
Beberapa hari kemudian...
Walaupun Ayano sudah meminta maaf berkali-kali kepada Sou, tapi Sou tetap bersikap dingin kepadanya. Bahkan orang-orang yang mengetahui tentang Pangeran Es pun mengatakan bahwa dia sekarang jauh lebih parah daripada saat julukan itu masih disandang oleh Sou. Saat Ayano berbicara, Sou selalu melayangkan tatapan tajam dan dingin seolah dia sudah siap jika harus membunuh seekor singa jika menghalangi jalannya.
Sebenci itukah Sou dengan nya? Entahlah, Akira sendiri tidak mengetahui alasan Sou bisa semarah itu. Jika hanya karena masakan beberapa hari yang lalu, mungkin sedikit aneh karena pada dasarnya yang terlibat disana adalah Ayano yang dianggap menghina masakan Ibu Akira. Sehingga bisa dibilang itu tidak ada kaitannya dengan Sou sendiri.
Namun bagaimanapun juga, Akira dan teman-teman yang lain hanya bisa mengingatkan dan memberitahu Sou dan Ayano tentang kesalahan masing-masing, tapi keputusan untuk bertindak tetap ada di tangan mereka sendiri.
1 tahun pun berlalu. Kini Akira sudah naik ke kelas 2 di tempat yang sama dengan teman yang sama. Nilai yang sangat baik diraih Akira dengan membuktikan bahwa dirinya menjadi siswa ke-2 terbaik seangkatan di sekolahnya setelah Sou dengan perolehan angka yang cukup tipis. Akira juga semakin dikagumi oleh teman-teman se sekolahnya karena memenangkan kejuaraan internasional tingkat junior untuk yang kelima kalinya. Sekarang bukan hanya Sou yang menjadi idola sekolah tapi juga Akira. Walaupun begitu, Akira tetap baik hati sehingga dia disayangi oleh teman-teman di sekolahnya.
Pada suatu sore di sekolah...
"Anak-anak, untuk mengisi waktu libur di musim panas, kami berencana untuk mengadakan camp pelatihan. Silahkan diskusikan dengan orang tua dan beritahu saya apabila diizinkan atau tidak. Lembar formulir akan dibagikan Ketua kelas, selamat siang semua" jelas Pak Guru.
"Terima kasih Pak!" Ucap murid serempak.
"Camp kah? Apa kamu ikut Akira?" Tanya Ayano.
"Belum tahu. Meskipun begitu, aku tahu izin Papa sangat sulit" jelas Akira.
"Benar" ucap Ayano tersenyum.
"Kalau begitu, aku pulang duluan ya. Temanku sudah menunggu" pamit Ayano tersenyum.
"Hati-hati."
"Akira kamu mau ikut?" Tanya Hana.
"Kamu harus ikut, Akira" ucap Rara.
"Aku tidak tahu, izin dari Papaku lebih sulit dari rumus matematika apalagi di luar sekolah" jelas Akira.
"Begitu ya? Kalau butuh bantuan untuk meminta izin, aku bisa membantumu" ucap Hana lagi.
"Itu benar, aku juga bisa membantumu" ucap Rara.
"Terima kasih Hana, Rara, mohon bantuannya" ucap Akira tersenyum.
"Tentu. Baiklah kami duluan ya" ucap Hana tersenyum. "Sepertinya Sou juga sudah menunggumu" bisik Hana.
"Apa kamu sedang menggodaku?" Tanya Akira.
"Bye-bye" ucap Hana dan Rara meninggalkan kelas.
"Bye-bye" ucap Akira tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Ayo pulang bersama" ajak Sou tersenyum.
"Ayo."
"Camp kah? Apa yang akan dilakukan disana?" Ucap Sou.
"Mungkin belajar dan bermain?" Ucap Akira tidak yakin.
"Aku tidak yakin akan diizinkan" ucap Sou lagi.
"Kenapa?"
"Ini diluar sekolah dan Ibuku sedikit keras, jadi.."
"Aku juga tidak tahu apa diizinkan atau tidak" ucap Akira.
