Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 18 : Kehidupan Akira


__ADS_3

"Akira, semangat ya bertandingnya. Hari ini adalah hari terakhir, semoga semua berjalan dengan lancar dan Akira bisa menang" ucap Yuki tersenyum di depan gedung latihan.


"Terima kasih banyak Kak. Kalau begitu Akira masuk dulu ya, bye-bye. Hati-hati di perjalanan" ucap Akira tersenyum sambil melambaikan tangannya.


"Iya, bye-bye" ucap Yuki melambaikan tangannya. 


"Hari ini adalah laga final atau evaluasi terakhir. Mari kita lakukan dengan penuh semangat dan jangan lupa, harus sportif! Laga pertama adalah final putra dan dilanjut oleh final putri. Mari kita mulai" ucap Pelatih bersemangat.


"Baik Pak!" Ucap para murid serempak.


"Aku sangat gugup, padahal hanya bertanding melawan Akira saja" ucap Rena menatap Akira.


"Rena benar, aku juga sangat gugup. Jantungku berdetak sangat kencang" ucap Akira tersenyum.


"Tapi aku tidak takut karena itu Akira, aku akan mengalahkanmu" ucap Rena menyipitkan matanya.


"Benar, kamu tidak boleh takut. Kamu harus menyerangku dengan sungguh-sungguh Rena" ucap Akira lagi.


"Tentu, siapkan dirimu Akira" ucap Rena tersenyum.


"Aku mengerti" ucap Akira yang juga tersenyum.


Akira akan menghadapi Rena dievaluasi terakhir ini. Sebagai teman dan sudah sering bermain bersama saat latihan, keduanya tetap gugup menghadapi laga terakhir. Nantinya, Pelatih akan menunjuk siapa saja yang akan mengikuti turnamen nasional maupun internasional berdasarkan hasil evaluasi ini. Sebenarnya anggota yang mencapai perempat final sudah dinyatakan aman, tapi mereka tetap harus profesional dan menyelesaikan pertandingannya dengan bersungguh-sungguh bukan? 


"Pertandingan putra dimenangkan oleh Ryan atas Hide 26-24 dan 23-21. Kerja bagus Ryan dan Hide. Untuk putri silahkan bersiap, kita akan mulai 10 menit lagi" ucap Pelatih.


"Rena, kamu siap?" Tanya Akira.


"Tentu saja, mari kita bertanding dengan sportif Akira" ucap Rena tersenyum.


"Tentu saja."


Akira dan Rena kemudian memasuki lapangan dan melakukan pemanasan.


"Apa kalian siap?" Tanya Pelatih.


Akira menarik nafas dalam dan menghembuskan. "Huuhh.. siap Pak" ucap Akira dan Ayano bersamaan.


"Baiklah kita mulai. Disisi kanan, Souma Akira dan disisi kiri, Fubuki Rena. Pertandingan pertama, mulai!"


Akira melakukan servis sebagai pertanda dimulainya permainan. Sepanjang berjalannya game pertama, Akira terus menyerang Rena dengan smash-smash keras yang menjadi andalannya. Namun pertahanan Rena cukup kokoh sehingga sering terjadi rally panjang bahkan hingga 200 pukulan untuk mendapatkan satu poin. 


Akira dan Rena memiliki keahlian masing-masing. Akira sangat hebat dalam smash dan permainan cepat di depan net sedangkan Rena juga sangat hebat dalam smash serta drop shot. Keduanya bermain dengan sengit dan tidak ada yang mau mengalah sehingga poin mereka terus kejar-mengejar dan selisih poin yang dihasilkan tidak pernah lebih dari 2 poin.


"Pertandingan pertama dimenangkan oleh Akira atas Rena dengan skor 28-26. Istirahat 5 menit" ucap Pelatih.


"Seperti biasa Akira selalu hebat" ucap Rena kemudian meminum air.


"Pertahanan Rena bagus juga, aku sangat kewalahan" ucap Akira tersenyum sambil mengelap keringatnya dengan handuk.


"Aku tidak akan mengalah di game kedua" ucap Rena tersenyum.


"Aku juga tidak akan mengalah untukmu, Rena" ucap Akira yang juga tersenyum.


"Baik, pertandingan kedua akan dimulai. Akira dan Rena mohon masuk lapangan. Di sisi kanan, Fubuki Rena dan di sisi kiri, Souma Akira. Pertandingan kedua, mulai" ucap Pelatih.


