Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 27 : Aku Tidak Menginginkannya


__ADS_3

Suatu pagi di rumah Akira...


Hari ini tepat 1 tahun peringatan kematian Nyonya Souma. Keluarga Souma baru saja pulang dari pemakaman dan kini sedang makan bersama di meja makan.


"Anak-anak, Papa ingin membicarakan sesuatu" ucap Papa di sela-sela makannya.


"Ada apa Pa?" Tanya Naoya.


"Begini.. Papa mau minta izin kepada kalian untuk menikah lagi" ucap Papa yang membuat semua orang terkejut.


"Apa yang Papa katakan?" Tanya Shinji tidak percaya dengan apa yang baru Ia dengar.


"Apa maksudnya Pa? Bukankah ini.." Yuki tidak melanjutkan perkataannya. 


"Pa, bukankah ini.."


"Papa tahu ini sangat tiba-tiba," ucapnya lagi memotong pembicaraan Naoya. "Seperti yang sudah kita rasakan, kita masih membutuhkan sosok ibu di rumah ini. Meskipun Papa dan kalian masih mencintai Mama tapi kita butuh pengganti Mama untuk mengurus kita. Papa juga yakin, Mama akan setuju dengan keputusan ini. Kita tidak bisa membuat Akira terus bekerja keras untuk mengurus kita semua disini. Akira bahkan sampai beberapa kali jatuh sakit karena kelelahan, kalian juga merasakannya bukan?" Ucap Papa lagi.


Semua orang menundukan kepalanya. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Setiap hari Akira harus bangun pagi untuk membuat sarapan dan mempersiapkan segala keperluan kita, setiap weekend Akira selalu mengorbankan waktu bermainnya untuk mencuci dan membersihkan rumah, Papa selalu merasa sedih melihat Akira seperti itu. Kami juga pria jadi kami tidak pandai mengurus rumah. Kita hanya merepotkan Akira saja" jelas Papa.


"Kenapa Papa bicara seperti itu? Akira tidak pernah sama sekali merasa direpotkan oleh Papa maupun Kakak. Pada dasarnya Akira adalah seorang wanita jadi Akira memang harus bisa melakukan pekerjaan rumah. Akira tidak pernah berpikiran telah direpotkan oleh Papa ataupun Kakak, sungguh" jelas Akira.


"Meskipun begitu, Papa juga butuh pendamping. Memang benar Akira bisa mengurus semuanya tapi ada batasan antara orang tua dan anak. Ada yang tidak bisa Akira lakukan kepada Papa dan Kakak semua, Nao dan Shin sudah besar, pasti kalian mengerti bukan?"


Akira menundukan kepalanya sedih. "Papa benar, ada yang tidak bisa Akira lakukan untuk Papa maupun Kakak, ada batasan yang tidak bisa Akira masuki. Tapi ini.."


"Tapi Pa, bukankah ini terlalu tiba-tiba? Hari ini adalah hari peringatan kematian Mama dan Papa malah membicarakan hal seperti ini?" protes Shinji.


"Papa mengerti, tapi.."


"Cukup Pa, kita bisa membicarakannya nanti, tidak sekarang" tegas Naoya.


"Hah.." Papa menghela nafasnya kasar. "Papa sudah selesai, terima kasih makanannya" ucapnya kemudian pergi dari sana.


Semua orang nampak masih terkejut dengan perkataan Papa tadi. Mereka terlihat murung apalagi Akira dan Yuki yang terlihat dengan sangat jelas dari wajah keduanya. Tidak ada percakapan setelahnya, bahkan suara dentingan piring dan sendok pun tidak ada. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. 


"Akira, boleh tolong ambilkan ayamnya lagi? Kakak tidak bisa menggapainya" ucap Naoya membuka suara.


"Ah, iya Kak. Piringnya," ucap Akira kemudian mengambilkan ayam untuk Naoya.


"Terima kasih" ucap Naoya tersenyum.


"Hm" Akira menganggukan kepalanya.


"Aku juga, tolong" ucap Shinji.


"Baik Kak" ucap Akira kemudian mengambilkan ayam juga untuk Shinji.


"Begini.." ucap Naoya mulai membuka percakapan. "Papa mungkin sedang kelelahan atau banyak masalah sehingga berkata seperti itu. Kakak bisa mengerti tapi-"


"Tapi Akira sungguh tidak merasa direpotkan Kak, Akira baik-baik saja. Akira malah senang bisa berguna untuk Papa dan Kakak" protes Akira. "Kenapa Papa dan Kakak bisa berpikiran seperti itu?" Sendu Akira.


