
Suatu hari di rooftop..
"Akira, apa hari Minggu besok kamu ada acara?" Tanya Sou.
"Minggu kah? Aku belum tahu Sou, memangnya ada apa?"
"Hmm.. aku ingin mengajakmu berkencan" ujarnya tersenyum. "Kemarin kita tidak bisa melakukannya karena pernikahan Papamu, jadi aku harap hari Minggu nanti bisa"
"Aku harus meminta izin Papa dan Kakak dulu, tapi akan aku usahakan" ucap Akira tersenyum.
"Iya, tolong ya" ujar Sou kembali tersenyum.
"Hm," Akira menganggukan kepalanya paham. "Ini punya Sou" ucap Akira kembali memberikan salah satu kotak makannya kepada Sou.
"Terima kasih. Maaf ya aku selalu merepotkanmu"
"Sou tidak merepotkanku," ucap Akira tersenyum. "Selamat makan"
"Selamat makan"
****
Beberapa hari kemudian..
"Begini Pa, apa besok Akira boleh pergi keluar?" Tanya Akira di sela-sela makan malamnya.
"Memangnya Akira mau kemana?" Tanya Papa.
"Itu.. Sou mengajak Akira pergi bersama" ucap Akira menundukan pandangannya.
"Sou yang kekasih Akira itu? Yang kemarin datang ke pernikahan bersama Akira?" Tanya Rina.
"Benar Bu," ucap Akira tersenyum.
"Ehh.. enak ya punya kekasih. Aku juga ingin" ucap Alya tersenyum.
"Belajar dulu yang benar, nilaimu masih banyak yang merah" ucap Rina lagi.
"Aku mengerti Bu," ucap Alya paham.
"Kalau Kakak sih boleh-boleh saja" ucap Yuki tersenyum.
"Benar, lagipula besok kita tidak ada acara bersama bukan?" Tanya Shinji.
"Hm, itu benar" jawab Papa tersenyum. "Pergilah, Papa mengizinkan Akira"
"Terima kasih" ucap Akira tersenyum. "Kalau Ibu dan Kak Nao bagaimana?" Tanya Akira ragu.
"Kakak mengizinkan, bersenang-senanglah besok" ucap Naoya tersenyum.
"Kalau sudah dapat izin Papa, Ibu tidak bisa melarangnya. Pergilah" ucap Rina tersenyum.
"Meskipun kamu tidak meminta izinku, tapi aku juga mengizinkanmu" ucap Alya tersenyum.
"Terima kasih semuanya, Alya juga terima kasih" ucap Akira tersenyum.
****
Akira: "Aku diizinkan Sou"
Sou: "Benarkah? Syukurlah.."
Sou: "Akan gawat kalau Akira tidak bisa datang besok"
Akira: "Memangnya ada apa besok? Kita akan kemana besok?"
Sou: "Rahasia"
Akira: "Perasaanku tidak enak sekarang:("
Sou: "Kalau aku beritahu sekarang, nanti kamu tidak akan gugup"
Sou: "Nanti tidak spesial"
Akira: "Benar juga:)"
Sou: "Ah benar, kamu cantik saat pakai dress peach itu, Akira"
"Dress peach?" Ucap Akira bingung.
Akira: "Apa kamu ingin aku memakai dress itu besok?"
Sou: "Hm, kamu sangat cocok menggunakan dress itu. Akira cantik sekali memakai dress tapi menurutku dress peach itu yang paling cocok"
Akira: "Baiklah, akan ku pakai besok"
Sou: "Terima kasih. Aku jemput jam 8 seperti biasa ya"
Akira: "Baik Sou"
Sou: "Sampai jumpa besok, dandan yang cantik ya"
Akira: "Hmm jika disuruh seperti ini, perasaanku semakin tidak enak Sou:("
Sou: "Kamu akan sedikit gugup tapi akan bahagia juga"
Sou: "Mungkin?"
