
Sinar mentari yang hangat telah menerangi seisi kota. Kicauan burung yang terdengar merdu dengan aroma embun yang menyegarkan, menemani perjalanan Akira ke sekolah. Berbeda dengan orang-orang yang menyambut hari dengan semangat, Akira terlihat lesu. Sepanjang jalan dia hanya menundukan kepalanya dengan netra yang fokus pada jalanan.
"Selamat pagi" sapa Sou tersenyum yang sudah menunggu Akira di depan gerbang sekolah.
"Selamat pagi juga, Sou" sapa Akira tersenyum. "Dari dulu aku ingin menanyakannya, apa kamu tidak lelah menungguku di depan gerbang setiap hari?"
"Tentu saja tidak. Aku akan selalu menunggumu hingga kamu datang" ujar Sou yang juga tersenyum.
Akira tertawa kecil mendengar jawaban dari Sou.
"Terima kasih, Sou."
...****...
Istirahat..
"Hari ini aku membuat bakso untukmu" ujar Akira tersenyum.
"Bakso? Wahh aku sangat menantikannya. Ayo cepat Akira, aku sudah tidak sabar" ucap Sou bersemangat.
"Jangan berlari di lorong, Sou. Aku akan memberikan semuanya untukmu jadi tidak perlu terburu-buru. Mohon kritik dan sarannya ya" ujar Akira kembali tersenyum.
"Tentu saja. Jangan salahkan aku jika kritikanku terlalu tajam."
"Sou tidak akan melakukannya,"
"Kenapa? Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Aku cukup serius loh jika menyangkut kritik dan saran."
"Aku sangat yakin Sou tidak akan melakukannya."
"Hh kamu benar. Aku tidak akan melakukannya karena masakan Akira tidak butuh kritik dan saran lagi. Sudah perfect"
"Jangan berbohong Sou"
"Aku tidak berbohong, Akira"
"Bohong"
"Tidak"
"Benarkah?"
"Benar."
Tawa canda terdengar pada pasangan yang sedang dimadu kasih ini. Mereka terlihat senang dan bahagia, tergambar dari senyuman manis yang terlukis di bibir masing-masing.
Sesampainya di rooftop, Sou kemudian menutup pintu dan memegang pundak Akira. Dia menatap dalam mata Akira.
"Jadi, ada apa?" Tanya Sou menatap dalam mata Akira.
"Ada apa, apa?" Jawab Akira bingung.
"Mengapa pipimu merah seperti ini?" Tanya Sou mengelus lembut pipi Akira yang sedikit memerah.
"Ah ini kah? Apa kelihatan Sou? Padahal aku sudah menyembunyikan nya dengan bedak" jelas Akira ikut memegangi pipinya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa yang terjadi kepadamu, Akira?"
"Ah, maaf maaf. Sebenarnya aku malu mengatakannya Sou,"
"Malu?"
"Hm. Jika kamu ingin mengetahuinya kamu harus berjanji tidak akan tertawa? Apa kamu berjanji?"
"Aku berjanji."
"Sebenarnya.. tadi pagi aku berendam cukup lama di bathtub. Saat akan berdiri, pandanganku menjadi gelap dan aku terjatuh ke lantai dengan pipi terlebih dahulu" jelas Akira menundukan pandangannya.
"Mana mungkin aku bisa tertawa jika seperti itu ceritanya!" Protes Sou terkejut. "Itu sangat berbahaya Akira, apa kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
"Hm, aku baik-baik saja. Jangan beritahu siapapun ya, aku malu" ucap Akira dengan wajah yang memerah.
"Tapi apa memang seperti itu kejadiannya? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku bukan?"
"Apa kamu tidak percaya kepadaku?" Tersirat kesedihan dari netra Akira.
"Bukan seperti itu, aku hanya khawatir kepadamu. Jika ada masalah ceritakan saja, siapa tahu aku bisa membantumu. Jika ada yang memukulmu katakan kepadaku, biar aku yang memukulnya balik" jelas Sou menggenggam tangan Akira.
"Kamu menyeramkan, Sou. Aku benar-benar terjatuh tadi. Sikutku juga merah tadi, tapi sekarang sudah baik-baik saja" ucapnya menunjukan sikunya.
"Lain kali hati-hati, Akira. Meskipun ada Kakak-kakakmu yang menjagamu, tapi aku tetap khawatir" jelas Sou mengelus lembut kepala Akita.
"Aku mengerti, Sou. Ayo makan, aku sudah lapar" ucap Akira tersenyum.
"Hm, ayo."
Beberapa lama kemudian..
"Masakan Akira memang yang terbaik. Terima kasih ya" ujar Sou tersenyum.
"Sama-sama" jawab Akira yang juga tersenyum. Akira kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Sou.
"Apa ada sesuatu yang sedang mengganggumu hm?" Tanya Sou merangkul Akira agar lebih mendekat kepadanya.
"Tidak ada. Aku tahu seharusnya aku tidak sedekat ini dengan seorang pria apalagi itu Sou, tapi aku hanya merasa nyaman saat berdua dengan Sou seperti ini" jelas Akira tersenyum.
"Apa apaan itu? Aku pria yang baik, sangat baik dari apa yang kamu ketahui" protes Sou tak terima.
"Hm, aku tahu" jawab Akira tersenyum.
"Apa pipimu masih sakit?" Tanya Sou khawatir.
"Tidak, ini tidak sakit" jelas Akira memegangi pipinya.
"Syukurlah jika seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menghiburmu agar kamu kembali bersemangat, tapi jika pundakku bisa membuatmu nyaman, maka silahkan gunakan sesukamu, Akira" jelas Sou kembali mengelus kepala Akira.