"Kita juga sudah besar Kak, Yuki kira Akira saja juga sudah cukup tidak perlu orang asing lagi. Bukankah kita juga bisa mengurus diri kita sendiri?" Gumam Yuki.


"Hm, Kakak mengerti. Oleh karena itu mari kita pikirkan ini nanti," ucap Naoya tersenyum. "Mari kita pikirkan lagi nanti"


Meskipun Naoya menyuruh adik-adiknya untuk memikirkan masalah itu nanti tapi tetap saja mereka memikirkannya. Semua kembali terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Ah benar, aku tidak mau bekerja lagi Kak" ucap Shinji yang membuat semua orang terkejut.


"Eh? Kenapa? Kenapa kamu tidak mau bekerja?" Tanya Naoya bingung.


"Ada apa Kak? Kenapa tidak mau bekerja?" Tanya Akira yang juga bingung.


"Sebenarnya, aku sudah muak" ucap Shinji lagi.


"Muak bagaimana? Bukankah pekerjaanku lebih rumit dari pekerjaanmu?" Tanya Naoya lagi.


"Bukan pekerjaannya Kak,"


"Lalu apa Kak? Ada apa?" Tanya Yuki ikut penasaran.


"Sebenarnya aku muak mendapatkan sapaan setiap hari" jelasnya.


"Hah??" Ucap yang lain serempak.


"Maksudnya bagaimana Kak?" Tanya Akira bingung.


"Hm, aku sih tidak masalah jika disapa setiap pagi, aku bahkan cukup senang karena semua orang menghormatiku. Tapi wanita itu, wanita itu sangat menyebalkan!" Kesal Shinji.


"Wanita siapa?" Tanya Naoya bingung.


"Itu Kak, resepsionis, ibu-ibu yang selalu menunggu di meja depan itu loh yang selalu pakai lipstik merah menyala" jelas Shinji.


"Ibu-ibu?" Naoya terlihat berpikir sebentar. "Apa Ibu Kim?"


"Benar, dia, wanita itu" ucap Shinji membenarkan.


"Memangnya kenapa Kak?" Tanya Akira lagi.


"Kalian tahu? Setiap aku masuk ke dalam gedung dia selalu menyapaku dan bertanya apakah aku mau menjadi suaminya atau tidak sambil berteriak. Dia selalu memaksaku untuk menjadi suaminya" adu Shinji yang membuat Naoya, Yuki, dan Akira tertawa.


"Apa yang lucu? Aku sedang kesal sekarang. Wanita itu membuatku malu, setiap kali dia menyapaku semua orang ikut menatapku juga" protes Shinji.


"Eh.. ternyata Kak Shin sangat populer dikalangan ibu-ibu, Kakak benar benar hebat" ucap Akira tertawa.


"Kakak setuju dengan Akira" ucap Naoya yang juga tertawa.


"Kalian memang kejam, saat aku kesal dan sedih seperti ini kalian malah menertawakanku" sendu Shinji.

__ADS_1


"Kenapa tidak kakak terima saja?" Tanya Yuki.


"Aku sudah punya kekasih, lagipula siapa juga yang mau dengan wanita berumur sepertinya. Jika kamu mau, aku bisa menyerahkannya untukmu" ketus Shinji. "Dengan kebaikan dan kebajikan hati seorang Shinji, aku dengan rela memberikannya untukmu" ucap Shinji seolah-olah sedang memberikan penghargaan pada Yuki.


"Yee, tidak mau. Aku sudah punya Rin, aku adalah pria yang setia" ucap Yuki bangga.


"Heee benarkah?" Ejek Shinji. 


"Eh benarkah?" Tanya Akira ikut mengejek Yuki.


"Hm, itu benar" ucap Yuki tersenyum.


"Kalau begitu aku berikan untuk Kak Nao saja, Kakak kan tidak punya pacar" ucap Shinji lagi.


"Tidak, terima kasih" tolak Naoya.


"Atau jangan-jangan sebenarnya Shin itu sangat populer tapi dikalangan ibu-ibu saja, di kalangan anak muda tidak" ucap Naoya yang membuat semua orang kembali tertawa.


"Apa Kakak mau mencoba tinju dariku?" Tawar Shinji.


"Tidak, terima kasih" tolak Naoya lagi.


