
"Sou! Sou tunggu, kamu mau kemana?" Ucap Akira mengejar Sou.
"Sou, dengar dulu. Kamu mau kemana? Kakimu belum sembuh. Ku mohon.." ucap Akira menggenggam tangan Sou.
Sou kemudian menghentikan langkahnya. "Kamu harus menjauhinya" ucap Sou dingin tanpa menatap Akira.
"Aku tahu Ayano sedikit aneh hari ini, tapi-"
"Apa kamu tidak mendengarkanku?" Ucapnya dingin. "Benar, aku bukan siapa-siapa bagimu dan itu hakmu untuk berteman dengan semua orang" ucap Sou tersenyum remeh. "Sekarang lepaskan tanganku" ucap Sou melepaskan genggaman Akira secara paksa.
(Kenapa jadi seperti ini?) Ucap Akira menatap sendu Sou.
"Sou, tunggu Sou! Baiklah, aku akan mendengarkanmu tapi berhenti dulu" Ucap Akira khawatir tapi Sou tetap tidak mendengarkan Akira. Dia terus berjalan menuju tangga.
(Kenapa Sou cepat sekali?)
"Sou, Sou ku mohon, aku akan mendengarkanmu jadi berhentilah sekarang" ucap Akira mencoba meraih tangan Sou.
"Jangan mengikutiku!" Bentak Sou yang sukses membuat Akira mematung di tempat. (Sial!) "Jangan mengikutiku" ucapnya dingin.
"Ada apa dengannya, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa dia membenciku?" Ucap Akira melihat punggung Sou yang sudah menghilang dari pandangannya. "Tidak! Itu tidak penting sekarang. Aku harus mengikutinya" gumam Akira kembali mengejar Sou.
Walaupun Sou memakai tongkat tapi dia menuruni tangga dengan cepat. Mungkin karena masih kesal atau menghindari Akira, Sou terus mempercepat langkahnya hingga tongkat yang ditempatkan Sou terlalu depan dan membuat tubuhnya tidak seimbang dan terhuyung ke depan.
"Sou, bahaya!" Teriak Akira menangkap tubuh Sou, dan..
DUGH!!
Mereka kemudian terjatuh. Tubuh Akira membentur tembok dengan cukup keras sambil masih memeluk tubuh Sou.
(Akkhh!!)
"A..kira!!!" Ucap Sou terkejut. "Apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin mati hah?" Ucap Sou menatap Akira khawatir "Bangun Akira, Akira!" Ucap Sou menepuk nepuk pipi Akira.
"Seharusnya aku yang mengatakannya kepadamu. Apa yang kamu lakukan?" Ucap Akira masih memejamkan matanya.
"Akira.."
"Apa kamu mau mati hah?! Aku mengkhawatirkanmu!" Ucap Akira sedikit berteriak dengan mata yang berkaca-kaca.
Sou dengan cepat memeluk tubuh Akira. Dia terlihat sangat menyesal. (Lagi-lagi aku melakukan hal bodoh!) "Maaf.. aku minta maaf, maafkan aku Akira" ucap Sou menyesal.
"Jangan melakukan hal bodoh seperti itu Sou, kamu membuatku khawatir" ucap Akira melepaskan pelukan Sou. "Apa kamu terluka?"
"Aku baik-baik saja. Ayo ke UKS sekarang!" Ucap Sou akan berdiri.
"Aku baik-baik saja" ucap Akira menggenggam tangan Sou sambil tersenyum.
"Maafkan aku Akira, sungguh" ucap Sou khawatir.
"Tidak apa, tapi jangan mengulanginya lagi" ucap Akira menatap Sou dengan wajah khawatirnya.
(Kau benar-benar pengecut Sou! Kau bahkan membahayakan Akira dan membuatnya terjatuh seperti ini) Maaf" ucap Sou menyesal.
"Aku baik-baik saja. Tidak usah meminta maaf" ucap Akira tersenyum. "Mari kita bicara" ucap Akira lagi yang disetujui oleh Sou.
