Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 2


__ADS_3

7 tahun kemudian...


"Kakak selamat pagi!" Ucap Akira penuh semangat menghampiri kedua Kakaknya yang sudah duduk di meja makan.


"Mama dan Papa juga selamat pagi" ucapnya tersenyum.


"Pagi sayang" balas Papa.


"Selamat pagi anak Mama yang cantik" ucap Mama.


"Pagi sayang" ucap Naoya.


"Selamat pagi Akira" ucap Yuki tersenyum.


"Disini saja duduknya. Hari ini Akira harus duduk dekat Kakak" ucap Naoya.


"Tapi Akira mau duduk samping Kak Yuki" jelas Akira.


"Tidak, tidak. Akira kan sudah bersamanya kemarin, sekarang Akira harus bersamaku" protes Naoya.


"Ayolah ini masih pagi, jangan bertengkar seperti itu" ucap Papa tertawa kecil.


"Dimana Kak Shin? Apa Kakak masih tidur?" Tanya Akira.


"Sepertinya begitu" balas Papa.


"Akira akan membangunkannya, nanti Kak Shin terlambat" ucap Akira lagi.


"Tolong ya sayang" ucap Mama.


Akira berlalu pergi menuju kamar Kakaknya itu. Dengan sopan, dia mengetuk dulu pintu kamar Kakaknya, namun setelah beberapa kali diketuk, tidak ada jawaban.


"Kakak bangun, ini sudah pagi Kak" ucap Akira mengetuk pintu kamar Shinji.


"Kak Shin, Akira masuk ya..." ucapnya sedikit berteriak saat tidak mendapatkan jawaban Shinji dari dalam kamar. Karena khawatir, Akira langsung masuk ke kamar Shinji untuk memastikan keadaannya.


"Kakak?" Ucapnya sambil membuka pintu kamar. "Kenapa kakak masih tidur?" Tanyanya lagi saat dia menemukan Shinji yang masih tidur pulas di kasur.


"Kakak, ayo bangun. Kak Shin nanti terlambat ke sekolah. Mama, Papa dan Kakak yang lain sudah menunggu di bawah. Ayo bangun" ucap Akira menepuk-nepuk lengan sang Kakak.


"Emm... 5 menit lagi" jawabnya dengan mata yang masih tertutup.


"Kalau Kak Shin tidak bangun, Akira akan melompat ke atas Kakak" ancam Akira. Setelah tidak ada jawaban dari Shinji, Akira benar-benar melompat ke atas tubuh Shinji.


"AAAHHKKK!!!!" Shinji berteriak dengan sangat keras. Karena terkejut, dengan cepat Akira memeluk Shinji yang dia tindih.


"Ya ampun Akira... akh... perutku sakit sekali. Kenapa kau kasar sekali membangunkanku?" Protesnya sambil membalas pelukan adiknya itu.


"Maaf Kakak, jangan marah. Akira kan sudah bilang tadi, kalau Kakak tidak mau bangun Akira akan melompat. Maaf kak Shin, jangan marah." Ucap Akira menyesal.


Akira memeluk erat Kakaknya. Dia menyesal telah melakukan hal itu tadi. Dia takut Kakaknya akan marah karena Shinji memang orang yang sedikit kasar dan emosian. Dia juga terlalu jujur sehingga dia bisa mengatakan hal buruk dengan santai. 


"Tidak apa-apa, Kakak baik-baik saja tapi bisakah Akira melepaskan pelukannya? Kakak tidak bisa bernafas sekarang" ucap Shinji.


"Ah maafkan Akira Kak" ucap Akira menatap Shinji. Saat Akira akan turun dari tubuh Shinji, dia malah menarik Akira dan menggelitiki tubuhnya hingga Akira tertawa sangat keras.


"Ini adalah pembalasanku untuk tadi sayang" ucapnya sambil terus menggelitiki Akira.


"HAHAHAHA... Kak Shin maaf, maafkan Akira. Berhenti sekarang Kak hahaha..." ucap Akira yang masih tertawa. Dia bahkan meneteskan air matanya karena digelitiki Shinji. Shinji baru berhenti setelah dia benar-benar puas mengerjai adiknya itu.