"Tapi perkataan Kak Nao mungkin ada benarnya juga" ucap Yuki setuju.


"Kalian benar-benar! Intinya aku tidak mau bekerja lagi" dingin Shinji.


"Itu salahmu karena kamu sangat populer. Dengan ini aku sangat bersyukur tidak sepopuler dirimu" ucap Naoya tersenyum. "Lupakan, biarkan dia menjadi suami Ibu Kim. Sekarang ayo lanjutkan makannya, nanti keburu dingin" ucapnya lagi.


"Iya kak," ucap akira tersenyum. "Tapi Kak Shin benar-benar hebat" ucapnya lagi sambil tertawa.


"Benar, Kak Shin memang terbaik" ucap Yuki yang juga tersenyum.


"Tahu akan diejek lebih baik tadi aku tidak usah mengatakannya ya" ucapnya datar.


"Hm" Yuki menganggukan kepalanya.


Melihat adik-adiknya yang kembali tertawa, Naoya merasa cukup tenang. "Kerja bagus Shin" bisik Naoya dalam hati sambil tersenyum.


Mereka kemudian melanjutkan acara makan yang sempat tertunda dengan senyuman dan tawa seolah perkataan Papa tadi tidak pernah terjadi. Mereka seperti lupa dengan masalah tersebut.


Beberapa hari kemudian di gedung latihan...


"Akira, ada apa? Kenapa kamu melamun saja, apa ada masalah?" Tanya Rena menghampiri Akira yang sedang duduk di pojok lapangan.


"Hm, ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiranku" jelas Akira.


"Ada apa? Kamu bertengkar dengan Sou?" Tanya Rena ikut duduk di samping Akira.


"Tidak, kami tidak bertengkar"


"Lalu kenapa?"


"Papaku memutuskan untuk menikah lagi" gumam Akira.


"Sepertinya kamu yang bahagia bukan aku," ujar Akira tersenyum tipis. "Kenapa kamu berkata seperti itu?"


"Apa Akira tidak senang?" Tanya Rena menatap Akira. "Aku merasa jika kamu punya ibu baru, pekerjaanmu akan lebih mudah bukan? Meskipun kamu selalu tersenyum aku tahu bahwa kamu sangat kelelahan. Kamu dan keluargamu juga ada yang mengurus nanti, kamu tidak harus merepotkan kakakmu lagi jika kamu sakit. Rumah Akira akan ramai tapi pekerjaan Akira juga akan berkurang. Aku yakin Akira akan bahagia nanti"


"Begitukah?"


"Aku yakin itu. Tapi semuanya kembali kepadamu, maaf jika aku terlalu ikut campur" ucap Rena menundukan kepalanya.


"Tidak, jangan meminta maaf Rena, kamu tidak salah. Terima kasih, pikiranku sedikit terbuka sekarang" ucap Akira tersenyum.


"Benarkah?" Tanya Rena yang diangguki Akira. "Syukurlah" ucapnya tersenyum.


"Jika kamu butuh teman bercerita, datanglah kepadaku. Aku tidak tahu apakah aku bisa membantumu atau tidak tapi setidaknya kamu bisa membagi bebanmu sedikit kepadaku" jelas Rena tersenyum.


"Hm, kamu memang yang terbaik. Terima kasih banyak" ucap Akira tersenyum.


"Yosh, mari kita bertanding. Yang kalah harus membelikan es krim" ucap Rena bersemangat.


"Siapa takut, ayo" ucap Akira tersenyum.


Di sekolah...


"Selamat pagi Akira" sapa Sou tersenyum.


"Selamat pagi juga Sou" jawab Akira yang juga tersenyum.


"Sudah kuduga, senyuman Akira membuatku semakin bersemangat" ucap Sou lagi sambil tersenyum.


"Apa yang kamu katakan Sou?" Tanya Akira tertawa kecil. "Aku pergi ke bangku ku dulu ya" pamitnya.


"Hm, semangat belajarnya" ucap Sou tersenyum.


"Sou juga semangat" ucap Akira tersenyum.


Istirahat...


"Akira, ayo makan" ajak Sou tersenyum tapi tidak ada jawaban dari Akira. Dia terus menatap ke arah langit tanpa memperdulikan Sou yang sudah ada di dekatnya.


"Akira" panggil Sou tepat di telinga Akira yang membuatnya tersentak. "Ada apa?" Tanya Sou bingung.


"Kamu membuatku takut, Sou" gumam Akira dengan wajah terkejutnya.


