
Setelah beberapa hari berlalu, Tuan Souma kembali mengajak anak-anaknya untuk membicarakan keputusannya untuk menikah lagi.
"Jadi bagaimana anak-anak? Apa kalian memperbolehkan Papa untuk menikah kembali?" Tanya Papa cemas.
"Kalau Naoya sih tidak masalah asalkan dia wanita yang baik dan menyayangi kami" jelas Naoya.
"Shin juga setuju saja Pa" ucap Shinji.
"Kalau ini demi kebaikan bersama, Yuki juga akan setuju. Hanya saja, Yuki mungkin tidak bisa menerimanya secepat itu Pa" ucap Yuki menundukan kepalanya.
"Papa bisa mengerti, tapi Papa harap kamu bisa menerimanya dengan baik," ucap Papa tersenyum. "Bagaimana dengan Akira?" Tanya Papa menatap Akira.
"Sebenarnya Akira agak kecewa karena Papa berpikir telah merepotkan Akira padahal Akira tidak mempermasalahkan itu. Akira baik-baik saja dan bisa melakukan semuanya sendiri," jelas Akira menundukan kepalanya juga. "Benar kata Kak Nao dan Kak Yuki, jika ini demi kebaikan bersama Akira juga setuju Pa, tapi orang itu harus menyayangi kami" jelas Akira.
"Benarkah?"
"Hm benar, Akira juga setuju Pa. Maaf karena kemarin-"
"Terima kasih, terima kasih sudah mau mengerti dan mengizinkan Papa menikah lagi," ucap Papa kemudian memeluk Akira. "Terima kasih banyak anak-anak, Papa sangat mencintai kalian semua" ucapnya sambil tersenyum bahagia.
"Hm, ini pasti keputusan terbaik. Benar kata Papa saat itu, ada batasan yang tidak bisa Akira lewati meskipun Akira adalah anaknya sendiri. Papa juga terlihat sangat bahagia sekarang. Jarang sekali melihat Papa sebahagian ini, semoga ini keputusan yang tepat. Kebahagian Papa dan Kakak adalah yang terpenting" ucap Akira dalam hatinya. "Akira juga sayang Papa," ucap Akira tersenyum.
1 bulan kemudian...
Tuan Souma baru saja pulang ke rumah bersama 2 orang wanita yang mengikutinya dari belakang. Sepertinya itu adalah calon anggota keluarga Souma.
"Papa pulang" ucap Papa memasuki rumah.
"Selamat datang Pa" sambut Yuki tersenyum.
"Permisi" ucap wanita itu tersenyum. Sedangkan wanita yang terlihat lebih muda di belakangnya hanya tersenyum canggung.
"Silahkan masuk" ucap Yuki mempersilahkan.
"Terima kasih Yuki. Panggil Kakak dan Adikmu, kita bicara di dalam" titah Papa.
"Baik Pak."
Yuki kemudian pergi memanggil Naoya, Shinji, dan Akira.
Tok..tok..tok..
"Akira," panggil Yuki dari balik pintu.
"Iya Kak. Masuk saja, pintunya tidak dikunci" jawab Akira sedikit berteriak.
"Apa yang sedang Akira lakukan?" Tanya Yuki menghampiri Akira.
"Ini buku-buku yang sudah tidak dipakai, jadi Akira memisahkannya," jelas Akira tersenyum. Ada apa Kak?"
"Papa baru saja datang dengan orang asing yang mungkin calon istrinya Papa. Kita diminta untuk turun" jelas Yuki.
"Hm begitu kah? Akira tidak ingin ke bawah" gumamnya menundukan pandangan.
"Apa Akira takut?"
"Hm, Akira tidak mau kebawah" jelas Akira menatap Yuki.
Yuki kemudian tersenyum, dia mengelus lembut kepala Akira. "Tidak apa, jangan takut. Kakak bersamamu," ujar Yuki tersenyum. "Ayo pergi bersama?" ucap Yuki mengulurkan tangannya.
Akira menatap Yuki sebentar. "Baiklah," jawab Akira menerima uluran tangan Yuki.
"Jangan lepaskan tangan Kakak, mengerti?" Ucapnya lagi mengelus lembut kepala Akira.
"Akira mengerti" jawab Akira tersenyum.
"Ayo."
Yuki dan Akira kemudian turun ke bawah menghampiri Papa dan semua orang yang sudah menunggu mereka.