Akira kembali melakukan servis pertanda dimulainya pertandingan kedua. Seperti pada game sebelumnya, di game kedua juga baik Akira maupun Rena tidak ada yang mau mengalah. Mereka saling beradu taktik agar bisa menghasilkan poin.


"25-24" ucap Pelatih.


"Ayo Akira, semangat! Akhiri pertandingan ini, kalian pasti sangat lelah!" Teriak salah satu teman dari pinggir lapangan.


"Jangan menyerah Rena! Kamu pasti bisa, kalahkan Akira! Ayo Rena, semangat!" Ucapnya lagi.


"25-24, mulai!" ucap Pelatih lagi.


Dukungan tidak henti-hentinya digemakan oleh teman-teman yang menonton di pinggir lapangan. Uniknya mereka tidak memihak salah satu dari Akira dan Rena, mereka menyemangati keduanya.


(Pertahanan Rena cukup rapat, susah mencari celahnya) ucap Akira memukul shuttlecock.


(Seperti biasa, smash Akira sangat menyulitkan) ucap Rena tidak membiarkan smash Akira menghasilkan poin.


"Ayo kalian bisa!!" Teriak teman-teman dari pinggir lapangan.


(Akira mohon, ini yang terakhir) ucap Akira dalam hati. Dia bersiap untuk melakukan jump smash dan kemudian memukul shuttlecocknya dengan kuat. Shuttlecock yang dipukul Akira pun berhasil masuk di daerah permainan Rena.


"26-24. Pertandingan sektor putri dimenangkan oleh Akira atas Rena, 28-26 dan 26-24." Ucap Pelatih.


"Akhirnya" ucap Akira lega, dia masih berdiri di tempatnya.


Semua orang kemudian bertepuk tangan dan bersorak ria.


"Permainan yang hebat, Rena" ucap Akira mendekati Rena.


"Iya, sangat hebat. Terima kasih Akira dan selamat" ucap Rena mengulurkan tangannya.


"Terima kasih juga Rena" ucap Akira menerima uluran tangan Rena.


"Permainan yang sangat hebat Rena, Akira. Kalian memang selalu mengagumkan" ucap salah satu teman mendekati mereka.


"Defense Rena kuat sekali, Akira juga tidak kalah kuatnya. Kalian benar-benar harapan negara ini" ucap yang lainnya.


"Kamu bisa saja, kamu juga sangat hebat" ucap Rena tersenyum.


"Rena benar, kita semua yang ada disini merupakan orang-orang hebat" ucap Akira tersenyum.


"Mendapat peringkat 2 saja aku sudah sangat senang, tapi aku memang akan lebih senang jika bisa mengalahkan Akira" ucap Rena tersenyum.


"Lain kali, kamu pasti bisa mengalahkannya" ucap salah satu temannya itu.


"Itu benar" ucap Akira mengangguk setuju.


"Tentu aku akan melakukannya, itu sudah pasti" ucap Rena lagi.


Beberapa lama kemudian...


"Berkumpul semuanya!" Teriak pelatih. "Permainan yang sangat bagus dan mengagumkan ditampilkan oleh teman-teman kita hari ini. Dengan begitu, evaluasi ini resmi selesai. Selamat ya, kerja bagus semua" ucap Pelatih bertepuk tangan yang diikuti oleh semua orang.


"Untuk yang belum memasuki perempat final jangan takut dan khawatir. Kami tidak menilai dari peringkat tapi dari perkembangan kemampuan kalian. Jika kalian terhenti di pertandingan pertama tapi kemampuan kalian sudah meningkat dari evaluasi sebelumnya, maka dinyatakan lulus dan aman" jelas Pelatih.


"Latihan akan diliburkan selama 1 minggu, manfaatkan waktu dengan baik. Sepertinya sudah tidak ada yang perlu saya jelaskan dan lakukan disini, jadi kalian bisa pulang cepat hari ini. Silahkan pulang langsung ke rumah karena saya tidak menerima komplain dengan bentuk apapun dari orang tua kalian, apa kalian mengerti?" Ucap Pelatih lagi.


"Mengerti Pak!" Ucap murid serempak.


"Ingat, besok tidak usah kesini karena saya juga tidak akan kesini, mengerti?" Ucap Pelatih lagi.


"Mengerti Pak!" Ucap murid lagi.


"Oke, hubungi orang tua kalian sekarang."


Para murid kemudian membuka handphonenya masing-masing untuk menghubungi orang tuanya begitu juga Akira.