Di taman...
"Ada apa denganmu hari ini? Ini bukan Sou yang aku kenal" ucap Akira menunduk.
...
"Sou, kenapa kamu marah seperti itu tadi? Apa karena masakan? Jika iya ma-"
"Kamu menganggapnya sebagai teman?" Tanya Sou tanpa melihat Akira.
Akira mengangguk. "Dia temanku, Sou juga temanku, semua orang di kelas adalah temanku" jelas Akira.
"Kamu percaya kepadanya?"
"Bukankah itu adalah hal yang wajar dalam sebuah pertemanan?"
"Tapi kamu tidak tahu apapun" ucap Sou terkesan dingin.
"Kamu benar. Aku tidak tahu apapun tentangnya, oleh karena itu hal yang bisa aku lakukan adalah percaya kepadanya. Pembulian yang dia lakukan adalah hal yang salah tapi.." ucap Akira masih menunduk.
"Kamu sudah tahu ternyata. Tapi itu hanya sebagian dari dirinya saja. Dia bahkan lebih busuk dari itu!" Ucap Sou kesal. "Kenapa kamu tidak marah tadi? Bagiku itu adalah sebuah penghinaan. Apa kamu tidak masalah jika Ibumu dihina seperti itu? Jika aku jadi kamu, aku akan menamparnya tadi"
"Tentu saja aku juga sangat kesal, tapi aku tidak bisa melakukannya" ucap Akira menggigit bibir bawahnya.
(Akira..)
Sou kemudian membalikan tubuh Akira agar berhadapan dengannya. (Sudah kuduga...) "Jangan menangis, Akira" ucap Sou menghapus air mata Akira. (Beraninya dia membuat Akira seperti ini, aku benar-benar tidak menyukai orang itu) ucap Sou menatap dalam Akira.
"Ah, maaf Sou. Kamu jadi melihat sisi lemahku" ucap Akira mengalihkan pandangannya. Akira kemudian menyeka air matanya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, kamu tidak bersalah" ucap Sou. "Kamu tahu? Selama apapun kamu mengenal seseorang pasti ada yang tidak kamu ketahui tentang orang itu. Sedekat apapun kamu dengan seseorang pasti ada sisi mereka yang tidak kamu ketahui apalagi kamu dan Ayano baru mengenal saat masuk SMA bukan? Begitu juga denganku. Jangan terlalu berharap kepadanya, karena aku tahu bagaimana dirinya yang sebenarnya. Oleh karena itu aku ingin kamu menjauhinya, bukan hanya karena perilakunya terhadap orang lain tapi kamu juga merasakan apa yang baru dia perbuat tadi bukan?"
"Tapi-"
"Itu hakmu untuk terus berteman dengannya atau tidak. Apa kamu masih mau berteman dengannya?"
Akira kemudian menatap Sou. (Bagaimana ini? Ayano melakukannya karena dia tidak tahu bahwa Mama sudah tiada tapi perkataannya tadi benar-benar membuatku sesak. Dan Sou..)
"Hm" Akira menganggukan kepalanya. (Ayano tetap temanku, yang berbeda adalah bagaimana Akira menanggapinya).
Sou kemudian menatap Akira. Mereka bertukar pandang selama beberapa detik.
"Kalau begitu biar aku yang menjagamu darinya" ucap Sou meletakan tangannya di atas kepala Akira.
"Sou.."
"Aku serius, aku tidak bisa membiarkanmu menangis seperti tadi. Aku akan menjagamu darinya, jadi maafkan aku jika aku kembali menjadi orang yang tidak kamu kenal" ucap Sou mengelus kepala Akira. "Aku tidak memiliki hak untuk melarang kamu berteman dengan siapapun, oleh karena itu biarkan aku yang menjagamu" ucap Sou tersenyum.
(Bagaimana ini.. rasanya Akira ingin menangis sekarang) ucap Akira menatap Sou sambil menahan air matanya agar tidak keluar.
