
"Akira!"
Yuki tiba-tiba masuk ke kamar Akira tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tubuhnya mematung di tempat setelah mendapatkan adik kecilnya itu sedang menangis di pinggir kasur.
Yuki kemudian memeluk Akira cukup erat. Dia mengelus punggung adiknya itu.
"Kakak, Kakak.. A-Akira.. Akira-"
"Tidak perlu dijelaskan. Kakak yakin Akira tidak melakukannya. Kakak percaya, Akira bukan orang yang seperti itu. Ini hanya kesalahpahaman saja atau gara-gara gadis brengsek itu. Apa Kak mereka melakukan sesuatu kepadamu? Maaf karena Kakak tidak bisa membelamu, Kakak tidak bisa melindungimu" ucap Yuki khawatir. Tangannya ikut mengusap air mata Akira yang sudah terjatuh untuk yang kesekian kalinya.
"Mengapa semua menjadi seperti ini?" Ujar Yuki sendu. Dia kembali mendekap erat adiknya itu.
"Kenapa harus Akira? Kenapa Kakak juga harus ikut-ikutan berbuat seperti itu? Apa aku saja tidak cukup? Kenapa harus adikku? Kenapa mereka harus menuduh adikku?"
Air mata Yuki perlahan mengalir. Otaknya tidak bisa menerima perlakuan saudara-saudaranya hingga saat ini, begitu juga dengan Akira yang semakin menangis mendengar ucapan Yuki.
"Akira sungguh tidak melakukannya. Akira tidak melakukannya"
"Kakak tau, Kakak percaya Akira. Sudah jangan menangis, Kakak ada bersamamu" ujar Yuki menenangkan adiknya itu.
Mereka benar-benar keterlaluan, sangat keterlaluan!
...****...
"Apa ini Yuki! Sudah ku bilang jangan memberinya lagi uang jajan kepadanya, kenapa kamu tidak mendengarku?!" Bentak Naoya pada Yuki.
"Aku tidak akan mendengarkan orang asing yang tidak aku kenal" tegas Yuki menatap tajam Kakaknya itu.
"Kau sudah berani kepadaku ternyata. Jangan membuatku marah Yuki, jawab pertanyaanku!" Bentak Naoya lagi.
"Aku hanya memberikan hak Akira. Lagipula itu bukan uang perusahaan, itu gajiku sendiri"
"Kalau begitu, aku tidak akan memberikanmu gaji mulai hari ini" tegas Naoya menatap tajam Yuki.
"Dulu Akira dan sekarang Kakak akan mengambil hakku juga? Ini keterlaluan. Dari dulu aku ingin bertanya, kemana Kakakku yang selalu tenang dan penyayang? Ini bukan Kak Nao yang aku kenal. Pertama menuduh adiknya sendiri dan sekarang mengambil hak adiknya yang lain, tidakkah itu sangat keterlaluan? Tolong jangan membuat Yuki membenci Kakak, Kak. Tapi Yuki yakin, Kakak juga tidak akan berubah bukan?"
Tidak ada jawaban dari Naoya. Dia memikirkan apa yang baru saja Yuki katakan tapi dia tidak bisa memaafkan kesalahan yang fatal.
"Tidak masalah jika Kakak dan Kak Shin berlaku tidak adil pada Akira, aku tidak akan protes lagi. Tapi tolong jangan halangi aku untuk membahagiakan adikku sendiri. Ini hak dan kewajibanku sebagai Kakaknya Akira. Tolong jangan melakukan hal kejam kepada kami, Yuki mohon" lirih Yuki menatap sendu Kakaknya itu.
"Sekali lagi kamu melakukan hal seperti ini, aku benar-benar akan mencabut semua hakmu di perusahaan!"
Air mata kembali menetes pada pemilik netra coklat Akira. Dia berjongkok memeluk lututnya, mencoba menenangkan tubuhnya yang bergetar.
"Maaf Kak.."
