
"Selesai" ucap Yuki tersenyum.
"Terima kasih Kak" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih banyak Kak, kami sangat tertolong" ucap Ayano tersenyum.
"Iya Kak, terima kasih banyak" ucap Sou yang juga tersenyum.
"Sama-sama. Baiklah sekarang kita makan" ucap Yuki bersemangat.
Akira cukup terkejut dengan perkataan Yuki. (Bukankah Kakak bilang sudah makan tadi?) Akira bertanya-tanya dalam hati.
"Ah tidak perlu Kak, kami sudah sangat merepotkan. Terima kasih" ucap Ayano.
"Itu benar Kak, tidak usah. Lagi pula tugasnya sudah selesai, kami akan pulang saja" ucap Sou.
"Itu benar Kak, kami akan pulang saja" ucap Ayano.
"Kenapa buru-buru sekali, ayo kita makan dulu" ucap Akira.
"Akira benar, kenapa buru-buru sekali?" Tanya Yuki.
"Tidak apa Akira, Kak Yuki. Ini Juga sudah sore, takutnya dicari oleh Ibu" ucap Ayano yang diangguki oleh Sou.
"Baiklah jika kalian berkata seperti itu. Biar aku antar ya" ucap Yuki pergi mengambil kunci mobilnya.
"Terima kasih Kak" ucap Sou dan Ayano.
"Kalian serius tidak akan makan dulu?" Tanya Akira.
"Aku serius Akira" ucap Ayano yakin.
Tak lama kemudian Yuki kembali ke bawah dengan kunci mobil yang tadi dia ambil.
"Kami pulang dulu ya Akira, terima kasih banyak" ucap Ayano tersenyum.
"Akira kami pulang ya-- Sou mendekat ke samping Akira --setelah ini istirahatlah, cepat sembuh Akira" bisik Sou.
Akira menatap Sou. "Terima kasih" ucap Akira dengan suara yang kecil sambil tersenyum.
"Sudah siap?" Tanya Yuki.
"Sudah Kak" ucap Sou dan Ayano.
"Akira mau ikut Kak" ucap Akira semangat.
"Tidak tidak. Akira diam saja di rumah, jaga rumah saja. Nanti kalau ada yang membawanya bagaimana?" Tanya Yuki yang membuat Sou dan Ayano tertawa.
"Rumahnya tidak akan pergi kemana-mana Kak, Akira mau ikut" ucap Akira merengek.
Yuki terdiam sebentar. "Baiklah" ucap Yuki tersenyum. "Maaf ya, Akira memang seperti ini kepada Kakaknya" ucap Yuki pada Sou dan Ayano.
"Tidak apa Kak, justru itu yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan" ucap Ayano tersenyum.
(Ternyata Akira cukup manja pada kakaknya, menggemaskan) ucap Sou dalam hati tersenyum menatap Akira.
"Hentikan" ucap Akira dengan suara yang kecil.
Yuki kemudian mengacak-acak rambut Akira gemas. "Dia sedang malu" jelas Yuki yang membuat Sou dan Ayano kembali tertawa.
"Kakak!!" Ucap Akira merengek.
"Baiklah baiklah, Kakak minta maaf ya. Ayo pergi, kasihan Sou dan Ayano yang sudah menunggu dari tadi" ucap Yuki tersenyum.
Mereka kemudian mengantarkan Sou dan Ayano pulang ke rumahnya masing-masing.
Saat kembali ke rumah...
Yuki masuk terlebih dahulu diikuti Akira dari belakang.
"Kakak.." panggil Akira lirih sambil menarik pelan baju Yuki. Tubuh Akira kembali tidak seimbang dan untungnya ada Yuki di depannya sehingga Yuki bisa menangkap tubuh Akira sebelum terjatuh.
"Sudah Kakak bilang jangan memaksakan dirimu sendiri Akira" ucap Sou memeluk Akira. Dia menyibakkan rambut Akira yang sedikit basah karena keringat.
"Maaf" ucap Akira lagi.
Tanpa berlama-lama, Yuki kemudian menggendong Akira dan membawanya ke kamar. Dia menidurkan Akira dengan sangat hati-hati.
Keringat yang cukup banyak membasahi tubuh Akira dengan nafas yang tidak beraturan. Yuki kemudian mengelus kepala Akira.
