
"Kak, ada yang ingin aku bicarakan" jelas Shinji dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
"Apa? Katakan saja, atau ini urusan pribadi?"
"Tidak Kak, aku akan menyampaikannya sekarang saja selagi kita sedang berkumpul" ujar Shinji lagi.
"Kalau begitu katakan saja sekarang" titah Naoya lagi.
Meskipun Shinji mengatakan hal tersebut, tapi wajahnya berubah menjadi ragu. Dia tidak menatap Naoya, Akira maupun Alya.
"Ada apa Kak? Apa sesuatu yang buruk?" Tanya Akira membuka suara.
"Itu.. aku.."
"Ada apa Shin, jangan membuat kami penasaran" titah Naoya lagi.
Shinji kemudian berdiri dari duduknya, dia membungkukan badanya penuh hormat pada Naoya yang membuat semua orang bingung.
"Kakak?" Tanya Akira bingung.
"Maaf Kak, aku telah menghamili kekasihku" ucap Shinji sambil tetap membungkukan badannya.
Bagai sambaran petir di siang bolong, Naoya, Akira dan Alya terkejut hingga mematung di tempat. Tubuh mereka bahkan membeku beberapa detik.
"Maaf" ujar Shinji kembali yang membuyarkan ketiga orang itu.
"Kamu melakukannya? Kenapa kamu berani sekali melakukannya Shin? Keterlaluan!"
PLAK!!
Naoya menampar Shinji dengan sangat keras sehingga tubuh Shinji terjatuh ke belakang. Sedangkan yang ditampar juga kedua orang lainnya yang menyaksikannya semakin terkejut, tidak bisa melakukan apapun selain menutup mulutnya masing-masing.
"Kamu harus bertanggung jawab. Nikahi dia sekarang!" Marah Naoya. Dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan yang dia hadapi sekarang. Tanpa menunggu lama, dia kemudian berjalan pergi meninggalkan Shinji, Akira dan Alya.
"Aku tidak percaya Kak Shin melakukan hal sebejat ini" ujar Alya yang kemudian pergi dari sana juga.
"Kakak, apa Kakak baik-baik saja?" Tanya Akira sambil membantu Shinji berdiri.
"Wajar jika Kakak marah seperti tadi. Maaf ya Akira, kamu pasti sangat kecewa padaku"
"Hm. Akira tidak menyangka Kakak akan berbuat seperti ini. Tapi benar apa yang dikatakan Kak Nao, Kakak harus bertanggung jawab. Kakak harus menikah dengan kekasih Kakak" jelas Akira menatap sendu Shinji. "Tunggu Kak, biar Akira ambilkan kompresan dulu"
Tak lama kemudian, Akira kembali dengan membawa kompresan untuk Shinji.
"Apa sakit Kak?" Tanya Akira mengompres pipi Shinji yang terlihat merah.
"Akira, Kakak tau Kakak harus bertanggung jawab tapi Kakak belum bisa menikahinya" ucap Shinji membuka pembicaraan.
"Kenapa Kak?"
"Dia sangat menyukai pekerjaannya tapi perusahaannya tidak mempekerjakan karyawan yang sudah menikah. Kami sudah membicarakan ini dan dia masih ingin bekerja. Aku menghormati keputusannya jadi aku belum bisa menikahinya. A-aku.. aku juga belum siap" sendu Shinji.
"Tapi bukankah lebih baik jika Kakak menikah saja? Bukankah akan lebih banyak masalah jika kalian tidak menikah?"
"Aku juga inginnya seperti itu, tapi aku tetap belum bisa melakukannya"
"Bagaimana dengan orang tua kekasih Kakak?"
