membantu mengerjakan tugas Yuki semampunya. Dia juga beberapa kali bertanya mengenai kehidupan kuliah kepada Yuki.
"Sepertinya kuliah sangat merepotkan ya" ucap Akira setelah mendengar penjelasan Yuki.
"Tapi kita juga dapat banyak pengalaman apalagi saat berinteraksi dengan banyak orang" jelas Yuki tersenyum.
"Begitu ya? Akira mau masuk jurusan olahraga saja nanti" ucap Akira tersenyum.
"Apa Akira yakin? Padahal Akira pintar sekali dalam bidang matematika dan ilmu alam. Akira bisa jadi profesor loh" ucap Yuki yakin.
"Akira memang menyukainya tapi Akira tidak ingin jadi profesor karena itu sangat merepotkan" jelas Akira tersenyum.
"Akira ada-ada saja" ucap Yuki mengacak-acak rambut Akira.
Tok..tok..tok..
"Apa kalian masih hidup?" Ujar Shinji membuka pintu kamar.
"Masih Kak" jawab Yuki tersenyum.
"Pantas saja lama. Bukankah tadi Papa menyuruh Akira mengajak Yuki makan? Kenapa sekarang malah mengerjakan tugas bersama?" Tanya Shinji memasuki kamar.
"Aku belum lapar Kak, tugasku juga masih banyak" jelas Yuki menunjukan tumpukan lembar soal.
"Kamu yang belum lapar, tapi bagaimana dengan Akira?"
"Akira juga belum terlalu lapar Kak, Kakak tenang saja" jelas Akira tersenyum.
"Terserah kalian saja. Cepat selesaikan dan turun untuk makan" titahnya lagi.
"Baik Kak" jawab Akira dan Yuki bersamaan.
"Kakak pergi" ucapnya kemudian pergi keluar kamar.
Beberapa lama kemudian..
"Kakak ayo makan" ajak Akira.
"Kamu sudah kelaparan ya? Maaf ya, ayo turun ke bawah" ucap Yuki tersenyum.
Akira dan Yuki kemudian turun ke bawah untuk makan.
"Kemana semua orang?" Tanya Yuki bingung.
"Tidak tahu" jawab Akira. "Kakak mau makan apa? Sepertinya masakan Ibu sudah habis tadi, biar Akira masakan" ucap Akira tersenyum.
"Terserah Akira saja, semua masakan Akira akan Kakak makan" jelas Yuki tersenyum.
"Baiklah, tunggu sebentar ya" ucap Akira kemudian memulai kegiatan memasaknya.
Beberapa lama kemudian, Akira menyajikan makanannya di meja makan.
"Terima kasih Akira, selamat makan" ucap Yuki tersenyum.
"Sama-sama Kak, selamat makan" ucap Akira yang juga tersenyum.
"Bagaimana kencannya tadi? Apa menyenangkan?" Tanya Yuki disela-sela makannya.
"Itu.. hmm sangat menegangkan" jelas Akira.
"Kenapa? Main di rumah hantu?"
"Akira rasa rumah hantu masih lebih baik"
"Lebih menegangkan dari rumah hantu? Apa bermain dengan hiu"
"Mana mungkin Akira melakukannya Kak" protes Akira yang membuat Yuki tertawa.
"Lalu apa? Apa mengunjungi rumah calon mertua?"
"Hm"
"HAH?!" Ucap Yuki menggebrak meja yang membuat Akira terkejut.
"Ada apa Kak? Kakak membuat Akira terkejut" ucap Akira menatap Yuki.
"Kamu pergi ke rumah Sou?" Tanyanya lagi.
"Hm, Akira pergi kesana. Memangnya ada apa Kak?" Tanya Akira bingung.
"Kakak tidak menyangka, Akira sudah tumbuh dewasa ternyata. Akira bahkan akan melangkahi kami" ucap Yuki terharu.
"Apa maksudnya Kak? Jangan membuat Akira takut" rengek Akira.
"Tidak ada, lupakan. Kakak hanya terkejut dan senang saja" ucapnya kemudian mengacak-acak rambut Akira. Yuki kemudian duduk kembali ke bangkunya dengan tenang.
"Jadi apa yang kamu lakukan disana?" Tanya Yuki lagi.
"Kami berbicara banyak hal Kak. Akira juga lebih tahu tentang Sou dari Ibu dan Ayahnya" jelas Akira menundukan kepalanya.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Yuki khawatir.
"Dulu Sou bukan orang yang seperti sekarang," ucap Akira mulai bercerita. "Dia membentengi dirinya sendiri dari dunia luar. Dia tidak pernah ingin keluar untuk bermain, dia tidak memiliki teman, dan dia tidak pernah tersenyum bahkan kepada kedua orang tuanya. Setiap harinya hanya Sou habiskan dengan belajar dan belajar" jelas Akira menundukan kepalanya.
"Benarkah? Sou.."
"Akira ingin selalu membuat Sou tersenyum Kak, Akira tidak ingin dia kembali ke masa kecilnya dulu. Akira ingin selalu membuat Sou bahagia" ucap Akira menatap Yuki penuh keyakinan.
"Akira.." lirih Yuki menatap Akira. Yuki kemudian tersenyum dan mengelus lembut kepala Akira. "Hm, lakukan apa yang ingin Akira lakukan. Dia pasti sangat kesepian saat itu. Bahagiakanlah dia, Kakak yakin Akira bisa melakukannya" ucap Yuki tersenyum. "Semangatlah, Kakak akan selalu mendukungmu"
__ADS_1
"Hm, terima kasih banyak Kak."