
Arashii Souta, putra tunggal dari keluarga Arashii yang merupakan salah satu pengusaha terbesar di Jepang. Karena Souta merupakan anak satu-satunya dari keluarga Arashii, sang Ayah sedikit keras mengenai kehidupan Souta karena dialah yang akan menjadi penerus keluarga Arashii. Sejak kecil, pria yang akrab disapa Sou ini terkekang oleh kedua orang tuanya. Aturan ketat di terapkan di lingkungan Sou tumbuh. Dia harus terus fokus belajar untuk menopang kehidupannya saat Sou dewasa. Sou harus mengikuti les sepulang sekolah, bahkan dia harus kembali belajar sebelum dia tidur. Dia hanya diberikan waktu luang selama 1 jam untuknya bermain dan melakukan sesuatu yang dia inginkan. Sou menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk belajar dan belajar. Apabila dia terlihat bermain di luar waktu luangnya atau nilai akademiknya jelek bahkan saat Sou mendapat nilai B, ayahnya akan menghukumnya dengan cara dipukul sehingga dia tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tidak memiliki banyak teman. Hal itu juga yang menyebabkan Sou jarang sekali terlihat tersenyum bahkan di depan kedua orang tuanya.
Saat Sou memasuki SMP, dia cukup populer di kalangan siswa karena wajahnya yang tampan. Banyak gadis yang menyukainya dan mencoba mendekati Sou tapi Sou tidak bereaksi apapun terhadap gadis-gadis itu. Banyak juga siswa yang mendekati Sou agar bisa berteman dengannya. Tapi tidak sedikit juga yang tidak terlalu menyukai Sou karena Sou jarang sekali berbicara. Dia hanya berbicara seperlunya dan bahkan jarang sekali untuk melihatnya tersenyum sehingga terkesan sebagai orang yang dingin dan sombong. Dulu, dia bahkan dijuluki sebagai Pangeran Es karena wajahnya yang tampan seperti pangeran dalam buku dongeng dan sikapnya yang dingin seperti es.
Sou tidak terlalu menanggapi teman-temannya yang memanggilnya sebagai Pangeran Es. Dia juga tidak menanggapi orang-orang yang membencinya atau mungkin dia tidak peduli dengan itu. Hingga suatu hari, Sou mulai membuka dirinya.
Saat itu Sou yang sedang bosan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar lapangan bola dan menemukan banyak sekali orang masuk ke gimnasium. Karena penasaran, Sou kemudian masuk untuk melihat ada apa sebenarnya di dalam sana.
Sou cukup terkejut karena kerumunan orang ini adalah penonton pertandingan basket yang memang sedang digelar turnamen basket antar sekolah dan hari ini tim basket sekolahnya menjadi tuan rumah acara tersebut. Sou kemudian berjalan lebih dekat ke pinggir lapangan agar dapat melihat pertandingannya dengan jelas. Matanya berbinar menatap kagum kakak kelasnya yang bergerak kesana kemari sambil menggiring bola lalu melakukan shoot dari luar lapangan yang menghasilkan 3 poin sekaligus. Dia ikut bertepuk tangan dan tersenyum saat tim basket sekolahnya memenangkan pertandingan. Sou terlihat sangat menikmati pertandingan basket ini.
3 hari kemudian, Sou mendatangi klub basket dan dia mengajukan pendaftaran anggota baru.
"Permisi" ucap Sou memasuki ruang klub basket.
"Oh Pangeran Es kah? Ada perlu apa ya kemari?" Tanya seorang anggota klub bingung.
"Saya ingin menjadi anggota klub basket. Melihat Kakak kemarin bertanding membuat saya ingin lebih mendalami olahraga ini" ucap Sou tersenyum.
"(Eh? Pangeran Es tersenyum? Dia benar-benar tersenyum kan? Apa ini benar-benar Souta si Pangeran Es yang banyak dibicarakan orang?) Ah.. tunggu sebentar ya, aku akan panggil Ketua sebentar" ucapnya tersenyum.
Tak lama kemudian siswa tadi kembali dengan seseorang yang diyakini sebagai ketua klub.
"Halo" sapa Sou.
"Katanya kamu mau masuk klub basket ya?" Ucap Ketua.
"Benar Kak, saya sangat kagum dengan permainan basket kemarin jadi saya ingin bergabung dengan tim ini" ucap Sou tersenyum.