"Ayo makan bersama" ajak Sou lagi.


"Ah iya, ayo" ucap Akira tersenyum.


Seperti biasa, mereka menghabiskan waktu istirahatnya di rooftop. Setelah selesai makan, mereka bersantai sebentar di bangku yang ada disana.

__ADS_1


"Apa kamu sedang ada masalah?" Tanya Sou mendekatkan duduknya dengan Akira.


"Tidak, kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Tanya Akira tersenyum.


"Kamu tidak pandai berbohong" ucap Sou kemudian mencubit pipi Akira.


"Akh.. sakit sakit" Akira mencoba melepaskan cubitan tangan Sou. "Sou jahat" rengeknya sambil mempoutkan bibirnya.


"Apa kamu sedang menggodaku hm? Jangan terlalu menggemaskan Akira, nanti aku benar-benar kehilangan akalku" ucap Sou tersenyum.


"Sou menyeramkan" ucap Akira akan berdiri, tapi Sou mencegahnya. Dia kembali membuat Akira terduduk di sampingnya tanpa ada jarak sedikit pun.


"Kamu yakin tidak ingin menceritakannya?" Tanya Sou menatap Akira. Mata mereka bertemu dan saling menatap cukup lama.


"Aku sedang bingung" jelas Akira membuka suaranya.


"Hm"


"Papa bilang dia akan menikah lagi" sendu Akira. Sou yang mendengarnya pun sedikit terkejut.


"Hm"


"Papa bilang Papa melakukannya karena aku harus selalu bekerja keras melakukan semua pekerjaan rumah. Katanya ada hal yang tidak bisa aku lakukan sebagai anaknya, ada batasan antara orang tua dan anak. Aku juga tahu tentang itu tapi rasanya aku tidak bisa menerimanya" jelas Akira.


Sou kemudian meraih kepala Akira dan menyandarkannya pada pundaknya.


"Sou?"


"Maaf Akira, aku tidak tahu apakah aku boleh berpendapat tentang ini atau tidak, tapi orang asing sepertiku tidak bisa seenaknya berpendapat bukan?" Ucap Sou menatap Akira. "Tapi aku yakin Papamu sangat menyayangimu. Papamu sangat memikirkanmu, dia tidak ingin kamu kelelahan" ujar Sou menatap langit.


"Kamu tahu? Meskipun pekerjaan mencuci adalah pekerjaan wanita tapi aku tetap merasa bersalah jika Ibuku yang melakukannya. Ibu selalu berkata, "tidak apa ini pekerjaan Ibu" tapi aku tetap merasa bersalah kepadanya jika aku tidak mencuci bajuku sendiri. Mungkin Papamu juga berpikiran seperti itu. Aku tahu Akira adalah gadis yang hebat. Kamu bisa melakukan semuanya sendiri, kamu gadis yang mandiri, tapi terkadang orang tua memiliki intuisi untuk selalu mengkhawatirkan anaknya. Meskipun tidak diperlihatkan tapi sebenarnya para orang tua masih mengkhawatirkan anaknya bahkan ketika mereka sudah dewasa. Aku tidak tahu apa keputusan Papamu benar atau salah, tapi yang pasti adalah Papamu sudah memikirkan ini dengan sangat baik. Papamu mempertimbangkannya dengan sangat matang. Kasarnya, kamu dan kakak-kakakmu sudah besar, kalian bisa menjaga diri kalian sendiri jadi tidak perlu orang lain yang membantu kalian bukan? Tapi Papamu memutuskan untuk menikah kembali berarti ada sesuatu yang dia pertimbangkan, benar kan?" Jelas Sou tersenyum tanpa menatap Akira.


"Akira ingin menangis" ucap Akira tiba-tiba.


Sou kemudian tersenyum, dia menatap Akira yang sudah siap menumpahkan air matanya.


"Tidak apa, menangislah" ucap Sou memeluk dan mengelus punggung Akira. 


"Tapi Akira tidak ingin seperti itu" ucap Akira di sela-sela tangisnya.


"Hm, aku mengerti. Kenapa Akira tidak bilang saja bahwa Akira tidak ingin Papa Akira menikah lagi?"


"Akira tidak bisa melakukannya, Akira takut.. hiks..hiks"


"Apa yang kamu takutkan?" Tanya Sou lembut. 


"Papa sudah tidak mencintai Mama lagi. Bagaimana jika ibu tiri itu jahat, bagaimana jika Papa meninggalkan kami nanti, Akira tidak mau seperti itu" ucapnya memeluk erat tubuh Sou. Dia meremas baju Sou.