"Hmm, permasalahan kita sama ternyata" ucap Sou tersenyum.
"Begitulah" ucap Akira juga tersenyum.
"Ah benar! Maaf Akira, aku harus ke ruang klub basket dulu" ucap Sou menatap Akira.
"Tidak masalah Sou, kalau begitu sampai jumpa" ucap Akira tersenyum.
"Hati-hati" ucap Sou yang diangguki Akira.
Sou kemudian berbalik arah menuju ruang klub basket. Saat akan menaiki tangga, dia tidak sengaja mendengar percakapan yang sangat dia benci.
"Dia bilang susah mendapatkan izin dari Papanya" ucap seseorang.
"Tentu saja, dia kan anak yang manja. Apa jangan-jangan dia masih tidur bersama Mama dan Papanya" ucap seseorang yang membuat yang lain tertawa.
"Otak dan keterampilannya memang bagus, tapi sifatnya sangat memuakan!"
"Suara ini.. sudah kuduga. Jangan harap kau mendapatkan maafku, Ayano. S*alan!" Ucap Sou kemudian menendang pegangan tangga yang terbuat dari besi sehingga menimbulkan sedikit suara.
Ayano kemudian menuruni tangga untuk melihat keadaan takutnya ada yang menguping.
"Tidak ada siapapun.." gumam Ayano.
(Kenapa aku bisa bertemu dengan orang sepertinya? Sangat menyebalkan!) Ucap Sou kesal. Saat akan berbelok, Sou hampir bertabrakan dengan seseorang.
"Oh, Sou! Maaf" ucap Akira hampir menabrak Sou.
"Akira? Kenapa masih di sekolah?"
"Aku melupakan pensilku di kelas, jadi aku mau mengambilnya" jelas Akira.
"Tidak perlu ke atas, aku akan menghubungi Hiro agar membawakannya untukmu. Dia masih di kelas" ucap Sou kemudian membuka handphonenya dan mengirim pesan pada Hiro.
"Tidak perlu Sou, aku bisa sendiri" ucap Akira akan melangkah.
"Jangan! Tunggu saja disini, Hiro akan turun sebentar lagi" ucap Sou menahan Akira agar tidak ke atas.
"Tapi-"
"Dengarkan aku saja, semua akan baik-baik saja" ucap Sou tersenyum.
"Baiklah kalau begitu" ucap Akira menuruti perkataan Sou.
(Tentu saja, aku tidak bisa membiarkanmu bertemu gadis rubah itu) ucap Sou menatap Akira.
Disisi lain...
"Pensil?" Ucap Hiro bingung. Dia kemudian pergi ke bangku Akira untuk mencarinya.
"Ah ini dia" ucap Hiro tersenyum. "Kenapa tidak dia saja yang kemari, Sou bisa saja mencari kesempatan. Aku yakin dia sedang berdua dengan Akira tapi dia malah menyuruhku" monolog Hiro. "Sekalian pulang sajalah" ucapnya lagi.
Hiro kemudian membereskan barang-barangnya dan pergi meninggalkan kelas.
"Aku penasaran, apakah si Akira itu akan bertahan jika kita menjahilinya di tempat camp nanti? Disana kan hutannya luas"
"Dia pasti akan menangis sambil berteriak Mama.. Mama.."
"Sepertinya begitu" ucap mereka tertawa.
"Kau benar-benar hebat karena sudah bertahan dengannya, Ayano"
"Tidak ada cara lain untuk mendekati Sou selain melalui Akira"
"Tch, Akira s*alan! Kita akan membuatnya tidak bisa kembali dari hutan atau terluka parah" ucap teman Ayano tersenyum jahat.
"Eehhh.. rencana yang sangat bagus" ucap Hiro tersenyum.
"Hiro!!" Ucap Ayano terkejut.
__ADS_1
"Aku juga ingin membuat rencana seperti itu, kenapa kalian tidak mengajakku?" Tanya Hiro lagi.
"Hiro i-ini.."
