
Entah sejak kapan semua ini terjadi. Semakin hari sepertinya Kakak semakin membenciku. Sepertinya aku memang anak yang nakal hingga Kakak selalu memarahiku, tapi aku adalah orang yang paling membenci diriku sendiri karena aku tidak pernah menemukan dan mengetahui letak kesalahanku.
Apa aku mengalami demensia? Aku selalu ingat hal-hal yang sudah aku alami, tapi aku tidak ingat jika aku melakukan kesalahan. Oleh karena itu Kakak selalu memarahiku. Mungkin sebaiknya aku periksakan ke dokter saja ya? Sepertinya otakku sudah tidak berfungsi dengan baik.
Habisnya hari ini juga sama. Seingatku, tadi pagi aku sudah membersihkan semua piring kotor dan membersihkan rumah dengan benar. Aku tidak berulah di sekolah dan pulang untuk ganti baju lalu latihan dan langsung pulang, tapi Kakak tetap memarahiku. Kakak mengatakan jika aku hanya membuat masalah dan menyia-nyiakan waktu saja. Apa mungkin aku melakukan hal yang Kakak katakan tanpa sadar? Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Rasanya sangat menyakitkan karena aku tidak pernah dimarahi oleh Mama, Papa, bahkan Kakak selama ini. Tapi semenjak kepergian Papa 3 bulan yang lalu, Kak Nao dan Kak Shin sering memarahiku.
Jika dipikir-pikir, banyak hal terjadi setelah Papa menikah dengan Ibu. Sejak saat itu, aku merasakan dan mengalami banyak hal baik dan hal buruk di hidupku, tapi aku tidak menyalahkannya. Aku memang tidak ingin memiliki anggota keluarga baru tapi aku senang karena Ibu memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri. Ibu tidak pernah melakukan hal buruk bahkan untuk membentakku saja, Ibu tidak pernah melakukannya.
Ya, ini bukan salah Papa, Ibu, Kak Nao, Kak Shin, Kak Yuki ataupun Alya. Mereka tidak bertanggung jawab untuk kehidupanku hari ini. Ini murni kesalahanku, ketidakmampuanku untuk beradaptasi dan berbaur dengan Alya dan sikap Kakak setelah Alya datang di kehidupan kami. Itu yang selama ini aku pikirkan.
Ketakutan dan rasa canggung selalu menghantuiku jika bertemu dengan Kakak. Secara tidak langsung, aku menutup diri dari Kakak-kakakku, padahal hanya mereka yang aku punya saat ini.
Tapi aku ingin kembali seperti dulu. Menyapa Kakak setiap pagi tanpa takut dan canggung, berbicara banyak hal dan tersenyum. Aku ingin sekali melakukannya tapi aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Bagaimana cara aku melakukannya dahulu ya? Rasanya dulu sangat mudah melakukannya tapi mengapa sekarang sangat sulit?
Kak Yuki juga terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya. Setelah kepergian Papa dan lulus kuliah, Kakak membantu Kak Nao dan Kak Shin mengelola perusahaan Papa. Kakak selalu berkata bahwa dia siap mendengarkan ceritaku tapi aku tidak enak. Kakak selalu terlihat kelelahan begitu pulang ke rumah. Kakak lebih membutuhkan istirahat daripada mendengarkan curhatanku yang tidak berguna.
Ah benar, Sou! Sou adalah pria yang sangat sangat bisa diandalkan. Dia selalu ada disaat aku membutuhkannya, aku benar-benar mencintainya. Tapi untuk hal ini, aku tidak bisa bercerita banyak kepada Sou. Meskipun dia sangat bisa diandalkan tapi ini masalah internal keluarga kami. Aku merasa sangat berdosa pada Kakak jika aku menceritakannya pada orang lain sekalipun pada kekasihku yang akan menjaga rahasia, itulah yang aku pikirkan.
Dan aku memang sangat tidak menyukai Alya. Benci kah? Entahlah, tapi sikapnya selama ini seolah ingin aku berpikir bahwa ini semua salahnya. Dimalam kecelakaan itu terjadi, dia membentakku. Dia mengatakan jika aku adalah penyebab Ibunya meninggal, padahal Papaku juga ikut pergi. Hari hari selanjutnya dia menuduhku mencuri, pergi ke club malam, dan mengatakan bahwa aku merundung teman satu sekolahku, oleh karena itu aku jadi sering dimarahi oleh Kakak. Seberapa banyak dan sedetil apapun aku menjelaskan Kakak tetap memarahiku, mereka percaya kepadanya. Tuhkan, aku jadi menyalahkannya lagi.
