Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
43


__ADS_3

"Tahan sebentar Akira, ibu akan meminta bantuan terlebih dulu. Kamu jaga Akira tetap seperti ini, mengerti?"


"Aku mengerti bu, tolong jangan lama"


"Tentu, Ibu akan segera kembali." Ibu guru kemudian bergegas keluar meninggalkan Sou dan Akira.


"Akira apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" Gumam Sou membawa kepala Akira agar bersandar di dadanya. "Mengapa kamu tidak bilang kepadaku jika punggungmu terluka? Tanpa tahu apapun, aku tidak melarangmu ke sekolah, aku tidak menghentikanmu saat mengikuti pelajaran olahraga tadi. Kenapa kamu tidak menceritakannya kepadaku? Mengapa kamu terus menyimpannya sendirian? Sebesar itukah kamu tidak mempercayaiku?"


Butiran bening mengalir dari mata indah Sou yang kemudian menetes pada wajah Akira. 


"Maaf Akira. Aku Tidak tahu jika lukamu separah ini. Padahal aku tahu sesuatu terjadi pada punggungmu tapi aku tidak melakukan apapun. Maafkan aku"


Tangis Sou pecah saat itu juga. Air matanya mengalir dengan deras. Tangannya memeluk Akira lebih erat.


"A-akira.. Akira melakukan kesalahan" 


"Eh?"


Sou kemudian menangkup wajah Akira agar dia bisa mendengar ucapan Akira dengan jelas.


Netranya melebar, terkejut saat menemukan Akira yang juga sedang menangis. Netra coklat itu menerjunkan air mata dengan derasnya.


"Akira membuat kesalahan.. m-maaf Sou, Akira juga bersalah kepadamu" guman Akira dengan air mata yang terus mengalir.


"Kenapa Akira? Kenapa? Kenapa kamu tidak mengandalkanku? Apa aku seburuk itu untuk tahu masalahmu? Apa aku sangat tidak berguna untuk membantumu? Kenapa?" Ujar Sou dengan intonasi yang sedikit naik.


Sou menarik wajah Akira, menyatukan kening mereka dengan air mata yang masih mengalir dengan deras.


Akira menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, andalkan aku! Andalkan aku, Akira. Aku tahu aku tidak akan menyelesaikan masalahmu tapi setidaknya aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu semakin sakit!"


Sial! Aku merasa diasingkan olehnya. Aku jadi memarahinya. Aku merasa aku sudah tidak berguna untuknya.


Dia menangis. Tubuhnya bergetar. Warna merah di bajunya semakin pekat. Dia sedang kesakitan tapi aku tidak bisa melakukan apapun! Aku merasa gagal menjadi kekasihnya. 


Sou kemudian sedikit menjauhkan tubuhnya dari Akira. Dia menghapus air matanya dan juga air mata Akira. 


"Maaf aku telah memarahimu. Mulai detik ini, tolong andalkan aku. Jika aku tidak bisa membantumu biarkan aku menghapus lukamu walaupun hanya 1 dari 100. Tolong andalkan aku" ucap Sou menatap dalam mata Akira dengan air mata yang masih mengalir.


"Hm, Akira berjanji" gumam Akira mengangguk paham. Meskipun netranya berair namun Sou dapat melihat dengan jelas bahwa tidak ada kebohongan di dalamnya.


"Terima kasih" ucap Sou tersenyum. "Aku tidak bisa melakukan apapun untuk lukamu ini. Bisakah kamu menahannya sebentar lagi? Guru akan segera datang"


Akira hanya mengangguk pelan.


"Apa yang terjadi?" Tanya Sou tenang. Meskipun intonasi dan wajahnya sangat tenang tapi hatinya berdegup kencang. Dia panik dan takut jika terjadi sesuatu pada Akira karena warna merahnya semakin pekat setiap detiknya.


"Akira melakukan kesalahan sehingga Kakak menghukum Akira" gumam Akira dengan air mata yang tetap mengalir.

__ADS_1


"Apa yang sudah kamu lakukan hingga Kakakmu melukaimu seperti ini?"


"Itu karena-"


"Akira!" Ucap bu guru panik bersama 2 orang guru lainnya. "Maaf kami lama. Serahkan semuanya pada kami. Sou hubungi saja orang rumah Akira"


"Tolong sembuhkan Akira, Bu" ucap Sou membungkukan badannya.


"Kami mengerti. Sekarang keluarlah."