"Aduh aku lelah. Lain kali jangan coba-coba melompat ke atas Kakak lagi atau Kakak akan terus menggelitikimu" ancamnya pada sang Adik.


"Akira mengerti Kak. Aduh perut Akira sakit karena banyak tertawa" ucap Akira menghapus air matanya dan turun dari kasur sambil memegangi perutnya.


"Ya ampun, pantas saja lama sekali membangunkan Kakaknya-- Mama sudah berada di ambang pintu sambil tersenyum --cepat mandi dan kita sarapan Shin. Ayo Akira juga makan, jangan mengganggu Kakak" ucap Mama.


"Baik Ma." Ucap keduanya.


Akira dan Mama pun kembali ke bawah untuk makan.


"Dia malah bermain-main bersama Shin" ucap Mama tersenyum menjelaskan kepada semua orang.


"Pantas saja lama" ucap Naoya.


"Tadi Kak Shin tidak mau bangun sih, jadi Akira melompat ke tubuhnya" jelas Akira duduk di dekat Naoya.


"Benarkah? Kamu memang yang terbaik Akira" ucap Naoya tertawa.


"Tentu, Akira kan Adiknya Kakak" ucapnya tersenyum juga.


"Baiklah, sekarang Akira makan ya, biar Kak Shin menyusul nanti" ucap Papa yang sudah terlebih dahulu makan bersama Yuki dan Naoya.


"Tidak, Akira akan menunggu Kak Shin" ucap Akira dengan tegas.


"Makanlah duluan, Kak Shin lama kalau mandi" ucap Yuki.


"Tidak, Akira akan tetap menunggu Kak Shin" ucapnya lagi.


"Baiklah baiklah, terserah Akira saja. Kami makan duluan ya" ucap Papa.


"Mama juga makan duluan ya" ucap Mama.


"Baik Pa, Ma. Akira akan menunggu Kak Shin."


Mereka pun makan dengan lahap kecuali Akira yang masih menunggu Kakaknya. Setelah ditunggu 15 menit, belum ada tanda-tanda Shinji akan muncul.


"Akira yakin tidak akan makan duluan?" Tanya Mama.


"Benar Akira. Lihat, kami saja sudah habis makannya. Akira makan duluan saja" ucap Papa.


"Tidak Ma, Pa, Akira akan menunggu Kakak" ucapnya menegaskan kembali.


"Dasar Adik Kakak yang satu ini-- Naoya mengelus pelan kepala Akira --Aku sudah selesai, Kakak duluan ya" pamitnya. 


"Iya Kak."


Ya, Akira tumbuh menjadi gadis yang sedikit keras kepala. Dia tidak akan merubah keputusannya jika dia sudah benar-benar yakin. Kepribadiannya ini sedikit menyusahkan tapi untungnya sampai sekarang Akira tidak keras kepala untuk sesuatu yang buruk dan egois. Dia keras kepala hanya saat dia benar-benar peduli dan merasa khawatir kepada Kakak-Kakaknya seperti ini.


Karena ini masih pagi dan Shinji belum juga keluar dari kamarnya, Papa dan Naoya pergi menonton televisi, Mama mencuci piring yang kotor dan Akira serta Yuki yang masih berada di meja makan.


10 menit kemudian...


"Tuhkan Kakak sudah bilang, Kak Shin itu lama Akira, lebih baik Akira makan sekarang" ucap Yuki.


"Tapi..."


"Kenapa? Apa masalahnya jika aku lama? Yuki saja yang terlalu rajin" ucap Shinji yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Akira.


"Kakak sudah membuat Akira menunggu lama, kami bahkan sudah selesai makannya" jelas Yuki.


"Eh? Apa Akira belum makan? Akira menungguku?" Tanyanya memastikan.


Akira mengangguk. "Akira menunggu Kakak" ucapnya lirih.


"Ya ampun... maaf ya, maafkan Kakak Akira. Kenapa Akira tidak makan saja duluan? Maaf ya" ucap Shin menyesal sambil mengelus kepala Akira.


"Tidak apa-apa Kak, ayo kita makan sekarang" ucap Akira tersenyum.


"Ayo... kau pasti sudah sangat lapar, maaf ya Akira" ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa Kak."