"Tidak masalah jika kamu tidak menceritakannya sekarang. Aku siap mendengarkan ceritamu kapanpun kamu mau. Aku bersamamu, Akira"
"Sou jahat, aku jadi ingin menangis sekarang" ujar Akira mempoutkan bibirnya.
"Maka menangislah. Menangislah hingga kamu puas, Akira. Jangan menahannya sendirian"
"Sou.."
Detik itu juga Akira memeluk Sou cukup erat. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sou. Perlahan, isakan Akira terdengar semakin jelas dan semakin jelas, membuat hati Sou ikut tersayat.
Akhir-akhir ini Akira lebih sering menangis. Isakan Akira sangat menyakitkan. Pasti sesuatu telah terjadi padanya. Aku tidak bisa menyelam lebih jauh, karena Akira belum mengizinkannya. Aku hanya bisa melakukan apa yang bisa aku lakukan sekarang, tapi ini benar-benar membuat hatiku sakit.
Dengan lembut dan penuh perhatian, tangan Sou mengelus punggung Akira untuk memberikan ketenangan pada kekasihnya itu.
"Sou.."
"Aku disini, aku bersamamu."
Kumohon, aku tidak tega melihatnya. Kekasihku yang kuat sekarang sangat rapuh dan aku tidak bisa melakukan apapun selain menenangkannya. Maaf Akira, kumohon ini terakhir kalinya kamu seperti ini. Kumohon.
"Apa sudah tenang?" Tanya Sou masih memeluk kekasihnya itu.
"Maaf Sou, aku tidak bisa mengendalikan diriku"
"Akira.." Sou mengelus lembut pipi Akira. Dia menghapus setiap air mata yang jatuh dari mata indahnya.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu? Aku tidak bisa melihatmu serapuh ini, Akira"
"Sou"
Tangisan Akira kembali pecah. Hatinya sudah sangat hancur. Berbagai perasaan yang dia pendam selama ini, memberontak keluar dari tempatnya, tetapi dia tidak berani melewati tembok yang dia buat untuk membatasi urusan keluarganya.
"Kumohon Akira, katakan sesuatu. Aku ingin membantumu."
__ADS_1
"Sou, hatiku sangat sakit, benar-benar sangat sakit sekarang. Sou-"
Tanpa berlama-lama, Sou membawa Akira ke dalam dekapannya.
"Cukup. Cukup, jangan berbicara lagi Akira. Jangan mengatakan apapun lagi jika itu hanya akan membuatmu semakin menangis. Tidak apa, kamu tidak perlu memberitahuku. Aku akan bersamamu, aku bersamamu."
Netra Sou mengkilap, lengannya memeluk Akira cukup erat. Setiap isakan yang keluar dari mulut Akira bagaikan sebilah pisau yang menyayat hati Sou. Dia benar-benar tidak bisa melihat Akira seperti ini.
Beberapa lama kemudian Akira terlihat sudah tenang meskipun belum bisa mengatasi sesenggukannya. Sou dengan setia mengelus lembut punggung Akira.
"Sudah lebih baik?" Tanya Sou menangkup wajah sembab Akira.
"T-terima kasih Sou,"
"Jangan pernah ragu kepadaku, aku akan selalu ada jika kamu membutuhkanku"
"Hm, terima kasih."
"Kita mungkin akan terlambat masuk ke kelas, tapi pertama tenangkan dirimu dulu. Aku akan mengurus sisanya."
"Terima kasih banyak Sou."
...****...
"Hari ini juga Kak Yuki tidak menjemputmu, Akira?" Tanya Sou di depan gerbang.
"Hm, sepertinya begitu. Kakak sangat sibuk semenjak bekerja" ujar Akira tersenyum.
"Kalau begitu, ayo pulang bersama" ajak Sou mengulurkan tangannya.
"Apa?"
"Kamu masih tidak mengerti? Jahat sekali" ucap Sou kemudian menggenggam tangan Akira.
"Maaf" ucap Akira tersenyum.
Diterangi langit jingga kemerahan yang membentang di langit barat, kedua insan ini berjalan saling menggenggam tangan. Tidak ada percakapan diantara mereka, tetapi senyuman manis terlukis di wajahnya masing-masing.
"Hari ini istirahatlah dengan nyenyak, kamu pasti sangat lelah setelah banyak menangis tadi siang bukan?" Ujar Sou mengelus kepala Akira gemas.
"Hm, terima kasih untuk hari ini Sou."
"Ini bukan masalah, Akira. Hubungi aku jika terjadi sesuatu atau kamu membutuhkanku, oke?"
"Aku mengerti" jawab Akira tersenyum.
"Kamu yakin tidak perlu aku antar?"
"Yakin Sou. Ini sudah sangat sore, Bibi pasti sudah menunggu dirumah. Aku tidak bisa membuat Bibi lebih lama menunggu."
"Baiklah jika Akira berkata seperti itu. Hati-hati ya. Aku akan pergi setelah kamu"
"Baiklah, aku duluan ya. Hati-hati juga Sou. Bye-bye"
"Hm, bye-bye."
Aku harap kamu baik-baik saja Akira. Aku tahu ada sesuatu yang buruk telah terjadi kepadamu. Maaf karena ku tidak bisa membantumu, tapi aku akan menunggunya. Aku akan menunggu kamu memberikan izin agar aku bisa membantumu.
"Akira!" Teriak Sou pada Akira yang sudah berjalan cukup jauh.
Akira yang mendengarnya pun berbalik menatap bingung Sou seolah bertanya ada apa.
Tanpa suara, Sou hanya menggerakkan bibirnya saja.
Aku mencintaimu
"Aku juga!" Teriak Akira dari kejauhan.
"Eh? Apa dia mengerti? Hhh.. dasar Akira." Ujar Sou tersenyum.
__ADS_1