Setelah Sou keluar, dia kemudian menghubungi Kakak-kakaknya Akira namun tidak ada yang menjawab.


"Sesibuk apa mereka sebenarnya? Kenapa disaat keadaan genting, mereka tidak menjawab panggilanku?!"


"Akira.. kumohon, kumohon Tuhan, buat Akira baik-baik saja. Semoga lukanya tidak separah itu" doa Sou dalam hatinya.


Sou kemudian mendudukan dirinya di lorong dengan tembok sebagai sandaran. 


Sebenarnya apa yang sudah Akira lakukan sehingga dihukum seperti itu? Apa jangan-jangan Akira juga berbohong saat itu? Bukankah Kakak-kakaknya sangat menyayangi Akira, tapi mengapa sekarang jadi seperti ini? Apa itu juga yang menjadi alasan Akira selalu murung selama beberapa bulan terakhir?


Otak Sou dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus beranak pinak seiring dia memikirkannya. Dengan tenang di berdoa. Dia tetap setia duduk di lorong, menunggu Akira selesai diobati oleh para guru.


"Kamu masih disini?" Tanya salah satu guru yang keluar dati UKS.


"Aku khawatir kepadanya, Bu" jelas Sou berdiri.


"Masuklah, dia sudah baik-baik saja. Mungkin karena terlalu banyak bergerak jadi lukanya kembali terbuka. Ibu akan pergi ke apotek dulu, kamu jagalah Akira. Biar Ibu yang meminta izin pada guru yang mengajar kelas kalian" jelas Bu Guru lagi.


Tanpa berlama-lama, Sou kemudian memasuki UKS dan menghampiri Akira yang masih dalam posisi duduk.


"Akira.." panggil Sou dengan lirih.


Sou kemudian duduk di hadapan Akira. Netranya menatap sendu mata Akira.


"Maaf, maafkan aku" ucap Sou memeluk Akira.


"Akira yang salah Sou, maaf" ucap Akira membalas pelukan Sou. "Sebenarnya banyak hal yang terjadi kepada Akira semenjak Papa pergi" ucap Akira mulai bercerita.


"Akhir-akhir ini, Akira tidak bisa mengingat sesuatu yang sudah Akira lakukan."


"Apa maksudmu?"


"Sou, sepertinya Akira mengidap demensia akut" jelas Akira yang membuat Sou semakin bingung.


"A-apa?"


"Saat itu, Kakak dan Alya mengatakan bahwa Akira sudah mencuri uangnya. Ketika Akira melakukan pembullyan di sekolah, ketika Akira bermain di club malam, ketika Akira membunuh seekor kucing, ketika Akira mencuri liontin milik Alya" sendu Akira menatap tangannya yang diperban.


Sou terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru dikatakan oleh Akira. 

__ADS_1


"Kamu tidak melakukannya kan?" Tanya Sou menatap tidak percaya.


Akira menggelengkan kepalanya. "Tentu saja, Akira tidak pernah melakukannya tapi Akira juga tidak tahu. Kakak dan Alya selalu mengatakannya hingga mereka selalu memarahi Akira. Oleh karena itu, mungkin Akira mengalami demensia akut sehingga tidak bisa ingat ketika Akira melakukan apa yang dikatakan oleh Kakak dan Alya" jelas Akira tersenyum miris. Netranya mulai mengkilap.


Apa apaan ini? Aku tidak percaya Akira mengalami semua ini.


"Lalu bagaimana dengan lukamu ini? Ini pasti sangat menyakitkan bukan?"


"Hm. Kemarin Kakak memarahi Akira karena Akira pulang terlalu malam."


Detik itu juga air mata Akira menetes, dia kembali menangis.


"T-tunggu, apa maksudnya? Bukankah kita sudah diizinkan kemarin? Bukankah mereka menyetujui kita pulang malam?"


"Itu benar, tapi bukan itu masalahnya. Maaf Sou, aku sudah mengkhianatimu" jelas Akira semakin menangis. "Kemarin, Alya menunjukan fotoku bersama seorang pria pada Kakak. Meskipun Akira yakin itu Sou, tapi Kakak dan Alya bilang itu bukan kamu. Itu pria berbeda."


"Dalam ingatan Akira, semenjak Sou menjemput Akira kemarin sore, kita langsung pergi ke tempat rahasia sampai malam lalu pulang. Akira tidak ingat pergi meninggalkanmu atau pergi mencarimu dan bertemu pria lain yang dimaksud oleh Kakak dan Alya. Akira tidak bisa ingat hal buruk yang sudah Akira lakukan, oleh karena itu Kakak menghukum Akira. Maaf Sou, maaf karena sepertinya Akira sudah mengkhianati Sou. Maaf" jelas Akira yang terus menangis.


