
3 bulan kemudian.
Di sekolah..
Mulai hari ini, Ayano dan teman-temannya kembali masuk ke sekolah. Perundungan terhadap Ayano tidak bisa dihindari mengingat sikap dan perilakunya kepada Akira dan Hiro saat itu. Dia dijauhi oleh orang lain bahkan oleh teman-temannya sendiri.
Sebenarnya Akira masih marah dan takut berada di dekatnya terlebih dia mengalami bahaya secara langsung yang disebabkan oleh Ayano. Tetapi karena tidak ada yang mau berhubungan dengannya, jadi terpaksa Ayano tetap duduk di samping Akira dengan penjagaan yang ketat dari guru juga teman sekelas mereka.
"Bagaimana ini, Akira tidak nyaman" ucap Akira dalam hati.
"Maaf Akira" bisik Ayano.
"Apa Ayano mengatakan sesuatu?" Ucap Akira dalam hati dan hanya melirik Ayano.
Setelah itu Ayano tidak mengatakan apapun. Mereka kemudian melanjutkan belajar mereka dengan kondisi canggung dan tidak nyaman.
"Maaf Bu, saya izin ke toilet" ucap Akira pada Bu Guru.
"Silahkan, tetapi jangan lama."
"Terima kasih Bu" ucap Akira kemudian pergi ke luar kelas. "Ah benar-benar tidak nyaman. Akira harus bagaimana sekarang?" Gumam Akira bingung.
"Akira!" Panggil Ayano di lorong.
"A-Ayano, a-ada apa?" Gugup Akira.
"Aku minta maaf Akira, aku tahu aku salah tolong maafkan aku. Maaf Akira" gumamnya yang bisa terdengar oleh Akira.
"Ayano meminta maaf?"
"Maaf Akira, aku mengaku aku bersalah. Tolong maafkan aku, tolong" ucapnya lagi dengan mata yang berbinar.
"Aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan secara tidak sadar kepadamu, Ayano. Jujur aku tidak menyangka kamu melakukan ini kepadaku. Aku tidak bisa mengerti mengapa kamu melakukan ini kepadaku. Aku minta maaf" ucap Akira menundukan pandangannya.
"Aku bukan Tuhan yang selalu memaafkan kesalahan hambanya tapi aku juga tidak memiliki hak untuk tidak memaafkanmu. Jika aku melakukannya, aku merasa sangat berdosa kepada Tuhan," jelas Akira menatap Ayano.
"Jujur aku sangat marah kepadamu. Jika saja kamu hanya melukaiku, aku tidak akan semarah ini, tapi kamu sudah melibatkan Hiro. Kurasa dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan ini semua. Jika kamu membenciku, kenapa kamu harus melibatkan Hiro? Kenapa dia juga harus menjadi korban? Apa kamu tahu bagaimana takutnya aku saat itu? Aku memang takut tidak bisa kembali, aku juga takut jika bertemu binatang buas dan berbahaya, aku juga takut jika aku harus mati disana, tapi aku lebih takut melihat orang-orang yang aku kenal apalagi temanku terluka seperti itu. Aku benar-benar sangat takut ketika Hiro terjatuh dan terluka seperti itu" jelas Akira mulai meneteskan air matanya.
"Akira.."
"Seharusnya kamu tahu jika kamu membuatku tersesat Hiro juga akan tersesat, kenapa kamu tidak menyadarinya? Dia berjalan di belakangku, kenapa kamu tidak menyadarinya?" Ucap Akira dengan nada kekecewaan yang terdengar di setiap kalimatnya.
"Maafkan aku, sungguh maafkan aku Akira. Pikiranku benar-benar buntu saat itu, aku hanya-"
"Tidak masalah. Lagipula aku tidak apa-apa dan Hiro juga sudah membaik tapi aku minta tolong padamu, tolong jangan lakukan hal mengerikan seperti ini lagi apalagi kepada orang lain, Ayano. Aku tahu kematian akan selalu mengikuti kita tapi jangan mengirim orang lain ke dalam kematian dengan cara seperti itu. Terima kasih, berkat semua ini aku jadi lebih paham jika ada manusia yang benar-benar mengerikan tetapi aku selalu yakin banyak orang yang selamat dari sisinya yang mengerikan itu. Kamu mungkin akan tambah benci kepadaku tapi aku ingin kamu berubah. Bukan untukku, bukan untuk teman-teman, bahkan bukan untuk orang tuamu tetapi untuk dirimu sendiri. Aku memaafkanmu tetapi aku tidak akan melupakannya" jelas Akira masih menundukan pandangannya.
"Maaf aku harus pergi sekarang" ucap Akira kemudian pergi meninggalkan Ayano yang masih mematung di tempat.
