
"Dari mana saja? Kenapa baru pulang malam-malam begini? Apa kamu sudah belajar menjadi seorang ****** hm?" ucap Naoya berkacak pinggang dengan tatapan tajamnya.
"T-tidak, tidak Kak. Bukan seperti itu. Akira hanya pergi melihat bintang bersama Sou saja" jelas Akira menundukan pandangannya.
"Bohong Kak. Dia pergi bersama pria lain, aku punya buktinya" ujar Alya yang tiba-tiba datang sambil menunjukkan handphonenya pada Naoya.
"Akira, baru saja Kakak akan memaafkanmu tapi kamu kembali membuat Kakak kecewa. Jelaskan ini sekarang!" Tegas Naoya menunjukan foto dirinya bersama seorang pria.
"Itu Sou, Kak. Itu Sou, bukan orang lain"
"Kakak tidak suka mengulang kalimat Kakak kembali!"
"Tapi Akira tidak berbohong Kak, itu Sou. Itu benar-benar Sou" ujar Akira mencoba meyakinkan Naoya.
"Akira!" Teriak Naoya yang membuat Akira tersentak. "Kenapa kamu menjadi seperti ini hah? Apa Kakak dan Kakak lainnya mengajarkanmu seperti ini? Shinji memang brengsek tapi kamu tidak boleh mengikutinya. Kakak benar-benar kecewa kepadamu. Ikut Kakak sekarang!" Bentak Naoya menarik lengan Akira dengan kasar.
"Ada apa Kak? Ada apa lagi ini?" Tanya Shinji keluar kamar setelah mendengar ribut-ribut.
"Dia sudah berani menjadi seorang ******" ucap Naoya.
"Tidak Kak, Akira tidak seperti itu. Akira tidak melakukannya"
"Aku punya buktinya Kak, ini" ujar Alya memberikan handphonenya.
"Apa ini Akira? Kenapa kamu menjadi gadis nakal seperti ini hah?"
"Tidak Kak, itu Sou. Coba perhatikan baik-baik, itu Sou, Kak. Itu Sou" ucap Akira terus meyakinkan saudaranya itu.
"Letakan tanganmu di meja sekarang!" Titah Shinji tanpa menghiraukan perkataan Akira.
"Tapi Kak-"
"Sekarang!" Bentak Shinji lagi.
Akira kemudian menuruti perintah Kakaknya itu. Dengan patuh dan penuh ketakutan Akira meletakan tangannya di meja. Sementara Shinji melepaskan ikat pinggangnya.
"Aku sangat kecewa kepadamu, Akira. Aku tidak mendidikmu untuk menjadi seorang ******"
PLAK! Satu pukulan melesat pada kedua tangan Akira. Akira menggigit bibirnya kuat agar tidak berteriak.
PLAK! pukulan kedua melayang kembali pada tangan Akira yang membuat Akira semakin menggigit bibirnya. Dia menggertakan giginya dengan rahang yang mengeras menahan rasa sakit.
"Maaf Kak.."
"Aku tidak butuh permintaan maafmu. Kamu harus didisiplinkan!" Bentak Shinji pada Akira.
Tidak butuh waktu lama, pada pukulan ketiga, tangan Akira sudah tersayat. Cairan merah kental mengalir dari punggung tangannya.
Sakit!!
"Maaf Kak, tapi Akira ti- Akira tidak akan mengulanginya lagi. Akira minta maaf Kak" lirih Akira menatap tangannya yang sudah dilumuri darah.
__ADS_1
"Setelah berdarah baru mengaku hah? Kau memang pembohong Akira!"
Bukannya berhenti, Shinji malah kembali memukul tangan Akira dengan sangat keras beberapa kali sehingga tangan Akira benar-benar berubah menjadi merah seluruhnya.
Tulang jari Akira sudah sangat kaku. Darahnya terus mengalir. Ini benar-benar menyakitkan.
Belum puas dengan tangan Akira, pukulan bertubi-tubi kembali dilayangkan pada punggung Akira.
Akira kembali menggigit bibir bawahnya menahan sakit agar tidak berteriak.
Bibirnya bergerak tapi tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya.
Maaf Kak, Akira minta maaf. Akira tidak akan melakukannya lagi, Akira minta maaf
Tidak ada teriakan, tidak ada isakan, tidak ada tangisan, tidak ada air mata. Akira mencoba untuk kuat meskipun air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Apa jika Akira menangis, Kakak akan berhenti?
Kakak tidak mendengarkan Akira, Kakak tidak akan berhenti meskipun Akira menangis sekarang.
Ah, apa demensia Akira kambuh lagi? Apa tadi Akira meninggalkan Sou dan berkencan dengan pria lain? tapi itu..
Tidak ada permintaan maaf seperti sebelumnya. Telapak tangannya kaku dan tidak bisa digerakan. Tubuh Akira bergetar menahan sakit. Dress birunya berubah menjadi ungu di bagian punggungnya. Matanya mengkilap menahan tangis. Pikirannya mulai kacau dan pandangannya mulai gelap, tapi Akira berusaha mempertahankan kesadarannya tanpa suara sedikitpun.
"Apa sekarang sudah menyesal hah? Kau sudah menyadari kesalahanmu hah?!"
Tidak ada jawaban dari Akira, dia hanya menganggukan kepalanya pelan.
"Masuk ke dalam kamar dan sesali semua perbuatanmu!" Tegas Shinji lagi.