Beberapa saat kemudian...


"Apa sudah selesai makannya?" Tanya Papa.


"Sudah Pa" jawab Akira yang diangguki oleh Shinji sebagai tanda setuju.


"Baiklah, ayo berangkat" ucap Papa lagi.


"Mama kami berangkat" ucap Naoya.


"Baiklah hati-hati, yang semangat belajarnya ya" ucap Mama.


"Akira pergi Mama, bye-bye" ucap Akira melambaikan tangannya.


"Bye-bye, hati-hati sayang" ucap Mama lagi yang diangguki oleh Akira dan yang lain.


Mereka kemudian pergi. Akira turun pertama karena jarak sekolahnya paling dekat dari rumah.


"Akira sekolah dulu Pa, Kakak" ucapnya setelah turun dari mobil.


"Hati-hati sayang, sekolahnya harus semangat ya" ucap Papa.


"Nanti sore Kakak akan jemput, jangan pulang sendirian" ucap Naoya.


"Baik Pa, Kak, Akira masuk dulu... bye-bye" ucap Akira.


"Bye-bye" ucap Yuki tersenyum sambil melambaikan tanganya.


"Jangan berlari Akira" ucap Shinji.

__ADS_1


"Iya Kak."


Sore harinya di sekolahan Akira...


Akira terlihat senang saat keluar dari kelasnya. Senyuman manisnya terukir di wajahnya yang cantik. Sepertinya dia mendapatkan sesuatu yang bagus hari ini.


"Akira..." panggil seseorang di depan gerbang sekolah.


"Kakak!" Ucap Akira tersenyum. Dia kemudian berlari menghampiri Kakaknya itu.


"Jangan berlari seperti itu, nanti Akira jatuh" ucap Naoya.


"Akira tidak akan jatuh Kakak, tapi Akira tidak akan mengulanginya lagi" ucapnya tersenyum saat melihat Kakaknya yang khawatir.


"Akira aku duluan ya, bye-bye" ucap Rina, salah satu teman Akira.


"Permisi, kami duluan" ucap Ibu temannya itu.


"Bye-bye, hati-hati Rina, sampai jumpa Bibi" ucap Akira melambaikan tangannya. Sedangkan Naoya hanya tersenyum dan membungkuk hormat.


"Akira, ayo kita juga harus pulang" ajak Naoya.


"Ayo."


Naoya memang sengaja menjemput Akira karena sekolahan Akira searah dengan sekolahannya. Naoya sekarang sekolah di tahun pertamanya di SMA. Umur masing-masing kakaknya hanya berbeda 2 tahun kecuali Yuki dan Akira yang berbeda 5 tahun. Naoya dan Akira pun kemudian pulang dengan berjalan kaki sambil berpegangan tangan.


"Kakak, Kakak tahu tidak? Tadi Akira dapat nilai tertinggi di kelas. Akira dapat 5 bintang hari ini" ucapnya bangga.


"Wah, Adik Kakak memang pintar. Akira hebat" ucapnya tersenyum.


"Akira akan mengumpulkan banyak bintang untuk Kakak, Kak Shin dan Kak Yuki" ucapnya tersenyum.


"Itu artinya Akira harus lebih giat belajar lagi tapi jangan berlebihan ya" ucapnya mengelus kepala Akira gemas.


"Akira mengerti kak" ucapnya lagi.


"Akira, ada es krim. Apa Akira mau?" Tanya Naoya.


"Apa boleh? Nanti Mama akan marah jika kita pulang terlambat Kak" ucapnya ragu.


"Tidak apa, ini hanya sebentar. Akira mau tidak?" Tanyanya lagi untuk memastikan.


"Baiklah" ucapnya tersenyum.


Mereka pun kemudian menghampiri truk es krim.


"Mau rasa apa?" Tanya Naoya.


"Stroberi" jawab Akira semangat.


"Oke tunggu ya-- Naoya tersenyum --Paman, saya pesan rasa stroberi satu"


"Satu?" Ucap Akira.


"Ini Tuan, silahkan" ucap sang Penjual.


"Ini uangnya Paman" ucap Naoya sambil memberikan uangnya.


Setelah Naoya memberikan uangnya, truknya kemudian pergi.