"Maaf Sou" ucap Akira menundukan kepalanya.
"Jangan meminta maaf untuk hal yang tidak kamu lakukan, itukan yang kamu katakan padaku tadi?" Ucap Sou tersenyum. "Sebaliknya, aku minta maaf karena sudah membuatmu terluka. Sekarang ayo ke UKS" ucap Sou lagi.
"Aku baik-baik saja, aku tidak terluka. Sou sendiri bagaimana? Kakimu pasti sangat sakit karena terjatuh tadi kan?" Ucap Akira khawatir.
"Tidak, kakiku sudah sembuh. Lihat kan?" Ucap Sou berjalan ke hadapan Akira tanpa tongkatnya.
"Jangan berbohong! Badanmu bergetar Sou" ucap Akira kesal.
"Aku tidak bisa membuatmu terus mengkhawatirkanku" ucap Sou tersenyum.
"Justru seperti ini yang membuatku semakin khawatir, ayo ke UKS" ucap Akira memberikan tongkat Sou dan membantunya berjalan menuju UKS.
Di UKS...
"Permisi" ucap Akira membuka pintu UKS.
"Oh? Ada dengan Sou?" Tanya Bu Guru.
"Kaki Sou terkilir Bu, tadi Sou juga terjatuh" jelas Akira.
"Itu berbahaya. Ayo baringkan dia di kasur" ucap Bu Guru membantu Akira memapah Sou.
"Ini pasti sakit bukan" ucap Bu Guru.
"Tidak Bu, tidak sesakit itu" ucap Sou tersenyum.
Ibu Guru kemudian membuka perban Sou dan menyentuhnya.
__ADS_1
"Akh!" rintih Sou.
"Padahal belum ditekan. Tunggu sebentar, Ibu ambil obatnya dulu" ucap Bu Guru kemudian pergi.
"Kamu berbohong" ucap Akira khawatir dan Sou hanya tersenyum.
"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Aku tidak bisa membuatmu selalu khawatir, ini juga salahku" ucap Sou tersenyum.
"Maaf Sou, jika saja aku lebih cepat dan kuat, Sou tidak akan terjatuh tadi" ucap Akira menyesal.
"Apa yang kamu katakan? Bukankah akan lebih menakutkan jika seperti itu?" Ucap Sou tertawa kecil. "Aku yang ceroboh jadi ini bukan salahmu"
"Tapi-"
"Akira, jam pelajaran sudah dimulai. Lebih baik kamu ke kelas dulu saja biar Ibu yang merawat Sou" jelas Bu Guru.
"Baiklah Bu, saya akan ke kelas. Sampai jumpa Sou, cepat sembuh" ucap Akira yang diangguki Sou.
Saat Akira akan membuka pintu, Bu Guru kembali memanggil Akira.
"Akira! Kemari sebentar"
"Iya Bu, ada apa?"
"Buka bajumu" ucap Bu Guru datar.
"Maaf?" Ucap Akira terkejut.
"Sou bilang kamu juga terjatuh saat menolongnya. Dia bilang punggungmu terbentur tembok tadi" jelas Bu Guru.
"Tapi Akira baik-baik saja Bu, tidak ada yang sakit" ucap Akira tersenyum.
"Buka saja, jika tidak terluka Ibu juga tidak akan mengobatinya" jelas Bu Guru tersenyum
"Tapi-"
"Tenang saja, aku tidak akan mengintip" ucap Sou menutup hordeng yang memisahkan antar kasur.
"Ayo" ajak Bu Guru lagi.
Akira kemudian membuka bajunya. (Malu sekali...)
"Apa sakit?" Ucap Bu Guru menekan area punggung Akira.
"Tidak terlalu Bu, tapi sakit" jelas Akira tersenyum.
Bu Guru kemudian mengoleskan salep pada punggung Akira.