"Pangeran Es bisa tersenyum juga ternyata" ucap Ketua terkejut. Siswa tadi dengan cepat menyikut lengan Ketua.
"Ah maaf maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya terkejut dengan senyumanmu" ucap Ketua.
"Tidak apa Kak-- Sou tersenyum --Kakak perlu tahu bahwa sedingin apapun Pangeran Es, saya tetap manusia" ucap Sou.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja.. hanya saja senyumanmu sangat cocok dengan wajah tampanmu, sayang jika kamu terus menyembunyikannya" ucap Ketua tersenyum. Sou menatap Ketua sedikit terkejut.
"Ah mengenai keinginanmu untuk menjadi anggota klub, kami akan memberitahumu besok. Maaf sebelumnya, tapi disini sudah menjadi sistem kami untuk mendiskusikan penerimaan anggota baru apalagi ini sudah tahun kedua" jelas Ketua.
"Baik Kak, kalau begitu saya permisi" ucap Sou.
"Maaf untuk yang tadi ya" ucap Ketua.
"Tidak masalah Kak, permisi" ucap Sou yang kemudian pergi dari sana.
"Sepertinya aku membuatnya kembali menjadi Pangeran Es seperti semula-- Ketua mengusap belakang lehernya yang tidak gatal --tapi senyumannya benar-benar cocok di wajahnya yang tampan. Menjadi Pangeran Es yang dingin saja sudah populer apalagi jika dia tersenyum. Aku yakin jika dia menunjukkan senyumannya itu, dia pasti akan semakin populer dan disukai banyak orang" ucap Ketua tersenyum.
"Tapi Ketua tidak perlu berbicara seperti tadi, dia jadi tersinggung" ucap siswa tersebut.
"Ya, itu adalah kesalahanku. Kumpulkan para pejabat klub yang lain dan ajak pelatih untuk mendiskusikan Pangeran Es" titah Ketua.
"Baik."
Keesokan harinya...
Di ruang klub basket...
"Selamat ya Arashii Souta, mulai hari ini kamu adalah anggota klub basket" ucap Ketua tersenyum.
"Benarkah? Terima kasih Kak" ucap Sou tersenyum.
"Hari ini kita berkenalan dan melihat kegiatan yang akan kamu lakukan di hari-hari berikutnya saja, apa tidak masalah?" Tanya Ketua.
"Tidak masalah Kak" ucap Sou.
"Baiklah ayo kita ke gimnas, mereka sedang latihan sekarang" ucap Ketua.
"Iya."
Di gimnasium...
"Anak-anak berkumpul" titah pelatih.
"Kita akan mendapatkan anggota baru. Arashii Souta, dia akan bergabung di klub basket" ucapnya lagi.
"Pangeran Es?" Ucap seorang anggota.
"Bukankah dia Pangeran Es?" Tanya anggota lain.
"Aku tak yakin." Ucap anggota satunya.
"Aku khawatir."
"Jangan menggibah, silahkan Souta perkenalkan dirimu" ucap Ketua.
"Perkenalkan saya Arashii Souta, panggil saja Sou. Alasan saya ingin bergabung agar bisa merasakan pertandingan luar biasa seperti kemarin tim basket. Saya tahu peraturan basket tapi tidak sebanyak anggota disini, jadi mohon bantuannya" ucap Sou membungkukkan badan lalu tersenyum.
(Oh dia benar-benar tersenyum) batin pelatih.
"Bagus Sou. Mohon bantuannya juga" ucap Ketua menepuk punggung Sou.
"Terima kasih" ucap Sou kembali tersenyum.
__ADS_1
"Astaga, dia tersenyum. Pangeran Es tersenyum" ucap salah satu anggota.
"Es nya mencair!!" Teriak anggota lain.
"Aku sangat beruntung masuk klub basket. Aku jadi bisa melihat senyum Sou" ucap anggota lainnya.
"Mohon bantuannya juga" ucap anggota lainnya.
"Sou kamu lebih terlihat tampan jika tersenyum" teriak anggota lain.
"Benar Sou, kamu harus selalu tersenyum" ucap lainnya.
"Tunggu, ini.." ucap Sou bingung dan risih secara bersamaan.