Tapi aku bersyukur karena ada Bi Nanas yang bekerja di rumah kami semenjak kepergian Papa. Papa tidak mengizinkan adanya ART sih, jadi Kak Nao yang mempekerjakan ART untuk membantu kami mengurus rumah. Aku juga sudah sibuk dengan ujian sekolah sih.
Bibi orang yang baik. Beliau mengurus kami dengan sangat baik, ya walaupun aku selalu bangun lebih dulu dibandingkan bibi sih. Tapi setidaknya aku terbantu saat aku pergi sekolah dan latihan. Mungkin bi Nanas juga yang menjadi satu-satunya orang yang bisa aku ajak bicara dirumah dengan santai selain Kak Yuki. Oleh karena itu aku bersyukur bibi bekerja di rumah kami.
Tapi dengan ini, aku jadi lebih mandiri. Aku tidak bisa terus mengandalkan Kakak-kakak yang lain, ya meskipun Kak Yuki masih selalu mengantarkanku pergi ke sekolah di pagi hari. Ini pengalaman berharga dari hidupku. Ini memang sangat menyakitkan tapi aku tidak begitu membencinya.
"Rasanya lebih lega setelah menulis beberapa lembar. Ini pertama kalinya aku menulis diary seperti ini sih. Cukup menyenangkan juga" ujar Akira tersenyum. Netranya berbinar menatap setiap goresan pulpen pada buku ungunya yang cantik.
...****...
"Akira!" Terdengar teriakan Shinji yang menusuk telinga, menyambut pagi hari Akira.
Dengan cepat Akira mematikan kompor dan bergegas menghampiri Kakaknya itu.
"Ada apa Kak?" Tanya Akira dari arah dapur.
"Ikut Kakak sekarang!" Tegas Shinji menarik lengan Akira.
__ADS_1
"Tu-tunggu Kak, jangan ditarik!"
Shinji tidak menghiraukan ucapan Akira. Tidak peduli adiknya sedang kesakitan atau tidak, dia terus menyeretnya ke ruang tengah dimana sudah ada Naoya dan juga Alya.
"Kakak tidak akan basa-basi, apa ini?" Tanya Naoya menunjukan sebuah liontin perak berbentuk hati.
"Itu liontin Kak" jelas Akira bingung.
"Kenapa liontin Alya bisa ada di bawah kasurmu?" Tanya Naoya kembali. Intonasinya masih rendah seperti biasanyanya.
"Di bawah kasur? Maaf Kak, Akira tidak tahu" ucap Akira kembali dibuat bingung.
"Jangan berbohong Akira!" Bentak Alya pada Akira.
"Kakak masih bisa memaafkanmu jika kamu mengakui kesalahanmu sekarang" tegas Naoya kembali. Wajahnya berubah menjadi tegas, Naoya sedang marah sekarang.
Lagi-lagi seperti ini..
"Maaf Kak tapi Akira benar-benar tidak tahu apapun. Akira tidak tahu bagaimana liontin itu bisa berada di bawah kasur Akira. Akira sungguh tidak tahu, Kak" jelas Akira lagi.
"Jangan berbohong Akira! Aku tahu kau sangat menginginkannya bukan? Kenapa tidak langsung bicara padaku, kau tidak harus mencurinya!" Bentak Alya kembali.
"Sudah aku katakan, aku tidak tahu apapun. Aku memiliki banyak liontin, mengapa aku harus mencuri milikmu?" Jelas Akira kembali. Netranya melebar, menatap tidak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh saudara tirinya ini.
"Adikku tidak pernah berbohong seperti ini, dia orang yang jujur. Mengakulah, kami akan memaafkanmu" jelas Shinji menatap dalam mata Akira.
"Tapi Kak, Akira tidak mencurinya. Akira tidak melakukannya" jelas Akira kepada Shinji.
"AKIRA!"
Suara menggelegar itu membuat semua orang yang mendengarnya ikut tersentak. Tidak ada satupun yang bergeming setelah mendengar teriakan Naoya yang biasanya tenang.
"Mengaku sekarang juga, sebelum Kakak kehilangan kesabaran!" Terdengar penekanan di setiap kata yang diucapkan Naoya.
Akira menundukan pandangannya. Netranya perlahan mengkilap karena terkejut dan takut melihat Kakaknya benar-benar marah seperti ini. Bukan untuk Akira saja, tapi untuk Shinji dan Alya ini adalah pertama kalinya Naoya begitu sangat marah.