"Ini es krimnya" ucap Naoya memberikannya pada Akira.


"Hanya satu?" Tanyanya.


"Memangnya Akira mau berapa? Akira tidak boleh makan es krim banyak-banyak nanti giginya sakit. Satu dulu saja ya, nanti kalo sudah habis baru beli lagi" jelas sang Kakak.


"Bukan untuk Akira Kak, es krim untuk Kakak mana?" Tanyanya lagi.


"Oh?" Naoya terkejut karena perkataan Akira. "Kakak sedang tidak ingin makan es krim jadi Kakak tidak membelinya" jelas Naoya.


"Kalau begitu Akira juga tidak akan memakan es krimnya" ucap Akira.


"Kenapa? Ini kan sudah dibeli, sayang kalo tidak dimakan" ucap Naoya lagi.


"Jika kakak tidak makan es krim, Akira juga tidak akan makan es krim!" tegas Akira.


"Ayolah sayang, truknya sudah pergi. Lain kali Kakak akan membelinya 2, tapi sekarang makan sendiri saja ya. Kakak benar-benar sedang tidak ingin makan es krim sekarang" bujuk Naoya.


"Tidak mau!" Tolak Akira


"(Ya ampun) Akira dengarkan Kakak, Akira harus dengar apa kata Kakak, makan sendiri saja ya" bujuk Naoya lagi.


"Tidak mau! Pokoknya Akira tidak mau Kak, Akira bilang tidak mau!" ucapnya kesal.


"Jangan Kak, jangan membuang-buang makanan itu tidak baik" jawab Akira lagi.


"Akira tidak ingin memakan es krimnya dan kakak tidak boleh membuangnya, lalu Kakak harus bagaimana sekarang?" Ucap Naoya bingung.


"Kita makan bersama saja. Aku akan makan es krimnya jika Kakak makan es krimnya juga. Kakak juga harus makan es krim berdua dengan Akira" ucap Akira mengerucutkan bibirnya.


Naoya tersenyum gemas. "Baiklah. Kalau begitu sekarang kita pulang kah?" Tanya Naoya lagi.


Akira mengangguk. "Ayo" ucap Akira mengambil es krim dari tangan Kakaknya.


Setelah itu mereka kembali berjalan pulang sambil berbagi es krim. Tentu dengan senyum dan tawa dari kedua nya.


"Kami pulang" ucap Naoya memasuki rumah.


"Akira pulang" ucap Akira.


"Wah, selamat datang anak Mama-- Mama mengelus pipi Akira --Terima kasih Nao" ucapnya pada Naoya.


"Sama-sama Ma" ucap Naoya.


"Mama tadi di sekolah, Akira mendapatkan 5 bintang" ucap Akira tersenyum.


"Wah pintar sekali Akira, bagus" ucap Mama mengelus kepala Akira.


Akira tersenyum. "Tadi teman Akira tidak bawa pensil jadi Akira beri satu pensil Akira" ucapnya lagi sambil melepaskan sepatunya.


"Benarkah?" Tanya Mama tersenyum.


Akira mengangguk. "Benar Ma, kasihan dia jadi Akira beri pensil Akira" ucapnya lagi.


"Akira memang anak baik, ayo masuk" ucap Naoya.


"Iya Kak" ucap Akira kemudian masuk ke dalam. "Lalu tadi Kakak membelikan Akira es krim, Ma" ucapnya lagi sambil berjalan ke dalam.


"Akira sudah berterima kasih belum pada Kakak?" Tanya Mama.


"Sudah. Terima kasih Kak Nao" ucap Akira pada Naoya yang berjalan di sampingnya.


"Sama-sama sayang" ucap Naoya tersenyum.


Pagi hari di rumah...


"Papa lagi nonton apa?" Tanya Akira penasaran. Dia menghampiri Papanya yang sedang menonton televisi.


"Bulutangkis. Kemarilah kita nonton bersama" ucap Papa tersenyum.


Hari ini adalah hari Minggu. Anak-anak libur sekolah dan Papa yang juga libur bekerja. Ini adalah family time yang biasa dilakukan oleh keluarga Souma atau bahkan dilakukan oleh semua keluarga di dunia.


