
Sore harinya...
"Kakak, Akira pergi latihan dulu ya" pamitnya pada Yuki yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Tunggu sebentar, tugas Kakak sedikit lagi selesai" ucap Yuki yang masih fokus pada laptopnya.
"Sepertinya Kakak sedang sibuk, Akira akan naik bus saja" ucap Akira.
"Tidak, tidak. Kakak akan mengantarmu, tunggulah di kursi sebentar, duduk dulu" titah Yuki.
"Baiklah Kak" ucap Akira patuh.
Beberapa lama kemudian, Yuki selesai mengerjakan tugasnya dan bergegas untuk mengantarkan Akira latihan.
"Ayo Akira, Kakak sudah selesai" ajak Yuki.
"Seharusnya Kakak tidak perlu mengantar Akira, Kakak sedang sibuk sekarang. Akira hanya mengganggu Kakak" ucap Akira lirih.
"Tidak masalah sayang. Ayo berangkat, nanti Akira terlambat" ucap Yuki tersenyum.
"Baik Kak, terima kasih."
Di kediaman Ayano.
"Souma Akira.. Souma.. Souma.. siapa ya? Rasanya aku pernah mendengarnya, tapi siapa dan dimana ya?" Ucap Ayano bingung.
"Ayano, ada apa? Mengapa dari tadi kamu menyebut-nyebut nama Souma?" Tanya Ibu Ayano.
"Ini Bu, tadi aku dapat teman baru namanya adalah Souma Akira, aku rasa aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat tapi aku tidak tahu dimana" jelas Ayano.
"Souma? Bukankah itu nama pemilik perusahaan terbesar ke 3 di Indonesia?" Ucap Ibu Ayano bingung.
"Benarkah? Apa Akira anak pemilik perusahaan itu?" Ucap Ayano tidak percaya. "Tapi sepertinya bukan, rasanya aku mengetahui nama Souma Akira bukan karena pemilik perusahaan, siapa ya?" Ucap Ayano kembali bingung.
"Ibu tidak tahu, tapi Ibu rasa Ibu juga pernah mendengar nama Akira, tapi dimana ya?"
"Benar kan, aku juga merasa begitu Bu, tapi aku tidak tahu" ucap Ayano lagi.
"Kenapa tidak kamu tanyakan saja kepadanya sebenarnya siapa dia? Kalian berteman bukan?-- Ayano terdiam mendengarkan ucapan Ibunya --Sudahlah Ibu mau nonton olahraga dulu" ucap Ibu Ayano.
"Aku ikut."
Disisi lain...
"Hati-hati ya, semangat latihannya. Kakak akan menjemput Akira nanti malam" ucap Yuki mengacak-acak rambut Akira.
"Jangan diberantakin Kak-- Akira mengerucutkan bibirnya --Iya Kak. Kakak juga hati-hati di jalannya ya" ucap Akira tersenyum.
"Bye-bye Akira"
"Bye-bye Kak Yuki."
Akira kemudian masuk ke dalam gedung untuk latihan. Dia cukup bersemangat hari ini, terlihat dari senyuman manisnya yang tidak luntur.
"Akira~" panggil Rena, sahabat Akira. Mereka sudah berteman dari awal Akira masuk ke lembaga itu.
Akira tersenyum. "Selamat sore Rena. Kenapa kamu bersemangat sekali memanggilku, apa kamu merindukanku hm?" Goda Akira.
"Males banget. Percaya diri sekali kamu hari ini" ketus Rena.
"Aku rasa aku selalu seperti ini. Ada apa?" Ucap Akira tersenyum.
"Sudahlah tidak jadi, mood ku turun drastis sekarang." Ketusnya lagi.
"Apa kamu marah?" Tanya Akira.
"Tidak, aku tidak marah. Hanya saja kamu sangat menyebalkan!" Ucap Rena dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kenapa kamu marah?"
"Salah Akira."
"Kenapa jadi salahku?"
"Memang salahmu."
"Aku hanya bertanya kepadamu, aku tidak melakukan apapun, lalu dimana letak kesalahanku?" Ucap Akira dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kenapa jadi kamu yang marah?" Tanya Rena.
"Kamu yang buat aku marah."
"Tapi aku juga marah karenamu."
"Karena kamu marah, aku jadi marah. Kenapa kamu yang marah?"
Rena dan Akira terdiam sebentar. Mereka menatap satu sama lain.
"Lupakan, aku pusing" ucap Akira.
"Aku lebih pusing" balas Rena. Mereka kemudian tertawa bersama mengingat kembali tingkah konyol yang baru saja mereka lakukan.