Akira: "Kakak"


Akira: "Apa Kakak sudah tidur?"


Yuki: "Ada apa Akira? Apa sudah selesai evaluasinya?"


Akira: "Sudah Kak, tolong jemput Akira"


Yuki: "Baiklah, tunggu sebentar ya"


Akira: "Iya Kak, hati-hati"


Yuki: "Oke"


Beberapa menit kemudian...


"Akira!" Panggil Yuki melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Kakak!" Panggil Akira mendekati Yuki.


"Selamat malam Kak" sapa Rena tersenyum.


"Halo, selamat malam juga Rena" ucap Yuki tersenyum. "Apa kamu dijemput?"


"Iya Kak, Ayah Rena sudah menunggu di depan. Kalau begitu Rena pulang duluan" pamit Rena.


"Begitukah? Baiklah, hati-hati ya" ucap Yuki tersenyum.


"Aku duluan ya Akira, sampai jumpa" pamit Rena pada Akira.


"Iya Rena, sampai jumpa. Hati-hati" ucap Akira tersenyum. "Bye-bye."


"Bye-bye" ucap Rena melambaikan tangannya.


"Sepertinya kita juga harus pulang Kak" ucap Akira pada Yuki.


"Baiklah, ayo." Yuki dan Akira kemudian menaiki mobil.


"Bagaimana hasilnya?" 


"Akira menang Kak" ucap Akira tersenyum.


"Wah hebatnya Akira, selamat ya. Akira memang Adiknya Kakak" ucap Yuki mengelus kepala Akira.


"Terima kasih Kak" ucap Akira tersenyum.


"Apa Akira senang?" Tanya Yuki lagi.


"Tentu saja, Akira sangat bersyukur bisa menang hari ini tapi Akira belum puas kalau belum jadi atlet" jelas Akira.


"Benar, jangan terlalu cepat merasa puas tetapi harus disyukuri" ucap Yuki tersenyum.


"Iya Kak."


Di rumah...


"Akira pulang" ucap Akira memasuki rumah. Dia kemudian berjalan ke ruang tamu dimana Papa dan Kakaknya sedang berkumpul.


"Selamat datang Akira, bagaimana hasilnya?" Tanya Papa.


"Akira menang, Pa" ucap Yuki yang baru memasuki rumah.


Papa dan Kakak-kakaknya tersenyum. "Selamat ya, Akira memang yang terbaik" ucap Naoya tersenyum.


"Anak Papa menang sangat berbakat. Selamat ya" ucap Papa mengelus kepala Akira.


"Terima kasih" ucap Akira tersenyum.


"Akira memang Adiknya Kakak, selamat ya" ucap Shinji tersenyum.


"Sekali lagi selamat ya" ucap Yuki tersenyum.


"Terima kasih Kak" ucap Akira yang juga tersenyum.


"Dengan begini, selangkah demi selangkah Akira dapat mendekati impian Akira menjadi atlet" ucap Papa lagi dan Akira mengangguk antusias.


"Akira pasti bisa" ucap Yuki menyemangati.


"Iya, Akira akan berusaha" ucap Akira tersenyum.


"Baiklah, ayo makan dulu. Ajak Yuki sekalian, dia belum makan" ucap Papa.


"Papa sudah makan?" Tanya Akira


"Sudah" jawab Papa tersenyum.


"Kakak juga sudah" ucap Shinji semangat.


"Tinggal Akira dan Yuki saja yang belum makan. Makanlah, tinggal dihangatkan" ucap Naoya.


Beberapa lama kemudian...


Setelah makan, Akira dan Yuki tidak langsung pergi ke kamar seperti Papa dan Kakaknya yang lain. Mereka memutuskan untuk menonton film bersama di ruang tengah sebelum tidur dengan beberapa cemilan untuk menemani mereka menonton.


"Kakak mau nonton apa? Jangan film hantu ya, ini sudah malam."


"Apa Akira takut hm?" Goda Yuki.


"Tidak, Akira tidak takut. Hanya saja... bukankah tidak lucu jika hantunya ikut masuk ke mimpi Akira nanti?"


Yuki terlihat berpikir sebentar. "Lucu kok, maka dari itu kita harus menonton film hantu" ucap Yuki membuka kaset film hantu.


"Kakak!" Rengek Akira.


Yuki tersenyum melihat Akira. "Katanya tadi tidak takut" goda Yuki lagi.


"Benar juga. Kalau begitu, Akira mau menonton film hantu tapi hantunya yang cantik saja."


