
"Dengar anak-anak," panggil Pak Guru mengumpulkan semua murid dalam satu ruangan. "Kejadian kemarin benar-benar sangat berbahaya. Kami mengakui kelalaian kami sebagai pembimbing kalian dalam acara ini. Kami sudah dimarahi habis-habisan oleh atasan karena kejadian ini. Jadi, kami sangat berterima kasih jika kalian dapat menjelaskan apa yang terjadi khususnya untuk kelompok Sou" jelasnya lagi.
Hening. Tidak ada jawaban dari satupun murid disana.
"Kami mengerti bahwa ini adalah sebuah kecelakaan yang tidak bisa dihindari apalagi di hutan seperti ini. Tapi sekolah kita adalah sekolah unggulan sehingga bisa dibilang ini adalah 'aib' sekolah. Oleh karena itu, pemilik sekolah ingin menemukan pelakunya karena petunjuk arah itu cukup berat, bahkan oleh manusia saja perlu waktu untuk menggerakkannya jadi tidak mungkin ini karena ulah binatang apalagi angin" jelas Pak Guru panjang lebar.
Semua orang terdiam mendengar penjelasan guru. Ada yang memasang wajah bingung, takut, bahkan tidak peduli.
"Kami akan mengurangi hukuman bagi pelaku jika menyerahkan diri sekarang" tegas guru.
Semua kembali terdiam. Suasana disana sangat sunyi, semua orang kebingungan karena tidak ada yang merasa melakukannya. Bahkan setelah 20 menit, suasana tetap tidak berubah. Tidak ada yang mau berbicara.
"Hah," Pak Guru menghela nafas, "baiklah jika tidak ada yang mengaku selamat menikmati hukumannya anak-anak. Kami permisi" ucapnya kemudian pergi meninggalkan para murid di ruang tersebut.
"Teman-teman, ini memang kecelakaan, tapi jika ada yang merasa melakukannya lebih baik jujur. Ini akan berdampak pada teman lain yang tidak melakukannya. Mohon kerjasamanya" ucap Ketua Kelas.
"Benar. Mengakulah! Aku tidak ingin dihukum karena perbuatan orang lain!" Teriak seorang siswa.
"Benar, aku juga tidak mau!"
"Mengaku saja, agar cepat selesai"
"Mungkin pelakunya takut makanya diam"
"Ckk, siapa sih pelakunya? Dan untuk apa menjahili orang lain seperti itu? Dia lebih busuk dari sampah!"
"Betul, dia memang lebih busuk dari sampah!" Ucap Sou kesal tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum tipis.
"Cukup teman-teman. Jika kalian terus menindasnya, pelakunya akan terus diam," ucap Ketua menengahi. "Pertama kita harus mengetahui awal mulanya seperti apa. Bisa kamu menjelaskannya Sou?" Tanya Ketua.
"Tentu. Tapi sebelum itu aku ingin menyampaikan bahwa ini ulah serigala licik yang pandai bersembunyi, jadi pertajam indera kalian teman-teman" jelas Sou.
"Kamu tahu pelakunya?" Tanya Ketua lagi.
Sou mengangkat pundaknya. "Entahlah. Sudah ku bilang ini ulah serigala, tentu dia juga bersembunyi dariku"
"Baiklah, sekarang jelaskan Sou" titah Ketua.
Sou mengangguk, "kelompokku terdiri dari aku, Hiro, Akira, Hana, Miya, dan Ayano. Urutan jalan kami adalah aku di paling depan, Ayano, Hana, Miya, Akira, dan Hiro di paling belakang" jelas Sou.
"Teruskan" titah Ketua.
"Jujur aku juga yang membuat kejadian ini terjadi. Aku tidak memperhatikan anggotaku yang berjalan di belakang. Aku hanya memimpin mereka tanpa memastikan keadaan anggota di belakangku, tapi Miya selalu memberitahu jika Akira dan Hiro tertinggal. Mereka bahkan sudah beberapa kali tertinggal di belakang," jelas Sou lagi.
"Ku akui itu kesalahanku dan Akira karena terlalu banyak mengobrol, maaf" ucap Hiro.
"Aku juga minta maaf" ucap Akira membungkukan badannya.
"Ini salahnya berarti," ketus Sisi, salah satu teman Ayano.
"Itu juga salah kami karena tidak memperhatikan mereka" ucap Ayano yang disetujui oleh Hana dan Miya.
"Tch, padahal salah sendiri tapi melibatkan kami semua" ucap salah satu orang siswa.