Akira lalu menuruti Papanya. Dia duduk di sofa untuk menonton bulutangkis bersama sang Ayah. 


"Apa itu? Dia memegang apa Pa?" Tanya Akira.


"Itu adalah raket yang biasa digunakan untuk bermain bulutangkis" jelas Papa tersenyum.


Akira mengangguk paham dan memperhatikan permainan yang ada di depannya.


"Oh?" Ucap Akira terkejut. "Keras sekali... apa lawannya tidak sakit Pa?" Tanya saat Akira melihat smash.


"Papa tidak tahu karena Papa tidak merasakannya" ucap Papa tertawa. "Itu namanya smash, pukulan keras dan cepat dari seorang pebulutangkis. Keren bukan?" lanjutnya.


Akira mengangguk semangat. "Keren Pa, sangat keren. Akira juga mau melakukannya" ucapnya dengan mata yang berbinar.


"Akira harus belajar dulu, baru bisa" ucap Papa tersenyum gemas.


Selanjutnya mereka berdua menikmati pertandingannya hingga akhir. Tak lupa dengan pertanyaan-pertanyaan Akira yang penasaran tentang olahraga bulutangkis.


"Papa aku mau main bulutangkis" ucap Akira menatap Papanya dengan semangat


"Eh? Tiba-tiba?" Ucap Papanya terkejut.


"Iya, Akira mau main bulutangkis seperti Kakak tadi" ucap Akira.


"Baiklah nanti kita beli raketnya dulu ya" ucap Papa tersenyum.


"Yeeeyyy... terima kasih Pa" ucap Akira memeluk Papanya.


"Ada apa ini? Sepertinya Akira sangat senang?" Ucap Mama yang datang membawa cemilan dan diikuti oleh Shinji dibelakang.

__ADS_1


"Akira mau main bulutangkis dan Papa akan membelikan raketnya" jelas Akira tersenyum.


"Benarkah? Sepertinya Akira tertarik dengan bulutangkis ya" ucap Mama tersenyum.


"Memangnya Akira bisa?" Tanya Shinji ragu.


"Kan baru mau belajar Kak, tapi Akira yakin Akira pasti bisa" ucapnya semangat.


"Baiklah baiklah" ucap Shinji tertawa.


Setelah itu Akira benar-benar mendapat raket. Akira belajar bulutangkis secara teori dan praktek oleh Papanya. Dia benar-benar antusias mengenai olahraga ini. Dia berlatih setiap hari bersama Kakak-Kakaknya dari pulang sekolah hingga sore hari. Akira tidak akan berhenti sampai dia benar-benar lelah.


"Akira mau jadi atlet bulutangkis saja" ucap Akira duduk di halaman rumah setelah bermain bulutangkis dengan Shinji.


"Itu tidak buruk. Jika Akira mau jadi atlet, Akira harus berlatih lebih keras lagi agar nanti bisa masuk olimpiade" ucap Shinji.


"Kakak benar, aku mau berlatih lebih giat lagi" ucap Akira tersenyum.


"Tapi sekarang kita masuk dulu ya, Kakak sudah lelah" ajak Shinji


"Baik Kakak."


Akira terus berlatih setiap hari dengan keras. Dia benar-benar menikmati olahraga ini. Kemampuannya juga meningkat pesat dari hari ke hari. Akira sudah menguasai bulutangkis.


2 tahun kemudian, Akira mendapatkan beasiswa untuk masuk ke organisasi bulutangkis di daerahnya. Bisa dibilang ini adalah lembaga lokal tempat anak-anak berbakat dalam bulutangkis. Tentu saja dia sangat senang. Tujuannya adalah menjadi atlet yang hebat dan memenangkan kejuaraan yang diselenggarakan oleh BWF (Badminton World Federation). Kedua orang tuanya juga sangat bangga kepadanya. Selain mahir dalam bidang olahraga, nilai akademik di sekolahnya juga sangat bagus. Dia benar-benar anak yang bisa dibanggakan.