"Apa ini rencana terbaik yang kalian punya?sayang sekali, tapi rencana kalian sudah aku ketahui" ucap Hiro dari atas tangga. "Maaf ya, padahal kalian sudah menyusunnya dengan susah payah tapi aku malah mengetahuinya" ucap Hiro tersenyum remeh.
"Ini bukan seperti itu, ini-"
"Bukan seperti itu? Lalu seperti apa?" Tanya Hiro tersenyum. "Sudah kuduga, kau memang seperti ular, Ayano" ucap Hiro menuruni tangga mendekati Ayano dan teman-temannya.
"Apa yang kamu katakan, tidak sopan sekali! Apa matamu buta hah? Dia manusia bukan ular!" Protes teman Ayano.
"Heeeh... benarkah? Tapi dimataku dia tidak jauh dari ular, atau mungkin bisa lebih rendah dari seekor lalat yang ada di tumpukan sampah" ucap Hiro yang membuat semua orang terlihat marah.
"Beraninya kau!" Teriak Ayano.
"Apa? Aku memang berani. Aku tidak mengerti mengapa Akira mau berteman dengan gadis ular sepertimu. Ya kalau tidak karena kebaikannya mungkin itu kebodohannya" ucap Hiro tersenyum.
"Lihat? Kau sendiri yang menghinanya!" Ucap Ayano kesal.
"Ku rasa ini bukan hinaan, karena aku lebih menyukai orang bodoh yang baik hati daripada gadis ular sepertimu" ucap Hiro menatap tajam Ayano.
"Tidakkah kalian berpikir, adakah orang lain yang ingin berteman dengan kalian di sekolah ini? Pembulian, kekerasan, kebohongan, fitnah, penghinaan, semua yang kalian perbuat itu membuat kalian dibenci oleh seluruh warga sekolah. Seharusnya kamu berterima kasih kepada Akira. Kamu beruntung karena memiliki teman sebaik Akira. Karena Akira, kamu tidak dijauhi semua orang. Tidakkah kamu merasakan bagaimana perbedaan udara, angin, situasi, dan kondisi jika kamu berjalan sendirian dan berjalan bersama Akira?!" Ucap Hiro tegas yang membuat Ayano terlihat berpikir.
"Dan sekarang kamu malah menghina di belakangnya? Sungguh luar biasa ratu ular kita" ucap Hiro bertepuk tangan ria seperti sedang menyambut orang penting.
"Biar ku beritahu 2 hal kepada kalian khususnya kamu, Ayano! Pertama, mau sekeras apapun kalian berusaha untuk mencelakai Akira, itu tidak akan pernah terjadi. Lawanmu bukan hanya Akira, tapi ada aku, Sou dan semua orang di sekolah ini"
"Hah? Apa yang kamu katakan? Dimana harga dirimu sebagai seorang pria? Apa Akira yang memerintah kalian dan semua orang di sekolah ini untuk memusuhi kami?" Tanya teman Ayano.
"Kau menanyakan harga diriku? Seseorang tanpa harga diri tidak pantas menanyakan harga diri orang lain" ucap Hiro menatap tajam teman Ayano itu.
"Kau benar-benar membuatku kesal!" ucapnya akan memukul Hiro namun Hiro lebih cepat menahan tangannya.
"Kau kira aku tidak tahu bahwa setiap hari sepulang sekolah kalian selalu berkencan dengan om-om ke motel? Jadi, siapa yang tidak punya harga diri disini! Menjijikan!" Ucap Hiro menghempaskan tangannya kasar.
"Tapi jika kamu memaksa aku akan beritahu. Kamu tenang saja, tidak perlu mengkhawatirkanku. Harga diriku masih belum disentuh siapapun. Justru melindungi seseorang yang baik adalah salah satu tugas agar harga diriku semakin mahal, tentu kalian tidak akan bisa menyentuhnya" jelas Hiro tersenyum remeh. "Kau mengatakan bahwa Akira yang memerintah satu sekolah untuk memusuhi kalian? Hahaha.. jangan bercanda. Tanpa perintah dari Akira atau aku sekalipun, kalian tetap akan dimusuhi dan kalian akan tetap dibenci" ucap Hiro kembali meremehkan.