Akira: "Sou benar-benar membuatku semakin takut"
Sou: "Walaupun menakutkan, aku akan selalu bersamamu jadi kamu tidak perlu khawatir"
Sou: "Sekarang tidurlah, ini sudah sangat malam"
Sou: "Selamat malam, mimpi indah ya. Sampai jumpa besok"
Akira: "Baiklah, selamat malam juga Sou. Mimpi indah"
Akira: "Sampai jumpa"
"Sou mau membawa Akira kemana ya? Sou membuatku takut dan penasaran secara bersamaan" gerutu Akira.
Keesokan paginya..
Tok..tok..tok..
"Akira, Sou sudah menunggu di bawah" ucap Yuki dari luar kamar.
Akira kemudian membuka pintu kamarnya.
"Iya Kak, terima kasih" ucap Akira tersenyum.
"Wah.. Akira memang sangat cantik" puji Yuki tersenyum.
"Terima kasih, Kak" ucap Akira malu-malu.
"Ayo, jangan membuat Sou menunggu lama lagi, kasihan dia" ucap Yuki kemudian berjalan mendahului Akira.
"Iya Kak."
Akira dan yuki kemudian berjalan menuruni tangga.
"Adiknya Kakak memang yang terbaik" ucap Shinji kagum.
"Akira cantik sekali" ucap Rina tersenyum.
"Terima kasih Kak, Bu" ucap Akira tersenyum.
__ADS_1
Akira berhasil membuat semua orang disini terkagum, termasuk Sou yang menatap kagum Akira tanpa berkedip.
"Sou?" Tanya Papa yang berhasil membuat Sou tersadar kembali.
"Ah, i-iya Paman, ada apa?" Ucap Sou gugup.
"Hhhhh, tidak tidak. Akira, kamu harus tanggung jawab. Kekasihmu ini sampai tidak bernafas dan berkedip melihatmu" jelas Papa tertawa.
"Eh? Benarkah? Sou, kamu baik-baik saja?" Ucap Akira khawatir.
"Maaf" ucap Sou tersenyum canggung.
"Jangan tiba-tiba pingsan saat berkencan nanti, Sou" ucap Shinji tertawa.
"Tidak Kak, Sou baik-baik saja tidak akan pingsan" ucap Sou yakin. "Baiklah, Paman, Bibi, Kakak-kakak semua, Sou mau mengajak Akira keluar sebentar" pamit Sou.
"Hm pergilah. Jangan membuat Akira terluka dan ingat batasan" ucap Papa tersenyum.
"Baik Pa" ucap Akira tersenyum.
"Baik Paman" ucap Sou yang juga tersenyum.
"Biar Kakak antar ke depan" ucap Yuki tersenyum.
"Kami pamit dulu, permisi" pamit Sou.
"Akira pergi Pa, Bu, Kakak, Alya. Bye-bye"
"Bye-bye. Hati-hati" ucap Shinji tersenyum.
"Hati-hati Akira, jangan pulang terlalu larut" ucap Rina.
"Baik Bu"
"Masa muda memang menyenangkan ya" ucap Rina lagi.
"Sou, jika Akira sampai lecet sedikit saja, aku tidak akan memaafkanmu" tegas Yuki.
"Sou mengerti Kak, Akira akan kembali dengan selamat tanpa lecet sedikitpun" ucap Sou tersenyum. "Baiklah kami berangkat Kak"
"Hm, hati-hati ya. Bersenang-senanglah" ucap Yuki melambaikan tangannya.
"Bye-bye" ucap Akira tersenyum.
"Bye-bye."
Di perjalanan Akira tampak bersemangat seperti biasanya. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih pada umumnya yang berjalan sambil berpegangan tangan.
"Jadi kita mau kemana?" Tanya Akira penasaran.
"Ke rumahku" ucap Sou tersenyum.
"Eh? Rumah Sou?"
"Hm, rumahku"
Akira menghentikan langkahnya. "Jangan-jangan.."
"Benar. Ibu dan Ayah ingin bertemu denganmu" ucap Sou tersenyum.
"Tunggu Sou, aku mau ganti baju dulu" ucap Akira akan kembali.