"Dia sudah tidak memiliki orang tua. Dia tinggal sendiri di apartemennya"
"Bukankah itu malah makin bermasalah Kak? Nanti kekasih Kakak jadi bahan omongan orang lain"
"Oleh karena itu Kakak bingung sekali. Aku khawatir padanya. Aku ingin menjaganya, aku ingin selalu ada untuk mengurusnya. Dia akan lebih aman bersamaku tapi Kakak tidak yakin Kak Nao akan mengizinkan dia tinggal bersama kita"
"Kakak benar, lebih aman jika kekasih Kakak ada yang menjaganya. Akira tidak berani berbicara pada Kak Nao tapi Akira akan membantu Kakak saat berbicara dengan Kak Nao. Mungkin Kakak akan marah lagi tapi kita harus mencobanya Kak. Jika kita menjelaskannya dengan baik, mungkin Kak Nao akan mengerti"
"Semoga saja seperti itu. Terima kasih Akira" ujar Shinji tersenyum.
Ini pertama kalinya lagi Kak Shin tersenyum pada Akira. Gawat, Akira sangat senang.
"Sama-sama Kak" ujar Akira yang juga tersenyum.
...****...
Aku memang tidak bisa menang saat berdebat dengan Kak Nao ditambah Alya juga yang menghalang-halangi. Tapi syukurlah Kakak mengizinkannya.
__ADS_1
Hari ini juga, setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihat Kak Shin kembali tersenyum kepadaku. Entah mengapa tapi rasanya seperti aku telah dimaafkan. Kakak juga sering mengajakku berbicara akhir-akhir ini. Aku tidak boleh membuatnya kembali marah. Untuk Kak Nao juga sama.
"Tolong maafkan adikku yang bodoh ini. Tinggal lah disini sampai kalian menikah" ujar Naoya menyambut kekasih Shinji.
"T-tidak Kak, justru aku yang meminta maaf. Ini pertemuan pertama kita tapi aku sudah menimbulkan masalah dan sekarang malah merepotkan Kakak sekeluarga" jelas Yuri, kekasih Shinji membungkukan badannya penuh hormat.
"Tidak apa. Kalian memang bersalah tapi aku tidak bisa membiarkan masalah ini menyebar dan nama keluarga Souma semakin tercoreng karenanya" jelas Naoya lagi.
"Terima kasih banyak Kak" ujar Yuri kembali membungkukan badannya penuh hormat.
Aku senang Kak Shin kembali tersenyum tapi aku merasa sedikit aneh dengan Kak Yuri. Tidak tahu kenapa, hatiku seperti tidak bisa menerimanya. Sedikit berbeda seperti saat pertama bertemu Alya, hatiku sudah menolak Kak Yuri bahkan saat dia berdiri di depan pintu. Padahal kami belum dekat, padahal Kak Yuri tidak memiliki salah apapun kepadaku tapi entah mengapa aku berpikir bahwa aku tidak bisa menyukainya.
Ini sangat berbeda dengan penjelasan Kakak saat itu. Ah, sepertinya Kakak sudah menjelaskannya dengan benar, hanya aku saja yang berharap terlalu tinggi.
Aku tidak masalah sih jika Kak Yuri ikut tinggal disini selama dia tidak melakukan yang buruk bagi Kak Shin dan Kakak yang lainnya, karena Akira tidak bisa langsung percaya kepadanya.
...****...
"Halo?"
"Ah, Akira kah? Ini Satomi, apa aku bisa berbicara dengan Naoya? Handphonenya tidak aktif"
"Tentu Kak, tunggu sebentar ya, Akira panggil Kakak dulu"
"Terima kasih, Akira"
Dengan tergesa, Akira pergi ke kamar Naoya. Dengan ragu dia mencoba mengetuk pelan pintu kamarnya.
"Aarrgghh! Kenapa jadi seperti ini?! Aku sungguh lelah. Pekerjaan dan masalah seperti tidak ada habisnya di rumah ini! Padahal dulu tidak seperti ini, tapi kenapa sekarang? Aku benar-benar sangat lelah."
Suara berat itu terdengar sangat frustasi. Intonasi Naoya semakin lama semakin rendah yang menghilang.
Kakak.. ada apa dengan Kak Nao?
Dengan rasa takut di dalam dirinya, Akira kembali mencoba mengetuk pintu kamar Naoya.
"Siapa?!" Bentaknya dari dalam kamar.