Sou kemudian membawa Akira ke dalam dekapannya. Dia memeluk Akira cukup erat tanpa melupakan luka di punggungnya.


"Ini salah paham. Kakakmu sudah salah paham Akira. Kamu tidak mengalami demensia, kamu tidak sakit apapun. Wajar jika kamu tidak mengingatnya karena kamu tidak melakukannya. Kamu tidak bersalah" jelas Sou mengusap kepala Akira.


"Tapi Kakak-"


"Ingatanmu bersamaku kemarin sudah sangat benar. Kita tidak pergi sesenti pun dari kursi di tempat duduk itu. Kita tidak pernah berpisah dalam perjalanan pergi maupun pulang. Aku akan menjelaskannya pada Kakak. Mereka sudah salah paham."


"Tapi sebaiknya jangan Sou" ucap Akira menjauhkan tubuhnya dari Sou.


"Kenapa? Mereka sudah salah paham, Akira. Mereka bahkan menyiksamu untuk kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya."


"Tapi jika kamu menjelaskannya pada Kakak, kamu akan terluka Sou. Saat Kak Nao dan Kak Shin marah, mereka tidak akan mendengarkan siapapun, mereka tidak akan melihat siapapun. Mereka hanya akan menyakitimu"


"Tapi Akira, kamu tidak bisa seperti ini terus. Jika tidak diluruskan, Kakakmu pasti akan kembali menyiksamu nanti. Aku tidak ingin itu terjadi, aku tidak ingin kamu terluka"


"Tapi Sou, aku-"


"Ini sudah termasuk kekerasan, Akira. Ini sudah keterlaluan. Kamu sampai berdarah-darah seperti ini. Aku tahu kamu sangat menyayangi semua Kakakmu tapi kesalahan perlu dibenarkan, kesalahpahaman perlu diluruskan. Aku tidak bisa membiarkannya"


"Itulah sebabnya aku tidak ingin memberitahumu. Aku tahu Sou orang yang sangat bisa diandalkan tapi berurusan dengan Kakak jauh lebih merepotkan dari apa yang Sou pikirkan. Jika ini hanya kesalah pahaman, Sou pikir sudah berapa kali aku meluruskan kesalahpahaman ini? Aku sudah menjelaskan hingga mulutku berbusa, aku sudah menjelaskan hingga aku kesal dan membentak Kakak, aku sudah menjelaskan hingga aku menangis, mereka tetap tidak mempercayaiku. Aku saja yang berstatus sebagai adiknya sendiri tidak didengar apalagi Sou. Kamu hanya akan dimarahi atau mungkin dipukul oleh Kakak dan dianggap sebagai pembawa dampak buruk untukku. Aku tidak meremehkan Sou, aku tidak merendahkan Sou, tapi jika itu hanya akan membuatmu terluka, aku juga tidak akan mengizinkannya. Aku juga tidak ingin membuatmu terluka" jelas Akira kembali menangis. Isakan yang keluar dari mulutnya membuat Sou tersakiti.


Sou kembali membawa Akira dalam dekapannya. Dia memeluk Akira cukup erat, begitu juga dengan Akira yang memeluk tubuh Sou tak kalah eratnya.


"Maaf, maafkan aku Akira. Sungguh maafkan aku."


"Itu sebabnya aku tidak ingin memberitahu Sou. Itu sebabnya aku hanya ingin Sou tetap disampingku, aku hanya ingin Sou bersamaku." Ujar Akira tetap menangis.


"Hm, aku tahu. Aku mengerti sekarang"


Tapi hanya berada di sampingmu, hanya bersamamu saja dengan menutup mataku seolah aku tidak tahu apapun, itu tidak berguna. Itu tidak akan ada artinya. Aku tidak bisa menolongmu, Kakakmu, atau diriku sendiri. Aku tidak akan bisa menolong siapapun.

__ADS_1


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Demi melindungiku, Akira bersikap seolah semua baik-baik saja. Aku ingin membantunya. Bagaimana caranya agar aku bisa meluruskan kesalahpahaman ini tanpa terjadi konflik? Bagaimana caranya agar Akira tidak diberi hukuman lagi oleh Kakaknya?


__ADS_2