"Tunggu sebentar ya, Kakak akan membuatkan Akira bubur dan mengambil obat" ucap Yuki. Tidak ada jawaban dari Akira, sepertinya dia sudah tertidur. Yuki kemudian menyelimuti Akira dan pergi kebawah.
Tak lama kemudian Yuki kembali dengan sebaskom air hangat dan juga obat. Dia mengompres Akira sambil menunggu buburnya siap.
"Akira terlalu memaksakan diri dari kemarin, jadinya seperti ini" monolog Yuki sambil mengompres Akira. Dia mengelap setiap keringat dari kepala dan leher Akira.
"Badannya panas sekali dan keringatnya juga sangat banyak" Monolognya. Yuki kemudian pergi ke bawah untuk menelpon dokter.
"Aku pulang" ucap Naoya.
"Dimana semua orang? Bukankah Akira tidak ada latihan hari ini? Tanya Shinji.
"Oh Kak Nao, Kak Shin selamat datang" ucap Yuki menghampiri Kakaknya.
"Dimana Akira?" Tanya Naoya.
"Akira demam Kak, dia sedang beristirahat di kamar" ucap Yuki.
"Demam? Bagaimana bisa?" Tanya Shinji.
"Sepertinya dia terlalu memaksakan dirinya dari kemarin. Kemarin Akira langsung latihan sepulang sekolah dan hati ini dia kerja kelompok bersama teman-temannya hingga sore tadi" jelas Yuki.
"Hubungi dokter Jung sekarang dan buatkan bubur untuk Akira" ucap Naoya yang langsung pergi ke kamar Akira.
"Aku akan menghubungi dokter Jung, kamu buatkan bubur saja" ucap Shinji.
"Aku sudah membuatnya Kak" ucap Yuki.
Di kamar Akira...
Naoya menghampiri Akira yang tengah tertidur di kasurnya.
"Kenapa Akira memaksakan diri hm? Lihatlah Akira jadi sakit bukan?" Ucap Naoya mengelus kepala Akira. Dia kemudian mengelap keringat Akira dan kembali mengompresnya.
Naoya sangat khawatir pada Akira. Ini adalah pertama kalinya Akira kembali demam setelah yang terakhir kali yaitu dua hari setelah kematian Mamanya.
"Bagaimana keadaannya Kak?" Tanya Shinji memasuki kamar Akira
"Demamnya sangat tinggi" ucap Naoya khawatir.
Shinji kemudian menempelkan tangannya di kening Akira.
"Benar, sangat panas. Dokter Jung akan segera datang Kakak tenang saja ya" ucap Shinji menenangkan Naoya.
Tak lama kemudian Yuki datang sedang dokter Jung.
"Dok, adik saya demam" ucap Naoya sedikit panik.
"Baik Tuan, permisi saya akan memeriksanya" Naoya dan Shinji kemudian sedikit menjauh dari Akira dan dokter Jung.
"Bagaimana dok?" Tanya Naoya setelah dokter selesai memeriksanya.
"Tidak ada hal yang membahayakan nyawa Nona, Nona hanya kelelahan saja dia akan membaik beberapa hari ke depan" ucap dokter Jung. "Saya akan menuliskan resep untuk Nona, Tuan tinggal membelinya di apotek" ucap dokter lagi.
__ADS_1
"Baik dok, terima kasih banyak. Biar saya antar" ucap Naoya.
"Biarkan dia istirahat" ucap Shinji mengelus kepala Akira.
"Kakak istirahatlah, biar Yuki yang temani Akira" ucap Yuki tersenyum.
"Aku mau mandi dulu, Yuki tolong jaga Akira sebentar ya" ucap Shinji.
"Iya Kak."
Tak lama kemudian Papa dan Naoya masuk ke kamar Akira. Papa kemudian mendekat ke arah Akira dengan wajahnya yang sangat khawatir.
"Bagaimana bisa seperti ini? Kenapa Akira berbohong tadi pagi hm? Cepatlah sembuh Nak, Papa sangat khawatir" ucap Papa mengelus pipi Akira.
(Ini pertama kalinya lagi aku melihat anakku sakit seperti ini. Dia sudah sangat memaksakan dirinya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan Akira seperti ini lagi) ucap Papa dalam hati menatap Akira.
"Papa istirahatlah, biar Yuki yang menjaga Akira" ucap Yuki.
