
Keesokan harinya...
Akira terbangun dengan kepala yang sedikit pusing. Kemarin dia pulang larut malam dari kegiatan latihannya. Energinya benar-benar terkuras habis karena dia menghabiskan satu hari itu dengan kegiatan yang padat. Dia bahkan melewatkan makan malamnya. Meski Papa dan Kakaknya sudah menyuruhnya untuk makan walaupun sedikit, tapi Akira benar-benar lelah sehingga dia langsung tertidur.
"Kepala Akira pusing sekali" ucap Akira memegangi kepalanya dengan mata yang masih tertutup.
Dia terdiam beberapa saat lalu bangun perlahan. Dia berjalan pelan ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.
"Dimana obatnya ya?" Ucap Akira mencari obat di dalam nakas tepat setelah dia keluar dari kamar mandi.
"Ah ini dia. Ini pasti karena Akira memaksakan diri kemarin" ucap Akira kemudian meminum obatnya. "Kamu kuat Akira" ucapnya lagi menyemangati dirinya sendiri.
Setelah selesai dengan segala urusannya, Akira kemudian turun ke bawah untuk membuat sarapan. Dia sangat cekatan dalam menyiapkan bahan masakan dan mengolahnya.
"Selamat pagi Akira" sapa Papa.
"Selamat pagi Pa-- Akira tersenyum --Papa duduk dulu saja, sarapannya sebentar lagi siap."
"Baiklah, terima kasih" ucap Papa tersenyum.
"Selamat pagi Pa, selamat pagi Akira" sapa Yuki.
"Selamat pagi Kak" jawab Akira.
"Seperti biasa, Akira selalu rajin. Selamat pagi" ucap Shinji tersenyum.
"Selamat pagi Kak Shin" ucap Yuki.
"Selamat pagi" sapa Naoya yang baru datang.
"Selamat pagi Kak Shin, Kak Nao" ucap Akira tersenyum.
Saat kembali fokus memasak, Akira mengerjapkan matanya beberapa kali karena pandangannya terlihat kabur.
(Ayolah, jangan sekarang. Akira kuat) ucap Akira dalam hati.
Tak lama kemudian Akira selesai memasak dan menatanya di meja makan.
"Terima kasih sayang" ucap Papa tersenyum.
"Sama-sama Pa" jawab Akira yang juga tersenyum.
"Terima kasih Akira, selamat makan" ucap Yuki.
"Sama-sama Kak" ucap Akira tersenyum.
"Selamat makan" ucap Naoya dan Shinji.
Seperti biasa, pembicaraan di pagi hari untuk mengetahui keadaan satu sama lainnya, sudah menjadi rutinitas di dalam keluarga Souma. Begitupun dengan hari ini, terdengar pembicaraan yang disertai tawa dari semua orang yang ada di meja makan kecuali Akira. Hari ini Akira hanya diam dan sesekali tersenyum mendengarkan Papa dan Kakaknya bercerita. Dia tampak tidak semangat dan banyak menunduk.
"Makan yang banyak Akira, Akira sangat kurus. Kakak takut kamu terbawa angin nanti" goda Shinji tersenyum.
"Iya Kak" ucap Akira datar.
"(Tumben sekali anak ini tidak membalas perkataanku, biasanya Akira akan marah dan selalu mengejekku balik)" batin Shinji bingung.
"Akira?" Tanya Papa.
Akira menatap Papanya. "Iya Pa, ada apa?" Tanya Akira.
"Apa Akira sakit? Akira terlihat tidak bersemangat dan wajah Akira sedikit pucat" ucap Papa khawatir.
Mendengar perkataan Papanya, Naoya dan Yuki ikut menatap Akira.
"Akira baik-baik saja Pa" ucap Akira tersenyum.
"Benarkah?" Tanya Papa lagi.
"Benar Pa, wajah Akira pucat karena tadi Akira mandi menggunakan air yang terlalu dingin" jelas Akira. (Maaf Pa, Akira sudah berbohong) ucap Akira lagi di dalam hati.
"Apa Akira benar baik-baik saja?" Tanya Naoya khawatir.