Saat usianya 12 tahun, Akira sudah banyak menjuarai turnamen internasional untuk tingkat junior dan dia merupakan salah satu unggulan di lembaga tempat dia belajar bulutangkis. Sebagai hadiah atas prestasi dan ulang tahunnya yang ke 15, Papa dan Mamanya memberikan banyak hadiah untuk Akira termasuk peralatan olahraga, gaun, perhiasan, dan masih banyak lagi, begitu juga dengan kakak-kakaknya. Akira benar-benar bahagia. Dia bersyukur memiliki keluarga yang menyayanginya dan memiliki kehidupan yang cukup bahagia.


Ketiga saudara ini benar-benar menjaga adiknya dengan sangat baik. Mereka tidak pernah membiarkan adik kecilnya terluka. Akira juga tumbuh menjadi anak yang pintar dan menggemaskan, dan anehnya lagi, dilihat dari tumbuh kembangnya, Akira sangat jarang menangis. Pernah suatu hari saat berumur 5 tahun Akira terjatuh hingga terdapat banyak luka di kaki dan tangannya tapi Ia tidak menangis. Ia malah menertawai kejadian yang baru saja menimpanya sedangkan orang tua dan kakak-kakaknya sangat khawatir kepadanya. Jika memang alasan jarang menangisnya Akira adalah bawaan lahir, itu sangat mengagumkan. Selain itu ketiga kakaknya selalu menjaganya hingga Akira tidak pernah menangis.


Namun saat Akira berusia 16 tahun, Mamanya pergi meninggalkan Akira untuk selama-lamanya karena kecelakaan dan itu adalah pertama kalinya dia menangis dengan keras.


"Mama... bangun Ma, kenapa jadi seperti ini?! Bangun Ma, ayo bangun buka mata Mama..." Tangisnya saat melihat sang Mama yang sudah tidak bernyawa di depan matanya.


"Akira..." Naoya memeluk Adik kecilnya itu.


"Kakak, kenapa Mama pergi? Apa Mama sudah tidak sayang kepada kita? Akira ingin bermain bersama Mama lagi, Akira ingin bersama Mama!" Tangisnya pada Naoya.


"Kakak, buat Mama kembali bangun Kak... kenapa mama meninggalkan kita? Apa Akira berbuat salah hingga Mama pergi? Akira hanya ingin Mama kembali Kak."


Naoya mengeratkan pelukannya.


"Akira... dengar Kakak. Akira tidak salah, Kakak tau Akira sayang sama Mama, kami juga sayang sama Mama, tapi Tuhan lebih menyayangi Mama, jadi Tuhan mengambilnya dari kita. Mama sudah bahagia bersama Tuhan, jadi Akira jangan menangis ya" ucapnya berusaha menenangkan adiknya itu walaupun hatinya sedang berteriak.


"Kalau begitu biar Akira ikut Mama saja, Akira juga mau bahagia bersama Mama" ucapnya lagi.


Naoya sangat terkejut dengan ucapan adiknya itu. Dia memegang bahu Akira dan menatapnya.


"Tidak! Akira tidak boleh ikut Mama. Akira tidak boleh berbicara seperti itu. Jika Akira pergi Kakak, Papa, Shin, dan Yuki akan tambah bersedih. Akira sangat berharga, jangan berbicara seperti itu lagi, Kakak mohon" ucapnya kembali memeluk adiknya itu.


"Itu benar Nak. Kau harus tetap bersama kami, cukup Mama saja yang pergi tapi kau jangan" ucap sang Ayah yang sedang menenangkan Yuki.


"Akira juga ingin bahagia bersama Mama, Akira mau ikut Mama saja! Akira mau bersama Mama!"


"Akira... jangan seperti ini sayang, Kakak mohon. Mama sudah tenang disana, jangan menangis ya masih ada Papa dan Kakak-Kakak disini" ucap Naoya lagi.


"Tapi Akira mau bersama Mama..." tangisnya lagi.


"Sayang, ada Kakak disini. Kakak akan menjagamu" ucap Shinji memeluk Akira sambil menangis.


"Kakak..." tangis Akira lirih. Dia menangis keras dipelukan Shinji dan Naoya.


"Mama... Yuki sayang Mama, Mama harus bahagia disana" ucap Yuki yang juga menangis.


"Jangan menangis Nak, semua akan baik-baik saja" ucap Papa yang juga menangis sambil tetap memeluk dan menenangkan Yuki.