"Tidak perlu Akira, kamu sudah sangat cantik. Tidak perlu ganti baju" ucap Sou menahan tangan akira.
"Tapi pakaian seperti ini?"
"Memangnya ada yang salah dengan pakaianmu? Aku yang memintanya bukan? Jadi tidak masalah, Ibu dan Ayahku juga tidak akan memarahimu" ujar Sou yakin.
"Tapi"
"Benar" gumam Akira menundukan kepalanya.
"Yosh, mari kita temui orang tuaku" ajak Sou tersenyum.
"Sou jahat sekali.. jika Sou mengatakannya lebih dulu, aku mungkin akan mempersiapkannya dengan baik" gumam Akira mempoutkan bibirnya.
"Jika aku memberitahumu terlebih dahulu, nanti kamu tidak akan merasakan apa yang aku rasakan saat pertama bertemu Papamu" ucap Sou lagi.
"Ah benar, jadi begini perasaan Sou saat pertama bertemu dengan Papaku"
"Betul sekali. Sangat gugup bukan?" Tanya Sou tersenyum.
"Maaf karena membuatmu seperti ini dulu" ucap Akira yang membuat Sou tertawa.
"Jangan takut, aku bersamamu. Orang tuaku tidak menggigit kok" jelasnya mengeratkan genggamannya pada Akira.
"Hm, aku tahu"
"Meskipun Akira tahu, tapi tetap saja jantung Akira dalam bahaya sekarang. Bagaimana jika orang tua Sou tidak menyukai Akira dan menyuruh kita putus? Bagaimana jika nanti Akira diinterogasi habis-habisan? Rasanya ingin kembali ke rumah saja" gumam akira dalam hati.
Di depan rumah Sou..
"Tunggu Sou, jantungku benar-benar kritis sekarang" ujar Akira menggenggam erat tangan Sou.
"Kalau seperti itu akan sangat berbahaya Akira" ucap Sou tersenyum. "Tidak apa, aku bersamamu" ujarnya yang juga menggenggam tangan Akira.
Akira kemudian menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya.
"Aku mengerti"
"Kita masuk ya?" Tanya Sou menatap Akira
"Hm" Akira menganggukan kepalanya.
Ini bukan pertama kalinya Akira memasuki rumah Sou setelah sebelumnya dia dan Yuki mengantar Sou pulang saat kakinya terkilir. Tapi ini pertama kalinya Akira memasuki rumah Sou saat kedua orang tuanya ada di rumah dan pertama kalinya juga Akira bertemu dengan orang tua Sou.
"Aku pulang" ucap Sou memasuki rumah.
"Permisi," sapa Akira memasuki rumah.
"Kalian sudah sampai ternyata, selamat datang" sambut seorang wanita yang diyakini sebagai Ibu Sou.
"Selamat pagi Bibi, maaf Akira mengganggu" sapa Akira membungkukan badannya.
"Apa yang kamu katakan? Ayo masuk" ajaknya tersenyum.
"Permisi, terima kasih" ucap Akira lagi.
Akira kemudian dibawa ke ruang tengah dimana seorang pria yang diyakini sebagai Ayah Sou sedang duduk disana.
"Yah, Akira sudah datang" ucap Ibu Sou tersenyum.
"Selamat pagi Paman," sapa Akira.
"Akira kah? Kalian cukup cepat ternyata. Selamat datang, silahkan duduk" ucapnya mempersilahkan.
"Terima kasih Paman, maaf Akira mengganggu" ucap Akira tersenyum.
"Tidak, tidak. Kami yang mengundangmu jadi tidak perlu meminta maaf" ujarnya tersenyum.
"Baik Paman" ucap Akira tersenyum.
Sou yang duduk di samping Akira hanya tersenyum senang.
"Tapi Akira benar-benar cantik ya" ucap Ibu Sou tersenyum.
"T-terima kasih Bi," ucap Akira menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia sedang malu" jelas Sou tersenyum.
"Benarkah? Maaf maaf, Bibi tidak bermaksud seperti itu" ucapnya lagi sambil tersenyum.