"Apa ada yang keberatan? Tanpa perlu perintah Akira, kalian juga pasti akan sama seperti ini, jadi tenang saja ya" ucap Hiro tersenyum.
"Sampai dimana tadi? Ah! Dan yang kedua, sekeras apapun kamu berusaha mendapatkan Sou, kamu tidak akan berhasil. Kenapa? Bahkan Tuhan juga tidak ingin menuliskan kau dan Sou ditakdirkan bersama di catatan takdirnya. Sekarang perbaiki saja dirimu sendiri" ucap Hiro menatap tajam Ayano dan mendekatinya. "Lakukan apapun yang kamu inginkan. Tapi ingat, aku dan Sou tidak akan membiarkannya!" Bisik Hiro tepat di telinga Ayano.
"Beruntung sekali Akira orang baik. Jika tidak, aku sudah membunuhmu sekarang juga" ucap Hiro dingin. "Berterima kasihlah kepadaku karena aku lupa merekam percakapan kalian tadi" ucap Hiro sambil tersenyum.
"Sampai jumpa ratu ular dan para pengikutnya" ucap Hiro tersenyum dan berjalan melewati mereka sambil melambaikan tangannya.
"Sialan kau Hiro!" Teriak teman-teman Ayano.
"Jika Sou dan Akira tahu pasti akan sangat gawat" gumam Ayano panik.
Tak lama kemudian Hiro sampai di tempat Sou dan Akira yang sedang menunggunya.
"Maaf lama" ucap Hiro tersenyum.
"Maaf jadi merepotkanmu Hiro, terima kasih banyak" ucap Akira menerima pensil dari Hiro.
"Terima kasih ya" ucap Sou pada Hiro.
"Tidak masalah. Bagus kalian tidak ke atas tadi" ucap Hiro lagi.
"Memangnya ada apa di atas?" Tanya Akira penasaran.
"Tidak ada, hanya sekumpulan ular yang saling merencanakan sesuatu" jelas Hiro tersenyum.
"Bukankah itu berbahaya?" Ucap Akira lagi.
"Tentu, sangat berbahaya. Tapi kamu tenang saja, ada Sou yang akan menjagamu" ucap Hiro yang membuat Akira dan Sou tersipu malu. "Kamu juga bisa mengandalkanku jika bertemu ular-ular itu. Ayo kita pulang" ucap Hiro berjalan mendahului Akira dan Sou.
"Bukankah kita harus melapor pada guru?" Ucap Akira lagi.
"Itu benar" ucap Hiro tersenyum.
"Baiklah kalau begitu" ucap Akira setuju walaupun masih kebingungan.
"Akira.." teriak Shinji di depan gerbang sekolah. "Kenapa lama sekali, Kakak bosan menunggu."
"Maaf Kak, pensil Akira tertinggal tadi" jelas Akira.
"Ceroboh sekali" ucap Shinji datar. "Teman Akira bertambah satu" ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Ah, ini Hiro Kak, teman sekelas Akira" ucap Akira memperkenalkan Hiro. "Hiro, ini Kakakku" ucap Akira memperkenalkan Shinji.
"Selamat sore Kak, salam kenal" ucap Hiro tersenyum.
"Salam kenal. Maaf ya kalau Akira hanya bisa merepotkan kalian, tolong tetap jadi temannya" ucap Shinji tersenyum.
"Tidak Kak, Akira tidak merepotkan sama sekali. Aku juga senang berteman dengannya" ucap Hiro tersenyum.
"Jangan merepotkannya Akira" ucap Shinji pada Akira.
"Maaf Hiro" ucap Akira menyesal karena baru saja dia merepotkan Hiro.
"Tidak, tidak. Kamu tidak perlu meminta maaf, kamu tidak salah apapun" jelas Hiro.
"Syukurlah kamu punya teman yang baik" ucap Shinji tersenyum. "Yo Sou, aku perlu berbicara denganmu" ucap Shinji menarik Sou menjauh dari Akira dan Hiro.