"Bibi, bersihkan darahnya. Jangan sampai tercium bau amis sedikit pun" titah Shinji kemudian pergi disusul oleh saudaranya yang lain.
"Baik Tuan."
...****...
Setelah masuk ke dalam kamar, Akira kemudian menutup pintu dengan sangat rapat. Netranya menatap tangannya yang bermandikan darah.
Ini pertama kalinya Akira berdarah sebanyak ini. Jika pria itu bukan Sou, jika benar ini karena demensia, Akira harus meminta maaf pada Sou. Akira sudah mengkhianatinya.
Akira tidak ingat kapan Akira berkencan dengan pria yang ada di dalam handphone tadi. Apa sebelum Akira pergi bersama Sou? Atau setelah pergi dengan Sou? Kenapa Akira tidak bisa ingat apapun? Padahal hari ini sangat menyenangkan. Padahal Akira sangat bahagia sekarang. Akira harus meminta maaf pada Sou.
Akira kemudian membasuh dan segera mengobati tangannya. Dia mengganti gaunnya dan menatapnya lama. Apa ini juga darah? Pantas saja punggung Akira sangat sakit. Tapi Akira tidak bisa mengobati lukanya, tangan Akira tidak sampai.
Luka di seluruh punggung tangannya membuat balutan kain kasa yang cukup tebal yang membuatnya sulit menggenggam atau melakukan sesuatu dengan tangannya.
"Non, nona Akira?" Panggil bibi mengetuk pintu kamar.
"Masuk saja bi, pintunya tidak dikunci" teriak Akira dari dalam kamar. "Ada apa?"
"Ano, apa nona baik-baik saja? Darahnya banyak sekali yang keluar tadi. Bibi kemari untuk mengobati luka nona" jelas bibi khawatir.
__ADS_1
"Terima kasih bi. Akira sudah mengobati tangan Akira tapi Akira tidak bisa mengobati punggung Akira. Tolong ya bi" ucap Akira tersenyum tipis.
"Tentu non."
Bibi kemudian membuka kembali piyama Akira untuk mengobati lukanya. Dia merasa miris melihat beberapa luka sayatan cukup panjang dan dalam dari punggung Akira.
"Ini pasti sangat sakit kan, non?"
"Hm"
"Tapi bibi salut pada Nona, Nona tidak menangis sama sekali. Nona orang yang kuat" ucap bibi tersenyum.
"Habisnya jika Akira menangis, itu tidak akan menyelesaikan masalahnya. Kakak juga tidak akan berhenti meskipun Akira menangis tadi" sendu Akira.
"Maaf sebelumnya Non, tapi yang bibi lihat hubungan Nona dan Tuan tidak terlalu baik. Apa selalu seperti ini Non?"
Akira menggelengkan kepalanya pelan.
"Dulu Kakak tidak pernah memarahi Akira. Jika Akira melakukan kesalahan, kakak hanya mengingatkan lalu semua kembali seperti semula. Akira juga tidak tahu kapan semuanya seperti ini tapi semenjak Papa menikah dengan Ibu dan membawa Alya kemari, banyak hal yang terjadi. Dan sepertinya setelah kepergian Papa, Akira mulai mengalami demensia" jelas Akira panjang lebar.
"Demensia bagaimana Non? Non Akira kan masih sangat muda, bagaimana bisa terkena demensia?"
"Akira juga tidak tahu bi. Akira benar-benar tidak mengingat perilaku buruk dan salah yang Akira lakukan," jelas Akira sendu. Beberapa kali tubuhnya mengejang menahan sakit karena bibi sedang mengobati luka di punggungnya.
"Hari ini juga sama. Dalam ingatan Akira, Akira tidak pergi dari sisi Sou begitu juga sebaliknya, tapi kenapa ada foto seperti itu?"
Bibi terlihat tampak terkejut lalu tatapannya berubah menjadi sendu.
"Nona, bagaimana jika Tuan salah paham? Bagaimana jika di dalam foto tersebut, itu memang Tuan Sou?"
"Akira sudah mengatakannya tadi, tapi Kakak tidak percaya"
"Tapi jika benar itu Tuan Sou, apa yang akan Nona lakukan?"
"Akira tidak tahu. Tapi meskipun itu benar, Kakak tidak bersalah. Ini salah Akira karena pulang terlalu malam" ucap Akira tersenyum. "Kakak masih sayang Akira kan?"
Benar. Ini karena Kakak sayang pada Akira.
"Non, jika Nona butuh sesuatu bilang saja pada bibi ya. Bibi akan berusaha membantu Nona jika Nona dalam kesulitan"
"Terima kasih banyak bi"
"Sama-sama Non. Nah, sudah selesai"
"Terima kasih bi" ujar Akira yang tetap tersenyum. "Bibi istirahatlah, ini sudah malam"
"Nona juga langsung istirahat ya, lukanya belum sembuh. Saya permisi"
"Iya bi."
Bi Nanas kemudian pergi dari kamar Akira membawa semua peralatan yang tadi digunakan.
__ADS_1
"Akira harus periksakan penyakit ini sebelum Akira benar-benar kehilangan semua ingatan yang Akira miliki" monolog Akira menatap dirinya di cermin. Netra coklat itu terlihat sendu menatap pantulan dirinya, lalu beralih pada kedua tangannya yang di perban.
Air matanya menetes. Dadanya sangat sesak. "Kakak masih sayang Akira kan? Kakak pasti menyayangi Akira. Ini salah Akira."