Papa mengangguk. "Tolong ya, Papa akan membersihkan badan dulu" ucap Papa tersenyum. "Cepat sembuh sayang" ucapnya kepada Akira.
"Baik Pa" ucap Yuki yang juga tersenyum.
Setelah itu Yuki kemudian merawat Akira dengan penuh kasih sayang.
"Cepat sembuh Akira" ucap Yuki mengecup pipi Akira sebelum dia ikut tertidur di samping kasur Akira.
Tak lama kemudian Papa kembali ke kamar Akira dan melihat Yuki yang juga tertidur dengan posisi duduk di samping kasur Akira. Tatapannya sendu, dia perlahan mendekat ke arah Yuki dan Akira.
"Yuki, bangunlah. Tidurlah di kamarmu, biar Papa yang jaga Akira" ucap Papa menggoyang-goyangkan tubuh Yuki.
Yuki kemudian perlahan membuka matanya.
"Kembalilah, tidur di kamarmu biar Papa yang jaga Akira" ucap Papa tersenyum.
Yuki menggeleng. "Tidak Pa, biar Yuki saja yang menjaga Akira, Papa istirahatlah di kamar" ucap Yuki.
"Tidak biar Papa saja" ucapnya duduk di pinggir Yuki. Tak lama kemudian handphone Papa berdering.
"Tunggu sebentar ya" ucap Papa akan berdiri.
"Sudah Yuki katakan Pa, Papa istirahatlah. Lihat bahkan saat malam hari Papa terlihat sibuk. Yuki bisa menjaga Akira jadi Papa istirahat saja ya" ucap Yuki.
Papa terlihat terdiam sebentar. "Maaf ya. Jika terjadi sesuatu panggil Papa" ucap Papa.
"Pasti Pa, selamat malam" ucap Yuki tersenyum.
"Selamat malam. Jangan tidur seperti itu, nanti tubuhmu sakit" ucap Papa lagi.
"Aku mengerti Pa."
Malam harinya...
"Kakak.." panggil Akira.
"Ada apa Akira? Mau minum?" Tanya Yuki. Akira mengangguk pelan.
"Sekalian minum obatnya ya" ucap Yuki mengambil air minum dan obat.
"Terima kasih Kak" ucap Akira setelah meminum obatnya.
"Lain kali jangan memaksakan dirimu sendiri lagi ya, kami sangat khawatir" ucap Yuki mengusap lembut kepala Akira.
"Maaf Kak" ucap Akira.
Yuki tersenyum. "Tidurlah lagi, ini masih malam. Jangan khawatir, Kakak akan menemani Akira disini."
"Terima kasih Kak" ucap Akira kemudian memejamkan matanya untuk kembali tidur.
Naoya bangun lebih pagi untuk memastikan keadaan adiknya.
"Yuki bangun, ini sudah pagi. Pindahlah ke kamarmu" ucap Naoya melihat Yuki tertidur dengan posisi duduk di samping Akira.
Yuki kemudian mengerjapkan matanya.
"Selamat pagi Kak" sapa Yuki yang masih mengantuk.
"Pagi-- Naoya tersenyum -- pindah ke kamarmu, nanti kamu juga ikut sakit. Biar Kakak yang jaga Akira" ucap Naoya.
Yuki mengangguk. "Baiklah, aku ke kamar dulu Kak."
"Pergilah, tidur yang nyenyak" ucap Naoya tersenyum.
Setelah Yuki pergi, Naoya kemudian duduk di pinggir kasur Akira. Dia menempelkan telapak tangannya di kening Akira untuk memastikan suhu tubuh Akira.
"Panasnya sudah turun" ucap Naoya tersenyum. "Akira sudah membuat kita khawatir" ucapnya lagi sambil menyibak rambut Akira yang menghalangi wajahnya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Papa masuk ke kamar Akira.
"Panasnya sudah turun Pa" ucap Naoya.
"Syukurlah. Papa akan membeli sarapan dulu ya" ucap Papa kemudian pergi.
"Kakak.." panggil Akira lirih.
"Kakak disini sayang, mau minum?" Tanya Naoya.
Akira mengangguk.
"Tunggu sebentar ya, Kakak ambil minum yang hangat dulu" ucap Naoya kemudian pergi setelah mendapat anggukan dari Akira.
Tak lama kemudian, Shinji masuk ke kamar Akira.