"Kita belum mendengar penjelasan Sou" ucap Ketua lagi.
"Walaupun sudah beberapa kali tertinggal, Miya selalu mengingatkan kami sehingga kami juga selalu menunggu Hiro dan Akira beberapa saat hingga mereka kembali bergabung dalam kelompok. Namun untuk yang terakhir kali, meskipun kami menunggu lama, mereka tidak kunjung datang. Sebenarnya jarak kami tidak terlalu jauh. Malah di jalan menanjak dekat petunjuk arah itu, aku masih bisa melihat mereka di bawah jadi kami memutuskan untuk menunggu Hiro dan Akira di tempat yang agak datar,"
"Kenapa kamu tidak menunggunya saat di jalan menanjak itu?" Tanya salah siswa.
"Karena itu tanjakan dengan tanah merah, aku tidak mau para gadis di belakangku terjatuh apalagi dengan jalanan sempit seperti itu," jelas Sou.
"Kau seorang pria ternyata. Lanjutkan Sou" ucapnya lagi.
"Namun ketika sudah ditunggu lama, mereka tidak kunjung datang padahal jarak kita tidak terlalu jauh. Jika mereka mengikuti petunjuk arah itu, mereka akan langsung menemukan kami. Oleh karena itu, aku izin kepada Hana, Miya, dan Ayano untuk mencari mereka. Saat aku sampai di petunjuk arah, petunjuk arahnya sudah berubah menjadi ke arah kanan yang seharusnya ke arah kiri. Mungkin ini tidak terlalu penting, tapi petunjuk jalan itu mengarah ke kanan bawah, tidak mengarah ke kanan 90°. Karena aku merasa ada yang tidak beres, aku kembali dan menjelaskan keadaannya lalu menyuruh mereka bertiga untuk berjalan terlebih dahulu keluar hutan, mereka harus menyampaikan kemungkinan Hiro dan Akira tersesat karena salah ambil jalan."
"Benar, kami kemudian pergi duluan untuk menyampaikannya kepada guru" ucap Hana membenarkan.
"Aku kemudian mengubah petunjuk arah itu kembali seperti sebelumnya lalu pergi mencari Hiro dan Akira yang kemungkinan sudah berjalan jauh ke arah kanan"
"Kau mengubah arahnya?" Tanya seorang siswa.
"Tentu, untuk menghindari kelompok lain tersesat"
"Bukankah bisa saja kau yang mengubahnya saat pertama melihat petunjuk itu?" Ucapnya lagi.
"Hah? Maaf?"
"Iya, dia benar. Mungkin saja kau yang melakukannya Sou. Kau bersandiwara agar terlihat seperti pahlawan bukan?" Ucap Sisi lagi.
Sou terdiam sebentar. "Aku tidak ingin melakukan hal merepotkan seperti seorang pahlawan" ucap Sou santai.
"Eh, bukankah itu sangat mencurigakan? Bisa saja kau yang mengubah petunjuk arahnya saat kau pertama melewatinya" ucap salah satu murid.
"Jika aku yang mengubahnya, minimal ada satu orang di belakangku yang melihatnya. Lagipula mengubah petunjuk arah besi itu butuh waktu setidaknya beberapa detik untuk ku terdiam menghalangi jalan anggota di belakangku" jelas Sou
"Apa kalian melihatnya?" Tanya Ketua.
"Tidak, aku terlalu fokus dengan jalan yang licin karena takut terjatuh" jelas Ayano.
"Ayano benar, aku juga tidak melihat karena fokus memperhatikan jalan" jelas Miya.
"Bagaimana dengan Hana?" Tanya Ketua lagi.
"Maaf, tapi aku juga tidak melihatnya" jelas Hana.
"Hah, ini hanya akal-akalanmu saja Sou. Semua anggota mu tidak memperhatikanmu dan kau memanfaatkan itu untuk mengubah jalannya bukan?" Desak Sisi.
"Apa benar begitu?" Ucap Akira dalam hati.
"Kalau begitu, jelaskan apa tujuanku mengubah arah dan membuat Hiro dan Akira tersesat?" Ucap Sou sedikit kesal.
"Mana ku tahu, yang punya otak kan kamu, kenapa bertanya kepadaku? Lagipula kau sangat lengket dengan gadis itu, mungkin saja kau ingin berdua dengannya lalu melakukan sesuatu untuk memuaskanmu bukan?" Ketusnya lagi.