"Tidak ada ceritanya hantu di film itu cantik. Secantik apapun hantunya, pasti selalu ada adegan yang membuatnya terlihat menyeramkan seperti hantu yang berdarah seperti 'Kakak' yang ada di pohon dekat pos satpam itu" ucap Yuki mulai serius yang membuat Akira terkejut.


"Po-pos satpam?" Ucap Akira mendekatkan dirinya ke Yuki.


"Akira tidak tahu? 'Kakak' itu berwajah hancur dan selalu penuh dengan darah. 'Kakak' itu mengganggu orang dengan cara menepuk pundak korbannya, seperti ini" Yuki menepuk pundak Akira.


Akira terperanjat karena Yuki menepuk pundaknya. "Kakak!!" Teriak Akira memeluk Yuki.


"Shuttttt... jangan keras-keras teriaknya, nanti Papa dan Kakak marah" ucap Yuki membalas pelukan Akira.


"Habisnya Kakak jahat!" rengek Akira.


Yuki tersenyum. "Apa Akira takut?" Tanya Yuki yang diangguki Akira.


"Maaf, maaf. Kakak berjanji tidak akan mengulanginya lagi" ucap Yuki tersenyum sambil mengelus kepala Akira. Yuki kemudian mencoba menjauhkan tubuhnya dari Akira yang memeluknya.


"Tidak mau, Akira takut Kak" ucap Akira mengeratkan pelukannya.


"Tapi Kakak tidak bisa bernafas, Akira." 


Akira kemudian menatap Yuki dalam. "Tidak mau, nanti Kakak menakuti Akira lagi" ucap Akira kembali mengeratkan pelukannya.


"Kakak berjanji, Kakak tidak akan melakukannya lagi. Kakak tidak bisa bernafas Akira" ucap Yuki lagi. Akira tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Akira, Kakak serius Kakak tidak bisa bernafas" ucap Yuki mencoba melepaskan tangan Akira.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berisik sekali? Ini sudah malam" ucap Naoya mendekati Yuki dan Akira.


"Akira tidak mau melepaskan pelukannya Kak, Yuki tidak bisa bernafas" ucap Yuki tetap mencoba terlepas dari Akira.


"Akira lepaskan Yuki, kasihan dia nafasnya pendek" ucap Naoya yang membuat Yuki juga Akira menatapnya.


"Apa maksud perkataan Kakak tadi?" Ucap Yuki tidak percaya.


Akira kemudian menatap Yuki dalam. "Jika Kak Yuki pendek nafas, mau bagaimana lagi" ucap Akira melepaskan pelukannya. 


Naoya tertawa mendengar Akira meladeni candaannya. Dia kemudian duduk di samping Akira.


"Kalian benar-benar" ucap Yuki menggelengkan kepalanya tidak percaya. 


"Kak Yuki sih, kenapa menakuti Akira seperti tadi?" Protes Akira.


"Bukankah Kakak sudah minta maaf tadi?"


"Benar, tapi Akira masih takut" ucap Akira mempoutkan bibirnya.


"Sudahlah, yang penting kamu terlepas dari Akira bukan?"


"Tapi Kakak jahat sekali" ucap Yuki kesal.

__ADS_1


"Ya sudah, Kakak minta maaf. Maaf ya Yuki kami sudah menjahilimu. Akira juga, Yuki sudah minta maaf bukan? Maafkanlah dia dan kita mulai menontonnya" ucap Naoya.


"Baik Kak. Maaf Kak Yuki, Akira sudah menjahili Kakak" ucap Akira menunduk.


"Tidak masalah. Kakak juga minta maaf ya" ucap Yuki tersenyum sambil mengelus kepala Akira.


Akira tidak memberi jawaban lagi atas pernyataan Yuki. Dia masih menunduk, sepertinya Akira sangat menyesal.


"Jangan murung seperti itu" ucap Naoya mencubit pelan pipi Akira.


Akira lagi-lagi tidak menjawab pernyataan Naoya. Melihat Adiknya murung, Yuki kemudian menepuk pundak Akira yang lagi-lagi membuatnya terkejut hingga diam membeku di tempat selama beberapa detik.


"Kakak!" Rengek Akira pada Yuki.


"Hahaha.. habisnya Akira sangat menggemaskan" ucap Yuki tertawa.


"Kak Yuki jahat Kak" adu Akira pada Naoya.


"Hentikan Yuki. Jika kalian terus bermain-main kapan kita nontonnya?" Ucap Naoya tersenyum.