Meskipun Papanya sudah memberi tahu bahwa Akira memiliki calon mama baru yang memiliki satu anak perempuan, Akira tetap terkejut melihat ada 2 orang asing di rumahnya malam ini.
"Kemarilah Yuki, Akira" ucap Papa tersenyum.
Akira dan Yuki kemudian duduk sambil memberikan senyuman manisnya walaupun sebenarnya Akira tidak ingin tersenyum sekarang.
Akira menggenggam tangan Yuki dengan erat yang mereka sembunyikan di bawah meja. Mereka seperti saling menguatkan satu sama lainnya.
"Anak-anak perkenalkan ini Rina Lim, calon ibu kalian dan ini Alya, calon saudara kalian," ucap Papa memperkenalkan 2 orang asing itu.
"Rina, Alya, perkenalkan itu Naoya, Shinji, Yuki, dan ini Akira, anakku" ucap Papa memperkenalkan Akira dan Kakak-kakaknya pada mereka.
"Salam kenal, semoga kita bisa menjadi keluarga yang harmonis ya" ucap Rina tersenyum.
"Salam kenal" ucap Alya tersenyum.
"Salam kenal juga" ucap Naoya tersenyum diikuti oleh Akira, Shinji, dan Yuki yang juga tersenyum.
"Akira seumuran dengan Alya ya? Kalian bisa menjadi teman" ucap Rina tersenyum.
"Ah.. hm," Akira menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Mari berteman, Akira" ucap Alya tersenyum.
"Tentu," jawab Akira yang juga tersenyum.
"Hm, bertemanlah dengan baik ya" ucap Papa yang juga tersenyum. "Ah.. tapi mungkin kalian tidak akan memiliki banyak waktu bersama, karena Akira orang yang sibuk" jelas Papa tersenyum.
"Memangnya apa yang kamu lakukan?" Tanya Alya lagi.
"Itu.."
"Dia masuk Pelatnas dan menjadi salah satu anggota inti disana" jelas Papa lagi.
"Benarkah? Bukankah itu sangat hebat?" Tanya Rina terkejut. "Akira sangat hebat ternyata, ibu jadi bangga sendiri" ucapnya tersenyum.
"Keren sekali" ucap Alya tersenyum.
"T-terima kasih" gumam Akira tersenyum canggung.
Pembicaraan mereka mulai berkembang dan meluas. Mereka sesekali tersenyum dan tertawa seperti sudah saling mengenal sejak lama. Berbeda dengan Akira dan Yuki yang hanya diam dan berbicara seadanya.
"Kenapa Akira diam saja?" Tanya Rina pada Akira. "Wajahmu sedikit pucat, apa kamu baik-baik saja? Tanya Rina khawatir.
"Apa Akira sakit?" Tanya Papa yang ikut khawatir.
"Hm, kepala Akira sedikit pusing" gumam Akira.
Naoya dengan cepat menghampiri adiknya itu. "Akira baik-baik saja?" Tanya Naoya khawatir.
"Hm" Akira menganggukan kepalanya.
Naoya kemudian menyentuh kening Akira dengan punggung tangannya. "Syukurlah tidak demam" jelas Naoya lagi.
"Kenapa tidak bilang dari tadi hm?" Ucap Papa khawatir.
"Maaf" gumam Akira lagi.
"Kalau begitu, lebih baik Akira istirahat saja, jangan memaksakan dirimu" ucap Rina lagi.
"Benar, Akira istirahat saja di kamar ya?" Ucap Papa setuju.
"Aku akan mengantar Akira ke kamar" ucap Yuki membuka suaranya.
"Hm, antar dia. Biarkan Akira istirahat" titah Papa lagi.
"Ayo Akira" ajak Yuki masih menggenggam tangan Akira.
"Maaf semuanya, Akira ke kamar dulu" ucap Akira menundukan kepalanya.
"Tentu, istirahatlah" ucap Rina lagi.
"Cepat sembuh Akira" ucap Alya yang juga khawatir.
"Terima kasih" ucap Akira tersenyum tipis.
"Istirahatlah, jangan sakit lagi" ucap Shinji mengelus rambut Akira.
"Baik Kak"
"Kami permisi" ucap Yuki kemudian menuntun Akira menuju kamarnya.
****
__ADS_1
"Akira baik-baik saja? Sejak kapan kepala Akira pusing hm?" Tanya Yuki saat mereka sampai di kamar Akira.
"Sejak tadi sampai ke bawah. Tapi Akira baik-baik saja Kak" ucap Akira tersenyum. "Akira tidak ingin kembali lagi ke bawah" ucap Akira sambil menunduk.