"Ini hanya luka ringan dan tidak ada yang berdarah, tapi sakitnya mungkin akan terasa 1-2 hari kedepan"
"Baik Bu, terima kasih. Kalau begitu Akira izin ke kelas" ucap Akira tersenyum.
"Iya, terima kasih sudah mengantar Sou kemari ya"
"Iya Bu, permisi" ucap Akira meninggalkan ruangan.
Di kelas...
"Maaf Pak, Akira terlambat" ucap Akira memasuki kelas.
"Kenapa baru masuk? Dan dimana Sou? Yang lain bilang bahwa Sou keluar bersamamu" tanya Pak Guru mengintrogasi.
"Benar Pak, Sou sedang dirawat di UKS karena tadi dia terjatuh. Itu membuat kakinya yang terkilir semakin sakit" jelas Akira yang membuat semua orang di kelas khawatir.
"Baiklah, kamu boleh duduk" titah Pak Guru.
"Terima kasih banyak Pak" ucap Akira membungkuk hormat lalu duduk di bangkunya.
Disana sudah ada Ayano, dia berdiri agar Akira bisa masuk tapi tidak mengatakan apapun. Sepanjang berjalannya waktu, Akira dan Ayano tidak saling menyapa, berbicara, bahkan untuk saling tersenyum. Ketakutan, kesal, marah, rasa bersalah, semua perasaan itu bercampur aduk dalam diri mereka masing-masing. Akibat kejadian tadi, keduanya diselimuti oleh kecanggungan dan kebingungan untuk melakukan sesuatu. Bahkan saat pulang sekolah, Ayano dan Akira tetap diam satu sama lainnya.
(Canggung sekali) ucap Akira menatap kepergian Ayano.
"Dia menuruni tangga dengan cepat jadi dia terjatuh" jelas Akira.
"Dasar ceroboh. Terima kasih ya" ucap Hiro kemudian pergi dengan membawa tas Sou.
"Kita lihat Sou sebentar baru latihan" gumam Akira kemudian meninggalkan kelas.
Di UKS...
"Permisi" ucap Akira memasuki ruangan.
"Kamu datang Akira" ucap Hiro tersenyum.
"Iya. Bagaimana kakimu Sou? Apa sudah membaik?"
"Tidak sesakit tadi" ucap Sou.
"Kamu berbohong" ucap Akira menatap tajam Sou.
"Aku tidak berbohong. Kakiku sudah lebih baik" jelas Sou. Akira tetap menatap tajam Sou.
"Aku serius baik-baik saja. Kalau kamu tidak percaya, akan ku perlihatkan" ucap Sou akan berdiri.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Ucap Hiro menahan Sou.
"Aku percaya, jangan melakukannya" ucap Akira mempoutkan bibirnya. "Bagaimana kamu pulang? Apa dijemput?" Tanya Akira
"Iya, Ayah akan menjemputku" ucap Sou tersenyum. "Tidak usah khawatir Akira, aku baik-baik saja"
"Baiklah, aku mengerti" ucap Akira tersenyum. "Aku duluan ya, aku harus latihan klub sekarang. Cepat sembuh Sou" ucap Akira tersenyum.
"Terima kasih" jawab Sou yang juga tersenyum.
"Aku duluan ya Hiro, sampai jumpa" ucap Akira pada Hiro. "Bye-bye Sou, bye-bye Hiro."
"Bye-bye?" Ucap Hiro bingung, tapi dia tetap melambaikan tangannya kepada Akira.
"Bye-bye, hati-hati" ucap Sou tersenyum.
"Dia tadi bilang bye-bye?" Tanya Hiro pada Sou.
Sou kemudian mengangguk. "Itu kebiasaan dia, jadi ikuti saja" ucap Sou tersenyum.
"Bukankah dia menggemaskan?" Tanya Hiro tersenyum tapi Sou menatap tajam dirinya.
"Ah, tenang saja Sou, aku tidak akan merebutnya darimu" ucap Hiro tersenyum canggung.
Malam harinya...
Keluarga Souma sedang berkumpul di ruang tengah untuk menonton televisi.