"Kak Nao benar. Maaf ya" ucap Yuki tersenyum pada Akira. "Jadi mau nonton film apa?" 


"Hantu saja" ucap Naoya.


"Yes! Jadi kita nonton film hantu ya?" ucap Yuki menatap Akira.


"Baiklah jika Kak Nao juga ingin menonton film nya" ucap Akira pasrah.


"Oke." Yuki kemudian mulai memasukan DVDnya. "Siap-siap ya?"


Film hantu pun mulai diputar. Adegan pembuka langsung diawali oleh scene-scene jumpscare dengan hantu berwajah pucat yang menyeramkan.


"Akira tidak takut?" Tanya Naoya.


"Tidak, hantunya tidak seram tapi tidak cantik juga" ucap Akira fokus ke layar di depannya.


"Kau ini" ucap Naoya mengacak-acak rambut Akira.


"Ini baru awal, wajar kalau tidak seram" ucap Yuki.


"Benar" ucap Naoya setuju.


Ketiganya kemudian menonton film hantu tersebut tanpa suara sedikitpun karena terlalu fokus. Hanya terdengar suara dentikan jam dinding dan suara dari film. Hingga ada satu scene jumpscare dengan hantu yang penuh darah.


"Bagaimana Akira? Apa Akira ketakutan sekarang?" Goda Yuki tanpa menatap Akira.


"Sepertinya begitu" ucap Naoya yang melihat Akira bersandar di bahunya.


"Kakak tidak tahu kalau Akira sepayah ini" ucap Yuki tertawa.


Mereka kemudian kembali fokus pada film.


"Ternyata hantu itu dulunya cantik" ucap Yuki kagum melihat hantunya. "Benarkan Akira?" Ucap Yuki melihat ke arah Akira. "Loh? Pantas saja tidak menjawab dari tadi" ucap Yuki yang melihat Akira tertidur bersandar di bahu Naoya.


"Kenapa?" Ucap Naoya kemudian melihat Akira. "Ya ampun" ucapnya lagi sambil tersenyum saat melihat Akira yang sedang tertidur.


"Sepertinya kamu gagal mengerjai Akira, Yuki" ucap Naoya merangkul Akira.


"Sepertinya begitu Kak" ucap Yuki tersenyum dan akan berdiri.


"Nanti saja dipindahkannya, tanggung sedikit lagi selesai. Kakak mau menontonnya dulu."


"Iya Kak."


Beberapa lama kemudian...


"Wah.. akhirnya sangat sulit untuk ditebak" ucap Yuki tersenyum.


"Kamu benar" ucap Naoya tersenyum. "Setelah ini cepatlah tidur, ini sudah sangat malam. Kakak akan membawa Akira ke kamarnya" ucap Naoya mengangkat Akira.


"Iya Kak, selamat malam."


"Selamat malam."


Naoya kemudian mengangkat Akira dan menidurkannya di kasur dengan hati-hati. Dia tidak ingin Akira terbangun.


"Selamat malam Akira, mimpi indah ya" ucap Naoya mengelus kepala Akira dan pergi meninggalkannya.


Keesokan harinya...


"Kakak, kenapa saat Akira terbangun, Akira sudah berada di kasur?" Tanya Akira disela-sela sarapannya bersama Papa dan semua Kakaknya.


"Tentu saja, Kakak yang menggendong Akira ke kamar" ucap Naoya.


"Memangnya apa yang kalian lakukan semalam?" Tanya Papa.


"Yuki, Akira, dan Kak Nao menonton film hantu kemarin tapi Akira malah tertidur di adegan terbaiknya" jelas Yuki.


"Kami pikir Akira ketakutan tapi saat dilihat, Akira sedang tertidur dengan pulas" jelas Naoya.


"Kamu ada-ada saja" ucap Papa mengelus kepala Akira.


"Benar, bisa-bisanya Akira tertidur saat scene terbaiknya keluar" ucap Yuki.


"Ya maaf Kak, habisnya film itu sangat membosankan di awal jadi Akira mengantuk" jelas Akira.


"Kenapa aku tidak diajak?" Protes Shinji.


"Kak Shin sudah tidur" ucap Yuki.


"Tapi jika ada Shin, mungkin Akira akan menangis kemarin" goda Naoya sambil tertawa.


"Iya Kak" ucap Yuki setuju.


"Itu sudah pasti" ucap Shinji tersenyum.