"T-tidak, jangan meminta maaf Bi, Akira tidak apa-apa" jelas Akira panik yang membuat semua orang tersenyum.
"Ah, benar. Maaf karena kami tidak bisa menghadiri pernikahan Papamu. Kami tidak bisa meninggalkan pekerjaan kami kemarin" jelas Ayah Sou.
"Tidak apa Paman, Akira mengerti" ucap Akira tersenyum.
"Sou bercerita banyak tentangmu, katanya kamu seorang atlet apa benar?" Tanya Ibu Sou lagi.
"Kalau disebut atlet rasanya terlalu berlebihan Bibi. Akira hanya mengikuti kejuaraan tingkat junior saja" jelas Akira tersenyum.
"Bukankah itu juga sudah sangat hebat? Orang tuamu pasti bangga, Akira" ucap Ayah Sou tersenyum. Akira kemudian ikut tersenyum.
Kring..kring..kring.. Terdengar suara handphone Sou yang berbunyi.
"Ah maaf, Hiro menelponku" jelas Hiro menunjukan layar handphonenya.
"Angkatlah, siapa tahu penting" titah Ibu Sou.
"Aku tinggal dulu sebentar ya" ucap Sou tersenyum pada Akira.
"Tidak Sou, jangan meninggalkanku sendirian!" Gumam Akira dalam hati menatap Sou. "Iya."
Sou kemudian pergi meninggalkan Akira bersama kedua orang tuanya.
Setelah Sou pergi, Ayah Sou menghampiri Akira dan ikut duduk bersama dengan Akira serta Ibu Sou. Mereka berdua menggenggam tangan Akira.
"Eh? Ada apa ini?"
"Terima kasih banyak Akira" ucap Ibu Sou. "Terima kasih karena sudah mengembalikan dia seperti dahulu" sendunya.
"Bibi, ada apa Bi? Maaf, tapi Akira tidak mengerti" ucap Akira bingung.
"Kami sangat berterima kasih kepadamu Akira, terima kasih banyak" ucapnya lagi menatap Akira.
"Benar, kami sangat berterima kasih kepadamu" ucap Ayah Sou setuju.
"Tapi untuk apa Paman? Akira tidak melakukan apapun" ucap Akira sedikit panik.
Ayah Sou kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Akira.
"Kami memang orang tua yang sangat egois" ucap Ayah Sou membuka pembicaraan. "Sebagai orang tua, kami ingin anak kami, Sou memiliki masa depan yang cerah. Kami ingin Sou menjadi orang yang sukses di masa depan tapi secara tidak langsung kami telah mengurungnya di dalam sebuah sangkar" jelasnya.
"Sejak Sou kecil kami selalu menuntut dia untuk selalu mendapatkan nilai A. Paman merasa bahwa nilai B adalah sebuah aib sehingga Paman selalu menghukum Sou jika dia tidak mendapatkan nilai A. Sepulang sekolah dia harus belajar, kami menyuruhnya untuk selalu belajar dan tidak memberikan waktu untuk Sou bermain. Sou juga tidak pernah menolak dan selalu menuruti kami. Tentu saja itu membuahkan hasil. Dia selalu mendapatkan ranking pertama, nilainya selalu menjadi yang tertinggi di sekolah. Tapi kami baru menyadari kesalahan kami saat Sou memasuki sekolah dasar" jelas Ayah Sou.
"Benar," ucap Ibu Sou membenarkan. "Setiap kami datang ke sekolahnya untuk menerima rapot atau sekedar melihatnya, kami baru menyadari jika Sou selalu duduk di bangkunya dan fokus belajar. Bibi kira itu hal yang wajar. Dia menjadi anak baik yang penurut. Dia tidak pernah melakukan hal aneh di sekolahnya. Tapi semakin lama, kami melihat Sou yang selalu sendirian, tidak bersama dengan teman yang lain. Bahkan saat karya wisata, dia selalu berjalan sendirian. Bibi kira dia sedang bertengkar dengan anak-anak lain tapi ternyata dia telah menutup dirinya dari dunia luar" jelas Bibi dengan mata berkaca-kaca.