"I-ini Akira, Kak. K-Kak Satomi menelpon, ingin berbicara dengan Kakak" ucap Akira pelan. Sejak hari itu, Akira mulai ketakutan pada Naoya apalagi dia sedang dalam kondisi yang tidak baik saat ini.
Setelah mendapat jawaban dari Kakaknya itu, Akira kembali lebih dulu untuk menginformasikannya pada Satomi.
"Ah, Kakak sudah datang" ucap Akira tersenyum. Dia kemudian memberikan teleponnya pada Naoya dan pergi dari sana.
Pekerjaan dan masalah kah? Memang benar sejak dulu Kakak selalu sibuk dengan pekerjaan kantornya. Dan semenjak Papa pergi, Kakak menjadi semakin sibuk lagi.
Akira merasa sangat bersalah. Sebagian masalah yang datang di rumah ini karena kesalahan Akira dan Kakak yang harus menyelesaikannya. Padahal Kakak tidak melakukan kesalahan sama sekali tapi Kakak dipaksa untuk memikirkan dan menyelesaikan setiap masalah di rumah ini hanya karena dia adalah yang tertua. Kakak pasti sangat kelelahan. Bagaimana cara Akira menghiburnya ya?
"Hm, kita coba dulu saja kah? Kalau tidak dimakan biar untuk Akira saja" ucap Akira tersenyum.
Akira kemudian berjalan ke arah dapur dan mengobrak-abrik isi kulkas dan lemari. Dia kemudian mengambil beberapa bahan untuk dia masak.
Menit demi menit sudah berganti menjadi jam. Setelah beberapa lama Akira bergelut di dapur, dia terlihat sedang meregangkan tubuhnya.
"Akhirnya jadi juga" ucapnya tersenyum.
"Nona, apa yang nona lakukan? Kenapa tidak panggil bibi saja?" Tanya Bi Nanas menghampiri Akira.
"Tidak apa bi, lagipula cakenya sudah jadi" jelas Akira tersenyum.
"Apa ada yang berulang tahun hari ini?"
"Eh? Tidak, tidak ada. Akira hanya ingin membuat kue untuk Kakak saja, agar Kakak jadi lebih semangat. Sudah lama Akira tidak membuatkan kue untuk Kakak" jelasnya kembali tersenyum.
"Begitukah? Nona sangat menyayangi Tuan ya?"
"Hm sangat sangat. Oiya bi, setelah coklatnya mendingin, nanti bibi yang antarkan ya dan jangan bilang Akira yang buat. Akira takut Kakak marah, ya? Tolong.."
"Baik Non, nanti biar bibi yang antarkan"
"Terima kasih banyak bi. Akira ke atas dulu" pamit Akira tersenyum.
"Nona Akira ternyata anak yang baik, tapi kenapa dia selalu membuat saudaranya marah ya? Aneh sekali" jelas bibi menatap punggung Akira yang semakin menjauh.
...****...
__ADS_1
"Permisi Tuan, saya bawakan kue untuk Tuan" ucap bibi mengetuk pintu kamar Naoya.
Naoya terdiam saat melihat cake coklat yang cukup besar di tangan bi Nanas.
"Aku tidak ingat meminta dibuatkan kue" jelas Naoya bingung.
"A-ano, memang benar Tuan tapi b-bibi membuat ini agar Tuan lebih bersemangat lagi bekerjanya" jelas bibi tersenyum canggung.
"Akira yang buat, benar?"
"A-ah bukan, bukan Tuan. Saya yang buat, bukan Non Akira" ujar bibi panik.
"Aku tidak suka kebohongan tapi tidak masalah, terima kasih kuenya" ujar Naoya mengambil kue dari tangan bibi sambil tersenyum.
"Selamat menikmati Tuan" ucap bibi tersenyum.
"Ini pasti buatan Akira. Jelas sekali dia sengaja membuat kucing kecil menggunakan krim. Kebiasaannya tidak pernah berubah ternyata" jelas Naoya tersenyum.
Jika dipikir-pikir, kapan terakhir kali aku memakan kue kesukaanku ini ya? Apalagi buatan Akira. Rasanya sudah sangat lama sekali.