"Kamu melakukannya Akira, kamu melakukannya" gumam Akira sambil menangis di dalam bilik toilet. "Akira takut, Akira benar-benar takut. Bagimama ini?" Gumamnya lagi sambil tetap menangis.
Akira menangis cukup lama di dalam toilet. Isakannya cukup terdengar di toilet yang sepi.
"Kamu harus menghadapinya, kamu tidak boleh menghindarinya, Akira" monolog Akifa menghapus air matanya. Dia keluar dari toilet yang membasuh wajahnya. "Yosh, ada guru dan teman-teman lain bersamamu, jadi jangan takut Akira" ucapnya kembali pada pantulan dirinya di cermin. Akira kemudian keluar dari toilet wanita.
"Akira" panggil Hiro sambil tersenyum.
"Hiro? Apa yang kamu lakukan disini? Ini kan toilet wanita, kamu tidak melakukan hal yang tidak senonoh bukan?" Panik Akira bingung.
Hiro menepuk pelan kepala Akira lalu mengusapnya.
"Tentu saja tidak" protes Hiro.
"Lalu-"
"Terima kasih" ucap Hiro sambil tersenyum. "Aku mendengarnya, aku mendengar semuanya. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku tapi aku tidak akan mati semudah itu" jelasnya tersenyum sambil tetap mengelus kepala Akira.
"Hiro.."
Akira kembali meneteskan air matanya. Dia menangis kembali dan kali ini isakannya terdengar sangat jelas.
"Maaf Hiro.. maaf.." ucapnya sambil terus menghapus air matanya yang tidak mau juga berhenti.
__ADS_1
"Ini bukan salahmu, terima kasih" ucap Hiro kemudian memeluk Akira. "Sudah jangan menangis, aku seperti orang jahat disini" ucap Hiro melepaskan pelukannya. "Ayo kembali, guru akan mencari kita, Sou juga pasti khawatir" jelas Hiro tersenyum.
Akira kemudian menghapus semua air matanya dan tersenyum. "Ayo."
Istirahat..
"Ayo Akira" ajak Sou menatap tajam Ayano.
"Hm, ayo" ucap Akira tersenyum. Seperti biasa mereka pergi ke rooftop.
"Ada apa Sou? Kenapa kamu terus menatapku?" Tanya Akira bingung.
"Kamu baik-baik saja bukan? Dia tidak melakukan hal buruk lagi bukan?" Tanya Sou khawatir.
"Ayano tidak melakukan apapun kepadaku" jelas Akira tersenyum.
"Syukurlah" ucap Sou yang juga tersenyum. "Aku bersyukur memiliki kekasih yang baik sepertimu" ucap Sou tersenyum.
"Hah?"
"Kamu tidak mendengarnya atau pura-pura tidak mendengarnya?" Tanya Sou menatap Akira.
"I-itu, aku-"
"Aku bilang, aku bersyukur memiliki kekasih yang baik sepertimu" jelas Sou tersenyum yang membuat wajah Akira memerah. "Wajahmu merah A-"
"Gara-gara Sou" ucap Akira memotong pembicaraan Sou.
"Hhh kamu memang menggemaskan" ucap Sou tersenyum.
"Sou menyebalkan!" Kesal Akira.
"Maaf maaf" ucapnya kembali tersenyum.
Sesampainya di rooftop, Sou memeluk Akira dari belakang secara tiba-tiba.
"S-Sou apa yang kamu lakukan?" Tanya Akira panik.
"Bukan seperti itu.." gumam Akira memegang lengan Sou. "Ini di sekolah Sou, jangan macam-macam."
"Hiro menceritakannya tadi" ucap Sou tetap dengan posisi yang sama.
"Hiro?"
"Kamu cantik, pintar dan baik hati, aku bersyukur kamu menjadi kekasihku" jelas Sou lagi. "Hm.. tapi aku sedikit kesal dengan itu. Apa kamu akan melakukan dan merasakan hal yang sama jika aku berada di posisi Hiro?"
"Tidak" jawab Akira singkat.
"Eh? Kenapa?" Tanya Sou terkejut. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Akira dengan terkejut.
"Karena aku akan menghancurkan hal-hal buruk seperti itu sebelum melukai Sou" tegas Akira yang membuat Sou terkejut. Netranya melebar, menatap dalam mata Akira. Seperdetik kemudian Sou kemudian kembali memeluk Akira.
"Apa kamu sedang menggodaku hm?" Bisik Sou tepat di telinga Akira.
"Aku tidak menggodamu, aku bersungguh-sungguh, Sou."
Sou kemudian tersenyum. "Aku benar-benar bersyukur karena kamu adalah kekasihku" ucap Sou lagi mengeratkan pelukannya.