"Akira baik-baik saja?" Tanyanya.
"Akira baik-baik saja Kak" ucap Akira mendudukan dirinya.
"Akira tidak berbohong lagi bukan? Kami mengkhawatirkanmu" ucap Shinji memegang tangan Akira.
"Maaf sudah membuat Kakak dan Papa khawatir" ucap Akira menunduk.
Shinji tersenyum. "Sebagai gantinya, Akira harus memasakan makanan kesukaan Kakak saat Akira sudah sembuh, bagaimana?" Ucap Shinji tersenyum.
"Apa yang kamu katakan Shin? Bisa-bisanya kamu menyuruh Akira membuat makanan kesukaanmu?" Tanya Naoya masuk ke kamar dengan nampan yang berisi bubur, air minum, dan teh hangat.
"Kan aku bilang kalau sudah sembuh" protes Shinji.
"Iya Kak, nanti Akira masakan makanan kesukaan Kakak yang banyak" ucap Akira tersenyum.
"Oke, kalau begitu cepatlah sembuh" ucap Shinji mengacak-acak rambut Akira dan Akira hanya mengangguk.
"Makan dulu ya. Kakak sudah bawa bubur, nanti minum obat" ucap Naoya.
"Akira tidak mau makan, mau minum saja" ucap Akira. Naoya kemudian memberikan air hangat kepada Akira.
"Terima kasih Kak" ucap Akira.
"Papa sudah minta izin ke sekolah untuk Akira, jadi Akira istirahat saja di rumah ya. Papa juga sudah pesan makanan untuk Akira nanti, jadi Akira tidak usah memasak" jelas Naoya.
"Maaf Kak" ucap Akira.
"Kenapa Akira minta maaf hm?" Tanya Shinji.
"Karena Akira sudah merepotkan Kakak dan Papa" ucap Akira lagi sambil menunduk.
__ADS_1
"Ini bukan salah Akira, Akira juga tidak ingin sakit bukan? Berhentilah meminta maaf untuk kesalahan yang tidak Akira lakukan, mengerti?" Ucap Naoya mengusap kepala Akira.
"Kak Nao benar. Ini bukan salah Akira" ucap Shinji tersenyum.
"Maaf ya, Papa, Kakak dan Kak Shin tidak bisa menjaga Akira pagi ini, ada rapat penting di perusahaan. Nanti biar Yuki yang jaga Akira ya, setelah selesai rapat Kakak janji akan cepat pulang" ucap Naoya lagi.
"Tidak apa-apa Kak, Akira juga bisa sendiri kok. Akira tidak berbohong, Akira baik-baik saja" ucap Akira.
"Walaupun Akira tidak berbohong, tapi kami tetap khawatir pada Akira" ucap Papa yang tiba-tiba masuk ke kamar.
"Naoya, Shin, pergilah ke bawah, makanannya sudah siap. Ajak Yuki juga" titah Papa.
"Baik Pa" ucap Naoya dan Shinji paham. Mereka berdua kemudian pergi ke bawah.
"Sudah baikan?-- Papa menempelkan tangannya di kening Akira --Panasnya sudah turun. Dengar Akira, jika Akira lelah, Akira bisa beristirahat jangan memaksakan dirimu lagi ya, Papa tidak akan memaafkan Akira jika kejadian seperti ini terulang kembali. Apa Akira mengerti?" Ucap Papa.
Akira mengangguk. "Akira mengerti Pa, maaf."
Papa tersenyum. "Kenapa buburnya tidak dimakan? Apa Akira mau makan nasi?" Ucap Papa melihat bubur di atas nakas.
Akira menggeleng. "Tidak usah Pa, Akira akan memakan buburnya nanti, Akira belum lapar."
"Sekarang saja. Nanti jika buburnya sudah dingin tidak enak, atau mau Papa suapi?" Ucap Papa.
"Tidak, Akira sudah besar bukan bayi lagi" tolak Akira.
Papa tersenyum. "Baiklah, sekarang dimakan buburnya atau Papa yang akan menyuapimu."
"Baiklah" jawab Akira tersenyum.
Akira kemudian memakan bubur yang sudah dibawa Naoya tadi dengan ditemani oleh Papanya.
Beberapa lama kemudian...