"Kalau begitu, bagus kemarin Kak Shin tidak ikut menonton, Akira jadi tidak menangis bukan? Lain kali juga Kak Shin tidak perlu diajak" ucap Akira tersenyum.


"Seperti biasa, Akira selalu kejam kepadaku. Kalau begitu biarkan saja Akira menonton sendirian" ucap Shinji menatap datar Akira.


"Sudah sudah, kalian itu seperti anak kecil saja. Cepat habiskan nanti terlambat" ucap Papa menengahi.


"Baik Pa" ucap Shinji dan Akira bersamaan.


Seperti itulah kehidupan sehari-hari Akira. Keluarga yang saling menyayangi, melindungi, serta saling mendukung walaupun terkadang Akira terlibat perdebatan kecil dengan Kakak-kakaknya apalagi Shinji. Akira dan Shinji memang tidak bisa didekatkan, akan tetapi jika mereka sudah dekat mereka akan saling menyayangi lebih dari siapapun. 


Kehidupan Akira di sekolah juga sangat baik. Dia dikenal sebagai seseorang yang ramah, pintar, cantik, dan tentu saja baik hati, sehingga Akira memiliki banyak teman. Awalnya banyak yang tidak suka dengan Akira karena dia selalu dekat dan selalu terlihat bersama dengan Sou yang dikagumi oleh banyak siswi di sekolah. Namun saat mereka mulai mengenal Akira, mereka berubah pikiran dan mulai menyukainya.


Tentang perasaannya kepada Sou, Akira selalu menyukainya. Tidak tahu mengapa, tetapi dia merasa sangat nyaman dan aman apabila berada di dekat Sou. Yang Akira yakini adalah dari semua yang Sou miliki, Akira sangat menyukai senyuman Sou. Senyuman bahagia yang mungkin hanya ditunjukan kepada Akira, karena Akira tidak pernah melihat Sou tersenyum seperti itu kepada orang lain. Senyuman itu benar-benar membuat orang yang melihatnya, termasuk Akira ikut bahagia. 


Kehidupan Akira di Pelatnas juga sangat baik. Akira selalu mendapatkan poin kemenangan terbanyak saat latihan bahkan evaluasi yang akan membuatnya lebih dekat untuk mencapai impiannya. Dia juga memiliki banyak teman yang baik di sana.


(Mama, bagaimana kabarnya? Akira baik-baik saja disini. Papa dan Kakak selalu mengurus Akira, padahal Akira yang merupakan satu-satunya perempuan di rumah. Papa dan Kak Nao terlihat sangat sibuk. Setiap Akira pulang Papa dan Kak Nao selalu sudah tertidur, mungkin mereka sangat kelelahan. Kak Shin juga seperti itu, tapi Akira lebih banyak bertemu dengan Kak Shin daripada Kak Nao. Akira lebih sering bersama dengan Kak Yuki, tapi Kak Yuki seperti supirnya Akira sekarang. Kakak selalu mengantar jemput Akira kemanapun Akira pergi. Sepertinya Akira hanya merepotkan Kakak. 


Dievaluasi kemarin, Akira mendapatkan peringkat pertama dengan poin tertinggi. Akira ingin menjadi atlet dan Akira berjanji akan membuat Mama, Papa, Kak Nao, Kak Shin, dan Kak Yuki bangga kepada Akira, jadi Akira tidak akan menyerah.


Mama, sepertinya Akira menyukai seseorang. Akira tidak tahu apakah Akira benar-benar menyukainya atau tidak, tapi Akira merasa senang berada disampingnya. Namanya Sou. Orangnya baik dan tampan tapi orang-orang memanggilnya Pangeran es, mungkin karena Sou sangat dingin dan menyeramkan saat kesal dan marah walaupun dia bilang dia sedang tidak marah saat itu. Dia juga sangat pintar dan jago bermain basket, Akira benar-benar mengaguminya.)


"Akira, lama sekali" ucap Shinji tiba-tiba.


"Sebentar lagi Kak" ucap Akira tanpa melihat ke arah Shinji.


(Sepertinya Kak Shin sudah ingin pulang Ma. Sudah dulu ya, nanti Akira berkunjung lagi. Sampai jumpa Ma.)


"Padahal Akira belum selesai" ucap Akira mempoutkan bibirnya.


"Maaf ya, tapi kami harus pergi ke kantor" ucap Papa.


Akira mengangguk. "Tidak apa Pa, ayo pulang."

__ADS_1


__ADS_2