Hari ini benar-benar seperti bencana yang meluluh lantahkan hati keluarga Souma. Tanpa adanya angin dan badai, tanpa peringatan dan pemberitahuan, sang Ibu pergi untuk selama-lamanya meninggalkan suami dan keempat anaknya. Kecelakaan itu terjadi begitu saja dan kembali menyadarkan kita bahwa kematian itu bisa datang kapan saja dan dimana saja tanpa peringatan terlebih dahulu. Oleh karena itu kita harus berbuat baik agar saat kematian tiba-tiba datang menghampiri, kita bisa meninggal dengan bahagia tanpa satupun penyesalan yang tertinggal. 


Jenazah Nyonya Souma kemudian dimakamkan disamping makam Kakek Akira. Kini tinggal keluarga Souma saja yang masih berada di pemakaman.


"Mama..." ucap Akira yang tak henti-hentinya menangis.


"Sudah sayang, jangan seperti ini. Mama akan sedih nanti" ucap Papa. "Kita pulang ya" lanjutnya lagi.


"Tidak mau, Akira mau disini. Akira mau bersama Mama" tolak Akira.


"Akira..." ucap Yuki memeluk adiknya itu.


"Dengar Nak, Mama sudah tenang disana. Mama akan sedih jika melihat Akira yang seperti ini. Kita pulang ya, besok kita kembali lagi kemari" ucap Papa menenangkan Akira.


"Ayo pulang" ajak Yuki.


Akira memandang lama batu nisan sang Ibu. Dia benar-benar belum bisa merelakan Mamanya pergi. Tapi pada akhirnya dia menurut pada Papa dan Kakaknya untuk pulang.


"Mau Kakak gendong hm?" Ucap Naoya.


Akira mengangguk. "Jangan menangis lagi ya, pegangan yang erat" ucap Naoya menggendong adiknya itu.


Saat berjalan menuju rumahnya, Akira masih saja menangis dipunggung Naoya dan karena itu juga Naoya kembali menangis. Naoya berjalan lambat karena sebenarnya dia masih sangat terpukul. Tubuhnya masih syok dan staminanya berkurang karena sudah lelah menangis dari tadi.


"Jangan menangis sayang, Kakak akan selalu melindungimu, kita akan baik-baik saja. Jika Akira menangis, Kakak juga akan menangis" ucap Naoya dengan suara serak khas orang yang sudah menangis lama.


Akira terdiam sesaat mendengar suara kakaknya yang berbeda. 


"Kakak..." panggil Akira lirih.


"Hm?" Naoya berdehem sebagai jawaban.


"Tu-turunkan Akira" ucapnya terisak.


Naoya berhenti berjalan. "Kenapa? Kakak masih bisa menggendongmu" ucap Naoya.


"Turun-turunkan Akira" ucapnya lagi.


Naoya menuruti perkataan Akira, dia menurunkan Akira dengan hati-hati.


"Kakak... maaf, maafkan A-Akira. Pa-padahal Kakak juga sedih tapi, tapi Akira malah merepotkan Kakak, maaf Kak" ucapnya sambil menunduk.


Naoya kemudian memeluk erat Adiknya itu. Dia merasa bangga Akira dapat memahami situasinya. Naoya hanya tidak ingin adik kecilnya itu terus-terusan menangis karena Naoya pasti akan ikut menangis. Dia bahkan meminta maaf untuk hal yang sebenarnya tidak perlu dia lakukan. Naoya hanya memeluk erat adiknya tanpa sepatah katapun, dan yang terdengar hanya sebuah isakan.


"Kakak... Kakak maaf, maafkan Akira" ucap Akira membalas pelukan Kakaknya yang tidak kalah erat.


Naoya menggeleng. "Tidak, jangan meminta maaf kepada Kakak, Akira tidak bersalah" ucap Naoya memandang Akira.


"Maaf Kakak" ucap Akira yang kembali menangis. 


Naoya menghapus air mata yang sedari Ia tahan. "Yosh yosh, anak baik. Walaupun tidak ada Mama tapi masih ada Kakak dan Papa, kami tidak akan meninggalkanmu. Jangan menangis lagi, atau Kakak akan ikut menangis kembali. Sekarang kita pulang ya" ucap Naoya menghapus air mata adiknya. Akira Pun hanya mengangguk sebagai persetujuan.