"Sou.." lirih Akira mendengarkan semua cerita orang tua Sou.
"Bibi juga mulai menyadari bahwa Sou tidak pernah terlihat tersenyum lagi. Bibi bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Bibi melihatnya tersenyum. Dia menjadi pendiam bahkan dia jarang berbicara dengan kami. Dia hanya bicara seperlunya saja. Meskipun kami memberinya hadiah, mainan kesukaannya, bahkan bertemu dengan neneknya saja dia tidak tersenyum. Untuk menyapa seseorang saja dia tidak tersenyum. Bibi pikir Sou seperti ini karena dia sedang berada di masa dia memberontak tapi sampai dia SMP pun, Sou benar-benar tidak pernah terlihat tersenyum lagi"
"Kami menyadari bahwa kami sudah mengambil senyuman Sou, kami sudah merenggut masa kecilnya yang berharga. Tentu saja kami juga berkonsultasi dengan guru bahkan dokter agar dia tidak menutup dirinya, agar dia mau berteman dengan orang lain tapi itu sia-sia. Sou benar-benar sudah membentengi dirinya dari dunia luar. Dia tidak ingin pergi ke luar, dia tidak punya teman, yang dia lakukan hanya belajar dan belajar. Kami memang bangga karena dia termasuk anak jenius dengan nilai akademik yang selalu memuaskan tapi disisi lain kami juga sangat sedih, kami benar-benar merasa bersalah kepadanya" jelas Ayah Sou menimpali.
"Suatu hari secara tiba-tiba Sou mengatakan jika dia ingin bermain basket. Dia meminta izin untuk mengikuti ekskul basket di sekolahnya. Tentu saja kami sangat senang, kami berpikir akhirnya Sou mau membuka dirinya, dia sudah menemukan keinginanya sendiri dan akan kembali tersenyum seperti dulu sehingga kami mengizinkannya. Kami mengatakan bahwa Sou boleh melakukan apapun yang dia mau, asalkan nilai akademiknya tetap bagus karena kami tidak ingin masa depannya suram" jelas Ayah Sou lagi. "Setidaknya dia punya pengetahuan untuk membuat peluang masa depannya."
"Benar, kami mengizinkannya bermain basket dengan harapan bahwa Sou bisa kembali seperti dulu, tersenyum dan tertawa untuk hal sederhana. Kami berharap dia memiliki banyak teman dan bisa bahagia, tapi semua yang kami lakukan tetap sia-sia. Setelah dia masuk dalam ekskul basket dan mendalaminya, kami tetap tidak pernah melihatnya tersenyum. Kami bahkan sudah menyerah dengan Sou, kami merasa tidak memiliki harapan lagi untuk membuat Sou kembali tersenyum. Kami benar-benar sudah menyerah" ucap Ibu Sou meneteskan air matanya.
"Bibi.." lirih Akira dengan mata yang ikut berkaca-kaca. Akira kemudian menggenggam tangan Ibu Sou.
"Tapi saat itu, disaat kami sudah menyerah melihat anak kami yang kehilangan senyumannya, secara ajaib dia tersenyum. Bibi masih mengingat dengan jelas bagaimana Sou tersenyum saat itu" ucapnya lagi menatap Akira.
"Saat Bibi tidak sengaja masuk ke dalam kamarnya, Bibi melihat Sou sedang memegang sebuah foto. Saat Bibi bertanya tentang foto tersebut, dia mengatakan "lihat Bu, bukankah dia gadis yang cantik?" Sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis yang sejak dulu hilang entah kemana. Dia kemudian menceritakan tentang gadis itu sambil tak henti-hentinya tersenyum. Itu juga pertama kalinya Sou berbicara banyak setelah lama waktu berlalu. Dia mengatakan bahwa gadis itu bernama Souma Akira dan dia mengatakan bahwa dia menyukai Akira" jelas Bibi yang membuat Akira terkejut.
Akira refleks menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya saking terkejutnya.