Sou menatap tajam teman Ayano itu. "Ini tidak masuk akal. Membawa perasaan dan kedekatanku dengan Akira dan menghubungkannya dalam kejadian seperti ini. Sepertinya kau ingin sekali membuatku jadi tersangka nona," ucap Sou tersenyum remeh. "Tidak masalah, mari kita buktikan. Kamu mempercayaiku, benarkan Akira?" Tanya Sou.
Akira kemudian mengangguk. Sebenarnya dia bingung Sou tiba-tiba bertanya seperti itu, tapi dia benar-benar mempercayai Sou.
"Aku mempercayai Sou" ucap Akira.
"Terima kasih" ucap Sou tersenyum. "Kalian juga mendengarnya bukan? Akira mempercayaiku. Pikirkanlah nona, kenapa aku harus melakukan hal merepotkan seperti ini jika aku bisa berbicara dan membuatnya mempercayaiku?" Ucap Sou dengan ekspresi remeh.
"Benar juga, kenapa dia tidak mengajaknya saja?" Ucap murid yang lain.
"Dia ada benarnya juga," ucap murid lainnya.
__ADS_1
"Benar. Akira terlihat sangat mempercayainya"
"Pendapat Sisi tidak masuk akal" setuju murid lain.
"Dan juga, kenapa aku harus ikut melibatkan Hiro? Jika aku ingin melakukannya, aku memilih untuk menjadi orang yang tersesat bersamanya. Bukankah ini aneh? Ucapanmu itu tidak beralasan." ucap Sou dingin.
"Mu-mungkin saja kamu ingin menjadi pahlawan penyelamat hidupnya, dengan begitu dia akan menyukaimu bukan?" Ucapnya keras kepala.
"Sou bahkan sudah menjadi penyelamatku dari pertama kami bertemu" ucap Akira tanpa sadar yang didengar oleh sebagian orang yang duduk berdekatan dengannya.
"Ternyata..." ucap Hana tersenyum.
"Eh? Apa? Kenapa?" Tanya Akira bingung.
"Bukan Eh Akira, pernyataanmu membuatku terkejut" jelas Rara yang duduk tidak jauh dari Akira
"Pernyataan? Apa aku mengatakan sesuatu tadi?" Tanya Akira bingun.
"Apa kau bercanda? Kau melupakannya setelah mengucapkan itu?" Tanya salah satu murid.
"Apa yang dikatakan Akira?" Tanya Ketua yang duduk di seberang Akira.
"Dia-"
"Tidak, bukan masalah penting. Ini tidak ada hubungannya dengan kasus ini" ucap Hana menengahi.
"Benar sih, tidak ada hubungannya" ucap murid itu lagi.
"Baiklah. Jangan bisik-bisik, kita sedang membahas masalah serius" titah Ketua.
"Baik!" Ucap mereka serempak.
"Jika dipikirkan baik-baik, Sou benar. Alasanmu itu tidak berdasar Sisi" ucap Ketua yang disetujui oleh siswa lainnya. "Silahkan lanjutkan penjelasanmu Sou" titah Ketua.
Sou kemudian menatap tajam Sisi. "Terima kasih," ucap Sou tersenyum. "Setelah mencari beberapa lama, aku kemudian menemukan mereka dengan Hiro yang terluka akibat terjatuh ke lembah. Penjelasanku cukup sampai sini" jelas Sou.
"Hmm, kalau seperti itu kita juga sulit menemukan pelakunya. Adakah sesuatu yang aneh atau mencurigakan?" Tanya Ketua lagi.
"Ah benar. Ayano, bukankah kamu pergi untuk mengambil pin mu yang terjatuh?" Tanya Miya.
"Apa kau menuduhku sebagai pelakunya?" Ucap Ayano kesal.
"Tidak, aku tidak bermaksud begitu. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku, kamu kan kembali untuk mengambil pin mu siapa tahu kamu melihat seseorang mengubah petunjuknya" jelas Miya.
"Ah benar, aku baru ingat. Kamu terburu-buru meminta izin untuk mengambil pin mu yang terjatuh bukan? Kamu bahkan langsung berlari sesaat kami memutuskan untuk beristirahat. Kamu juga pergi cukup lama dan terlihat panik saat kembali. Apa yang terjadi? Dimana kamu menemukannya?" Tanya Sou.
"Cukup lama? Terburu-buru" Tanya Ketua.
"Betul, Ayano terlihat tergesa untuk meminta izin mencari pinnya begitu juga saat kembali. Ayano kembali setelah beberapa menit, hampir 3 menitan karena aku melihatnya dari jam tanganku" jelas Hana.