"Iya Kak, Akira baik-baik saja" ucap Akira lagi.
Yuki yang kemudian menyentuh kening Akira dengan tangannya. "Tubuhnya tidak panas, mungkin Akira benar Pa."
"Kan Akira sudah bilang, Akira tidak berbohong" ucap Akira mengerucutkan bibirnya.
"Papa dan Kakak hanya khawatir dengan Akira, maaf ya sudah tidak percaya pada Akira" ucap Papa.
Akira mengangguk. "Akira juga minta maaf" ucap Akira kembali menunduk.
"Syukurlah jika Akira baik-baik saja" ucap Naoya tersenyum.
"Kalau Akira baik-baik saja, seharusnya Akira lebih bersemangat, ini kan masih pagi" ucap Shinji.
"Masa iya Akira harus joget-joget begitu?" Ucap Akira bingung.
"Ya tidak harus joget-joget juga" ucap Shinji bingung.
"Kak Shin aneh" ucap Akira lagi.
Yuki dan Naoya berusaha menahan tawanya melihat Akira yang selalu bisa membuat Shinji tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sudah-sudah, habiskanlah makanannya" ucap Papa tersenyum.
"Baik Pa."
Setelah selesai sarapan, Papa, Naoya, dan Shinji pergi duluan meninggalkan Yuki dan Akira yang masih di rumah.
"Kakak ayo berangkat, Akira tidak ingin terlambat" ajak Akira.
"Akira benar-benar baik-baik saja kan?" Tanya Yuki. Sebenarnya dia masih khawatir dengan Akira dari tadi.
"Benar Kak, Akira baik-baik saja" ucap Akira yakin.
"Baiklah jika Akira bilang seperti itu, tapi jangan memaksakan diri sendiri ya. Ayo berangkat" ucap Yuki tersenyum.
"Akira mengerti Kak, ayo" jawab Akira tersenyum.
Di sekolah...
"Akira, yang semangat belajarnya ya, nanti sore Kakak jemput. Ingat Akira, jangan memaksakan dirimu sendiri, Akira mengerti maksud Kakak bukan?" Tanya Yuki.
"Akira mengerti Kak" jawab Akira tersenyum.
"Yosh, anak pintar-- Yuki mengacak-acak rambut Akira-- Kakak pulang ya" pamit Yuki.
Akira memundurkan kepalanya dari tangan Yuki. "Kakak kebiasaan, selalu mengacak-acak rambut Akira" ucap Akira merapikan rambutnya dengan bibir yang dimajukan.
Yuki tersenyum. "Habisnya Adik Kakak yang cantik ini sangat menggemaskan. Baiklah, Kakak pulang ya" pamitnya.
"Iya Kak, terima kasih. Hati-hati dijalan" ucap Akira tersenyum.
Yuki mengangguk. "Bye-bye Akira. Semangat."
Akira tersenyum. "Bye-bye Kakak" ucap Akira melambaikan tangannya.
Setelah Yuki pergi, Akira memasuki sekolah dengan pelan. Kepalanya benar-benar pusing sekarang. Dia berjalan cukup lambat dengan kepala yang menunduk.
Sesampainya di kelas, Akira langsung duduk dan menundukan kepalanya dengan tangan yang dilipat sebagai tumpuan.
(Kenapa kepala Akira semakin pusing? Bukankah tadi Akira sudah meminum obat?) Akira memejamkan matanya.
"Selamat pagi Akira-- sapa Ayano tersenyum --kamu kenapa?" Tanyanya melihat Akira yang menunduk.
"Selamat pagi Ayano" ucap Akira tersenyum.
"Wajahmu pucat, apa kamu sakit?" Tanya Ayano lagi.
Akira tersenyum. "Hanya sedikit pusing, tapi aku tidak apa-apa."
"Apa sudah minum obat?" Tanyanya lagi.
Akira mengangguk. "Sudah."
"Baiklah, jika terjadi apa-apa bilang saja padaku ya" ucap Ayano khawatir.
__ADS_1
Akira mengangguk. "Terima kasih" ucap Akira tersenyum lalu kembali menundukan kepalanya.