"Anak-anak berkumpul. Seperti biasa, kita akan berlatih backhand dan defense. Jangan ada yang terluka mengerti?" Ucap Pelatih.
"Mengerti Pak" ucap murid kompak.
"Sekarang dimulai dengan pemanasan, silahkan berpasangan" ucap Pelatih lagi.
Dengan cepat para murid berpasangan dan melakukan latihan. Seperti biasanya, Akira berpasangan dengan Rena.
"Kali ini aku akan mendapatkan lebih banyak poin darimu" ucap Rena bersemangat.
"Aku akan menambah poinku dari yang kemarin" ucap Akira tidak ingin kalah.
"Kita lihat saja" ucap Rena lagi.
"Tentu, kita lihat saja nanti" ucap Akira setuju.
Mereka kemudian berlatih dengan semangat yang membara. Akira terlihat sangat senang saat bermain bulutangkis. Hanya dengan bermain bulutangkis semua rasa lelahnya menghilang.
"Baik anak-anak berkumpul. Latihan hari ini cukup sampai disini. Jangan lupa besok kita akan latihan lebih awal karena lusa saya tidak bisa mengajar, mohon pengertiannya. Sekarang waktunya pulang, terima kasih atas kerja kerasnya dan hati-hati di jalan. Sekian, kalian boleh bubar" ucap pelatih.
"Terima kasih Pak" ucap murid.
"Akhirnya kita pulang juga.. seperti biasa kamu selalu hebat Akira, aku jadi ingin menang darimu" ucap Rena tersenyum.
"Rena juga sangat hebat, hanya saja hari ini dewi keberuntungan ada bersamaku, jadi poinku lebih banyak darimu" jelas Akira.
"Kamu ada-ada saja Akira" ucap Rena tertawa.
"Terima kasih untuk hari ini, Rena" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih juga.. oh, Kak Yuki sudah menunggumu Akira" ucap Rena.
"Dimana?-- Akira mencari keberadaan Yuki --Ah, Kakak~" panggil Akira sambil melambaikan tangannya.
Akira dan Rena kemudian bergegas membereskan barang-barangnya dan pergi menemui Yuki.
"Bagaimana latihannya" tanya Yuki setelah Akira berdiri dihadapannya.
"Cukup baik Kak" jawab Akira tersenyum.
"Apa Rena mau pulang bersama kami?" Tanya Yuki.
"Tidak Kak, terima kasih. Rena juga sudah dijemput Ayah. Rena pulang duluan" ucap Rena tersenyum.
"Baiklah, sampai jumpa Rena. Hati-hati ya" ucap Akira.
__ADS_1
"Hati-hati juga Akira, Kak Yuki. Rena duluan, permisi" pamit Rena.
"Hati-hati ya" ucap Yuki tersenyum.
Setelah Rena pulang, Yuki dan Akira kemudian menyusul untuk pulang ke rumah juga.
"Akira ayo pergi ke cafe dulu, Akira belum makan bukan?" Tanya Yuki.
"Apa Kakak sudah makan?" Tanya Akira.
"Sudah. Papa tadi membeli makan dari luar, maaf ya Kakak tidak menunggu Akira."
"Tidak apa-apa Kak. Syukurlah jika Kakak dan Papa sudah makan. Maaf ya, Akira tidak sempat membuat makan malam" ucap Akira menunduk.
"Tidak apa Akira. Kami tahu Akira juga sibuk, jadi tidak apa-apa. Mampir dulu ke cafe ya" ajaknya lagi.
"Tidak Kak, Akira mau pulang saja. Akira makan di rumah saja nanti" tolak Akira.
"Apa Akira yakin?"
"Yakin Kak. Kita pulang saja ya."
"Baiklah, nanti sampai rumah, Akira langsung makan ya" ucap Yuki mengelus rambut adiknya itu.
Akira mengangguk. "Baik Kak" ucap Akira tersenyum.
Sesampainya di rumah...
"Akira pulang" ucap Akira memasuki rumah. "Papa? Kakak?" Ucap Akira saat melihat rumah dalam keadaan sepi.
"Papa dan Kakak mungkin sudah tertidur. Akira ganti baju dulu, makanannya biar Kakak panaskan" ucap Yuki segera menuju dapur.
"Jangan Kak, biar Akira lakukan sendiri. Kakak beristirahatlah" ucap Akira menahan tangan Yuki.
"Akira istirahat dulu saja, biar Kakak yang panaskan makanannya" Yuki melepaskan tangan Akira.
"Tidak Kak, biar Akira saja. Kakak istirahat saja di kamar ya. Biar Akira saja" ucap Akira mendahului Yuki.
