
"Selamat pagi" sapa Sou tersenyum.
"Selamat pagi, Sou" sapa Akira yang juga tersenyum.
"Kamu terlihat sangat bahagia hari ini, ada apa?" Tanya Sou tersenyum.
"Rahasia."
"Hmm.. tidak masalah. Ini lebih baik daripada melihatmu seperti kemarin" gumam Sou menatap Akira.
"Maaf Sou" ujar Akira menundukan pandangannya.
"Tidak masalah, Akira" Sou mengelus kepala Akira sambil tersenyum. "Jadi kita akan berkencan kemana hari ini?"
"Hm.. enaknya kemana ya? Ah, bagaimana jika ke tempat pertama kita berkencan? Aku ingin melihat bintang bersama Sou. Kita tidak pernah kesana pada malam hari sih"
"Tempat rahasia kah? Aku sih setuju saja tapi apa kamu diizinkan? Melihat bintang kan harus malam"
"Tenang saja, hari ini latihanku libur dan aku sudah izin pada Kakak. Melihat sebentar mungkin tidak masalah bukan?"
"Baiklah jika seperti itu. Biar aku yang bilang pada Kakak agar tidak memarahimu nanti. Ayo" ujar Sou tersenyum.
"Hm"
...****...
Akira menutup matanya, merasakan semilir angin lembut yang menerpa wajahnya. Kelopak bunga sakura yang berguguran, menghiasi langit jingga sore itu.
"Aku tidak tahu kita dapat melihat matahari terbenam disini" gumam Sou tersenyum.
"Indah bukan? Aku menyukainya" jelas Akira tersenyum.
"Aku juga menyukainya. Disini juga sangat nyaman" jelas Sou menatap Akira.
"Kamu benar."
Kedua insan ini tenggelam dalam keindahan pemandangan yang ada di hadapannya.
"Akira,"
"Hm?"
"Jujur hingga hari ini, sebenarnya aku masih mengkhawatirkanmu" jelas Sou mengelus lembut wajah Akira.
__ADS_1
"Aku sudah baik-baik saja Sou" jelas Akira tersenyum sambil menatap dalam mata Sou, dia sedang mencoba meyakinkan Sou.
"Aku percaya kepadamu" ucap Sou tersenyum. Tangannya masih setia mengelus wajah Akira dengan netra yang tidak berpaling sedikitpun.
"Hari itu aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Mencoba tersenyum seolah semua baik-baik saja membuat hatiku sakit, Akira. Itu sangat menyakitkan. Saat kamu menangis, hatiku semakin hancur. Benar-benar hancur. Aku selalu berpikir bagaimana caranya agar aku bisa membantumu, tapi hari itu kamu tidak ingin menceritakannya kepadaku" jelas Sou mengalihkan pandangannya pada pemandangan langit jingga itu.
"Aku-"
"Aku tahu. Aku mengerti bahwa tidak semua masalah bisa diceritakan sekalipun itu kepadaku, kekasihmu. Aku tidak marah atau curiga sedikitpun, tapi jika Akira sudah memutuskan seperti itu, bukankah itu artinya aku tidak bisa menyelesaikan masalahmu, benarkan?" Jelas Sou tanpa menatap Akira.
"Saat itu aku menyadari bahwa menenangkanmu saja tidak cukup. Aku ingin membantumu. Katakan Akira, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa membantumu? Agar aku bisa melindungi dirimu dan senyumanmu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Sou menatap dalam mata Akira. Netranya tegas, menunjukan dia sedang bersungguh-sungguh.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun. Cukup tetap disampingku, tetaplah bersamaku."
Angin kembali berhembus, menerbangkan anak rambut mereka dan menggugurkan kelopak bunga sakura di dekatnya.
"Akira.."
"Sou adalah orang yang sangat bisa diandalkan. Aku tidak pernah berpikir jika Sou tidak bisa membantuku. Buktinya, sampai detik ini Sou selalu membantuku. Kamu bahkan menyadari jika aku sedang tidak baik-baik saja. Kamu selalu ada saat aku membutuhkanmu. Kamu selalu memberikan pundakmu saat aku butuh sandaran. Kamu selalu menghiburku saat aku sedang sedih. Kamu selalu menenangkanku saat aku tidak bisa mengendalikan diriku. Kamu bahkan ikut menangis saat aku menangis. Kamu sudah sangat membantuku, Sou. Kamu sudah lebih dari sekedar membantuku, Sou. Tidak ada yang perlu kamu lakukan lagi. Dengan adanya kamu disampingku, itu sudah sangat membuatku menjadi baik-baik saja" jelas Akira tersenyum. Manik coklatnya menatap dalam mata Sou penuh kehangatan.