Akhir-akhir ini aku jarang sekali berbicara dengannya bahkan aku tidak pernah menyapanya lagi. Dia sudah membuatku kecewa sih. Tapi kenapa dia tiba-tiba membuatkan kue untukku?
Dulu dia anak yang manis dan baik. Adikku yang sangat penurut dan polos. Hatiku berkata bahwa tidak mungkin dia mencuri tapi buktinya sudah ada, itu jelas tidak bisa disangkal. Tapi aku merasa bersalah karena sudah menamparnya dengan sangat keras waktu itu.
Ini pertama kalinya untukku. Pertama kali Akira mencuri. Pertama kalinya aku merasa sangat kecewa. Pertama kalinya aku memarahi dan menamparnya. Apa aku sudah melakukan hal yang benar?
Netra Naoya memperhatikan setiap detail kue yang sudah Akira buat. Perlahan dia mengambil garpu dan memakannya.
Apa dia menangis saat itu? Aku tidak memperhatikannya, jadi aku tidak tahu. Apa dia membenciku? Aku juga tidak tahu.
"Tapi kue ini tetap seperti biasanya, sangat enak" ucap Naoya menatap langit-langit kamarnya. Perlahan butiran bening meluncur dari matanya, dia menangis.
Dengan air mata yang masih mengalir, Naoya memakan kuenya dengan lahap hingga tidak tersisa sedikitpun.
Apa aku melakukan hal yang benar?
...****...
Naoya sedang duduk di sofa ruang tengah, menunggu kedatangan seseorang.
"Akira," panggil Naoya menatap Akira.
Akira terlihat terkejut dan perlahan menghampiri Naoya dengan kepala yang ditundukan.
"M-maaf Kak, Akira hanya ingin membuatkan kue untuk Kakak" ucap Akira pelan. Tangannya bergetar, dia sangat ketakutan sekarang.
Apa kamu sangat membenci Kakak hingga tidak melihat mata Kakak?
Netra Naoya terlihat sendu, telapak tangannya yang besar menepuk pelan kepala Akira.
"Terima kasih kuenya. Tapi lain kali Akira harus memberikannya sendiri, jangan membuat bibi repot" jelas Naoya tersenyum kemudian pergi meninggalkan Akira sendirian.
Sementara itu, Akira tidak bergeming sama sekali. Netranya melebar dihiasi oleh lapisan bening yang siap dia tumpahkan dan benar saja, butiran bening itu mengalir di mata indah Akira. Dia kembali menangis.
Syukurlah.. apa Kakak sudah memaafkan Akira? Apa Kakak sudah tidak marah pada Akira? Akira tidak peduli tentang itu, tapi Akira benar-benar bahagia sekarang. Terima kasih Tuhan
Akira menggigit bibir bawahnya, berusaha keras agar isakannya tidak terdengar oleh semua orang di rumah ini. Tangannya sibuk menyeka air mata yang membasahi tubuhnya.
"Non, Nona, apa Nona baik-baik saja?" Tanya bibi khawatir. "Maaf Non, ini salah bibi. Maaf Non" ucap bibi memeluk tubuh Akira.
Akira tidak mengatakan apapun, dia hanya menangis di pelukan bibi.
"Apa ada yang sakit Non? Apa Tuan melakukan hal buruk lagi?" Tanya bibi semakin panik melihat Akira yang hanya bisa menangis dan tidak mengatakan apapun.
"Tidak bi, Kakak tidak melakukan apapun" jelas Akira kembali mengusap air matanya.
"Lalu mengapa Nona menangis?"
"Karena Akira sangat sangat senang. Maaf sudah membuat bibi khawatir."
Bi Nanas terlihat kebingungan dengan jawaban Akira. "Kalau seperti itu, jangan menangis lagi Non. Jika orang lain melihatnya apalagi Tuan Yuki, nanti akan salah paham" jelas bibi mengelus punggung Akira.
"Hm, bibi benar. Terima kasih bi" ucap Akira tersenyum.
Syukurlah.. syukurlah.. terima kasih banyak Tuhan, Akira sangat bahagia sekarang. Syukurlah.
__ADS_1