"Kak Shin??" Ucap Akira melihat Kakaknya yang sedang tertidur di meja makan.
"Kakak.. Kak? Bangun Kak, kenapa Kakak tidur disini?" Ucap Akira berusaha membangunkan Shinji.
"Kak Shin, apa yang Kakak lakukan?" Ucap Yuki terkejut.
"Kak Shin bangun, jangan buat Akira takut. Bangun Kak" ucap Akira menepuk pipi Shinji.
"Oh kalian sudah pulang" ucap Shinji dengan mata yang masih tertutup.
"Bangun dulu Kak. Kakak kenapa tidur disini?" Tanya Akira lagi.
"Iya Kak, ada apa denganmu?" Tanya Yuki.
"Hmm, tadi aku lapar tapi aku juga mengantuk jadi aku langsung tertidur setelah makan" ucap Shinji yang masih mengumpulkan nyawanya. "Aku juga tidak tahu ini akan terjadi" ucapnya tersenyum.
"Akira minumlah dulu" titah Yuki.
Selagi Akira minum, Yuki memanaskan makanan untuknya. Dia tahu Adiknya sudah lelah latihan.
"Kakak, sudah Akira bilang biar Akira saja yang melakukannya" ucap Akira kesal.
"Tidak apa. Duduklah, tunggu di meja makan" titah Yuki lagi.
"Kemarilah Akira, temani Kakak" ucap Shinji. Dia juga tahu Akira sudah lelah.
"Baiklah, terima kasih Kak Yuki" ucap Akira pasrah. Akira kemudian duduk di dekat Shinji.
"Sama-sama" jawab Yuki.
Tak lama kemudian Yuki kembali dengan sepiring nasi di tangannya.
"Ini, makanlah" ucap Yuki tersenyum.
"Makanlah yang banyak, Akira kurus" ucap Shinji.
Akira menatap tajam Shinji. "Bagus dong kalau kurus, jadi kalau duduk bersama tidak akan menghabiskan tempat seperti Kak Shin" ucap Akira menatap makanannya.
"Maksud Akira Kakak gendut?" Tanya Shinji.
Akira mengangguk. "Begitulah" ucap Akira acuh.
"Awas saj-"
"Terima kasih makanannya Kak" ucap Akira memotong pembicaraan Shinji dan tersenyum pada Yuki.
"Sama-sama sayang" jawab Yuki tersenyum.
"Maaf Kak Shin, tapi Akira lapar. Bisakah Akira makan dulu kemudian lanjut debatnya?" Tanya Akira.
Shinji tersenyum. "Baiklah, akan Kakak tunggu sampai Akira selesai makan."
"Terima kasih Kak Shin" ucap Akira tersenyum.
Yuki hanya bisa tertawa melihat tingkah Kakak dan Adiknya itu.
"Makanlah perlahan Akira" ucap Yuki.
"Baik Kak, Akira akan makan per satu butir nasi" ucap Akira tersenyum.
"Kenapa per satu butir? Tidak akan terasa jika seperti itu" protes Shinji.
"Tentu, agar Kak Shin terus menungguku" ucap Akira menatap Shinji sambil tersenyum.
"Akira, kamu benar-benar menjahili Kakak?! Awas saja ya!" Shinji kemudian mendekat kepada Akira dan menggelitikinya. Dengan cepat Yuki menjauhkan piring nasi Akira dari kedua nya.
"Sudah berani menjahili Kakak ya?" Ucap Shinji menggelitiki Akira.
"Hahaha... Kakak geli Kak, hentikan.. Ah, Akira mau makan dulu, hentikan Kak hahaha.."
"Tidak akan! Ini adalah hukuman untuk Akira yang sudah mempermainkan Kakak."
"Maaf Kak, ampun.. -- Akira memundurkan tubuhnya untuk menjauhkan dirinya dari tangan Shinji --Kakak!!" Teriak Akira saat dia akan terjatuh dari kursi.
Shinji dengan cepat menarik Akira dan memeluknya. Kakinya menahan kursi yang diduduki Akira agar tidak jatuh ke belakang.
"Ya ampun Kak Shin!" Ucap Yuki panik.
"Aku terkejut" ucap Shinji menatap Yuki dengan ekspresi terkejutnya.
"Akira baik-baik saja?" Tanya Yuki cemas.
"Untung Akira tidak jatuh" ucap Akira mendongakkan kepalanya menatap Shinji sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf ya" ucap Shinji memeluk Akira cukup erat.
"Ini sudah malam, bertengkarnya besok saja" ucap Yuki kesal.