"Akira pinjam handphone mu ya" ucap Shinji tersenyum.
"Untuk apa Kak?"
"Mau selfie, handphone Akira kan bagus kameranya"
"Kamu lebih parah dari adikmu sendiri, Shin" ucap Papa tersenyum.
"Akira juga sama Pa, boleh ya Akira" ucap Shinji menatap Akira.
"Boleh Kak, ini" ucap Akira memberikan handphonenya. "Akira mau ambil minum dulu" ucap Akira kemudian pergi ke dapur.
Saat sedang asik berfoto, notifikasi masuk ke handphone Akira.
__ADS_1
Sou: "Akira, bagaimana punggungmu? Apa masih sakit?
"Punggung?" Ucap Shinji bingung.
Sou: "Kakiku juga sakit, pasti punggungmu juga sangat sakit bukan?"
Melihat pesan dari Sou, Shinji langsung menyimpan handphone Akira dan berlari menuju dapur.
"Ada apa dengannya?" Ucap Papa terkejut karena Shinji langsung berlari.
"Tidak tahu Pa" ucap Yuki bingung.
"Mungkin mau ke toilet Pa" ucap Naoya.
Disisi lain...
Shinji tiba-tiba menarik lengan Akira setelah Akira menyimpan gelasnya.
"Ada apa Kak?" Ucap Akira terkejut.
"Buka bajumu" ucap Shinji datar.
"Hah? Tung-tunggu, apa yang Kakak katakan?" ucap Akira memeluk tubuhnya sendiri.
"Buka bajumu sekarang!" ucap Shinji menarik Akira dan mencoba melepaskan tangan Akira.
"Papa! Kak Shin aneh! Kak-" Teriak Akira.
"Jangan berteriak!" Ucap Shinji menutup mulut Akira. "Punggung Akira terluka bukan? Kakak hanya ingin memeriksanya saja" jelas Shinji.
Shinji kemudian melepaskan tangannya. "Tapi tetap saja tidak mau!" Tolak Akira.
"Kenapa? Kamu malu? Kita dulu pernah mandi bersama, jadi tidak perlu malu" ucap Shinji lagi.
"Tapi itu dulu, Akira sudah besar Kak" ucap Akira tidak percaya dengan apa yang dikatakan Shinji. "Tidak mau, pokoknya tidak mau!"
"Baiklah, biar Kakak yang bilang pada Papa" ucap Shinji akan pergi.
"Jangan Kak, Akira baik-baik saja" ucap Akira menarik lengan Shinji.
"Kalau begitu perlihatkan pada Kakak jika tidak mau Papa yang turun tangan" ucap Shinji lagi.
"Tapi Akira malu Kak" rengek Akira. "Akira merasa sedang dilecehkan sekarang" ucap Akira lagi.
"Kakak tidak melecehkanmu, jangan bicara yang aneh-aneh!" ucap Shinji memukul pelan kepala Akira.
Akira kemudian membuka beberapa kancing atas kemeja tidurnya dan menurunkan kemejanya sampai pundak agar Shinji dapat melihatnya dari belakang.
"Baik-baik saja bukan?" Tanya Akira.
"Ini merah, apa sakit?" Ucap Shinji menekan pelan area punggung Akira yang merah.
"Tidak Kak"
"Sebentar, Kakak ambil salep dulu" ucapnya kemudian pergi mencari kotak P3K.
(Kakak benar-benar! Walaupun kita saudara tapi bukankah ini cukup aneh? Lagipula kenapa Sou mengirim pesan saat handphone Akira dipinjam Kakak?)
"Turunkan lagi bajunya" titah Shinji.
Akira menuruti keinginannya. Shinji kemudian mengoleskan salep pada punggung Akira.
"Pakai bajunya kembali" titah Shinji. "Sebenarnya apa yang selama ini kamu lakukan di sekolah? Tidak cukupkah tanganmu yang terluka itu?" Ucap Shinji menatap Akira. "Jangan terluka lagi, bukankah Kakak sudah mengatakannya kepadamu? Kenapa tidak mendengarkan?"