"Hm, Kakak juga tidak ingin kembali ke bawah" ucap Yuki yang membuat Akira sedikit terkejut. "Akira tahu? Sebenarnya Kakak tidak setuju dengan keputusan ini, tapi Papa terlihat sangat-sangat menginginkan pernikahan ini jadi Kakak terpaksa menyetujuinya" jelasnya lagi. "Dia bahkan tidak tahu apapun tentang Akira yang pada dasarnya calon anak tirinya sendiri!" kesal Yuki.
"Hm, Akira juga tidak ingin seperti ini Kak. Kenapa Papa tidak bisa lebih mengandalkan Akira? Padahal Akira ingin sekali berguna untuk Papa dan Kakak" sendu Akira.
"Maaf ya, tapi Kakak juga tidak ingin selalu merepotkan Akira. Meskipun Akira bisa melakukan semuanya tapi Kakak tetap tidak enak pada Akira,"
"Persis seperti yang Sou katakan"
"Maaf juga karena Kakak tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah hal ini. Kakak tidak bisa menerima begitu saja orang asing yang memasuki kehidupan kita apalagi dia tidak tahu apapun tentang kita," tegas Yuki. "Meskipun begitu, mau bagaimanapun kedepannya, Kakak pasti akan melindungimu" ucapnya menggenggam tangan Akira.
"Hm, terima kasih Kak" ucap Akira tersenyum.
"Apa kepalanya masih pusing?" Tanya Yuki lagi sambil menyentuh kening Akira.
"Hm, tapi bukan masalah besar" ucap Akira tersenyum kembali.
"Kakak akan mengambilkan air minum dan obat dibawah. Akira diam saja disini ya"
"Tidak perlu Kak, kalau Akira tidur sebentar pasti pusingnya akan hilang" jelas Akira.
"Tidak apa, tunggu sebentar ya, Kakak ambil air dulu" ucapnya kemudian pergi.
Disisi lain..
Yuki kembali ke bawah untuk mengambil air minum melewati Papa dan semua orang yang sedang asyik mengobrol.
"Yuki, bagaimana keadaan Akira?" Tanya Papa.
"Akira hanya kelelahan saja Pa, tidak ada yang serius. Dia sedang tertidur di kamarnya" jelas Yuki tersenyum.
"Syukurlah jika Akira baik-baik saja" ucap Rina lega.
"Syukurlah," ucap Papa yang juga lega. "Dia sedikit tidak jujur tentang dirinya sendiri karena takut merepotkan semua orang" jelas Papa pada Rina.
"Akira.." lirih Rina.
"Aku benar-benar tidak bisa mempercayainya," ucap Yuki dalam hati melirik Rina. "Apa dia benar-benar mengkhawatirkan Akira? Dan kenapa anak itu melihat ke arahku terus?" Tanya Yuki melirik Alya yang sedang memperhatikannya.
"Yuki akan mengantarkan obat dan air minum dulu" pamitnya kembali.
"Kak Yuki tampan sekali.. sayangnya dia akan menjadi Kakakku jadi aku tidak bisa menjadikannya sebagai kekasihku," ucap Alya dalam hati memperhatikan gerak-gerik Yuki. "Benar-benar sangat disayangkan" gumamnya.
"Apa yang disayangkan?" Tanya Rina.
"A-ah, bukan apa-apa Bu. Itu.. sayang sekali Akira sedang sakit, aku jadi tidak bisa berbicara banyak dengannya" ucap Alya berbohong.
"Tidak masalah, nanti juga kalian akan selalu bertemu. Kalian bisa membicarakan banyak hal nanti" jelas Papa.
"Iya" ucap Alya tersenyum.
Di kamar Akira..
"Akira," panggil Yuki membuka pintu. "Ini air dan obatnya"
"Terima kasih banyak Kak" ucap Akira tersenyum.
"Sama-sama. Istirahatlah dulu, Kakak harus kembali ke bawah" ucap Yuki mengelus kepala Akira sebentar.
"Hm, tolong sampaikan permintaan maaf Akira untuk Papa dan semuanya Kak"
"Akan Kakak sampaikan" ucap Yuki tersenyum. "Selamat malam"
"Terima kasih Kak, selamat malam" ucap Akira yang juga tersenyum.