"Ada apa?" Tanya Hiro melihat tingkah Shinji dan Sou.
"Kakak memang selalu seperti itu jika bertemu dengan Sou, aku selalu takut karena Kakak sedikit galak" jelas Akira.
"Eh benarkah? Bukankah itu sedikit berbahaya?"
"Makanya. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun, karena Sou juga tidak bisa menolak" ucap Akira lagi.
"Sepertinya begitu ya" ucap Hiro tersenyum.
Disisi lain...
"Hiro tampan juga ya. Sepertinya sainganmu bertambah satu Sou" ucap Shinji tersenyum.
"A-apa maksudnya Kak?" Ucap Sou pura-pura tidak tahu.
"Jangan seperti itu Sou. Ah, benar! Terima kasih karena sudah memberitahuku kemarin"
"Memberitahu apa Kak? Sou kira kita tidak pernah berkomunikasi" ucap Sou bingung.
"Tentang punggung Akira" ucap Shinji menatap Akira dari kejauhan. "Dia anak yang suka menyembunyikan kesakitannya dari orang lain bahkan dari keluarganya sendiri. Terkadang kami juga tidak tahu bahwa dia sedang terluka. Jika bukan karenamu, aku tidak akan mengetahuinya. Dia adik perempuanku satu-satunya dan dia ditinggalkan Ibu kami saat usianya masih cukup muda, jadi aku benar-benar harus menjaganya. Dia juga selalu tidak ingin merepotkan kami jadi dia sedikit tidak terbuka pada keluarganya sendiri. Intinya terima kasih banyak Sou" ucap Shinji tersenyum.
"Sebenarnya itu salah-"
"Kakak! Ayo pulang, Akira harus latihan" teriak Akira.
"Sepertinya sampai disini dulu ya. Ayo kembali" ajak Shinji.
"Iya Kak."
"Lain kali kamu harus menerima ajakanku untuk main ke rumah, dan juga sainganmu bertambah satu Sou, jika tidak cepat-cepat akan diambil orang itu" bisik Shinji.
"Memangnya itu.. itu boleh Kak?" Tanya Sou.
"Tentu, jawaban dari semua perkataanku adalah boleh" ucap Shinji tersenyum.
__ADS_1
Sou terlihat terkejut. "Sepertinya Kakak salah paham. Sou ti-"
"Apa yang kalian bicarakan? Kami juga ingin tau" protes Akira.
"Tidak ada. Ayo pulang" ucap Shinji tersenyum. "Kami duluan ya, sampai jumpa Sou, Hiro" pamit Shinji.
"Aku duluan ya, sampai jumpa Hiro, Sou. Hati-hati di jalan" ucap Akira tersenyum.
"Bye-bye" ucap Hiro melambaikan tangannya.
Akira terlihat terkejut namun tak lama kemudian dia tersenyum. "Bye-bye Hiro, bye-bye Sou"
"Bye-bye" ucap Sou melambaikan tangannya.
Setelah Akira dan Shinji pergi, Sou menatap sinis kepada Hiro.
"Apa?" Tanya Hiro.
"Tidak ada!" ketus Sou.
"Kena- ah, gawat!" Gumam Hiro. "Maaf Sou, aku mendahuluimu tadi" ucap Hiro pada Sou.
"Hm."
"Jangan marah Sou, kamu lebih banyak mengucapkannya daripada aku bukan?"
"Hm."
"Ayolah, jangan marah aku traktir deh" ucap Hiro merangkul Sou.
"Hm."
Malam hari di rumah Akira...
"Papa" ucap Akira menghampiri sang Ayah yang sedang menonton televisi di ruang tengah bersama Yuki.
"Kenapa belum tidur? Apa Akira tidak lelah? Atau butuh sesuatu?" Tanya Papa.
"Akira butuh izin dari Papa untuk mengikuti camp pelatihan" ucap Akira memberikan formulir pada Papanya.
"Cocok untuk menambah pengalaman" ucap Yuki tersenyum.
"Kenapa harus di gunung dan hutan? Bukankah akan berbahaya jika ada hewan buas?"