"Iya aku memang pergi mencari pinku yang terjatuh. Aku menemukannya cukup jauh di bawah" jelas Ayano.
"Di bawah? Selama itu seharusnya kamu bertemu dengan kami," ucap Hiro. "Apa kamu menemukan pelakunya? Atau menyadari petunjuknya berubah atau tidak?"
"Tidak, aku tidak menemukan siapapun, aku juga tidak tahu petunjuknya sudah berubah atau tidak karena aku sibuk mencari pinku," jelasnya lagi.
"Kau mendengar suara berisik tidak?" Tanya Sou lagi.
"Tidak, aku tidak mendengar apapun" jelas Ayano.
"Tentu saja, itu pinku yang berharga jadi aku harus cepat menemukannya. Aku juga takut sendirian jadi aku berlari menuju Sou dan yang lainnya saat sudah menemukannya" jelas Ayano.
"Cukup aneh sih menurutku," ucap Hiro tidak percaya. "Sou bilang, dia pergi sesaat setelah memutuskan untuk beristirahat, itu artinya dia bahkan tidak duduk sama sekali benar?" Tanya Hiro.
"Benar" jawab Hana.
"Dia bilang pinnya ditemukan jauh di bawah, Hana bilang sekitar 3 menitan dan tidak mendengar suara apapun. Mustahil ada seseorang yang mengubah petunjuknya sebelum Ayano kembali ke arah tersebut karena dia langsung pergi terburu-buru sedangkan untuk mengubah petunjuk itu butuh waktu" ucap Hiro menjelaskan keadaanya.
"Hiro benar, kemungkinannya sangat kecil karena Ayano benar berlari setelah meminta izin kepada kami. Jika tidak, kita asumsikan bahwa pelaku memiliki kecepatan dan kemampuan untuk menetralkan geraknya agar tidak menimbulkan suara apapun. Kita juga mengasumsikan bahwa Hiro dan Akira tersesat setelah Ayano kembali, karena jika tidak mereka pasti sudah bertemu"
Semua orang terlihat ikut berpikir dengan penjelasan dari Sou dan Hiro.
"Tapi Sou, kurasa aku dan Akira tidak selama itu tertinggal darimu karena kami juga berlari dengan kencang, benarkan Akira?"
"Benar" jawab Akira setuju.
"Benar juga, bukankah Sou bilang dia juga masih bisa melihat Akira dan Hiro saat menanjak, ku rasa tidak akan selama itu" ucap salah satu murid.
"Ditambah petunjuk tidak tepat 90° seperti petunjuk lainnya" jelas Ketua.
Sou tersenyum. "Sepertinya pelaku terburu-buru saat mengubahnya."
"Ayano pergi selama 3 menit, berarti dia berada di lingkungan antara Sou dan Hiro saat itu" monolog Ketua. "Ayano kamu benar-benar tidak mendengar apapun?" Tanya Ketua lagi.
"Aku serius, aku tidak mendengar apapun" jelas Ayano.
"Ada yang tidak benar Sou," ucap Hiro. "Ada yang aneh dengan rentang waktu dan Ayano yang tidak mendengar suara apapun. Aku sangat yakin kita berlari dengan kencang, dan aku rasa aku tidak berlari selama 3 menit untuk menuju petunjuk itu"
"Benar, aku juga yakin kita tidak tertinggal sejauh itu dan seharusnya kami bertemu dengan Ayano saat itu. Apa jangan-jangan-"
"Benar." Ucap Sou memotong pembicaraan Akira.
"Pilihannya hanya ada 2, Ayano pergi mencari pin ke dalam hutan yang bisa dibilang keluar rute atau dia berbohong" ucap Sou tersenyum tipis.
"Apa maksudmu? Kau mengatakan aku berbohong?" Ucap Ayano tidak terima.
"Sialan kau Sou! Ini pasti akal-akalanmu saja agar Ayano tertuduh bukan?" Ucap Sisi tidak terima.
"Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Biarkan aku bertanya lagi. Apa kamu pergi ke hutan untuk mencari pin mu?" Tanya Sou.
"Ti-tidak, aku hanya mencari di rute kita berjalan saja" ucap Ayano lagi.
"Berarti waktunya yang aneh" ucap salah satu siswa.
Sou kemudian tersenyum. "Tidak, waktunya tidak aneh tapi dia-"
"Berbohong!" Ucap Hiro menatap tajam Ayano.