"Cukup cukup-- pelatih menepuk-nepuk tangannya --Jangan membuatnya tidak nyaman di hari pertamanya. Kalian disini untuk berlatih bukan untuk mengagumi senyumannya. Kembali berlatih!" Titah pelatih.
"Baik Pak!" Ucap anggota serempak. Mereka kemudian kembali berlatih walaupun curi-curi pandang kepada Sou.
"Terima kasih Pak" ucap Sou.
"Tidak masalah, buat dirimu nyaman. Kamu mulai berlatih besok" ucap pelatih tersenyum.
"Baik Pak" ucap Sou semangat. Dia kemudian memperhatikan para anggota yang sedang berlatih dengan teliti.
Semenjak bergabung dengan klub basket, Sou terlihat menunjukan senyumannya walaupun hanya sesekali. Dia juga terlihat lebih sering berbicara dengan teman-temannya walaupun hanya sebentar.
Walaupun begitu, Sou masih menjadi Pangeran Es di rumahnya. Dia masih tidak pernah terlihat tersenyum kepada orang tuanya padahal di sekolah dia sudah berubah. Sou sedikit lega saat orang tuanya tidak melarang Sou untuk bermain basket dengan syarat nilai akademiknya tidak menurun.
"Aku ragu kamu baru bermain basket" ucap Ketua di sela-sela latihan.
Sou tersenyum. "Tapi aku benar-benar baru pertama kali bermain basket" ucap Sou sambil menyeka keringatnya.
"Kalau begitu, kerja bagus Sou. Walaupun kamu baru bermain, tapi permainanmu cukup bagus, teruskan" ucap Ketua kembali berlari untuk menangkap bola.
"Baik."
Setiap hari, Sou menunjukkan progres yang cukup bagus saat latihan, sehingga Sou dimasukan dalam tim inti dan untuk pertama kalinya Sou ikut dalam turnamen resmi walaupun baru masuk klub basket dalam beberapa bulan saja. Untuk pertama kalinya juga, Sou merasa sangat bahagia dan bangga pada dirinya sendiri karena telah memenangkan pertandingan pertamanya.
"Kerja bagus semua, kalian hebat" ucap pelatih bertepuk tangan.
"Terima kasih semua" ucap Ketua pada semua anggota. "Kau hebat Sou, sangat berbakat. Terima kasih" ucap Ketua merangkul Sou.
"Tidak Ketua, aku masih jauh dari kata berbakat. Terima kasih juga Ketua" ucap Sou tersenyum.
Ketua kembali tersenyum. "Sepertinya aku bisa mempercayaimu untuk menjadi penerusku nanti" ucapnya lagi.
Sou terlihat terkejut. "Tunggu Ketua, apa maksudnya?" Ucap Sou bingung.
"Ba-baik."
Beberapa bulan kemudian, Ketua benar-benar menyerahkan posisinya sebagai Ketua klub kepada Sou.
"Dengar teman-teman, untuk periode selanjutnya posisi ketua akan diisi oleh Arashii Souta, wakil ketua oleh... --Ketua menjelaskan kepemimpinan untuk periode baru-- Apakah ada pertanyaan atau pernyataan? Silahkan angkat tangan" ucap Ketua.
Sou kemudian mengangkat tangannya.
"Silahkan Sou" ucap Ketua.
"Mengapa aku jadi ketua? Bukankah masih ada orang lain yang lebih baik dariku untuk membimbing klub ini?" Tanya Sou.
"Apa kamu tidak percaya diri? Kami memilihmu bukan dengan tanpa alasan, kamu adalah orang yang cepat tanggap dan paling banyak mengalami progres selama latihan. Intinya sudah banyak pertimbangan untuk memilih kepemimpinan di klub ini" jelas Ketua.
"Tapi bukankah seharusnya anggota yang sudah lama bergabung yang menjadi Ketua? Maksudku aku..." ucap Sou ragu.
"Baiklah, jika kau ragu mari kita adakan voting untuk melihat bagaimana tanggapan anggota lain terhadapmu Sou" ucap pelatih.
"Kurasa voting lebih baik" ucap Sou.
"Yang tidak setuju Sou menjadi ketua silahkan angkat tangan kalian" ucap pelatih.
Sou kemudian mengangkat tangannya. Dia merasa cukup aneh melihat ketua dan pelatih yang berada tepat dihadapannya tersenyum.