Selama pelajaran berlangsung, Akira selalu menundukan kepalanya dan sesekali melihat guru yang sedang menjelaskan di depan kelas. Dia juga tidak menulis apapun di buku catatannya padahal Akira adalah siswa yang cukup rajin menulis penjelasan dari guru.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Ayano mengelus punggung Akira dan Akira hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Mau aku antar ke UKS?" Tanya Ayano lagi.
Akira menggeleng. "Tidak, Aku baik-baik saja" jawab Akira masih dengan kepala yang menunduk.
"Apa kamu yakin?" Tanya Ayano lagi.
"Aku yakin" ucap Akira masih dengan posisi yang sama.
Ayano sebenarnya sudah khawatir dengan Akira sejak tadi pagi. Hanya saja jika Akira mengatakan bahwa dia baik-baik saja, itu berarti dia benar-benar baik-baik saja karena Akira lebih mengetahui kondisi tubuhnya sendiri dibandingkan orang lain, sehingga Ayano tidak bisa memaksa Akira untuk menuruti perkataannya.
"Baiklah" ucap Ayano yang masih mengelus punggung Akira.
Disisi lain...
(Ada apa dengannya? Apa dia sakit?) Ucap Sou dalam hati memperhatikan Akira.
Saat istirahat...
"Akira aku ke toilet dulu ya, hanya sebentar" izin Ayano.
Akira mengangguk. "Iya, pergilah."
Setelah Ayano pergi, Sou kemudian menghampiri Akira.
"Akira, kamu baik-baik saja?" Tanya Sou.
"Aku baik-baik saja" ucap Akira masih menunduk.
"Pinjam tanganmu" ucap Sou mengulurkan tanganya.
"Untuk apa?" Tanya Akira menatap Sou bingung.
Sou kemudian tersenyum. "Berikan saja tanganmu, hanya sebentar."
Akira kemudian mengulurkan tangannya dan Sou lalu menggenggamnya.
"(Panas sekali) Kamu tidak baik-baik saja. Tunggu sebentar, aku akan mengambil obat" ucap Sou meletakan tangan Akira dengan hati-hati. Dia kemudian berjalan ke luar kelas.
"Tidak perlu Sou, aku bisa ambil sendiri" ucap Akira sedikit berteriak karena Sou berjalan sangat cepat dan tidak menghiraukan Akira, dia terus berjalan menuju UKS.
Beberapa saat kemudian...
"Akira" panggil Sou.
Akira kemudian mengangkat kepalanya.
"Minumlah" ucapnya memberikan obat dan botol minum milik Sou.
"Terima kasih banyak Sou, maaf aku jadi merepotkanmu. Aku bawa minum sendiri" ucap Akira kemudian meminum obatnya.
"Bukankah lebih baik kamu istirahat di UKS atau izin pulang saja? Tubuhmu panas Akira" Tanya Sou duduk di bangku yang ada di depan Akira.
"Tidak, nanti aku tertinggal pelajaran" ucap Akira.
"(Apa orang tuanya cukup keras sama seperti orang tuaku?) Kamu bisa menyalin catatan dariku nanti. Sekarang ayo ke UKS, kamu harus istirahat" ucap Sou lagi.
Akira menggeleng. "Tidak Sou, lagipula aku sudah lebih baik dengan minum obat, terima kasih" ucap Akira tersenyum.
Sou menghela nafasnya. Dia tidak bisa memaksa lebih jauh dari ini, Sou merasa dia tidak memiliki hak untuk itu.
"Baiklah, jika butuh sesuatu kamu bisa mengandalkanku" ucap Sou tersenyum.
"Terima kasih Sou" ucap Akira yang juga tersenyum.
"Akira, kamu baik-baik saja?" Ucap Ayano yang baru datang.
"Aku baik-baik saja, Ayano" ucap Akira tersenyum.
"Kamu yakin? Biar aku ambilkan obat ya" ucap Ayano akan melangkah pergi.
"Kamu kalah cepat Ayano" ucap Sou.
"(Ternyata Sou orangnya peduli ya) Sepertinya begitu ya-- Ayano menatap Sou --Syukurlah jika begitu" ucap Ayano tersenyum lalu duduk di bangkunya.