"Baiklah untuk hari ini Kakak maafkan, besok-besok tidak" ucap Shinji menatap Akira yang sedang dipeluknya.
"Akira janji Kak, Akira tidak akan melakukannya lagi. Duh.. perut Akira jadi sakit" ucap Akira memegangi perutnya.
"Kalian ini memang selalu berisik ya" ucap Naoya menghampiri adik-adiknya itu.
"Biasa Kak.. tidak ada hari tanpa bertengkar untuk Kak Shin dan Akira" ucap Yuki.
"Akira sudah berani menjahiliku Kak" adu Shinji melepaskan pelukannya.
"Kakak yang mulai duluan" ucap Akira tak terima.
__ADS_1
"Ini sudah malam, Shin berhentilah dan Akira cepatlah makan" titah Naoya.
"Baik Kak" ucap Akira membenarkan posisi duduknya. "Kakak mau tidak?" Tanya Akira pada ketiga Kakaknya.
"Kakak sudah makan tadi" ucap Naoya.
Yuki mengangguk. "Kami sudah makan dari tadi, tinggal Akira saja yang belum. Cepatlah habiskan, lalu tidur" ucap Yuki tersenyum.
"Benarkah? Kakak dan Papa benar-benar sudah makan?" Tanya Akira lagi.
"Sudah sayang, kami sudah makan" ucap Naoya lagi.
"Yakin tidak mau?" Ucap Akira lagi.
"Ya ampun, berisiknya Adikku ini.. kami sudah makan jadi cepatlah habiskan" ucap Shinji tersenyum.
"Baiklah, Akira habiskan ya."
Beberapa saat kemudian, Akira sudah menghabiskan makanannya.
"Terima kasih makanannya Kak" ucap Akira tersenyum.
"Sama-sama" ucap Yuki.
"Sekarang masuklah ke kamar, lalu tidur. Akira harus sekolah besok" ucap Naoya.
"Kakak juga harus tidur sekarang" ucap Akira.
"Iya, Kakak juga mau ke kamar sekarang" ucap Shinji. "Selamat malam."
"Selamat malam Kak Shin" ucap Akira.
"Selamat malam Kak" ucap Yuki.
"Nah sekarang Yuki dan Akira juga masuk ke kamar, ini sudah malam" titah Naoya.
"Baik Kak. Selamat malam Kak Nao, selamat malam Kak Yuki" ucap Akira.
"Selamat malam juga Akira, mimpi indah" ucap Yuki.
Naoya tersenyum. "Selamat malam, masuklah" titahnya pada Yuki.
"Baik Kak, selamat malam."
Keesokan paginya...
Seperti biasa, Akira bangun sangat pagi. Dia membereskan rumah, mencuci piring dan memasak untuk dirinya, Papa, dan Kakaknya. Akira memasak cukup banyak karena sepulang sekolah dia harus langsung pergi latihan karena jadwal latihan dimajukan menjadi lebih awal. Karena itu dia berniat membuatkan dulu makanannya dari pagi agar nanti Kakaknya tinggal menghangatkannya saja.
Tuan Souma terbangun karena suara berisik di dapur saat hari masih sangat pagi. Dia kemudian turun untuk melihat apa yang terjadi, takutnya ada maling atau bagaimana, tapi kemudian dia menemukan Akira yang sudah memasak di pagi hari.
(Akira... aku tidak bisa membiarkannya seperti ini terus. Walaupun dia seorang perempuan yang harus bisa pekerjaan rumah, rasanya aku merasa bersalah kepadanya. Aku tidak bisa membiarkan Akira seperti ini terus, benarkan sayang? Maafkan aku tapi sepertinya aku harus mencari Ibu baru untuk kebaikan Akira, semoga kamu mengizinkanku) Batin Papa menatap Akira.
"Akira?" Ucap Papa.
"Oh Papa, kenapa sudah bangun? Ini masih sangat pagi. Apa Akira terlalu berisik sehingga membangunkan Papa?" Tanya Akira.
"Ah tidak. Papa hanya ingin mengambil minum dan menemukanmu yang sudah memasak disini. Kenapa pagi dan banyak sekali masaknya?"
"Jadwal latihan Akira dimajukan hari ini, jadi Akira memasak banyak agar nanti tinggal dihangatkan saja" jelas Akira.
"(Kau sungguh anak yang baik Akira, padahal kami bisa makan diluar, tapi kau...) Jika seperti itu harusnya Akira tidak usah memasak, kami bisa makan diluar" ucap Papa lagi.