Sou kemudian berbalik untuk melihat votingnya dan betapa terkejutnya dia saat tahu bahwa hanya dialah yang mengangkat tangannya sebagai tanda ketidak setujuan.
"Yang setuju Sou menjadi ketua silahkan angkat tangan" ucap pelatih kembali.
Semua orang disana termasuk ketua mengangkat tangan kecuali Sou dan pelatih. Sou terlihat terkejut dan bingung secara bersamaan, sementara Ketua tersenyum penuh kemenangan melihat voting para anggota.
"Sudah jelas bukan?" Ucap Ketua.
"Tunggu, apa kalian serius?" Ucap Sou tidak percaya pada semua teman-temannya.
"Aku serius Sou. Kamu lebih baik dari kita semua" ucap anggota yang lebih lama tinggal di klub.
"Benar Sou, jika Ketua dan pelatih sudah menyetujui maka artinya kamu benar-benar lebih baik dari kami. Mohon bantuannya ya"
"Tapi.."
Sou cukup bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Yang dia takutkan adalah dia tidak bisa melaksanakan tugas ketua dengan baik karena banyak sekali yang harus dilakukan oleh ketua dan Sou tidak yakin untuk itu. Dia juga berpikir bahwa jika dia, yang pada dasarnya anggota baru sudah diamanahi dengan posisi ketua, pasti akan menimbulkan ketidakpuasan atau bahkan kebencian dari anggota lainnya, dia tidak ingin kehilangan teman-temannya lagi. Mengingat dia tidak memiliki banyak teman karena selalu fokus belajar.
"Jika kamu ragu, kami akan membantumu Sou. Tidak perlu khawatir" ucap anggota lainnya.
__ADS_1
"Benar, walaupun kamu ketua tapi kamu bisa meminta bantuan kepada kami Sou" ucap yang lainnya.
"Kami akan membantumu jika diperlukan Sou" ucap yang lain.
Mereka kemudian tersenyum dan menyemangati Sou.
"Aku yakin kamu bisa Sou, percayalah pada anggotamu dan dirimu sendiri. Pelatih juga akan membimbing klub ini dan aku serta teman-teman yang lain masih akan memantau perkembangan kalian, jadi tidak perlu khawatir" ucap Ketua.
"Bagaimana Sou? Apa kamu bersedia menjadi ketua?" Ucap pelatih.
"A-aku akan berusaha" ucap Sou dengan suara yang kecil.
Semua orang tersenyum mendengar pernyataan Sou.
"Mohon bantuannya ya, Ketua" ucap Ketua pada Sou.
"Mohon bantuannya Sou."
"Mohon bantuannya Ketua."
"Jangan sungkan pada kami ya."
"Mohon bantuannya."
Sou sedikit tersenyum. "Terima kasih sudah mempercayakannya padaku teman-teman. Aku akan berusaha untuk membuat klub ini lebih baik dan maju lagi. Mohon bantuannya" ucap Sou pada semua orang disana.
"Itu baru semangat Sou-- Ketua menepuk punggung Sou --Sudah diputuskan ya. Untuk pelantikan resmi akan dilakukan lusa. Terima kasih teman-teman" ucap Ketua membungkuk hormat. Semuanya terlihat tersenyum sambil bertepuk tangan.
2 hari kemudian, Sou benar-benar sudah resmi menjadi ketua klub di kepemimpinan yang baru. Dia cukup senang karena para anggota lain benar-benar menerima keputusan Ketua saat itu walaupun tidak tahu bagaimana nanti.
Sou terlihat semakin sibuk setiap harinya. Dengan tugasnya sebagai ketua, dia jadi sering pergi ke luar rumah untuk sekedar latihan dan diskusi. Walaupun tubuhnya lelah, tapi dia bahagia. Dia menikmati waktu yang dia habiskan di klub, sepertinya basket menjadi satu-satunya cara untuk dia tersenyum. Kedua orang tuanya pun tidak mempermasalahkannya, asalkan nilai akademiknya bagus itu sudah cukup bagi orang tua Sou.