"Maaf Kak, itu terjadi begitu saja" ucap Akira menundukan kepalanya.
"Ini yang terakhir kalinya kamu terluka, mengerti?" Ucap Shinji menatap Akira.
"Mengerti Kak" ucap Akira dengan suara yang kecil.
"Aku tidak bisa melakukan apapun jika Akira terluka, jadi jangan terluka" ucap Shinji memeluk tubuh Akira.
"Iya Kak, terima kasih" ucap Akira membalas pelukan Shinji.
"Yosh, ayo kembali. Kekasihmu berisik" ucap Shinji tersenyum.
"Dia bukan kekasih Akira, Kak" ucap Akira tersenyum. Mereka kemudian kembali ke ruang tengah.
"Ada apa Shin? Kenapa berlari seperti itu?" Tanya Papa.
"Shin ingin ke toilet tadi, sudah tidak tahan" ucap Shinji tersenyum.
"Tuhkan, Nao benar" ucap Naoya.
"Kak Shin ada-ada saja. Handphone Akira terus bergetar dari tadi" ucap Yuki memberikan handphonenya pada Akira.
"Maaf Kak, terima kasih" ucap Akira mengambil handphonenya. "Kakak sudah pinjamnya?" Tanya Akira pada Shinji.
"Sudah, terima kasih ya" ucap Shinji mengacak-acak rambut Akira.
"Sama-sama" ucap Akira tersenyum. Dia kemudian membaca pesan dari Sou.
Sou: "Akira, bagaimana punggungmu? Apa masih sakit?
Sou: "Kakiku juga sakit, pasti punggungmu juga sangat sakit bukan?"
Akira: "Tidak Sou, punggungku baik-baik saja. Tidak sakit"
Sou: "Syukurlah. Sepertinya aku akan izin untuk besok, kakiku benar-benar sakit sekarang:)"
Akira: "Sudah ku bilang seharusnya Sou izin tadi. Apa harus terluka parah dulu baru izin, begitu?"
Sou: "Rasanya aku sedang dimarahi sekarang"
Sou: "Maaf karena tidak mendengarkanmu"
Akira: "Biar aku sampaikan kepada guru besok. Istirahatlah Sou"
Sou: "Terima kasih Akira"
Sou: "Selamat malam"
Akira: "Selamat malam"
Keesokan harinya...
Di sekolah...
Suasana canggung antara Akira dan Ayano masih berlanjut. Mereka sama-sama menundukan kepalanya dan tidak berbicara walaupun mereka duduk berdampingan.
"Akira.. aku minta maaf untuk yang kemarin. Aku dengan seenaknya berkata seperti itu padahal aku tidak tahu apapun tentang Ibumu, maaf" ucap Ayano membuka pembicaraan. Dia terlihat menyesal.
"Tidak apa Ayano, aku juga mengerti. Maaf karena sudah membuat keributan seperti kemarin" ucap Akira tersenyum.
"Kamu memang sangat baik. Terima kasih" ucap Ayano tersenyum. "Dimana Sou? Ini sudah hampir masuk tapi aku tidak melihat keberadaannya" tanya Ayano.
"Sou izin untuk hari ini, kakinya terluka lebih parah akibat terjatuh kemarin" jelas Akira.
"Padahal aku ingin meminta maaf kepadanya. Semoga dia lekas sembuh" ucap Ayano lagi.
"Kita doakan saja agar Sou cepat sembuh" ucap Akira tersenyum.
...-------------------------------------------...
...⚠️WARNING!!!!!⚠️...
__ADS_1
...SETELAH MEMBACA EPISODE INI, HARAP MEMBACA EPISODE 23.0 LALU KE EPISODE 23....
...Ada kesalahan saat mengupload episode 23 yang ternyata tidak lulus seleksi. Mohon maaf atas kelalaian dan ketidaknyamanannya🙏🙏...