"Maaf Kak, tapi Akira tidak melakukannya."
Detik itu juga, Naoya melayangkan tangannya, menampar pipi Akira cukup keras yang meninggalkan bekas kemerahan disana.
__ADS_1
Netra Akira membelalak. Tubuhnya mematung seketika. Pikirannya mulai kacau.
"Kakak tidak pernah mengajarkanmu untuk mencuri! Apa uang jajan yang selalu kami berikan tidak cukup untuk membeli sebuah liontin seperti ini hah?! Aku tidak percaya kau akan tumbuh menjadi seorang kriminal seperti ini Akira. Jangan pernah berharap kamu akan mendapatkan uang dari kami lagi. Jangan sakit hati, ini adalah hukuman untuk anak nakal sepertimu!" Bentak Naoya pada Akira. Matanya memerah dengan rahangnya yang mengeras, Naoya menatap nyalang adiknya yang sedang menundukan kepalanya itu.
Shinji dan Alya yang melihat itu pun ikut mematung karena terkejut. Mereka tidak menyangka jika Naoya akan menampar Akira seperti ini.
"Kamu juga Shin, mulai sekarang kamu tidak perlu memberikan uang kepadanya. Ini salah dia sendiri, biarkan dia memakai otaknya sendiri. Beritahu juga pada Yuki. Kita sudah salah mendidiknya selama ini. Aku menyesal" jelas Naoya pada Shinji.
Perlahan butiran bening menetes dari mata indah Akira. Dia menggigit bibir bawahnya agar tidak terisak. Tangan mungilnya meremas rok yang dia kenakan. Tidak ada sepatah katapun yang Akira ucapkan begitu juga dengan isakannya. Akira hanya menangis dengan kepala yang dia tundukan.
Setelah saudaranya pergi meninggalkannya, perlahan Akira menengadahkan wajahnya. Wajah cantik itu telah sembab dibanjiri oleh air mata yang mengalir dengan sangat derasnya.
"Apa Akira melakukannya? Apa Akira benar-benar mencurinya? Ah sepertinya Akira benar-benar mengalami demensia yang semakin parah. Aku benar-benar harus pergi ke rumah sakit" gumam Akira menatap lampu ruangan. Meskipun wajahnya terlihat sangat tenang tapi air matanya tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang sedang dia rasakan.
"Non.."
"Ah, jangan melihatku bi. Tolong berbaliklah sebentar, aku tidak bisa menunjukan diriku yang lemah" ujar Akira membalikan badannya. Dia kemudian menghapus air matanya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Maaf bi, ada apa?"
Senyuman manis terukir di wajah cantik dan sembab itu membuat sang pelayan terpaku di tempat dengan wajah yang iba.
"Nona.."
"Jangan melihatku seperti itu bi, aku baik-baik saja. Maaf sudah membuat keributan pagi-pagi seperti ini. Makanannya sudah siap, bibi tolong panggil Kakak-kakak lainnya ya. Ini sudah cukup siang, Akira harus berangkat ke sekolah. Tolong ya bi, terima kasih."
Tanpa menunggu jawaban dari bibi, Akira kemudian berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas dan perlengkapan lainnya.
Bagaimana ini? Kakak benar-benar membenci Akira sekarang. Apa benar Akira mencurinya? Apa jika Akira mengakuinya semua akan menjadi lebih mudah?
Akira kembali meneteskan air matanya. Kedua tangan nya sibuk menyeka air mata yang terus keluar meskipun Akira tidak menginginkannya.
Tamparan Kakak tidak terasa sakit sama sekali, tapi hati Akira yang malah kesakitan. Ini salah Akira karena sudah mencurinya tapi kenapa Akira sama sekali tidak bisa mengingatnya. Akira melakukannya tapi kenapa Akira tidak bisa mengingatnya?! Jika seperti ini terus, Akira hanya akan membuat Kakak semakin membenci Akira.
"Akira pergi" ucap Akira akan meninggalkan rumah.
"Non, bekalnya" ucap bibi memberikan kotak makan yang memang sudah disiapkan oleh Akira untuk dirinya juga untuk Sou.
"Terima kasih bi, aku pergi" ucap Akira tersenyum.
__ADS_1
"Hati-hati Non" ucap bibi tersenyum.
"Sejak pertama kali aku datang dan bekerja di rumah ini, sepertinya hubungan mereka memang kurang baik. Tapi tetap saja, kasihan Non Akira."