"Alasan mengapa aku tidak memberitahumu adalah karena aku tidak bisa melibatkanmu dalam masalahku. Aku tidak ingin merepotkan Sou lebih dari ini. Aku berpikir bahwa aku bisa menyelesaikannya sendiri, oleh karena itu aku tidak memberitahumu. Tapi pada kenyataannya, aku hanya gadis lemah dan cengeng. Aku tidak bisa melakukannya sendirian dan aku malah menangis kepadamu. Maaf sudah membuatmu berpikir seperti itu Sou, sungguh maafkan aku" ujar Akira menundukan pandangannya. Tangan mungilnya menggenggam tangan Sou yang lebih besar dari tangannya sendiri.
"Tolong tetaplah disampingku, tetaplah bersamaku, Sou. Kamu sangat berharga bagiku."
Tidak ada keraguan, tidak ada kebohongan. Hanya ada keyakinan yang tersirat dari netra coklat Akira.
Perlahan tangan Sou menangkup wajah cantik Akira. Dia ikut menatap dalam mata Akira.
"Akira, aku sangat mencintaimu."
Tanpa menunggu lama, Sou kemudian menarik wajah Akira. Dia menyatukan bibir miliknya dengan bibir cherry milik Akira yang dibumbui sedikit *******.
"Aku juga sangat mencintai Sou."
...****...
Menit demi menit sudah mereka lalui. Sinar jingga keunguan itu telah berganti menjadi cahaya perak yang indah di bawah sang Purnama. Lampu-lampu dari seluruh kota menambah ornamen kerlap-kerlip di malam itu.
"Pemandangan indah di tempat yang nyaman seperti ini, benar-benar menakjubkan. Aku jadi ingin tertidur" ujar Sou tersenyum. Dia kemudian menidurkan dirinya di pangkuan Akira.
"Sou benar, ini sangat indah" ujar Akira yang juga tersenyum. Dia menundukan pandangannya agar bisa melihat wajah tampan Sou. Tangannya dengan lembut mengelus kepala Sou.
"Terus elus kepalaku seperti itu, aku menyukainya" jelas Sou tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya sampai Sou puas" ujar Akira ikut tersenyum.
Mereka terlihat sangat menikmati pemandangan indah di hadapannya itu.
"Sou, aku sangat bersyukur karena kamu menjadi kekasihku. Aku benar-benar sangat bahagia" jelas Akira tetap setia mengelus kepala Sou.
"Kedepannya akan lebih membahagiakan" jelas Sou tersenyum. "Aku sudah menemukan perjalanan yang baru bagi hidupku."
"Perjalanan? Perjalanan apa maksudnya?"
"Perjalanan yang tenang tetapi luar biasa" ujar Sou tersenyum. "Aku akan lulus sekolah dan bekerja. Lalu saat libur, kita akan pergi keluar bersama. Di saat itu, keluarga pun akan bertambah. Meski berisik, tapi itu akan menjadi hari-hari yang menyenangkan. Kita akan menua bersama-sama, lalu ketika menjadi kakek dan nenek, mungkin kita bisa ikut menjaga cucu kita. Semakin berisik dan berpikir bahwa itu merepotkan, tapi nanti akan semakin menyenangkan" jelas Sou tersenyum. Matanya yang berbinar, menatap dalam mata Akira.
"Itu perjalanan yang sangat indah, Sou" ujar Akira tersenyum. Dengan mata yang berbinar serta wajah yang memerah, Akira ikut tersenyum menatap kekasihnya itu.
"Akira, perhiasan apa yang kamu sukai?"
"Perhiasan kah? Aku suka perhiasan apapun yang Sou pilihkan. Aku paling menyukai sesuatu yang dengan sengaja kamu pilihkan untukku" jelas Akira tersenyum.
"Aku mengerti" ujar Sou tersenyum.
Sou kemudian menarik kembali wajah Akira agar lebih mendekat kepadanya. Dia kembali menyatukan bibirnya dengan bibir cherry milik Akira dan saling bertukar saliva.
"Tunggu aku Akira, aku pasti akan melamarmu dan membuat perjalananku menjadi kenyataan."
"Hm, aku akan menunggunya."
"Aku benar-benar mencintaimu" ujar Sou kembali tersenyum.
"Aku juga mencintaimu, Sou. Jangan diulang-ulang, aku malu" ucap Akira tersenyum.
"Tidak apa, aku menyukai wajahmu yang sedang malu-malu."
"Sou menyebalkan" ucap Akira menghentikan aktivitasnya mengelus kepala Sou.
"Hhh.. maaf maaf. Apa kamu menikmati kencan kita?"
"Tentu saja. Aku selalu menikmatinya" ujar Akira tersenyum.
"Kalau begitu kita pulang kah? Ini sudah malam dan kita juga sudah menikmati kencan kita bukan? Aku tidak ingin dimarahi oleh Kak Shin dan Kak Nao."
"Ah Sou benar. Ayo kita pulang."
Sou kemudian bangun dari tidurnya. Dia menggenggam tangan Akira.
__ADS_1
"Ayo."