Tak lama kemudian, bel masuk kembali berdering.
"Kamu yakin baik-baik saja?" Tanya Sou.
"Aku baik-baik saja, jangan terlalu mengkhawatirkanku Sou. Terima kasih" ucap Akira tersenyum.
"Baiklah aku percaya padamu. Kamu bisa mengandalkanku Akira-- Sou tersenyum menatap Akira --Baiklah, aku akan kembali ke tempat dudukku" pamit Sou.
Akira dan Ayano kemudian mengangguk paham. Mereka kemudian kembali belajar. Kepala Akira sudah tidak terlalu pusing setelah minum obat tadi. Dia sudah bisa mengikuti penjelasan guru walaupun dengan lambat.
Saat Akira mencoba untuk fokus ke depan, dia tidak sengaja menangkap Sou yang tengah melihat ke arahnya.
(Apa yang sedang Sou lihat?) Ucap Akira dalam hati, dia kemudian tersenyum kepada Sou.
(Ya ampun, dia tersenyum kepadaku-- Sou sedikit terkejut --Sepertinya aku terlalu khawatir kah?) Batin Sou. Dia kemudian membalas senyuman Akira dan kembali menatap ke depan dimana guru sedang menjelaskan pelajaran.
Sepulang sekolah...
"Ah iya, kita jadi kan ke rumahku? Kita sudah tidak memiliki waktu untuk mengerjakan tugas kemarin" ucap Akira.
"Ayolah, yang benar saja Akira. Kamu sedang sakit dan sekarang malah memikirkan tugas. Kamu istirahat saja, biar kita berdua yang mengerjakan tugasnya" ucap Sou.
"Benar Akira. Kamu istirahat saja di rumah, biar kami yang mengerjakan tugasnya" ucap Ayano.
"Tidak mau, aku juga ingin mengerjakan tugasnya, aku tidak mau mendapat nilai buta" ucap Akira.
"Itu bukan nilai buta, kamu sedang sakit jadi tidak masalah" ucap Sou lagi.
"Tidak mau, aku harus mengerjakan tugasnya juga" teguh Akira.
"Kami tidak ingin kamu sakit lagi Akira. Sekarang mungkin sudah membaik tapi bagaimana nanti?" Jelas Ayano.
"Tidak mau! Akira mau mengerjakan tugasnya, pokoknya Akira harus ikut" ucap Akira kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
Sou dan Ayano kemudian saling bertukar pandang. Mereka kemudian tertawa.
"Kamu sangat menggemaskan, seperti anak kecil hahaha..." ucap Ayano.
Akira terdiam sesaat. (Ya ampun, sepertinya Akira kelepasan lagi, Ayano dan Sou pasti akan mengejek Akira) ucap Akira dalam hati.
"Itu benar, kamu sangat menggemaskan Akira" ucap Sou tersenyum.
"Jangan mengejekku" ucap Akira menunduk dengan suara yang kecil.
"Kamu benar-benar sangat menggemaskan saat kesal dan saat merajuk seperti ini" ucap Sou lagi.
"Aku setuju" ucap Ayano tersenyum juga.
"Jadi, aku boleh ikut mengerjakannya bukan?" Tanya Akira lagi.
"Apa kamu benar baik-baik saja?" Tanya Sou lagi.
"Jika Akira sudah bisa kembali kesal dan menggemaskan itu berarti Akira sudah baik-baik saja" ucap Ayano tersenyum.
"Ayano benar, aku sudah baik-baik saja. Lagipula jika nanti aku pingsan itu tidak masalah karena aku berada di rumahku sendiri" jelas Akira.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu Akira" ucap Sou.
(Padahal tadi dia sangat lemah, tapi sekarang sudah bersemangat seperti ini) ucap Sou dalam hati menatap Akira.
"Baiklah ayo kalau begitu, Kakak pasti sudah menunggu di bawah" ucap Akira.
"Tapi kamu benar-benar baik-baik saja kan?" Tanya Ayano kembali memastikan.
"Aku baik-baik saja" ucap Akira tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, pelan-pelan saja jalannya ya" ucap Sou.