Tak butuh waktu lama untuk Rina dan Alya menjadi akrab dengan keluarga Souma kecuali dengan Akira dan Yuki. Mereka memang tidak setuju dengan keputusan ini sehingga masih menjaga jarak dengan Rina dan juga Alya. Namun begitu, Rina selalu menunjukan perhatiannya untuk anak-anak Tuan Souma termasuk Akira dan Yuki juga. Dia selalu menyempatkan datang ke rumah saat luang dengan alasan ingin melihat keadaan calon anak-anaknya nanti.
"Apa Akira membencinya?" Tanya Sou duduk dihadapan Akira.
"Bukan seperti itu," sendu Akira. "Aku tidak membencinya tapi sedikit canggung dan risih" jelas Akira menundukan kepalanya.
"Aku mengerti," ujar Sou mengelus kepala Akira. "Menurutku tidak apa jika kamu merasa seperti itu, itu hal yang wajar, Akira. Bisa dikatakan ini sangat baru dan kalian juga belum mengenal dengan baik bukan? Kurasa tidak masalah. Calon ibumu juga pasti sudah menyadari hal itu jadi dia berusaha untuk mencoba mendekatimu dan mengenalmu lebih jauh. Tidak masalah, lakukan saja perlahan dan jangan pernah menunjukan perasaan risih Akira secara langsung, itu akan menyakitinya" jelas Sou tersenyum.
"Aku mengerti Sou, terima kasih" ucap Akira tersenyum.
"Ayo makan, aku sudah lapar" ucap Sou tersenyum.
"Terima kasih" ucap Sou tersenyum. "Aku akan menjadi pria paling bahagia jika bisa menjadikan Akira sebagai istriku nanti" ujar Sou tersenyum.
Akira terlihat terkejut mendengar ucapan Sou. Dia kemudian menundukan kepalanya.
"Tidakkah cara berpikir Sou itu terlalu jauh?" Gumam Akira masih menundukan kepalanya dengan wajah yang memerah.
"Sepertinya begitu, tapi aku akan melakukannya" ucap Sou yang semakin membuat wajah Akira memerah akibat malu.
"B-bukankah tadi kamu lapar? Ayo kita makan" Ucap Akira mengalihkan pembicaraan tanpa menatap Sou.
Sou kemudian mengangkat dagu Akira agar Akira menatapnya.
"Aku bersungguh-sungguh Akira," ucapnya menatap dalam mata Akira. "Aku akan melakukannya setelah lulus nanti"
"Tunggu bukankah ini.."
"Wajahmu merah" ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Itu.. A-aku tidak akan membuatkan makanan untuk Sou lagi besok" ucap Akira gugup. Dia kemudian memalingkan wajahnya.
"Ehhh? Kenapa?"
"Pikirkan saja alasannya sendiri" ketus Akira.
"Tunggu, kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?"
"..."
"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf, jangan marah ya. Aku menyukai masakan Akira aku benar-benar akan sakit jika tidak memakan masakanmu" ucap Sou sedih.
"..."
"Ayolah, ya? Aku sangat menyukai masakanmu jadi boleh ya Akira membuatkannya untukku? Ya?" Bujuk Sou.
"..."
"Maaf" ucapnya menyesal.
"Sudahlah, kita makan sekarang" ucap Akira mengalihkan pembicaraan.
"Jadi aku dimaafkan?" Tanya Sou menatap Akira yang tetap tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap sou.
"Aku dimaafkan?" Tanyanya lagi.
"Aku dimaafkan kan?" Tanya Sou lagi.
"Aku tidak marah kok," ucap Akira tersenyum. "Wajah bingungmu sangat menggemaskan" ucap akira tertawa.
"Hmm kamu mulai menjahiliku" ucap Sou menatap sinis Akira. "Aku kira kamu benar-benar marah"
"Tidak tidak, aku tidak marah. Lagi pula mengapa aku harus marah?" Tanya Akira bingung. "Sou juga selalu menjahiliku bukan? Kita impas" ucapnya tersenyum.
"Baiklah, aku mengerti. Kita impas sekarang" ucap Sou tersenyum.
"Sou," panggil Akira.
"Hm?"
"Bolehkah aku menunggu perkataanmu tadi?"
Sou menatap Akira terkejut. Dia kemudian tersenyum dan mengelus lembut Akira.
"Tentu. Aku benar-benar akan melamarmu setelah lulus" ucap Sou tersenyum manis.
Akira lagi-lagi menundukan kepalanya. Wajahnya kembali memerah dengan senyuman yang juga terukir di bibirnya.
"Hm"
"Kita harus bersabar hingga lulus nanti," ucap Sou tersenyum.