Seiring berjalannya waktu, Sou lebih dikenal dengan sosok yang ramah walaupun jarang tersenyum. Kegiatannya di klub membuatnya lebih terkenal dengan sosok yang ramah. Perlahan-lahan julukan Pangeran Es menghilang dari diri Sou dan tentu saja hal ini membuat kepopuleran Sou semakin meningkat. Namun Sou tetap menjadi Pangeran Es di rumahnya. Dia benar-benar jarang tersenyum saat berada di rumah.
Hingga pada saat SMA, Sou masuk ke salah satu sekolah bergengsi di Tokyo. Dia cukup senang karena di sekolah itu cukup banyak kakak kelasnya di SMP yang juga masuk ke sekolah ini, Sou jadi tidak terlalu asing. Dan disinilah Sou bertemu dengan Akira.
"Gadis itu cantik sekali" gumam Sou memperhatikan seorang gadis yang berjalan sedikit cepat sambil menunduk. Dia sesekali mencuri pandang pada orang-orang yang sepertinya murid sekolah ini juga.
"Kenapa dia berjalan seperti itu? Apa dia tidak takut menabrak orang nanti?" Gumam Sou memperhatikan setiap tingkah gadis itu.
"Sou" ucap seseorang menepuk bahu Sou dari belakang.
"Ketua!!" Ucap Sou terkejut.
"Hentikan, jangan memanggilku seperti itu. Aku bukan ketuamu lagi" ucapnya tertawa kecil.
"Maaf Kak, sudah kebiasaan" ucap Sou tersenyum.
"Ternyata kamu masuk sekolah ini juga ya, apa mau ikut klub basket lagi?" Tanya Ketua.
"Sepertinya begitu" ucap Sou tersenyum.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk tes yang sangat ketat Sou. Aku duluan, semoga hari pertamamu di sekolah menyenangkan" ucap Ketua melambaikan tanganya.
"Terima kasih Kak" ucap Sou tersenyum. Dia kemudian mencari keberadaan seseorang.
"Aku kehilangan gadis itu" ucap Sou kemudian berjalan menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, Sou cukup terkejut melihat gadis yang tadi dia cari sudah duduk di dekat jendela.
(Aku menemukannya) ucap Sou dalam hati menatap gadis itu.
Sou merasa sedikit sedih karena tempat duduk di dekat gadis itu baik samping, kursi depan dan kursi belakangnya sudah terisi oleh siswa lain sehingga dia memutuskan untuk duduk di bangku kedua dari depan di barisan berbeda dengan gadis itu. Sou masih bisa melihat gadis itu bahkan dengan sangat jelas jika Sou melihat kebelakang jadi tidak masalah.
Saat istirahat, Sou berencana untuk makan di kantin menyusul temannya yang sudah berjalan duluan. Tapi saat dia akan berjalan, seseorang menabraknya dari belakang hingga bekal Sou berhamburan ke lantai.
"Kalian tidak apa-apa?" Ucap seseorang mendekati Sou.
"Maaf, maafkan aku. Aku buru-buru, Ibuku menunggu di bawah. Aku akan menggantinya saat aku kembali nanti, tolong biarkan aku menemui Ibuku dahulu" jelas gadis yang menabrakku.
"Tidak apa, pergilah" ucap Sou yang masih sedikit terkejut. "Aah.. padahal ini masakan Ibu" ucap Sou membereskan makanan yang berceceran di lantai.
"Biar aku bantu" ucap seseorang. Sou kemudian melihat ke sumber suara.
(Gadis ini?!)
"Maaf ya, kamu jadi repot-repot seperti ini" ucap Sou tersenyum.
"Tidak masalah" ucap Akira tersenyum.
(Cantik) batin Sou menatap gadis ini. "Padahal ini masakan Ibuku, tapi aku malah membuangnya" ucap Sou tersenyum miris.
"Maaf, Akira tidak bisa membantumu tentang masakan Ibumu ini, tapi jika tidak keberatan, kamu bisa memakan bekalku. Aku membawanya cukup banyak" ucap gadis itu tersenyum.
(Akira? Apa namanya Akira?) Batin Sou menatap gadis itu. "Tidak usah, aku bisa membeli makan di kantin, terima kasih. Kamu Akira bukan?" Tanya Sou.
"A-ah benar, aku Souma Akira" ucapnya tersenyum canggung.
"Salam kenal, panggil saja aku Sou" ucap Sou tersenyum.
"I-iya, salam kenal juga" ucap Akira tersenyum.
__ADS_1