"Benar, itu adalah kamu Akira" jelas Ayah Sou tersenyum. "Semenjak hari itu, Sou terlihat banyak tersenyum walaupun hanya memandangi foto kalian, menatap layar handphonenya, atau saat dia melamun. Dia sangat bersemangat jika kami menanyakan tentangmu kepadanya, dia benar-benar terlihat bahagia" jelas Ayah Sou lagi.
"Bibi juga tidak akan pernah lupa bagaimana bahagianya dia saat kami mengizinkan kalian untuk menjalin hubungan" jelas Ibu Sou tersenyum.
"Oleh karena itu kami sangat berterima kasih kepadamu, Akira. Kami sangat-sangat berterima kasih" ucap Ayah Sou kembali menggenggam tangan Akira sambil tersenyum.
"Terima kasih sudah mengembalikan harta kami yang paling berharga, terima kasih banyak" ucap Ibu Sou yang juga menggenggam tangan Akira.
"Itu.. Akira.."
"Paman tahu, Paman tidak berhak mengatakannya, tapi tolong jaga anak kami Sou, tolong jaga senyumannya" ucap Ayah Sou lagi.
"Kami mohon Akira, karena kamu adalah orang yang bisa membuat Sou bahagia" ucap Ibu Sou ikut menimpali.
"Akira-"
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Sou tiba-tiba datang.
"Kami hanya berterima kasih karena Akira telah mengembalikan harta kami yang paling berharga" jelas Ayah Sou tersenyum.
Ibu Sou diam-diam menghapus air matanya. "Itu benar, terima kasih banyak Akira" ucap Ibu Sou kembali tersenyum. "Bisakah kamu membantu Bibi memasak untuk makan siang?" Tanyanya.
"T-tentu, tentu Bi" ucap Akira tersenyum.
"Kalau begitu, ayo" ucapnya menarik Akira pergi dari sana.
"Harta apa yang kalian maksud?" Tanya Sou bingung.
"Kau tidak perlu mengetahuinya" ucap Ayah Sou tersenyum.
Di dapur...
"Tolong rahasiakan ini dari Sou ya?" Pinta Ibu Sou.
"Ah, baik Bi. Tapi itu.. Akira rasa Akira bukan satu-satunya sumber kebahagiaan Sou. Akira tidak bisa berjanji selalu melindungi senyumannya tapi Akira akan berusaha untuk melindunginya" jelas Akira tersenyum.
"Hm, kami percaya kepadamu" ucap Ibu Sou yang juga tersenyum. "Sekarang mari kita masak"
"Iya Bi" ucap Akira tersenyum.
Beberapa lama kemudian...
"Wah.. Bibi tidak menyangka Akira pandai sekali memasak" ucap Ibu Sou kagum.
"Terima kasih banyak Bi, tapi Akira masih sangat pemula, belum ada apa-apanya dibandingkan Bibi" jelas Akira tersenyum.
"Jangan merendah seperti itu," ucap Ibu Sou lagi sambil tersenyum. "Lihat, sebagian besar Akira yang memasak. Bibi hanya menambahkan saja" jelasnya.
"Terima kasih banyak Bi" ucap Akira tersenyum.
"Tolong panggil Sou dan Ayahnya, kita makan bersama" titahnya sambil tersenyum.
"Baik Bi" ucap Akira kemudian pergi menyusul Sou dan Ayahnya.
"Wah kelihatannya sangat enak" ucap Ayah Sou menghampiri meja makan.
"Benar, aromanya sangat enak" ucap Sou tersenyum.
"Tentu saja, ini buatan Ibu dan Akira" jelas Ibu Sou bangga.
"Terima kasih Akira" ucap Ayah Sou tersenyum.
"Sama-sama Paman"
"Cepat duduk dan makanlah sebelum dingin" titah Ibu Sou lagi.
"Selamat makan" ucap Ayah dan Ibu Sou serta Sou bersamaan.
"Selamat makan" ucap Akira tersenyum. Mereka kemudian menikmati makan siang mereka bersama.
__ADS_1