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian pergi berjalan keluar kelas menuju ke rumah Akira.
Sesampainya di gerbang sekolah...
"Akira.." panggil Yuki sambil melambaikan tangannya.
"Kakak apa sudah menunggu lama?" Tanya Akira saat sudah di hadapan Yuki
"Tidak, Kakak baru sampai" ucap Yuki tersenyum.
"Kita bertemu lagi Sou-- Yuki tersenyum --Ini teman Akira yang akan kerja kelompok juga ya?" Tanya Yuki pada Ayano.
"(Kakaknya Akira benar-benar tampan) Benar Kak, selamat sore saya Ayano" sapa Ayano menatap Yuki.
"Selamat sore juga, salam kenal ya. Ayo kita pergi" ucap Yuki tersenyum.
Sepanjang perjalanan, Akira kembali diam dan menunduk. Kepalanya mulai terasa pusing lagi. Dia tetap diam saat Yuki dan kedua temannya tertawa membicarakan hal lucu.
Di rumah...
"Akira pulang" ucap Akira memasuki rumah. "Masuklah" ucap Akira pada Sou dan Ayano.
"Permisi" ucap Ayano.
"Permisi, maaf mengganggu" ucap Sou.
"Anggap rumah sendiri ya" ucap Yuki tersenyum yang dibalas senyuman oleh Sou dan Ayano.
"Wahh.. banyak sekali medali dan pialanya" ucap Ayano kagum melihat lemari kaca yang dipenuhi oleh piagam, medali, dan piala.
"Ini semua penghargaan siapa?" Tanya Sou.
"Itu milik Akira, dia benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan semua ini. Dia selalu latihan bahkan hingga malam hari dan inilah hasilnya" jelas Yuki tersenyum.
"Ah benar, Akira pernah bilang kalau dia harus latihan bulutangkis" ucap Sou tersenyum.
Sou dan Ayano kemudian melihat-lihat medali dan piala milik Akira. Saat sedang melihat-lihat medali yang ada, Ayano kemudian teringat sesuatu.
"Ah benar! Pantas saja aku merasa pernah mendengar nama Souma Akira, itu kamu kan Akira? Yang menjadi juara pertama turnamen kejuaraan internasional tingkat junior empat kali berturut-turut?" Tanya Ayano.
"Eh benarkah? Ya ampun, aku tidak tahu sehebat apa kamu Akira. Berarti kamu seorang atlet?" Ucap Sou tidak percaya.
"Betul, dia adalah anggota tim bulutangkis nasional" ucap Yuki bangga.
Sou terlihat sangat terkejut begitupun juga dengan Ayano. Walaupun dia tahu Akira adalah juara internasional tapi dia tetap terkejut mendengar pernyataan Yuki.
"Ya ampun, aku tidak menyangka akan memiliki seorang teman yang sangat hebat sepertimu" ucap Sou masih terkejut.
"Benar Sou, aku juga tidak menyangka bisa berteman dengan seorang atlet" ucap Ayano.
"Aku tidak sehebat itu Ayano tapi terima kasih. Duduklah dulu, aku akan menyiapkan minuman" ucap Akira tersenyum.
(Aku tidak tahu ternyata Akira seseorang yang sangat hebat, selain cantik dan baik dia juga sangat berbakat) ucap Sou dalam hati menatap Akira.
Akira kemudian pergi ke dapur yang disusul oleh Yuki.
"Kakak sudah makan?" Tanya Akira saat Yuki sudah duduk di meja makan.
Akira tersenyum saat mendapatkan gelengan kepala dari Yuki.
"Tunggu sebentar ya, biar Akira masak dulu" ucap Akira tersenyum.
"Sekalian dengan teman Akira ya-- Yuki tersenyum --Kakak akan panggil yang lain dulu ya" ucap Yuki kemudian pergi ke ruang tengah.
"Iya Kak, tolong ya. Terima kasih" ucap Akira tersenyum.
Tak lama kemudian, Yuki kembali ke dapur.
"Mereka tidak mau makan Akira" ucap Yuki.