Tuan Souma merasa bersalah karena sudah membuat anak gadisnya memaksakan dirinya di pagi hari seperti ini.
"Tapi Akira sudah membuatnya" ucap Akira sedih.
"Jangan sedih seperti itu, kami akan memakannya, tidak usah khawatir" ucap Papa tersenyum.
Akira tersenyum. "Baiklah."
Tak lama kemudian Akira selesai memasak. Dia menyisihkan sebagian makanannya dan dia simpan di kulkas untuk makan siang kakaknya. Akira jarang memasak untuk makan malam karena dia pulang latihan larut malam. Sehingga Papa selalu membawa makan malam untuk anak-anaknya. Kebiasaan itu terjadi setiap hari di kediaman keluarga Souma.
Tak lama kemudian ketiga kakaknya turun ke bawah untuk sarapan. Seperti biasa, mereka bercerita dan tertawa bersama dan setelah itu mereka melakukan kegiatan masing-masing termasuk Akira yang pergi ke sekolah. Papa, Naoya dan Shinji sudah pergi duluan meninggalkan Akira bersama Yuki.
"Kakak, untuk makan siang nanti Akira sudah masak dan menyimpannya di kulkas, jadi Kakak tinggal menghangatkan saja ya" jelas Akira kepada Yuki.
"Tumben sekali Akira memasak makan siang di pagi hari."
"Maaf Kak, Akira harus latihan sepulang sekolah, jadi Akira tidak akan pulang ke rumah dulu."
"Benarkah? Kenapa begitu?" tanya Yuki penasaran.
"Pelatih tidak bisa mengajar besok, jadi pelajaran besok digabung dengan hari ini. Jadi latihannya dimajukan karena banyak pelajaran nya" jelas Akira.
"Ah begitukah.. Kakak mengerti, ayo berangkat nanti Akira terlambat" ajak Yuki.
Di sekolah...
"Bye-bye Akira, semangat belajarnya. Nanti Kakak jemput sambil membawa peralatan Akira ya."
"Iya Kak, tolong. Tas latihan Akira ada di kamar, sudah disiapkan. Maaf Akira jadi menyuruh Kakak."
"Tidak masalah sayang."
"Akira.. selamat pagi" teriak Sou dari kejauhan.
"Teman Akira?" Tanya Yuki.
"Iya Kak, dia teman Akira" ucap Akira melambaikan tangannya pada Sou.
"Selamat pagi" sapa Sou pada Yuki.
"Selamat pagi. Temannya Akira ya?" Ucap Yuki tersenyum.
"Ah iya, saya Sou (siapa pria ini? Kenapa tampan? Apa dia kekasih Akira?)" Batin Sou.
"Ini Kakakku, namanya Kak Yuki" jelas Akira.
"Ah begitukah.. maaf Kak, saya tidak tahu Kakak adalah Kakaknya Akira. Saya kira Kakak kekasih Akira, maaf" ucap Sou menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Yuki tersenyum mendengar pernyataan Sou.
"Kamu bisa saja. Tapi kamu benar, jika aku bukan kakaknya aku akan menjadikan Akira sebagai kekasihku" ucap Yuki tersenyum.
"Kakak!" Ucap Akira merengek.
Yuki tersenyum gemas melihat tingkah Akira. "Iya iya, maaf ya. Ya sudah Kakak pulang ya."
"Terima kasih Kak. Jangan ngebut, hati-hati" ucap Akira.
"Aku duluan ya Sou, tolong jaga Akira" ucap Yuki tersenyum.
"A-ah i-ya, baik Kak. Hati-hati di jalan" ucap Sou. (Apa itu artinya Kak Yuki mempercayakan Akira kepadaku? Baiklah jika seperti itu, aku akan berusaha) batin Sou tersenyum.
"Bye-bye Akira, Sou" pamit Yuki.
"Bye-bye" jawab Akira melambaikan tangannya dan Yuki hanya tersenyum dan membungkuk hormat.
"Aku ingin tahu lebih tentangmu Akira" ucap Sou tersenyum menatap Akira.
"Tahu lebih bagaimana?" Tanyanya bingung.
"Tentang kehidupanmu. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa kau andalkan. Kak Yuki saja tadi mengandalkanku, dia bilang tolong jaga Akira" ucap Sou tersenyum.
"A-ah.. (kenapa tadi Kakak bilang seperti itu?? Kan Akira malu..) Ah, hmm.. boleh saja. Nanti akan aku ceritakan dan sebagai gantinya aku juga ingin tahu tentangmu" ucap Akira tersenyum.
"Tentu, ayo kita masuk" ajak Sou.
__ADS_1
"Ayo."