"Tidak akan Pa, kami hanya bermain disana. Kan tidurnya tetap di penginapan" jelas Akira.
"Jangan ya, Papa khawatir. Lagipula kalau Akira ikut, latihannya bagaimana? Mau ditinggal?" Ucap Papa lagi.
(Benar, Akira tidak tahu kondisi disana bagaimana dan Akira tidak bisa meninggalkan latihan). Akira sudah tidak bisa membantah Papanya.
Melihat wajah Akira yang sedih, Yuki kemudian angkat bicara.
"Bukankah tidak masalah Pa? Kalau urusan latihan kan bisa izin dulu, lagipula evaluasinya sudah dilakukan jadi menurut Yuki tidak masalah, Pa. Lagipula di camp pasti aman karena disana bersama guru bukan?" Tanya Yuki yang diangguki Akira.
"Sekalian menambah pengalaman juga, kapan lagi Akira ke gunung, benar bukan?" Ucap Yuki lagi.
"Akira mau ikut?" Tanya Papa.
"Jujur Akira, iya bilang iya!" Ucap Yuki menggerakan bibirnya tanpa suara.
"Kalau tidak diizinkan tidak apa-apa" ucap Akira lagi.
"Itu bukan jawaban yang Papa harapkan. Akira mau ikut tidak?"
Akira kemudian menganggukan kepalanya lemah.
"Ya sudah, Akira boleh ikut tapi harus berjanji tidak akan terluka selama disana" ucap Papa lagi.
"Benarkah? Papa mengizinkan Akira?" Tanya Akira tidak percaya. Karena pada saat SMP, Akira tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan apapun di luar sekolah.
"Tentu, tapi dengan syarat tadi" ucap Papa mengelus kepala Akira.
"Terima kasih Pa. Akira berjanji tidak akan terluka" ucap Akira senang.
"Sama-sama. Ditandangan disini ya?"
"Iya" jawab Akira bersemangat.
"Terima kasih Kak" ucap Akira menggerakan bibirnya tanpa suara dan Yuki menganggukan kepalanya.
"Terima kasih banyak Pa, Akira ke kamar dulu" ucap Akira bersemangat.
"Dia bersemangat sekali" ucap Papa tersenyum melihat Akira.
"Iya Pa" ucap Yuki ikut tersenyum.
Keesokan harinya...
Saat istirahat di sekolah...
"Akira bagaimana?" Tanya Hana.
"Aku diizinkan" ucap Akira tersenyum.
"Syukurlah, mari kita lakukan banyak hal menyenangkan disana" ucap Rara tersenyum.
"Benar, ayo terus bersama" ucap Hana lagi
"Iya" ucap Akira tersenyum.
"Rubahnya sudah pergi ternyata" ucap Sou menghampiri Akira.
"Begitulah" jawab Hana santai.
"Rubah?" Ucap Akira bingung.
Sou kemudian tersenyum. "Kamu diizinkan?" Tanyanya pada Akira
"Iya. Sou sendiri bagaimana?"
"Hmm..."
"Apa tidak diizinkan?" Tanya Akira lagi.
"Benarkah? Apa kami perlu membantu meminta izin orang tuamu?" Tanya Hana.
Sou menggeleng. "Tidak perlu, aku diizinkan" ucap Sou tersenyum.
"Syukurlah" ucap Akira tersenyum.
"Ayo makan bersama" ajak Sou.
"Ekhem!" Hana dan Rara kemudian membalikan posisinya menghadap ke depan lagi.
"Apa?" Tanya Sou bingung.
"Ayo Sou. Hana, Rara aku duluan ya" ucap Akira tersenyum.
"Iya Akira" ucap Hana dan Rara tersenyum.
Sou dan Akira kemudian pergi keluar kelas.
__ADS_1
"Mereka itu pacaran atau tidak sih?" Tanya Rara.
"Entahlah, sepertinya iya tapi tidak tahu juga. Tapi mereka sangat cocok, mereka sudah sangat dekat jadi aku harap itu benar" ucap Hana tersenyum.