"Aku juga bersyukur memiliki kekasih seperti Sou" ucap Akira membalas pelukan Sou. "Tapi tolong jangan berbisik di telingaku seperti tadi, itu menakutkan."
"A-ah maaf" ucap Hiro yang tiba-tiba datang ke rooftop.
Sou dan Akira kemudian melepaskan pelukannya. Mereka bertiga terlihat salah tingkah dengan wajah Akira dan Sou yang memerah.
"Silahkan lanjutkan, maaf karena sudah mengganggu" ucap Hiro kemudian akan pergi.
"A-ada apa Hiro?" Tanya Sou.
"Tidak, tidak ada apapun. Maaf" gumam Hiro lagi.
"T-tunggu Hiro. Kamu mau kemana? Ayo makan bersama" ajak Sou tersenyum.
__ADS_1
"Eh? Tidak, tidak. Lanjutkan saja kegiatan kalian" tolak Hiro.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan Hiro" jelas Sou panik.
"Semua orang akan berpikiran yang sama denganku jika melihatnya. Sampai jumpa"
"T-tunggu, tunggu Hiro. Aku bisa menjelaskannya" ucap Sou semakin panik. Begitu juga dengan Akira yang ikut panik.
"Kenapa aku harus mendengar penjelasanmu? Sudah ah, aku akan pergi. Silahkan nikmati waktu kalian."
"Oleh karena itu dengar dulu penjelasanku. Aku tidak akan membiarkanmu lolos" ucap Sou menarik tangan Hiro.
"Sudah ku katakan aku-"
"Kami hanya berpelukan, tidak lebih. Kau terlalu membesar-besarkannya" jelas Sou mengalihkan pandangannya.
"Be-benar Hiro, S-Sou benar" jelas Akira menundukan pandangannya menahan malu. "Ini gara-gara Sou" gumam Akira yang masih bisa didengar Sou.
"M-maaf"
"Apa benar begitu?" Tanya Hiro memastikan
"Hm" jawab Akira dan Sou bersamaan.
"Sudah ku katakan, aku tidak perlu mendengar penjelasan kalian karena aku tidak memiliki hak untuk mengetahuinya, tapi kau harus menahan nafsumu sebelum kalian menikah, Sou." jelas Hiro pada Sou.
"A-aku juga tahu" ucap Sou gugup. "Jadi ada apa?"
"Aku ingin ikut makan bersama. Di kelas benar-benar kacau karena keberadaan Ayano. Banyak siswa kelas lain yang datang ke kelas, aku tidak tenang" jelas Hiro kemudian duduk di salah satu bangku.
"Begitukah?" Ucap Sou paham.
"Kalau begitu, mari makan bersama. Aku membawa banyak bekal hari ini" ucap Akira tersenyum.
"Benarkah?"
"Begitulah katanya" ucap Sou tersenyum.
"Terima kasih" ucap Hiro yang juga tersenyum. "Dia tidak berbuat macam-macam lagi bukan?"
"A-ah hm, dia tidak melakukan apapun. Tapi tetap saja aku merasa sedikit takut" gumam Akira menundukan pandangannya.
"Tenang saja, kali ini aku pasti menjagamu dengan benar" ucap Sou mengelus lembut kepala Akira.
"Aku juga akan membantumu, Akira" jelas Hiro yang juga tersenyum. "Tapi sebaiknya jangan terlalu percaya pada Sou, Akira. Dia orang yang cukup berbahaya. Jika kamu lengah sedikit saja, dia akan menerkammu."
"Sudah ku katakan kau salah paham, Hiro! Jangan membuat Akira membenciku!" Tegas Sou pada Hiro.
"Hiro benar" gumam Akira menatap Hiro.
"Akira.. aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi. Tolong percaya padaku"
"Jangan percaya kepadanya" jelas Hiro lagi.
"Tch, kau!"
"Lihat kan? Dia bahkan berdecak di hadapanku" jelas Hiro lagi.
"Hm.. lagipula ini salah Sou jadi Sou meminta maaf adalah keputusan yang tepat. Tapi aku tetap mempercayai Sou" jelas Akira tersenyum.
"Akira.. syukurlah. Ini gara-gara kau, Hiro" protes Sou pada Hiro lagi.
Seperdetik kemudian gelak tawa terdengar dari mulut Akira dan Hiro.
"Aku baru tahu Sou bisa seperti ini juga" ucap Hiro masih tertawa.
"Kamu benar. Ini pertama kalinya aku melihat Sou yang malu-malu dan merengek seperti ini" jelas Akira tersenyum.
Wajah Sou kembali memerah karena malu. Dia menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
Aku sungguh bersyukur bertemu dengan orang baik seperti kalian.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Sou, Hiro."