"Kenapa? Kenapa mereka tidak mau makan Kak? Biar Akira yang ajak" ucap Akira kemudian berjalan ke ruang tengah.
"Teman-teman, ayo makan dulu. Kalian kan belum makan" ajak Akira.
"Tidak Akira, tidak perlu. Kami kesini untuk mengerjakan tugas, bukan untuk makan" ucap Ayano.
"Ayano benar, tidak perlu Akira. Kami akan makan di rumah saja nanti" ucap Sou tersenyum.
"Apa kalian yakin?" Tanya Akira memastikan.
"Yakin" ucap Ayano dan Sou.
"Baiklah, tunggu sebentar ya. Aku akan segera kembali" ucap Akira tersenyum. Dia kemudian kembali ke dapur setelah mendapati anggukan dari kedua temannya.
"Ini Kak" ucap Akira memberikan sepiring nasi.
"Terima kasih" ucap Yuki tersenyum.
"Sama-sama."
Akira kemudian membuat jus untuk teman-temannya. Namun saat akan mengambil buah, buah itu terjatuh sehingga Akira harus menunduk untuk mengambilnya. Yuki merasa khawatir saat Akira tidak kunjung berdiri juga.
"Akira?" Ucap Yuki berdiri akan menghampiri Akira. Namun saat akan melangkah, Akira sudah berdiri.
"Ada apa Kak?" Tanya Akira.
Yuki menatap Akira sebentar. "Tidak, tidak ada" ucap Yuki.
Akira kemudian melanjutkan kegiatannya. Matanya menangkap Yuki yang terus memperhatikannya.
"Ada apa Kak? Jangan dilihat terus, nanti Akira malu" ucap Akira.
Yuki tersenyum. "Akira terlalu percaya diri, Kakak tidak melihat Akira" ucap Yuki mengelak.
Akira hanya menatap kesal pada Yuki. "Kakak juga mau jus tidak?" Tanya Akira.
"Tidak perlu, ini saja belum habis" ucap Yuki tersenyum.
"Baiklah, Akira ke depan dulu ya" ucap Akira membawa 2 gelas jus dan beberapa camilan. Mereka kemudian mulai mengerjakan tugasnya.
Di tengah mengerjakan tugas...
"Aku izin ke toilet sebentar ya" ucap Akira yang kemudian diangguki oleh Sou dan Ayano.
(Kepala Akira pusing lagi. Tolong bertahanlah hingga kami selesai mengerjakan tugasnya) ucap Akira dalam hati sambil berjalan pelan.
"Akira" panggil Yuki.
"Ada apa Kak?" Tanya Akira.
Yuki tidak menjawab pertanyaan Akira, dia hanya memegang pundak Akira dan menatap dalam matanya cukup lama.
"Kakak?" Tanya Akira bingung.
"Biar Kakak bantu tugasnya ya" ucap Yuki yang kemudian berjalan ke arah Sou dan Ayano.
"Ada apa dengan Kakak?" Ucap Akira bingung. Dia kemudian melanjutkan tujuannya yaitu ke toilet.
Disisi lain...
"Biar aku bantu ya" ucap Yuki tersenyum.
"Tidak perlu Kak, kami sudah hampir selesai" ucap Sou.
"Tidak perlu sungkan, biar aku bantu" ucap Yuki tersenyum.
"Baiklah, mohon bantuannya Kak" ucap Sou lagi.
Mereka kemudian mengerjakan tugasnya dibantu oleh Sou. Tak lama kemudian, Akira kembali dan ikut bergabung.
"Akira sudah kembali, biar Akira yang kerjakan Kak" ucap Akira.
Yuki menggeleng. "Tidak perlu, Kakak juga hampir selesai. Akira kerjakan bagian yang lain saja" ucap Yuki tersenyum.
"Baiklah, terima kasih Kak" ucap Akira.
Mereka kemudian kembali mengerjakan tugasnya. Mereka sangat terbantu oleh Yuki sehingga tidak butuh waktu lama untuk mengerjakan tugas tersebut. Akira juga sangat bersyukur karena dengan bantuan Yuki, kerjaannya menjadi lebih cepat.
__ADS_1