"Ayo Kakak gendong lagi" ucap Naoya berjongkok agar Akira dapat naik ke punggungnya.


"Tidak Kak, Kakak pasti lelah bukan. Akira bisa jalan sendiri" ucap Akira yang membuat Kakaknya tersenyum.


"Baiklah, ayo" ucap Naoya merangkul Akira.


Sesampainya di rumah...


"Akira langsung tidur ya, Papa yakin Akira sangat lelah bukan?" Ucap Papa tersenyum.


"Bagaimana dengan Papa?" Tanya Akira.


"Papa juga akan beristirahat. Kalian juga beristirahatlah" ucap Papa kepada anak-anaknya. "Selamat malam" lanjut Papa kemudian memasuki kamarnya.


"Yuki tidurlah kau sudah lama menangis. Shin juga tidurlah" titah Naoya.


"Baik Kak" ucap Yuki memasuki kamar. Begitu juga dengan Shinji.


"Akira ayo ke kamar, Akira juga harus tidur sekarang" ucap Naoya.


"Akira bisa sendiri. Kakak tidurlah, Kakak juga lelah bukan? Akira bisa sendiri Kak" ucap Akira.


"Benarkah?" Tanyanya memastikan.


Akira mengangguk. "Benar Kak, Akira tidak apa-apa" ucap Akira yakin.


"Baiklah selamat malam sayang" ucap Naoya mencium kening adiknya.


"Selamat malam Kak" ucap Akira tersenyum.


Setelah memastikan Kakaknya masuk ke dalam kamar, Akira juga pergi untuk tidur. Dia kembali menangis saat melihat fotonya bersama Mama, Papa, dan Kakaknya di atas nakas.


"Mama..." ucapnya lirih tidak bisa menahan air matanya, dia menangis kembali. Dia menangis terisak mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Papa dan Kakaknya karena mereka akan kembali menangis nanti.


"Akira..." Shinji membuka pintu kamar Akira dengan pelan. Dia mendekati Akira dan memeluknya. "Jangan menangis lagi, Mama dan kami akan sedih jika melihat Akira menangis" ucap Shin menepuk pelan punggung Akira untuk menenangkannya.


Akira membalas pelukan kakaknya dan kembali menangis.


"Yosh yosh, anak cantik tidak boleh menangis, nanti cantiknya hilang. Biar Kakak temani Akira tidur ya" ucap Shinji tersenyum dan Akira hanya mengangguk. 


"Tidurlah ini sudah malam" ucap Shin mengelus kepala Akira. Tak lama setelahnya Akira benar-benar tertidur memeluk sang Kakak.


(Kenapa Mama meninggalkan kami seperti ini? Lihatlah Akira, Yuki, Kak Nao dan Papa yang terus menangis. Semoga Mama tenang disana. Aku akan menepati janjiku untuk selalu menjaga Akira dan selalu membuatnya tersenyum. Tidak Hanya Akira tapi Yuki dan Kak Nao juga) ucap Shinji dalam hati. Dia kembali meneteskan air matanya dalam diam. Tak lama kemudian, Shinji menyusul Akira ke dunia mimpi.

__ADS_1


Mereka hanya bisa menangis dan merelakan kepergian sang Ibu. Mereka tahu bahwa hidup mereka masih terus berjalan dan tidak bisa terus terpuruk seperti itu. Terkadang kerinduan kembali menghampiri dan mereka hanya bisa berdoa agar Mamanya bahagia di atas sana.


Setelah kepergian Mamanya, Akira mengambil alih pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah dan sebagainya. Dia tahu dia adalah satu satunya anak perempuan di keluarga ini jadi dia harus bisa melakukan semua pekerjaan rumah seperti Mamanya. Dia juga tahu bahwa Papa, Naoya dan Shinji yang sudah lelah bekerja serta Yuki yang sudah lelah dengan kuliahnya jadi dia harus bisa membuat rasa lelah Papa dan Kakak-kakaknya menghilang. Dia juga sedikit tertutup pada Papa dan kakak-kakaknya mengenai hal sensitif yang akan membuat mereka sedih. 


__ADS_2