Setelah makan, Akira kemudian berbicara banyak dengan Papanya. Mereka tertawa bersama hingga suara Naoya menghentikan kegiatan Akira bersama Papanya.
"Pa, kita harus ke kantor sekarang" ucap Naoya.
"Ah sudah jam segini ternyata. Maaf ya Akira, Papa harus ke kantor sekarang, lain kali kita sambung lagi ceritanya" ucap Papa tersenyum.
"Iya Pa, tidak apa-apa. Hati-hati di jalan" ucap Akira tersenyum.
"Istirahatlah, jangan memaksakan dirimu" ucap Papa lagi.
"Kakak pergi dulu ya Akira, cepat sembuh" ucap Naoya.
"Iya Kak, hati-hati."
Di sekolah...
"Akira tidak masuk hari ini, apa dia baik-baik saja ya?" Ucap Ayano.
"Akira tidak masuk?" Tanya Sou pada Ayano.
"Iya, sepertinya kerja kelompok kemarin membuatnya menjadi lebih sakit" ucap Ayano sedih.
(Benar, kita malah membuatnya bekerja lebih keras, padahal dia sedang sakit. Aku harap dia baik-baik saja dan cepat sembuh, aku ingin segera bertemu dengannya) ucap Sou dalam hati.
"Kamu punya nomornya Akira tidak?" Tanya Sou.
Ayano menggeleng. "Aku tidak punya."
"Baiklah, terima kasih" ucap Sou kemudian pergi dari hadapan Ayano.
Dia kemudian pergi menemui Guru untuk meminta nomor Akira. Awalnya Guru menolak dengan alasan privasi pada akhirnya Guru memberikan nomor Akira pada Sou.
Saat istirahat, Sou pergi ke atap. Dia terus bolak-balik sambil mengetuk-ngetuk hpnya.
"Ayolah Sou, cepat putuskan" gumamnya pada dirinya sendiri.
"Ya ampun, kamu hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia Sou. Baiklah mari kita coba dengan mengirim pesan" ucapnya lagi.
Sou: "Akira"
Sou: "Ini aku, Sou. Maaf ya aku dapat nomormu dari guru tadi. Apa kamu baik-baik saja?"
Disisi lain...
Nomor tidak dikenal : "Akira"
(Siapa ini? Kenapa tidak ada di daftar kontak Akira?)
Nomor tidak dikenal : "Ini aku, Sou. Maaf ya aku dapat nomormu dari guru tadi. Apa kamu baik-baik saja?"
(*Ah, te*rnyata Sou) ucap Akira dalam hati sambil tersenyum.
Akira: "Aku baik-baik saja Sou, aku hampir memblok nomormu tadi:)"
Sou: "Kamu jahat sekali Akira:("
Akira: "Maaf Sou, aku tidak tahu jika ini nomormu."
Akira: "Maafkan aku."
Akira: "Aku baik-baik saja Sou. Besok aku akan kembali sekolah"
Sou: "Syukurlah, aku khawatir padamu. Maaf ya seharusnya kemarin aku tidak mengizinkanmu ikut kerja kelompok"
Akira: "Bukankah kamu sudah melakukannya?"
Akira: "Ini juga keinginanku"
Akira: "Terima kasih Sou, maaf sudah membuatmu khawatir."
Sou: "Tidak masalah. Istirahatlah Akira, maaf aku mengganggu istirahatmu"
Sou: "Sampai jumpa besok Akira"
Akira: "Terima kasih Sou"
Akira: "Sampai jumpa besok"
Sou: "Bye bye:)"
Akira tersenyum. "Dia mengatakannya."
Akira: "Bye bye~"
"Ada apa Akira? Apa yang mengatakannya?" Tanya Yuki melihat adiknya yang senyum-senyum sendiri menatap layar handphone.
"Tidak apa-apa Kak" ucap Akira tersenyum.
"Minumlah susunya, jangan bermain handphone terus nanti kepalanya tambah pusing" ucap Yuki lagi.
"Baik Kak. Terima kasih" ucap Akira tersenyum.
Disisi lain...
"Kau melakukannya Sou, kau melakukannya!" ucap Sou senang.
"Aku baru tahu, ternyata segugup ini saat menghubungi seorang wanita" ucapnya lagi.
"Syukurlah jika dia tidak apa-apa" ucap Sou tersenyum menatap kembali layar handphonenya.
__ADS_1