Ternyata Akira memang benar-benar bukan adik yang baik untuk Kakak. Setelah membuat Kak Yuki menangis beberapa hari yang lalu, kini Akira membuat Kak Nao dan Kak Yuki bertengkar. Mungkin memang sebaiknya Akira mengaku saja saat itu. Untuk alasannya, Akira bisa mengarang karena Akira tidak mengingat kejadian detailnya.
__ADS_1
Akira tidak ingin Kak Yuki menjadi seperti Akira, tapi Akira juga tidak berani berbicara pada Kak Nao. Apa yang sebaiknya Akira lakukan? Kak Yuki sama sekali tidak bersalah, Akira yang membuatnya terkena masalah.
"Kakak, ano.. uang Akira masih ada, jadi untuk kedepannya Kakak tidak usah mengirimkan uang pada Akira lagi. Uang yang Kakak kirim 2 bulan lalu juga belum Akira gunakan sih" jelas Akira tersenyum.
"Kamu mendengarnya ternyata" lirih Yuki menatap dalam netra adiknya itu.
"Maaf" ucap Akira menundukan pandangannya.
"Kakak hanya memberikan hak Akira saja. Ini bahkan hanya setengah dari yang seharusnya"
"Tapi itu kan uang Kakak, Akira tidak berhak atas apapun milik Kakak. Kak Nao serius Kak, Kakak tidak akan main-main dengan ucapannya"
"Meskipun Akira berkata seperti itu, Kakak akan tetap melakukannya. Meskipun yang Akira katakan tadi benar, tapi itu hak Kakak untuk menggunakan sesuatu milik Kakak sesuai keinginan Kakak sendiri. Dan Kakak tidak takut dengan ancaman Kak Nao. Jika Kakak dipecat, Kakak masih bisa mencari pekerjaan lain. Kamu tidak usah khawatir" jelas Yuki tersenyum. Tangannya mengelus lembut kepala Akira.
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Ayo bersiap, Kakak akan mengantarmu"
"Tapi latihan Akira libur hari ini"
"Eh? Benarkah?"
"Hm. Pelatih sedang memiliki urusan penting jadi kami diliburkan"
"Begitukah? Ya sudah, ayo ke bawah. Kita makan bersama"
...****...
"Akira? Apa sudah bangun?"
Panggilan Yuki menyadarkan Akira dari lamunannya. Dengan cepat, Akira membuka pintu kamarnya.
"Selamat pagi Kak, ada apa?" Tanya Akira bingung.
"Kita masuk dulu" ujar Yuki kemudian masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya.
"Ada apa Kak? Jangan membuat Akira takut"
"Maaf maaf. Kakak hanya ingin memberikan ini" ujar Yuki menyodorkan sebuah amplop yang sedikit gemuk.
"Apa ini?"
"Mulai sekarang, Kakak tidak bisa mengirimkannya lewat bank, nanti ketahuan Kak Nao dan Kak Shin jadi Kakak akan memberikannya langsung seperti ini" jelas Yuki tersenyum.
"Lebih baik tidak usah Kak. Uang Akira juga masih banyak dan kalau ketahuan nanti hak Kakak di perusahaan benar-benar dicabut Kak. Kakak simpan saja uangnya" ujar Akira panik.
"Justru itu, jika seperti ini tidak akan ketahuan oleh Kakak. Akira simpan saja uangnya, oke?" Ujar Yuki tersenyum. "Kakak akan mengantarmu ke sekolah hari ini"
__ADS_1
"B-baiklah Kak, terima kasih banyak" ucap Akira tersenyum. "Tunggu Kak, ini nomor apa? Kenapa ditulis di uangnya?"
Akira terlihat kebingungan melihat ada 3 digit angka di salah satu uang 50.000 yang Yuki berikan.
"Ah maaf, sepertinya itu ulah jahil seseorang"
"Begitukah? Akira mengerti. Terima kasih banyak Kak.
"Sama-sama. Ayo, Kakak akan mengantarmu ke sekolah hari ini."
Tapi itu tak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian, Kak Nao mendapati Kak Yuki yang membawa sebuah amplop ke kamarku. Sebelum amplop itu sampai ke tanganku, Kak Nao sudah mengambilnya.