"Hm, aku akan menunggunya" ucap Akira tersenyum. "Ayo makan Sou, bukankah tadi kamu bilang kamu lapar?"
"Hm, selamat makan" ucap Sou tersenyum.
__ADS_1
"Selamat makan"
****
Sebulan setelah pertemuan itu, hari ini adalah hari pernikahan Tuan Souma dan Rina. Acaranya digelar cukup mewah meskipun hanya didatangi oleh keluarga, teman dekat, dan rekan kerja saja. Tuan Souma terlihat sangat bahagia berdiri di altar pernikahan bersama Rina. Akira dan Kakak-kakaknya pun bersyukur karenanya, ini pertama kalinya lagi mereka melihat Papanya sebahagia ini.
"Kamu sangat cantik, Akira" puji Sou tersenyum. Sou memang diwajibkan datang oleh Tuan Souma sebagai pasangan Akira. Bukan hanya Sou, kekasih Shinji dan Yuki juga diundang dalam acara bahagia ini.
"Hentikan Sou, kamu sudah mengatakan itu berkali-kali" ucap Akira malu.
"Habisnya kamu memang cantik" ucap Sou tersenyum. "Syukurlah semua berjalan lancar bukan?"
"Hm, begitulah. Terima kasih untuk masukannya saat itu, Sou" ucap Akira tersenyum.
"Itu bukan masalah besar, aku senang bisa membantumu" ucap Sou tersenyum manis sambil mengelus kepala Akira.
"Aku tidak ingat aku mengizinkanmu untuk mengelus kepala Akira" ucap Shinji menghampiri Akira dan Sou.
"Kakak.."
"A-ah, maaf Kak" ucap Sou menunduk.
"Jangan dipikirkan Sou, dia hanya cemburu karena kekasihnya tidak bisa datang" jelas Naoya menghampiri mereka.
"A-ah begitukah.."
"Dia adikku, aku lebih memiliki hak daripada kamu, Sou" tegas Shinji.
"Aku mengerti Kak, maaf" ucap Sou menyesal.
Shinji kemudian merangkul pundak Sou sambil mengacak-acak rambutnya.
"Aku bercanda Sou, hanya bercanda" ucap Shinji tertawa. "Melihat wajahmu yang seperti ini membuatku bahagia, Sou" ucapnya lagi.
"Tuhkan sudah Kakak katakan, dia hanya tidak tahan melihat orang lain bermesraan karena kekasihnya tidak datang" jelas Naoya tersenyum.
"Kakak jahat sekali" ucap Akira menatap sinis Shinji.
"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf" ucap Shinji datar.
"Halo Naoya, Shinji," sapa dokter Jung menghampiri mereka.
"Selamat malam dokter, terima kasih sudah datang" ucap Naoya tersenyum.
"Terima kasih juga sudah mengundangku," ucapnya tersenyum. "Akira juga sangat cantik hari ini"
"Terima kasih dokter Jung" ucap Akira tersenyum.
"Kakak tinggal sebentar ya," pamit Naoya. "Ayo sebelah sini dokter" ucapnya pada dokter Jung yang diikuti Shinji pergi dari sana.
"Siapa?" Tanya sou.
"Dokter keluarga kami" jelas Akira tersenyum. "Sou, aku akan pergi keluar sebentar" pamitnya.
"Mau kemana?"
"Aku ingin mencari udara segar saja" ucap Akira tersenyum.
"Aku pasanganmu, jadi aku harus bersamamu" ucap Sou tersenyum.
"Baiklah, ayo keluar"
Akira dan Sou kemudian menuju bangku taman di luar gedung pernikahan yang cukup sepi.
"Hah.." Akira menghela nafasnya kasar.
"Terima kasih sudah bekerja keras" ucap Sou mengelus rambut Akira. Dia kemudian duduk dan tiduran di pangkuan Akira.
"Sou?"
"Melihat wajah Akira dari bawah seperti ini tidak buruk juga" ucapnya tersenyum.
"Apa yang kamu katakan?" Ucap Akira tertawa kecil.
"Pangkuan Akira membuatku nyaman" ucap Sou lagi menutup matanya.
"Jangan tertidur disini Sou, kamu akan sakit nanti"
"Aku tahu, aku tidak akan tertidur" ucap Sou tetap memejamkan matanya.
"Rambutmu berantakan, Sou" ucap Akira tertawa kecil. Akira kemudian merapikan rambut Sou.