Ucapan Hiro membuat semua orang terkejut dan bingung.
"Kau menuduhku?" Ucap Ayano kesal.
"Hiro, sepertinya terlalu berlebihan jika langsung menuduhnya" ucap Ketua.
"Dia tidak menuduhmu, dia mengatakan hal yang sebenarnya," ujar Sou tersenyum. "Mau mengakuinya atau perlu aku yang jelaskan pada semua orang? Silahkan dipilih nona" ucap Sou tersenyum remeh.
__ADS_1
"Apa-apaan kau ini! Dia tidak melakukannya! Kau hanya asal menuduhnya karena tidak tahu pelaku yang sebenarnya bukan?" Ucap Sisi kesal.
"Aku tidak melakukannya! Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, kau tahu?" Jelas Ayano.
Sou kemudian mendekati Ayano. "Kau pikir aku mengatakan hal ini tanpa bukti? Kau akan lebih malu jika tidak mengakuinya sekarang!" Bisik Sou tepat di telinga Ayano.
"Benarkah itu? Apa kamu yang-"
"Benar! Aku yang melakukannya, apa kau puas hah!!" Teriak Ayano memotong pembicaraan Akira.
"Kau pasti menyuruhnya untuk mengaku bersalah bukan? Dia diancam teman-teman, Sou mengancamnya!" Bela Sisi.
"Kau puas hah?" Tanya Ayano pada Sou.
"Tidak, aku belum puas" bisik Sou. "Nah sekarang pelakunya sudah mengakuinya sendiri. Sebelum memanggil guru, biarkan dia menjelaskan alasannya" ucap Sou tersenyum.
"Hentikan! Cukup kau mempermalukannya!" Teriak teman Ayano yang lainnya.
"Mempermalukan? Aku bahkan belum mempermalukannya, ini belum seberapa kawan" ucap Sou tersenyum remeh. "Kau tahu? Aku sangat membenci orang yang berbohong, jadi katakan sekarang!" Tegas Sou pada Ayano.
"Aku yang melakukannya" ucap Ayano lantang.
"Apa yang kamu katakan? Kamu hanya korban, jang-"
"Aku memang melakukannya," ujar Ayano menundukan kepalanya. "Karena kejadian tempo hari, aku benar-benar kesal pada Hiro" jelasnya.
"Kesal? Kalian bertengkar?" Tanya Ketua.
"Tidak, kami tidak bertengkar. Dia bersama teman-temannya berencana untuk membuat Akira tersesat di hutan sendirian. Mereka bahkan tertawa seperti iblis" ucap Hiro menatap tajam Ayano dan teman-temannya.
Semua orang disana tampak terlihat sangat terkejut, apalagi Akira. Dia terlihat sangat syok.
"Apa itu benar Ayano?" Tanya Akira.
"Benar,"
"Bed*bah ini" gumam Hana.
"Sudah kuduga" ucap Rara.
"S*alan kau!" Sou meremas pundak Ayano dengan tatapan yang nyalang. Sou benar-benar menahan amarahnya untuk hari ini, tapi dia malah mendapatkan fakta lain yang membuat Sou semakin marah.
"Sakit Sou!" Ucap Ayano meringis.
"Mengapa kamu melakukannya? Apa aku berbuat salah kepadamu? Jika iya kenapa tidak kita bicarakan baik-baik, kenapa harus seperti itu? Dan kenapa kamu malah ikut menyeret Hiro? Dia bahkan sampai terluka kemarin" terdengar kekecewaan yang cukup besar dalam setiap kalimat yang Akira layangkan.
"Kau keterlaluan gadis rubah!" ucap Hana kesal.
"Sou, lepaskan Sou!" Ucap Hiro menengahi.
"Kau memang manusia rubah! Kau lebih busuk dari seekor lalat. Kau memang harus diberi pelajaran!" kesal Sou masih meremas pundak Ayano dengan keras.
"Sakit Sou! Lepaskan!" teriak Ayano.
"Sou, sudah Sou lepaskan dia" ucap Hiro menarik Sou menjauh dari Ayano.
"Cukup Sou. Dia akan diberi sanksi yang cukup berat, sudah hentikan" ucap Ketua ikut menengahi.
"Sou cukup, lepaskan dia" ucap Akira menarik baju Sou.
Sou kemudian melepaskan tangannya dari Ayano. "Sekali lagi kau melakukannya, aku benar-benar akan membunuhmu dan aku tidak main-main untuk itu!" ucap Sou menatap tajam Ayano.