Saat itu Kak Yuki tidak marah atau merasa bersalah. Kakak tetap tersenyum meskipun semua haknya di perusahaan sudah dicabut. Kak Nao memiliki posisi tertinggi menggantikan Papa sih, jadi semua keputusannya ada di tangan Kak Nao.
Jujur saja, aku sangat sedih apalagi melihat Kakak yang masih bisa tersenyum seperti itu. Aku sangat merasa bersalah kepada Kakak. Aku juga harus bisa membantu Kakak. Aku harus bisa berguna setidaknya untuk Kak Yuki.
"Sudah Kakak duga, sebaiknya Akira ikut Kakak saja ya? Kakak tidak tahu apa yang akan terjadi setelah Kakak pindah, Kakak khawatir pada Akira" jelas Yuki khawatir.
"Tidak Kak, Akira tidak bisa ikut Kakak. Jika Akira ikut nanti Akira tidak bisa sekolah, Akira tidak bisa pergi latihan dan Akira hanya memenuhi rumah baru Kakak saja. Kakak tinggal bersama Kak Rin bukan? Akira masih bisa tinggal disini, jadi mungkin Akira akan datang pada Kakak jika Akira tidak memiliki tempat tinggal lagi" jelas Akira tersenyum.
"Hm, datanglah kapanpun Akira mau. Tidak harus seperti itu, Kakak selalu menyambut Adiknya Kakak yang cantik ini. Tapi jika saat itu tiba, Akira harus datang kepada Kakak" ujar Yuki mengelus kepala Akira. "Akhh Kakak jadi semakin khawatir sekarang. Kenapa juga tempatku harus jauh seperti ini" gerutu Yuki kesal.
"Akira akan baik-baik saja Kak" jelas Akira tersenyum.
"Kakak sudah memperingatkan Kak Nao, Kak Shin dan juga Alya tapi Kakak tidak yakin mereka akan mendengarkan Kakak. Meskipun begitu, Kakak percaya pada Kak Nao dan Kak Shin mereka tidak akan menyakiti Akira lagi."
"Akira juga tahu Kak, Kak Yuki dan Kakak-kakak lainnya menyayangi Akira bukan? Jika Akira menjadi anak baik, Kakak juga tidak akan memarahi Akira dan tidak akan melakukan hal buruk pada Akira" jelas Akira tersenyum.
"Syukurlah jika kamu mengerti. Kami sangat menyayangi Akira lebih dari apapun. Sisanya tinggal Alya. Dia gadis yang licik, Kakak tahu itu. Akira tahu apa yang sudah dia lakukan pada kita dulu bukan? Kemungkinan itu sudah menjadi kebiasaannya dan dia tidak akan berubah. Sebisa mungkin jangan banyak terlibat dengannya ya."
"Akira mengerti Kak" ucap Akira tersenyum.
"Akira yakin tidak akan ikut Kakak?" Tanyanya lagi dengan wajah khawatir.
"Yakin Kak, Akira baik-baik saja."
"Baiklah jika begitu. Jika terjadi apapun, jika butuh apapun hubungi Kakak ya. Kakak juga akan sering datang untuk menemui Akira, oke? Jaga diri baik-baik ya. Akira tidak boleh sakit atau terluka, mengerti? Jika dilanggar Kakak akan marah" jelas Yuki memegang pundak Akira. Netranya menatap dalam netra Akira, dia bersungguh-sungguh.
"Kalau itu sepertinya cukup sulit Kak" ujar Akira tersenyum canggung. "Tapi Akira akan menjaga diri Akira baik-baik, Akira berjanji" ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Hm, Kakak mengerti. Kalau begitu Kakak berangkat ya."
"Hm, hati-hati Kak. Tolong sampaikan salam Akira untuk Kak Rin."
"Akan Kakak sampaikan. Kakak pergi ya, bye-bye" pamit Yuki tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Bye-bye Kak, hati-hati."
__ADS_1
Akira sangat yakin, Akira akan kesepian sekarang. Tapi menahan Kak Yuki untuk tetap tinggal disini bukanlah hal baik. Semoga semua baik-baik saja baik Kak Yuki maupun Akira disini.