"Terus elus kepalaku seperti itu, Akira" pinta Sou masih memejamkan matanya.
"Hm, aku akan melakukannya" ucap Akira tersenyum. Dia kemudian mengelus kepala Sou sesuai permintaan kekasihnya itu.
"Sou," panggil Akira.
"Hm?" Sou berdehem sebagai jawaban. Dia tetap memejamkan matanya.
"Kami benar-benar telah menjadi keluarga sekarang"
"Hm"
"Aku senang jika Papa bahagia tapi tetap saja, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di hatiku" sendu Akira.
"Hm, aku bisa mengerti maksudmu" ucap Sou membuka matanya. Dia kemudian bangun dari pangkuan Akira. "Tidak apa. Kemungkinan kamu belum menerima mereka sepenuhnya jadi lakukan saja perlahan hingga sesuatu yang mengganjal itu pergi sendiri"
"Tapi kami akan tinggal bersama, aku tidak tahu cara menghadapi mereka besok" sendu Akira.
Sou kemudian tersenyum. Dia menangkup wajah Akira dan menatapnya dalam.
"Apa yang kamu katakan hm? Akira adalah Akira, cukup menjadi dirimu sendiri kamu pasti bisa melaluinya. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak harus dipikirkan, cukup menjadi diri Akira sendiri" jelas Sou sambil tersenyum.
Mendengar penjelasan Sou, Akira juga ikut tersenyum. "Sou benar, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri. Aku tinggal menyapanya seperti aku menyapa Papa dan Kakak" ucap Akira tersenyum.
"Hm benar, cukup menjadi diri Akira sendiri" ucap Sou tersenyum.
"Terima kasih Sou, aku mencintaimu" ucap Akira kemudian memeluk Sou.
"Aku lebih mencintaimu" ucap Sou membalas pelukan Akira. "Ayo kembali, orang lain akan mencari kita nanti" ajaknya.
"Baiklah, ayo."
Beberapa lama kemudian akhirnya pesta pernikahan Tuan Souma selesai digelar. Para tamu undangan sudah meninggalkan gedung termasuk Sou yang izin pulang duluan. Keluarga Souma kemudian pulang ke rumah menggunakan tiga mobil. Tuan Souma dan Rina, disusul mobil Naoya dan Alya, dan terakhir mobil Shinji, Yuki, dan Akira.
Berbeda dengan 2 mobil di depannya yang terlihat ramai, mobil Shinji sangat sepi walaupun ada 3 orang disana.
"Akhirnya selesai juga," ucap Shinji lega. "Apa kalian lelah?" Tanyanya pada kedua adiknya.
"Hm, aku lelah" ucap Yuki yang duduk dibelakang bersama Akira.
"Akira sedikit lelah" ucap Akira menundukan kepalanya.
"Aku iri karena Akira memiliki teman baru, berteman baiklah dengannya ya" ucap Shinji lagi.
"Akira pasti bisa berteman baik dengan Alya, benarkan?" Tanya Yuki tersenyum.
Hening. Akira tidak menjawab pertanyaan dari kedua kakaknya itu.
"Akira?" Tanya Yuki mendekati Akira. "Hhhhh.. pantas saja tidak menjawab" ucap Yuki tertawa kecil.
"Dia tertidur?" Tanya Shinji.
"Hm, sepertinya Akira sangat kelelahan" ucap Yuki kemudian menidurkan Akira di pangkuannya.
"Dia sudah bekerja keras" ucap Shinji menatap Akira dari cermin depan.
"Benar Kak" ucap Yuki mengelus-elus kepala Akira.
Beberapa lama kemudian mereka sampai di rumah. Shinji kemudian menggendong Akira masuk ke dalam tanpa membangunkannya.
"Akira kenapa?" Tanya Papa khawatir.
"Dia hanya kelelahan Pa. Shinji tidak ingin membangunkannya" jelas Shinji.
"Begitukah? Syukurlah.." ucap Papa lega. "Bawa Akira ke kamar. Yuki dan Shinji juga langsung istirahat ya, kami juga akan istirahat. Jangan begadang" titah Papa.
"Kami mengerti Pa" ucap Shinji lagi. "Selamat malam"
"Selamat malam" ucap Papa dan Rina.
Shinji kemudian membawa Akira ke kamar dan menidurkannya perlahan. Dia tidak ingin membangunkan Akira.
__ADS_1
"Akira pasti sangat lelah, terima kasih telah bekerja keras hari ini" gumam Shinji tersenyum. "Selamat malam."