Keadaan di sana cukup tidak terkendali. Hiro, Ketua, Akira, dan beberapa orang disana mencoba melerai Sou dan Ayano. Tidak sedikit yang membicarakan tentang sikap Ayano dan teman-temannya yang sangat keterlaluan. Mereka menatap sinis Ayano beserta teman-temannya.
Setelah berhasil memisahkan Sou dan Ayano, mereka kemudian kondusif kembali.
"Jujur ini sangat mengecewakan apalagi untukku sebagai Ketua Kelas 1A, tapi kita bisa urus nanti sebagai permasalahan kelas. Sekarang coba jelaskan mengapa Ayano pelakunya" ucap Ketua lagi.
"Saat dia kembali, terdapat noda oranye di tangan kanannya yang mirip dengan warna petunjuk jalan. Aku juga baru menyadarinya saat aku mengubah kembali petunjuk arah tersebut dan ternyata catnya juga menempel di tanganku. Itu bukti konkrit yang membuktikan dia adalah pelakunya" ucap Sou dingin.
"Ayano dan teman-temannya, kalian akan dihukum skorsinh selama 3 bulan dan tidak bisa mengikuti olimpiade serta kejuaraan lainnya hingga kalian lulus dari sekolah," ucap Kepala Sekolah yang tiba-tiba datang.
"Pak Kepala?" Ucap Ketua terkejut begitu juga dengan semua orang yang ada disana.
"Ini bisa dilaporkan sebagai tindak kejahatan percobaan pembunuhan apalagi dengan korban, yaitu Hiro terluka. Tapi tenang saja kami tidak akan melaporkan kalian kepada polisi dengan syarat yang harus dipenuhi sebagai konsekuensi dari perbuatan kalian" ucap Pak Kepala lagi.
"Tapi Pak, kami tidak ikut-ikutan untuk mencelakai Akira" ucap Sisi tak terima.
"Apa kalian berpikir kami tidak tahu? Kami sudah memasang penyadap dan kamera pengawas di ruangan ini. Kami tahu semua" ucap Pak Kepala. "Dan rencana yang Hiro katakan, itu sudah terekam di CCTV pengawas sekolah. Sekarang kemasi barang kalian, kami akan memulangkan kalian" ucaonha lagi.
"Terima kasih sudah membantu kami menemukan pelakunya. Sekarang kembalilah ke kamar masing-masing untuk memulai esok hari" ujar Pak Kepala kemudian keluar bersama orang-orang yang bermasalah.
"S*alan!" Ucap Sou memukul lantai.
"Maaf Hiro" ucap Akira menunduk.
"Kenapa kamu yang meminta maaf?"
"Karena dia.. jika saja hanya aku yang terluka, maafkan aku Hiro, sungguh" ucap Akira lagi.
Hiro kemudian mengelus kepala Akira. "Ini bukan salahmu, jangan memasang wajah sedih seperti itu. Kau membuatku merasa bersalah" ucap Hiro tersenyum.
"Apa dia benar-benar mengatakan itu Hiro?" Tanya Ketua.
"Kamu bisa mendengar sendiri rekaman CCTV di sekolah" jawab Hiro.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang ini?" Tanya Sou pada Hiro. "Sudah ku bilang agar menjauhinya bukan? Apa sekarang kamu sudah mengerti?" Tanya Sou beralih menatap Akira.
"Hm, aku mengerti" ucap Akira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan menangis. Air matamu sangat berharga jadi jangan menyia-nyiakannya untuk bed*bah seperti dia. Aku akan selalu menjagamu, jangan khawatir" ucap Sou mengelus kepala Akira.
"Hm"
"Yosh yosh, anak baik" ucap Sou mengelus-elus kepala Akira. "Setidaknya dia mendapatkan sanksi sosial atas perbuatannya. Itu akan lebih menyakitkan daripada siksaan fisik" ucapnya yang diangguki oleh Hiro dan Ketua Kelas.
"Benar. Kau melakukannya dengan baik Sou, terima kasih" ujar Hiro tersenyum.
"Terima kasih Sou" ucap Akira.
"Anak-anak, masalahnya sudah selesai. Terima kasih atas kerja kerasnya kalian boleh kembali ke kamar masing-masing. Istirahatlah besok ada lomba memasak dan tarik tambang, jadi persiapkan diri kalian" ucap Bu Guru.
"Baik Bu! Ucap murid serempak.
"Ayo Akira" aja Sou tersenyum.
__ADS_1
"Iya."