Sou kemudian tersenyum. Dia tetap mengelus-elus punggung Akira untuk menenangkannya.


Selama beberapa lama tidak ada pembicaraan diantara mereka. Yang terdengar hanyalah isakan Akira, namun perlahan tangisannya juga semakin melemah.


"Apa sudah tenang sekarang?" Tanya Sou lembut.


"Hm"


"Maaf ya, aku membuatmu menangis seperti ini" ucap Sou menangkup wajah Akira dan menghapus air matanya.


"Ini bukan salah Sou, maaf" ucapnya menunduk.


Sou kemudian kembali memeluk tubuh Akira sekilas.


"Mau mendengarkanku lagi?" Tanya Sou menatap Akira.


"Hm"


"Terima kasih," ucap Sou tersenyum. "Dunia ini dipenuhi oleh manusia baik dan jahat. Memang banyak cerita anak-anak yang dianiaya dan ditelantarkan oleh orang tua tiri, tapi tidak sedikit juga yang bahagia setelah mendapatkan orang tua baru" ucap Sou tersenyum.


"Hati manusia memang selalu berubah-ubah, jika kamu menolak karena Papamu sudah tidak mencintai mendiang Mamamu menurutku itu bukan masalah besar, karena meskipun cinta Papa kepada Mamamu sudah hilang tapi bukti mereka pernah mencintai masih tetap ada di dunia ini, yaitu kamu dan kakak-kakakmu. Itu sesuatu yang tidak bisa dibantah Akira," jelas Sou yang membuat Akira kembali meneteskan air matanya. "Kamu dan kakak-kakakmu adalah bukti dari cinta Papa dan Mamamu. Meskipun cintanya menghilang tapi kalian masih ada di dunia ini. Itu tidak bisa mengubah apapun," 


"Jika kamu takut Papamu akan meninggalkanmu kita tidak bisa melakukan apapun karena yang berhak memutuskannya adalah Papamu sendiri. Tapi aku yakin Papamu tidak akan pernah melakukannya karena beliau sangat menyayangimu. Sesuatu yang baru memang sangat menakutkan tapi terkadang sesuatu yang baru itu akan memberikan kita pengalaman yang berharga. Kita tidak tahu bagaimana kedepannya, tapi mencoba mempercayainya itu bukan sesuatu hal buruk,"


"Tentu saja ini hanya pendapatku, kamu yang memutuskannya Akira. Meskipun kamu tidak menyetujuinya, kamu tetap harus menyampaikannya dengan baik pada Papamu, mungkin dengan begitu Papamu akan mengerti dan membatalkan niatnya" jelas Sou tersenyum.


Akira kemudian menghambur ke pelukan Sou.


"Terima kasih Sou, terima kasih banyak. Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Terima kasih banyak" ucap Akira mengeratkan pelukannya.


"Hm" Sou menganggukan kepalanya. "Maaf ya aku membuatmu menangis seperti ini lagi" ucap Sou mengelus lembut kepala Akira.


"Ini bukan salah Sou" ucap Akira melepaskan pelukannya. "Benar, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis" ucap Akira menghapus air matanya.


"Benarkah? Ini pertama kalinya lagi kamu menangis?"


"Hm"


"Kekasihku sangat kuat ternyata" ucap Sou tersenyum.


"Kuat?"


"Saat kakiku terkilir dulu, aku bahkan menangis di kamar"


"Eh benarkah?"


"Hm, aku menangis dengan sangat keras karena itu sangat menyakitkan. Kamu bilang ini pertama kalinya lagi kamu menangis berarti kamu sangat kuat Akira, aku merasa malu pada diriku sendiri" ucap Sou tersenyum. "Jangan menangis lagi ya, aku bukan tipe orang yang berkata semangatlah, tapi aku akan selalu ada bersamamu, jadi percayalah kepadaku. Kamu bisa lebih mengandalkanku"


"Hm" Akira berdehem dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Eh? Sepertinya aku membuatmu kembali menangis," ucap Sou terkejut. Dia kembali memeluk Akira. "Maaf Akira"


"Aku sangat beruntung memiliki kekasih seperti Sou. Aku mencintaimu, Sou" gumam Akira sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Sou cukup terkejut dengan perkataan Akira tapi seperdetik kemudian dia tersenyum.


"Aku lebih mencintaimu."


__ADS_2